A  B  C  D  E  F  G  H  I  J  K  L  M  N  O  P  Q  R  S  T  U  V  W  X  Y  Z  

  Subjects -> VETERINARY SCIENCE (Total: 220 journals)
The end of the list has been reached or no journals were found for your choice.
Similar Journals
Journal Cover
Indonesia Medicus Veterinus
Number of Followers: 0  

  This is an Open Access Journal Open Access journal
ISSN (Print) 2301-7848
Published by Universitas Udayana Homepage  [61 journals]
  • Cover, Staf Redaksi, Daftar Isi

    • Authors: I Wayan Batan
      Abstract: Cover, Staf Redaksi, Daftar Isi
      PubDate: 2023-01-31
       
  • Perbedaan Titer Antibodi Penyakit Tetelo pada Ayam Pedaging yang
           Divaksinasi Umur Satu Hari dan 14 Hari

    • Authors: I Nyoman Surya Tri Hartaputera, Ida Bagus Kade Suardana, Tjokorda Sari Nindhia
      Pages: 1 - 11
      Abstract: Virus penyakit tetelo atau Newcastle Disease (ND) yang termasuk dalam famili paramyxoviridae ini dapat menyebabkan penyakit yang dikenal dengan nama tetelo di masyarakat.  Strategi utama untuk mencegah munculnya penyakit tetelo adalah dengan vaksinasi yang baik.  Vaksinasi ND pada ayam pedaging umur satu hari yang dilakukan oleh perusahaan pembibitan ayam masih dapat menyebabkan terjadinya kasus ND pada peternakan komersial di lapangan.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan titer antibodi ND pada ayam pedaging yang divaksinasi umur satu hari oleh pabrik pembibitan dan umur 14 hari dengan vaksin ND aktif.  Rancangan penelitian yang digunakan yaitu rancangan acak lengkap pola tersarang dengan menggunakan 30 ekor ayam pedaging umur satu hari yang dibagi menjadi tiga, yaitu ayam pedaging yang tidak divaksinasi (P0), yang divaksinasi pada umur satu hari oleh perusahaan pembibitan ayam (P1), dan yang divaksinasi umur 14 hari (P2).  Vaksin ND aktif yang digunakan yaitu vaksin ND Hitchner B1.  Ayam pedaging dipilih secara acak, selanjutnya untuk P1 diambil darahnya pada umur 7, 14, dan 21 hari setelah vaksinasi, P2 pada umur 14 hari sebelum vaksinasi, umur 21, 28, dan 35 hari setelah vaksinasi, serta P0 umur tujuh, 14, 21, 28, dan 35 hari melalui vena brachialis.  Serum yang diperoleh diperiksa secara serologis dengan uji hambatan hemaglutinasi (HI).  Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan sidik ragam dengan taraf signifikansi 95% dan dilanjutkan dengan analisis regresi.  Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan kenaikan titer antibodi ND yang signifikan pada perlakuan P1 dengan rerata secara berturut-turut 5,5; 3,9; 2,6 pascavaksinasi dibandingkan dengan perlakuan P2 dengan rerata secara berturut-turut 7,5; 5,5; 3,0 pascavaksinasi.  Hasil analisis regresi secara statistik membuktikan perlakuan P2 memiliki lama fase protektif (titer antibodi ' 4 HI log 2) lebih panjang dibandingkan dengan perlakuan P1.
      PubDate: 2023-01-31
      DOI: 10.19087/imv.2023.12.1.1
       
  • Isolasi dan Identifikasi Enterococcus sp. dari Feses Lutung Jawa
           (Trachypitecus auratus) di Javan Langur Center

    • Authors: Aisyah Setyaningrum, Hapsari Mahatmi, Sri Kayati Widyastuti
      Pages: 12 - 21
      Abstract: Populasi lutung jawa (Trachypithecus auratus) yang semakin sedikit di alam, saat ini hanya sekitar 500 ekor.  Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, diantaranya perburuan gelap, perubahan pola makan dan penyakit.  Upaya untuk pelestarian telah dilakukan, namun karena sangat sedikit informasi ilmiah yang dilaporkan, sehingga upaya hanya sebatas pada tindakan fisik seperti metode penangkaran.  Sampai saat ini belum ada penelitian tentang keberadaan Enterococcus sp. pada lutung jawa, khususnya pada saluran ususnya.  Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya Enterococcus sp. pada saluran usus lutung jawa, karena bakteri ini merupakan reservoir penting dari gen resistansi antibiotik. Penelitian ini dilakukan di pusat penangkaran lutung jawa di Javan Langur Center.  Sampel lutung jawa (Trachypitechus auratus) sebanyak dua ekor yang baru masuk ke penangkaran.  Spesimen berupa swab rektum yang diambil dengan menggunakan cotton swab steril sesuai dengan prosedur medical check-up.  Kemudian dilanjutkan dengan metode isolasi pada media Sheep Blood Agar (SBA) dan MacConkey Agar (MCA) dan pewarnaan Gram serta dilanjutkan dengan prosedur identifikasi menggunakan uji biokimia meliputi: Triple Sugar Iron Agar (TSIA), uji Sulfide Indole Motility (SIM), uji Simmon Citrate Agar, uji Methyl Red Voges Proskauer (MRVP), dan uji urease.  Hasil penelitian mengindikasikan bahwa semua sampel lutung jawa yang baru masuk penangkaran ternyata semua ditemukan adanya Enterococcus sp. di saluran ususnya.  Hal ini sangat menarik untuk dilakukan penelitian lebih lanjut tentang adanya sifat resistensi antibiotik, yang sangat erat kaitannya dengan kesehatan manusia.
      PubDate: 2023-01-31
      DOI: 10.19087/imv.2023.12.1.12
       
