A  B  C  D  E  F  G  H  I  J  K  L  M  N  O  P  Q  R  S  T  U  V  W  X  Y  Z  

  First | 1 2        [Sort alphabetically]   [Restore default list]

  Subjects -> ARCHITECTURE (Total: 219 journals)
Showing 201 - 264 of 264 Journals sorted by number of followers
The Journal of Integrated Security and Safety Science (JISSS)     Open Access   (Followers: 10)
Nepalese Culture     Open Access   (Followers: 9)
Journal of Delta Urbanism     Open Access   (Followers: 8)
UOU Scientific Journal     Open Access   (Followers: 7)
International Journal of Student Project Reporting     Hybrid Journal   (Followers: 7)
Journal of Architectural and Engineering Research     Open Access   (Followers: 5)
Cultural Heritage and Science     Open Access   (Followers: 4)
Journal of Public Space     Open Access   (Followers: 4)
Actas de Arquitectura Religiosa Contempor├ínea     Open Access   (Followers: 1)
Revista de Design, Tecnologia e Sociedade     Open Access   (Followers: 1)
Creative Space     Open Access   (Followers: 1)
Oz : the Journal of the College of Architecture, Planning &Design at Kansas State University     Open Access   (Followers: 1)
On the w@terfront. Public Art. Urban Design. Civic Participation. Urban Regeneration     Open Access   (Followers: 1)
Estructuras     Open Access  
Sinektika : Jurnal Arsitektur     Open Access  
Arquitectura M├ís (Arquitectura +)     Open Access  
interFACES     Open Access  

  First | 1 2        [Sort alphabetically]   [Restore default list]

Similar Journals
Journal Cover
Vitruvian
Number of Followers: 0  

  This is an Open Access Journal Open Access journal
ISSN (Print) 2088-8201 - ISSN (Online) 2598-2982
Published by Universitas Mercu Buana Jakarta Homepage  [17 journals]
  • Cover Vol 12 No 1 Oktober 2022

    • Authors: Christy Vidiyanti
      Abstract: Cover Vol 12 No 1 Oktober 2022
      PubDate: 2022-10-31
      Issue No: Vol. 12, No. 1 (2022)
       
  • Halaman Depan Vol 12 No 1 Oktober 2022

    • Authors: Christy Vidiyanti
      Abstract: Halaman Depan Vol 12 No 1 Oktober 2022
      PubDate: 2022-10-31
      Issue No: Vol. 12, No. 1 (2022)
       
  • Halaman Belakang Vol 12 No 1 Oktober 2022

    • Authors: Christy Vidiyanti
      Abstract: Halaman Belakang Vol 12 No 1 Oktober 2022
      PubDate: 2022-10-31
      Issue No: Vol. 12, No. 1 (2022)
       
