A  B  C  D  E  F  G  H  I  J  K  L  M  N  O  P  Q  R  S  T  U  V  W  X  Y  Z  

  Subjects -> SOCIAL SERVICES AND WELFARE (Total: 224 journals)
The end of the list has been reached or no journals were found for your choice.
Similar Journals
Journal Cover
Bakti Budaya
Number of Followers: 0  

  This is an Open Access Journal Open Access journal
ISSN (Online) 2620-2980
Published by Universitas Gadjah Mada Homepage  [48 journals]
  • Oktober 2020

    • Authors: Tjahjono Prasodjo
      First page: 115
      Abstract: Jurnal Bakti Budaya edisi ini menjadi sangat berbeda dari biasanya. Terbit di kala pandemi Covid-19 masih berlangsung. Marilah melihat perbedaan ini secara positif. Memandang “berbeda dari biasanya” sebagai hal yang istimewa. Bagaimana tidak istimewa, saat program-program pengabdian kepada masyarakat (PkM) yang telah disusun serius di awal tahun harus diubah berkaitan dengan kondisi di lapangan. Pandemi menyebabkan program-program yang ada harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang terjadi. Namun, kita masih bisa bertahan, bahkan program-program PkM banyak yang diarahkan untuk membantu masyarakat menyelesaikan permasalahan-permasalahan kemasyarakatan yang diakibatkan oleh kehadiran pandemi. Pandemi kali ini menantang kita untuk membangun metode dan konsep baru yang adaptif dan solutif dalam menghadapi keadaan ini.
      PubDate: 2020-10-31
      DOI: 10.22146/bb.60958
      Issue No: Vol. 3, No. 2 (2020)
       
  • Pelatihan Pembuatan Virtual Tour bagi Kelompok Sadar Wisata Desa Sidatapa,
           Kabupaten Buleleng, Bali

    • Authors: Ni Made Ary Widiastini, Made Aristia Aristia Prayudi, Putu Indah Rahmawati, I Gede Rasben Dantes
      Pages: 116 - 131
      Abstract: The presence of increasingly sophisticated information technology has implications for the emergence of various innovations and creativity, by utilizing the development of information technology. One that is growing rapidly during the pandemic is a virtual tour, as a substitute for a tour to a place directly, which is brought to a screen using either a laptop, PC or mobile phone. Sidatapa Village, as one of the tourist villages in Buleleng Regency, has recently developed tourism products, one of which is a tour to get to know the culture in the village, experiencing obstacles due to the social restrictions. Tourists cannot visit the village directly and get to know the culture in the ancient village. Seeing the trend of virtual tours that are well developed in Indonesia, in this community service program, tourism community group who act as tour guides are given virtual tour training. Sidatapa village is unique, namely as the village of Bali Aga and has an old house called Bale Tumpang Salu, as well as ancient cultural activities which are still preserved until now, has the potential to develop a virtual tour. In village mentoring activities, tourism awareness groups are given virtual tour training involving the role of the industry, namely the Trex Tour. Through training and mentoring provided by academics and industry, the tourism awareness group of Sidatapa Village was able to design and carry out virtual tours. ==== Kehadiran teknologi informasi yang semakin canggih berimplikasi pada munculnya berbagai inovasi dan kreativitas, dengan memanfaatkan perkembangan dari teknologi informasi tersebut. Salah satu yang sedang berkembang pesat pada masa pandemik adalah virtual tour sebagai pengganti perjalanan wisata ke suatu tempat secara langsung, yang dibawa ke dalam sebuah layar baik menggunakan device berupa laptop, PC, maupun mobile phone. Desa Sidatapa sebagai salah satu desa wisata di Kabupaten Buleleng yang baru saja mengembangkan produk wisata, salah satunya beriwisata mengenal budaya di desa tersebut, mengalami hambatan yang disebabkan oleh pembatasan sosial. Wisatawan tidak dapat berkunjung langsung ke desa tersebut dan mengenal budaya di desa tua tersebut. Melihat tren virtual tour yang berkembang baik di Indonesia maka pada program pengabdian kepada masyarakat ini, kelompok desa wisata yang berperan sebagai pemandu wisata diberikan pelatihan virtual tour. Desa Sidatapa memiliki keunikan, yakni sebagai desa Bali Aga, memiliki rumah tua yang disebut Bale Tumpang Salu, serta aktivitas budaya kuno yang hingga saat ini masih dipertahankan berpotensi untuk mengembangkan virtual tour. Pada kegiatan pendampingan desa, kelompok sadar wisata diberikan pelatihan virtual tour dengan melibatkan peran industri, yakni Trex Tour. Melalui pelatihan dan pendampingan yang diberikan oleh pihak akademisi dan industri, kelompok sadar wisata Desa Sidatapa mampu merancang dan melaksanakan virtual tour.

