A  B  C  D  E  F  G  H  I  J  K  L  M  N  O  P  Q  R  S  T  U  V  W  X  Y  Z  

  Subjects -> SOCIOLOGY (Total: 553 journals)
The end of the list has been reached or no journals were found for your choice.
Similar Journals
Journal Cover
Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis
Number of Followers: 0  

  This is an Open Access Journal Open Access journal
ISSN (Print) 2502-7875 - ISSN (Online) 2527-5879
Published by Universitas Negeri Malang Homepage  [38 journals]
  • Penerapan Pendidikan Humanis Demokratis di Sekolah Dasar Eksperimental
           Mangunan

    • Authors: Anatoli Kasparov Putuabdullah, Sunarso Sunarso
      Pages: 93 - 107
      Abstract: Artikel ini bertujuan untuk mengetahui penerapan pendidikan humanis demokratis di SD Eksperimental Mangunan. Dilatarbelakangi situasi pendidikan saat ini yang cenderung berpusat pada guru, sehingga menjadikan siswa sebagai objek yang pasif. Artikel ini merupakan penelitan studi kasus dengan menggunakan pendekatan kualitatif yang dilakukan di Sekolah Dasar Eksperimental Mangunan Yogyakarta pada Juli-Agustus tahun 2021. Data penelitian dikumpulkan dengan menggunakan teknik wawancara dan dokumentasi. Pemeriksaan keabsahan data mengunakan teknik triangulasi sumber dan teknik. Sedangkan teknik analisis data menggunakan teknik analisis kualitatif Miles dan Huberman, dengan tahap: (1) mereduksi data yang diperoleh, (2) menyajikan data dengan teks naratif dan gambar, (3) melakukan penarikan kesimpulan dan verifikasi. Kesimpulan penelitian ini adalah SD Eksperimental Mangunan telah menerapkan pembelajaran humanis demokratis Mangunwijaya, yang ditandai dengan anggapan bahwa setiap anak memiliki tujuh modal dasar yang harus dimekarkan dengan berbagai program, pembelajaran yang memerdekakan anak melalui kegiatan koper (kotak pertanyaan) dan nggiwar (berfikir tidak linier), pembelajaran yang bermakna dengan menjadikan masyarakat sebagai sekolah dan sekolah sebagai masyarakat, model pembelajaran menggunakan project based learning yang  mendorong siswa untuk aktif bereksploratif dan berkreasi guna menemukan pengetahuannya sendiri. This research aims to find out: (1) Y.B. Mangunwijaya’s thoughts on humanistic education, (2) the implementation of humanistic education in Mangunan Experimental Elementary School. This research was a case study research using a qualitative approach. The research was conducted at the Experimental Elementary School of Mangunan Yogyakarta on July-August 2021. The subjects of this research were the Principal of the Mangunan Experimental Elementary School, the head of  Dynamics of Primary Education (Dinamika Edukasi Dasar), and the teachers of Mangunan Experimental Elementary School. The research data were collected using interview and documentation techniques. The data validation used a triangulation technique. The data analysis used Creswell’s qualitative analysis technique that included the following steps: (1) preparing the data for analysis, (2) reading the entire data, (3) starting a detailed analysis, (4) presenting descriptions and themes in qualitative narratives, and (5) interpreting data. The results of this research are the descriptions about some implications of humanistic education at the Mangunan Experimental Elementary School are: a) every child has seven basic assets that must be developed through various programs, b) learning that liberates children are held through suitcase (question box) and nggiwar (non-linear thinking) activities, c) meaningful learning means making the community as the school and the school as the community while the community is also the learning source, d) the learning model used is project-based learning that encourages students to actively explore and be creative in order to find their own knowledge. 
      PubDate: 2022-01-02
      DOI: 10.17977/um021v6i2p%p
      Issue No: Vol. 6, No. 2 (2022)
       