  • Prevalensi dan Histopatologi Proventrikulus pada Itik Bali yang Terinfeksi
           Cacing Tetrameres spp. di Bali

    • Authors: Yessie Yulianda, I Made Dwinata, Ida Bagus Oka Winaya
      Pages: 22 - 31
      Abstract: Itik merupakan ternak unggas penghasil daging dan telur yang memiliki kandungan protein tinggi dan lebih tahan terhadap penyakit dibandingkan ayam.  Salah satu parasit yang dapat menginfeksi sistem pencernaan itik adalah cacing Tetrameres spp. yang berpredileksi pada proventrikulus itik.  Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui prevalensi dan perubahan histopatologi proventrikulus pada itik di Bali yang terinfeksi cacing Tetrameres spp..  Sampel itik berjumlah 50 ekor diambil dengan metode purposive sampling pada itik hidup yang dijual di Pasar Badung dan Pasar Gianyar.  Itik dikelompokkan berdasarkan lokasi pasar tempat pembelian itik, umur, dan jenis kelamin itik.  Itik dinekropsi dan proventrikulus itik yang positif terinfeksi Tetrameres spp.  diawetkan dengan Bouin Solution untuk dijadikan preparat histopatologi dengan menggunakan pewarnaan Hematoxylin Eosin (HE).  Perubahan histopatologi yang terjadi akan dianalisis secara deskriktif kuantitatif  dan hubungan antara lokasi pasar tempat pembelian itik, umur dan jenis kelamin itik dengan prevalensi di analisis menggunakan uji chi-square.  Prevalensi cacing Tetrameres spp. pada itik di Bali sebesar 12%.  Perubahan histopatologi yang diterjadi pada proventrikulus itik yang terinfeksi yaitu: terjadinya nekrosis pada vili yang terdapat pada proventrikulus itik, kelenjar proventrikulus itik mengalami atrofi, ditemukan adanya  sel radang dengan sedikit fibroblas pada proventrikulus itik, dan ditemukannya tubuh dari cacing Tetrameres spp. di proventrikulus itik yang terinfeksi.  Kesimpulanya adalah lokasi pasar tempat pembelian itik, umur, dan jenis kelamin itik tidak menunjukkan adanya hubungan yang berpengaruh nyata dengan prevalensi.
      PubDate: 2023-01-31
      DOI: 10.19087/imv.2023.12.1.22
       
  • Gambaran Sel Darah Merah Kerbau Lumpur (Bubalus bubalis) pada Lingkungan
           

    • Authors: Berliani Susi Ester Natara, I Wayan Batan, Tjokorda Sari Nindhia
      Pages: 32 - 41
      Abstract: Kerbau (Bubalus bubalis) merupakan salah satu ternak ruminansia yang dipelihara oleh para peternak yang berfungsi sebagai penghasil daging, ternak kerja, serta sarana upacara adat dan keagamaan.  Pemeriksaan kondisi kesehatan kerbau sangat penting dilakukan untuk mempertahankan populasi.  Pemeriksaan darah salah satu indikator yang digunakan dalam menunjang diagnosis terhadap suatu penyakit.  Penelitian tentang gambaran darah pada kerbau betina dewasa di Indonesia belum banyak dilaporkan, khususnya pada kerbau yang dipelihara di lingkungan kering.  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran sel darah merah kerbau lumpur betina dewasa yang dipelihara pada lingkungan kering.  Sampel yang digunakan adalah sampel darah dari 20 ekor kerbau dewasa dengan jenis kelamin betina yang berasal dari Desa Letekonda Selatan, Kecamatan Loura, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur.  Pengambilan darah dilakukan pada vena jugularis dan darah yang telah diambil kemudian dimasukkan ke dalam tabung berisi antikoagulan Ethylene Diamine Tetraacetic Acid (EDTA).  Pemeriksaan sel darah merah dilakukan menggunakan Hematology Analyzer di Balai Besar Veteriner Denpasar.  Hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa gambaran sel darah merah kerbau betina dewasa diperoleh hasil total eritrosit (6,29 ± 0,98 x 106/µL), hemoglobin (12,96 ± 1,12 g/dL), hematokrit (34,35 ± 3,33%), MCV (50,72 ± 4,50 fL), MCH (20,87 ± 2,26 pg), dan MCHC (41,11 ± 1,32%).  Nilai parameter yang telah diperoleh dapat dijadikan acuan profil sel darah merah pada kerbau yang dipelihara di Indonesia khususnya di daerah kering.
      PubDate: 2023-01-31
      DOI: 10.19087/imv.2023.12.1.32
       
