A  B  C  D  E  F  G  H  I  J  K  L  M  N  O  P  Q  R  S  T  U  V  W  X  Y  Z  

  First | 1 2        [Sort alphabetically]   [Restore default list]

  Subjects -> ARCHITECTURE (Total: 219 journals)
Showing 201 - 264 of 264 Journals sorted by number of followers
The Journal of Integrated Security and Safety Science (JISSS)     Open Access   (Followers: 11)
Nepalese Culture     Open Access   (Followers: 11)
Journal of Delta Urbanism     Open Access   (Followers: 9)
International Journal of Student Project Reporting     Hybrid Journal   (Followers: 8)
UOU Scientific Journal     Open Access   (Followers: 7)
Journal of Architectural and Engineering Research     Open Access   (Followers: 6)
Journal of Public Space     Open Access   (Followers: 5)
Cultural Heritage and Science     Open Access   (Followers: 4)
Actas de Arquitectura Religiosa Contempor├ínea     Open Access   (Followers: 1)
Revista de Design, Tecnologia e Sociedade     Open Access   (Followers: 1)
Creative Space     Open Access   (Followers: 1)
Oz : the Journal of the College of Architecture, Planning &Design at Kansas State University     Open Access   (Followers: 1)
On the w@terfront. Public Art. Urban Design. Civic Participation. Urban Regeneration     Open Access   (Followers: 1)
Estructuras     Open Access  
Sinektika : Jurnal Arsitektur     Open Access  
Arquitectura M├ís (Arquitectura +)     Open Access  
interFACES     Open Access  

  First | 1 2        [Sort alphabetically]   [Restore default list]

Similar Journals
Journal Cover
Nature : National Academic Journal of Architecture
Number of Followers: 2  

  This is an Open Access Journal Open Access journal
ISSN (Print) 2302-6073 - ISSN (Online) 2579-4809
Published by Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar Homepage  [6 journals]
  • EMPAT MOTIVASI KEINGINAN BERKUNJUNG KEMBALI KONSUMEN KE KEDAI KOPI

    • Authors: B. Windryadewi Asys, Hanson E Kusuma, Rahmi Amin Ishak
      Pages: 165 - 175
      Abstract: Abstrak_ Fenomena kebiasaan masyarakat Indonesia meminum kopi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, beralih menjadi gaya hidup masyarakat. Potensi tumbuhnya bisnis kedai kopi di Indonesia nampak dari maraknya pengunjung kedai kopi, namun di sisi lain juga terdapat kedai kopi yang kurang diminati oleh pengunjung. Tujuan dari penelitian untuk mengetahui faktor-faktor yang mendorong konsumen ingin berkunjung kembali ke kedai kopi dan mengungkap hubungan daya tarik desain kedai kopi terhadap minat berkunjung kembali konsumen. Penelitian ini menggunakan mixed method, kombinasi pendekatan kualitatif grounded theory yang bersifat eksploratif dan pendekatan kuantitatif korelasional. Pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan kuesioner daring, pertanyaan kualitatif disusun dengan pertanyaan terbuka dan pertanyaan kuantitatif disusun dengan pertanyaan tertutup dengan pola jawaban berskala likert dan semantic differential (SD-Method). Data yang terkumpul sebanyak 317 responden. Data yang diperoleh berupa data teks dianalisis dengan menggunakan 3 tahap yaitu open coding, axial coding, dan selective coding, sedangkan data numerik dianalisis menggunakan analisis korelasi. Hasil analisis menunjukkan daya tarik desain bukan menjadi faktor utama konsumen ingin berkunjung kembali, namun  terdapat empat motivasi yang menjadi faktor keinginan berkunjung kembali konsumen ke kedai kopi dan motivasi yang paling mendominasi yaitu motivasi kenyamanan dan kualitas produk (Tingkat motivasi sangat tinggi) dengan alasan kenyamanan, kualitas produk, aksesibilitas, relasi, dan ekonomis. Kata kunci: Kedai Kopi; Daya Tarik Desain; Keinginan Berkunjung Kembali   _ The phenomenon of Indonesian people drinking coffee as part of their daily life has become a people's lifestyle. The potential for the growth of the coffee shop business in Indonesia can be seen in the number of visitors to coffee shops, still on the other hand, there are also coffee shops that are less attractive to visitors. The purpose of this study is to determine the factors that encourage consumers to want to return to a coffee shop and to reveal the relationship between the attractiveness of coffee shop design and the interest of consumers to revisit. This study uses a mixed method, a combination of an exploratory grounded theory approach and a quantitative correlational approach. Data was collected by distributing online questionnaires, qualitative questions were arranged with open-ended questions, and quantitative questions were arranged with closed questions with a Likert scale and semantic differential (SD-Method) answer pattern. The data collected were 317 respondents. The data obtained in the form of text data were analyzed using three stages, open coding, axial coding, and selective coding, while the numerical data were analyzed using correlation analysis. The results of the analysis show that the attractiveness of the design is not the main factor that consumers want to visit again, but four motivations are a factor in the desire to revisit consumers to the coffee shop, and the most dominating motivation is the motivation of convenience and product quality (very high level of motivation) for reasons of convenience, product quality, accessibility, relation, and economy. Keywords:  Coffee Shop; Design Appeal; Desire to Visit Again
      PubDate: 2022-12-07
      DOI: 10.24252/nature.v9i2a1
      Issue No: Vol. 9, No. 2 (2022)
       
