A  B  C  D  E  F  G  H  I  J  K  L  M  N  O  P  Q  R  S  T  U  V  W  X  Y  Z  

  Subjects -> SOCIOLOGY (Total: 553 journals)
The end of the list has been reached or no journals were found for your choice.
Similar Journals
Journal Cover
Masyarakat : Jurnal Sosiologi
Number of Followers: 0  

  This is an Open Access Journal Open Access journal
ISSN (Print) 0852-8489 - ISSN (Online) 2460-8165
Published by Universitas Indonesia Homepage  [19 journals]
  • Sentiment Analysis of Digital Nomad in Indonesia: A Case Study in Bali

    • Authors: Dewi Puspita Rahayu, Ayu Kusumastuti, Wida Ayu Puspitosari
      Abstract: Digital nomads (pengembara digital) merupakan tipe pekerja baru yang mendayagunakan internet dengan lokasi bekerja yang tidak pada ‘kantor konvensional’, dimana seseorang bisa menentukan kebebasan dimana dan kapan untuk bekerja selama dirinya memiliki akses internet yang baik. Kehadiran digital nomads mempengaruhi dinamika atau perubahan sosial di masyarakat. Munculnya pengembara digital ini mendapatkan respon yang beragam dari masyarakat. Terdapat masyarakat yang beranggapan bahwa cara kerja baru ini dapat merusak sistem kerja namun banyak juga yang perlahan mulai mengadopsinya. Bali menjadi salah satu lokasi yang strategis dan banyak dijadikan tujuan para pengembara digital. Bahkan hal ini didukung oleh kebijakan work from Bali yang bertujuan untuk menggerakkan perekonomian di Bali terutama di masa pandemi. Di lain sisi, Indonesia belum memiliki peraturan yang mengatur para digital nomad. Tujuan riset ini terbagi menjadi dua, yang pertama yaitu melakukan analisa sentimen pada twitter mengenai digital nomads untuk melihat respon masyarakat dan yang kedua, penelitian ini berupaya untuk melihat implikasi kebijakan pemerintah terkait digital nomads. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus serta melibatkan metode big data terkait analisis sentimen.
      The digital nomad is a new type of worker who works from a location other than a “traditional office,” with the freedom to choose where and when to work as long as they have good internet access. The presence of digital nomads has an impact on the dynamics or social changes in society. The public’s reaction to the appearance of this digital traveler was mixed. Some people believe that these new ways of working will harm the work system, but many are gradually adopt it. Bali has become one of the strategic locations and is widely used as a destination for digital nomads. In fact, this is supported by the work from Bali policy which aims to drive the economy in Bali, especially during the pandemic. Indonesia, on the other hand, does not yet have any specific regulations governing digital nomads. The goal of this research is twofold: the first is to conduct a sentiment analysis on Twitter about digital nomads to see how the community reacts, and the second is to see the implications of government policies regarding digital nomads. This study employs qualitative methods with a case study approach, as well as big data methods related to sentiment analysis.

      PubDate: 2022-02-17
      Issue No: Vol. 26 (2022)
       
  • The Health Belief Model: Understanding Indonesian Urban Youth’s Travel
           Behavior during the Covid-19 Pandemic