      PubDate: 2020-10-31
      DOI: 10.22146/bb.59518
      Issue No: Vol. 3, No. 2 (2020)
       
  • Penguatan Kapasitas Pokdarwis untuk Pengurangan Risiko Bencana di
           Destinasi Pariwisata Dieng

    • Authors: Destha Titi Raharjana, Mohamad Yusuf, Arry Retnowati
      Pages: 132 - 148
      Abstract: Efforts to reduce disaster risks should be a main endeavour in every development, including in tourism sector. In many places, the tourism industry is vulnerable to disasters, either directly or indirectly. Either the tourism sector triggers disasters, or it can be affected by disasters. The Dieng Plateau area is one of the leading tourism destinations in Central Java which has potentials to attract tourists. But behind its beautiful charm, this destination holds a threat. The people of Dieng Kulon, Batur District, Banjarnegara Regency, Central Java live in a disaster-prone area. They do not forget the series of disasters had occured around them. On the other hand, the surrounding nature in the village provides economic benefits, one of them comes from the tourism sector. The disaster risk reduction (DRR) approach is strategic to be applied in this village. Through the Education for Sustainability Development (ESD) program, the Dieng Pandawa Tourism Awareness Group (Pokdarwis) has to be strengthened its role so that the Pokdarwis is able to become one of the elements in DRR, especially the ability related to the process of rescueing tourists. Disaster threats on a tourism location makes the tourism industry very vulnerable, but it should be attempted that this destination or industry will become resilient at the same time. Disaster risk reduction programs and capacity building for Pokdarwis are strategic to be implemented and directed in building disaster mitigation plans.====Upaya mengurangi resiko bencana perlu menjadi arus utama dalam setiap pembangunan, termasuk di sektor kepariwisataan. Di banyak tempat, industri pariwisata rentan dengan bencana, baik secara langsung ataupun tidak langsung. Di satu pihak sektor pariwisata memicu terjadinya bencana, tetapi  di pihak lain dapat menjadi yang terdampak. Kawasan Dieng Plateau salah satu destinasi pariwisata unggulan Jawa Tengah yang potensial mendatangkan wisatawan. Namun di balik pesonanya yang indah, destinasi ini menyimpan ancaman. Masyarakat Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara Jawa Tengah tinggal di kawasan rentan bencana. Mereka tidak lupa terhadap rentetan kejadian bencana di sekitar mereka tinggal. Di sisi lain, alam sekitar di desa memberikan manfaat ekonomi, salah satunya dari sektor pariwisata. Pendekatan pengurangan resiko bencana (PRB) menjadi strategis untuk diterapkan di desa tersebut. Melalui program Education for Sustainabe Deveopment (ESD), Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Dieng Pandawa diperkuat perannya supaya mampu menjadi salah satu unsur dalam PRB, khususnya kemampuan terkait proses penyelamatan wisatawan. Adanya ancaman bencana terhadap lokasi pariwisata menjadikan industri pariwisata sangat rapuh (vulnerable), tetapi di pihak lain diharapkan secara bersamaan destinasi atau industri ini menjadi tangguh (resilient). Program pengurangan resiko bencana dan penguatan kapasitas Pokdarwis menjadi strategis untuk dijalankan dan diarahkan untuk menyusun perencanaan mitigasi bencana.
      PubDate: 2020-10-31
      DOI: 10.22146/bb.60957
      Issue No: Vol. 3, No. 2 (2020)
       