  • Laporan Kasus: Infeksi Canine parvovirus Tipe Enteritis pada Anak Anjing
           Kacang dengan Induk yang Divaksinasi Lengkap

    • Authors: Barata Sultan Lubis, I Gede Soma, I Nyoman Suartha
      Pages: 42 - 54
      Abstract: Seekor anjing Kacang jantan bernama Sapi, berumur tiga bulan, bobot badan 5,43 kg, berwarna putih cokelat dengan postur badan tegap datang ke Estimo Petshop & Clinic dengan keluhan tidak nafsu makan, muntah, diare berdarah, dan lemas selama tiga hari sebelum dibawa ke klinik.  Anjing tidak memiliki riwayat vaksin dan pemberian obat cacing.  Induk anjing sudah divaksin lengkap.  Pemeriksaan klinis anjing kasus menunjukkan frekuensi detak jantung, frekuensi pulsus, napas dan suhu tubuh normal, serta Capillary Refill Time (CRT) di atas dua detik.  Selain itu turgor kulit lambat, mukosa pucat, responss muntah saat palpasi lambung, dan saat palpasi abdomen terasa kosong.  Pemeriksaan hematologi lengkap menunjukkan anjing mengalami anemia mikrositik hiperkromik dan terjadi peningkatan jumlah limfosit.  Pemeriksaan test kit parvovirus positif dan pemeriksaan feses negatif.  Penanganan dilakukan dengan terapi cairan sodium klorida dan pemberian hematodin 0,4 mL (dua kali sehari) selama lima hari untuk penanganan anemia.  Penanganan muntah dilakukan dengan memberikan Metoclopramide HCl 1 mL (dua kali sehari) selama lima hari.  Pemeriksaan penunjang yang dilakukan untuk menegakkan diagnosis definitif adalah pemeriksaan hematologi lengkap, tes kit parvovirus, dan pemeriksaan feses.  Pencegahan dari infeksi sekunder dilakukan dengan pemberian Metronidazole 10 mL (dua kali sehari) selama lima hari.  Setelah lima hari menjalani perawatan, anjing diperbolehkan pulang karena menunjukkan peningkatan kondisi tubuh.
      PubDate: 2023-01-31
      DOI: 10.19087/imv.2023.12.1.42
       
  • Laporan Kasus: Gagal Jantung Kongestif pada Anjing Shih-Tzu

    • Authors: Doni Damara, I Wayan Batan, I Gusti Made Krisna Erawan
      Pages: 55 - 66
      Abstract: Gagal jantung kongestif atau congestive heart failure (CHF) adalah suatu kondisi patologis ketika jantung tidak dapat menjalankan fungsinya dalam memompa darah secara memadai untuk mencukupi kebutuhan metabolisme tubuh termasuk oksigen dan nutrisi.  Seekor anjing ras Shih-Tzu berjenis kelamin betina dengan umur 13 tahun, bobot badan 6,5 kg dibawa ke Anom Veterinary Clinic pada tanggal 1 April 2022 dengan keluhan kejang dan nafsu makan menurun.  Sebelumnya hewan pernah didiagnosis mengalami dilatasi jantung.  Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan mukosa mulut pucat, capillary refill time (CRT) normal, hewan kesulitan bernapas sehingga bernapas menggunakan mulut, dan pemeriksaan jantung menunjukkan suara murmur sistol derajat IV dari VI.  Hasil rontgen menunjukkan anjing mengalami pembesaran jantung.  Hasil pemeriksaan Complate Blood Count (CBC) tidak ada perubahan yang signifikan.  Anjing didiagnosis mengalami gagal jantung kongestif.  Pengobatan yang diberikan pada anjing kasus yaitu cairan infus ringer laktat 100 mL/hari, dexamethasone 0,3 mg/kg BB, furosemide 4 mg/kg BB, amynophylin 2 mg/kg BB, carbamazepine 4 mg/kg BB, captropil 0,5 mg/kg BB, digoxin 0,005 mg/kg BB, dan Transfer Factor Plus ½ tablet/hari.  Setelah empat hari perawatan kondisi anjing sudah sangat membaik.  Anjing tidak menunjukkan gejala kesulitan bernapas, kelemahan dan kejang.  Pemeriksaan lanjutan berupa pemeriksaan ekokardiografi disarankan untuk mengetahui penyebab gagal jantung kongestif.  
      PubDate: 2023-01-31
      DOI: 10.19087/imv.2023.12.1.55
       