  • TERITORI RUANG BERMAIN ANAK PADA FASILITAS PRASEKOLAH DI KOTA BANDUNG

    • Authors: Lisda Triantini Nurazizah, Dhini Dewiyanti, Tri Widianti Natalia, Nova Chandra Aditya
      Pages: 1 - 12
      Abstract: Teritori merupakan perwujudan dari bentuk rasa aman yang dimiliki oleh seseorang, sehingga dengan perasaan aman yang dimilikinya, maka kepercayaan dirinya untuk melakukan sesuatu menjadi lebih nyaman.  Anak dalam kategori usia tertentu, masih memiliki kecenderungan untuk selalu berada dalam lingkungan dengan orang-orang yang dikenal secara dekat agar dirinya merasa aman. Ketika masuk usia preschool sebagai awal perkenalan dirinya dengan dunia luar, anak harus belajar untuk mampu beraktivitas secara mandiri. Memahami aspek teritorialitas pada anak usia preschool diyakini sebagai sebuah upaya untuk memahami anak dengan hubungannya terhadap ruang yang dianggap sebagai tempat aman. Ruang yang dianggap aman oleh anak, mampu memberikan stimulus sehingga mampu untuk melakukan kegiatan secara mandiri maupun berkelompok. Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi teritori ruang bermain anak pada kegiatan preschool di Growing Tree Kota Bandung, sebagai upaya untuk memahami ruang yang dianggap aman oleh anak. Penelitian ini digali melalui pengamatan dan pemetaan terhadap perilaku pengguna ruang yang dilakukan selama 1 bulan pada Mei 2022. Hasil dari penelitian mengungkapkan teritori dapat berbeda berdasarkan: 1). Gender; 2). Aktivitas; 3). Fasilitas; 4). Usia. Teritori yang dibentuk dan dianggap aman oleh anak berdasarkan penelitian diantaranya: 1). Teritori berkelompok melalui perilaku bermain dan lokasi dengan kegiatan tematik yang ditentukan pendamping dan kegiatan bermain bebas selama 30 menit. 2). Anak laki-laki cenderung membentuk sebuah teritori dengan segala jenis permainan khususnya permainan yang lebih menantang selain itu juga dapat membentuk teritori bersama anak perempuan. Sedangkan anak perempuan akan cenderung membentuk sebuah teritori jika permainan yang dianggapnya aman baik itu sesama perempuan atau bersama laki-laki. 3). Teritori pada ruang bermain menjadi fasilitas favorit anak dikarenakan anak usia dini pada dasarnya hal yang dilakukannya adalah bermain sehingga ruang tersebut dianggap aman oleh anak. Territory is an embodiment of a person's sense of security, so that with the feeling of security they have, their confidence to do something becomes more comfortable. Children in a certain age category still have a tendency to always be in an environment with people they know closely so that they feel safe. When entering preschool age as an initial introduction to the outside world, children must learn to be able to move independently. Understanding aspects of territoriality in preschool age children is believed to be an effort to understand children and their relationship to space that is considered a safe place. The space that is considered safe by children, is able to provide a stimulus so that they are able to carry out activities independently or in groups. The purpose of the study was to identify the territory of the children's playroom in preschool activities at Growing Tree Bandung, as an effort to understand the space that is considered safe by children. This research was explored through observations and mapping of the behavior of space users which was carried out for 1 month in May 2022. The results of the study revealed that territories could differ based on: 1). Gender; 2). Activity; 3). Facility; 4). Age. Territories that are formed and considered safe by children based on research include: 1). Group territory through play behavior and location with thematic activities determined by the companion and free play activities for 30 minutes. 2). Boys tend to form a territory with all kinds of games, especially games that are more challenging and can also form territory with girls. Meanwhile, girls will tend to form a territory if the game they think is safe is either with women or with men. 3). The territory in the playroom is a favorite facility for children because early childhood basically does what they do, so that the space is considered safe by children.
      PubDate: 2022-10-31
      DOI: 10.22441/vitruvian.2022.v12i1.001
      Issue No: Vol. 12, No. 1 (2022)
       
