A  B  C  D  E  F  G  H  I  J  K  L  M  N  O  P  Q  R  S  T  U  V  W  X  Y  Z  

  Subjects -> PHILOSOPHY (Total: 762 journals)
The end of the list has been reached or no journals were found for your choice.
Similar Journals
Journal Cover
Kontemplasi : Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin
Number of Followers: 0  

  This is an Open Access Journal Open Access journal
ISSN (Print) 2338-6169 - ISSN (Online) 2580-6866
Published by IAIN Tulungagung Homepage  [9 journals]
  • Jihad Global

    • Authors: Ahmad Khoirul Fata, Muh. Khamdan
      Pages: 205 - 226
      Abstract: Abstrak: Radikalisme atas nama Islam kembali marak di Dunia Islam kontemporer. Gerakan ini mewujud dalam berbagai aksi kekerasan dan perlawanan terhadap kelompok-kelompok yang dianggap sebagai musuh Islam. Faktor politik, ekonomi, dan ketidakadilan global yang dbungkus dengan sentimen keagamaan menjadi pendorong kebangkitan gerakan ini. Dengan ideologi “jihad”-nya, mereka menyebarkan pahamnya ke berbagai belahan dunia, tak terkecuali Indonesia. Dengan pendekatan sosio-politik, kajian ini hendak mengkaji ideologi gerakan Jihad Global, pengaruh, dan jaringannya di Indonesia. Dari kajian ini terlihat bahwa gerakan Jihad Global memiliki kaitan erat dengan gerakan reformasi Islam yang merupakan respons atas kemunduran Dunia Islam berhadapan dengan Dunia Barat. Pengembangan ide ini oleh Sayyid Quthb membuat gerakan reformasi bukan sekedar sebagai otokritik atas kondisi umat, namun juga mengeras menjadi ideologi perlawanan terhadap sistem yang dianggap menindas. Ideologi perlawanan inilah yang kemudian mengilhami berbagai gerakan ekstrem di Indonesia pasca reformasi. Abstract: Radicalism in the name of Islam is re-emerging in the contemporary Islamic world. This movement manifested in various acts of violence and resistance against “enemies of Islam”. Political, economic, and global injustice factors wrapped in religious sentiments are the driving forces for the revival of this movement. With ideology of "jihad", they spread their understanding to various parts of the world, including Indonesia. With a socio-political approach, this study aims to examine the ideology of the Global Jihad movement, its influence, and its network in Indonesia. From this study, it can be seen that the Global Jihad movement is closely related to the Islamic reform movement which is a response to the decline of the Islamic world in dealing with the West. The development of this idea by Sayyid Qutb made the reform movement not only as an autocritic of the condition of the ummah, but also hardened into an ideology of resistance to a system that is considered oppressive. This ideology of resistance then inspired various extreme movements in post-reform Indonesia.  
      PubDate: 2022-03-17
      DOI: 10.21274/kontem.2021.9.2.205-226
      Issue No: Vol. 9, No. 2 (2022)
       
  • THE QASHASH AL-QUR’AN: THE STUDY OF THE PROPHET’S PRAYER IN SURAH
           AL-ANBIYA 83-84 IN THE PANDEMIC CONTEXT

    • Authors: Ali Hamidi, Mohamad Nuryansah
      Pages: 227 - 248
      Abstract: Abstract This paper aims to explain the qashash al-Qur'an about Prophet Ayyub (Job) in his fortitude and patience to face the examination, then take lessons and ibrah for the current social context, where the world community, especially Muslims, is experiencing an examination in the form of the arrival of the Covid 19 outbreak. This paper is the result of the library research with the title "Qashash al-Qur'an: The Study of the Prophet Job's Dua in Surah al-Anbiya 83-84 and Its Contextualization in the Pandemic Period". This article tries to provide an overview of the qashash al-Qur'an on the theme of the Prophet Ayyub with a descriptive-analytical method. So that the good values from an ancient story can be reflected or contextualized into the current condition as material for reflection, lessons, and examples. Based on the author's analysis, the study material is presented in the prayer of Prophet Ayyub which refers to Surah al-Anbiya verses 83-84, so that an understanding of the interpretation of the verse is found, then narrates how the attitude and faith of Prophet Ayyub did not waver despite problems, but he increases his sense of patience, always in gratitude and has a good attitude towards Allah SWT in whatever circumstances.
      PubDate: 2022-03-17
      DOI: 10.21274/kontem.v9i2.5513
      Issue No: Vol. 9, No. 2 (2022)
       
