A  B  C  D  E  F  G  H  I  J  K  L  M  N  O  P  Q  R  S  T  U  V  W  X  Y  Z  

  Subjects -> VETERINARY SCIENCE (Total: 225 journals)
The end of the list has been reached or no journals were found for your choice.
Similar Journals
Journal Cover
Indonesia Medicus Veterinus
Number of Followers: 0  

  This is an Open Access Journal Open Access journal
ISSN (Print) 2301-7848
Published by Universitas Udayana Homepage  [62 journals]
  • Cover, Staf Redaksi, Daftar Isi

    • Authors: I Wayan Batan
      Abstract: Cover, Staf Redaksi, Daftar Isi
      PubDate: 2022-07-31
       
  • Perubahan Lesi Makroskopik Anjing Penderita Dermatitis Atopik Setelah
           Pemberian Madu Trigona

    • Authors: Ni Luh Lasmi Purwanti, I Nyoman Suartha, I Nyoman Suarsana
      Pages: 493 - 506
      Abstract: Atopic dermatitis in dogs is a complex disease with various causes that are often associated with other pruritic diseases such as demodek, scabies, dermatophytosis, malassezia and food allergy. However, currently the treatment of atopic dermatitis still uses chemicals, so natural ingredients such as trigona honey are needed. This study aims to determine the healing of macroscopic lesions in dogs with atopic dermatitis after administration of trigona honey. This study used 12 dogs with atopic dermatitis with moderate severity scores and aged 2-6 months. The samples were divided into a control group (P0) without honey, a fresh honey treatment group (P1) 5ml/head/day and a capsule honey group (P2) 0.1mg/head/day. Honey was given for 4 weeks in groups P1 and P2. The results of the Kruskal-Wallis test showed that the Trigona honey treatment had a significant effect on the healing of macroscopic lesions of dogs with atopic dermatitis, both given fresh honey (P1) and honey in capsule form (P2) compared to controls. Based on the results of research, Trigona honey is effectively used to accelerate the healing of dermatitis in dogs which is characterized by a decrease in macroscopic lesions.
      PubDate: 2022-07-31
      DOI: 10.19087/imv.2022.11.4.493
       
  • Laporan Kasus: Infeksi Cacing Tambang (Ancylostomiasis) yang Menimbulkan
           Ascites pada Anjing Peranakan Pomeranian Umur Empat Bulan

    • Authors: Made Krisna Ananda, Made Suma Anthara, I Gusti Made Krisna Erawan, Putu Devi Jayanti
      Pages: 507 - 518
      Abstract: Cacing tambang atau Ancylostoma spp. merupakan cacing yang banyak menyerang manusia dan hewan kesayangan seperti anjing. Parasit Ancylostoma spp. merupakan nematoda gastrointestinal yang bersifat zoonosis. Jalur utama penularan cacing tambang ini secara fecaloral oleh tanah yang terkontaminasi, penetrasi kulit, transplasenta, dan transmammaria. Tanda-tanda klinis paling umum yang ditunjukkan yaitu lemah, anemia, kehilangan bobot badan, diare, rambut kusam, dan perut buncit. Ancylostomiasis dapat mengakibatkan perut membuncit, dispnea, lesu, anoreksia, muntah, kelemahan, dan ketidaknyamanan. Hewan kasus merupakan seekor anjing betina persilangan pomeranian berumur empat bulan, berwarna coklat dengan berat badan 1,2 kg. Hewan datang dengan keluhan bagian abdomen membesar, serta mengalami muntah berbusa warna putih. Pada pemeriksaan fisik diketahui bahwa pembesaran abdomen diakibatkan oleh adanya cairan. Pada pemeriksaan feses ditemukan cacing Ancylostoma spp. dengan infestasi telur sebanyak 1000 epg (egg per gram). Anjing didiagnosis mengalami ascites akibat infeksi Ancylostoma spp. Terapi yang diberikan berupa fursultiamin HCl tablet 5 mg sekali sehari selama lima hari, kemudian vitamin B Kompleks, dan furosemide dengan dosis 3,3 mg/kgBB diberikan dua kali sehari secara oral selama lima hari. Disarankan juga pada pemilik anjing untuk melanjutkan pemberian pirantel pamoat sebanyak 0,5 tablet. Setelah lima hari perawatan anjing kasus menunjukkan tanda-tanda kesembuhan yang ditunjukkan dengan anjing kasus mulai aktif beraktivitas.
      PubDate: 2022-07-31
      DOI: 10.19087/imv.2022.11.4.507
       
