A  B  C  D  E  F  G  H  I  J  K  L  M  N  O  P  Q  R  S  T  U  V  W  X  Y  Z  

  Subjects -> PHILOSOPHY (Total: 762 journals)
The end of the list has been reached or no journals were found for your choice.
Similar Journals
Journal Cover
Jurnal Filsafat
Number of Followers: 0  

  This is an Open Access Journal Open Access journal
ISSN (Print) 0853-1870 - ISSN (Online) 2528-6811
Published by Universitas Gadjah Mada Homepage  [46 journals]
  • [JF] Pengantar Redaksi Vol 32 No 2 Agustus 2022

    • Authors: Editor Jurnal Filsafat
      Abstract:  
      PubDate: 2022-11-21
      DOI: 10.22146/jf.79293
      Issue No: Vol. 32, No. 2 (2022)
       
  • Indeks Volume 32 Tahun 2022

    • Authors: Editor Jurnal Filsafat
      PubDate: 2022-11-21
      DOI: 10.22146/jf.79294
      Issue No: Vol. 32, No. 2 (2022)
       
  • Narrative Connectedness: A Chain for Understanding Others in The
           Philosophy of Eleonore Stump

    • Authors: Bernard Subang Hayong
      Pages: 165 - 189
      Abstract: This essay aims to explore Eleonore Stump’s insights on narrative as a means of knowing others and to defend narrative cognitivism. Central to this defense is an examination of the narrative analysis in mediating second-person experience as a tool to gain both self-understanding and understanding others. This study is a combination of the expository, the analytical, and the critical methods. It is expository because it aims to understand how Stump explores the variant variable in seeking the meaning and explanation of human interaction. It is analytical because it examines how second-person experience can be communicated in narrative. And it is critical because it introduces a methodological concept in dealing with her thoughts and demonstrates in which sense her approach is tenable or not. In developing this approach, I introduce the second-person perspective and the nature of knowledge that is acquired through narrative. I conclude with a discussion of the contribution of narrative connectedness to the understanding of the other as a person. This article will show that narrative connectedness is a significant form of reasoning, a medium for understanding, and an instrument for self-expression.
      PubDate: 2022-11-21
      DOI: 10.22146/jf.71276
      Issue No: Vol. 32, No. 2 (2022)
       
  • Makna Simbolik Negara Ngalengka dalam Seni Wayang: Kajian Filsafat Manusia

    • Authors: Budisutrisna Budisutrisna, Jirzanah Jirzanah
      Pages: 190 - 222
      Abstract: Sejarah telah mencatat bahwa wayang telah memiliki usia yang cukup tua. Walau pun demikian seiring dengan berjalannya waktu wayang masih dapat mempertahankan eksistensinya. Wayang masih dapat diterima di tengah-tengah masyarakat. Hal ini disebabkan wayang memiliki sifat yang terbuka terhadap perkembangan zaman. Wayang memiliki sifat yang elastis dengan selalu tetap berpegang teguh kepada pakem seni wayang. Pada zaman sekarang ini pun wayang masih banyak penggemarnya. Salah satu penyebabnya karena kandungan makna simbolik yang banyak di dalamnya. Negara Ngalengka sebagai bagian dari seni wayang juga mengandung makna simbolik. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan. Metode analisis yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah metode hermeneutik filosofis dengan unsur-unsurnya yakni: deskripsi, kesinambungan historis, dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Negara Ngalengka mengandung makna simbolik yang berkaitan dengan kehidupan manusia dalam mencapai hidup utama. Dalam mencapai hidup utama manusia selalu mendapatkan rintangan sifat-sifat jiwa manusia yang buruk yang di lambangkan dengan tokoh-tokoh Negara Ngalengka. Sifat-sifat yang buruk itu harus selalu ditindas terus-menerus guna mencapai keutamaan hidup. 
      PubDate: 2022-11-21
      DOI: 10.22146/jf.69700
      Issue No: Vol. 32, No. 2 (2022)
       
  • Seni, Sastra, dan Imajinasi untuk Pengembangan Emosi dalam Pandangan
           Martha Nussbaum

