Followed Journals
Journal you Follow: 0
 
Sign Up to follow journals, search in your chosen journals and, optionally, receive Email Alerts when new issues of your Followed Journals are published.
Already have an account? Sign In to see the journals you follow.
Similar Journals
Journal Cover
El-Harakah
Number of Followers: 2  

  This is an Open Access Journal Open Access journal
ISSN (Print) 1858-4357
Published by UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Homepage  [13 journals]
  • SUNAN KALIJAGA’S DA'WAH STRATEGY IN SULUK LINGLUNG AND ITS
           IMPLICATION TO INDONESIAN RADICALISM MOVEMENT

    • Authors: Mohammad Muslih, Abdul Rohman, Ahmad Ahmad, Ahmad Saifullah
      Pages: 1 - 19
      Abstract: Sunan Kalijaga was known as a creative da’i in spreading da'wah. One of the media for his da’wah is a literary work entitled Suluk Linglung. In the Suluk Linglung manuscript, two da’wah strategies had been employed by Sunan Kalijaga, both of which were expected to be relevant if applied in Indonesia today, considering the many issues of radicalism. This research is a literature review. Data were collected by using documentation method through a research on Suluk Linglung. Therefore, to dissect the contents of the manuscript, the author uses qualitative research methods and Gadamer's hermeneutic approach. Finally, it suggested that Sunan Kalijaga used two da'wah strategies, Sufistic da'wah strategy and multicultural da’wah strategy. It is expected that the use of the strategies in the current da’wah can dismiss the radicalism movement. Therefore, it brings out the principle of da’wah that is gentle, friendly, and nurturing to people, or da'wah rahmatan li-l 'alamin.Sunan Kalijaga dikenal sebagai seorang da’i yang kreatif dalam menyebarkan dakwah. Salah satu media dakwah beliau adalah melalui karya sastra yang berjudul Suluk Linglung. Dalam manuskrip Suluk Linglung tercermin dua strategi dakwah yang pernah dilakukan oleh Sunan Kalijaga, yang keduanya itu diharapkan akan relevan jika diterapkan di Indonesia pada zaman sekarang meninjau banyak sekali isu radikalisme. Penelitian ini berjenis kajian kepustakaan. Metode pengumpulan data menggunakan metode dokumentasi melalui penelitian manuskrip Suluk Linglung. Oleh karenanya, agar dapat membedah isi manuskrip Suluk Linglung, penulis menggunakan metode penelitian kualitatif dan menggunakan pendekatan hermeneutika Gadamer.  Adapun untuk teknik analisa data menggunakan teknik analisis isi. Akhirnya, setelah melakukan penelitian lebih lanjut peneliti mendapatkan hasil bahwasanya dalam manuskrip Suluk Linglung, Sunan Kalijaga menggunakan dua strategi dakwah yang meliputi strategi dakwah sufistik dan strategi dakwah multikultural. Jika dua strategi dakwah tersebut diterapkan pada zaman sekarang, maka diharapkan akan berimplikasi terhadap gerakan radikalisme yakni menepis gerakan radikalisme. Sehingga, akan memunculkan prinsip dakwah yang lembut, ramah, dan mengayomi kepada mad’u atau dapat disebut sebagai dakwah rahmatan li-l ‘alamin.
      PubDate: 2021-06-16
      DOI: 10.18860/eh.v23i1.11672
      Issue No: Vol. 23, No. 1 (2021)
       