  • Laporan Kasus: Infeksi Berulang Ehrlichia canis pada Monosit Anjing
           Peranakan Akita di Denpasar, Bali

    • Authors: Krisna Ardhia Pradnyandika, I Gede Soma, I Nyoman Suartha
      Pages: 519 - 529
      Abstract: Infeksi bakteri Ehrlichia canis yang bereplikasi pada sel monosit disebut juga Canine Monocytic Ehrlichiosis (CME).  Seekor anjing betina peranakan akita dibawa ke Rumah Sakit Hewan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana dengan keluhan penurunan nafsu makan dan minum disertai dengan konsistensi feses yang lembek.  Hasil pemeriksaan klinis menemukan adanya bekas feses berwarna hitam pada rambut di sekitar anus, rambut terlihat kusam, napas cepat dan dangkal serta pulsus anteri femoralis teraba lemah.  Pemeriksaan feses menunjukkan hasil negatif untuk telur cacing dan protozoa.  Pemeriksaan hematologi menunjukkan anjing mengalami anemia mikrositik hiperkromik, leukositosis dengan limfositosis dan granulositopenia, serta trombositopenia.  Pemeriksaan apusan darah dan test kit antibodi terhadap Ehrlichia canis menunjukkan hasil positif.  Berdasarkan hal tersebut, anjing didiagnosis mengalami CME.  Hewan diterapi dengan antibiotik doksisiklin (10 mg/kg BB, PO setiap 24 jam), antiradang prednison (0,5 mg/kg BB, PO setiap 24 jam) dan hematopoietik Sangobion® (satu kapsul per hari). Terapi tersebut diberikan selama 14 hari.  Terapi menunjukkan hasil yang baik dari segi nafsu makan dan minum yang normal, aktif, serta konsistensi dan warna feses yang normal.
      PubDate: 2022-07-31
      DOI: 10.19087/imv.2022.11.4.519
       
  • Laporan Kasus: Batu Kantung Kemih (Cystolithiasis) yang Menimbulkan
           Kencing Berdarah pada Anjing Peranakan Corgy Betina Dewasa

    • Authors: Lilik Dwi Mariyana, Dzikri Nurma’rifah Takariyanti, I Gusti Made Krisna Erawan, I Nyoman Suartha
      Pages: 530 - 540
      Abstract: Cystolithiasis merupakan adanya urolith atau kalkuli di dalam kantung kemih. Cystolithiasis terjadi pada 0,4-2% dari populasi anjing. Seekor anjing peranakan Corgy betina berusia tujuh tahun, bobot badan 13,8 kg diperiksa di Healthy Pet Veterinary Clinic, dengan keluhan urin disertai darah (hematuria) namun tidak intens selama dua minggu. Pada pemeriksaan sistem urogenital menunjukkan adanya distensi abdomen dan ketika dipalpasi anjing menunjukkan respons nyeri pada bagian abdomen. Pemeriksaan ultrasonografi menunjukkan adanya urolith seperti butiran pasir dan penebalan dinding kantung kemih. Pada pemeriksaan penunjang hematologi rutin menunjukkan hasil leukositosis, limfositosis, anemia normositik normokromik dan penurunan hematrokit. Pemeriksaan mikroskopis sedimentasi urin mengkonfirmasi adanya kristal struvit. Anjing didiagnosis menderita cystolithiasis akibat struvit. Anjing kasus diterapi dengan antibiotik Ciprofloxacin HCL 10 mg/kg BB, q24h selama tujuh hari, anti radang Meloxicam 0,2 mg/kg BB, q24h selama tujuh hari, dan kapsul kejibeling satu kapsul, q24h selama tujuh hari. Setelah pengobatan selama tujuh hari, kondisi anjing mulai membaik, saat urinasi tidak adanya indikasi rasa nyeri dan tidak adanya hematuria.
      PubDate: 2022-07-31
      DOI: 10.19087/imv.2022.11.4.530
       
