A  B  C  D  E  F  G  H  I  J  K  L  M  N  O  P  Q  R  S  T  U  V  W  X  Y  Z  

  Subjects -> ANTHROPOLOGY (Total: 398 journals)
The end of the list has been reached or no journals were found for your choice.
Similar Journals
Journal Cover
Majalah Geografi Indonesia
Number of Followers: 0  

  This is an Open Access Journal Open Access journal
ISSN (Print) 0215-1790 - ISSN (Online) 2540-945X
Published by Universitas Gadjah Mada Homepage  [46 journals]
  • Pemaknaan tempat bagi konsumen pada restoran di Jalan Cipete Raya, Jakarta
           Selatan

    • Authors: Hanna Maulani Fauziah, Maria Hedwig Dewi Susilowati, Guswandi Guswandi, Hayuning Anggrahita
      Abstract: Abstrak Jalan Cipete Raya merupakan jalan yang menjadi pusat kegiatan usaha khususnya di bidang kuliner. Terdapat jumlah restoran yang banyak dan beragam yang dikategorikan berdasarkan jenis makanannya menjadi restoran Indonesia, restoran Asia, dan restoran Barat. Masing-masing jenis restoran memiliki pengaturan spasial yang unik yang tercermin dalam karakteristik tempat. Keragaman pengaturan spasial restoran tersebut akan menarik konsumen dengan karakteristik yang juga berbeda dan mendorong adanya pemaknaan tempat terhadap masing-masing jenis restoran. Berdasarkan hal tersebut tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji pemaknaan tempat pada restoran, yang memiliki pengaturan spasial dengan keunikan tertentu yang tercermin dalam karakteristik tempat, oleh konsumen yang memiliki karakteristik konsumen yang berbeda-beda. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan pendekatan geografi humanistik. Wawancara mendalam dilakukan dengan informan yang berjumlah 23 orang dan didapatkan dengan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan karakteristik tempat dan karakteristik konsumen pada setiap jenis restoran yang mengakibatkan perbedaan pemaknaan tempat restoran. Restoran di Jalan Cipete Raya memiliki pemaknaan tempat secara fungsional, sosial budaya, emosional, dan romantisme daerah. Abstract Jalan Cipete Raya is a street that is the center of business activities, especially in the culinary field. Many varied restaurants are categorized based on food: Indonesian restaurants, Asian restaurants, and Western restaurants. Each type of restaurant has a unique spatial setting which is reflected in the place characteristic. The diversity of the restaurant’s spatial setting will attract consumers with different characteristics and create a place meaning for each restaurant.  Based on the background mentioned previously, this study aimed to examine the restaurant’s place meaning, which has a unique spatial setting reflected in the place characteristics by consumers with different consumer characteristics. This research is qualitative with a humanistic geography approach. In-depth interviews were conducted with 23 informants and obtained by purposive sampling technique. The results showed differences in spatial setting and the consumers’ characteristics in each restaurant, resulting in different restaurant's place meanings. The restaurant on Jalan Cipete Raya has a place meaning including functional, socio-cultural, emotional, and hometown romance meaning.
      PubDate: 2022-10-11
      DOI: 10.22146/mgi.73243
      Issue No: Vol. 37, No. 1 (2022)
       
  • Kajian kerawanan dan kesiapsiagaan kelembagaan dalam penanganan banjir di
           Kota Batu, Jawa Timur

