Subjects -> LAW (Total: 1397 journals)
    - CIVIL LAW (30 journals)
    - CONSTITUTIONAL LAW (52 journals)
    - CORPORATE LAW (65 journals)
    - CRIMINAL LAW (28 journals)
    - CRIMINOLOGY AND LAW ENFORCEMENT (161 journals)
    - FAMILY AND MATRIMONIAL LAW (23 journals)
    - INTERNATIONAL LAW (161 journals)
    - JUDICIAL SYSTEMS (23 journals)
    - LAW (843 journals)
    - LAW: GENERAL (11 journals)

JUDICIAL SYSTEMS (23 journals)

Showing 1 - 15 of 15 Journals sorted alphabetically
American Business Law Journal     Hybrid Journal   (Followers: 23)
Australian Journal of Maritime and Ocean Affairs     Hybrid Journal   (Followers: 7)
Berkeley Journal of Middle Eastern & Islamic Law     Open Access  
Court Review : The Journal of the American Judges Association     Open Access   (Followers: 1)
De Jure: Jurnal Hukum dan Syar'iah     Open Access   (Followers: 1)
European Journal of Health Law     Hybrid Journal   (Followers: 7)
Industrial Law Journal     Hybrid Journal   (Followers: 29)
International Comparative Jurisprudence     Open Access   (Followers: 2)
Judicature     Full-text available via subscription   (Followers: 3)
Justice System Journal     Hybrid Journal   (Followers: 5)
Justicia Islamica     Open Access  
Medical Law Review     Hybrid Journal   (Followers: 25)
Washington University Jurisprudence Review     Open Access   (Followers: 3)
Windsor Yearbook of Access to Justice     Open Access   (Followers: 3)
Zeitschrift für öffentliches Recht     Hybrid Journal   (Followers: 21)
Similar Journals
Journal Cover
Justicia Islamica
Number of Followers: 0  

  This is an Open Access Journal Open Access journal
ISSN (Print) 1693-5926 - ISSN (Online) 2502-7646
Published by IAIN Ponorogo Homepage  [7 journals]
  • Problems of Mudharabah Financing in Islamic Banking After The
           Implementation of Qanun of Islamic Financial Institutions in Aceh

    • Authors: Yusmalinda Yusmalinda, Asmuni Asmuni, Dhiauddin Tanjung
      Pages: 1 - 20
      Abstract: The mudharabah contract has become one of the Islamic banking products legitimated by The National Sharia Board and Financial Services Authority. The Aceh government, through the Qanun of Islamic Financial Institutions, has emphasized that banking practices in Aceh must rely on sharia principles. The consequence of this regulation is that banks are only allowed to use sharia contracts in every financial and financing transaction. This research is an empirical juridical study with a sociological and normative approach. This approach was employed to analyze the use of mudharabah contracts from both practical and theoretical aspects. The results of this study indicate that although the mudharabah contract has been designated as one of the financing products in Islamic banking, the mudharabah contract is not fully applied for financing. The mudharabah contract is only implemented for corporate purposes, not for small traders. This is due to several things, including the high risk in mudharabah financing, low bank confidence in customers, fluctuating profits, and low-risk management. This study aims to analyze the problems of mudharabah financing after implementing the 2018 Qanun of Islamic Financial Institutions in Aceh. The results of this study can answer the main problems in the mudharabah contracts. Thus the mudharabah contract can be optimized in the financing system of Islamic banking in Aceh.Akad mudharabah sudah menjadi salah satu produk perbankan syariah yang mendapatkan legitimasi dari DSN-MUI dan OJK. Pemerintah Aceh melalui qanun lembaga keuangan syariah telah menegaskan bahwa praktik perbankan di Aceh harus menggunakan prinsip-prinsip syariah. Konsekuensi dari peraturan tersebut yaitu pihak perbankan hanya dapat menggunakan akad bernuansa syariah dalam setiap transaksi keuangan dan pembiayaan. Penelitian ini merupakan kajian yuridis empiris dengan pendekatan sosiologi dan normatif. Pendekatan ini digunakan untuk menganalisis penggunaan akad mudhrabah baik dari aspek praktik dan teoritis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, meskipun akad mudharabah telah ditetapkan sebagai salah satu produk pembiayaan pada perbankan syariah, namun nyatanya akad mudharabah tidak sepenuhnya di gunakan dalam pembiayaan, akad mudharabah hanya digunakan untuk korporasi saja, tidak untuk pedagang kecil dan UMKM. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal; pertama, tingginya resiko dalam pembiayaan mudharabah; kedua, rendahnya kepercayaan perbankan terhadap nasabah; ketiga, keuntungan yang fluktuatif; keempat, lemahnya manajemen resiko. Penelitian ini berkontribusi untuk mengatasi persoalan pembiayaan mudharabah pasca penerapan qanun lembaga keuangan syariah tahun 2018 di Aceh. Sehingga dengan hasil penelitian ini dapat menjadi jalan keluar terhadap permasalahan utama dalam akad mudharabah, dan akad mudharabah dapat dioptimalkan dalam sistem pembiayaan pada perbankan syariah di Aceh.
      PubDate: 2022-06-20
      DOI: 10.21154/justicia.v19i1.3009
      Issue No: Vol. 19, No. 1 (2022)
       