  • Laporan Kasus: Infeksi Tungau Skabies pada Anjing Kacang dengan Ikutan
           Jamur Culvularia

    • Authors: I Gede Arya Mas Sosiawan, Sri Kayati Widyastuti, Putu Devi Jayanti
      Pages: 541 - 554
      Abstract: Skabies merupakan infeksi penyakit kulit oleh ektoparasit jenis tungau (mite) yaitu Sarcoptes spp. Tungau Sarcoptes spp. menginfeksi kulit induk semang dengan cara membuat terowongan pada lapisan epidermis yang akan menyebaban rasa gatal. Akibat kekebalan seluler yang lemah, garukan yang intens, dan adanya luka karena infeksi skabies akan dengan mudah diikuti oleh infeksi sekunder dari jamur. Jamur culvularia adalah genus Pleosporalean monophyletic dengan banyak jenis spesies, termasuk jenis fitopatogenik (jamur patogen pada hewan dan manusia) juga dapat menyebabkan phaeohyphomycosis. Studi kasus ini dilakukkan pada seekor anjing lokal bernama Ciko, betina, umur 2,5 bulan dengan berat 2 kg mengalami masalah kulit berupa alopesia di seluruh tubuh, ulser telinga kiri, krusta pada kedua telinga, wajah dan punggung. Eritema pada abdomen, ekor, kaki depan dan belakang dan juga scale pada punggung. Masalah kulit telah berlangsung selama satu bulan sebelum dilakukan pemeriksaan. Dari hasil pemeriksaan kerokan kulit dengan metode superficial skin scraping ditemukan tungau Sarcoptes spp. dan hasil pemeriksaan jamur dengan menggunakan selotip (tape) ditemukan jamur culvularia tipe konidia atipikal. Infeksi jamak atau lebih dari satu agen penyakit (multiple infestation) pada kasus penyakit kulit umumnya bisa terjadi dan dibuktikan pada kasus ini. Untuk hasil pemeriksaan darah menunjukkan anjing mengalami anemia mikrositik normokromik, limfositosis, dan neutropenia. Anjing kasus didiagnosis terinfeksi skabies dengan infeksi sekunder jamur culvularia tipe konida atipikal. Pengobatan dilakukan dengan pemberian ivermectin 0,04 mL, diphenhydramine HCl 0,2 mL, fish oil satu kapsul setiap hari, amitraz 1 mL untuk 100 mL air dan sabun belerang atau sulfur. Penanganan yang telah dilakukan selama 14 hari menunjukkan kondisi anjing mengalami perbaikan ditandai dengan mulai tumbuhnya rambut anjing yang sebelumnya mengalami alopesia, tidak tercium lagi bau tengik dari tubuhnya, sudah jarang menggaruk dan hilangnya ulser, krusta, dan scale pada bagian tubuhnya.
      PubDate: 2022-07-31
      DOI: 10.19087/imv.2022.11.4.541
       
  • Laporan Kasus: Infeksi Anaplasmosis dan Ehrlichiosis yang Kambuh Bersifat
           Fatal pada Anjing Pomeranian

    • Authors: Dede Ayu Pratiwi, Sri Kayati Widyastuti, I Nyoman Suartha
      Pages: 555 - 565
      Abstract: Anaplasmosis dan ehrlichiosis merupakan penyakit penting pada anjing yang disebabkan oleh mikroorganisme intraseluler Gram negatif, ditularkan melalui vektor caplak famili Ixodidae. Tujuan penulisan kasus ini adalah untuk menentukan strategi pengendalian dan pengobatan yang tepat pada kasus anaplasmosis dan ehrlichiosis baik pada fase akut maupun fase kronis. Seekor anjing Pomeranian jantan diperiksa di Rumah Sakit Hewan Pendidikan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana dengan keluhan lemas, tidak nafsu makan sejak dua minggu, terdapat bintikbintik merah di tubuh sejak lima hari. Hasil pemeriksaan klinis pada kulit ditemukan petekie pada bagian abdomen dan bagian belakang telinga dan pada mukosa mulut terjadi hemoragi. Pemeriksaan hematologi rutin menunjukkan anjing kasus mengalami anemia normositik hiperkromik, trombositopenia, limfositosis dan granulositopenia. Pemeriksaan ulas darah ditemukan adanya inklusi intrasitoplasmik (morula). Pemeriksaan darah dengan test kit antigen menunjukkan hewan kasus positif terhadap Anaplasma spp. dan Ehrlichia canis, sehingga anjing kasus didiagnosis menderita anaplasmosis dan ehrlichiosis. Pengobatan dengan menggunakan imidocarb dipropionate (5 mg/kg BB; dosis diulangi setelah 14 hari), doksisiklin (10 mg/kg BB; q24 jam; selama 14 hari), suplementasi hematopoietik Sangobion® satu kapsul satu kali sehari dan injeksi intramuskuler tunggal pemelihara daya tahan tubuh Biodin® sebanyak 1,5 mL. Anjing tidak merespon pengobatan dengan baik karena berada dalam fase kronis. Anjing mengalami penurunan kondisi tubuh yang signifikan pada hari keempat dan dinyatakan mati pada hari kelima.
      PubDate: 2022-07-31
      DOI: 10.19087/imv.2022.11.4.555
       