  • THE SIGNIFICANCE OF BALANCING LIFE IN SURAH AL-QASHASH VERSE 77

    • Authors: Halya Millati, Mohammad Arif
      Pages: 249 - 268
      Abstract: Abstract The theological debate between Jabbariyyah (pre-destination) and Qadariyyah (free will) was polarized during the Covid-19 pandemic. Some Muslims tend to be fatalists (pre-destination), and the others believe in free will on the face of this pandemic. Of course, this is not in line with the moderate principles that Islam brings. Because, in various texts of the Quran, Allah command to balance the welfare of duniawi and hereafter (ukhrawi) life. Among these texts is what Allah said in Surah Al-Qashash verse 77 regarding the command to seek the afterlife and not forgetting sustenance in the world. With the ma'na-cum-maghza approach, this paper answers the significance of the current meaning of the commandment. There are three important points to reveal. The first, al-ma'na al-ta rikhi (historical meaning) of the verse, including advice to Qarun to seek the afterlife's reward without ignorance of the world, good doing, and prohibition of destroying the earth. The second, al-maghza al-tarikhi (the significance of historical phenomena), namely the message to Quraish community to take the middle path by following the Prophet's preaching and still pay attention to the life of the world, and to help others when possible. The third, al-maghza al-mu'as}ir (dynamic significance), namely the principle of the balance of life in the world and the hereafter. Keywords: balancing life; ma'na cum-maghza; Al-Qashash verse 77.   Abstrak Perdebatan teologis antar paham Jabbariyyah (pre-destination) dan Qadariyyah (free will) terpolarisasi kembali saat masa pandemi Covid-19. Sebagian umat Islam cenderung bersikap fatalis (pre-destination), dan sebagian lagi meyakini kehendak bebas (free will) dalam menghadapi pandemi. Tentu saja hal ini tak sejalan dengan prinsip moderat yang dibawa Islam. Karena, di berbagai teks Al-Quran, Allah mengajak untuk menyeimbangkan kesejahteraan kehidupan duniawi dan ukhrawi. Di antara teks tersebut ialah apa yang Allah firmankan dalam Surah Al-Qashash ayat 77 tentang perintah untuk mencari bagian akhirat dan tidak melupakan rezeki di dunia. Dengan Pendekatan ma’na cum-maghza, tulisan ini menjawab bagaimana signifikansi makna perintah tersebut saat ini. Ada tiga poin penting yang diungkap. Pertama, al-ma’na al-tarikhi (makna historis) ayat tersebut, yakni perintah terhadap Qarun untuk mencari ganjaran akhirat tanpa abai terhadap dunia, berbuat baik, dan larangan merusak bumi. Kedua, al-maghza al-tarikhiy (signifikansi fenomenal historis), yakni pesan terhadap masyarakat Quraish untuk mengambil jalan tengah dengan mengikuti dakwah Nabi dan tetap memerhatikan kehidupan dunia, dan menolong orang lain saat diberi kelapangan. Ketiga, al-maghza al-mu’as}ir (signifikansi dinamis), yakni prinsip keseimbangan kehidupan dunia dan akhirat. Interpretasi demikian ini menjadi alternatif yang bisa menengahi kontradiksi dua paham di atas. Kata kunci: Keseimbangan hidup; ma’na cum-maghza; Al-Qashash ayat 77  
      PubDate: 2022-03-17
      DOI: 10.21274/kontem.v9i2.5584
      Issue No: Vol. 9, No. 2 (2022)
       