  • PREFERENSI RUMAH PENGRAJIN GERABAH DI DESA WISATA PANJANGREJO, KABUPATEN
           BANTUL, YOGYAKARTA

    • Authors: Sidhi Pramudito
      Pages: 176 - 188
      Abstract: Abstrak_ Rumah merupakan sebuah bangunan yang terus bertumbuh secar dinamis seiring dengan kebutuhan setiap penghuni yang selalu berkembang sesuai dengan putaran waktu. Preferensi pengguna hadir sebagai sebuah perangkat mental menyangkut perasaan, harapan, atau pilihan seseorang yang mengarahkan pada kecenderungan pilihan. Pemahaman mengenai preferensi pengguna sangat penting dalam sebuah proses perancangan arsitektur karena dapat digunakan sebagai masukan sehingga tercipta hasil rancangan yang cocok dengan kondisi penggunanya. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mencari tahu faktor dari preferensi rumah tinggal dan produksi gerabah bagi pengrajin gerabah yang ideal di Desa Wisata Panjangrejo, Kabupaten Bantul. Penelitian bersifat eksploratif dan analisis dilakukan secara kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara kepada pengrajin gerabah menggunakan kuesioner terbuka mengenai rumah tinggal dan produksi gerabah yang ideal. Tahapan yang dilakukan dalam analisis data yaitu open coding, axial coding, dan selective coding yang menggunakan metode analisis isi. Berdasarkan analisis, 5 faktor utama menjadi preferensi rumah tinggal dan produksi gerabah yang ideal. Kelima faktor tersebut yaitu rancangan rumah yang memiliki: (1) kebutuhan dan hubungan ruang jelas; (2) pertimbangan dalam kesehatan lingkungannya; (3) finishing desain yang baik; (4) konstruksi bangunan yang kuat; dan (5) ukuran ruang yang luas. Kata kunci: Preferensi; Rumah Pengrajin Gerabah; Ideal   _ The house is a building that continues to grow dynamically in line with the needs of each occupant who always develops according to the cycle of time. User preferences exist as a mental set of feelings, expectations, or choices of a person that leads to a preference for choice. Understanding user preferences is very important in the design process because it can be used as an input to create a design that matches the user’s conditions. This study aims to find out the factors of ideal residence preferences and pottery production for pottery craftsmen in Panjangrejo Tourism Village, Bantul Regency. The research is exploratory, and the analysis is done qualitatively. Data were collected through interviews with pottery craftsmen using questionnaires  regarding the ideal residence and pottery production. The steps taken in data analysis are open coding, axial coding, and selective coding, which using the method of content analysis. From the analysis, 5 dominant factors that become the preference for pottery craftsmen regarding the ideal housing and pottery production are house that have: (1) clear spatial needs and relationships; (2) considerations in environmental health; (3) good design finishing; (4) strong building construction; and (5) the size of the spacious room. Keywords : Preference; Craftsman's House; Ideal
      PubDate: 2022-12-12
      DOI: 10.24252/nature.v9i2a2
      Issue No: Vol. 9, No. 2 (2022)
       