  • Legal Transplant: Influence of The Western Legal System in The Muslim
           Countries

    • Authors: Sri Wahyuni
      Pages: 21 - 37
      Abstract: This article discusses the influence of Western legal systems on Islamic law in Muslim countries, such as Turkey, Egypt, Iraq, Kuwait, Syria and Libya, Pakistan, Indonesia, and Malaysia. It uses the comparative law scholars’ legal transplant theory to see the influence. The article may enrich the discourses in Comparative and History of Law. It may contribute to many scholars and reformers of law who choose the best model of Islamic law reforms according to the histories of the law of their countries. This study shows that the transplantation of Western law in Muslim countries has occurred since the colonialism period, World War I, and World War II. These legal transplants occur by taking part in a foreign legal system, namely the modern Western legal system, for overall such as in Turkey, as well as the majority of modern Western legal methods synthesized with local law, such as in Egypt, Indonesia, Malaysia, and other Muslim countries. There are three types of Muslim countries based on Islamic law reforms undertaken. They are the Muslim countries that apply Islamic law and traditional fiqh, with no legal transplant; the Muslim countries that adopt Western law. This is a legal transplant, and Muslim countries implement Islamic law using appropriate Western methods and procedures. Moreover, this is a partial legal transplant. The law reform in Muslim countries was carried out by intra-and extra-doctrinal reform, legislation (regulation), and codification methods. The last three methods are the partial legal transplant models.Tulisan ini membahas tentang pengaruh sistem hukum Barat dalam pembaharuan hukum Islam di beberapa negara muslim seperti di Turkey, Mesir, Iraq, Kwait, Syria, Libya, Pakistan, Indonesia dan Malaysia. Kajian ini menggunakan metode perbandingan untuk melihat keterkaitan antara hukum di negara-negara muslim dan hukum Barat (common law dan civil law system). Artikel ini dapat memperkaya khasanah bidang kajian perbandingan hukum dan sejarah hukum, sehingga dapat memberikan kontribusi kepada para pemikir dan pembaharu hukum Islam tentang model pembaharuan hukum yang lebih baik sesuai dengan sejarah hukum negara masing-masing. Hasil dari kajian ini menunjukkan bahwa transplantasi hukum Barat ke negara-negara muslim telah terjadi sejak masa kolonial, perang dunia pertama dan kedua. Transplantasi hukum ini terjadi dengan mengambil bagian dari sistem hukum asing, yaitu sistem hukum Barat modern baik secara keseluruhan seperti di Turki, maupun mengambil sebagian sistem hukum Barat melalui metode sintesis dengan hukum lokal seperti di Mesir, Indonesia, Malaysia dan negara-negara muslim lainnya. Terdapat tiga model negara muslim berdasarkan pembaharuan hukum Islam yang dilakukan, yaitu negara muslim yang menerapkan hukum Islam berupa fiqih tradisional dan tidak terjadi tranplantasi hukum; negara muslim mengadopsi hukum Barat yang terjadi transplantasi hukum secara total; dan negara muslim yang menerapkan hukum Islam yang telah disesuaikan dengan metode dan prosedur hukum Barat. Ini merupakan model transplantasi hukum sebagian. Adapun metode pembaharuan hukum Islam di beberapa negara muslim yaitu melalui metode intra dan extra doctrinal reform, legislasi peraturan perundang-undangan dan kodifikasi. Ketiga metode terakhir ini merupakan model transplantasi hukum sebagian.
      PubDate: 2022-06-20
      DOI: 10.21154/justicia.v19i1.2756
      Issue No: Vol. 19, No. 1 (2022)
       
  • FAMILY EXPECTATION AND POVERTY ALLEVIATION PROGRAM: Approaches to
           Population Development and Family Development Laws, Sustainable
           Development Goals, and Maqāṣid Sharīa