  • THE STORY OF THE PROPHET YUSUF IN THE QUR'AN: JULIA KRISTEVA'S
           INTERTEXTUAL APPROACH

    • Authors: Rizal Faturohman Purnama
      Pages: 269 - 292
      Abstract: This article discusses the story of the Prophet Joseph in the Qur'an. As the story of the Qur'an and the Bible, the story of the Prophet Joseph is very important to find out the difference between the two. Therefore, the approach used is intertextual initiated by Julia Kristeva who seeks to compare the two. By using this approach. There are a lot of differences. In terms of the structure of the Qur'an many simplifications, so the principle of haplology becomes dominant in every fragment. The most fundamental difference between the two is in terms of the theme to be raised, the story of the Prophet Joseph in the Qur'an is themed around the teachings of tawhid, while in the Bible themed power. Keywords: Prophet Joseph, al-Qur'an, Intertextual   Abstrak Artikel ini membahas tentang kisah Nabi Yusuf dalam al-Qur’an. Sebagai kisah yang termuat dalam al-Qur’an dan Alkitab, kisah Nabi Yusuf  sangat penting untuk ditemukan letak perbedaan antara keduanya. Oleh karena itu, pendekatan yang digunakan adalah intertekstual yang digagas oleh Julia Kristeva yang berusaha untuk membandingkan keduanya. Dengan menggunakan pendekatan ini. Ditemukan banyak perbedaan. Dari segi struktur al-Qur’an banyak melakukan penyederhanaan, sehingga prinsip haplology menjadi dominan dalam setiap fragmen. Perbedaan yang paling mendasar antara keduanya adalah dari segi tema yang hendak dimunculkan, kisah Nabi Yusuf dalam al-Qur’an bertemakan ajaran tauhid, sedangkan dalam Alkitab bertema kekuasaan. Kata Kunci: Nabi Yusuf, al-Qur’an, Intertekstual
      PubDate: 2022-03-17
      DOI: 10.21274/kontem.v9i2.5585
      Issue No: Vol. 9, No. 2 (2022)
       
  • THE SHIFT OF THE SCIENCE DICHOTOMY PARADIGM TOWARDS SCIENCE INTEGRATION

    • Authors: Khulaefi Yatusa'dah
      Pages: 293 - 310
      Abstract: Historically, it can be seen that the Islamic world has reached its heyday, this is marked by the rise of science and philosophy. In the next period Islam experienced a period of decline or did not develop, many factors that influenced this, one of which was the dichotomy in science. The dichotomy is the separation between religious knowledge and general science. This separation advances general knowledge and puts aside religious knowledge. In another situation came the notion of secularism which increasingly gave birth to religious knowledge. Secularism assumes that religion is an obstacle to progress, so they separate themselves from religion in an effort to develop science. In the next period, the ideology of secularism achieved success in science. Meanwhile, Muslims are just beginning to realize the necessity to rise again, but in this effort, what is presented to them is the ideology of secularism which they consider to be incompatible with the teachings of Muslims. So that the Islamic leaders emerged who made efforts to integrate knowledge or what could be called the Islamization of science, this aims so that western science can be consumed by Muslims whose ending is to realize the goals of Islam. Islam does not consider there is a difference between religious knowledge and general knowledge. both must go hand in hand, this is proven that in the Qur'an there are many verses that explain natural phenomena, that means there is an order to conduct studies with tools to prove knowledge that comes from revelation, while making tools is included in the realm of general science. Keywords: dichotomy, secularism, and integration or Islamization of knowledge   Abstrak Secara historis dapat diketahui bahwa dunia Islam Pernah menggapai masa kejayaan, hal ini ditandai dengan maraknya ilmu pengetahuan dan filsafat. Dalam masa berikutnya Islam mengalami masa kemunduran atau tidak berkembang, banyak faktor yang mempengaruhi hal tersebut salah satunya adalah adanya dikotomi dalam keilmuan. Dikotomi adalah pemisahan antara ilmu agama dengan ilmu umum. pemisahan tersebut memajukan ilmu umum dan menyampingkan ilmu agama. Dalam situasi yang lain datanglah faham sekularisme yang semakin menganak tirikan ilmu agama. Faham sekularisme menganggap bahwa agama adalah penghambat kemajuan, sehingga mereka memisahkan diri dari agama dalam upaya pengembangan ilmu pengetahuan. Pada masa berikutnya faham sekuarisme mencapai kejayaan dalam ilmu pengetahuan. Sedangkan umat Islam baru mulai menyadari akan keharusan untuk bangkit kembali, tetapi dalam upaya tersebut yang disuguhkan kepada mereka adalah faham sekularisme yang dianggapnya tidak sesuai dengan dotrin umat Islam. Sehingga muncullah para tokoh Isalam yang melakukan upaya integrasi ilmu atau bisa disebut islamisasi ilmu pengetahuan, hal ini bertujuan agar ilmu pengetahuan barat dapat dikonsumsi oleh umat Islam yang endingnya adalah mewujudkan tujuan agama Islam. Ilmu agama dan ilmu umum harus berjalan beriringan yang saling berkaitan satu sama lain. Kata kunci : dikotomi, sekularisme, dan integrasi atau islamisasi ilmu
      PubDate: 2022-03-17
      DOI: 10.21274/kontem.v9i2.5586
      Issue No: Vol. 9, No. 2 (2022)
       