  • EFEKTIVITAS PROGRAM KAMPUNG DERET BERDASARKAN INDIKATOR KOTAKU

    • Authors: Florencetina Florencetina, Rahmatyas Aditantri
      Pages: 13 - 32
      Abstract: Penanganan permukiman kumuh merupakan fokus program yang dilakukan pemerintah agar tercipta lingkungan hunian yang layak huni bagi masyarakat. Berbagai program penanganan permukiman kumuh telah dicanangkan oleh Pemerintah salah satunya adalah Program Kampung Deret yang merupakan solusi peremajaan lingkungan kumuh perkotaan dari Pemerintah DKI Jakarta. Salah satu lokasi yang menjadi percontohan dari kesuksesan program ini adalah Kampung Deret Petogogan yang berlokasi di RW 05, Kelurahan Petogogan. Pelaksanaan Program Kampung Deret mengubah kondisi lingkungan yang semula kumuh dan tidak layak huni menjadi lingkungan yang lebih baik. Setiap program yang telah dilaksanakan perlu dievaluasi, termasuk Program Kampung Deret untuk mengetahui tingkat keberhasilan program tersebut. Hal ini untuk melihat pengimplementasian dari program tersebut telah telah sasaran atau belum. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas Program Kampung Deret dalam penanganan kekumuhan di Kota Jakarta dengan melakukan studi kasus Kampung Deret Petogogan berdasarkan indikator KOTAKU. Pendekatan kuantitatif digunakan karena menilai kesesuaian tingkat kekumuhan dengan standar kekumuhan dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat No. 14 Tahun 2018. Melalui analisis yang telah dilakukan, terjadi perubahan besar setelah pengimplementasian program yang berujung pada penurunan perhitungan skor kekumuhan dari skor 33 menjadi 16. Namun, perubahan ini belum cukup karena kategori kumuh tetap stagnan di tingkat kumuh ringan. Dengan demikian, Program Kampung Deret dinilai tidak mampu menangani permukiman kumuh dan kurang efektif sebagai solusi untuk memberantas kekumuhan di Kota Jakarta. Handling of slum settlements is the main focus from government in order to create livable residential for the community. Various slum settlement’s management programs have been launched by the Government, one of them is Kampung Deret Program which is a solution for rejuvenating urban slums from the DKI Jakarta Government. One of the locations that has become a model for the success of this program is the Petogogan Deret Village, which is located in RW 05, Kelurahan Petogogan. The implementation of Kampung Deret Program changed the environmental conditions, which was originally shabby and uninhabitable into a better environment. Every program that has been implemented needs to be evaluated, including the Kampung Deret Program to know the success rate of the program. This is to see if the implementation of the program has been targeted or not. This study aims to analyze the effectiveness of Kampung Deret Program in handling slums in Jakarta by conducting a case study on Kampung Deret Petogogan based on KOTAKU indicator. A quantitative approach is used as it assessed conformity of slums level with the slum standards in the Public Works and Public Housing Ministerial Regulation No. 14 of 2018. Through the analysis that has been carried out, there were major changes due to the implementation which led to a score decrease in the slum score calculation from 33 to 16. However, these changes are not enough as the slum category stays stagnant at a mild slum level. Therefore, Kampung Deret Program is considered unable to handle slums and is quite ineffective as a solution to eradicate slums in Jakarta. 
      PubDate: 2022-10-31
      DOI: 10.22441/vitruvian.2022.v12i1.002
      Issue No: Vol. 12, No. 1 (2022)
       
  • PENGEMBANGAN KAMPUNG-KOTA DENGAN PENDEKATAN NEW URBANISM SETTLEMENTS DI
           KOTA SEMARANG

    • Authors: Annizar Bachri
      Pages: 33 - 46
      Abstract: Keberadaan perkampungan di pusat perkotaan menjadi salah satu fenomena urbanism yang sudah ada sejak beberapa dekade kebelakang. Pada negara berkembang seperti di Indonesia, keberadaan kampung-kota menjadi salah satu ciri bermukim penduduk setempat. Salah satunya kampung-kota yang berada pada pusat kota Semarang yaitu kampung Pendrikan Kidul, Kecamatan Semarang Tengah. Polemik kepadatan penduduk membuat daerah Pendrikan Kidul menjadi kurang teratur dan dapat dipastikan ruang-ruang yang tersisa sangat sedikit dari aspek fisik dan pemanfaatannya. Dengan menganalisa permasalahan yang ada, pola tata ruang dengan integrasi yang baik akan mewujudkan budaya bermukim yang baik dan nyaman di dalamnya. Tujuan penelitian ini dimaksudkan untuk menentukan pola parameter keberlanjutan terhadap lokasi dengan acuan latar belakang yang sudah ada. Pada penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif sebagai bahan perumusan masalah untuk mengeksplorasi situasi tapak yang merujuk pada solusi penerapan konsep New Urbanism Settlements dalam perancangan dan merekomendasikan zonasi baru sebagai trasnformasi fungsi pada perkampungan Pendrikan Kidul yang berkelanjutan. Dari penelitian ini diharapkan dapat membentuk konsep desain baru pada skala besar di lokasi padat penduduk yang mempunyai fungsi lebih dari sekedar tempat tinggal. Villages in metropolitan areas are an urbanization phenomenon that has existed for decades. The existence of village towns is one of the characteristics of the local population in developing nations such as Indonesia. Pendrikan Kidul Village, Central Semarang District, is a village town in the heart of Semarang. The population density polemic makes the Pendrikan Kidul area less organized, and the remaining spaces are pretty limited in terms of physical characteristics and utilization. By assessing existing challenges, spatial designs with good integration will generate a pleasant and relaxing living culture. Concerning the current background, this research aims to determine the pattern of sustainability factors for the area. This research utilizes a descriptive method with a qualitative approach as a problem formulation material to investigate the site's situation, which refers to the solution of applying the concept of New Urbanism Settlements in the design and recommending new zoning as a function transformation in the sustainable Pendrikan Kidul village. This research is projected to result in a new large-scale design idea for a highly inhabited area that serves more purposes than merely providing a place to live.
      PubDate: 2022-10-31
      DOI: 10.22441/vitruvian.2022.v12i1.003
      Issue No: Vol. 12, No. 1 (2022)
       