  • FAMILY-BASED CORRUPTION PREVENTION THROUGH PESANTREN VALUES

    • Authors: Samsul Arifin, Mokhammad Baharun, Rahmat Saputra
      Pages: 21 - 40
      Abstract: Pesantren (Islamic boarding school) has a great potential for family-based corruption prevention. This study aims to determine the values of pesantren and portraits of sakinah family personalities in the texts of “Zadu Az-Zaujayn” and “Syair Madura” in relation to the prevention of corruption. It uses an ethnographic-hermeneutic qualitative approach. The research concludes that the value of pesantren associated with the prevention of corruption lies in the expression "Mondhuk entar ngabdi bhen ngaji (the intention of going to pesantren is to learn and to serve)" and “Mon ngecok jerum e pondok mon mole ka romana ngecok jheren (if you steal a needle in pesantren, you will steal a horse once you get back home)". Through the values, students are accustomed to serving people and being careful of taking others’ belongings. Meanwhile, the values of sakinah family within the text are wara’ (being cautious and able to self-control), zuhud (living a simple life and prioritizing others’ need), and patient (being tender and dare to face difficulties); qona'ah (accepting life as it is), ridha (accepting the provisions of God); and self-presentation. This research is vital to develop to achieve sakinah families free of corruption.Pondok pesantren memiliki potensi besar dalam mencegah korupsi berbasis keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan nilai-nilai pesantren dan potret kepribadian keluarga sakinah dalam teks kitab “Zadu Az-Zaujayn” dan “Syair Madura” terkait pencegahan korupsi. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif tipe etnografi-hermeneutik.  Hasil penelitian: nilai-nilai pesantren yang terkait dengan pencegahan korupsi yaitu  “Mondhuk entar ngabdi dan ngaji (mondok untuk mengabdi dan mengaji)”. Santri juga menghindari ngecok (mencuri):“Mon ngecok jerum e pondok mon mole ka romana ngecok jheren, (kalau mencuri sebuah jarum di pondok, pulangnya akan mencuri seekor kuda)”. Dengan kedua nilai tersebut, santri akan terbiasa melayani orang lain dan menjauhi mengambil hak milik orang lain. Sedang kepribadian pasangan suami-istri sakinah yaitu mampu mengendalikan diri: yaitu wara’ (hati-hati dan mampu mengendalikan diri), zuhud (hidup sederhana dan lebih mementingkan kepentingan orang lain), dan sabar (lapang dada dan berani menghadapi kesulitan-kesulitan); penerimaan hidup apa adanya: qona’ah (menerima kenyataan yang ada), ridha (ketenangan hati menerima ketentuan-ketentuan dari Allah); dan presentasi diri. Penelitian ini penting untuk dikembangkan, agar tercipta keluarga sakinah yang bebas dari korupsi.
      PubDate: 2021-06-16
      DOI: 10.18860/eh.v23i1.11657
      Issue No: Vol. 23, No. 1 (2021)
       
  • THE VISUAL ANALYSIS OF MUSLIMAH CLOTHING STYLE IN JAVA (15-20 th CENTURY)

    • Authors: Pingki Indrianti, Oki Kurniawan, Faridah Hj Hassan
      Pages: 41 - 63
      Abstract: Islam entered Indonesia in the 7th century and began to spread out in the 13th century with the establishment of Demak Sultanate. After the expansion of Islamic kingdoms or Sultanates, the spread of Islam in Java and Sumatra strengthened the application of Islamic law (Sharia). It was slowly replacing customary law yet still maintaining and even acculturating the local culture, with no exception concerning Muslimah clothing style (hijab or (jilbab). This non-interactive qualitative research analyzed the factual data related to the transformation of Muslimah clothing from the 15th to the 20th century focusing on Java island. The data were analyzed using the Fashion Design Components theory proposed by Stone (2006) and Seivewright (2012) to get detailed visualization of Muslimah clothing style in those eras. The result showed that Islamic values influenced the clothing style of Javanese Muslim women in terms of silhouettes, colors, details, and materials (textures) without neglecting the local culture.Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-7 dan mulai menyebar pada abad ke-13 Masehi dengan berdirinya Kerajaan Islam Demak. Penerapan hukum Syariah Islam secara perlahan menggantikan hukum Adat namun demikian tetap mengakomodasi bahkan berkakulturasi dengan budaya setempat, termasuk dalam hal penerapan busana Muslimah (jilbab). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis visualisasi busana Muslimah di Indonesia khususnya di Jawa pada abad 15-20 Masehi. Penelitian kualitatif non-interaktif ini menggunakan pendekatan deskriptif yang menekankan pada data-data faktual terkait perkembangan busana wanita Muslim. Data dianalisis menggunakan teori elemen desain mode (the components of fashion) yang terdiri dari siluet, warna, detail, dan tekstur untuk mengetahui gambaran bentuk busana Muslimah pada masa tersebut. Hasil penelitian menunjukan ajaran Islam mempengaruhi gaya berpakaian wanita Muslim Jawa, baik dari segi elemen visual bentuk (siluet), warna, detail, dan material (tekstur), namun demikian tetap mempertahankan budaya lokal yang berlaku.
      PubDate: 2021-06-16
      DOI: 10.18860/eh.v23i1.11709
      Issue No: Vol. 23, No. 1 (2021)
       