  • Al-Qur'an Therapy for Mothers in Childbirth: Living Qur'an Study
           at PMB Nina Yunita, Mlarak-Ponorogo

    • Authors: Mahmud Rifaannudin, Fadly Rahman Akbar, Muhammad Badrun
      Pages: 312 - 326
      Abstract: Problems that are often experienced by mothers giving birth are anxiety and fear of pain, so giving birth to children becomes a frightening specter because they doubt the safety of the baby and himself. To relieve this anxiety, it can be done by means of pharmacology and non-pharmacology or therapy. One way of therapy is with murattal al-Qur'an, as a form of Living Quran to accompany childbirth. The purpose of this study was to determine the understanding brought by the mother giving birth when the chanting of the Qur'an was heard accompanying the delivery process. This is a type of field research with a qualitative research approach, located at PMB Nina Yunita in Gandu Village, Kec. Mlarak, Ponorogo Regency. Data collection methods used in this research are observation, interviews and documentation. The result of this research is the influence of an understanding of the Qur'an by a living Qur'an actor, namely the opinion that the Qur'an is a book of guidance, a book of instructions, with which it can be seen what is right and what is wrong, as well as to regulate actions. humans to their creators, so that with a good understanding of the Qur'an it brings a feeling of relaxation and comfort when heard, then provides convenience in the delivery process and becomes the key to safety for mothers and babies during childbirth. Key word: therapy, murattal, Qur’an, childbirth Abstrak Permasalahan yang sering dialami oleh ibu melahirkan adalah rasa cemas dan takut akan rasa sakit, sehingga melahirkan anak menjadi momok menakutkan karenaraguakan keselamatan bayi dan dirinya. Untuk meredakan kecemasan tersebut bisadengan cara farmologidan non farmakologi atau terapi. Salah satu caraterapinyayaitudenganmurattal al-Qur’an, sebagai bentuk Living Quran untuk mengiringi persalinan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pemahaman yang dibawa oleh ibu melahirkan ketika diperdengarkan lantunan al-Qur’an dalam mengiringi proses persalinan. Ini merupakan jenis penelitian lapangan dengan Pendekatan penelitian kualitatif, berlokasi di PMB Nina Yunita di Desa Gandu, Kec. Mlarak, Kab Ponorogo. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Observasi, wawancara dan Dokumentasi. Hasil dari peneltian ini adalah adanya pengaruh pemahaman tentang al-Qur’an oleh seorang pelaku living Qur’an, yaitu berpendapat bahwa al-Qur’an merupakan kitab pedoman, kitab petunjuk, dengannya dapat terlihat yang haq dan yang batil, juga untuk mengatur perbuatan manusia terhadap penciptanya, sehingga dengan pemahaman yang baik akan al-Qur’an mebawa perasaan rileks dan nyaman ketika diperdengarkan, kemudian memberikan kemudahan dalam proses persalinan dan menjadi kunci keselamatan untuk ibu dan bayi saat proses persalinan. Kata Kunci: terapi, murattal, Al-Qur’an, melahirkan
      PubDate: 2022-03-17
      DOI: 10.21274/kontem.v9i2.5587
      Issue No: Vol. 9, No. 2 (2022)
       