  • Makna Pendidikan dan Pewarisan Ajaran Samin bagi Masyarakat di Desa
           Sambongrejo Kecamatan Sambong Kabupaten Blora

    • Authors: Rohana Siti Nurkasanah, Agus Purnomo, Bayu Kurniawan
      Pages: 108 - 118
      Abstract: Masyarakat Samin adalah salah satu komunitas di Jawa Tengah yang biasa dikenal dengan sedulur sikep. Masyarakat Samin muncul sebagai bentuk penolakan terhadap Belanda. Penolakan tersebut diikuti dengan sikap tidak setuju terhadap beberapa hal, misalnya keberadaan sekolah. Akan tetapi, perkembangan zaman yang semakin maju telah membawa banyak perubahan pada masyarakat Samin. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan sejarah, makna pendidikan formal, dan ajaran Samin. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Penelitian dilakukan di Desa Sambongrejo Kecamatan Sambong Kabupaten Blora. Data diperoleh dari data primer dan sekunder. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa ajaran Samin yang dipelopori Samin Surosentiko pada tahun 1890 dan langsung diterima oleh masyarakat Blora. Hal tersebut dikarenakan keadaan masyarakat Blora sangat memprihatinkan. Tekanan dari pemerintahan Belanda pada bidang pendidikan, melalui sekolah masyarakat akan mendapat penanaman nilai yang berbasis kebudayaan Belanda. Sekitar tahun 1945 setelah Indonesia merdeka, sedikit demi sedikit masyarakat Samin mulai menerima pendidikan formal. Mulai tahun 2000-an mayoritas masyarakat Samin sudah menempuh pendidikan formal sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Ajaran Samin yang masih dipegang teguh sebagai patokan hidup masyarakat Samin yaitu ucapan, pikiran, dan tingkah laku. The Samin community is a community in Central Java which is commonly known as sedulur sikep. The Samin community emerged as a form of rejection of the Dutch. This rejection was followed by disagreement with several things, for example the existence of a school. However, the progress of the times has brought many changes to the Samin community. The purpose of this study was to describe the history, meaning of formal education, and Samin's teachings. This research uses qualitative research with a descriptive approach. The research was conducted in Sambongrejo Village, Sambong District, Blora Regency. Data obtained from primary and secondary data. Data collection techniques using observation, interviews, and documentation. Based on the research, it can be concluded that the Samin teachings were pioneered by Samin Surosentiko in 1890 and were immediately accepted by the people of Blora. This is because the condition of the people of Blora is very apprehensive. The pressure from the Dutch government on education, through community schools, will get the inculcation of values based on Dutch culture. Around 1945 after Indonesia's independence, little by little the Samin people began to receive formal education. Starting in the 2000s, the majority of the Samin people have taken formal primary and junior high school education. The Samin teachings that are still firmly adhered to as the standard of life for the Samin community are speech, thoughts, and behavior.
      PubDate: 2022-01-02
      DOI: 10.17977/um021v6i2p%p
      Issue No: Vol. 6, No. 2 (2022)
       
  • Akademisi Perempuan, Beban Ganda dan Peran Komunikasi Keluarga di Masa
           Pandemi