  • TRANSFORMASI HUNIAN PADA RUMAH BANTUAN PASCA TSUNAMI DI KUALA MEURAKSA

    • Authors: Yenny Novianti, Saiful Adli Simanullang, Adi Safyan
      Pages: 189 - 205
      Abstract: Abstrak_Kuala Meuraksa adalah gampong yang berdampak gempa bumi dan tsunami tahun 2004 silam, yang berada di bagian pesisir Kota Lhokseumawe, Aceh. Tahun 2006, permukiman ini mendapat rehabilitasi bantuan berupa rumah bagi masyarakat tanpa direlokasi dan  memperoleh bantuan dari empat LSM, baik nasional dan internasional seperti: IOM, Save The Children, Oxfam, dan BRR. Seiring perkembangan waktu, setelah 16 tahun dari tahun 2006 sampai dengan 2022 rumah bantuan tetap ada akan tetapi mengalami transformasi, hal inilah menjadi fenomena dalam permukiman pasca huni. Permasalahan yang dikaji adalah transformasi hunian pasca tsunami tahun 2006-2022, meliputi aspek fungsional dan faktor yang mempengaruhi perubahannya. Tujuan penelitian adalah identifikasi perubahan-perubahan dan  faktor yang mempengaruhinya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pemilihan sampel menggunakan purposive sampling. Variabel penelitian adalah elemen penyebab perubahan (penambahan, pengurangan, dan perpindahan) dan pengaruhnya. Hasil penelitian menunjukkan transformasi hunian akibat penambahan dan perpindahan dengan persentase paling tinggi adalah  192,54%, penambahan 98,2 m² pada rumah bantuan Save the Children dan paling rendah dengan persentase 27,7 %, penambahan 10m2 pada rumah bantuan IOM dan Oxfam. Perubahan tersebut dipengaruhi oleh kebutuhan akan fungsi dan penambahan jumlah anggota keluarga. Kontribusi dari penelitian ini agar rumah bantuan menyesuaikan hunian dengan ruang dan karakteristik aktivitas masyarakat di pesisir pantai. Kata kunci: Transformasi; Hunian; Pasca Tsunami.   _Kuala Meuraksa is a village affected by the 2004 earthquake and tsunami located on the coast of Lhokseumawe City, Aceh. In 2006, this settlement received rehabilitation assistance in the form of housing for the community without being relocated and received support from four NGOs national and international, such as IOM, Save The Children, Oxfam, and BRR. Over time, after 16 years, from 2006 to 2022, the aid houses are still there but are undergoing transformation, which has become a phenomenon in post-occupational settlements. The problem studied is the transformation of post-tsunami housing in 2006-2022, including functional aspects and factors influencing the changes. The research objective is to identify changes and factors that affect change them. This study used a qualitative descriptive method with the sample selection using purposive sampling. The research variables are the elements that cause change (addition, subtraction, and displacement) and their effects. The results showed that the residential transformation due to the increase and removal with the highest percentage was 192.54% in addition to 98.2 m² was the Save the Children aid house. The lowest was 27.7%, and the addition of 10m2 was in the IOM houses and Oxfam aid houses. The change was influenced by a need for function with an additional number of family members. The contribution of this research is that the housing assistance adapts to the space and characteristics of community activities on the coast. Kata kunci: Transformation; Shelter; Post Tsunami.
      PubDate: 2022-12-23
      DOI: 10.24252/nature.v9i2a3
      Issue No: Vol. 9, No. 2 (2022)
       
  • TINJAUAN KONSTRUKSI BANGUNAN RUMAH TINGGI DI KAMPUNG ARAB AL-MUNAWAR
           PALEMBANG

    • Authors: Widi Dwi Satria
      Pages: 206 - 219
      Abstract: Indonesia is a country that has traditional houses in almost every province. The architecture of traditional houses in Indonesia is identical to houses that use local materials obtained from the natural surroundings. The durability of the structure and construction of traditional houses is an essential concern, considering the materials used are constantly being consumed by the times. Rumah Tinggi is part of the typical Palembang pyramid house with the use of materials that are dominated by wood. Rumah Tinggi still survives today during the progress of the times. The review of high-rise construction is interesting to study considering the age of the building is more than 250 years, with occupants from the 7th generation. The research is located in the Arabian village of Al-Munawar, Palembang, with the object of Rumah Tinggi. The method used is qualitative with an observation and interview approach. This study aims to identify the existence of traditional houses called high houses against the development of the times. The study results show that using wood materials still dominates the structure and construction of Rumah Tinggi. Rumah Tinggi still survives to this day. Residents of the house still apply building maintenance by replacing damaged wood components and paint to rejuvenate the atmosphere of Rumah Tinggi. Adjustments in high houses do not fade the authenticity and characteristics of Rumah Tinggi.
      PubDate: 2022-12-14
      DOI: 10.24252/nature.v9i2a4
      Issue No: Vol. 9, No. 2 (2022)
       