  • Laporan Kasus: Koleps Trakhea Tingkat Satu (Grade I) pada Anjing Peranakan
           Pomeranian

    • Authors: Meidhea Reforma Saputri, Putu Devi Jayanti, I Wayan Batan
      Pages: 67 - 78
      Abstract: Koleps trakhea merupakan suatu kondisi pengempisan bagian dorsoventral dari cincin trakhea akibat degenerasi progresif tulang rawan.  Koleps trakhea umum terjadi pada anjing ras kecil dengan usia sekitar tujuh tahun.  Hewan kasus adalah seekor anjing peranakan pomeranian jantan berusia sembilan tahun dengan bobot badan 8,5 kg dan rambut berwarna cokelat.  Anjing sering mengalami kejang, sempat sinkop satu kali, dan batuk non-produktif setiap kali anjing beraktivitas berlebihan.  Anjing memiliki riwayat bronkitis pada tahun 2015 dan trakeobronkitis pada tahun 2020 serta telah mengalami pemulihan.  Hasil pemeriksaan klinis mengungkapkan anjing aktif dan responsif, frekuensi napas meningkat, dan terdapat respons batuk saat dilakukan palpasi pada leher.  Pada pemeriksaan hematologi menunjukkan jumlah hitung sel darah putih/white blood cell (WBC) dan persentase limfosit meningkat (53,6%), serta jumlah granulosit menurun (36,1%).  Hasil pemeriksaan radiografi menunjukkan adanya penyempitan pada trakhea.  Anjing didiagnosis mengalami koleps trakhea.  Terapi yang diberikan berupa pemberian Aminofilin 100 mg dengan dosis 10 mg/kg BB dua kali sehari selama 5 hari peroral, untuk meredakan nyeri anjing diberi antiradang injeksi Tolfedin 40 mg/mL dengan dosis 4 mg/kg BB (0,85 mL) secara intramuskular dan Carproven 25 mg dengan dosis 2 mg/kg bobot badan sekali sehari selama lima hari.  Anjing juga diberikan antibiotik yaitu Pulveres Doksisiklin 200 mg dalam bentuk kapsul dengan dosis 10 mg/kg BB (40 mg/kapsul) diberikan peroral dua kali sehari selama lima hari.  Hasil terapi menunjukkan adanya perbaikan kondisi pasien dengan menurunnya frekuensi napas menjadi normal yaitu 40 kali/menit, serta tidak mengalami sinkop.  Hewan kasus dipulangkan dengan diberikan obat oral.
      PubDate: 2023-01-31
      DOI: 10.19087/imv.2023.12.1.67
       
  • Laporan Kasus: Penanganan Ehrlichiosis pada Anjing Akita dengan Pemberian
           Doksisiklin dan Transfusi Darah

    • Authors: Dheadora Florensia, I Wayan Batan, I Gede Soma
      Pages: 79 - 89
      Abstract: Ehrlichiosis merupakan penyakit pada anjing yang dapat menyerang semua umur dan ras.  Ehrlichiosis disebabkan oleh Ehrlichia sp. yang merupakan bakteri obligat intraseluler Gram negatif dari genus Ehrlichia.  Seekor anjing jantan ras Akita bernama Yama, warna rambut putih dan cokelat, berumur tujuh tahun, dan bobot badan 28 kg dibawa ke Anom Vet Clinic dengan keluhan lemas, nafsu makan menurun, dan mengalami epistaksis sebelum dibawa ke klinik.  Hasil pemeriksaan klinis anjing kasus ditemukan kepucatan pada mukosa mulut dan konjungtiva, infestasi caplak Rhipicephalus sanguineus pada kulit dan anjing mengalami epistaksis bilateral.  Hasil pemeriksaan hematologi rutin menunjukkan bahwa anjing kasus mengalami anemia mikrositik normokromik, trombositopenia, dan leukopenia.  Hasil pemeriksaan test kit menunjukkan hasil positif mengandung antibodi E. canis.  Berdasarkan anamnesis, tanda klinis, hasil pemeriksaan hematologi, dan pemeriksaan menggunakan test kit, maka anjing kasus didiagnosis menderita ehrlichiosis dengan prognosis dubius.  Penanganan yang diberikan pada anjing kasus yaitu, dengan pemberian cairan Ringer Laktat 910 mL/hari, doksisiklin 5 mg/kg BB, BID, PO selama tujuh hari, transfusi darah sebanyak 337 mL, dan pemberian vitamin B kompleks satu tablet per hari selama 10 hari.  Penanganan pada hewan kasus menunjukkan hasil yang baik secara klinis dengan epistaksis sudah tidak terlihat dan nafsu makan mulai membaik pada hari ketiga.  Pada hari ke-10 kondisi anjing kasus membaik secara klinis dan diperbolehkan pulang.
      PubDate: 2023-01-31
      DOI: 10.19087/imv.2023.12.1.79
       