  • CHARACTER EDUCATION VALUES IN JAVANESE LITERATURE

    • Authors: Umi Masfiah, Darweni Darweni, Zakiyah Zakiyah, Umi Muzayanah, Tauseef Ahmad Parray
      Pages: 65 - 83
      Abstract: Javanese manuscripts as the legacy of ancestors and poets contain important values related to character education and moral values. Manuscript of Serat Wulang Darmawiya (SWD), for example, promotes character education through laku batin. The values of character education are fundamental to internalize and implement within the life of Javanese. Javanese poets in the past inherited the noble values through a lot of literary works. This article discusses the values of character education in SWD. Using text-based qualitative research methodology, the values of character education in SWD were analyzed with content analysis. Serat teaches values of character education regarding the importance of breastfeeding as a process of building an intimate relationship between children and parents (mother). At the same time, it also explains the importance of communication between children and parents during education process, the principles of child education, and the role model and advice from the parents to the children. In addition, the philosophy of SWD is closely integrated with Islamic teachings.Naskah-naskah Jawa peninggalan para leluhur dan para pujangga, sarat dengan nilai pendidikan karakter dan budi pekerti luhur. Naskah Serat Wulang Darmawiyata (SWD) memiliki keunikan pada penanaman nilai pendidikan karakter khas Jawa, yakni membentuk anak mandiri dan cerdas berdasarkan laku prihatin. Nilai-nilai pendidikan karakter bagi masyarakat Indonesia merupakan hal yang amat penting untuk dimiliki dan diterapkan dalam kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat, demikian pula dengan masyarakat Jawa. Para pujangga Jawa masa lalu telah banyak mewariskan nilai-nilai luhur melalui berbagai karya dalam sastra Jawa. Artikel ini secara khusus membahas tentang nilai-nilai pendidikan karakter dalam SWD. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif berbasis teks sastra Jawa, naskah yang memiliki makna nilai-nilai pendidikan karakter dianalisis dengan metode analisis isi. Dalam serat tersebut, terdapat nilai-nilai pendidikan karakter tentang pentingnya menyusui sebagai proses kedekatan anak dengan orang tua (ibu). Selanjutnya dalam serat tersebut, dijelaskan pula tentang pentingnya pendidikan komunikasi anak dan orang tua, prinsip-prinsip mendidik anak, dan keteladan serta nasehat orang tua terhadap anak. Selain itu, falsafah dalam SWD memiliki hubungan atau terintegrasi dengan ajaran Islam. 
      PubDate: 2021-06-16
      DOI: 10.18860/eh.v23i1.11455
      Issue No: Vol. 23, No. 1 (2021)
       