  • Laporan Kasus: Babesiosis dan Ehrlichiosis pada Anjing Kacang Umur 11
           Tahun yang Terinfeksi Caplak Rhipicephalus sanguineus

    • Authors: Rr.Allamanda Ardia Wardana, Sri Kayati Widyastuti, Made Suma Antara
      Pages: 566 - 578
      Abstract: Agen parasit darah yang umum ditemukan pada anjing yaitu Babesia sp. dan Ehrlichia sp. yang dapat menyebabkan kematian pada anjing. Seekor anjing lokal mempunyai keluhan penurunan nafsu makan, lesu, luka pada tubuh, alopesia, dan infeksi caplak Rhipicephalus sanguineus pada tubuh. Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan anjing mengalami demam, turgor kulit melambat, Capillary Refil Time (CRT) melebihi dua detik, mukosa anjing pucat, dan adanya infeksi caplak R. sanguineus. Pemeriksaan penunjang yang dilakukan yaitu pemeriksaan hematologi rutin, apusan darah, dan serologi yaitu test kit antibodi. Hasil pemeriksaan hematologi rutin menunjukkan anjing mengalami anemia mikrositik hiperkromik, limfositosis, dan trombositopenia. Hasil apusan darah ditemukan eritroparasit Babesia sp. dan intracytoplasmic (morula) Ehrlichia sp. pada sel darah putih anjing kasus. Hasil pemeriksaan serologi menggunakan test kit antibodi menunjukkan anjing kasus positif terhadap Babesia sp. dan Ehrlichia sp. Berdasarkan anamnesis, hasil pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang, anjing kasus didiagnosis menderita babesiosis dan ehrlichiosis dengan prognosis fausta. Terapi yang diberikan yaitu injeksi ivermectin 0,3 mg/kg BB secara sub kutan. Terapi kausatif diberikan antibiotik doksisiklin kapsul (8 mg/kg BB, PO) satu kali sehari selama dua minggu. Terapi suportif diberikan satu tablet vitamin B12 per hari selama lima hari. Setelah dua minggu pascapengobatan anjing sudah kembali aktif dan nafsu makan anjing sudah normal kembali.
      PubDate: 2022-08-14
      DOI: 10.19087/imv.2022.11.4.566
       
  • Laporan Kasus: Penanganan Panleukopenia pada Kucing Kampung Usia Muda yang
           Belum Pernah Divaksinasi