    • Authors: Lilis Hidayati Yuli Astutik, Iffatin Nur, Mashuri Mashuri
      Pages: 38 - 56
      Abstract: This research intends to evaluate Family Expectation Program to alleviate poverty through the lens of Population and Family Development Laws, Sustainable Development Goals, and Maqāṣid Sharīa. Poverty becomes a problem in human life and brings implications for individual and social lives. This condition has made the United Nations initiate the Sustainable Development Goals (SDGs) program, which among others, aims to alleviate poverty worldwide. As a member country of the United Nations, Indonesia welcomes this initiative by preparing several national poverty alleviation programs, including Program Keluarga Harapan (PKH)/ Conditional Cash Transfer Program. This study used a qualitative research approach with a case study and multi-site design to evaluate this program. Through the study locus in Tulungagung and Trenggalek Regencies, East Java, the results of this study indicate that the PKH program in the two locations is following the objectives of Islamic law, including the protection of religion (hifẓ al- dīn), the protection of human soul and body (hifẓ al-nafs), the protection of wealth (hifẓ al-māl), the protection of mind (intelligence) (hifẓ al-’aql), the protection of lineage (hifẓ al-nasl), and the protection of honor (hifẓ al-’irḍ). The results of this research hopefully contribute to setting up the poverty alleviation-based -government policies through family development programs to pursue Sustainable Development Goals (SDGs) based on the values of maqāṣid sharīa.Kajian ini bertujuan untuk melakukan evaluasi terhadap Program Keluarga Harapan (PKH) dalam mengentaskan kemiskinan melalui pendekatan Undang-Undang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Sustainable Development Goals (SDGs), dan maqāṣid sharīa. Kondisi kemiskinan telah menjadi masalah dalam kehidupan manusia dan berimplikasi terhadap kehidupan individu maupun sosial. Kondisi ini membuat PBB menginisiasi program Sustainable Development Goals (SDGs) yang antara lain bertujuan untuk mengentaskan kemiskinan di seluruh dunia. Sebagai salah satu negara anggota PBB, Indonesia menyambut positif inisiasi ini dengan menyiapkan beberapa program pengentasan kemiskinan yang dijalankan secara nasional, antara lain Program Keluarga Harapan (PKH). Sebagai upaya evaluasi Program Keluarga Harapan (PKH) dalam pengentasan kemiskinan, kajian ini merupakan kajian dengan pendekatan penelitian kualitatif dengan jenis studi kasus dan rancangan multisitus. Melalui lokus kajian di Kabupaten Tulungagung dan Trenggalek Provinsi Jawa Timur, hasil kajian ini menunjukkan bahwa program PKH di kedua lokasi tersebut sesuai dengan tujuan syariat Islam antara lain perlindungan terhadap agama (hifẓ al- dīn), jiwa dan raga (hifẓ al-nafs), harta (hifẓ al-māl) , kecerdasan (hifẓ al-’aql), keturunan (hifẓ al-nasl), dan kehormatan (hifẓ al-’irḍ). Melalui kajian ini, berkontribusi membantu pemerintah dalam perumusan kebijakan yang berorientasi pada pengentasan kemiskinan melalui program pembangunan keluarga sebagai upaya mewujudkan Sustainable Development Goals (SDGs) berbasis nilai-nilai maqāṣid sharīa.
      PubDate: 2022-06-26
      DOI: 10.21154/justicia.v19i1.3227
      Issue No: Vol. 19, No. 1 (2022)
       
  • CRITICIZING THE MUSLIM DIVORCE TRADITION IN LOMBOK: An Effort To Control
           The Women's Rights