    • Authors: Firre An Suprapto, Bambang Juanda, Ernan Rustiadi, Khursatul Munibah
      Abstract: Abstrak Penelitian ini bertujuan menganalisis kerawanan banjir dan kesiapsiagaan kelembangaan dalam penanganan bencana banjir di 24 Desa/Kelurahan Kota Batu. Lokasi dipilih karena merupakan Kota Pariwisata dengan basis sektor pertanian yang berpotensi rawan terhadap banjir.Kerawanan banjir dianalisis melalui parameter kemiringan lereng, geomorfologi, curah hujan, jenis tanah, penutup lahan danbuffersungai.Metode yang digunakan dalam analisis kerawanan banjir adalahSpatial Multi Criteria Evaluation(SMCE).Matrix of Alliances and Conflicts,Tactics, Objectives and Recommendation(MACTOR) untuk analisis keberlanjutan dengan prespektif aktor-faktor. Pengolahan SMCE menghasilkan perbedaan zonasi tingkat kerawanan desa setiap tahun dengan kerawanan tinggi dan sedang di sebagian Kecamatan Bumiaji, Batu dan Junrejo.Hasil analisis MACTOR menunjukkan upaya yang dilakukan oleh sebelas OPD mendukung pelaksanaan dan memberikan pengaruh tinggi dalam strategi dan penanganan kebencanaan Kota Batu, baik pra bencana, saat bencana, maupun pasca bencana banjir dengan Dinas Pariwisata dan Dinas Pertanian sebagaikey driverdalam pelaksanaan strategi kebencanaan banjir di Kota Batu.


      Abstract This study aims to analyse flood susceptibility and institutional preparedness in handling flood disasters in 24 villages/sub-districts of Batu City, East Java. Location was chosen in this research because it is a Tourism City with an agricultural as the base sector. It has the potential to flood vulnerability. Flood susceptibility was analyzed through slope parameters, geomorphology, rainfall, soil type, land cover and buffer zone. Spatial Multi Criteria Evaluation (SMCE). Matrix of Alliances and Conflicts, Tactics, Objectives and Recommendations (MACTOR) are used as a method to analyze the sustainability with actors-factors perspective. SMCE resulted zone differences of village vulnerability levels in each year which have high and moderate vulnerability in some areas of Bumiaji, Batu and Junrejo District. MACTOR analysis showed that the efforts carried out by eleven OPD support the implementation of flood disaster and has huge impact on the disaster management strategy, in pre, during, and afer the flood disaster with the Tourism Office and the Agriculture Office as key drivers in the implementation of the flood disaster strategy in Batu City.
      PubDate: 2022-10-07
      DOI: 10.22146/mgi.74421
      Issue No: Vol. 37, No. 1 (2022)
       
  • Analisis Geospasial Kasus Stunting menggunakan Artificial Neural Network
           (ANN) di Kecamatan Gadingrejo, Pringsewu-Lampung

    • Authors: Mochamad Firman Ghazali, Araneta Aqzela, Christas Gracia, Raudya Santy Febriningtyas, Dewi Wijayanti
      Abstract: Abstrak.Tingginya prevalensi stunting dipicu oleh kurangnya kualitas hidup balita di awal pertumbuhannya. Hal ini dapat berpengaruh pada rendahnya kualitas sumberdaya manusia dari banyak generasi penerus bangsa. Kajian stunting secara spasial menggunakan artificial neural network (ANN) bertujuan untuk mengetahui pola spasial dan prediksi tingkat kerawanan di wilayah lain di sekitarnya. Analisis dilakukan berdasarkan kondisi sosial-ekonomi dan budaya dari orang tua balita penderita stunting yang diperoleh dari wawancara, diolah dengan inverse distance weighted (IDW) dan diintegrasikan dengan hasil olah citra satelit Landsat 8 OLI-TIRS, berupa percent building density (PBD), land surface temperature (LST), normalized difference water index (NDWI), soil adjusted vegetation index (SAVI), dan normalized difference built-up index (NDBI). Model ANN dijalankan dengan metode back propagation, variasi jumlah hidden layer sebanyak 3, 5, dan 7, dengan variasi input prediksi mampu menghasilkan variasi distribusi stunting dan tingkat akurasinya. Berdasarkan nilai root mean square error (RMSE), bertambahnya jumlah hidden layer dan variasi input prediksi berkontribusi untuk menghasilkan akurasi hasil prediksi lebih baik, yakni 68%-93%. Secara spasial, keduanya secara langsung menjelaskan juga perubahan distribusi pola spasial kerawanan stunting di keseluruhan wilayah studi.  
      Abstract. Lower toddler's life quality triggers the high prevalence of stunting at the beginning of their growth. This factor can affect many future generations' low quality of human resources. Studying stunting spatially using an artificial neural network (ANN) aims to determine the spatial pattern and predict the level of vulnerability in other surrounding areas. The analysis was carried out based on the socio-economic and cultural conditions of parents of children with stunting obtained from interviews, processed by inverse distance weighted (IDW) and integrated with the results of Landsat 8 OLI-TIRS satellite imagery, in the form of percent building density (PBD), land surface temperature (LST), normalized difference water index (NDWI), soil adjusted vegetation index (SAVI), and normalized difference built-up index (NDBI). The ANN model is run using the back propagation method, with variations in the number of hidden layers as many as 3, 5, and 7, with variations in predictive input capable of producing variations in the stunting distribution and the level of accuracy. Based on the value of the root mean square error (RMSE), the increasing number of hidden layers and variations in input predictions contribute to producing better prediction accuracy, which is 68%-93%. Spatially, both directly explain the changes in the distribution of the spatial pattern of stunting susceptibility in the entire study area. 
      PubDate: 2022-09-21
      DOI: 10.22146/mgi.70474
      Issue No: Vol. 37, No. 1 (2022)
       