  • Pelatihan dan Pendampingan bagi Peningkatan Kapasitas Aparat dan Institusi
           Desa dalam Perencanaan dan Implementasi Pembangunan

    • Authors: Setiadi Setiadi, Henny Ekawati, Fadlan Habib
      Pages: 149 - 164
      Abstract: The implementation of Law No. 6 2014 faces obstacles due to the weak quality of village officials and institutions. This has an impact on the weakening role of the village government in its function as a development accelerator. It is necessary to increase the capacity of the apparatus in order to understand how development planning processes should be carried out at the village level, and how these processes are supported by strong village government institutions. In addition, there needs to be a control mechanism for the village government. This can be done by strengthening the role of the BPD. With the increased quality and capacity of village government apparatus and institutions, as well as strong civil society control played by the BPD, there will be a synergy in implementing good development at the village level. Village officials are no longer the sole player in village development. Efforts to create these ideal conditions continue to be in progress at the village level and will always be dynamic due to the influence of supralocal powers which are sometimes not in line with the development and will of the local community.====Implementasi UU No. 6 Tahun 2014 menghadapi kendala akibat lemahnya kualitas aparat dan kelembagaan desa. Hal ini berdampak pada semakin lemahnya peran pemerintah desa dalam fungsinya sebagai akselerator pembangunan. Perlu adanya peningkatan kapasitas aparat agar memahami bagaimana proses-proses perencanaan pembangunan harus dilakukan di tingkat desa serta bagaimana proses-proses tersebut didukung oleh kuatnya kelembagaan pemerintah desa. Selain itu, perlu ada mekanisme kontrol terhadap pemerintah desa. Hal ini bisa dilakukan dengan penguatan peran BPD. Dengan meningkatnya kualitas dan kapasitas aparat dan kelembagaan pemerintah desa serta kontrol masyarakat sipil yang kuat yang diperankan oleh BPD, akan ada sinergi pelaksanaan pembangunan yang baik di tingkat desa. Aparat desa tidak lagi menjadi pemain tunggal pembangunan desa. Upaya penciptaan kondisi ideal ini terus berproses di tingkat desa dan akan selalu dinamis akibat pengaruh kekuasaan supralokal yang terkadang tidak sejalan dengan perkembangan dan kehendak masyarakat lokal.

      PubDate: 2020-10-31
      DOI: 10.22146/bb.60463
      Issue No: Vol. 3, No. 2 (2020)
       
  • Memperkenalkan Jenis Kerusakan Kertas dan Penanganan Konservasi
           Interventif Sederhana kepada Staf Museum-Museum di Yogyakarta

    • Authors: Mahirta Mahirta
      Pages: 165 - 174
      Abstract: Papers and old books are important part of museum collections in many museums in Yogyakarta, even some of them have very significant value and become masterpiece collections. Some old books such as from Islamic and colonial period have unique binding structures that should be preserved too as it become a historical marker. Therefore, special care for paper collections and old books should be carried out by museum conservator. Unfortunately, not all museums in Yogyakarta have professional conservator. Bear in mind that many museums in Yogyakarta has significant value of paper collection, a workshop of paper conservation was conducted on 18-19 September 2019 in Museum UGM, as a community service for museum communities in Yogyakarta. Through this workshop, participants managed to identify types of damage on paper collections, identify the cause of damage, and conduct simple interventive conservation.====Kertas dan buku tua merupakan bagian penting dari koleksi museum di banyak museum di Yogyakarta, bahkan beberapa memiliki nilai yang sangat penting dan menjadi koleksi istimewa. Beberapa buku tua, contohnya dari masa Islam dan kolonial, memiliki struktur jilid yang unik yang juga harus dilestarikan karena menjadi penanda sejarah. Maka dari itu, penanganan khusus untuk koleksi kertas dan buku tua harus dilakukan oleh konservator museum. Sayangnya, tidak semua museum di Yogyakarta memiliki konservator profesional. Mengingat bahwa banyak museum di Yogyakarta memiliki koleksi kertas dengan kandungan nilai penting, workshop konservasi kertas dilaksanakan pada 18—19 September 2019 di Museum UGM sebagai bentuk pengabdian masyarakat kepada komunitas museum di Yogyakarta. Melalui workshop ini, peserta berhasil mengidentifikasi tipe kerusakan dan penyebabnya pada koleksi kertas serta melakukan konservasi interventif sederhana pada koleksi kertas. 
      PubDate: 2020-10-31
      DOI: 10.22146/bb.60461
      Issue No: Vol. 3, No. 2 (2020)
       