    • Authors: Abdullah Abdullah, Hijrah Hijrah, Hery Zarkasih
      Pages: 57 - 73
      Abstract: This research aims to identify the divorce tradition in Lombok Muslim life and find solutions to the problems occurring. This is field research using observation, interview, and documentation methods. In this study, the researchers directly observed and interviewed audiences. Moreover, the researchers discovered some problems of Muslim divorce tradition in Lombok Island, namely, the report from a husband to a religious personage or community leader about the divorce between him and his wife. The second problem is pecelekan (bringing back a woman to her parents after her husband has divorced her). The third problem is eliminating the man’s livelihood responsibility after divorcing his wife. In Lombok Island, the divorce can automatically stop the relationship between the husband and wife. In other words, there is no responsibility anymore for a husband after a husband says divorce to his wife. However, separation of spouse by divorce in Islam does not automatically abolish the husband’s responsibilities. The woman in ‘iddah period still obtains her rights. Nevertheless, in Lombok, divorce causes the divorced wife to lose her rights. This research contributes to finding two solutions to solve these problems. The first way is by socializing intensively with all of society, and the second is through the active role of religious personage to control women’s rights in Lombok society.Tujuan penelitian adalah untuk meegetahui tentang budaya talak/cerai dalam kehidupan muslim di Lombok dan untuk mencari solusi atas permasalahan yang ditemukan. Penelitian ini adalah penelitian lapangan. Penelitian ini menggunakan metode observasi, wawancara dan dokumentasi, yaitu peneliti secara langsung turun ke lapangan untuk mengobservasi dan menginterview pelaku talak. Dalam Penelitian ini, peneliti menemukan permasalahan-permasalahan tentang budaya talak muslim di Pulau Lombok. Permsalahan-permasalahan tersebut adalah sebagai berikut; Pertama: Laporan Laki-laki kepada Tuan Guru atau Tokoh Masyarakat tentang telah terjadinya talak antara dia (suami) dengan istrinya. Kedua, melakukan budaya pecelekan yaitu mengembalikan perempuan kepada orangtuanya setelah terjadinya talak. Ketiga, menghilangkan tanggungjawab seorang suami pada istrinya yang tertalak setelah seorang laki-laki mentalak istrinya. Di Pulau Lombok, talak itu bisa membuat hubungan antara suami dan istri terhenti secara otomatis. Jadi, tidak ada lagi tanggungjawab bagi seorang suami setelah seorang suami mengucapkan talak pada istrinya. Padahal perpisahan pasangan dengan talak dalam Islam tidak menghilangkan tanggungjawab suami. Perempuan yang masih dalam masa iddah harusnya masih memperoleh hak-haknya. Tetapi di Lombok, Talak menyebabkan hak-hak istri yang tertalak hilang. Penelitian ini memberikan solusi sebagai berikut; pertama: melakukan sosialisasi secara terus-menerus pada masyarakat tentang hukum yang benar. Kedua, memberikan peran kepada tuan guru atau tokoh masyarakat untuk mengontrol hak-hak perempuan, sehingga budaya talak yang menghilangkan hak-hak perempuan tidak terulang Kembali di masyarakat Lombok.
      PubDate: 2022-06-26
      DOI: 10.21154/justicia.v19i1.3168
      Issue No: Vol. 19, No. 1 (2022)
       
  • MAQĀSI} D AL-SHARĪA IN THE STUDY OF HADITH AND ITS IMPLICATION FOR THE
           RENEWAL OF ISLAMIC LAW: Study on Jasser Auda’s Thought

    • Authors: Ahmad Syafi'i Sulaiman Jamrozi, Suad Fikriawan, Syamsul Anwar, Misnen Ardiansyah
      Pages: 74 - 93
      Abstract: This article examines Jasser Auda’s maqa>s}id approach to studying hadith and its implications for the renewal of Islamic law. Generally speaking, one way to gain a closer understanding of the purpose of the hadi@ th is through contextualizing the Prophetic narrations (hadi@th), primarily when the scripture cannot be understood textually. Using a descriptive-analytic and critical approach, this study showed that the conception of Auda’s maqa>s}id could solve the problem. First, Auda, in this terms, offers a way of reading the scripture based on the intent in applying Islamic law and how its implications when maqa>s}id are a primary consideration in reading and applying the law. Second, the theoretical approach as a result of Auda’s academic research is the validation of several ijtihad methodologies which will practically produce the Anthropocentric Maqa> s} id, namely the Maqa> s} id model considering the development of world governance thinking within the framework of nation-states on the one hand, and making human values such as freedom, equality, justice, democracy as a source of mas} lah} ah on the other. The logical consequence of this Anthropocentric maqas}id idea necessitates drawing legal conclusions (istinbath al-ahkam) based on mas}lah}ah, no longer on the text.Artikel ini bertujuan untuk mengkaji pendekatan maqas}id Jasser Auda dalam kajian hadis dan implikasinya bagi pembaruan hukum Islam. Secara umum, untuk lebih memahami tujuan hadts, salah satu cara yang dapat ditempuh adalah melalui kontekstualisasi riwayat-riwayat Nabi (hadith), terutama ketika kitab suci tidak dapat dipahami secara tekstual. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif-analitik dan kritis, penelitian ini menunjukkan bahwa konsepsi maqas}id Auda dapat menjadi solusi dari permasalahan tersebut. Pertama, Auda dalam hal ini menawarkan cara membaca kitab suci berdasarkan niat dalam penerapan hukum Islam dan bagaimana implikasinya ketika maqas}id menjadi pertimbangan utama dalam membaca dan menerapkan hukum. Kedua, Pendekatan teoritis sebagai hasil penelitian akademis Auda adalah validasi dari beberapa metodologi ijtihad yang secara praktis akan menghasilkan Maqāsid Antroposentris, yaitu model Maqas}id yang mempertimbangkan perkembangan pemikiran tata kelola dunia dalam kerangka negara-bangsa di satu sisi, dan menjadikan nilai-nilai kemanusiaan seperti kebebasan, kesetaraan, keadilan, demokrasi sebagai sumber mas}lah}ah di sisi lain. Konsekuensi logis dari pemikiran maqas}id Antroposentris ini mengharuskan penarikan kesimpulan hukum (istinbath al-ahkam) berdasarkan mas}lah}ah, bukan lagi pada teks.
      PubDate: 2022-06-26
      DOI: 10.21154/justicia.v19i1.3269
      Issue No: Vol. 19, No. 1 (2022)
       