    • Authors: Farisha Sestri Musdalifah, Annisa Rahmawati
      Pages: 119 - 139
      Abstract: Kebijakan WFH (Work From Home) dan SFH (School From Home) yang diberlakukan oleh pemerintah Indonesia selama masa pandemi membuat beban ganda yang dijalankan oleh dosen perempuan semakin berat. Sebagai seorang ibu, dosen perempuan kini memiliki kewajiban baru untuk mengawasi dan membimbing anak-anaknya selama sekolah daring. Beban ganda yang makin berat di masa pandemi ini dapat berkurang jika akademisi perempuan memiliki pola komunikasi keluarga yang baik. Penelitian ini merupakan studi fenomenologi yang membahas pengalaman komunikasi keluarga pada akademisi perempuan dalam menghadapi beban ganda selama pandemi Covid-19. Komunikasi keluarga dianalisis berdasarkan enam dimensi, yaitu listening skill, speaking skill, self-disclosure, clarity, continuity tracking, dan respect or regard. Wawancara mendalam dilakukan kepada tiga akademisi perempuan untuk mendapatkan pengalaman mereka menjalani beban ganda di masa pandemi dan bagaimana komunikasi keluarga turut berperan di tengah situasi tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tiga informan akademisi perempuan dalam penelitian ini memiliki pemaknaan yang berbeda-beda mengenai beban ganda yang mereka jalani. Berdasarkan enam dimensi komunikasi keluarga, tiga informan dalam penelitian memiliki komunikasi keluarga yang baik sehingga keluarga mampu memberikan kekuatan tersendiri dan mendukung akademisi perempuan dalam menjalankan beban gandanya di masa pandemi Covid-19.
      The implementation of theWork From Home and School From Home policies imposed by the Indonesian government during the pandemic have made the double burden of female academic lecturers even havier. As a mother, female academic lecturers now have a new obligation to supervise and guide their children during online school. The double burden that is getting havier during this pandemic can be reduced if female academics have good family communication patterns. This research is a phenomenological study that discusses the experience of family communication in female academics facing a double burden during the Covid-19 pandemic. Family communication was analyzed based on six dimensions: listening skills, speaking skills, self-disclosure, clarity, continuity tracking, and respect or regard. In-depth interviews were conducted with three female academics to gain their experience of undergoing a double burden during a pandemic and how family communication plays a role during this situation. The results showed that this study's three female academic informants had different meanings about the double burden as an academician and as a mother. Based on the six dimensions of family communication, the three informants in the study had good family communication. The family provided its own strength and supported female academics in carrying out their double burden during the Covid-19 pandemic
      PubDate: 2022-01-02
      DOI: 10.17977/um021v6i2p%p
      Issue No: Vol. 6, No. 2 (2022)
       
  • Pendidikan Multikultural Solusi Atas Konflik Sosial: Indikasi Intoleran
           dalam Keberagaman

    • Authors: Tri Diyah Lestari, Nurus Sa'adah
      Pages: 140 - 154
      Abstract: Perbedaan yang mencolok antara nilai dalam masyarakat dapat menimbulkan masalah sosial seperti konflik sosial yang bersifat destruktif. Nilai yang beragam ini menjadi tantangan besar bagi bangsa Indonesia yang merupakan negara majemuk dengan berbagai budaya dan agama. Kendati masyarakat Indonesia rentan konflik, diperlukan pemberian edukasi dan pendeskripsian mengenai  pendidikan multikultural sebagai solusi atas konflik sosial. Studi literasi atau kepustakaan dengan menggunakan teknik analisis wacana kritis atau model Critical Discourse Analysis (CDA) adalah metode yang peneliti pilih dalam penulisan ini. Hasil studi menunjukkan bahwa pendidikan multikultural menghendaki suatu proses untuk memberikan pemahaman potensi manusia untuk hidup saling menghormati, menghargai, dan toleran. Pendidikan multikultural merupakan upaya strategis sebagai alternatif mencegah atau mengatasi konflik sosial yang terjadi di Indonesia. Upaya strategis ini dilakukan melalui jalur formal yakni pendidikan pada sektor formal seperti sekolah dan informal yaitu di dalam masyarakat. Pendidikan multikultural sangat penting untuk dilakukan secara konsisten, berkesinambungan dan terstruktur sebagai kekuatan yang perlu dijaga dan dilestarikan
      The flashy differences between values in society can cause social issues.  Such as social conflicts that are deductive.  This means that this arises from a sense of displeasure towards the other party.This is a big challenge for Indonesia, as a pluralistic country which consist various of cultures and religions.  Although Indonesia are vulnerable to conflict due to existing diversity, there needs to be education and description of multicultural education as a solution to social conflicts as a goal in this research investigation. The method used in this article is the study of literacy or literature using critical discourse analysis techniques or Critical Discourse Analysis (CDA) models.  Some of the main points in this article are that multicultural education is a process of providing an understanding about human potential to live with mutual respect, respect, and tolerance.  As a multicultural country, multicultural education is a strategic effort as an alternative to prevent or solve social conflicts that occur in Indonesia.  This strategic effort is carried out through formal channels, namely education in schools and informally, namely in the community. The conclusion in this article is that multicultural education is very important to do with consistently, continuously, and structured, because the multiculturalism awareness is a wealth and strength that should be maintained and preserved.
      PubDate: 2022-01-02
      DOI: 10.17977/um021v6i2p140-154
      Issue No: Vol. 6, No. 2 (2022)
       