  • RELIGION AND MALAY-DAYAK IDENTITY RIVALRY IN WEST KALIMANTAN

    • Authors: Yusriadi Yusriadi, Ismail Ruslan, Nunik Hasriyanti, Mustolehudin Mustolehudin, Chong Shin
      Pages: 85 - 101
      Abstract: Ethnic rivalry triggers competition among individuals, certain actors, and groups. Often, the competition is due to political factors while religion becomes a structural legitimacy. This paper examined how the rivalry between Malay and Dayak in West Kalimantan affected certain groups’ identity. The data of this paper were obtained through a documentation study by reviewing publications and writings on the issue of rivalry and interviews with some figures in West Kalimantan. The result concluded that the rivalry between Malay and Dayak in West Kalimantan was tight due to political factors. The two equally dominant communities have long competed since the colonial period in West Kalimantan. Today's rivalry has taken place since Indonesia's reformation in 1998 and let both groups maintain their identity, and, in some cases, lead to unclear boundaries. They do not live as neighbors but brothers. However, religion remain an essential factor amid the situation and cause the rivalry stronger.Persaingan etnis memicu persaingan antar individu, aktor tertentu, dan melibatkan kelompok. Seringkali persaingan disebabkan oleh faktor politik, sedangkan agama menjadi legitimasi struktural. Makalah ini berupaya untuk melihat bagaimana persaingan antara Melayu dan Dayak di Kalimantan Barat berimplikasi pada identitas kelompok. Data untuk makalah ini diperoleh melalui studi dokumentasi dengan melihat publikasi dan tulisan tentang isu persaingan, serta wawancara dengan sejumlah tokoh di Kalimantan Barat. Kesimpulannya, persaingan antara Melayu dan Dayak di Kalimantan Barat sangat kuat karena faktor politik. Kedua komunitas yang sama-sama dominan ini telah bersaing sejak jaman penjajahan di Kalimantan Barat. Persaingan saat ini telah terjadi sejak reformasi Indonesia pada tahun 1998. Melalui kompetisi ini, masing-masing etnis Melayu dan Dayak mempertahankan identitasnya, dan dalam beberapa kasus menciptakan batasan yang kabur. Mereka ditempatkan sebagai tetangga, tetapi sebagai saudara. Namun, agama tetap menjadi faktor penting di tengah situasi ini, dan membuat persaingan keduanya semakin kuat.
      PubDate: 2021-06-16
      DOI: 10.18860/eh.v23i1.11449
      Issue No: Vol. 23, No. 1 (2021)
       
  • GUS DUR’S MULTICULTURAL DA’WAH AND ITS RELEVANCE TO MODERN
           SOCIETY

    • Authors: A. Fikri Amiruddin Ihsani, Novi Febriyanti, Abdan Syakuuroo S.K
      Pages: 103 - 122
      Abstract: This research aimed to describe and identify the concept of Gus Dur's multicultural da’wah, the efforts and relevance to modern society. It used qualitative research methods with a descriptive approach. The data were collected through observation and documentation. The findings suggested three main concepts of Gus Dur's multicultural da'wah: Gus Dur's central values, his Islamic ideas, and his struggle for the indigenization of Islam. The da'wah covered three domains: cognitive, affective and psychomotor. The domains were then framed into various activities, such as lectures/speeches, writings, forums, and social actions. Besides, it affirmed the need of wisdom that da'wah is relevant to the conditions of modern society. The relevance of da’wah can lead to the effective and efficient interaction process.Penelitian ini membahas mengenai dakwah multikultural Gus Dur dan relevansinya bagi masyarakat modern. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan, dan mengenali konsep dakwah multikultural Gus Dur, upaya-upaya dakwah multikultural Gus Dur dan relevansinya bagi masyarakat modern. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah obeservasi dan dokumentasi. Hasilnya menunjukkan bahwa dakwah multikultural Gus Dur mengacu pada tiga konsep utama, yakni nilai-nilai utama, gagasan keislaman, dan perjuangan pribumisasi Islam Gus Dur. Upaya-upaya dakwah multikultural Gus Dur ini mencakup tiga ranah, yakni ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Upaya-upaya melalui tiga ranah tersebut kemudian dibingkai dalam berbagai kegiatan seperti ceramah/pidato, menulis, forum diskusi, dan aksi-aksi sosial. Dengan demikian, dibutuhkan kearifan agar dakwah relevan dengan kondisi masyarakat modern, sehingga pelaku dan penerima dakwah tersebut bisa memberi makna yang sama. Dalam hal ini, apa yang diidentifikasi oleh masyarakat modern bisa memasuki proses interaksi yang efektif dan efisien.
      PubDate: 2021-06-16
      DOI: 10.18860/eh.v23i1.11642
      Issue No: Vol. 23, No. 1 (2021)
       