  • Public Perception and Effectiveness of Punishment for Khalwat Perpetrators
           in Aceh

    • Authors: Bastiar Bastiar, Asmuni Asmuni, Bukhari Bukhari
      Pages: 94 - 112
      Abstract: This study examines the public’s perception of khalwat and the effectiveness of punishment against perpetrators’ violation of khalwat in Aceh. This study is a normative-empirical study with qualitative data. Data sources are the Constitution of 1945, Law No. 1 of 1946 concerning the Criminal Code, Law No. 8 of 1981 concerning the Criminal Procedure Code, and Qanun Aceh No. 6 of 2014 concerning the Jinayat Law. Field data are sourced from the community, leaders, religious leaders, academics, the Syar’iyah Court, and khalwat perpetrators. The results showed that generally, the community supports the establishment of the rule of jinayat khalwat for the sake of benefit. The establishment of Qanun Jinayat reflects the Islamic life of the Acehnese people so that the protection of self-respect and their families is inseparable. The application of penalties for khalwat violations has not been effective in all regions of Aceh province. However, some areas implement the punishment effectively, proven by the decrease in cases of khalwat violations. However, the application of punishment to khalwat perpetrators did not positively affect other parts of the region—the number of jinayat khalwat that occurred increased. Therefore, punishment for khalwat perpetrators must be able to change the perpetrator’s behavior and become a lesson for the general public. Moreover, the government is advised to be more aggressive in socializing this Qanun. This research provides information and input for the government, law enforcement, and the community in Aceh.Penelitian ini mengkaji persepsi masyarakat tentang khalwat dan efektivitas hukuman terhadap pelaku pelanggaran khalwat di Aceh. Kajian ini adalah kajian normatif-empiris dengan jenis data kualitatif. Data dokumen berupa peraturan perundang-undangan, Sementara data lapangan bersumber dari masyarakat, tokoh, agama, akademisi, Mahkamah Syar’iyah dan pelaku khalwat. Hasil penelitian menunjukkan; umumnya masyarakat mendukung pembentukan aturan jinayat khalwat demi kemaslahatan. Pembentukan Qanun Jinayat merupakan refleksi kehidupan masyarakat Aceh yang Islami sehingga perlindungan terhadap kehormatan diri dan keluarganya tidak dapat dipisahkan. Umumnya masyarakat mendukung pembentukan aturan jinayat khalwat demi kemaslahatan. Pembentukan Qanun Jinayat merupakan refleksi kehidupan masyarakat Aceh yang Islami sehingga perlindungan terhadap kehormatan diri dan keluarganya tidak dapat dipisahkan. Penerapan hukuman terhadap pelanggaran Khalwat belum efektif di semua daerah di provinsi Aceh, meski demikian ada sebagian wilayah yang efektif jika dilihat dari penurunan kasus. Namun, penerapan hukuman terhadap pelaku khalwat tidak memberikan efek positif di sebagian wilayah yang lain. Jumlah jinayat khalwat yang terjadi justru meningkat. Karenanya, hukuman bagi pelaku khalwat harus mampu merubah prilaku pelaku, menjadi pelajaran bagi masyarakat umum, dan pemerintah disarankan lebih gencar mensosialisasikan Qanun ini, khususnya sosialisasi terhadap pengaturan, hikmah pelarangan khalwat dan dampak buruk khalwat. Penelitian ini menjadi informasi dan masukan bagi pemerintah, penegak hukum dan masyarakat di Aceh.
      PubDate: 2022-06-26
      DOI: 10.21154/justicia.v19i1.3304
      Issue No: Vol. 19, No. 1 (2022)
       