  • Kekerasan Simbolik Melalui Dominasi Modal Agama pada Sekolah Swasta di
           Kabupaten Bantaeng

    • Authors: Suardi Suardi
      Pages: 155 - 165
      Abstract: Disparitas antara siswa sekolah swasta dan siswa sekolah negeri menjadi hal biasa karena perbedaan akumulasi modal ekonomi, sosial, budaya, simbolik dan agama. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis dan menemukan adanya modal agama sebagai bentuk akumulasi modal untuk mengatasi kekerasan simbolik. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode mixed method concurrent embedded di 10 sekolah swasta dan 6 sekolah negeri. Informan penelitian kualitatif sebanyak 43 orang ditentukan menggunakan purposive sampling sedangkan responden penelitian kuantitatif sebanyak 301 orang ditentukan menggunakan random sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan lembar angket skala likert dan Gutman, lembar observasi secara langsung, lembar wawancara terstruktur dan dokumen. Data kualitatif yang telah dikumpulkan dianalisis melalui tahapan reduksi data, display data kemudian melakukan penarikan kesimpulan. Data kuantitatif dianalisis melalui tahapan verifikasi, tabulasi dan persentase data. Hasil penelitian menunjukkan modal agama menjadi hal yang dominan yang dimiliki oleh sekolah swasta yang bisa dioptimalkan untuk merebut dominasi dalam ranah pendidikan agar siswa tidak mengalami kekerasan simbolik. Bentuk modal sosial yang dimiliki oleh sekolah swasta adalah (i) kepercayaan masyarakat terhadap sekolah swasta dalam memberikan pembelajaran agama, karakter atau nilai-nilai sosial, dengan persentase 71.77 %,  (ii) kepemimpinan spiritual yang selalu didominasi oleh aktor-aktor sekolah swasta dalam berbagai kegiatan keagamaan, dengan persentase 83.05 %. Disparities between private school students and public school students are common because of differences in the accumulation of economic, social, cultural, symbolic and religious capital. This article aims to analyze and find the existence of religious capital as a form of capital accumulation to overcome symbolic violence. This research was conducted using the mixed method concurrent embedded method in 10 private schools and 6 public schools. Qualitative research informants as many as 43 people were determined using purposive sampling while 301 quantitative research respondents were determined using random sampling. Data was collected using a Likert and Gutman scale questionnaire, direct observation sheets, structured interview sheets and documents. The qualitative data that has been collected is analyzed through the stages of data reduction, displaying the data and then drawing conclusions, while the quantitative data is analyzed through the stages of verification, tabulation and data percentage. The results of the study show that religious capital is the dominant thing owned by private schools which can be optimized to seize dominance in the realm of education so that students do not experience symbolic violence. The forms of social capital owned by private schools are (i) public trust in private schools in providing religious learning, character or social values, with a percentage of 71.77%, (ii) spiritual leadership which is always dominated by private school actors in various fields. religious activities, with a percentage of 83.05 %.
      PubDate: 2022-01-02
      DOI: 10.17977/um021v6i2p155-165
      Issue No: Vol. 6, No. 2 (2022)
       