  • PENERAPAN AURALISASI ARSITEKTUR DALAM IMPLEMENTASI PENGALAMAN AUDIO VISUAL
           RUANG DALAM: Review

    • Authors: Anastasia Cinthya Gani, Surjamanto Wonorahardjo
      Pages: 47 - 54
      Abstract: Perkembangan teknologi dalam simulasi akan mempengaruhi analisis kebutuhan ruangan akustik. Simulasi membantu memprediksi dan melihat fenomena akustik di ruang dalam ruangan. Seiring dengan kemajuan aplikasi, penggunaan auralisasi sering digunakan untuk menganalisis audio visual bangunan bersejarah, terutama melihat sistem akustik atau fenomena akustik yang terjadi di masa lalu. Simulasi dan Auralisasi Real-Time Interaktif sangat disarankan dan merupakan metode yang akurasinya sudah teruji terhadap ruangan yang dapat dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan dari ruang tersebut. Auralisasi tidak hanya sebatas pada audio visual akan tetapi mulai menjadi salah satu alternatif untuk memprediksi kebutuhan akan persebaran audio pada masa mendatang. Ketika kinerja ruang tidak hanya dilihat dari satu aspek maka diperlukan auralisasi untuk menentukan kinerja apakah yang mempengaruhi ruang dalam. Penggunaan aplikasi berbasis auralisasi menjadi sangat menarik ketika ditemukan bahwa kinerja ruang dalam ditemukan fenomena baru yang mungkin jika diteliti secara nyata sulit untuk ditemukan. Pengukuran auralisasi tidak terbatas pada satu ruang, penonton, tetapi bangunan itu sendiri menjadi subjek penelitian menggunakan auralisasi. Kedepannya auralisasi tidak hanya terfokus pada aspek teknis, tetapi diharapkan dan dimungkinkan dapat diterapkan pada kajian lingkungan sosial. Perkembangan aplikasi berbasis auralisasi masih perlu dikembangkan terutama dari sisi penelitian social untuk melihat adanya representasi di area tertentu. Technological developments in simulation influence the analysis of acoustic space requirements. Simulations help predict and confirm room acoustic phenomena. With the evolution of applications, the use of auralization is widely used to analyze the audiovisuals of historic buildings, especially with respect to sound systems or acoustic phenomena that occurred in the past. Real-time interactive simulation and auralization are highly recommended. This method has been tested for accuracy using rooms that can be modified according to room needs. Auralization is not limited to audiovisual media, but is slowly emerging as an alternative for anticipating future audio delivery needs. If room performance is not considered in one dimension, auralization is necessary to determine which performance influences the interior space. If internal performance turns out to be a new phenomenon that is elusive in practical investigations, the use of insonification-based applications will be of great interest. Auralization measurements are not limited to one space, the audience, but the building itself is the object of auralization research. In the future, it is expected and possible that auralization will not only focus on technical aspects, but that auralization can be applied to the study of social environments. The development of auditory-based applications has yet to be developed, especially with respect to social surveys to ascertain representations in specific domains.
      PubDate: 2022-10-31
      DOI: 10.22441/vitruvian.2022.v12i2.004
      Issue No: Vol. 12, No. 1 (2022)
       