  • A DISCOURSE OF MABIMS NEW CRITERIA: Reading Difference Frequency Between
           Wujud al-Hilal and Imkan ar-Rukyat

    • Authors: Shofwatul Aini
      Pages: 113 - 131
      Abstract: In determining the beginning of the month of the Hijri calendar, the Indonesian government has used the criterion of crescent visibility (Imkan ar-Rukyat) adopted from the MABIMS agreement. This criterion has three conditions. Namely, the crescent should be at least at 20; the elongation is minimum at 30; the age of the crescent must be more than eight hours after conjunction. In August 2016, MABIMS made a great deal to revise this criterion. The new criterion has two conditions. Namely, the crescent should be at least 30, and the elongation is minimum at 6,40. This new criterion is planned to apply in Indonesia for the next few years and is wished to be accepted by all communities. The emergence of this new criterion leads to two main questions. First, how many frequencies of differences between this new criterion compared to the Wujud al-Hilal criterion, and the second is how if this new criterion is applied in Indonesia. This research used the elevation of the crescent to determine the frequency of differences between the new criterion compared to the Wujud al-Hilal criterion. It then analyzed it based on the former and the new criterion of the Imkan ar-Rukyat and the Wujud al-Hilal. The result shows significant differences between the new and Wujud al-Hilal criterion. If this new criterion is used in Indonesia, the togetherness of the beginning of the month of the Hijri calendar will decrease.Dalam menentukan awal bulan hijriyah, pemerintah Indonesia telah lama menggunakan kriteria Imkan ar-Rukyat yang diadopsi dari MABIMS yaitu syarat minimal tinggi hilal 20, sudut elongasi minimal 30, dan umur hilal minimal 8 jam setelah ijtimak. Pada bulan Agustus 2016 MABIMS telah menyepakati kriteria tersebut untuk direvisi dengan kriteria yang baru yaitu syarat awal bulan adalah tinggi hilal minimal 30, dan elongasi minimal 6,40. Kriteria yang baru ini rencananya akan diberlakukan di Indonesia dan diharapkan dapat diterima oleh semua pihak. Dengan adanya kriteria baru ini, ada dua rumusan masalah yang ingin diteliti lebih lanjut yaitu yang pertama adalah bagaimana frekuensi perbedaan kriteria baru ini dengan kriteria Wujud al-Hilal, dan yang kedua adalah bagaimana kriteria baru ini jika diterapkan di Indonesia. Untuk mengetahui frekuensi perbedaan kriteria baru ini dengan kriteria Wujud al-Hilal, penelitian ini menganalisisnya berdasarkan data timggi hilal dengan menggunakan acuan tiga kriteria yaitu Wujud al-Hilal, Imkan ar-Rukyat MABIMS yang lama, dan Imkan ar-Rukyat MABIMS yang baru. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa frekuensi perbedaan kriteria Imkan ar-Rukyat yang baru dengan kriteria Wujud al-Hilal semakin banyak. Selanjutnya jika kriteria Imkan ar-Rukyat MABIMS yang baru ini diterapkan di Indonesia, maka potensi kebersamaan dalam awal bulan hijriyah di Indonesia akan semakin berkurang
      PubDate: 2022-06-28
      DOI: 10.21154/justicia.v19i1.3394
      Issue No: Vol. 19, No. 1 (2022)
       
  • THE IMPLEMENTATION OF GENDER-RESPONSIVE FIQH: A Study of Model Application
           of Women-Friendly and Child Care Village In Post-Covid-19 Pandemic