    • Authors: Faccettarial Cylon Marchel Marlissa, I Nyoman Suartha, Sri Kayati Widyastuti
      Pages: 579 - 593
      Abstract: Feline panleukopenia virus (FPV) merupakan penyakit infeksius yang menyerang kucing baik diumur muda maupun dewasa.  Seekor kucing kampung bernama Bumbi berumur tiga bulan berjenis kelamin betina dibawa ke Rumah Sakit Hewan Pendidikan, Universitas Udayana.  Menurut pemilik kucing kasus tidak mau makan dan minum selama sehari, muntah cacing setelah diberikan obat cacing pada hari yang sama, dan diare berwarna coklat dengan konsistensi semisolid.  Pemeriksaan klinis menunjukkan kucing kasus lemas, dehidrasi, turgor kulit melambat, mukosa gusi pucat, cermin hidung yang kering, dan demam (39,6').  Pemeriksaan laboratorium hematologi menunjukkan kucing kasus mengalami leukopenia, granulositopenia, dan anemia normositik hiperkromik.  Pemeriksaan penunjang dengan tes kit FPV memperlihatkan hasil positif terhadap virus FPV.  Kucing kasus diberikan pakan basah urgent care a/d Hill’s® Prescription Diet, terapi cairan menggunakan ringer laktat 30 mL/kgBB/hari secara intravena (IV), injeksi antibiotik Cefotaxime sodium (50 mg/kg BB, IV q12h) selama empat hari, injeksi antiemesis Ondansetron HCl  (0,2 mg/kg BB, IV, q12h) selama dua hari, dan Raniditine HCl (2,5 mg/kg BB, IV q12h) selama empat hari.  Terapi suportif diberikan injeksi vitamin C (30 mg/kg BB, IV, q12h) selama empat hari, vitamin B kompleks sebanyak 1 mL/ekor drop pada cairan infus, kaolin-pektin sirup (1 mL/kg BB, PO, q12h).  Pengobatan rawat jalan diberikan Cefadroxil (22 mg/kg BB, PO, q24h) selama lima hari, multivitamin (vitamin A, vitamin D, vitamin B1, vitamin B2, vitamin B6, vitamin B12, vitamin C, vitamin E, Mangan, Zinc, Fluor, dan Iodium) sebanyak 1 mL/hari selama tiga hari dan obat cacing pyrantel pamoat 20 mg/kg BB sebagai terapi kecacingan.  Kucing kasus dirawat secara intensif dan memperlihatkan kemajuan mulai hari ketiga dan pulang pada hari keempat.
      PubDate: 2022-07-31
      DOI: 10.19087/imv.2022.11.4.579
       
  • Laporan Kasus: Infeksi Canine Parvovirus pada Anjing Chihuahua yang Tidak
           Di-booster

    • Authors: Cikal Farah Irian Jati Saweng, I Made Suma Anthara, I Nyoman Suartha
      Pages: 594 - 605
      Abstract: Virus parvo anjing atau Canine Parvovirus (CPV-2) merupakan salah satu agen penyakit yang disebabkan oleh virus.  Infeksi virus ini dapat diderita oleh anak anjing yang tidak divaksin secara lengkap antara usia enam minggu hingga enam bulan.  Anjing kasus merupakan anjing ras chihuahua berumur lima bulan, berjenis kelamin betina, dengan bobot badan 2 kg, diperiksa dengan keluhan muntah, diare berdarah, serta tidak mau makan dan minum.  Pemeriksaan klinis menunjukkan membran mukosa pucat, mukosa hidung yang kering, turgor kulit lambat, dehidrasi, diare bercampur darah yang beraroma khas, muntah, dan terdengar suara borborigmi usus yang meningkat, serta ditemukannya infeksi caplak pada kulit.  Hasil pemeriksaan hematologi menunjukan anjing kasus mengalami leukopenia.  Hasil pemeriksaan test kit canine parvovirus (CPV) menunjukkan hasil positif dan didiagnosis terinfeksi canine parvovirus (CPV-2).  Penanganan dilakukan dengan pengobatan secara suportif dan simptomatik.  Pemberian terapi cairan diberikan secara intravena berupa ringer lactate dan untuk mencegah infeksi sekunder diberikan antibiotik cefotaxime (50 mg/kg IV, BID, selama lima hari).  Terapi simptomatik diberikan obat antiemetik maropitant citrate (1 mg/kg SC, SID selama lima hari), sedangkan terapi suportif diberikan hematodin (0,2 mL/kg IV, SID, selama tiga hari), dan obat herbal Yunnan Baiyao® (1 kapsul sehari, PO, selama lima hari) untuk meminimalisir peradangan dan pendarahan pada usus.  Perawatan berlangsung selama tujuh hari dan anjing kasus menunjukkan proses kesembuhan dalam waktu empat hari. Anjing kasus kembali normal setelah hari ke lima.
      PubDate: 2022-07-31
      DOI: 10.19087/imv.2022.11.4.594
       
  • Laporan Kasus: Pengambilan Benda Asing Berupa Kelereng dari Dalam Lambung
           Anak Anjing Melalui Pembedahan Laparo-Gastrotomy