  • Pendampingan UKM Bidang Fashion pada Masa Pandemi Covid-19 di Daerah
           Istimewa Yogyakarta

    • Authors: Hayatul Cholsy, Aprillia Firmonasari, Wening Udasmoro
      Pages: 175 - 182
      Abstract: The Covid-19 pandemic has affected various aspects of human life, including to the fashion sector. The negative impact of the pandemic has disrupted the business operations of MSME (Micro, Small and Medium Enterprises) players, that exports cannot be carried out so that production does not run properly. This program, in collaboration with FFTI (Forum Fair Trade Indonesia) and IFC (Indonesian Fashion Chamber), aims to assist MSMEs in preparing products that can be made and marketed during the new normal in the local and global markets. The online seminar, which was held twice by presenting competent speakers, is expected to be able to help as well as open the insights of MSMEs in the fashion sector to be ready to run their business during the pandemic and new normal by continuing to be creative and think positively.====Pandemi Covid-19 telah berpengaruh terhadap berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk dalam bidang fashion. Dampak negatif pandemi mengganggu jalannya bisnis para pelaku UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah), di antaranya ekspor tidak bisa dilakukan sehingga produksi tidak berjalan sebagaimana mestinya. Program yang bekerja sama dengan FFTI (Forum Fair Trade Indonesia) dan IFC (Indonesian Fashion Chamber) ini bertujuan untuk mendampingi UMKM dalam menyiapkan produk yang dapat dibuat dan dipasarkan selama masa new normal di pasar lokal dan pasar global. Seminar daring yang dilakukan sebanyak dua kali dengan menghadirkan narasumber yang kompeten diharapkan dapat membantu sekaligus membuka wawasan para pelaku UMKM bidang fashion untuk siap menjalani bisnisnya pada masa pandemi dan new normal dengan terus berkreasi serta berpikir positif. 
      PubDate: 2020-10-31
      DOI: 10.22146/bb.60725
      Issue No: Vol. 3, No. 2 (2020)
       
  • Pemakaian Bahasa Persuasif Media Luar Ruang Selama Masa Pandemik Covid-19
           di Dusun Nyangkringan, Kelurahan Bantul, Kecamatan Bantul, DIY