  • VIOLENCE IN THE NAME OF RELIGION FROM THE PERSPECTIVE OF PHILOSOPHY OF LAW

    • Authors: Muhammad Solikhudin, Sheyla Nichlatus Sovia
      Pages: 329 - 344
      Abstract: Violence in the name of religion seems to be being carried out by all groups of Indonesian society. Even in some cases, there are strong nuances to amplify the desecration. Religion that is not inclusive with one-sided truth claims still shows its existence which is quite strong among religious people, especially Muslims. They consider their religious understanding to be an undeniable truth, and is considered a definite reflection of the source of religious teachings. This brings religious people to a life where conflicts often occur between fellow human beings, both fellow believers of same religion but different sects, as well as fellow believers of different religions. In addition, understanding this model will make religious people fall into an extreme religious understanding. Religion is understood as dead dogmas and only deals with the problems of the hereafter and divinity so that it does not have the ability to provide pleasant solutions in solving human problems that are manifested in today's life. This article tries to analyze the problems above by using a philosophy of law approach so that the reader is able to see the problem with an objective view without losing common sense. Keywords: Religious Violence, Indonesia, The Philosophy of Law.   Abstrak Kekerasan atas nama agama hingga saat ini tampaknya masih terus dilakukan segenap kelompok dari masyarakat Indonesia. Bahkan pada sebagian kasus, ada nuansa kuat untuk menguatkan penodaan tersebut. Keberagamaan yang tidak inklusif dengan klaim kebenaran sepihak masih menampakkan keberadaannya yang cukup kuat di kalangan umat beragama, khususnya umat Islam. Mereka menganggap pemahaman keagamaan yang dianut mereka merupakan kebenaran yang tidak terbantah, serta dianggap pencerminan yang pasti dari sumber ajaran agama. Hal ini membawa umat beragama kepada kehidupan yang sering terjadi konflik antar sesama manusia, baik sesama pemeluk agama yang berbeda aliran, maupun sesama umat yang berbeda agama. Di samping itu, pemahaman model itu akan membuat umat beragama masuk dalam pemahaman keagamaan yang ekstrim. Agama dipahami sebagai dogma-dogma mati dan hanya mengurus masalah akhirat serta ketuhanan sehingga tidak memiliki kemampuan untuk memberikan solusi yang menyenangkan dalam penyelesaian problem kemanusiaan yang terwujud di kehidupan masa kini. Artikel ini mencoba menganalisis permasalahan di atas dengan menggunakan pendekatan filsafat hukum sehingga pembaca mampu melihat permasalahan tersebut dengan pandangan objektif tanpa kehilangan akal sehat. Kata Kunci: Kekerasan Agama, Indonesia, Filsafat Hukum.
      PubDate: 2022-03-17
      DOI: 10.21274/kontem.v9i2.5588
      Issue No: Vol. 9, No. 2 (2022)
       