    • Authors: Genta Dhamara Adam Putranto, Putu Risma Oktaviandari, I Gusti Agung Gde Putra Pemayun
      Pages: 606 - 621
      Abstract: Seekor anjing betina ras campuran berusia ±3 bulan dengan bobot badan 1,68 kg diketahui oleh pemilik menelan sebuah benda asing berupa kelereng pada saat bermain. Pemilik kemudian menunggu selama 24 jam agar benda asing tersebut keluar pada saat defekasi, namun setelah 24 jam anjing tersebut tidak defekasi sehingga benda asing masih ada di dalam sistem pencernaan. Pemeriksaan klinis menunjukkan kondisi anjing tersebut normal tanpa disertai gangguan pencernaan. Pemeriksaan darah lengkap menunjukkan bahwa pasien mengalami anemia mikrositik normokromik. Pada pemeriksaan radiografi abdomen terkonfirmasi bahwa benda asing berbentuk bulat bersifat radiopaque masih bersarang pada bagian lambung. Pasien tersebut kemudian didiagnosa menelan benda asing (corpora alienum) pada organ lambung. Penanganan dilakukan dengan pembedahan laparo-gastrotomy untuk mengeluarkan benda asing tersebut secepatnya. Penutupan insisi pada bagian mukosa lambung dengan pola sederhana menerus menggunakan benang absorbable (Assucryl®, 3-0), dan serosa lambung dengan pola lambert menerus menggunakan benang absorbable (Assucryl®, 3-0). Daerah peritoneum dan linea alba dilakukan dengan pola sederhana terputus menggunakan benang absorbable (Assucryl®, 3-0). Pada daerah subkutan dijahit dengan pola simple interrupted menggunakan benang absorbable (One Med® Chromic Catgut, 3-0), sedangkan pada daerah kulit dijahit dengan pola simple interrupted menggunakan benang non-absorbable (One Med® Silk braided, 3-0). Terapi yang diberikan pascaoperasi adalah Penstrep-400® dengan dosis 20.000 IU dan dilanjutkan dengan pemberian amoksisilin sirup dengan dosis 20 mg/kg setiap 8 jam selama 5 hari secara oral, kemudian diberikan analgesik asam mefenamat dengan dosis 25 mg/kg setiap 12 jam secara oral selama 5 hari. Luka insisi kulit mengering dengan sempurna dan jahitan kulit dilepas pada hari kelima setelah operasi.
      PubDate: 2022-08-26
      DOI: 10.19087/imv.2022.11.4.606
       
  • Laporan Kasus: Radang Kantung Kemih Tanpa Penyebab yang Jelas pada Kucing
           Kampung

    • Authors: Dharma Audia Samsuri, I Gede Soma, Made Suma Anthara
      Pages: 622 - 634
      Abstract: Feline Lower Urinary Tract Disease (FLUTD) atau Infeksi Saluran Kencing (ISK) adalah penyakit pada saluran kemih bagian bawah pada kucing yang biasa ditandai dengan kesulitan urinasi, kesakitan, dan urinasi meningkat.  Kucing kampung berjenis kelamin jantan, berumur satu tahun, berwarna loreng hitam, dengan bobot 3,9 kg dibawa ke Rumah Sakit Hewan Pendidikan Universitas Udayana dengan keluhan awal mengalami kesulitan urinasi.  Tiga minggu kemudian keluhan kesulitan urinasi terjadi kembali disertai dengan muntah, dan kurang mau minum.  Saat dilakukan pemeriksaan fisik secara inspeksi kucing terlihat normal dan waspada, saat pemeriksaan secara palpasi abdomen teraba kencang dan menunjukkan respons nyeri.  Pada pemeriksaan darah lengkap menunjukkan bahwa kucing mengalami leukositosis.  Hasil ultrasonografi didapatkan kantung kemih yang dipenuhi dengan urin sehingga terlihat membesar dan adanya peradangan yang terlihat hiperekoik.  Hasil radiografi didapatkan kantung kemih yang terlihat besar namun batasannya tidak terlalu jelas dan organ ginjal yang terlihat membesar.  Hasil pemeriksaan mikroskopis urin terlihat partikel kristal jenis struvit dan kalsium oksalat.  Kucing didiagnosis mengalami feline idiopathic cystitis dengan prognosis fausta.  Penanganan dilakukan dengan pemasangan kateter untuk mengeluarkan urin dan membersihkan kantung kemih menggunakan NaCl 0,9% yang disemprotkan melalui spuit.  Terapi yang diberikan dengan pemberian antibiotik cefalexin sirup 1 mL/kg BB dua kali sehari PO, obat antiinflamasi dexamethasone 1 mg/kg BB dua kali sehari PO, dan obat herbal Batugin® sirup 2 mL/kg BB satu kali sehari PO.  Setelah tujuh hari dilakukan pelepasan kateter, kucing mengalami perubahan setelah diberikan terapi selama tujuh hari ditandai dengan urinasi lancar dan tidak adanya rasa nyeri pada saat urinasi.
      PubDate: 2022-07-31
      DOI: 10.19087/imv.2022.11.4.622
       