    • Authors: Rudi Ekasiswanto, Ridha Mashudi Wibowo
      Pages: 183 - 190
      Abstract: The use of appropriate language by speakers has been proven to be able to convey messages clearly to the speech partners that they want, and it can even further change the behavior of the speech partners. This can be exemplified by the use of persuasive language in outdoor media. In order to get considerable attention, outdoor media installation is usually installed in a strategic location. The billboards that are installed, for example, are designed to be large and permanently installed within a certain period of time. The information displayed in billboards is arranged with the right diction, special sentence structure, and has a strong persuasive impact supported by an attractive design. Unfortunately, not all community members have the ability to make representative billboards. Community service activities in Nyangkringan village are aimed to develop two abilities, namely the ability to use language effectively and also to design attractive and informative-persuasive billboards. After receiving adequate guidance, the community service activity participants have been able to create billboards that are memorable and informative-persuasive. The installation of billboards at a later stage of the project indicates a significant change in behavior due to increased public awareness of the Covid-19 pandemic. It is hoped that with the abilities that they already have, in the future, the community service participants can make the necessary outdoor media according to their designation.====Pemakaian bahasa penutur secara tepat telah terbukti dapat menyampaikan pesan dengan jelas kepada mitra tutur yang dikehendakinya, bahkan lebih jauh lagi dapat mengubah perilaku mitra tutur. Hal ini dapat dicontohkan dengan pemakaian bahasa persuasif di media luar ruang. Agar dapat memperoleh perhatian yang cukup besar pemasangan media luar ruang biasanya dilakukan di lokasi yang strategis. Baliho yang dipasang, misalnya, didesain berukuran besar dan dipasang secara permanen dalam rentang waktu tertentu. Informasi yang dipajang di dalam baliho disusun dengan diksi yang tepat, struktur kalimat khusus, dan berdampak persuasif yang kuat didukung dengan desain yang menarik. Sayangnya, tidak semua anggota masyarakat memiliki kemampuan membuat baliho yang representatif. Aktivitas pengabdian kepada masyarakat di Dusun Nyangkringan kali ini ditujukan untuk mengembangkan dua kemampuan, yakni kemampuan menggunakan bahasa secara efektif dan mendesain baliho yang menarik dan informatif-persuasif. Setelah mendapat bimbingan yang memadai, peserta kegiatan pengabdian dapat mewujudkan baliho yang mengesankan dan informatif-persuasif. Pemasangan baliho pada tahap selanjutnya mengindikasikan perubahan perilaku yang signifikan atas meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pandemi Covid-19. Diharapkan dengan kemampuan yang telah dimiliki pada masa depan, para peserta pengabdian dapat membuat media luar ruang yang diperlukan sesuai dengan peruntukannya.

      PubDate: 2020-10-31
      DOI: 10.22146/bb.60726
      Issue No: Vol. 3, No. 2 (2020)
       
  • Pelibatan Masyarakat dalam Persiapan Penetapan Situs Gunung Wingko, Bantul
           sebagai Cagar Budaya

    • Authors: Anggraeni Anggraeni
      Pages: 191 - 203
      Abstract: The use of Gunung Wingko for modern settlements has a significant impact on the preservation of the site. One of the efforts that can be done to prevent the widespread damage to the site is by disseminating important values and determining the site as a cultural heritage. Considering that this stipulation can trigger conflict, it is necessary to carry out careful preparation accompanied by socialization of the values (culture and knowledge) and dialogue with stakeholders through FGD. Sanden Fair, which is an annual event, is one of the means of disseminating research results that have long been carried out at the Mount Wingko Site and the importance of the site. In order to maintain awareness of the importance of the site, an embryo of Gunung Wingko Site Information Center was created. In the future, local communities can be involved in filling out the materials and managing the Information Center that has been initiated. In a FGD involving all stakeholders in Bantul Regency and the DIY Cultural Heritage Conservation Office, it was found that the designation of Gunung Wingko as a cultural heritage was constrained by the absence of site delineation. The Department of Archaeology FIB UGM team proposes gradual protection, starting from the determination of the area of the core zone which refers to the results of previous research. Communities living around the site also need to be involved in the activity of determining Gunung Wingko as a cultural heritage and need to get accurate information about the consequences and impacts of determining the site.====Pemanfatan Situs Gunung Wingko untuk permukiman baru telah membawa dampak yang signifikan terhadap kelestarian situs. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah meluasnya kerusakan situs adalah dengan melakukan sosialisasi nilai penting dan penetapan situs sebagai Cagar Budaya. Mengingat penetapan tersebut dapat memicu konflik, maka perlu dilakukan persiapan matang disertai sosialisasi nilai penting (kebudayaan dan pengetahuan) dan dialog dengan para stakeholder melalui FGD. Sanden Fair yang merupakan acara tahunan menjadi salah satu sarana sosialisasi hasil penelitian yang telah lama dilakukan di Situs Gunung Wingko dan nilai penting situs. Guna menjaga kesadaran tentang nilai penting situs tersebut, maka dibuatlah embrio Pusat Informasi Situs Gunung Wingko. Masyarakat setempat ke depan dapat dilibatkan dalam pengisian materi dan pengelolaan Pusat Informasi yang telah dirintis. Dalam FGD yang melibatkan seluruh stakeholder di Kabupaten Bantul dan Balai Pelestarian Cagar Budaya DIY diketahui bahwa penetapan Gunung Wingko sebagai Cagar Budaya terkendala oleh belum adanya delineasi situs. Tim Departemen Arkeologi FIB UGM mengusulkan pelindungan bertahap, dimulai dari penetapan luasan zona inti yang mengacu pada hasil penelitian terdahulu. Masyarakat yang tinggal di sekitar situs juga perlu dilibatkan dalam kegiatan penetapan Gunung Wingko sebagai Cagar Budaya dan perlu mendapat informasi yang tepat mengenai konsekuensi dan dampak penetapan situs.
      PubDate: 2020-10-31
      DOI: 10.22146/bb.60453
      Issue No: Vol. 3, No. 2 (2020)
       
