A  B  C  D  E  F  G  H  I  J  K  L  M  N  O  P  Q  R  S  T  U  V  W  X  Y  Z  

  Subjects -> VETERINARY SCIENCE (Total: 225 journals)
The end of the list has been reached or no journals were found for your choice.
Similar Journals
Journal Cover
Jurnal Agripet
Number of Followers: 1  

  This is an Open Access Journal Open Access journal
ISSN (Print) 1411-4621 - ISSN (Online) 2460-4534
Published by Universitas Syiah Kuala Homepage  [19 journals]
  • Aplikasi Minyak Atsiri Pala (Myristica fragrans Houtt) dan Komponennya
           (α-pinene dan sabinene) sebagai Bioaditif pada Daging Sapi

    • Authors: Yuliani Aisyah, Dewi Yunita, Audia Amanda, Murna Muzaifa, Irfan Irfan
      Pages: 1 - 9
      Abstract: ABSTRACT. Minyak pala (Myristica fragrans Houtt) telah diketahui memiliki kemampuan antimikroba. Komponen dominan di dalam minyak pala adalah α-pinene dan sabinene. Daging sapi merupakan salah satu bahan pangan yang mudah rusak dan mudah terkontaminasi bakteri patogen. Oleh karena itu, bioaditif seperti minyak pala diperlukan agar daging sapi tidak mudah rusak dan terhindar dari cemaran bakteri patogen. Penelitian ini bertujuan mengetahui kemampuan antimikroba minyak pala (Myristica fragrans Houtt) dan komponen dominan (memiliki persentase tinggi) di dalam minyak pala (α-pinene dan sabinene) terhadap kualitas daging sapi. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) faktorial yang terdiri dari 2 (dua) faktor yaitu jenis bioaditif (minyak pala, α-pinene, sabinene, dan campuran α-pinene + sabinene) dan lama penyimpanan (1 hari dan 7 hari). Data yang diperoleh dianalisis menggunakan Analysis of Variance (ANOVA) dan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sabinene memiliki nilai TPC lebih tinggi yaitu 4,19 Log CFU/g pada lama penyimpanan 7 hari, dibandingkan dengan daging sapi yang direndam dengan α-pinene memiliki nilai TPC 3,19 Log CFU/g dan 3,55 Log CFU/g untuk minyak pala. Daging sapi yang direndam dengan menggunakan α-pinene dan minyak pala serta disimpan selama 7 hari, dapat menekan pertumbuhan Salmonella sp menjadi negatif, namun belum bisa menekan pertumbuhan bakteri patogen Coliform, Escherichia coli dan Staphylococcus aureus di bawah jumlah yang telah ditetapkan SNI 3932:2008. Secara organoleptik, daging sapi yang direndam menggunakan α-pinene memiliki aroma khas daging dan masih dapat mempertahankan warna kemerahan daging sapi. Bioaditif α-pinene dan minyak pala berpotensi untuk dikembangkan menjadi bioaditif alami pada daging sapi.  (Application of nutmeg essential oil (Myristica fragrans Houtt) and its major components (α-pinene and sabinene) as Bio-additives in Beef) ABSTRAK. Nutmeg essential oil (Myristica fragrans Houtt) has been known to have antimicrobial properties. The major components in nutmeg oil are α-pinene and sabinene. The addition of nutmeg oil in beef could protect beef from bacterial contamination. This study aims to determine the antimicrobial properties of nutmeg oil (Myristica fragrans Houtt) and its major components (α-pinene and sabinene) on beef quality. This study used a factorial Randomized Block Design consisting of two factors namely the types of bio-additives (nutmeg oil, α -pinene, sabinene, and a mixture of α-pinene and sabinene) and storage time (1 day and 7 days). The data was analyzed using Analysis of Variance (ANOVA) and the Duncan Multiple Range Test (DMRT). The results showed that sabinene had a higher TPC value of 4.19 Log CFU/g at 7 days of storage than α-pinene having TPC value of 3.19 Log CFU/g and 3.55 Log CFU/g for nutmeg oil. In addition, beef soaked using α-pinene and nutmeg oil and stored for 7 days, can suppress the growth of Salmonella sp to negative, but has not been able to suppress the growth of pathogenic bacteria Coliform, Escherichia coli and Staphylococcus aureus below the amount set by SNI. 3932:2008. Based on the results of organoleptic test, beef marinated using α-pinene has a more distinctive aroma of meat and could maintain the reddish color of the beef. Overall, α-pinene and nutmeg oil are potential to be developed as natural bio-additives in beef.
      PubDate: 2022-04-01
      DOI: 10.17969/agripet.v22i1.22134
      Issue No: Vol. 22, No. 1 (2022)
       
  • Daya Tampung Ternak Ruminansia di Daerah Pertanian Kabupaten Tapanuli
           Selatan

    • Authors: Muhammad Ainsyar Harahap, Fadel Panwari Harahap
      Pages: 10 - 16
      Abstract: ABSTRACT. Penelitian bertujuan untuk mengkaji potensi hijauan pakan ternak asal limbah panen pertanian terhadap daya tampung ternak ruminansia di daerah pertanian Kabupaten Tapanuli Selatan. Penelitian dilaksanakan secara eksploratif dengan menggunakan data sekunder. Model analisis yang digunakan yaitu analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi pakan hijauan di Kabupaten Tapanuli Selatan yaitu 324.834,11 ton BK/tahun dengan jerami padi sebesar 92.735,83 ton BK/tahun, jerami jagung sebesar 20.713,50 ton BK/tahun, jerami kacang – kacangan sebesar 706,50 ton BK/tahun, dan limbah daun umbi-umbian sebesar 179,70 ton BK/tahun. Kapasitas tampung hijauan pakan terhadap populasi ternak ruminansia di kabupaten Tapanuli Selatan yaitu sebesar 324.834,11 ST dan memiliki indeks daya dukung (IDD) ternak masuk kategori aman untuk penyediaan pakan ternak. Kesimpulan dari penelitian adalah Kabupaten Tapanuli Selatan dengan hasil limbah panen pertanian dapat mengembangkan populasi ternak ruminansia sampai 321.137,62 ST.  (Carrying capacity for ruminant livestock in agriculture area of South Tapanuli district) ABSTRAK. The study aimed to evaluate the potential of carrying capacity of forage in agriculture area of South Tapanuli District for ruminant livestock. Descriptive analyze and secondary data were used for method analyze. The result of this study showed that forages production are 324,834.11 ton DM/year, consist of 20,713.50 ton DM of rice straw, 20,713.50 ton DM of corn stover, 706.50 ton DM of nuts straw and 179,70 ton DM of rhizomes residues. Carrying capacity of ruminant population in South Tapanuli district was 324,834.11 AU. The land carrying capacity index for ruminant development was in “safe” category. In conclusion, South Tapanuli district was could to develop ruminant population up to 321,137.62 AU with the support of crop by product.
      PubDate: 2022-04-01
      DOI: 10.17969/agripet.v22i1.20215
      Issue No: Vol. 22, No. 1 (2022)
       
  • Genetic Evaluation and Selection Response of Birth Weight and Weaning
           Weight in Male Saburai Goats