  • Pemanfaatan google earth engine untuk pemantauan lahan agroforestri dalam
           skema perhutanan sosial

    • Authors: Ahmad Rizaldi, Arief Darmawan, Hari Kaskoyo, Agus Setiawan
      Abstract: Abstrak. Strategi pengelolaan hutan secara agroforestri dalam skema Perhutanan Sosial (PS)  perlu dipantau menggunakan  teknologi penginderaan jauh. Teknologi analisis citra penginderaan jauh dan teknologi informasi saat ini telah berkembang ke dalam penggunaan cloud computing dan Big Data seperti platform Google Earth Engine (GEE) yang membuat perolehan data turunan citra satelit seperti tutupan lahan menjadi sangat cepat. Makalah ini bertujuan untuk menganalisis citra satelit multiwaktu menggunakan platform GEE dengan algoritma Random Forest (RF) dan Classification and Regression Trees (CART) dalam konteks pemantauan program perhutanan sosial. Hasil uji penilaian akurasi klasifikasi menunjukkan bahwa algoritma RF memiliki hasil akurasi lebih baik dengan nilai overall accuracy sebesar 94,64% dan kappa accuracy sebesar 92,23% dibandingkan dengan algoritma CART yang mendapatkan nilai overall accuracy sebesar 89,77% dan nilai kappa accuracy sebesar 85,54%. Penggunaan platform google earth engine untuk pemantauan skema PS terbukti berhasil di beberapa daerah dalam penerapan mitigasi peningkatan deforestasi dan degradasi hutan.  Abstract. Agroforestry forest management needs to be carried out and monitored using remote sensing technology. The latest development related to remote sensing technology today is using cloud computing and Big Data such as the Google Earth Engine (GEE), which makes the acquisition of derived data from satellite imagery such as land cover very quickly. This paper aims to analyze multi-time satellite imagery using GEE with Random Forest (RF) and Classification and Regression Trees (CART) algorithms. The results show that the RF algorithm has better classification accuracy with an overall accuracy value of 94.64% and kappa accuracy of 92.23% compared to the CART algorithm which gets an overall accuracy value of 89.77% and kappa accuracy value of 85.54%. The use of GEE platform for monitoring PS schemes has proven successful in several areas in implementing mitigation of increased deforestation and forest degradation.  