  • EKSPLORASI KONSEP BERKELANJUTAN PADA ARSITEKTUR UMA FAFOE DI KABUPATEN
           MALAKA, NTT

    • Authors: Regina C. C. Maliatie, Agustino Monemnasi, Apridus Kefas Lapenangga
      Pages: 55 - 64
      Abstract: Zaman modern dengan kemajuan teknologi dan pertumbuhan penduduk mempengaruhi eksistensi arsitektur tradisional karena terbatasnya material alami akibat pembukaan lahan baru untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Perkembangan ini juga dirasakan oleh masyarakat di kampung Umakota, kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur yang masih memiliki rumah tradisional tetapi mulai dianggap ketinggalan zaman. Salah satu rumah tradisional di kampung Umakota adalah uma fafoe yang merupakan salah satu dari 6 rumah adat yang berperan sebagai tempat dilaksanakannya ritual adat. Uma fafoe yang telah beradaptasi dengan lingkungan selama ini dapat menjadi referensi berkelanjutan bagi bangunan baru yang akan dibangun di lingkungan yang sama. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan model  deskripsi eksploratif untuk menggali informasi secara mendalam tentang arsitektur uma fafoe. objek ditentukan dengan purposive sampling yang merujuk langsung pada rumah kepala suku di kampung Umakota ini untuk diobservasi, didukung dengan wawancara kepala suku sebagai narasumber yang dilengkapi dengan studi literatur. Tujuan penelitian ini untuk mengeksplorasi konsep keberlanjutan  dari keberlanjutan lingkungan, ekonomi dan sosial pada uma fafoe. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa uma fafoe sangat adaptif dengan lingkungan dan bila ditinjau dari 3 prinsip dasar arsitektur berkelanjutan maka uma fafoe juga memenuhi ketiga aspek keberlanjutan yang disyaratkan yakni keberlanjutan lingkungan, ekonomi dan sosial. Modern times with technological advances and population growth affect the existence of traditional architecture because of the limited natural materials due to the opening of new land to meet the needs of the community. This development is also felt by the people in Umakota village, Malacca district, East Nusa Tenggara who still have traditional houses but are starting to be considered outdated. One of the traditional houses in Umakota village is uma fafoe which is one of 6 traditional houses that act as a place for carrying out traditional rituals. Uma fafoe which has adapted to the environment so far can be a sustainable reference for new buildings to be built in the same environment. The method used in this study is a qualitative method with an exploratory description model to explore in-depth information about the uma fafoe architecture. The object is determined by purposive sampling which refers directly to the house of the chief of the tribe in Umakota village for observation, supported by interviews with the chief of the tribe as a resource person who is equipped with a literature study. The purpose of this study is to explore the concept of sustainability from environmental, economic and social sustainability in uma fafoe. The results of this study indicate that uma fafoe is very adaptive to the environment and when viewed from the 3 basic principles of sustainable architecture, uma fafoe also fulfills the three required sustainability aspects, namely environmental, economic and social sustainability.
      PubDate: 2022-10-31
      DOI: 10.22441/vitruvian.2022.v12i1.005
      Issue No: Vol. 12, No. 1 (2022)
       