  • Laporan Kasus: Penanganan Prolapsus Bulbus Oculi Dekstra pada Kucing
           Kampung dengan Enukleasi Transpalpebral

    • Authors: Annisa Musdalifa, Baiq Indah Pratiwi, Citra Yudeska, I Nengah Wandia, Anak Agung Gde Jaya Wardhita
      Pages: 90 - 101
      Abstract: Prolapsus bulbus oculi merupakan keluarnya bola mata dari rongga mata yang dapat disertai perdarahan subkonjungtiva sampai dengan putusnya nervus optikus.  Kucing kampung dengan jenis kelamin jantan, bernama Oncom, berumur 2,5 bulan memiliki bobot badan 0,7 kg mengalami penonjolan pada bola mata kanan hingga tampak keluar, mata tersebut berwarna merah kehitaman (hifema), abnormalitas struktur mata dan lakrimasi yang disertai cairan eksudat.  Pemeriksaan hematologi menunjukkan leukositosis, limfositosis, trombositopenia dan anemia mikrositik hiperkromik.  Kucing ini ditangani dengan tindakan pembedahan yaitu enukleasi pendekatan transpalpebral.  Enukleasi merupakan tindakan pembedahan untuk mengangkat keseluruhan bola mata, tindakan ini dilakukan karena kelainan mata pada kucing dimana kasus tersebut tidak bisa disembuhkan oleh terapi obat-obatan.  Sebelum dilakukan pembedahan diberikan premedikasi atropine sulfate (0,04 mg/kg BB) secara subkutan, lalu 15 menit kemudian diinduksi dengan kombinasi ketamin (33 mg/kg BB) dan xylazin (2 mg/kg BB) secara intravena.  Pasca operasi hewan diberikan terapi antibiotik cefotaxime (20 mg/kg BB) secara intravena dan antiinflamasi tolfedine (4 mg/kg BB) secara intramuskuler, dilanjutkan dengan pemberian antibiotik cefixime (8 mg/kg BB) dan meloxicam (0,1 mg/kg BB) secara peroral selama lima hari.  Berdasarkan hasil pengamatan luka hingga hari ketujuh, luka insisi masih belum mengering sempurna tapi proses penyembuhan luka berjalan baik dan tanpa disertai infeksi pada daerah luka.  Namun, pada hari kedelapan kucing mengalami kematian.
      PubDate: 2023-01-31
      DOI: 10.19087/imv.2023.12.1.90
       
  • Laporan Kasus: Penanganan Kelopak Mata Ketiga Unilateral yang Menonjol
           pada Anjing Kacang dengan Metode Eksisi

    • Authors: Barata Sultan Lubis, I Wayan Wirata, I Wayan Gorda
      Pages: 102 - 113
      Abstract: Seekor anjing Kacang, berjenis kelamin jantan, berumur 14 bulan, dengan bobot badan 7,8 kg diperiksa di Rumah Sakit Hewan Pendidikan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana.  Anjing dibawa dengan keluhan terdapat benjolan berwarna merah muda pada sudut medial mata kanan.  Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan adanya kelainan berupa penonjolan kelopak mata ketiga atau dikenal dengan cherry eye.  Hasil pemeriksaan hematologi menunjukkan bahwa anjing dalam keadaan baik, sehingga dilanjutkan dengan tindakan pembedahan terhadap kelopak mata ketiga.  Premedikasi dilakukan dengan pemberian atropine sulfate dengan dosis 0,02 mg/kg bobot badan, sediaan 0,25 mg/mL sehingga diberikan sebanyak 0,6 mL secara subkutan.  Kemudian diinduksi anestesi ketamine dosis 10 mg/kg bobot badan, sediaan 100 mg/mL sehingga diberikan sebanyak 0,8 mL dan xylazine dosis 1 mg/kg bobot badan, sediaan 20 mg/mL sehingga diberikan 0,4 mL.  Pemberian anestesi ketamine dicampur dalam satu spuit dengan xylazine dan diinjeksi secara intramuskuler.  Metode operasi yang dilakukan yaitu metode eksisi atau pengangkatan kelopak mata ketiga.  Perawatan pascaoperasi diberikan dengan salep mata chlorampenicol 1% (3 kali sehari) selama lima hari pemberian.  Hasil evaluasi menunjukkan terjadinya peradangan sampai hari ketiga pascaoperasi.  Hari keempat pascaoperasi, tidak ditemukan adanya indikasi radang pada mata kanan anjing yang mengalami pembedahan.
      PubDate: 2023-01-31
      DOI: 10.19087/imv.2023.12.1.102
       
  • Laporan Kasus: Penanganan Flu Kucing akibat Feline Herpesvirus pada Kucing
           Kampung