    • Authors: Akhmad Dakhlan, Arif Qisthon, Muhammad Dima Iqbal Hamdani
      Pages: 17 - 25
      Abstract: ABSTRACT. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi parameter genetik (heritabilitas, korelasi genetik) dan nilai pemuliaan serta menggunakan parameter-parameter tersebut untuk mengestimasi respon seleksi dan respon seleksi sifat berkorelasi untuk bobot lahir dan bobot sapih kambing Saburai jantan. Data bobot lahir dan bobot sapih 90 cempe jantan kambing Saburai (data dari tahun 2017-2018) yang dihasilkan dari sembilan ekor pejantan dan 45 ekor induk digunakan dalam penelitian ini. Heritabilitas, korelasi genetik dan fenotipik diestimasi menggunakan data saudara tiri sebapak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai heritabilitas estimasi untuk bobot lahir dan bobot sapih adalah termasuk kategori sedang (masing-masing 0,30±0,08 dan 0,22±0,07). Korelasi genetik antara bobot lahir dan bobot sapih dikategorikan sebagai positif tinggi (0,42±0,06), sedangkan korelasi fenotip antara kedua sifat ini adalah 0,10 (rendah) dan korelasi lingkungan 0,56 (tinggi). Respon seleksi meningkat dengan meningkatnya intensitas seleksi, berkisar antara 0,11 kg sampai 0,28 kg untuk bobot lahir dan antara 0,60 kg sampai 1,54 kg untuk bobot sapih, pada proporsi seleksi antara 50% sampai 5%. Respon seleksi sifat-sifat berkorelasi yang diharapkan terhadap seleksi bobot lahir secara langsung berdampak pada bobot sapih berkisar antara 0,29 kg hingga 0,75 kg pada proporsi seleksi 50% sampai 5%. Heritabilitas sedang dan korelasi genetik yang positif antara bobot lahir dan bobot sapih menunjukkan bahwa seleksi untuk salah satu dari dua sifat ini bisa berhasil dan peningkatan bobot lahir akan meningkatkan bobot sapih kambing Saburai jantan juga. Seleksi tidak langsung yaitu seleksi bobot lahir akan berdampak pada respon seleksi bobot sapih yang lebih rendah dibandingkan dengan seleksi langsung terhadap bobot sapih.  (Evaluasi genetik dan respon seleksi bobot lahir dan bobot sapih pada kambing Saburai jantan) ABSTRAK. This research aimed to estimate genetic parameters (heritability, genetic correlation) and breeding value and used these parameters to estimate selection responses and correlated response to selection of birth and weaning weight of male Saburai goats. Data of birth and weaning weight of ninety male Saburai kids (2017-2018) generated from nine bucks and 45 does were used in this study. Heritability, genetic and phenotypic correlation were estimated using paternal half-sib data. The results showed that heritability estimates for birth and weaning weight were moderate category (0.30±0.08 and 0.22±0.07, respectively). Genetic correlation between birth and weaning weight was categorized as a high positive value (0.42±0.06), while phenotype correlations between the two traits were 0.10 (low), and environmental correlations were 0.56 (high). Responses to selection increased with increasing selection intensity ranging from 0.11 kg to 0.28 kg and 0.60 kg to 1.54 kg for birth and weaning weight, respectively, at 50% to 5% selection proportion. The response of the selection of correlated traits expected to direct birth weight selection impacted on weaning weight ranged from 0.29 kg to 0.75 kg at a selection proportion of 50% to 5%. The moderate heritability and positive genetic correlation between birth and weaning weight suggested that selection for any of these two traits should be successful and improving birth weight will improve the weaning weight of male Saburai goats as well. However, indirect selection (birth weight selection) will impact on the lower response for weaning weight compared to direct selection for weaning weight.
      PubDate: 2022-04-01
      DOI: 10.17969/agripet.v22i1.21062
      Issue No: Vol. 22, No. 1 (2022)
       
  • Tingkah Laku Makan dan Kecernaan Nutrien Berbagai Bangsa Sapi Lokal yang
           Diberi Pakan Jerami Padi dan Konsentrat

    • Authors: Apit Mulyana, Muhamad Bata, Efka Aris Rimbawanto
      Pages: 26 - 35
      Abstract: ABSTRACT. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh bangsa sapi yang berbeda terhadap tingkah laku makan dan kecernaan nutrien pada pemberian pakan jerami padi dan konsentrat. Penelitian dilaksanakan selama empat (4) bulan di UD. Sapi Amanah, Desa Karanggintung, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas. Materi yang digunakan adalah 40 ekor sapi lokal jantan dari bangsa sapi Madura (M), Sumba Ongole (SO), Bali (B), dan Bali Timor (BT) masing-masing 10 ekor. Rerata bobot hidup awal masing-masing bangsa sapi berturut-turut adalah 236,90±4,527 kg, 283,50±8,873 kg, 224,40±4,814 kg, dan 282,10±7,802 kg untuk M, SO, B, dan BT. Sapi tersebut diberi pakan konsentrat 2,5% (BK=86,53%) dari bobot hidup dan jerami padi disediakan secara ad libitum. Penelitian dirancang menurut rancangan acak lengkap dengan empat (4) bangsa sapi sebagai perlakuan. Peubah yang diamati adalah tingkah laku makan dan kecernaan bahan kering (KcBK) dan bahan organik (KcBO). Hasil penelitian menunjukkan bahwa bangsa sapi berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kecepatan makan sore hari; lama waktu makan siang, malam dan sehari penuh, KcBK dan KcBO. Akan tetapi, tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap kecepatan makan pagi hari; frekuensi makan dan ruminasi siang, malam dan sehari penuh; lama waktu ruminasi siang, malam dan sehari penuh. Kesimpulannya adalah terdapat persamaan dan perbedaan tingkah laku makan, kecernaan bahan kering dan bahan organik pada bangsa sapi lokal dan kecernaan BK dan BO pada sapi SO lebih rendah dibandingkan dengan sapi lainnya.  (Feeding behavior and nutrient digestibility of various local cattle breeds fed with rice straw and concentrates) ABSTRAK. This study aimed to determine the effect of different breeds of local cattle on feeding behavior and nutrient digestibility of rice straw and concentrate diet. The research was conducted for four (4) months at UD. Sapi Amanah, Karanggintung Village, Sumbang District, Banyumas Regency. The materials used were 40 local bulls from Madura (M), Sumba Ongole (SO), Bali (B), and Bali Timor (BT) and each of the breeds was ten (10) cattle. The initial body weights of each breed were 236,90±4,527 kg, 283,50±8,873 kg, 224,40±4,814 kg and 282,10±7,802 kg for M, SO, B and BT, respectively. They were fed with 2.5% concentrate (dry matter/DM=86.53%) from body weight and rice straw which was provided ad libitum. The study was designed according to Randomized Complete Design with four (4) local cattle breeds as treatments. Variables measured were feeding behavior and digestibility of DM and organic matter (OM). The results showed that cattle breed had a significant effect (P<0.05) on eating rate in the afternoon, duration of daytime, nighttime and one-day meals, DM and OM digestibility. However, there was no significant effect (P>0.05) on eating rate in the morning; frequency of daytime, nighttime, and one-day meals and rumination; spent time of daytime, nighttime, and one-day rumination. In conclusion, there are similarities and differences in feeding behavior, DM and OM digestibility among local cattle breeds, and digestibility of dry matter and organic matter of SO was lower than other cattle’s.
      PubDate: 2022-04-01
      DOI: 10.17969/agripet.v22i1.20490
      Issue No: Vol. 22, No. 1 (2022)
       
  • Pengaruh Substitusi Hijauan dan Konsentrat dengan Silase Daun dan Hay Ubi
           Kayu terhadap Produksi dan Kualitas Susu Sapi Perah Friesian Holstein