  • PERANCANGAN YANG KONTEKSTUAL: BELAJAR DARI THOMAS KARSTEN

    • Authors: Sidhi Pramudito, Fabiola Chrisma Kirana Analisa, Trias Mahendarto, Atmadji, Brigita Murti Utaminingtyas
      Pages: 220 - 233
      Abstract: Abstrak_ Keberagaman gaya bangunan di Indonesia salah satunya dipengaruhi oleh masuknya Belanda ke Indonesia. Arsitektur Hindia Belanda masuk ke Indonesia sebelum Perang Dunia II dan dipelopori terutama oleh Thomas Karsten dan Henri Mecalien Pont. Dalam karyanya, Thomas Karsten selalu memperhatikan budaya lokal dan iklim setempat, hal ini sejalan dengan prinsip arsitektur kontekstual. Arsitektur kontekstual berusaha untuk menjadi arsitektur yang berkontribusi kepada sekitarnya dengan menyelaraskan bangunan baru, dengan tidak melupakan konteks lingkungan di mana bangunan tersebut dibangun, salah satunya dengan memperhatikan nilai lokalitasnya. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari karya Thomas Karsten mengenai rancangan kontekstual yang menjunjung nilai-nilai lokal dan diharapkan dapat diterapkan secara nyata pada masa kini maupun mendatang. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif menggunakan tinjauan pustaka untuk mencari kata kunci yang akan dianalisis mengenai arsitektur kontekstual. Objek yang dianalisis adalah karya Thomas Karsten, yaitu Gedung Teater Rakyat Sobokartti, Pasar Gede Solo, dan Bangunan Jiwasraya Semarang. Aspek yang dianalisis adalah, hubungan bangunan dengan sekitar, aspek fisik, aspek non-fisik, dan sifat kontras/ harmonis. Dari ketiga bangunan, ditemukan persamaan dari rancangan yang kontekstual yaitu, (1) bangunan merupakan campuran dari arsitektur Belanda dan Jawa, (2) ada nilai budaya setempat yang diterapkan, (3) sifat harmonis yang dominan, dan (4) penyesuaian bangunan dengan iklim setempat. Kata kunci : Arsitektur Kontekstual; Thomas Karsten.   _ The arrival of the Dutch to Indonesia was one of the factors that influence the diversity of Indonesian building styles. Dutch East Indies architecture entered Indonesia before World War II and was pioneered especially by Thomas Karsten and Henri Mecalien Pont. Thomas Karsten always pays attention to local culture and climate, the principles of contextual architecture. Contextual architecture strives to contribute to its surroundings by aligning the new building, by not forgetting the environment context where the building is built, especially the locality value. This study aims to learn Thomas Karsten's work on contextual design and is expected to be applied in real terms. Qualitative research method is used by doing a literature review to find keywords to be analyzed regarding contextual architecture. The objects analyzed are Thomas Karsten’s work, Sobokartti People's Theater Building, Gede Market Solo, and Jiwasraya Building Semarang. The analyzed aspects are the relationship of the building with the surroundings, the physical aspect, the non-physical aspect, and the contrast/harmonious trait. From the three buildings, there are similarities from the contextual design: (1) the mixture of Dutch and Javanese architecture, (2) local cultural values ​​that are applied, (3) harmonious traits, and (4) building adjustments to local climate. Keywords :  Contextual Architecture; Thomas Karsten.
      PubDate: 2022-12-13
      DOI: 10.24252/nature.v9i2a5
      Issue No: Vol. 9, No. 2 (2022)
       