  • Arus Utama Wacana Identitas Penghayat Kepercayaan Pasca Putusan MK di
           Media Daring Kompas.com

    • Authors: Akil Fitra Sholakodin
      Pages: 166 - 182
      Abstract: Pemberitaan tentang penghayat kepercayaan meningkat drastis sejak Putusan MK Nomor 97/PUU- XIV/2016 di sahkan tahun 2017. Pemberitaan ini tersebar dalam surat kabar, berita televisi dan artikel berita daring seperti Kompas.com, Suara Merdeka, Detik dan Republika. Pemberitaan yang memuat isu sensitif tentang formalisasi identitas penghayat kepercayaan kemudian menjadi perhatian publik. Penelitian ini kemudian difokuskan pada wacana yang muncul dalam pemberitaan identitas penghayat kepercayaan di Kompas.com. Pendekatan penelitian dengan menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Sumber data diambil pada artikel berita Kompas.com pada kurun waktu 7 November 2017 sampai Desember 2021. Analisis data dilakukan dengan memadukan Textual Network Analysis (TNA) dan Critical Discourse Analysis (CDA) dengan bantuan software NVIVO, WordIJ dan Gephi. Hasil penelitian diketahui bahwa formalisasi identitas penghayat kepercayaan masih mengalami hambatan dalam konteks diskriminasi dan eksklusi yang masih terjadi dan dilakukan oleh kelompok mayoritas. Kedua, wacana yang terbangun dalam pemberitaan Kompas.com terdiri dari lima pokok yang secara umum mendorong komitmen pemerintah dalam implementasi formalisasi identitas penghayat kepercayaan. Walaupun di dalamnya masih memunculkan kontrol absolut dari negara terkait dengan kemerdekaan dan kesetaraan dalam memeluk kepercayaan dan agama.
      Reports about believers have drastically increased since the Constitutional Court's Decision Number 97/PUU-XIV/2016 was ratified in 2017. This news is spread in newspapers, television news, and online news articles such as Kompas.com, Suara Merdeka, Detik, and Republika. Reports that contain sensitive issues regarding the formalization of the identity of believers then become public attention. This research is then focused on the discourse that appears in the news on the identity of believers in Kompas.com. The research approach uses qualitative methods with descriptive research types. The data source was taken from a news article from Kompas.com from November 7, 2017, to December 2021. Data analysis was carried out by combining Textual Network Analysis (TNA) and Critical Discourse Analysis (CDA) with the help of NVIVO, WordIJ, and Gephi software. The results of the study show that the formalization of the identity of believers in belief still faces obstacles in the context of discrimination and exclusion that still occur and are carried out by the majority group. Second, the discourse that was developed in the Kompas.com news coverage consisted of five main points that in general encouraged the government's commitment to the implementation of the formalization of the identity of believers. Although in it still raises absolute control of the state related to independence and equality in embracing beliefs and religions.
      PubDate: 2022-01-02
      DOI: 10.17977/um021v6i2p80-96
      Issue No: Vol. 6, No. 2 (2022)
       
  • Perempuan Petani, Akuisisi dan Perjuangan Atas Tanah (Studi Kasus
           Perempuan Petani Desa Sumurgeneng, Kabupaten Tuban)