    • Authors: Azhar Amir, Bagus Priyo Purwanto, Nahrowi Nahrowi, Afton Atabany, Salundik Salundik, Ahmad Yani
      Pages: 36 - 43
      Abstract: ABSTRACT. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh substitusi hijauan dengan silase daun ubi kayu (SDUK) dan konsentrat dengan hay ubi kayu difermentasi ragi (Habira) terhadap produksi susu, kualitas susu, dan efisiensi ekonomi sapi perah. Materi yang digunakan adalah lima (5) ekor sapi Friesian Holstein (FH) periode laktasi kedua (66±11 hari) dengan bobot badan 387,6±6,8 kg diberi perlakuan pakan dalam Rancangan Bujur Sangkar Latin 5 x 5. Perlakuannya adalah T0 (hijauan 60% + 20% konsentrat + 20% ampas tahu), T1 (hijauan 40% + 20% SDUK + 20% konsentrat + 20% ampas tahu), T2 (hijauan 40% + 20% SDUK + 15%. konsentrat + 20% ampas tahu + 5% Habira), T3 (40% hijauan + 20% SDUK + 15% konsentrat + 20% ampas tahu + 10% Habira) dan T4 (60% hijauan + 10% konsentrat + 20% limbah tahu + 10% Habira). Variabel yang diukur adalah indeks suhu kelembapan (THI), konsumsi pakan, produksi susu, kualitas susu, hubungan konsumsi protein dan total nutrien tercerna/total digestible nutrient (TDN) dengan produksi susu serta efisiensi pakan dan ekonomi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai THI yang diperoleh mengindikasikan sapi perah mengalami cekaman panas. Perlakuan T1, T2, T3 dan T4 berbeda nyata (P<0,05) dengan T0 dalam konsumsi nutrisi dan produksi susu, sedangkan komposisi susu tidak berbeda nyata antar perlakuan. Konsumsi protein dan TDN pakan memiliki hubungan linier dengan produksi susu (P<0,05). Tidak ada perbedaan signifikan (P>0,05) dalam efisiensi pakan dan ekonomis. Dapat disimpulkan SDUK dan Habira merupakan pengganti hijauan dan konsentrat yang baik untuk sapi perah laktasi.  (Effect of forage and concentrate substitution with cassava leaves silage and cassava hay on milk production and milk composition of Friesian Holstein dairy cows) ABSTRAK. This study aimed to evaluate the effect of forage replacement by cassava leaves silage (CLS) and commercial concentrate by yeast fermented cassava hay (Yefecah) on the production and quality of milk and economic evaluation. Five, early on the second lactation cycle (66±11 day in milk) Holstein Friesian cows were randomly assigned to a 5 (treatments) x 5 (replications). Treatments were T0 (60% forage + 20% concentrate + 20% tofu waste), T1 (40% forage + 20% CLS + 20 % concentrate + 20% tofu waste), T2 (40% forage + 20 % CLS + 15% concentrate + 20% tofu waste + 5% Yefecah), T3 (40% forage + 20 % CLS + 15% concentrate + 20% tofu waste + 10% Yefecah) and T4 (60% forage + 10% concentrate + 20% tofu waste + 10% Yefecah). Variables measured were temperature-humidity index (THI), feed intake, milk production, milk composition, interrelationship crude protein (CP) and total digestible nutrient (TDN) supply to milk production, and economic factors. The Result shows that T1, T2, T3, and T4 were significantly (P<0.05) from T0 on nutrients intake and milk production. Whilst, the treatments were not significant (P>0.05) affect to 4% fat corrected milk (FCM) and milk quality with T2 and T3 obtained the best value. The variables of CP and TDN intake have a positive relationship to milk production (P<0.05). There were no significant differences in (P>0.05) in feed and economical efficiency. It could be concluded that cassava foliage silage and yefecah were the good replacement of forage and concentrate for dairy cows.
      PubDate: 2022-04-01
      DOI: 10.17969/agripet.v22i1.20512
      Issue No: Vol. 22, No. 1 (2022)
       
  • Gambaran Ultrasonografi Corpus Luteum Sapi Aceh Penderita Endometritis
           setelah Terapi Lugol dan Prostaglandin F2 Alfa (PGF2α) secara Intra Uteri
           

    • Authors: Juli Melia, Novi Masitah, Syafruddin Syafruddin, Nuzul Asmilia, Budianto Panjaitan
      Pages: 44 - 50
      Abstract: ABSTRACT. Endometritis merupakan peradangan pada endometrium yang dapat mengakibatkan gangguan fungsi ovarium. Biasanya sapi yang mengalami endometritis memiliki Corpus luteum (CL) di ovarium. Pemberian terapi yang sesuai dan efektif sangat penting dalam penanganan kasus endometritis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan diameter CL pada sapi Aceh penderita endometritis setelah terapi lugol 2% dan PGF2α secara intra uteri menggunakan teknik ultrasonografi. Enam ekor sapi Aceh betina (n=6) yang telah didiagnosa menderita endometritis dengan kisaran umur 5-10 tahun, dibagi dalam 2 kelompok perlakuan. Kelompok 1 (K1, n=3) diberi perlakuan dengan terapi larutan lugol 2% sebanyak 50 ml/ekor secara i.u. Kelompok 2 (K2, n=3) diberi perlakuan dengan terapi lugol 2% 50 ml ditambah PGF2α 12,5 mg/ekor secara i.u. Pemeriksaan dilakukan setelah terapi selama 24 hari. Hasil analisis statistik penurunan diameter CL tidak terdapat perbedaan nyata pada kedua kelompok perlakuan. Dapat disimpulkan bahwa terapi sapi-sapi Aceh endometritis menggunakan kombinasi lugol 2% dan PGF2α kurang efektif terhadap penyembuhan berdasarkan gambaran ultrasonografi CL pada ovarium sapi Aceh endometritis.  (Ultrasonography of corpus luteum endometritis Aceh cows after intra uterine therapy of lugol and PGF2α) ABSTRAK. Endometritis is an inflammation in the endometrium that can resulted from disturbance of normal ovarian function. Giving appropriate therapy and effective is very important in handling case endometritis. Usually cows that experience endometritis has Corpus luteum (CL) in the ovary. This research aim was to know the changes in diameter of CL at Aceh cows sufferer endometritis after therapy lugol 2% and PGF2α with intra-uterine infusion using ultrasound technique. Six Aceh cow females (n=6) who have been diagnosed suffer from endometritis with range age 5 to 10 years, divided in to 2 groups of treatment. Group 1 (K1, n=3) was given treatment with therapy solution lugol 2% as much as 50 ml/head in a manner i.u. Group 2 (K2, n=3) was given treatment with therapy lugol 2% 50 ml plus PGF2α 12,5 mg/head in a manner i.u. Examination done after therapy for 24 days. The results of the statistical analysis showed no significant differences in the two treatment groups. Could be concluded that treatment endometritis Aceh cows use combination lugol 2% and PGF2α is lacking effective to healing based on picture ultrasonography CL on ovary endometritis Aceh cows.
      PubDate: 2022-04-01
      DOI: 10.17969/agripet.v22i1.20710
      Issue No: Vol. 22, No. 1 (2022)
       
  • Konsentrasi Superoxydase Dismutase (SOD) dan Malondialdehyda (MDA) Semen
           Cair Kambing Boer selama Pendinginan Menggunakan Pengencer Air Kelapa