  • SYMBOLIC MEANING OF KESANDINGAN RITUAL IN PROBOLINGGO

    • Authors: Nurhadi Nurhadi, Faisol Faisol, Faisal Mahmoud Adam Ibrahim
      Pages: 123 - 138
      Abstract: Kesandingan, one of the rituals in Probolinggo, East Java, is a cultural phenomenon that mingles with religious elements of society. It is something sacred and mystical that parents do when a toddler (an infant under three years old) experiences heat illness for days, tends to be fussy, cries a lot, and cannot sleep at night. This research aims to explain the process of symbolic communication of kesandingan ritual and to understand the symbolic meaning behind the ritual. It is a descriptive-qualitative study through observation, in-depth interviews, and documentation. The data analysis uses a qualitative-naturalistic technique. The result demonstrates that the symbolic communication process of kesandingan ritual in Mentor, Sumberasih, Probolinggo, comprises seven series: burning incense, wiping incense smoke on the child's face, giving the child holy water to drink, wiping the child with floral water, preparing food, making a wish on the child's bed, and distributing food. Meanwhile, the symbolic meaning of kesandingan ritual refers to divine, social and personal dimensions. Ritual kesandingan merupakan salah satu ritual masyarakat Probolinggo Jawa Timur yang sudah menjadi fenomena budaya yang berbaur dengan unsur religi masyarakat. Ritual kesandingan merupakan sesuatu yang sakral dan mistis yang dilakukan orang tua saat anak batita (bawah tiga tahun) mengalami sakit panas berhari-hari, rewel, kerap menangis dan tidak bisa tidur terutama malam hari. Tujuan penelitian ini untuk menjelaskan proses komunikasi simbolik ritual kesandingan dan memahami makna simbolik dibalik ritual tersebuat. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif-kualitatif, pengumpulan datanya melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Sedangkan analisis datanya menggunakan teknik analisa data kualitatif-naturalistik. Sebagai hasilnya, diketahui bahwa proses komunikasi simbolik ritual kesandingan di desa Mentor Kecamatan Sumberasih Kabupaten Probolinggo meliputi tujuh rangkaian yaitu: membakar kemenyan, mengusap asap kemenyan ke wajah anak, memberi minuman kepada anak dengan air doa, mengusap wajah anak dengan air bunga, menyiapkan makanan, memanjatkan doa ditempat tidur anak, dan membagikan makanan. Sedangkan makna simbolik ritual kesandingan mencakup tiga dimensi, yaitu: dimensi ketuhanan, sosial, dan personal.
      PubDate: 2021-06-16
      DOI: 10.18860/eh.v23i1.10545
      Issue No: Vol. 23, No. 1 (2021)
       
  • INTERPRETING RUH AS AN ECOLOGICAL SPIRITUALITY IN RELATION TO ISLAM AND
           JAVA MYSTICISM

    • Authors: Ubaidillah Ubaidillah
      Pages: 139 - 156
      Abstract: This research aims to explain about the acculturation of Islam and Javanese wisdom in interpreting ruh (spirit) as an ecological behavior in dealing with natural disaster and exploitative activities. The concept of spirit refers to the awareness to interpret the relationship between human and nature as a living macrocosm unit. The awareness, in Islam, is a dimension of Sufi that blends with nature, such as Javanese philosophy on the principle of the unity of nature. It employs descriptive analytical method by integrating theo-sufistic paradigm to find a turning point in the common ground between Islam and Java in preserving the nature. The analysis goes into three conclusions: 1) the concept of spirit in Islam is a representation of one’s love with nature as the manifestation of love with God in its essence; 2) Javanese beliefs and rituals in ruh as a living and valuable existence signified in mystical mythology for being haunted and sacred serves as theo-sufistic expressions of Islam and Java; 3) spirituality of the spirit generates awareness of the philosophy of Sangkan Paraning Dumadi, to live in harmony and balance between humans and nature. Penelitian ini ingin menjelaskan tentang akulturasi Islam dan kearifan Jawa dalam memaknai ruh sebagai perilaku ekologis dalam menangani kerusakan alam dan aktivitas eksploitatif. Konsep ruh yang dimaksud adalah kesadaran memaknai hubungan manusia dan alam sebagai satu kesatuan makrokosmos yang hidup. Kesadaran tersebut dalam Islam merupakan dimensi sufistik yang menyatu dengan alam sebagaimana falsafah Jawa tentang prinsip kesatuan alam. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitis dengan pendekatan integratif dalam paradigma teo-sufistik untuk menemukan titik balik persamaan persepsi antara Islam dan Jawa dalam memelihara alam hayati. Hasilnya,  pertama, konsep ruh dalam Islam adalah representasi dari mencintai alam sebagai manfestasi mencintai Tuhan dengan dzatnya. Kedua, keyakinan dan ritual yang dilakukan masyarakat Jawa atas ruh sebagai eksistensi yang hidup dan memberi manfaat yang mewujud dalam mitologis mistik yang disebut angker dan sakral sebagai ekspresi teo-sufistik Islam dan Jawa. Ketiga, spiritualitas ruh memberikan kesadaran dalam filosofi Jawa tentang Sangkan Paraning Dumadi sebagai makna hidup untuk dapat serasi dan seimbang antara manusia dan alam.
      PubDate: 2021-06-16
      DOI: 10.18860/eh.v23i1.10268
      Issue No: Vol. 23, No. 1 (2021)
       