    • Authors: Ika Setya Yuni Astuti
      Pages: 183 - 197
      Abstract: Abstract- Women's resistance is an interesting issue in the context of mining development. Women face not only the threat of losing their jobs, but also their source of livelihood. Women struggle for land based on their identity as farmers and instinctively to defend their living space. The purpose of this study is to understand the resistance and complexity of women's lives in an effort to defend land as a source of livelihood, reflecting on how the resistance by women farmers in Sumurgeneng village to the acquisition of agricultural land by PT. Pertamina Rosneft through feminist studies. This article uses women's perspective research with a qualitative approach. Data collection techniques were carried out through interviews and field observations as well as reviews of previous studies to explore how women's resistance and how women's relationships with livelihoods had influenced their resistance movements. Abstrak- Perlawanan perempuan merupakan isu yang menarik dalam konteks penolakan pembangunan tambang. Perempuan tidak hanya menghadapi ancaman kehilangan mata pencaharian, tetapi juga sumber penghidupan mereka. Perjuangan perempuan atas tanah didasari oleh identitas mereka sebagai petani dan naluri untuk mempertahankan ruang hidupnya. Tujuan penelitian ini untuk memahami perlawanan dan kompleksitas kehidupan perempuan petani dalam usaha mempertahankan tanah sebagai sumber penghidupannya, serta merefleksikan bagaimana terjadinya perlawanan yang dilakukan perempuan petani desa Sumurgeneng atas akuisisi lahan pertanian yang dilakukan oleh PT. Pertamina Rosneft melalui kajian feminis. Artikel ini menggunakan penelitian berperspektif perempuan dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan observasi lapangan serta tinjauan pada penelitian-penelitian terdahulu  untuk menelusuri bagaimana perlawanan perempuan petani dan bagaimana relasi perempuan terhadap sumber-sumber penghidupan telah mempengaruhi gerakan perlawanan mereka. 
      PubDate: 2022-01-02
      DOI: 10.17977/um021v6i2p183-197
      Issue No: Vol. 6, No. 2 (2022)
       
  • Feminisasi Kemiskinan dan Daya Lenting Ibu Rumah Tangga di Kota Surabaya

    • Authors: Azizah Alie, Yelly Elanda
      Pages: 198 - 215
      Abstract: Artikel ini membahas kemiskinan struktural pada wanita di kota Surabaya sebab tidak membagikan peluang yang serupa untuk wanita buat memperoleh akses pangkal energi. Ibu rumah tangga pada keluarga miskin seakan terencana dimiskinkan tetapi mereka memiliki energi lenting yang dapat membuat keluarganya bertahan di tengah situasi yang serba kekurangan. Riset ini memakai metode kualitatif dengan pendekatan naratif buat mendefinisikan cara pemiskinan ibu rumah tangga pada keluarga miskin di kota Surabaya serta untuk mengambarkan daya lenting ibu rumah tangga pada keluarga miskin supaya mereka sanggup bertahan hidup. Hasil riset ini membuktikan kalau bunda rumah tangga pada keluarga miskin kota Surabaya hadapi feminisasi kekurangan. Bunda rumah tangga keluarga miskin mempunyai sumber daya manusia (SDM) yang terbatas. Mereka tidak diberi peluang buat mengakses pangkal energi di luar yang bisa tingkatkan kapasitasnya. Mereka hadapi bobot dobel dimana mereka tidak bisa meninggalkan profesi domestiknya. Guna memenuhi kebutuhan hidup keluarganya serta menghadapi situasi yang krisis, ibu rumah tangga pada keluarga miskin memiliki daya lenting antara lain merupakan berdagang di depan rumahnya, menghemat pengeluaran, menjual atau menggadaikan benda, mengikuti arisan, serta meminjam uang pada orang sebelah atau kerabat atau perbankan. This study discusses structural poverty among women in the city of Surabaya because it does not provide equal opportunities for women to get access to resources. Housewives in poor families seem to be deliberately impoverished but they have resilience that can make their families survive in the midst of deprived conditions. This study uses a qualitative method with a narrative approach to describe the process of impoverishment of housewives in poor families in the city of Surabaya and to describe the resilience of housewives to poor families so that they are able to survive. The results of this study indicate that housewives in poor families in the city of Surabaya experience the feminization of poverty. Housewives of poor families have low human resources. They are not given the opportunity to access outside resources that can increase their capacity. They experience a double burden where they are not allowed to leave their domestic work. To meet the needs of their families and face a crisis situation, housewives in poor families have resilience, including selling in front of their homes, saving expenses, selling/pawning goods, participating in social gatherings, and borrowing money from neighbors/relatives/banks
      PubDate: 2022-01-02
      DOI: 10.17977/um021v6i2p198-215
      Issue No: Vol. 6, No. 2 (2022)
       