      PubDate: 2022-09-21
      DOI: 10.22146/mgi.73923
      Issue No: Vol. 37, No. 1 (2022)
       
  • Luasan dan Kerapatan ekosistem mangrove di Kecamatan Cilamaya Wetan,
           Kabupaten Karawang

    • Authors: Angga Kurniawansyah, Masita DwiMandini Manessa, Aulia Puji Hartati
      Abstract: Abstrak. Pemantauan luasan dan kerapatan mangrove dapat berguna untuk keberlanjutan pemanfaatan ekosistem mangrove. Salah satu ekosistem mangrove yang telah dimanfaatkan berada di Kecamatan Cilamaya Wetan berupa peresmian objek wisata Pusat Bahari Tangkolak (PBT). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui dan juga menentukan luasan serta kerapatan ekosistem mangrove. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) menggunakan data perekaman citra satelit PlanetScope sensor Dove-R dengan cara dijitasi on screen, observasi, dan diskusi di lapangan. Analisis yang digunakan spasial, kuantitatif dan deskriptif untuk menjelaskan luasan dan kerapatan mangrove. Luas mangrove tahun 2017-2019 berturut-turut sebesar 77,40 Ha, 81,24 Ha, dan 50,91 Ha dengan dominasi kerapatan klasifikasi lebat setiap tahunnya. Penurunan luasan dan kerapatan mangrove terjadi karena adanya kegiatan wisata dan perubahan fungsi lahan ekosistem mangrove menjadi tambak ikan, udang, garam, dan penebangan pohon dalam pemenuhan kebutuhan rumahtangga.Abstract. Monitoring the area and density of mangroves can be useful for the sustainable use of mangrove ecosystems. One of the mangrove ecosystems that have been utilized is in the District of Cilamaya Wetan in the form of the inauguration of the Tangkolak Marine Center (PBT) tourist attraction. The purpose of this study was to determine and also determine the extent and density of the mangrove ecosystem. The method used in this research is NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) using PlanetScope sensor Dove-R satellite image recording data by digitizing on screen, observation, and discussion in the field. The analysis used was spatial, quantitative and descriptive to explain the extent and density of mangroves. The area of mangroves in 2017-2019 was 77.40 Ha, 81.24 Ha, and 50.91 Ha, respectively, with the dominance of the dense category of density every year. The decrease in the area and density of mangroves occurs due to tourism activities and changes in the function of mangrove ecosystem land into fish, shrimp, salt ponds, and tree cutting to fulfill household needs.
      PubDate: 2022-09-21
      DOI: 10.22146/mgi.75345
      Issue No: Vol. 37, No. 1 (2022)
       
  • Analisis pembangunan wilayah melalui program dana desa di Kabupaten Bogor:
           pendekatan teori kelembagaan

    • Authors: Shabrina Agustin Ghassani, Dominicus Savio Priyarsono, Wiwiek Rindayanti, Annisa Utami Seminar
      Abstract: Abstrak. Salah satu agenda besar dalam strategi pembangunan wilayah perdesaan adalah mengimplementasikan program dana desa. Namun, masih ditemukan kendala yang menghambat keberhasilan program dana desa yang sebabkan oleh lemahnya kapasitas kelembagaan desa. Sehingga, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor penghambat ditinjau berdasarkan perspektif kelembagaan yang menghambat proses pengelolaan dana desa dalam pembangunan wilayah perdesaan. Penelitian ini merupakan penelitian studi kasus yang menggunakan metode analisis isi dan analisis tematik dengan pendekatan kualitatif untuk menggali proses pengelolaan dana desa dalam menunjang pembangunan wilayah perdesaan yang dilakukan di Kabupaten Bogor. Berdasarkan hasil analisis, belum optimalnya alokasi pemanfaatan dana desa dalam perencanaan pembangunan dipengaruhi oleh unsur kognitif-kultural masyarakat. Secara normatif, kepala desa memiliki keprofesionalitasan yang rendah. Lemahnya pengawasan kepada kepala desa menyebabkan rendahnya profesionalisme kepala desa dalam melaksanakan pertanggungjawaban kepada masyarakat. Hal ini menyebabkan rendahnya rasa memiliki masyarakat terhadap program dana desa, sehingga pelaksanaan pembangunan desa melalui program dana desa dinilai belum sampai pada tahap menjadikan masyarakat desa sebagai subyek pembangunan. Abstract. The big agenda in the rural area development strategy is implementing the village fund program. However, there are still obstacles that hinder the success of the village fund program which is caused by the weak capacity of village institutions. Thus, this study aims to to analyze the inhibiting factors from an institutional perspective that hinder the management of village funds in developing rural areas. This is case study research that use content and thematic analysis with a qualitative approach to explore the process of managing village fund in Bogor Regency. Found that, the non-ideal allocation of village fund utilization in development planning was influenced by the cognitive-cultural element. Weak supervision of the village head causes the low professionalism of the village head in carrying out accountability. This led to low sense of belonging from community towards the village fund program. The implementation of rural area development through the village fund program is considered not have reached the stage of making rural communities the subject of development.
      PubDate: 2022-09-21
      DOI: 10.22146/mgi.75432
      Issue No: Vol. 37, No. 1 (2022)
       