  • PERSEPSI PENGGUNA TERHADAP TEMPAT YANG DIHINDARI DALAM MENGURANGI
           PENYEBARAN VIRUS

    • Authors: Nina Septiana, Hanson Endra Kusuma, Allis Nurdini
      Pages: 65 - 72
      Abstract: Wabah COVID-19 telah menyebar hampir keseluruh dunia dan telah ditetapkan sebagai darurat kesehatan masyarakat dunia oleh WHO. Untuk mengurangi risiko penyebaran virus ini pemerintah berupaya melakukan pembatasan di berbagai daerah. Selain itu masyarakat yang mengetahui bahaya tertularnya virus mulai menghindari tempat-tempat yang memiliki risiko penularan yang besar. Kondisi bangunan saat ini menjadi hal yang penting untuk mengurangi kekhawatiran dalam mengunjungi tempat umum, terlebih bila tempat tersebut tidak memiliki kriteria bangunan sehat. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui penilaian bangunan dari perspektif pengguna. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan grounded theory berupa pengumpulan data menggunakan kuesioner daring yang bersifat terbuka, analisis yang dilakukan berupa open coding, axial coding, dan selective coding. Hasil penelitian yang didapat adalah perspeksif pengguna berupa tempat yang dihindari dan alasan pengguna menghindari tempat tersebut. Hasil berupa empat kelompok utama yaitu kelompok minim prokes, kelompok risiko tertular, kelompok menghindari virus dan kelompok kurang nyaman. Hasil penerapan empat kelompok tersebut berupa penyesuaian desain dan perilaku dalam merancang bangunan sehat yang terhindar dari virus. Diharapkan penelitian ini dapat menjadi pertimbangan dalam membangun bangunan sehat, selain untuk kenyamanan pengguna, penerapan ini dilakukan agar bangunan tersebut dapat beradaptasi dengan kasus pandemi dikemudian hari.  The COVID-19 outbreak has spread in almost all parts of the world and has been declared a world public health emergency by the WHO. To reduce the risk of the virus spreading, the government is trying to make restrictions in various aspects. At the same time, people who know the dangers of this virus begin to avoid places that have a high risk of contagion. Healthy buildings are now crucial because nowadays conditions (pandemic) make public awareness raises, especially when these places -in a visual way- do not seem to have health criteria, which makes the public worried more. This research is done to know the requirement of the building from the perspective of the user. The research used qualitative with a grounded theory approach in the form of data collection using an open online questionnaire, and the analysis is carried out in the form of open coding, axial coding, and selective coding methods. The research results are get from respondents perspectives in the form of places to avoid including the reasons, the groups acquire are the less-acknowledged health protocol group, the group which has infected risk, the group who try to avoid the virus, and the less-comfort group. The results of the application of the four groups are in the form of design and behavior adjustments in designing healthy buildings that are protected from viruses.This research is expected to be a reference for designing a healthy building. Besides for the convenience of users, this implementation is also expected could make the building adapt to this kind of case such as the pandemic in the future.
      PubDate: 2022-10-31
      DOI: 10.22441/vitruvian.2022.v12i1.006
      Issue No: Vol. 12, No. 1 (2022)
       
  • KINERJA ASET RUSUNAWA BALESARAKAN KABUPATEN BANDUNG BERDASARKAN
           POST-OCCUPANCY EVALUATION

    • Authors: Ajit Muhammad Rafi, Tri Setyowati, Husna Candranurani Oktavia
      Pages: 73 - 84
      Abstract: Rusunawa Balesarakan merupakan aset daerah yang dimiliki oleh Pemerintah Daerah Kabupaten yang dibangun untuk memenuhi kebutuhan rumah tinggal yang layak huni bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Namun, berdasarkan hasil observasi pendahuluan terdapat beberapa indikasi masalah pada kinerja aset nya. Tujuan dari penelitian ini yakni untuk mengetahui kinerja aset Rusunawa Balesarakan. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, kuesioner, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja aset Rusunawa Balesarakan belum mencapai kondisi yang optimal, karena beberapa indikator masih belum terpenuhi akibat aset dalam kondisi rusak, belum tersedia dan/atau belum memenuhi kriteria. Sehingga, perlu dilakukan perencanaan renovasi aset pada Rusunawa Balesarakan Kabupaten Bandung. Balesarakan Low-Cost Apartment is a regional asset owned by the Regency Government which was built to meet the needs of livable housing for low-income people. However, based on the results of preliminary observations, there are some indications of problems in its asset performance. The purpose of this study is to determine the asset performance of Balesarakan Low-Cost Apartment Bandung Regency. The research method used is descriptive method with qualitative and quantitative approaches. Data collection techniques were carried out by observation, interviews, questionnaires, and documentation studies. The data analysis technique used is descriptive statistical data analysis technique. The results showed that some of the assets of Balesarakan Low-Cost Apartment were in a damaged condition, not yet available and did not meet the criteria. Thus, it is necessary to plan for asset renovation at Balesarakan Low-Cost Apartment, Bandung Regency.
      PubDate: 2022-10-31
      DOI: 10.22441/vitruvian.2022.v12i1.007
      Issue No: Vol. 12, No. 1 (2022)
       