    • Authors: Kevin Tri Tama, I Gede Soma, I Wayan Batan, Ni Putu Wirsa Nurahyani
      Pages: 114 - 125
      Abstract: Feline Herpesvirus tipe 1 (FHV-1) adalah agen penyebab penyakit saluran pernapasan yang menyebabkan rhinitis dan konjungtivitis.  Seekor kucing kampung betina berumur 14 bulan dengan bobot 2,01 kg diperiksa dengan keluhan tidak makan selama tiga hari, lemas, dan sering bersin. Pemeriksaan fisik menunjukkan leleran pada kedua mata dan hidung, konjungtiva merah, dan mata buram atau cloudy.  Pemeriksaan penunjang dengan tes cepat antigen FHV dan Calicivirus menunjukkan kucing kasus positif FHV.  Hasil pemeriksaan hematologi menunjukkan kucing kasus mengalami anemia normositik normokromik dan leukositosis.  Hewan didiagnosis menderita flu kucing akibat FHV tipe 1 dengan prognosis fausta.  Terapi yang diberikan adalah terapi suportif dengan menjaga hidrasi, nebulasi salbutamol (100 mg/ekor) dan gentamisin (8 mg/kg BB) satu kali sehari, L-lysine (500 mg/ekor) dua pompa (2 kali sehari), bromhexin HCl (1 mg/kg BB) secara per oral (2 kali sehari) selama tujuh hari, salep mata framixin satu tetes (2 kali sehari) selama tujuh hari, antibiotik doksisiklin (10 mg/kg BB) per oral (2 kali sehari) selama 14 hari, trimethoprim/sulfonamide (30 mg/kg BB) intramuskuler (sekali setiap 2 hari) selama 12 hari, dan intrafer  (0,02 mg/kg BB) secara intramuskuler di hari ketiga dan kesembilan.  Hasil pengobatan selama 12 hari menunjukkan terjadi perubahan leleran kedua mata dan hidung serta frekuensi bersin yang berkurang.  Hasil pemeriksaan darah dan mukosa mulut kembali normal.
      PubDate: 2023-01-31
      DOI: 10.19087/imv.2023.12.1.114
       
  • Laporan Kasus: Penanganan Pyometra Terbuka pada Kucing Kampung

    • Authors: Ainaya Luthfi Anindya, I Gusti Agung Gde Putra Pemayun, I Nengah Wandia
      Pages: 126 - 139
      Abstract: Pyometra adalah penyakit yang menyerang sistem reproduksi hewan betina yang dapat menyebabkan infeksi dan akumulasi nanah (pus) pada dinding uterus.  Pada hewan kesayangan ada dua jenis pyometra, yaitu pyometra serviks tertutup dan pyometra serviks terbuka.  Seekor kucing lokal betina, berusia delapan bulan, dengan bobot badan 4,07 kg, berwana hitam dan putih, datang ke rumah sakit hewan dengan keluhan perut sedikit membesar dan disertai keluar leleran nanah berwarna putih krem sejak sebulan yang lalu.  Pemeriksaan darah lengkap, USG dan X-ray dilakukan untuk menegakkan diagnosis.  Hasil pemeriksaan darah lengkap menunjukkan penurunan sel darah merah, hemoglobin, hematokrit dan platelet.  Hasil pemeriksaan USG ditemukan pembesaran pada uterus dengan gambaran hypoechoic menandakan adanya penumpukan cairan.  Pada pemeriksaan X-ray terlihat pembesaran uterus dengan struktur tubular besar pada caudoventral.  Dari hasil pemeriksaan USG dan X-ray, kucing didiagnosis mengalami pyometra dengan serviks terbuka dengan prognosis fausta.  Penanganan dilakukan dengan ovariohisterektomi (OH) yaitu pengangkatan organ uterus dan ovarium.  Pascaoperasi kucing diberikan antibiotik cefotaxime 25 mg/kg BB dengan dosis pemberian 1 mL (dua kali sehari) selama tiga hari intravena, dilanjutkan dengan pemberian cefixime 5 mg/kg BB dengan dosis pemberian 1 mL (dua kali sehari) selama lima hari peroral.  Kucing juga diberikan analgesik tolfedin 4 mg/kg BB dengan dosis pemberian 0,4 mL (sekali sehari) selama tiga hari subkutan.  Kucing menunjukkan kesembuhan total yang ditandai dengan nafsu makan yang normal, luka operasi yang telah mengering, serta luka jahitan sudah dilepas pada hari ke-16 pascaoperasi.
      PubDate: 2023-01-31
      DOI: 10.19087/imv.2023.12.1.126
       
  • Kajian Pustaka: Faktor-Faktor Risiko Penyakit Mulut dan Kuku pada Hewan
           Pemamah Biak (Ruminansia) Kecil