  • TINGKAT KEBISINGAN PADA PERUMAHAN BARU DI DALAM KAMPUNG MANGKUKUSUMAN,
           KOTA YOGYAKARTA

    • Authors: Tabita Febriawaty Kartika Putri, Eddy Prianto
      Pages: 234 - 245
      Abstract: Abstrak_ Rumah tinggal pasca pandemi Covid-19 kini tidak hanya dijadikan sebagai tempat untuk beristirahat, namun juga sebagai tempat untuk bekerja dan juga belajar. Rumah tinggal di area perumahan baru di Mangkukusuman Kota Yogyakarta merupakan area rumah tinggal yang didesain tanpa pertimbangan penanggulangan kebisingan. Penanggulangan kebisingan dapat dilakukan melalui desain bentuk rumah, penempatan denah, maupun pemilihan bahan bangunan yang sesuai untuk mereduksi kebisingan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kebisingan pada sampel rumah di perumahan baru di Mangkukusuman Kota Yogyakarta serta mengidentifikasi sumber-sumber kebisingan yang ada pada area tersebut. Penelitian ini dilakukan dengan melakukan pengukuran kebisingan pada titik-titik tertentu pada sampel rumah yang sudah ditentukan menggunakan Sound Level Meter (SLM). Tingkat kebisingan yang diukur merupakan tingkat kebisingan yang ada pada semua frekuensi (125 Hz – 8000 Hz), sehingga satuan tingkat kebisingan yang digunakan adalah dalam dBA. Kebisingan pada area perumahan baru tersebut bisa melebihi batas nyaman yang ditentukan karena sumber bunyi yang berbeda-beda. Kata kunci : Kebisingan; Rumah Tinggal; Sumber Kebisingan.   _ Residential houses post Covid-19 pandemic are not only used as a place to rest, but also used as a place to work and study. The residential house at a new housing area in Mangkukusuman, Yogyakarta City is a residential area that is/are designed without considering noise management. Noise management can be done through house shape design,  floor plans placement, as well as the selection of appropriate building materials to reduce noise. This research aims to determine the levels of noise in sampel houses in new residential area in Mangkukusuman, Yogyakarta City and to identify any sources of noise in the area. This research was conducted by measuring noise at certain points in a predetermined sampel of houses using a Sound Level Meter (SLM). The levels of noise measured are the levels of noise at all frequencies 125 Hz – 8000 Hz, so the unit of the levels of noise that is used is dBA. Noise in the new residential area can exceed the specified comfort limit due to different sound sources. Keywords :  Noise; Residential House; Noise Source.
      PubDate: 2022-12-28
      DOI: 10.24252/nature.v9i2a6
      Issue No: Vol. 9, No. 2 (2022)
       
  • KETERKAITAN KEASLIAN (AUTHENTICITY) OBJEK WISATA TERHADAP KETERIKATAN
           TEMPAT (PLACE ATTACHMENT) PENGUNJUNG

    • Authors: Syam Rachma Marcillia
      Pages: 246 - 254
      Abstract: Abstrak_ Nilai keaslian suatu objek wisata menjadi faktor penting yang mempengaruhi tingkat kunjungan wisatawan untuk meningkatkan keterikatan (attachment) wisatawan terhadap tempat wisata. Hal ini membuat wisatawan memiliki hubungan khusus yang menjadikan mereka ingin kembali mendatangi objek wisata terkait. Penelitian dilakukan untuk menguji hubungan antara nilai keaslian (authenticity) dengan keterikatan tempat (place attachment) pengunjung pada destinasi wisata di Yogyakarta. Responden penelitian terdiri dari 65 wisatawan yang pernah berkunjung ke Keraton Kesultanan Yogyakarta dan Monumen Jogja Kembali. Pengambilan data dilakukan dengan kuesioner yang terdiri dari 5 (lima) bagian, yaitu data responden, informasi dasar tentang objek wisata, nilai keaslian (authenticity) objek wisata, nilai keterikatan tempat (place attachment), dan evaluasi kepuasan wisatawan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Keraton memiliki jumlah pengunjung yang lebih tinggi dibandingkan dengan Monjali. Alasan tingginya jumlah kunjungan Keraton sebagai objek wisata dengan daya tarik budaya adalah karena memiliki nilai authenticity yang lebih tinggi dan mempengaruhi place attachment terhadap pengunjung. Nilai ini relevan dengan konteks sejarah atau warisan di Yogyakarta sehingga mampu memberikan keterikatan secara fungsional dan emosional. Kata Kunci: Keaslian; Keterikatan Tempat; Daya Tarik Wisata; Objek Wisata.   _The authenticity value of a tourist attraction is an essential factor that influences the number of visits to increase tourists’ attachment to tourist attractions. This makes tourists have a special relationship that makes them want to come back. This research was conducted to examine the relationship between the value of authenticity with visitors’ place attachment. The respondents of this research were 65 tourists who had visited the Keraton Kesultanan Yogyakarta and Monumen Jogja Kembali. Data collection was carried out using a questionnaire consisting of 5 (five) parts, namely respondent data, basic information about tourism objects, the value of the authenticity of tourism objects, the value of place attachment, and evaluation of tourist satisfaction. The result showed that the Keraton had a higher number of visitors than the Monjali. The reason for the high number of visits to the Keraton as a tourist destination with cultural attraction is because it has a higher authenticity value and affects place attachment to visitors. This value is relevant to the historical context or heritage in Yogyakarta so that it can provide a functional and emotional attachment. Keywords: Authenticity; Place Attachment; Tourist Attraction; Tourism Object.    
      PubDate: 2022-12-30
      DOI: 10.24252/nature.v9i2a7
      Issue No: Vol. 9, No. 2 (2022)
       