  • ECO-CONTEXT PADA RUMAH SUSUN KAMPUNG AKUARIUM DI PENJARINGAN

    • Authors: Fira Fahmiah Syafriani Baharuddin, Etty R Kridarso, Sri Tundono
      Pages: 85 - 92
      Abstract: Angka kebutuhan hunian menjadi masalah dengan urgensi tinggi saat ini dikarenakan semakin tingginya angka pertumbuhan penduduk terutama di daerah DKI Jakarta, hal ini menyebabkan banyak terbentuknya pemukiman liar. Rumah susun menjadi salah satu alternatif penyelesaian permasalahan hunian tetapi belum mencakup penyelesaian masalah lingkungan yang juga terbentuk karena itu. Pendekatan arsitektur Eco-Context atau yang dikenal dengan Ecology-Contextual memiliki prinsip-prinsip perancangan yang dapat mengatasi permasalahan lingkungan seperti banjir. Rumah Susun Kampung Akuarium menjadi objek bangunan yang paling tepat untuk mendesripsikan kondisi ini dan diharapkan dapat menjadi patokan evaluasi tingkat pemenuhan Eco-Context terhadap rumah susun dan juga kaitannya dalam mengatasi masalah lingkungan. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif yang berfokus pada pengamatan dan analisis objek dengan metode pengumpulan data yaitu melaui observasi, wawancara hingga studi literatur. Data yang ada kemudian dianalisis dan diuraikan dengan penjelasan yang lebih dapat dimengerti. Penilaian menggunakan rentang nilai kesesuaian antara bangunan yag ada dengan pendekatan Eco-context sesuai dengan teori yang berkaitan untuk menilai seberapa sesuai dengan tema. The number of housing needs is a problem with high urgency at this time due to the high rate of population growth, especially in the DKI Jakarta area, this has led to the formation of many illegal settlements. Flats are one of the alternative solutions to residential problems but not environmental problems. The Eco-Context architectural approach known as Ecology-Contextual has design principles that can overcome environmental problems such as flooding. The Kampung Akuarium Flat is the most appropriate building object to describe this condition and is expected to be a benchmark for evaluating the level of Eco-Context compliance for flats and also its relation to addressing environmental problems. This research was carried out using a qualitative descriptive method that focuses on observation and object analysis with data collection methods, namely through observation, interviews and literature studies. The existing data is then analyzed and described with a more understandable explanation. The assessment uses a range of suitability values between existing buildings and the Eco-context approach in accordance with related theories to assess how well it fits the theme.
      PubDate: 2022-10-31
      DOI: 10.22441/vitruvian.2022.v12i1.008
      Issue No: Vol. 12, No. 1 (2022)
       