    • Authors: Muhammad Ade Salim, Muhammad Nur Ihsan, Nurul Isnaini, Trinil Susilawati
      Pages: 51 - 56
      Abstract: ABSTRACT. Lama simpan semen cair yang berbahan dasar pengencer air kelapa muda varietas kelapa hijau (C.Viridis) hanya mampu bertahan selama 3 hari pada suhu 50C akibat peroksidasi lipid yang menyebabkan kerusakan membran. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penggunaan pengencer air kelapa terhadap konsentrasi Superoxydase Dismutase (SOD) dan kadar Malondialdehyda (MDA) semen cair kambing Boer selama penyimpanan dingin. Durasi penelitian satu bulan bertempat di Laboratorium Fakultas Kedokteran dan Laboratorium Reproduksi Ternak, Unit Sumber Sekar, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya, Malang. Metode penelitian yaitu eksperimen. Dikoleksi dari semen 3 pejantan Boer umur 3-5 tahun interval 1 minggu 1 kali menggunakan Vagina Buatan. Air kelapa muda varietas viridis umur 5-7 bulan serta tris aminomethane sebagai kontrol. Rancangan penelitian didesain menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 2 perlakuan yaitu P0 (tris aminomethane + 10% Kuning Telur) dan P1 (air kelapa muda varietas viridis + 10% Kuning Telur) masing-masing diulang 3 kali. Data dianalisis dengan analisis Ragam (Anova) dengan software Genstat 18. Variabelnya yaitu konsentrasi SOD dan MDA. Hasil penelitian diperoleh untuk SOD P0 H1= 35,842 ± 1,82 ; H3= 33,342± 3,50 dan H8= 23,729± 9,02 dalam ng/100 ug. Untuk P1 diperoleh rerata H1 =36,676±2,19 ; H3= 36,527±2,20 ; H8= 24,830± 8,93 dalam ng/100ug. Kadar MDA P0 H1= 1,072±0,2 ; H3= 1,218± 0,4 dan H8= 1,439± 0,3 dalam ng/100ug. Hasil P1 H1= 0,941± 0,0 ; H3= 1,160± 0,4 dan H8= 1,370± 0,3. Hasil Anova Perlakuan tidak berpengaruh Nyata (P>0,05) disemua hari simpan, tetapi konsentrasi SOD terbaik di P1 dibandingkan P0. Kesimpulan 1. Penggunaan air kelapa sebagai pengencer semen cair kambing Boer selama pendinginan tidak berdampak pada konsentrasi SOD dan MDA. 2. Peningkatan konsentrasi MDA dan Penurunan konsentrasi SOD disebabkan karena, rendahnya antioksidant flavonoid dan vitamin C.  (Concentration of Superoxydase Dismutase (SOD) and Malondialdehyda (MDA) Goat Boer Liquid Semen during Cooling using Coconut Water Diluent) ABSTRAK. The shelf life of young coconut water thinner viridis for liquid semen quality Boer goat is only up to 3 days, because there is damage due to lipid peroxidation which causes damage to the spermatozoa membrane. This study aims to analyze the effect of using coconut water thinner on the concentration of Superoxydase Dismutase (SOD) and levels of Malondialdehyda in Boer goat liquid semen during cold storage. The duration of the research is one month at the Laboratory of the Faculty of Medicine and the Laboratory of Animal Reproduction, Sumber Sekar Unit, Faculty of Animal Husbandry, Brawijaya University, Malang. The research method is experimental. Collected from the semen of 3 Boer males aged 3-5 years 1 week interval using Artificial Vagina. Young viridis coconut water aged 5-7 months and tris aminomethane as a control. The research design was designed using a Randomized Block Design (RBD) with 2 treatments, namely T0 (tris aminomethane + 10% EY) and T1 (viridis young coconut water + 10% EY) each repeated 3 times. Data were analyzed by analysis of variance (Anova) with Genstat 18 software. The variables were SOD and MDA concentrations. The results obtained for SOD T0 D1 = 35.842 ± 1.82; D3 = 33.342 ± 3.50 and D8 = 23.729 ± 9.02 in ng / 100 ug. For T1, the mean D1 = 36.676 ± 2.19; D3 = 36,527 ± 2.20; D8 = 24,830 ± 8.93 in ng / 100ug. MDA levels T0 D1 = 1.072 ± 0.2; D3 = 1.218 ± 0.4 and D8 = 1.439 ± 0.3 in ng / 100ug. Result of T1 H1 = 0.941 ± 0.0; D3 = 1.160 ± 0.4 and D8 = 1.370 ± 0.3. The results of the ANOVA treatment had no significant effect (P> 0.05) on all storage days, but the best SOD concentration was in T1 compared to T0. The conclusion is that 1. The use of coconut water as a liquid Boer goat semen thinner during cooling has no impact on the SOD and MDA concentrations. 2. Increased MDA concentrations and decreased SOD concentrations were due to low flavonoid and vitamin C antioxidants.
      PubDate: 2022-04-01
      DOI: 10.17969/agripet.v22i1.20073
      Issue No: Vol. 22, No. 1 (2022)
       
  • Indonesian River Buffalo Molecular Phylogeny Compared to Other Mammals
           Based on STAT1 Sequence

    • Authors: Fuad Hasan, Armyn Hakim Daulay, Ferdy Saputra, Isyana Khaerunnisa
      Pages: 57 - 61
      Abstract: ABSTRACT. Genes differ in sequence, size, and functional domains among species. According to studies, STAT1 provides information on the rate of evolution that correlates with its function in the immune system. STAT1 is also considered a genetic marker for economic traits in mammals. Studying sequence comparison is an important issue in bioinformatic study and can explain phylogenetic. Therefore, this study aimed to identify the molecular phylogeny of river buffalo (Bubalus bubalis) and other mammals based on STAT1 gene sequences. This study used 7 STAT1 sequences from Ensembl (Bos grunniens, Bos indicus, Bos Mutus, Capra hircus, Cervus hanglu yarkandensis, Moschus moschiferus) and previous studies (Bubalus bubalis). The sequences were analyzed using the MEGA X 10.2.6 software to observe the nucleotide composition and the phylogeny (based on UPGMA). The adegenet package in the R 4.0.0 software is used to observe the STAT1 sequence dimensionally among mammals. The STAT1 sequence has almost similar diversity among the livestock of the same genus. Based on the STAT1 sequence, Bubalus bubalis has closer genetic proximity to the genus Bos than to another genus. In conclusion, we found STAT1 is more dynamic in evolution and more conserved and found in the similar related genus.  (Filogeni kerbau Indonesia dibandingkan mamalia lain berdasarkan runutan nukleotida gen STAT1) ABSTRAK. Gen berbeda dalam urutan, ukuran, dan domain fungsional di antara spesies. Menurut penelitian sebelumnya, STAT1 memberikan informasi tentang laju evolusi yang berkorelasi dengan fungsinya dalam sistem kekebalan. STAT1 juga dianggap sebagai penanda genetik untuk sifat bernilai ekonomi pada mamalia. Studi perbandingan urutan merupakan isu penting dalam studi bioinformatika dan dapat menjelaskan filogenetik. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi filogeni molekuler kerbau sungai (Bubalus bubalis) dan spesies mamalia lain berdasarkan sekuens gen STAT1. Penelitian ini menggunakan 7 sekuen STAT1 yang diambil dari Ensembl (Bos grunniens, Bos indicus, Bos mutus, Capra hircus, Cervus hanglu yarkandensis, Moschus moschiferus) dan penelitian sebelumnya (Bubalus bubalis). Sekuen dianalisis menggunakan program MEGA X 10.2.6 untuk melihat komposisi nukleotida dan filogeni (berdasarkan UPGMA). Adegenet package dalam program R 4.0.0 digunakan untuk mengamati urutan STAT1 secara dimensional diantara mamalia. Sekuen STAT1 memiliki keragaman yang hampir sama di antara ternak dari genus yang sama. Berdasarkan sekuen STAT1, Bubalus bubalis memiliki jarak genetik yang lebih dekat dengan genus Bos dibandingkan dengan genus lainnya. Sebagai kesimpulan, kami menemukan STAT1 lebih dinamis dalam evolusi dan lebih terkonservasi serta ditemukan dalam genus terkait yang serupa.
      PubDate: 2022-04-01
      DOI: 10.17969/agripet.v22i1.20889
      Issue No: Vol. 22, No. 1 (2022)
       