  • ISLAMIC VALUES BEHIND THE RITUAL OF A COW HEAD BURIAL IN GREBEG SURO

    • Authors: Penny Respati Yurisa, Rika Fu'aturosida, Yusuf Ratu Agung, Ulfah Muhayani
      Pages: 157 - 172
      Abstract: This paper aims to uncover the Islamic values behind the ritual of a cow head burial held by people in Bamboo Forest, Sumbermujur, Candipuro, Lumajang. It is one of the rituals of a popular Javanese culture called Grebek Suro, conducted in the first month of the Javanese calendar. It finds that the Islamic value of the ritual is salam or safety. The cow head burial is intended to bring about safety (slamet) towards society in the upcoming year. This research is expected to contribute in calling people for preserving local culture and Islamic values within the rituals. It is limited to the exploration of the Islamic values within the ritual of a cow head burial in Grebeg Suro ceremony. Further researches are expected to study the other rituals, such as Gunungan, Tumpengan, Japa Mantra, Larungan, and the dancing ritual.Tulisan ini bertujuan untuk mengungkap nilai Islam di balik ritual penanaman kepala sapi yang dilakukan oleh masyarakat di Hutan Bambu, Sumbermujur, Candipuro, Lumajang. Ini adalah salah satu ritual budaya Jawa terkenal, Grebek Suro, yang dilakukan pada bulan pertama penanggalan Jawa. Studi ini menemukain bahwa nilai Islam dari ritual tersebut adalah salam atau keselamatan. Penguburan kepala sapi dimaksudkan untuk membawa keselamatan (slamet) bagi masyarakat di tahun mendatang. Penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi dalam mengajak masyarakat untuk melestarikan budaya lokal dan nilai-nilai Islam dalam ritualnya. Penelitian ini terbatas pada penggalian nilai-nilai Islam dalam ritual penguburan kepala sapi di upacara Grebeg Suro. Penelitian selanjutnya diharapkan menganalisis ritual-ritual lainnya, seperti Gunungan, Tumpengan, Japa Mantra, Larungan, dan ritual menari. 
      PubDate: 2021-06-16
      DOI: 10.18860/eh.v23i1.10576
      Issue No: Vol. 23, No. 1 (2021)
       
  • مظاهر الازدهار الحضاري الإسلامي في
           إندونيسيا في أوائل القرن الحادي
           والعشرين MADHAHIR AL-IZDIHAR AL-HADHARI AL-ISLAMIY FI INDONESIA FI
           AWA’IL AL-QARN AL-HADI WA AL-‘ISRIN