  • EVALUASI TERHADAP KENYAMANAN TERMAL PADA MASJID BAYT AL QUR’AN,
           TANGERANG SELATAN

    • Authors: Harun Setiawan, Muhammad Syarif Hidayat
      Pages: 93 - 104
      Abstract: Masjid Bayt Al Qur’an merupakan masjid yang mengusung konsep Go-Green dengan arsitektur bergaya modern-minimalis yang menghadirkan layanan umat seperti pelaksanaan shalat lima waktu dan peringatan hari raya agama Islam, serta mengadakan berbagai kajian keislaman yang secara rutin dilaksanakan, sehingga kenyamanan termal sangat diperlukan. Masalah penelitian ini adalah banyaknya ataupun luasnya bukaan pada ruangan masih tetap menggunakan ac dan kipas angin saat ruangan digunakan untuk aktifitas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kenyamanan termal di masjid memenuhi persyaratan kenyamanan termal pada SNI 03-6572-2001. Alat yang digunakan adalah meteran, infrared thermometer, anemometer, temperature humidity meter dan kuesioner. Pengukuran dilakukan selama 2 hari percobaan dengan 6 waktu pengukuran per harinya, dari pukul 13.00 WIB – 16.00 WIB. Hasil kenyamanan termal masjid menurut SNI 03-6572-2001 yaitu kondisi ruang menggunakan ac nyaman dengan nilai rata-rata 24,47°C / 66,60% dan ruang tanpa ac tidak nyaman dengan nilai rata-rata 28,09°C / 67,50%, untuk ruang menggunakan kipas angin nyaman dengan nilai rata-rata 27,81°C / 61,86% dan ruang tanpa kipas angin tidak nyaman dengan nilai rata-rata 29,00°C / 64,16%. The Bayt Al Qur'an Mosque is a mosque with a modern minimalist style architecture that incorporates the Go-Green concept, offering five daily prayers, offering community services such as commemorating Islamic holidays, It conducts various Islamic studies that are conducted in Thermal comfort is therefore very good. A problem with this study is the number or extent of openings in the room that still use air conditioners and fans when the room is in use for activity. The purpose of this study was to determine the thermal comfort of a mosque meeting the thermal comfort requirements of SNI 03-6572-2001. The tools used are meters, infrared thermometers, anemometers, thermohygrometers, and questionnaires. Measurements were taken on two test days, from 1.00 pm WIB to 4.00 pm WIB, with 6 measurements per day. Thermal comfort results of the mosque according to SNI 03-6572-2001, i.e. the condition of the room with air conditioning is comfortable with an average value of 24.47 °C / 66.60% and the room without air conditioning is not comfortable. Average 28.09°C / 67.50%, average 27.81°C / 61.86% for room with comfort fan, average 29.00°C / 64.16% for room without comfort fan.
      PubDate: 2022-10-31
      DOI: 10.22441/vitruvian.2022.v12i1.009
      Issue No: Vol. 12, No. 1 (2022)
       
  • PENGARUH PENEMPATAN BUKAAN PADA PENERANGAN ALAMI RUSUN PEKUNDEN

    • Authors: Audrey Clarisa Febriyani, VG Sri Rejeki
      Pages: 105 - 114
      Abstract: Pencahayaan alami penting untuk meningkatkan kenyamanan visual dan produktifitas pengguna terutama pada rumah susun yang terdapat banyak kegiatan oleh penghuninya. Namun pencahayaan alami juga dapat menimbulkan kerugian pada bangunan dan penggunanya. Sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dan ketersediaan pencahayaan alami pada Rusun Pekunden. Metode penelitian bersifat komparatif dengan mengambil data dari 6 unit rusun yang berbeda tipe dan letak kemudian dilakukan pengolahan data secara kuantitatif dari data berupa ukuran bukaan dan prosentase cahaya serta data telah disimulasikan oleh Dialux Evo. Penelitian menunjukkan bahwa Rusun Pekunden memiliki ukuran bukaan yang optimal namun cahaya tidak dapat masuk ke ruangan karena terdapat aspek lain yang yang menghalangi bukaan. Maka perlu adanya perancangan kembali dari penempatan bukaan agar optimal. Natural lighting is vital to increase visual comfort and user productivity, especially in flats with many occupants' activities. However, natural lighting can also cause harm to buildings and their users. So this study aims to determine the effect and availability of natural lighting in Pekunden Flats. The research method is comparative by taking data from 6 units of flats with different types and locations, then quantitative data processing is carried out from the data in the form of aperture size and percentage of light and the data has been simulated by Dialux Evo. Research shows that Pekunden Flats have an optimal opening size but light cannot enter the room because other aspects block the outlets. So there needs to be a redesign of the placement of the outlets so that they are optimal.
      PubDate: 2022-10-31
      DOI: 10.22441/vitruvian.2022.v12i1.010
      Issue No: Vol. 12, No. 1 (2022)
       
 
JournalTOCs
School of Mathematical and Computer Sciences
Heriot-Watt University
Edinburgh, EH14 4AS, UK
Email: journaltocs@hw.ac.uk
Tel: +00 44 (0)131 4513762
 


Your IP address: 3.236.70.233
 
Home (Search)
API
About JournalTOCs
News (blog, publications)
JournalTOCs on Twitter   JournalTOCs on Facebook

JournalTOCs © 2009-