    • Authors: Pandu Adjie Pamungkas, Putu Dian Purnama Putra, Gede Wiyasa Ardy Nugraha, Putu Prema Candrayani, Carmelita Soares de Jesus, I Wayan Batan
      Pages: 140 - 149
      Abstract: Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) merupakan penyakit akut yang sangat menular.  Selain itu, virus penyakit mulut dan kuku diketahui menghambat pertumbuhan dan reproduksi pada hewan ruminansia kecil.  PMK merupakan penyakit yang sangat penting karena menyerang ternak ruminansia dengan seroprevalensi keseluruhan sebesar 11,48%.  Saat ini, wabah penyakit mulut dan kuku sedang meningkat di Indonesia sehingga tulisan ini diharapkan dapat menjadi informasi yang berguna untuk menekan penyebarannya.  Tinjauan pustaka yang digunakan pada studi literatur ini yaitu menggunakan penelusuran pustaka dengan melakukan pencarian artikel jurnal yang terkait dengan topik yang akan dibahas yaitu faktor risiko PMK pada ruminansia kecil dari beberapa sumber seperti artikel-artikel pada Frontiers in Veterinary Science dan Google Scholar. Faktor risiko pada hewan ternak ruminansia kecil yang berhubungan dengan seropositif PMK meliputi agroekologi, sistem produksi, umur, jenis kelamin, kontak dengan satwa liar, iklim, ras, interaksi dengan ternak lain, manajemen, dan sanitasi ternak.  PMK diduga awalnya terjadi di Italia Utara pada tahun 1514 dan di Afrika Selatan pada tahun 1780.  Penyakit ini memiliki morbiditas yang tinggi hingga 100% dan mortalitas yang rendah.  Berdasarkan hasil pustaka ini dapat disimpulkan bahwa ditemukan adanya beberapa faktor risiko penyakit mulut dan kuku pada ruminansia kecil terdapat lima yaitu spesies, ras, umur, jenis kelamin, dan asal hewan.  Mengingat terbatasnya penelitian yang telah dilakukan hingga saat, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai kejadian penyakit mulut dan kuku terutama pada ruminansia kecil.
      PubDate: 2023-01-31
      DOI: 10.19087/imv.2023.12.1.140
       
  • Kajian Pustaka: Gambaran Klinik dan Penanganan Pankreatitis Akut pada
           Anjing

    • Authors: Putu Teza Juliantari, Ananda Agung Dextra Heparandita, I Gede Arya Mas Sosiawan, Martina Tiodora Sitohang, I Wayan Batan
      Pages: 150 - 163
      Abstract: Pankreatitis akut adalah kondisi inflamasi yang menimbulkan nyeri abdomen dan enzim pankreas diaktivasi secara prematur dan mengakibatkan autodigestif pankreas.  Pankreatitis dapat bersifat akut atau kronis, dengan gejala ringan sampai berat.  Dilakukan kajian pustaka dari artikel pankreatitis akut yang dilaporkan di seluruh dunia secara online melalui Google Scholar dan PubMed menggunakan kata kunci pencarian “Pancreatitis”, “Acute Pancreatitis”, “Radiograph”, “USG”, dan “CT-Scan”.  Dari sembilan kasus yang dibandingkan, ditemukan kesamaan anamnesis, yaitu nyeri perut dan muntah.  Hal ini disebabkan karena pankreatitis akut menimbulkan nyeri karena enzim pankreas diaktivasi secara prematur dan mengakibatkan pankreas mengalami autodigestif.  Peneguhan diagnosis dilakukan dengan pemeriksaan hematologi, pemeriksaan radiografi, ultrasonografi (USG), ataupun dengan computerized tomography scan (CT-scan).  Temuan yang muncul adalah area lobulasi jaringan hipoekoik yang abnormal pada lobus pankreas dengan pemeriksaan ultrasonografi serta peningkatan kadar lipase dan protein C-reaktif yang merupakan indikator yang bisa digunakan untuk mengetahui terjadinya pankreatitis akut.  Penanganan dan pengobatan dilakukan dengan pemberian terapi cairan, obat anti muntah maropitant, antibiotik ampisilin, antibiotik metronidazol, obat asam lambung omeprazole, dan diet rendah lemak.  Laparotomi dilakukan pada dua dari sembilan kasus guna meredakan nyeri pada abdomen.  Gastrotomi dilakukan pada kasus enam, yaitu pada anjing betina ras Bull terrier berumur dua tahun akibat adanya benda asing (dua buah karet) pada bagian kardiak lambung. Jika anjing mengalami tanda-tanda klinis mengarah ke pankreatitis harap segera dibawa ke klinik hewan untuk diperiksa dan dilakukan pemeriksaan berupa pemeriksaan darah lengkap, biokimia serum, dan ulrasonografi agar diketahui apabila memang terjadi kasus pankreatitis akut dan bisa diberikan treatment lanjutan sehingga peluang anjing pulih dan selamat lebih besar.
      PubDate: 2023-01-31
      DOI: 10.19087/imv.2023.12.1.150
       