  • Penerapan Data Spasial Kebijakan Satu Peta untuk Pemodelan Kerawanan
           Malaria Terintegrasi, Kasus Malaria Perbukitan Menoreh

    • Authors: Barandi Sapta Widartono, Suharyadi Suharyadi, Tri Baskoro Tunggul Satoto, Triwibowo Ambar Garjito, Dwi Sarwani Sri Rejeki
      Abstract: Abstrak Kebijakan Satu Peta (KSP) atau One Map Policy (OMP) merupakan salah satu program prioritas pemerintah dalam pelaksanaan Nawa Cita. Implementasi KSP diharapkan dapat membantu percepatan pelaksanaan pembangunan nasional di berbagai bidang, yang diantaranya adalah di bidang kesehatan. Salah satu program di bidang kesehatan yang dipandang relevan dengan implementasi KSP adalah program pengendalian malaria. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan mengidentifikasi data KSP yang dapat digunakan untuk memetakan kerawanan malaria. Eksplorasi dan identifikasi data KSP dilakukan dengan menggunakan pendekatan spasial ekologis yaitu habitat nyamuk vektor malaria. Menggunakan metode Spatial Multi Criteria Analysis (SMCA) yang diintegrasikan dengan SIG. Data KSP terpilih yang digunakan adalah pada kelompok tematik batas wilayah serta sumberdaya alam dan lingkungan yaitu diantaranya batas wilayah administrasi, sistem lahan, geologi, dan penutup lahan, ditambah dengan data kerapatan vegetasi yang di ekstraksi dari citra Landsat. Pemetaan dilakukan di daerah reseptif malaria di Perbukitan Menoreh. Peta kerawanan malaria yang dihasilkan dari implementasi KSP secara umum selaras dengan kondisi kejadian malaria yang terjadi sehingga nantinya dapat digunakan sebagai bahan kajian untuk informasi spasial terpadu. 
      Abstract One Map Policy (OMP) is a priority government program in the implementation of Nawa Cita. One Map Policy implementation can help national acceleration development in every sector, such as health. One of the programs in the health sector that is relevant to OMP implementation is the malaria control program. The purposes of this research are to explore and identify OMP data that can be used to map the malaria hazard. Exploration and identification of OMP data was carried out using a spatial ecology approach that is the habitat of the malaria vector mosquito. This research uses the spatial multicriteria analysis (SMCA) method which is integrated with a geographic information system (GIS). The selected OMP data are boundary and natural resources and environment thematics groups, such as administrative boundaries, land system, geology, land cover, and vegetation density extracted from Landsat imagery. This mapping is located in an endemic malaria area, Menoreh Hills. The resulting malaria hazard map from OMP implementation is generally in line with the conditions of malaria incidence that occur so that it can be used as a study for spatial integrated information.
      PubDate: 2022-08-30
      DOI: 10.22146/mgi.74927
      Issue No: Vol. 36, No. 2 (2022)
       
 
JournalTOCs
School of Mathematical and Computer Sciences
Heriot-Watt University
Edinburgh, EH14 4AS, UK
Email: journaltocs@hw.ac.uk
Tel: +00 44 (0)131 4513762
 


Your IP address: 44.200.169.3
 
Home (Search)
API
About JournalTOCs
News (blog, publications)
JournalTOCs on Twitter   JournalTOCs on Facebook

JournalTOCs © 2009-