  • Laporan Kasus: Cystitis pada Kucing Persia Jantan

    • Authors: Monica Lewinsky, Sri Kayati Widyastuti, Mada Suma Anthara
      Pages: 634 - 648
      Abstract: Cystitis merupakan peradangan pada kandung kemih yang sering terjadi pada hewan peliharaan sebagai bagian dari infeksi pada saluran kemih.  Urolithiasis adalah penyakit yang disebabkan adanya urolit, kalkuli, kristal ataupun sedimen yang berlebihan dalam saluran urinaria.  Seekor kucing Persia jantan bernama Apollo, berumur ± 2 tahun dengan bobot badan 4 kg mengalami keluhan tidak mau makan, lemas, kesulitan urinasi yang sudah berlangsung tiga hari, menunjukkan respon sakit saat ingin urinasi, stranguria, dan hematuria.  Pada pemeriksaan fisik terlihat adanya distensi abdomen yang saat dipalpasi abdomen terasa nyeri dan pembesaran pada vesika urinaria.  Pemeriksaan penunjang yang dilakukan berupa pemeriksaan laboratorium, yaitu hematologi dan kimia darah, pemeriksaan ultrasonografi (USG), urinalisis, dan sedimentasi urin secara mikroskopis.  Hasil pemeriksaan darah menunjukkan bahwa kucing mengalami leukositosis, neutrofilia, dan trombositopenia.  Pada pemeriksaan USG terlihat adanya penebalan pada dinding vesika urinaria dan massa hiperechoic.  Hasil urina         lisis menunjukkan adanya kenaikan leukosit, adanya darah, kreatinin, dan protein, dan pada pemeriksaan mikroskopis menunjukkan adanya kristal struvit.  Kucing didiagnosis mengalami cystitis dengan prognosis fausta.  Adapun terapi yang diberikan berupa terapi cairan, pemasangan kateter, dan pemberiaan obat oral yang berupa antibiotik cefadroxil dengan dosis 22 mg/kg BB, sekali sehari, cystaid® sekali sehari satu tablet, rowatinex dua kali satu kapsul sehari selama empat minggu.  Kucing kasus menunjukkan hasil yang baik setelah dilakukan pengobatan selama tujuh hari.  Urinasi mulai lancar, tidak ada indikasi hematuria, oliguria, dan stranguria.
      PubDate: 2022-07-31
      DOI: 10.19087/imv.2022.11.4.635
       
  • Kajian Pustaka: Gambaran Klinis Infeksi Radang Hati Menular (Infectious
           Canine Hepatitis) pada Anjing