    • Authors: Ahmad Muhtadi Anshor, Muhammad Ngizzul Muttaqin
      Pages: 132 - 152
      Abstract: Amid the gender-responsive movement, this study attempts to address issues in Islamic jurisprudence (fiqh). This is because fiqh products appear unable to address contemporary issues, particularly those affecting women and children. The frequent sexual and domestic abuse and women's slower acceleration than men are some of the issues women face today. Meanwhile, the current children in Indonesia are also experiencing various pressures with the many problems of violence against them. Worse yet, when Indonesia encounters health problems and the severity of Covid-19, Indonesia also faces the problem of women’s and children’s welfare. To overcome this problem, the Ministry of Women's Empowerment and Child Protection (Kemen PPPA) and the Ministry of Villages, Development of Disadvantaged Regions, and Transmigration (Kemendesa PDTT) have declared a Movement to Increase Women's Involvement through Women-Friendly and Child-Care Village. After the Covid-19 emergency, this movement is one of the synergistic efforts to achieve the Sustainable Development Goals (SDGs) in every town. This study of Islamic law is classified as a reaction to societal issues. This study focusing on literature studies finds that implementing women-friendly and child-care villages represents the responsive ijtihad fiqh methodology support in developing fiqh towards gender responsiveness.Kajian ini bertujuan untuk menjawab tantangan terhadap hukum Islam (fiqih) di tengah gerakan responsif gender. Hal ini dikarenakan produk fiqih selama ini masih terkesan belum bisa merespon problematika kontemporer, khususnya problematika perempuan dan anak. Beberapa problematika yang dialami oleh perempuan saat ini adalah maraknya kekerasan seksual maupun kekerasan dalam rumah tangga serta akselerasi perempuan yang masih terbatas dibandingkan dengan laki-laki. Sementera itu, kondisi anak di Indonesia saat ini juga mengalami berbagai tekanan dengan banyaknya problematika kekerasan terhadap anak. Lebih parah lagi ketika Indonesia dihadapkan dengan problem kesehatan dan ganasnya Covid-19, Indonesia juga dihadapkan dengan problem kesejahteraan perempuan dan anak. Sehingga untuk mengatasi problem tersebut, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) bersama Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendesa PDTT) telah mendeklarasikan Gerakan Peningkatan Keterlibatan Perempuan Melalui Desa Ramah Perempuan dan Desa Peduli Anak. Gerakan ini menjadi salah satu upaya sinergi mewujudkan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) di setiap desa pasca darurat Covid-19. Upaya ini dalam kajian hukum Islam dikategorikan sebagai bentuk respon atas problematika yang ada di masyarakat. Kajian yang menitikberatkan pada studi pustaka ini menemukan bahwa implementasi desa ramah perempuan dan peduli anak adalah representasi dari metodologi ijtihad fiqih responsif. Pada aspek praktis, temuan dalam kajian ini memiliki kontribusi dalam perumusan kebijakan yang berorientasi pada keramahan terhadap perempuan dan anak yang kemudian menjadi alternatif dan sandaran dalam pengembangan fiqih menuju responsif gender.
      PubDate: 2022-06-28
      DOI: 10.21154/justicia.v19i1.3705
      Issue No: Vol. 19, No. 1 (2022)
       
  • HUMAN RIGHTS AND ISLAMIC LAW DISCOURSE: The Epistemological Construction
           of Abul A’la Al-Maududi, Abdullahi Ahmed An-Naim, and Mashood A. Baderin
           

    • Authors: Siti Rohmah, Moh Anas Kholish, Andi Muhammad Galib
      Pages: 153 - 170
      Abstract: This study aims to analyze the epistemological construction of human rights from the orthodox perspective of Al-Maududi, the liberalism perspective of An-Na'im, and the moderatism perspective of Baderin. This study uses library research with a descriptive-qualitative approach. This study shows that the presence of Al-Maududi's human rights orthodoxy seeks to campaign that the concept of human rights owned by Islam is far more humanistic than the ones campaigned for and standardized by the Western. On the other hand, the presence of liberalism belief moderated by Abdullahi Ahmad An-Na'im strives to fight for Islamic human rights, which can comply with the human rights standards of the Western. The standardization of An-Na'im's liberalism departs from the view that human beings are the measure of everything. Therefore, that human rights liberalism is anthropocentric and secular. In the middle of those two different points of view about human rights, Mashood A. Baderin tried to mediate Islam and human rights harmoniously. For Baderin, instead of making those two piles contradict, they should be synergized with each other. Theoretically and practically, this article offers a discourse between the dialectical discourse of Islamic and western human rights.Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana konstruksi epistemologi ortodoksi HAM dalam perspektif Al-Maududi, konstruksi epistemologi liberalisme HAM dalam perspektif An-Na’im, serta konstruksi epistemologi moderatisme HAM dalam pandangan Baderin. Penelitian ini merupakan penelitian  kepustakaan dengan pendekatan deskriptif-kualitatif. Adapun hasil dari studi ini menunjukkan bahwa kehadiran ortodoksi HAM Al-Maududi berupaya mengkampanyekan bahwa konsep HAM yang dimiliki Islam merupakan konsep HAM yang jauh lebih humanis ketimbang HAM yang dikampanyekan dan distandarkan oleh Barat. Sebaliknya, kehadiran liberalisme HAM ala Abdullahi Ahmad An-Na’im berupaya memperjuangkan bahwa HAM Islam harus mengikuti standar HAM yang dimiliki oleh Barat. Standarisasi liberalisme HAM An-Na’im berangkat dari pandangan yang menjadikan manusia sebagai ukuran dari segala sesuatu. Oleh karena itu, liberalisme HAM bersifat antroposentris dan sekuler. Di tengah kedua kutub pemikiran HAM yang berbeda tersebut, Mashood A. Baderin berusaha mendudukkan Islam dan HAM secara harmonis. Bagi Baderin, keduanya tidak harus dipertentangkan, melainkan disinergikan satu sama lain. Secara teoritis dan praktis, artikel ini menawarkan sebuah diskursus antara wacana HAM Islam dan barat yang dialektis.
      PubDate: 2022-07-01
      DOI: 10.21154/justicia.v19i1.3282
      Issue No: Vol. 19, No. 1 (2022)
       