  • Pengaruh Penggunaan Bungkil Inti Sawit Taraf 40% dalam Ransum terhadap
           Bobot Potong, Karkas, Potongan Komersil Karkas dan Kualitas Daging Ayam
           SenSi-1 Agrinak

    • Authors: Nevy Diana Hanafi, Ma’ruf Tafsin, Sri Haryani Sitindaon, Achmad Sadeli, Karunia Simanungkalit
      Pages: 62 - 71
      Abstract: ABSTRACT. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh optimalisasi penggunaan Bungkil Inti Sawit/Bungkil Inti Sawit Fermentasi dalam ransum terhadap bobot potong, karkas, persentase karkas, bobot lemak abdominal, potongan dan persentase komersil karkas serta kualitas daging ayam SenSi-1 Agrinak umur 10 minggu. Penelitian menggunakan RAL: 6 perlakuan 5 ulangan, ulangan: 3 ekor ayam SenSi-1 Agrinak. Perlakuan pakan penelitian: P0 (kontrol), P1 = BIS 40% , P2 = BIS 30% + BISF 10%, P3 = BIS 20% + BISF 20%, P4 = BIS 10% + BISF 30%, P5 = BISF 40%. Pakan perlakuan diberikan pada ayam umur 10 hari sampai 10 minggu, kemudian dilakukan penyembelihan untuk pengamatan bobot potong, bobot karkas, potongan komersil dan persentase karkas (dada, sayap, punggung, paha atas, paha bawah) serta kualitas daging. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan BISF 30% + BIS 10% dalam pakan mampu meningkatkan bobot potong, bobot karkas, bobot dada, bobot paha bawah, bobot saya dan menurunkan lemak abdominal, namun tidak menunjukkan hasil yang berbeda terhadap persentase karkas, punggung, dada, paha, dan sayap pada ayam SenSi-1 Agrinak. Penggunaan 40% BISF dalam ransum mampu meningkatkan kandungan protein daging namun tidak menunjukkan hasil yang berbeda terhadap pH, daya ikat air, susut masak, kadar air dan lemak kasar pada ayam SenSi-1 Agrinak. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian 30% BISF + 10% BIS dan pemberian 40% BISF layak digunakan dalam ransum ayam SenSi-1 Agrinak.  (The effect of use of palm kernel oil at the level of 40% in the ration on slaughter weight, carcass commercial cuts and meat quality SenSi-1 Agrinak chicken) ABSTRAK. The study was conducted to determine the effect of optimizing the use of PKM/PKMF in the ration on carcass, carcass components, carcass percentage, meat physical, and chemical quality of SenSi-1 Agrinak chicken. The research feed treatments were: P0 (control), P1 = PKM 40%, P2 = PKM 30% + PKMF 10%, P3 = PKM 20% + PKMF 20%, P4 = PKM 10% + PKMF 30%, P5 = PKMF 40%. The treatment feed was given to chickens aged 10 days to 10 weeks, then slaughtered for obser¬vation of slaughter weight, carcass weight, carcass commercial cuts and carcass percentage (breast, wings, back, upper thigh, lower thigh) and meat quality. The results showed that the use of PKMF 30% + PKM 10% in feed was able to increase slaughter weight, carcass weight, chest weight, lower thigh weight, my weight and reduce abdominal fat, but did not show different results on the percentage of carcass, back, chest, thighs, and wings on Sensi-1 Agrinak chicken. The use of 40% PKMF in the ration was able to increase the protein content of meat but did not show different results on pH, water holding capacity, cooking loss, water content and crude fat in Sensi-1 Agrinak chicken. This shows that the provision of PKMF 30% + PKM 10% and the provision of PKMF 40% are suitable for use in the ration of SenSi-1 Agrinak chickens.
      PubDate: 2022-04-01
      DOI: 10.17969/agripet.v22i1.21099
      Issue No: Vol. 22, No. 1 (2022)
       
  • Kecepatan Pertumbuhan Spesifik Bakteri Asam Laktat dengan Ekstrak Kacang
           

    • Authors: Eka Wulandari, Wendry Setiyadi Putranto, Jajang Gumilar, Lilis Suryaningsih, Andry Pratama, Trianingtyas Kusuma Anggaini
      Pages: 72 - 78
      Abstract: ABSTRACT. Bakteri asam laktat merupakan bakteri yang memfermentasi bahan pangan melalui fermentasi karbohidrat menghasilkan sejumlah besar asam laktat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kecepatan pertumbuhan spesifik dari bakteri asam laktat (Streptococcus thermophilus FNCC 0040 (ST), Lactobacillus bulgaricus FNCC 0041 (LB), Lactobacillus acidophilus FNCC 0051 (LA), Lactobacillus casei ALG.2.12 (LC ALG 2.12), Bifidobacterium ATCC 12746 (BF) sebagai studi awal pembuatan flavored yogurt. Dari hasil pengujian, diperoleh penambahan ekstrak kacang merah meningkatkan kecepatan pertumbuhan spesifik isolat bakteri asam laktat dan menurunkan pH medium sehingga, penggunaan ekstrak kacang merah dapat digunakan sebagai prebiotik yang dapat meningkatkan pertumbuhan bakteri asam laktat. Kecepatan pertumbuhan spesifik paling tinggi adalah isolat Bifidobacterium dalam medium MRS Broth dengan ekstrak kacang merah.  (Specific growth rate of lactic acid bacteria with red bean extract (Phaseolus vulgaris L.) as a preliminary study of flavored yogurt production) ABSTRAK. Lactic acid bacteria are group of bacteria which ferment food carbohydrates and produce lactic acid as the main product of fermentation. This study aimed to determine the specific growth rate of lactic acid bacteria (Streptococcus thermophilus FNCC 0040 (ST), Lactobacillus bulgaricus FNCC 0041 (LB), Lactobacillus acidophilus FNCC 0051 (LA), Lactobacillus casei ALG.2.12 (LC ALG 2.12), Bifidobacterium ATCC 12746 (BF) as a preliminary study for the production of flavored yogurt. In this study, lactic acid bacteria was culture in two different medium, deMan Rogosa Sharpe (MRS) Broth and deMan Rogosa Sharpe (MRS) Broth with red bean extract. Optical density, lactic acid biomass and pH was measured during fermentation processed. The results showed that the addition of red bean extract increased the specific growth rate of lactic acid bacterial isolates and lowering the pH of the medium so that the use of red bean extract can be used as a prebiotic which can increase the growth of lactic acid bacteria. The highest specific growth rate was Bifidobacterium in MRS Broth medium with red bean extract.
      PubDate: 2022-04-01
      DOI: 10.17969/agripet.v22i1.21129
      Issue No: Vol. 22, No. 1 (2022)
       