    • Authors: Cicilia Damayanti, Engliana Engliana
      Pages: 223 - 254
      Abstract: Kehidupan publik erat kaitannya dengan emosi yang dialami setiap orang dalam hidup bermasyarakat. Martha Nussbaum hadir dengan pandangannya tentang emosi yang berperan penting dalam kehidupan politik ekonomi. Melalui kajian pustaka yang membedah beberapa buku dan jurnal karya Nussbaum, tulisan ini hendak memaparkan tentang peran emosi dalam hidup politik untuk membentuk masyarakat demokratis. Bagi Nussbaum, imajinasi dibutuhkan untuk mengolah emosi yang melahirkan empati dan bela rasa. Imajinasi dalam pandangannya adalah kemampuan untuk membayangkan bagaimana rasanya berada dalam posisi orang lain. Kemampuan ini membantu setiap orang untuk dapat menghargai dan menghormati martabat kemanusiaan setiap orang. Saat setiap orang memiliki kemampuan ini, diharapkan tidak ada lagi orang yang akan mau serakah dan egois pada sesama maupun lingkungannya. Kehidupan politik yang stabil bisa terwujud bila kehidupan ekonomi yang adil sungguh-sungguh tercipta dalam masyarakat. Imajinasi membantu setiap orang untuk lebih peka dan peduli kepada sesama, saat mereka dapat membayangkan bila berada dalam posisi orang lain, terutama yang tidak seberuntung mereka. Emosi yang diolah dengan bantuan imajinasi mengembangkan dalam diri seseorang kemampuan untuk berempati dan berbela rasa kepada sesamanya, baik dalam lingkungan yang dekat maupun yang jauh. Masyarakat demokratis yang setara membantu untuk mewujudkan kehidupan politik yang stabil dan ekonomi yang adil.
      PubDate: 2022-11-21
      DOI: 10.22146/jf.68959
      Issue No: Vol. 32, No. 2 (2022)
       
  • Experiential Learning sebagai Upaya Penguatan Pendidikan Demokrasi dan
           Pancasila

    • Authors: Hastanti Widy Nugroho, Rona Utami, Rizky Anandasigit Nugraha
      Pages: 255 - 277
      Abstract: Penelitian ini fokus pada transformasi metode pembelajaran Pancasila. Ada dua pertanyaan yang hendak dijawab, yaitu: 1) metode apa yang selama ini digunakan guru dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila' Apa kelebihan dan kekurangan metode tersebut'; 2) apa inovasi yang dapat ditawarkan kepada guru Pendidikan Pancasila untuk membuat mata pelajaran Pancasila menjadi menarik' Berdasarkan hasil focus group discussion yang penulis lakukan di 72 sekolah yang tersebar di tiga kota, yakni Maluku, Kupang, dan Batam, sebagian besar guru masih menggunakan metode teacher centered learning karena keterbatasan sarana dan prasarana sekolah, serta kendala kemampuan guru. Implikasinya, output pembelajaran yang menekankan demokrasi dan kebhinekaan dalam kehidupan tidak tercapai maksimal dan kesenjangan kualitas pendidikan antar wilayah pedesaan dan perkotaan akan semakin besar. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menawarkan konsep experiential learning yang digagas oleh John Dewey sebagai basis metode penguatan pendidikan demokrasi dan Pancasila sebagai sarana dan tujuan untuk menggali pengalaman murid. Peneliti menyimpulkan experiential learning dapat mengatasi kesenjangan kualitas pendidikan dengan mendorong siswa untuk menjadi subjek aktif, bertanggung jawab, dan mandiri dalam proses belajarnya. Sedangkan guru berperan sebagai fasilitator yang membimbing aktivitas siswa. Apabila tahapan experiential learning dijalankan secara tepat, transformasi ini akan mendorong pembelajaran Pancasila yang lebih demokratis dan demokratisasi sejak dini.
      PubDate: 2022-11-21
      DOI: 10.22146/jf.70601
      Issue No: Vol. 32, No. 2 (2022)
       