  • Tanduk Alit: Pengembangan Pengabdian kepada Masyarakat di Masa Pandemi,
           Bidang Sosial-Humaniora

    • Authors: Bakti Budaya
      Pages: 204 - 212
      Abstract: Pada hari Jumat, 11 September 2020, pukul 09.00-11.00 WIB, Unit Pengabdian kepada Masyarakat dan Alumni FIB UGM menyelenggarakan seminar “Pengembangan Pengabdian kepada Masyarakat di Masa Pandemi, Bidang Sosial-Humaniora” secara daring via Google Meet. Pemantik diskusi yang diundang dalam seminar ini adalah: Prof. Ir. Irfan Dwidya Prijambada Ph.D. (Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat UGM), Dr. Hempri Suyatna, S.Sos, M.Si. (Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UGM), Rahmawan Jatmiko, M.A. (Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada), dan Dr. Anggraeni, M.A. (Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada).Kegiatan seminar dibuka dengan sambutan Wakil Dekan Bidang Alumni, Penelitian, dan Pengabdian kepada Masyarakat FIB UGM, Dr. Agus Suwignyo dan dilanjutkan dengan sambutan dari Dekan Fakultas Ilmu Budaya, Dr. Wening Udasmoro, M.Hum, DEA., yang sekaligus membuka kegiatan seminar. Dalam sambutannya Dr. Wening Udasmoro menyampaikan bahwa dalam pemikiran kampus merdeka perlu ditekankan mengenai kontribusi perguruan tinggi kepada masyarakat. Dalam kerangka tersebutlah  pengabdian kepada masyarakat itu akan menjadi poin yang sangat penting, yaitu sebagai pengembangan keilmuan, kontribusi perguruan tinggi kepada masyarakat, dan pengembangan karir dosen. Satu hal yang menarik, Covid-19 ini memberikan satu pelajaran, yaitu bagaimana ketika ilmu kedokteran dan ilmu farmasi selama berbulan-bulan itu belum berhasil mengalahkan virus ini dan ternyata salah satu aspek yang dapat mengerem penularan adalah dari aspek budaya. Itu pun belum berhasil sepenuhnya, karena membuat orang berbudaya cuci tangan, memakai masker bukan lah sesuatu yg mudah. Hal yang penting adalah melakukan sesuatu dari yang kecil tapi mungkin bisa memberikan dampak yang besar bagi masyarakat sekitar.  Di akhir sambutannya, beliau mengharapkan seminar ini akan menghasilkan masukan-masukan yang sangat berguna bagi kita dalam menghadapi masa pandemi.


      PubDate: 2020-10-31
      DOI: 10.22146/bb.60961
      Issue No: Vol. 3, No. 2 (2020)
       
 
JournalTOCs
School of Mathematical and Computer Sciences
Heriot-Watt University
Edinburgh, EH14 4AS, UK
Email: journaltocs@hw.ac.uk
Tel: +00 44 (0)131 4513762
 


Your IP address: 44.200.137.63
 
Home (Search)
API
About JournalTOCs
News (blog, publications)
JournalTOCs on Twitter   JournalTOCs on Facebook

JournalTOCs © 2009-