    • Authors: Naya Cinantya Drestalita, Bagas Dwipantara Putra, Lanthika Atianta, Imam Mustafa Yusuf
      Abstract: Berbagai penelitian telah dilakukan untuk melihat hubungan antara tingkat kepadatan wilayah dengan tingkat penyebaran virus. Hasilnya, mobilitas penduduk memiliki korelasi yang lebih kuat terhadap penyebaran virus dibandingkan kepadatan bangunan maupun kepadatan penduduk. Masyarakat muda usia 17-30 tahun yang tinggal di kawasan perkotaan termasuk kelompok yang cenderung aktif dalam beraktivitas dan memiliki mobilisasi tinggi, sehingga beresiko tinggi terpapar virus COVID-19. Namun, masyarakat pada kelompok usia ini juga cenderung merasa memiliki imun yang lebih kuat dibandingkan masyarakat pada kelompok usia lainnya. Tulisan ini melihat sejauh mana persepsi pribadi masyarakat muda terhadap COVID-19 mempengaruhi perilaku perjalanan sehari-hari selama pandemi COVID-19 menggunakan pendekatan teori The Health Belief Model (HBM). Jenis perjalanan yang dianalisis dikategorikan menjadi tiga jenis berdasarkan tujuan perjalanan, yaitu untuk kegiatan wajib (seperti bekerja dan bersekolah/kuliah), kegiatan personal (seperti belanja kebutuhan sehari-hari), dan kegiatan rekreasional (seperti belanja selain kebutuhan pokok atau berkumpul dengan teman). Data yang digunakan adalah hasil kuesioner daring dengan 363 orang responden yang tinggal di kota-kota di Indonesia, yang kemudian diolah dengan analisis crosstab dan uji Chi-Square. Tulisan ini menunjukkan bahwa persepsi pribadi terhadap COVID-19 secara umum mempengaruhi frekuensi perjalanan masyarakat muda yang tinggal di kota, namun tidak mempengaruhi pemilihan jenis moda transportasi yang digunakan.  Studies on the relation between urban density and spread rate of the COVID-19 had been carried out. Many scholars found that urban mobility has a stronger correlation to the spread of the COVID-19 than urban density. Urban youth aged 17-30 years tend to be active and have high mobilization, and therefore they are at risk of being exposed to the COVID-19 virus. However, people in this age group also tend to feel that they have a stronger immune system than people from different age groups. This study aims to see the extent to which the urban youth’s perceptions of COVID-19 affect their daily travel behavior during the COVID-19 pandemic using The Health Belief Model (HBM) approach. The daily travel behavior is categorized into three types based on the purpose of the trip, namely mandatory activities (such as work and school), personal activities (such as shopping for daily necessities), and leisure activities (such as shopping other than basic needs or gathering with friends). The data was obtained using online questionnaires with 363 participants who live in Indonesian cities. The data is analyzed using crosstab analysis and the Chi-Square test. The analysis results show that an individual’s perception of the COVID-19 generally affects the urban youth’s frequency of daily travel but does not affect the choice of the type of transportation mode used
      PubDate: 2022-02-03
      Issue No: Vol. 26 (2022)
       
  • Cleavages and Electoral Support to Islamist Party in Javan Urban Areas:
           The Case of Prosperous Justice Party

    • Authors: Andi Rahman Alamsyah
      Abstract: Several studies have noted that electoral support for one of the Islamist parties in Indonesia, the Prosperous Justice Party (PKS), is mostly concentrated in urban areas. While I agree with this observation, I found that these studies did not pay adequate attention to the diversity of socio-political conditions in urban areas that contributed to the varying electoral support for PKS. One of these socio-political conditions is what Lipset and Rokkan (1967) conceptualized as cleavages (divisions of society). Based on the results of 2014 and 2019 local parliamentary elections in Javan urban areas, I argue that there are three cleavage patterns formed in these areas, namely single dominant, dyadic dominant, and fragmented. Each cleavage pattern has implications for the formation of a type of support for PKS. In regions with single dominant and dyadic dominant cleavages, the Islamist party tends to receive moderate or low support. Further, compared to the the support gained by the winning party, PKS’ votes tends to be much lower. However, in areas with fragmented cleavage, PKS tends to receive high or moderate support, and the votes gained by PKS tend to be comparable to that of the winning party. The data in this article were obtained from secondary data regarding PKS’ gains in the legislative elections for district/city parliaments in 2014 and 2019 in 46 urban areas in Java, interviews, and literature studies.Beberapa studi berpandangan bahwa  dukungan elektoral terhadap salah satu partai Islamis di Indonesia, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), terpusat di daerah-daerah urban. Saya setuju dengan hal itu. Tetapi studi-studi itu kurang memperhatikan keragaman kondisi sosial-politik di daerah-daerah urban yang turut membentuk dukungan elektoral yang juga bervariasi terhadap PKS. Salah satu dari kondisi sosial-politik itu adalah apa yang dikonseptualisasikan oleh Lipset dan Rokkan (1967) sebagai cleavage (pembelahan masyarakat).  Berdasarkan kasus di daerah-daerah urban di Jawa dalam pemilihan anggota parlemen lokal tahun 2014 dan 2019, saya berargumen bahwa terdapat tiga pola cleavage yang terbentuk di daerah-daerah tersebut, yaitu dominan tunggal, dominan ganda, dan terfragmentasi. Setiap pola cleavage berimplikasi pada terbentuknya suatu tipe dukungan terhadap PKS. Pada daerah-daerah dengan cleavage dominan tunggal dan dominan ganda, partai Islamis itu cenderung memperoleh dukungan yang sedang atau rendah. Dukungan yang didapatkan PKS dengan yang diperoleh partai pemenang pun cenderung timpang. Di daerah-daerah dengan cleavage yang terfragmentasi, PKS cenderung mendapatkan dukungan yang tinggi atau sedang. Dukungan terhadap PKS dibandingkan dengan dukungan terhadap partai pemenang pun relatif tidak timpang. Data dalam artikel ini diperoleh dari data sekunder mengenai perolehan kursi PKS dalam pemilihan anggota parlemen kabupaten/kota tahun 2014 dan 2019 di 46 daerah urban di Jawa, wawancara, dan studi pustaka.  
      PubDate: 2021-12-07
      Issue No: Vol. 26 (2021)
       