  • Teologi Proses ala Barbour vs Kepercayaan Timur

    • Authors: Justiani Liem
      Pages: 278 - 310
      Abstract: Dalam dunia pemikiran modern, disintegrasi antara filsafat, sains-teknologi, dan teologi dianggap perlu untuk diintegrasikan kembali sehingga koheren setelah sekian abad berjalan sendiri-sendiri dan tidak jarang saling bertabrakan satu sama lain. Apalagi dengan perkembangan pesat teknologi yang telah menciptakan ketergantungan bagi manusia bahkan memunculkan berhala-berhala baru, ilah-ilah baru, tuhan-tuhan baru yang mengontrol hidup manusia, sadar atau tidak sadar.  Sampai pada perkawinan neurosains dengan intelegensia buatan yang bisa menjelaskan banyak fenomena yang sebelumnya dianggap “magic” atau menurut agama adalah “mukjizat”,  ternyata ilmiah, bukan mukjizat lagi.  Barbour melanjutkan teologi proses Whitehead, mencoba meredefinisi pemahaman teologi tentang Kedirian Manusia (istilah ketimbang Kodrat Manusia) dari “The Selfness of Being” menjadi “The Selfness of Becoming”. Teologi Proses menawarkan sebuah jalan tengah antara kemahakuasaan (omnipotence) Allah dan ketidakberdayaan (impotence) Allah lalu merumuskan kembali kekuatan Ilahi lebih sebagai pemberdayaan daripada sebagai penguasaan yang menaklukkan. Dalam rangka melanjutkan upaya Barbour untuk mencari koherensi antara filsafat, sains-teknologi, dan teologi, maka tulisan ini memberi masukan dan koreksi atas pemikiran Barbour dan menyarankan agar menengok agama-agama Kuno yang masih bertahan dan termasuk salah satu yang penganutnya besar di belahan bumi Timur dan beberapa dekade belakangan eksistensinya merambah ke Barat, yang bisa menjelaskan secara koheren temuan-temuan teknologi terkini, dari sudut pandang lain tentunya, yakni pertemuan Barat dan Timur di sini.  
      PubDate: 2022-11-21
      DOI: 10.22146/jf.72873
      Issue No: Vol. 32, No. 2 (2022)
       
  • Diskursus Multikulturalisme dan Wajah Indonesianya

    • Authors: Valentino Lumowa
      Pages: 311 - 344
      Abstract: Apa wajah multikulturalisme Indonesia' Pertanyaan ini mengganggu kemapanan nalar, terutama yang senantiasa mengasumsikan konsep multikulturalisme di balik kehidupan sosial dan politik masyarakat Indonesia. Tugas ini menjadi tidak gampang ketika berhadapan dengan kabut konseptual di sekitar multikulturalisme. Karena itu, artikel ini menerima amanat untuk menyasar dua tujuan. Tujuan pertama mengungkap usaha menyibak kekalutan konseptual sekitar multikulturalisme. Demi tugas ini, bagian pertama akan meliputi penjelasan tentang cakupan, justifikasi, teori dasar, dan kritik multikulturalisme sebagai sebuah konsep filosofis. Tujuan kedua mengarahkan penulis untuk mengidentifikasi wajah multikulturalisme Indonesia. Tujuan ganda penulisan ini mengalir dari maksud untuk memberikan klarifikasi konseptual tentang multikulturalisme dan identifikasi wajah keindonesiaannya. Demi mencapai tujuan ganda tersebut, penulisan artikel ini menggunakan aparatus metodis deskriptif analitis, sehingga tergolong penelitian kualitatif. Dengan instrumen metodis tersebut, penulis mendeskripsikan diskursus multikulturalisme yang meliputi cakupan, justifikasi, teori dasar, dan kritik terhadap multikulturalisme. Analisis terhadap diskursus multikulturalisme ini menghasilkan identifikasi pola dasar yang membentuk wajah multikulturalisme Indonesia.
      PubDate: 2022-11-21
      DOI: 10.22146/jf.66815
      Issue No: Vol. 32, No. 2 (2022)
       
 
JournalTOCs
School of Mathematical and Computer Sciences
Heriot-Watt University
Edinburgh, EH14 4AS, UK
Email: journaltocs@hw.ac.uk
Tel: +00 44 (0)131 4513762
 


Your IP address: 44.192.38.49
 
Home (Search)
API
About JournalTOCs
News (blog, publications)
JournalTOCs on Twitter   JournalTOCs on Facebook

JournalTOCs © 2009-