    • Authors: Putu Ayu Dina, I Putu Krisna Ardhia Pradnyandika, Raisis Farah Dzakiyyah Al Aliyya, Ni Made Dhea Febrianty, Rr. Allamanda Ardia Wardana, Mahda Dwi Darmayanti, Ida Bagus Nararya Primastana, I Wayan Batan
      Pages: 649 - 664
      Abstract: Infeksi radang hati menular pada anjing merupakan penyakit infeksi virus yang dapat menyebabkan terjadinya radang hati.  Kejadian penyakit ini sangat menarik sebagai bahan kajian ilmiah sehingga dapat menambah wawasan dan pengetahuan bagi para pembaca.  Penyakit ini disebabkan oleh Canine adenovirus-1 (CAV-1).  Adenovirus resistan terhadap kondisi lingkungan, mampu bertahan beberapa hari pada suhu ruang, dan dapat bertahan berbulan-bulan pada suhu ' 4°C.  Infeksi radang hati menular paling sering terjadi pada anjing yang berumur kurang dari satu tahun terutama pada anjing yang belum divaksinasi.  Tanda-tanda klinis yang umum adalah demam, depresi, kehilangan nafsu makan, peningkatan degup jantung, hiperventilasi, batuk, muntah, diare, serta adanya tanda-tanda neurologis (ataksia, kejang, koma) tetapi lebih jarang terjadi.  Dari delapan kasus yang dilaporkan, penyakit ini menyerang anjing yang berkelamin jantan dan betina.  Pada pemeriksaan klinis kasus ke-1, 2 dan 3 menunjukkan gejala klinis yang hampir sama yaitu hewan mengalami demam, depresi, distensi abdomen, muntah, diare, dan edema subkutan, sedangkan pada kasus ke-4, 5 dan 6 hewan menujukkan adanya gejala gangguan neurologis yaitu ataksia.  Simpulan dari penulisan ini ialah penyakit ini dapat terjadi baik pada anjing jantan dan betina.  Pencegahan melalui vaksinasi sangat dianjurkan untuk mencegah penyebaran penyakit.
      PubDate: 2022-08-31
      DOI: 10.19087/imv.2022.11.4.649
       
  • Kajian Pustaka: Penyempitan Kerongkongan atau Striktur Esofagus pada
           Kucing

    • Authors: Genta Dhamara Adam Putranto, Cikal Farah Irian Jati Saweng, Putu Risma Oktaviandari, Fuady Muslih, Inggrid Madani, Ni Ketut Suastini, I Wayan Batan
      Pages: 665 - 801
      Abstract: Esofagus merupakan saluran yang berfungsi sebagai penghubung rongga mulut dan lambung.  Esofagus terdiri dari tiga bagian berdasarkan anatomi yakni esofagus bagian servikalis, thorakalis, dan abdominalis.  Striktur esofagus merupakan suatu kondisi penyempitan pada lumen esofagus yang menyebabkan terganggunya sistem pencernaan.  Berdasarkan penyebabnya, striktur esofagus dapat dibedakan karena adanya massa intraluminal dan ekstraluminal.  Dalam sebagian besar laporan mengenai striktur esofagus, kejadian ini paling sering terjadi sebagai akibat adanya komplikasi setelah anestesi umum.  Tanda klinis utama dari striktur esofagus adalah regurgitasi yang terjadi segera setelah makan dan produksi air liur yang berlebihan.  Penanganan striktur esofagus intraluminal dapat dilakukan dengan jalan pemasangan balloon dilatation yang dibantu dengan evaluasi menggunakan endoskopi maupun flouroskopi.  Penanganan striktur esofagus ekstraluminal dilakukan melalui terapi pemberian obat-obatan, jika massa yang menyebabkan striktur pada esofagus belum teridentifikasi dengan jelas, karena pembedahan memiliki risiko yang tinggi.  Tindakan pembedahan dapat dilakukan apabila massa telah teridentifikasi melalui pemeriksaan computed tomography (CT).  Identifikasi secara histopatologi terhadap jenis massa dilakukan setelah massa penyebab striktur esofagus berhasil diangkat melalui proses pembedahan.  Penulisan kajian pustaka ini bertujuan untuk merangkum segala hal yang berhubungan dengan striktur esofagus pada kucing, mulai dari etiologi, tanda klinis, patogenesis, metode diagnosis, penentuan prognosis, dan pertimbangan pemilihan penanganan yang dapat dilakukan.
      PubDate: 2022-07-31
      DOI: 10.19087/imv.2022.11.4.665
       
 
JournalTOCs
School of Mathematical and Computer Sciences
Heriot-Watt University
Edinburgh, EH14 4AS, UK
Email: journaltocs@hw.ac.uk
Tel: +00 44 (0)131 4513762
 


Your IP address: 3.234.210.25
 
Home (Search)
API
About JournalTOCs
News (blog, publications)
JournalTOCs on Twitter   JournalTOCs on Facebook

JournalTOCs © 2009-