  • Kajian Pustaka: Sindroma Pendarahan Usus pada Sapi Perah

    • Authors: Bendesa Eka Satyam Ananda, Seli Nurmayani, Nuno Fernandes, Elfani Sarah Faradina, Sumanna Rumapea, I Wayan Batan
      Pages: 164 - 180
      Abstract: Sindroma pendarahan usus adalah penyakit yang relatif umum pada sapi perah dan sapi potong yang memiliki tingkat kematian yang tinggi.  Penyakit ini diklasifikasikan sebagai enteritis akut, sporadis dan necrohemorrhagic.  Hal ini biasanya terlihat pada sapi perah yang sangat produktif.  Penyebab sindroma pendarahan usus tidak jelas dan patogenesisnya tidak dipahami dengan baik. Namun, Clostridium perfringens tipe A telah diusulkan sebagai agen etiologi utama dan toksin alfa dan beta-2 nya diduga memiliki peran penting dalam terjadinya penyakit sindroma pendarahan usus.  Penyakit ini terutama diamati pada tiga bulan pertama laktasi pada sapi perah laktasi.  Kesalahan dalam memilih bahan-bahan yang akan digunakan dalam ransum dan fermentasi yang tidak tepat dari pakan yang diberikan tampaknya menjadi faktor predisposisi yang paling penting dalam perkembangan sindroma pendarahan usus.  Toksemia berat (enterotoksemia) dan perdarahan hebat di usus kecil menyebabkan perubahan patologis di usus.  Pembekuan darah di lumen usus, temuan spesifik dari sindroma pendarahan usus hanya dapat ditunjukkan pada 19% sapi yang terinfeksi.  Diagnosis sering didasarkan pada temuan klinis, ultrasonografi, nekropsi dan juga dengan diagnosis banding enteritis hemoragik lainnya yang disebabkan oleh salmonellosis, bovine viral diarrhea, coccidiosis dan lain lain. Dilakukannya bedah laparotomy, penggunaan feed additive, manajemen nutrisi yang baik dan pemberian vaksin dianjurkan untuk pengendalian penyakit.
      PubDate: 2023-01-31
      DOI: 10.19087/imv.2023.12.1.164
       
  • Kajian Pustaka: Hepatitis pada Anjing Peliharaan

    • Authors: Dhyana Ayu Manggala Wijaya, Doni Damara, I Gusti Ayu Mirah Afsari Dewi, Meidhea Reforma Saputri, I Dewa Made Nurja Sadhi Subadiyasa, I Wayan Batan
      Pages: 181 - 198
      Abstract: Hepatitis merupakan penyakit umum pada anjing yang menyebabkan hilangnya fungsi dan seiring waktu terjadi hilangnya jaringan hati akibat nekrosis dan sirosis.  Hepatitis dapat disebabkan karena adanya infeksi virus seperti Canine adenovirus tipe-1 (CAV-1), infeksi parasit seperti Capillaria hepatica, infeksi bakteri seperti leptospirosis, infeksi mikotik yang umum terjadi seperti kandidiasis, histoplasmosis, dan aspergillosis, toksin, dan obat-obatan seperti antikonvlusan atau obat antijamur.  Kajian pustaka ini menyajikan 15 laporan kasus hepatitis pada anjing yang ditandai dengan gejala klinis secara umum yaitu penurunan nafsu makan, anoreksia, penurunan bobot badan, muntah, dan diare.  Penurunan fungsi pada hati menyebabkan kekuningan/jaundice dan ascites.  Pemeriksaan penunjang yang umum digunakan dalam menegakkan diagnosis meliputi pemeriksaan darah, biokimia darah, ultrasonografi (USG), radiografi, dan biopsi.  Terapi dalam kasus ini umumnya dilakukan terapi kausatif jika penyebabnya diidentifikasi seperti pemberian antibiotik, terapi simptomatik dengan obat golongan steroid, dan terapi suportif melalui pemberian cairan infus.  Prognosis dari hepatitis mulai dari baik hingga buruk dapat terjadi tergantung pada faktor penyebab dan keparahan dari penyakit.  Metode yang digunakan pada penulisan artikel ini adalah kajian literatur, dengan sumber yang dapat berasal dari buku, jurnal, dan artikel yang terkait dengan topik hepatitis pada anjing.  Hasil kajian literatur mengenai pengobatan untuk hepatitis akut dapat diberikan terapi suportif untuk pemulihan, sedangkan hepatitis kronis idiopatik masih dalam peninjauan.  Berbagai macam terapi pengobatan dilakukan dalam pengobatan hepatitis dan didapatkan hasil yang baik dan juga terdapat kematian pada beberapa hewan kasus karena kondisi hewan yang sudah memburuk.
      PubDate: 2023-01-31
      DOI: 10.19087/imv.2023.12.1.181
       
 
JournalTOCs
School of Mathematical and Computer Sciences
Heriot-Watt University
Edinburgh, EH14 4AS, UK
Email: journaltocs@hw.ac.uk
Tel: +00 44 (0)131 4513762
 


Your IP address: 34.232.63.94
 
Home (Search)
API
About JournalTOCs
News (blog, publications)
JournalTOCs on Twitter   JournalTOCs on Facebook

JournalTOCs © 2009-