  • THE MEANING OF THE BODY IN OF DEATH TERROR

    • Authors: Safaat Ariful Hudda, Abdul Najib
      Pages: 345 - 364
      Abstract: death. Its highly contagious nature makes this disease difficult to treat. This condition forces everyone to rely on their own body’s immune system to survive. However, the negative perspective on the body, that is as an object, often makes people fall into panic, so that it can be fatal. Thus, this article was written in context to give a reflective meaning to the body with the philosophical investigation. The body itself is a facticity for "being" together with the soul (mind) and spirit. By understanding the body as the subject’s mode of existence, that is as being-in-the-world, humans can prepare themselves for any eventuality that may occur, including death. Keywords: Covid-19, Body, Death Abstrak Pandemi Covid-19 saat ini menghadirkan teror kepada manusia berupa kematian massal. Sifatnya yang sangat menular membuat penyakit ini sulit diobati. Kondisi ini memaksa setiap orang untuk mengandalkan sistem kekebalan tubuhnya sendiri untuk bertahan hidup. Namun, cara pandang negatif terhadap tubuh, yaitu sebagai objek, seringkali membuat orang menjadi panik, sehingga bisa berakibat fatal. Dalam konteks inilah artikel ini ditulis yaitu untuk memberi makna reflektif terhadap tubuh menggunakan perspektif filosofis. Tubuh sendiri merupakan sebuah faktisitas bagi “ada” bersama dengan jiwa (akal budi) dan ruh. Dengan memahami tubuh sebagai cara keberadaan subjek, yaitu sebagai eksistensi di dunia (being in the world), manusia dapat mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan yang mungkin terjadi, termasuk kematian. Kata Kunci: Covid-19, Tubuh, Kematian
      PubDate: 2022-03-17
      DOI: 10.21274/kontem.v9i2.5589
      Issue No: Vol. 9, No. 2 (2022)
       
  • ANTITHESIS IN TAKING MEANING OF NATIONALISM: THE CONTESTATION BETWEEN
           ISLAM AND NATIONALITY

    • Authors: Riza Saputra, Aidil Amin
      Pages: 365 - 383
      Abstract: This study aims to reveal the issues between Islam and nationalism in Indonesia in today's cases, especially those related to nationalism and Islam. These issues will be analyzed for the cause until it reaches the root of the real problem. This study uses the documentation method to solve the research objectives' various issues so that it is not bound by time and place. The data collected through the documentation method will be analyzed in-depth based on other studies to reach the root of the problem using the MAAMS method or the Root Problem Analysis and Solutions Method. This research explains cases of Islam and nationalism in Indonesia, in the form of understanding the caliphate, the law forbids respecting the flag and singing the national anthem. Keywords: Islam; nationalism; caliphate, state, nationality   Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap isu-isu antara Islam dan nasionalisme di Indonesia, berupa kasus-kasus yang terjadi yang di masa sekarang, khususnya yang berkaitan dengan nasionalisme dan Islam. Isu-isu tersebut akan dianalisis penyebab masalahnya, hingga mencapai akar dari masalah yang sebenarnya. Penelitian ini menggunakan metode dokumentasi untuk mencapai berbagai permasalahan yang berkaitan dengan tujuan penelitian, sehingga tidak terikat masalah waktu dan tempat. Data yang berhasil dikumpulkan melalui metode dokumentasi akan dianalisis secara mendalam berdasarkan penelitian-penelitian lainnya, hingga mencapai akar permasalahan menggunakan metode MAAMS atau Metode Analisis Akar Masalah dan Solusi. Dari peneilitian ini menghasilkan penjelasan letak-letak kasus Islam dan nasionalisme di Indonesia, berupa paham khilafah, hukum pengharaman penghormatan bendera dan menyanyikan lagu kebangsaan. Kata Kunci: Islam; nasionalisme; khilafah, negara, kebangsaan
      PubDate: 2022-03-17
      DOI: 10.21274/kontem.v9i2.5591
      Issue No: Vol. 9, No. 2 (2022)
       
 
JournalTOCs
School of Mathematical and Computer Sciences
Heriot-Watt University
Edinburgh, EH14 4AS, UK
Email: journaltocs@hw.ac.uk
Tel: +00 44 (0)131 4513762
 


Your IP address: 44.197.230.180
 
Home (Search)
API
About JournalTOCs
News (blog, publications)
JournalTOCs on Twitter   JournalTOCs on Facebook

JournalTOCs © 2009-