  • Kandungan Mikrobiologis Litter Broiler pada Lama Fermentasi yang Berbeda

    • Authors: Cahya Setya Utama, Sri Sumarsih, Marikati Nababan
      Pages: 79 - 87
      Abstract: ABSTRACT. Tujuan penelitian adalah mengkaji pengaruh lama fermentasi yang berbeda terhadap bakteri asam laktat, bakteri gram positif/negatif, Salmonella dan Escherichia coli litter broiler. Materi penelitian adalah litter broiler 1 kg, mineral mix, starter mix culture, garam, urea, molases masing-masing 60 gram, NaCl fisiologis 0,85%, alkohol 96%, media MRS, SSA, EMBA, aquades, kristal violet, iodine, dan safranin. Rancangan penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan, dengan perlakuan litter broiler lama fermentasi yang berbeda T0 (0 hari), T1 (21 hari), T2 (42 hari) dan T3 (63 hari). Parameter penelitian yaitu total bakteri asam laktat (BAL), bakteri gram positif dan negatif, Salmonella, dan Escherichia coli (E. coli). Analisis data menggunakan uji ANOVA, dan jika terdapat perbedaan dilanjutkan dengan uji DMRT, dengan taraf signifikasi 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama fermentasi yang berbeda memengaruhi total bakteri asam laktat (BAL) litter broiler fermentasi. Semakin lama durasi fermentasi, semakin tinggi total BAL litter broiler. Lama fermentasi yang berbeda tidak memengaruhi skor bakteri gram positif dan negatif litter broiler. Bakteri yang tumbuh pada litter broiler fermentasi berasal dari famili Staphylococcaceae (13,95%), Bacillaceae (32,57%), Streptococcaceae (23,26%), Saccharomycetaceae (6,98%), dan Pseudomonadaceae (23,26%). Bakteri gram positif litter broiler fermentasi berbentuk batang, tidak berspora, soliter, duplococcus, sedangkan bakteri gram negatif berbentuk batang dan soliter. Tidak ditemukan bakteri Salmonella sp. dan E. coli pada litter broiler fermentasi. Lama fermentasi yang berbeda mampu meningkatkan kualitas litter broiler, ditinjau dari total BAL. Litter broiler fermentasi berpotensi dijadikan sebagai alternatif bahan pakan, mengandung 1–3 gram positif dan 0 - 1 gram negatif, serta tidak ditemukan bakteri Salmonella sp. dan E. coli. Perlakuan yang direkomendasikan yaitu litter broiler dengan lama fermentasi 42 hari, dengan jumlah bakteri asam laktat sebanyak 2,4 log CFU/g.  (Microbiological content of broiler litter at different times fermentation) ABSTRAK. The aim of the study was to examine the effect of different fermentation times on lactic acid bacteria, gram positive/negative bacteria, Salmonella and Escherichia coli litter broilers. The research material is broiler litter 1 kg, mineral mix, starter mix culture, salt, urea, molasses 60 grams each, 0.85% physiological NaCl, 96% alcohol, MRS media, SSA, EMBA, aquades, crystal violet, iodine , and safranin. The study design used a completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 4 replications, with broiler litter treatments with different fermentation times T0 (0 days), T1 (21 days), T2 (42 days) and T3 (63 days). The research parameters were total lactic acid bacteria (LAB), gram positive and negative bacteria, Salmonella, and Escherichia coli (E. coli). Data analysis used the ANOVA test, and if there were differences, it was continued with the DMRT test, with a significance level of 5%. The results showed that different fermentation time affected the total lactic acid bacteria (LAB) in fermented broiler litter. The longer the duration of fermentation, the higher the total LAB of broiler litter. Different fermentation time did not affect the score of gram positive and negative bacteria in broiler litter. The bacteria growing in fermented broiler litter came from the family Staphylococcaceae (13.95%), Bacillaceae (32.57%), Streptococcaceae (23.26%), Saccharomycetaceae (6.98%), and Pseudomonadaceae (23.26%). Gram-positive bacteria fermented broiler litter are rod-shaped, non-sporing, solitary, duplococcus, while gram-negative bacteria are rod-shaped and solitary. No bacteria Salmonella sp and E. coli were found in fermented broiler litter. Different fermentation time can improve broiler litter quality, in terms of total LAB. Fermented broiler litter has the potential to be used as an alternative feed ingredient, containing 1-3 grams positive and 0-1 gram negative, and no Salmonella sp. and E. coli. The recommended treatment is broiler litter with a fermentation time of 42 days, with the number of lactic acid bacteria as much as 2.4 log CFU/g.
      PubDate: 2022-04-01
      DOI: 10.17969/agripet.v22i1.21501
      Issue No: Vol. 22, No. 1 (2022)
       
  • Pengaruh Perbedaan Bahan Perekat dan Sumber Filtrat terhadap Fraksi Serat
           dan Kualitas Fisik Wafer Ransum Komplit

    • Authors: Adli Adli, Dewi Febrina, Zumarni Zumarni, Fitrah Khairi, Sadarman Sadarman
      Pages: 88 - 96
      Abstract: ABSTRACT. Pelepah sawit dapat diolah dengan penambahan filtrat abu sekam padi (FASP) dan filtrat abu tandan kosong (FATK) selanjutnya digunakan sebagai bahan pembuatan wafer. Perbedaan sumber filtrat dan bahan perekat dalam pembuatan wafer memengaruhi fraksi serat dan kualitas fisik. Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh sumber filtrat dalam pengolahan pelepah sawit dan bahan perekat berbeda dalam pembuatan wafer terhadap fraksi serat dan kualitas fisik. Rancangan acak lengkap berfaktor 2 x 3 dengan 3 ulangan digunakan dalam penelitian. Faktor F : sumber filtrat : F1= FATK dan F2 = FASP. Faktor L: bahan perekat, L1 = molases; L2. onggok; L3. tepung tapioka. Parameter yang diukur adalah kualitas fisik (kerapatan partikel dan daya serap air) serta fraksi serat (serat detergen asam/acid detergent fiber (ADF), hemiselulosa, selulosa, lignin dan serat detergen netral/neutral detergent fiber (NDF). Data dianalisis dengan analisis variansi selanjutnya analisis ragam dengan uji jarak berganda Duncan/Duncan Multiple Range Test (DMRT). Pelepah sawit yang diolah dengan sumber filtrat berbeda tidak memengaruhi kualitas fisik (daya serap air dan kerapatan partikel) serta kandungan selulosa dan hemiselulosa, tapi memengaruhi (P<0,05) kandungan ADF, lignin dan NDF. Penggunaan bahan perekat berbeda dalam pembuatan wafer tidak memengaruhi kerapatan partikel tapi memengaruhi (P<0,05) daya serap air dan fraksi serat (ADF, lignin, hemiselulosa, NDF, dan selulosa). Interaksi sumber filtrat dalam pengolahan pelepah sawit dengan bahan perekat dalam pembuatan wafer memengaruhi (P<0,05) fraksi serat dan kualitas fisik. Pelepah sawit yang diolah dengan FASP selanjutnya dibuat wafer berbahan perekat molases menghasilkan fraksi serat terbaik (NDF 43,03%; ADF 40,29%; lignin 12,62%; selulosa 24,63%; hemiselulosa 2,74%) dan pelepah sawit yang diolah dengan FATK selanjutnya dibuat wafer berbahan perekat tepung tapioka menghasilkan kualitas fisik terbaik.  (The effect of differences of adhesive and filtrates sources on fiber fraction and physical quality of complete ration wafer) ABSTRAK. Palm fronds can be processed with the addition of rice husk ash filtrate (RHAF) and empty bunches ash filtrate (EBHF) and then used as an ingredient in making wafers. Difference source of the filtrate and adhesive material in wafer making affect the fiber fraction and physical quality. The study aimed to determine the effect of the filtrate source in the processing of palm fronds and different adhesives in wafer making on the fiber fraction and physical quality. A completely randomized design with a factorial pattern, 2 x 3 with 3 replications was used in the study. Factor F : filtrate source : F1 = RHAF and F2 = EBHF. Factor L : adhesive material, L1 = molasses; L2 = tapioca by product ; L3 = tapioca flour. The measured parameters are physical quality (particle density and water absorption) and fiber fraction (ADF, hemicellulose, lignin, cellulose, and NDF). Data were analyzed by analysis of variance and the differences were analyzed by DMRT test. Palm fronds treated with different filtrate sources did not affect the physical quality (water absorption and particle density) and cellulose and hemicellulose content, but affected (P<0.05) the content of ADF, lignin and NDF. The use of different adhesives in wafer making did not affect particle density but affected (P<0.05) water absorption and fiber fraction (ADF, lignin, hemicellulose, NDF, and cellulose). The interaction of the filtrate source in the processing of palm fronds with the adhesive in wafer making affected (P<0.05) the fiber fraction and physical quality. Palm fronds which were processed with RHAF then formed wafers with molasses as an adhesive, producing the best fiber fraction (NDF 43.03%; ADF 40.29%; lignin 12.62%; cellulose 24.63%; hemicellulose 2.74%) and palm fronds which were processed with EBAF then formed wafers with tapioca flour adhesive, resulting in the best physical quality.
      PubDate: 2022-04-01
      DOI: 10.17969/agripet.v22i1.21634
      Issue No: Vol. 22, No. 1 (2022)
       