  • Tingkat Advokasi Aktivis Perempuan Singkong Jaya terhadap Penyintas
           Kekerasan Dalam Rumah Tangga

    • Authors: Diana Pratiwi, Ucca Arawindha
      Pages: 216 - 232
      Abstract: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat advokasi aktivis perempuan di Lembga Berbasis Komunitas (LBK) Perempuan Singkong Jaya terhadap penyintas Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Malang Raya memiliki jumlah kasus kekerasan dalam rumah tangga tertinggi di Jawa Timur. Meskipun terdapat banyak pihak yang berupaya untuk melakukan pencegahan, namun kasus KDRT masih mengalami peningkatan yang signifikan tiap tahunnya. Aktivis perempuan di LBK Perempuan Singkong Jaya merupakan salah satu pihak yang berperan penting dalam melakukan berbagai upaya untuk menghapuskan kasus kekerasan terhadap perempuan yaitu dengan cara melakukan advokasi atau pendampingan. Penelitian ini menggunakan konsep advokasi milik Robert L. Schneider (2008), untuk mengukur tingkat advokasi yang dilakukan oleh LBK Perempuan Singkong Jaya. Penelitian kuantitatif-deskriptif ini menggunakan metode pengumpulan data dengan observasi, kuesioner, wawancara, dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat advokasi aktivis perempuan di LBK Perempuan Singkong Jaya terhadap penyintas KDRT masuk ke dalam kategori tinggi dengan persentase 43.3% yang berarti aktivis perempuan tersebut memiliki kemampuan untuk melakukan pendampingan terhadap penyintas KDRT melalui proses advokasi. Selain melakukan pendampingan penyintas kekerasan, aktivis perempuan di LBK Perempuan Singkong Jaya juga melakukan pemberdayaan perempuan sebagai tahap akhir dalam proses advokasi yang telah dilaksanakan. This study aims to analyze the advocacy level of women’s activists at LBK Perempuan Singkong Jaya against survivors of Domestic Violence. Malang Raya has the highest number of cases of domestic violence in East Java. Even though there are many parties who are trying to take precautions, but cases of domestic violence still experience a significant increase each year. Women activists at LBK Perempuan Singkong Jaya are one of the parties who play an important role in making various efforts to eliminate cases of violence against women, namely by doing advocacy or assistance. This study uses the advocacy concept of Robert L. Schneider (2008), to measure the level of advocacy carried out by LBK Perempuan Singkong Jaya. This quantitative-descriptive research uses data collection methods with observation, questionnaires, interviews, and documentation. The results of this study indicate that the level of advocacy for women activists at LBK Perempuan Singkong Jaya for KDRT survivors falls into the high category with a percentage of 43.3%, which means that these women activists have the ability to provide assistance to survivors of domestic violence through the advocacy process. In addition to providing assistance for survivors of violence, women activists at LBK Perempuan Singkong Jaya also empower women as the final stage in the advocacy process that has been implemented.
      PubDate: 2022-01-02
      DOI: 10.17977/um021v6i2p216-232
      Issue No: Vol. 6, No. 2 (2022)
       
  • Dinamika Pengelolaan Ruang Publik Terpadu Ramah Anak: Sebuah Proyek
           Perkotaan Berkelanjutan'