  • The Embeddedness of Traditional Economy Transforming Towards An
           Alternative Economy: A Case Study of Lumbung Pitih Nagari (LPN) Limau
           Manis, West Sumatra

    • Authors: Indah Sari Rahmaini, Arie Sujito
      PubDate: 2021-12-07
      Issue No: Vol. 26 (2021)
       
  • Tourism Gentrification in Bali, Indonesia: A Wake-up Call for Overtourism

    • Authors: I Wayan Suyadnya
      Abstract: Banyak kawasan wisata mengalami revitalisasi melalui pendanaan kapital asing yang dibawa oleh gentrifikasi. Sebagai akibatnya kawasan wisata bertransformasi menjadi kawasan ramah turis dan investasi. Berbagai studi tentang gentrifikasi melihat fenomena ini sebagai ekspresi permintaan konsumen, preferensi individu atas hukum permintaan dan penawaran. Namun artikel ini berpendapat bahwa gentrifikasi wisata menunjukkan dinamika berbeda yaitu mendorong signifikansi pertumbuhan wisata yang mendukung overturisme. Tulisan ini berfokus pada alasan mengapa masyarakat Bali tidak merasa bahwa fenomena gentrifikasi dan berkembangnya unjuk rasa merupakan bagian dari gejala overturisme. Penelitian dilakukan di tiga kawasan wisata yaitu Sanur, Kuta dan Ubud. Lokasi ini sengaja dipilih karena menunjukkan wilayah yang mengalami gentrifikasi. Ketiga lokasi menyediakan ketegangan yang menarik mengenai peran pariwisata untuk menarik ekspansi kapitalisme melalui investasi modal dan tindakan korporasi; dan kepentingan yang berlawanan bertarung untuk mengontrol produksi, representasi dan citra pariwisata di Bali.Hasil penelitian menunjukkan bahwa gentrifikasi pariwisata tidak hanya menyebabkan peningkatan nilai sewa lahan dan properti, tetapi juga mendorong transformasi dan pemanfaatan lahan di Bali. Gentrifikasi pariwisata di Bali mengacu pada transformasi sosio-spasial di mana perusahaan swasta dan negara berinvestasi di daerah kelas bawah, ditandai dengan pembangunan fasilitas wisata yang mendorong gejala overturisme. Many tourists destinations experience revitalisation through funding from foreign capital that is brought by gentrification. As a result, tourist areas transform into regions that are friendly toward tourists and investment. Various studies see gentrification as an expression of consumer demand, individual preferences over the law of supply and demand. However, this article argues that tourism gentrification shows a different dynamic, namely driving the significance of tourism growth that supports overtourism. This article focuses on the reason why Balinese do not feel that the phenomenon of gentrification and the development of protests are a part of the symptom of overtourism. Research was conducted in the three tourist areas of Sanur, Kuta, and Ubud. These locations were indicated as gentrification areas. The three locations present a fascinating tension regarding the role of tourism to draw the expansion of capitalism through capital investment and corporate actions, as well as opposed interests that struggle to control the production, representation, and image of tourism in Bali. Research results indicated that the gentrification of tourism not only causes land and property rental values to increase, but also drives land transformation and utilization in Bali. The gentrification of tourism in Bali refers to the socio-spatial transformation by which private corporations and the state invest in low-class areas, marked by the construction of tourist facilities that encourage signs of overtourism. 
      PubDate: 2021-12-07
      Issue No: Vol. 26 (2021)
       
 
JournalTOCs
School of Mathematical and Computer Sciences
Heriot-Watt University
Edinburgh, EH14 4AS, UK
Email: journaltocs@hw.ac.uk
Tel: +00 44 (0)131 4513762
 


Your IP address: 3.234.210.25
 
Home (Search)
API
About JournalTOCs
News (blog, publications)
JournalTOCs on Twitter   JournalTOCs on Facebook

JournalTOCs © 2009-