  • “EMPER TERBUKA” PADA DESAIN RUMAH TOKO KELUARGA HO A HENG
           KARYA FRIEDRICH SILABAN

    • Authors: Dahniar
      Pages: 255 - 265
      Abstract: Abstrak_ Pada periode akhir karirnya, Friedrich Silaban merancang Rumah Toko Keluarga Ho A Heng di daerah Suryakencana Bogor yang merupakan satu-satunya proyek huniannya untuk rumah toko tunggal. Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis metode yang digunakan oleh Silaban dalam mendesain “emper terbuka” pada Rumah Toko Keluarga Ho A Heng dan membandingkannya dengan tipologi rumah toko Tionghoa. Dengan pendekatan historikal, penulis menganalisis komposisi tata ruang dan desain atap emper terbuka melalui dokumen arsip Silaban untuk proyek ini. Selanjutnya pendekatan komparatif digunakan untuk membandingkan desain rumah toko ini dengan tipologi rumah toko Tionghoa di Cina Selatan dan Bogor. Melalui desainnya Silaban memadukan pola tata ruang rumah toko nonlinier yang fungsional dan taman dalam sebagai pusat yang dikelilingi oleh emper terbuka dengan naungan atap berteritisan lebar dan elemen pembayangan. Emper terbuka dan taman tengah menjadi bagian dari metode desain Silaban sebagai solusi masalah iklim tropis lembab pada rumah toko modern. Kata kunci : Friedrich Silaban; Emper Terbuka; Rumah Toko; Komposisi Tata Ruang; Desain   _ At the end of his career period, Friedrich Silaban designed a shophouse for the family of Ho A Heng at Suryakencana Bogor remarked as his only housing project for a single shophouse. This paper aims to analyze Silaban’s design method for creating the “open veranda” in the shophouse for Ho A Heng and compare it to the Chinese shophouse typology. Using a historical method, the author analyzed the open veranda’s spatial composition and roof design by examining Silaban’s archive documents for this project. Furthermore, the author used a comparative method to collate this shophouse design with Chinese shophouse typology in Southern China and Bogor. Through his design, Silaban integrated a functional non-linear spatial composition and a central courtyard was surrounded by the open veranda beneath wide roof eaves and shading elements. The open veranda and central courtyard become a part of Silaban’s design method to solve the problem of the hot-humid climate in modern shophouse design. Keywords :  Friedrich Silaban; Open Veranda; Shophouse; Spatial Composition; Design
      PubDate: 2022-12-30
      DOI: 10.24252/nature.v9i2a8
      Issue No: Vol. 9, No. 2 (2022)
       
 
JournalTOCs
School of Mathematical and Computer Sciences
Heriot-Watt University
Edinburgh, EH14 4AS, UK
Email: journaltocs@hw.ac.uk
Tel: +00 44 (0)131 4513762
 


Your IP address: 3.236.70.233
 
Home (Search)
API
About JournalTOCs
News (blog, publications)
JournalTOCs on Twitter   JournalTOCs on Facebook

JournalTOCs © 2009-