  • Pengaruh Pemberian Pelet Mengandung Tepung Daun Indigofera terhadap
           Produktivitas Kambing Boerka Periode Bunting dan Laktasi

    • Authors: Solehudin Solehudin, Ade Syahrul M, Andi Tarigan
      Pages: 97 - 102
      Abstract: ABSTRACT. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pelet mengandung tepung daun Indigofera terhadap produktivitas kambing Boerka periode bunting dan laktasi. Ternak yang digunakan adalah kambing Boerka bunting bulan keempat sebanyak 60 ekor dengan variasi paritas ke 2 dan 3 dan rataan bobot badan saat dikawinkan adalah 32,63±5,29 kg. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 3 perlakuan pakan dengan 20 kali ulangan: rumput lapang + Pelet komersil (R1); rumput lapang + pelet Indigofera 10% (R2); rumput lapang + pelet Indigofera 20% (R3). Parameter yang diukur adalah bobot badan anak lahir dan bobot badan anak prasapih (umur 3 bulan). Data dianalisis menggunakan Analysis of Variance (ANOVA ) satu arah dan dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa pemberian tepung daun Indigofera 10% memberikan pengaruh nyata terhadap bobot lahir anak kambing betina dan tidak berbeda nyata terhadap parameter lainnya namun cenderung menurun pada pemberian tepung daun Indigofera 20%. Dapat disimpulkan bahwa penggunaan tepung daun Indigofera dalam pelet sampai 20% memberikan pengaruh yang tidak nyata terhadap produktivitas kambing Boerka periode bunting dan laktasi.  (Effect of dietary pellet containing indigofera leaf meal on productivity of Boerka goat at pregnancy and lactating period) ABSTRAK. The research was aimed to investigate effect of dietary pellet containing Indigofera leaf meal on productivity of Boerka goat at pregnancy and lactating period. A total of 60 heads of Boerka goat who were pregnant at 4th, parity of 2nd and 3rd and average of body weight when mated were 32,63±5,29 kg. Research used randomized block design with 3 feed treatments and 20 replicated: native grass + commercial pellet (R1); native grass + Indigofera’s pellet 10% (R2); native grass + Indigofera’s pellet 20%. The parameter measured were body weight of lamb born and body weight of lamb at pre-weaning (3 month aged). Data were analyzed used Analysis of Variance (ANOVA) one way dan continued with Multiple’s Range Test of Duncan. The result of statistical analysis showed that dietary Indigofera leaf meal 10% gave significant effect on birth weight of female lamb and non significant effect on other parameters but tends to decreased in dietary Indigofera leaf meal 20%. It could be conclude that utilization of Indigofera leaf meal until 20% in pellet gave not significant effect on productivity of Boerka goat at pregnancy and lactating period.
      PubDate: 2022-04-01
      DOI: 10.17969/agripet.v22i1.22235
      Issue No: Vol. 22, No. 1 (2022)
       
  • Penggunaan Tepung Kunyit (Curcuma domestica) dalam Ransum yang Mengandung
           Black Garlic terhadap Performa Ayam Broiler

    • Authors: Berliana Berliana, Nelwida Nelwida, Nurhayati Nurhayati
      Pages: 103 - 112
      Abstract: ABSTRACT. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan tepung kunyit (Curcuma domestica) dalam ransum yang mengandung black garlic terhadap performa ayam broiler. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah ayam broiler umur sehari (DOC) sebanyak 200 ekor dari strain New Lohman MB 202, tepung black garlic, tepung kunyit, ransum komersial nonantibiotic produksi Japfa Comfeed serta 20 unit kandang beserta perlengkapannya. Ayam broiler dibagi dalam 5 perlakuan dengan 4 ulangan, setiap ulangan terdiri dari 10 ekor. Perlakuan yang diberikan adalah P0= 100% ransum komersial tanpa antibiotik, P1= P0+3% black garlic, P2=P1+0.5% tepung kunyit, P3=P1+1.0 tepung kunyit dan P4= P1+1.5% tepung kunyit sedangkan untuk periode akhir semua ayam pada perlakuan P1, P2, P3 dan P4 hanya diberikan ransum komersil yang mengandung black garlic. Penelitian ini dirancang menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Peubah yang diamati adalah konsumsi ransum, pertambahan bobot badan, konversi ransum, bobot karkas dan morfometrik usus halus. Pengaruh yang nyata perlakuan terhadap peubah yang diamati dilanjutkan dengan uji Jarak Berganda Duncan. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa penggunaan tepung kunyit dalam ransum yang mengandung black garlic berpengaruh tidak nyata (P>0.05) terhadap semua peubah yang diamati. Disimpulkan bahwa penambahan tepung kunyit sampai 1.5% dalam ransum yang mengandung black garlic pada fase awal tidak dapat digunakan untuk meningkatkan performa ayam broiler.  (The use of turmeric flour (Curcuma domestica) in rations containing black garlic on broiler chicken performance) ABSTRAK. This study aims to determine the effect of using turmeric flour (Curcuma domestica) in rations containing black garlic on broiler performance. The material used was 200 DOC broilers, which were divided into 5 treatments with 4 replications where each replication consisted of 10 chickens. Treatment consisted of P0 = 100% commercial ration without antibiotics, P1=P0+3% black garlic, P2=P1+0.5% turmeric flour, P3=P1+1.0 turmeric flour, and P4= P1+1.5% turmeric flour. These treatments were offered during the starter phase. During the finishing period, all chickens groups P1, P2, P3 and P4 were fed rations containing 100% commercial feed and 3% of black garlic. This study was designed using a completely randomized design (CRD), if there is an effect on the treatment, it will be further tested with Duncan's test. The observed variables were ration consumption, body weight gain, ration conversion, carcass weight, and small intestine morphometrics. The results of the analysis of variance showed that the use of turmeric flour in rations containing black garlic had no significant effect (P>0.05) on all observed variables. It is concluded that the addition of turmeric flour up to 1.5% in the ration containing black garlic during the starter phase had not been able to improve the performance of broiler chickens. 
      PubDate: 2022-04-01
      DOI: 10.17969/agripet.v22i1.23581
      Issue No: Vol. 22, No. 1 (2022)
       