    • Authors: Paulus Bagus Sugiyono, Raphaella Dewantari Dwianto
      Pages: 233 - 248
      Abstract: Tujuan dari artikel ini adalah untuk memaparkan historisitas dinamika pengelolaan RPTRA di Jakarta selama beberapa tahun terakhir. Artikel ini berupaya untuk mengambil pendekatan yang berbeda dengan pendekatan fungsionalis yang umumnya dilakukan untuk menganalisis RPTRA, misalnya penelitian yang dilakukan oleh Aji et al. (2016) dan Sutanto dan Junadi (2018). Upaya ini dilakukan untuk melihat RPTRA bukan sebagai sebuah ruang yang “ada” di kota sebagai tempat terjadinya berbagai aktivitas sosial masyarakat, tetapi sebagai sebuah ruang yang dibentuk oleh aspek-aspek tertentu, seperti ekonomi, politik, dan budaya. Konsep yang diambil sebagai kerangka analisis adalah konsep mengenai ruang yang ditawarkan oleh Henri Lefebvre. Metodologi penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif analisis deskriptif, yakni pembacaan literatur dan studi pustaka. Artikel-artikel terkait RPTRA yang dipublikasikan selama lima tahun terakhir dikumpulkan, dibaca, dan dianalisis. Penelitian ini sendiri dilakukan dalam rentang waktu Februari hingga Juni 2021. Hasil dari penelitian ini mengemukakan bahwa terdapat tiga disrupsi sosial-politik yang terjadi dalam dinamika pengelolaan RPTRA selama lima tahun. Ketiga disrupsi tersebut terkait dengan pengakomodasian aktivitas masyarakat, pergantian kepemimpinan politik, dan pandemi Covid-19. Dengan menggunakan kerangka ruang Lefebvre, penulis berpendapat bahwa seringkali terjadi benturan antara abstraksi perencanaan dan pengelolaan ruang yang dibentuk oleh pemerintah dengan harapan dan ekspektasi masyarakat. Hal yang pertama menggambarkan ruang abstrak, sedangkan hal yang kedua menggambarkan ruang sosial sebagaimana konsep ruang Lefebvre. Demi pengelolaan yang berkelanjutan, partisipasi masyarakat mesti dilibatkan secara aktif dalam pengelolaan perkotaan. Dari segi kebijakan, pemerintah sendiri perlu mengambil kebijakan politik secara diskretif, bukan demi hegemoni politik semata. This article aims to explain the historical dynamics of RPTRA’s management in Jakarta during few recent years. Notwithstanding common functionalist approach, such as Aji et al. (2016) and Sutanto (2018), this article attempts to employ another approach. It tries to portray RPTRA not as a space that “is already being there”, used by city residents to do their various activities, but as a space that is dynamically as well as continuously formed by several factors, for instance economy, politics, and culture. The theoretical concept that is taken as an analysis framework is the concept of space, offered by Henri Lefebvre. This research employs analytic-descriptive qualitative method, such as literature reading. Some articles related with RPTRA which were published within last five years are collected, read, and analysed. This research itself was conducted between February until June 2021. The result of the research states that there are three socio-political disruptions which happened during the historical dynamics of RPTRA’s management. Those related with accommodation of residents’ activities, the dynamics of political situation, and pandemic Covid-19. The Lefebvrian analysis of space shows that there is often friction between city planning and management made by the government and the hope and expectation of city residents. The former indicates abstract space, while the latter indicates social space as were conceived by Lefebvre. For the sake of sustainable management, the participation of civil society must be included continuously. Furthermore, government itself must take political policy discreetly and not for mere political hegemony. 
      PubDate: 2022-01-02
      DOI: 10.17977/um021v6i2p147-162
      Issue No: Vol. 6, No. 2 (2022)
       
 
JournalTOCs
School of Mathematical and Computer Sciences
Heriot-Watt University
Edinburgh, EH14 4AS, UK
Email: journaltocs@hw.ac.uk
Tel: +00 44 (0)131 4513762
 


Your IP address: 44.201.94.72
 
Home (Search)
API
About JournalTOCs
News (blog, publications)
JournalTOCs on Twitter   JournalTOCs on Facebook

JournalTOCs © 2009-