    • Authors: Mohammad Syairozi Dimyathi, Ahmad Satori
      Pages: 173 - 197
      Abstract: تبحث هذه الدراسة عن مظاهر الازدهار الحضاري الإسلامي في إندونيسيا المعاصرة، من مظاهر الازدهار السياسي والثقافي والاقتصادي والعمراني الإسلامي في إندونيسيا. وتم اختيار في هذا البحث المنهج الوصفي الاستقرائي. ومن نتائج هذا البحث، أنه ظهر في عصر الإصلاح العديد من الأحزاب السياسة الإسلامية. وعلى الرغم من أن هذه الأحزاب الإسلامية لا تحظى بكثير من أصوات الناخبين، إلا أن ائتلافها يمكنها إخراج العديد من الشخصيات البارزة في المناصب الاستراتيجية في المؤسسات التنفيذية والتشريعية في البلاد. وفى عهد الإصلاح أيضا ظهر التقدم في مجال التربية والتعليم، ومن بينه إنشاء المدارس الإسلامية المتكاملة الأهلية والحكومية من المراحل الابتدائية والإعدادية والثانوية، كما أنشأت الجامعات الإسلامية الحكومية والأهلية التي فتحت الكليات العامة لخلق التكامل المعرفي فيها. وفى أواخر عهد سوهرتو بدأ التقدم في مجال الاقتصاد الإسلامي بإنشاء بنك المعاملات الإسلامي. وانتشرت بعد ذلك البنوك الإسلامية مثل BSM الشريعة BRI الشريعة BNI الشريعة وغيرها من البنوك الإسلامية. كما أنشئت كذلك المؤسسات المالية الإسلامية الأخرى. ومن مظاهر التقدم ف&...
      PubDate: 2021-06-16
      DOI: 10.18860/eh.v23i1.11910
      Issue No: Vol. 23, No. 1 (2021)
       
  • الموازنات الأدبية فى مؤلفات آدم عبد الله
           الإلوري (دراسة تحليلية نقدية) AL-MUWAZANAT
           AL-ADABIYYAH FI MUALFAT ADAM ABDULLAH AL-ILORI (DIRASAH TAHLILIYYAH
           NAQDIYYAH)

    • Authors: Khalil Mohammad Usman Gbodofu
      Pages: 199 - 217
      Abstract: تتناول هذه الدراسة الجهود التي قام بها آدم عبد الله الإلوري نحو الموازنات الأدبية التي تعتبر عن مهمة في النقد الأدبي العربي. وأستهلها بلمحة تعريفية عن نشأة عبد الله الإلوري وأعماله الفنية وغير الفنية، ثم أسلط الضوء على المنهج انتهجه في عملية الموازنة، وتم تقسيم موازناته من ناحية التطبيق إلى ثلاثة أقسام. الأول: الموازنة فيما انفرد به كل واحد أو طرف عن غيره، الثاني: الموازنة فيما كان طرف يفوق طرفا آخر، ويرجحه في المستوى العلمي والأدبي، الثالث: الموازنة فيما يتساوى فيه الطرفان أو الاثنان، بحيث لا يستطيع أحدهما أن يدّعي المفاضلة أو الترجيح. وفي هذا العمل نستشهد بالأمثلة الملائمة مع ربط هذا الاستشهاد بالمراجع والمصادر الخارجية والداخلية. والله يوفقنا إلى الصواب.

      This paper aims to study the ideas employed by Adam Abdullah Al-Iloriy in carrying out the literary criticism themes in Arabic. Detailed biography of the author with his literary and scientific works was documented while light was shed into his works which are sub-divided into three; a) wreath self-balancing; b) literary works competition whereby the scientific and literary proofs were cited; and c) literary balancing between two or more literature. This study established appropriate examples to prove the works capability for international recognition as the art of literary balancing is concerned.
      PubDate: 2021-06-16
      DOI: 10.18860/eh.v23i1.10527
      Issue No: Vol. 23, No. 1 (2021)
       
 
JournalTOCs
School of Mathematical and Computer Sciences
Heriot-Watt University
Edinburgh, EH14 4AS, UK
Email: journaltocs@hw.ac.uk
Tel: +00 44 (0)131 4513762
 


Your IP address: 3.236.239.91
 
Home (Search)
API
About JournalTOCs
News (blog, publications)
JournalTOCs on Twitter   JournalTOCs on Facebook

JournalTOCs © 2009-