  • Efek Probio_FM dan Larutan Kunyit terhadap Performa dan Penurunan Jumlah
           Campylobacter pada Itik Lokal Kerinci

    • Authors: Ivania Farrah Nadhira, Ella Hendalia S, Fahmida Manin
      Pages: 113 - 119
      Abstract: ABSTRACT. Campylobacter merupakan salah satu bakteri yang terdapat dalam usus halus itik, yang dapat menurunkan performa dan menyebabkan penyakit yang bersifat zoonosis. Penularan kebanyakan terjadi melalui daging, tetapi belum ada yang memastikan bagaimana bakteri ini dapat berada pada daging, sehingga berbagai biokontrol diupayakan dalam menekan dan mencegah penularan Campylobacter. Tujuan penelitian ini untuk melihat efektivitas pemberian probiotik bakteri asam laktat, kunyit, dan gabungan keduanya dalam menekan keberadaan Campylobacter dalam usus halus, serta pengaruh pemberiannya terhadap performa itik lokal kerinci. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan materi 100 ekor itik lokal kerinci jantan, yang mendapat perlakuan kontrol (P0); pemberian Probio_FM (P1); pemberian larutan kunyit (P2), dan gabungan Probio_FM dan larutan kunyit (P3) dalam pakan, dengan masing-masing 5 ulangan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perlakuan yang diberikan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap performa, pH, jumlah bakteri asam laktat, dan jumlah Campylobacter pada jejunum dan ileum itik kerinci. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa pemberian Probi_FM, larutan kunyit, dan gabungan keduanya belum mampu menekan keberadaan Campylobacter dalam usus halus itik kerinci.  (The effect of Probio FM and turmeric solution on performance and reducing Campylobacter in Kerinci local duck) ABSTRAK. Campylobacter is one of the bacteria found in the small intestine of ducks, which can reduce performance and cause zoonotic diseases. Transmission mostly occurs through meat, but no one has confirmed how this bacteria can be in the meat, so various biocontrols are treated to suppress and prevent Campylobacter transmission. This study intended to evaluate the effectiveness of lactic acid bacteria probiotics, turmeric, and their combination administrations in suppressing the presence of Campylobacter in the small intestine, as well as the effect of their administration on the performance of local kerinci ducks. The experiment used a completely randomized design (CRD) with 100 male local kerinci ducks, received control treatment (P0); administration of Probio_FM (P1); administration of turmeric solution (P2), and a combination of Probio_FM and turmeric solution (P3) in duck feed, with 5 replications respectively. The results showed that all treatments had no significant effect (P>0.05) on the performance, pH, the number of lactic acid bacteria, and Campylobacter in the jejunum and ileum of kerinci ducks. It could be concluded that the administration of Probio_FM, turmeric solution, and their combination had not been able to suppress the presence of Campylobacter in the small intestine of kerinci ducks.
      PubDate: 2022-04-01
      DOI: 10.17969/agripet.v22i1.22004
      Issue No: Vol. 22, No. 1 (2022)
       
  • Study of Synbiotic Yoghurt Fortification with Red Dragon Fruit Peel
           Extract (Hylocereus polyrhizus) and Stevia Against Emulsion Properties and
           Color

    • Authors: Tama Mayna Kusuma Ningrum, Manik Eirry Sawitri, Abdul Manab
      Pages: 120 - 126
      Abstract: ABSTRACT. The research aimed to study the emulsion properties of the fortified synbiotic yoghurt fortification red dragon fruit peel extract (Hylocereus polyrhizus) and stevia as sweeteners. The research material is probiotic yoghurt, synbiotic fortified with red dragon fruit skin extract (Hylocereus polyrhizus) 20% made from 10% skim milk and yoghurt starter containing Lactobacillus bulgaricus and Streptococcus thermophilus (1:1), and the addition of 0.5% stevia to synbiotic. The research method was an experimental completely randomized design with treatment T1 = probiotic yoghurt, T2 = synbiotic yoghurt fortified red dragon fruit (Hylocereus polyrhizus) peel extract 20% and T3 = T2 + 0.5% stevia, with 3 replications (v/v). . The variables observed were emulsion activity, emulsion stability, turbidity, whiteness index (WI) and yellowness index (YI). The results showed that fortification of evaporated red dragon fruit peel extract (Hylocereus polyrhizus) and stevia sweetener gave a significant difference (P<0.05) to the average emulsion activity, a very significant difference to the average of whiteness index and yellowish index (P<0.01) and did not give a significant difference (P>0.05) on the average of emulsion stability and turbidity of synbiotic yoghurt. It was concluded that 20% fortification of red dragon fruit skin (Hylocereus polyrhizus) and 0.5% stevia sweetener could improve the emulsion properties of synbiotic yoghurt.  (Kajian yoghurt sinbiotik fortifikasi ekstrak kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) dan stevia terhadap sifat emulsi dan warna) ABSTRAK. Tujuan penelitian adalah mempelajari profil emulsi dan warna yoghurt sinbiotik fortifikasi ekstrak kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) dan bahan pemanis stevia. Materi penelitian adalah yoghurt probiotik, sinbiotik yang difortifikasi dengan ekstrak kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) 20 % yang dibuat dari susu skim 10% dan starter yoghurt yang mengandung Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophilus (1:1), serta penambahan stevia 0,5% pada yoghurt sinbiotik. Metode penelitian adalah percobaan dengan Rancangan Acak Lengkap dengan perlakuan T1= yoghurt probiotik, T2= yoghurt sinbiotik fortifikasi ekstrak kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) 20% dan T3 = T2 + 0,5% stevia, dengan 3 ulangan (v/v). Variabel yang diamati diantaranya aktivitas emulsi, stabilitas emulsi, turbiditas, serta warna ditinjau dari indeks keputihan (WI) dan indeks kekuningan (YI). Hasil penelitian menunjukkan bahwa fortifikasi ekstrak kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) evaporasi dan bahan pemanis stevia memberikan perbedaan yang nyata (P<0,05) terhadap rata-rata aktivitas emulsi, perbedaan yang sangat nyata terhadap rata-rata indeks keputihan dan indeks kekuningan (P<0,01) dan tidak memberikan perbedaan nyata (P>0,05) terhadap rata-rata stabilitas emulsi dan turbiditas yoghurt sinbiotik. Disimpulkan bahwa fortifikasi kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) 20% dan bahan pemanis stevia 0,5% dapat memperbaiki sifat emulsi yoghurt sinbiotik.
      PubDate: 2022-04-01
      DOI: 10.17969/agripet.v22i1.23111
      Issue No: Vol. 22, No. 1 (2022)
       
 
JournalTOCs
School of Mathematical and Computer Sciences
Heriot-Watt University
Edinburgh, EH14 4AS, UK
Email: journaltocs@hw.ac.uk
Tel: +00 44 (0)131 4513762
 


Your IP address: 3.238.199.4
 
Home (Search)
API
About JournalTOCs
News (blog, publications)
JournalTOCs on Twitter   JournalTOCs on Facebook

JournalTOCs © 2009-