  • Collaborative Governance in The Jogja Berwakaf Movement

    • Authors: Mahmudi Mahmudi, Danang Wahyu Muhammad
      Pages: 171 - 193
      Abstract: This research aimed to look into the collaborative governance model proposed by the Jogja Berwakaf Movement in the Special Region of Yogyakarta (DIY). Data mining is based on primary and secondary legal sources linked to waqf governance employing empirical juridical research methodologies and transformational approaches. Meanwhile, a qualitative descriptive model was employed to analyze the data. The study’s findings demonstrate that the Jogja Berwakaf Movement’s program has successfully mobilized government and private partners in the DIY to collaborate and collaborate to address the community’s socioeconomic difficulties. The Jogja Berwakaf Movement has raised awareness of waqf productivity’s significance in speeding economic growth, socio-economic empowerment, and poverty alleviation. This movement resulted in a variety of program models, including the collection of innovative waqf through waqf auctions, literacy and education of waqf to the community through the ‘Kopi Luwak’ and ‘Kopi Lawak’ events, digitization of waqf integrated with poverty data in Sleman Regency, waqf corner at KUA throughout DIY through integrated waqf application and various other collaboration-based socialization, collection, and distribution programs of waqf. Through this collaborative movement, waqf governance is more optimal and directed, and the multiplayer effect is getting bigger. From the results of this study, apart from contributing to the acceleration of waqf governance in the regions, it can also become a rule model for sustainable waqf governance in Indonesia.Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi model tata kelola kolaboratif yang dikembangkan Gerakan Jogja Berwakaf di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Dengan menggunakan metode penelitian yuridis empiris dan pendekatan transformatif, penggalian data dilakukan berdasarkan sumber bahan hukum primer maupun sekunder yang terkait dengan tata kelola wakaf. Sementara analilis data menggunakan model deskriptif kualitattif. Hasil penelitian menunjukan bahwa program yang jalankan Gerakan Jogja Berwakaf telah berhasil menggerakkan para stakeholder pemerintah maupun swasta di DIY untuk bersinergi dan bergerak bersama mengatasi permasalahan sosial ekonomi masyarakat. Gerakan Jogja Berwakaf telah berhasil menggugah kesadaran akan pentingnya produktivitas wakaf dalam percepatan pertumbuhan ekonomi, pemberdayaan sosial ekonomi dan pengentasan kemiskinan. Gerakan ini menghasilkan berbagai model program, diantaranya penghimpunan wakaf inovatif melalui lelang wakaf, literasi dan edukasi wakaf kepada masyarakat melalui event ‘Kopi Luwak’ dan ‘Kopi Lawak’, digitalisasi wakaf yang terintegrasi dengan data kemiskinan di Kabupaten Sleman, wakaf corner di KUA se DIY melalui aplikasi wakaf terpadu, dan berbagai program sosialisasi, penghimpunan dan distribusi wakaf berbasis kolaborasi lainnya. Melalui gerakan kolaborasi ini tata kelola wakaf lebih optimal, terarah dan multiplayer effectnya semakin besar. Dari hasil penelitian ini selain berkontribusi pada akselerasi tata kelola wakaf di daerah juga dapat menjadi rule model tata kelola wakaf berkelanjutan di Indonesia.
      PubDate: 2022-06-30
      DOI: 10.21154/justicia.v19i1.3759
      Issue No: Vol. 19, No. 1 (2022)
       
 
JournalTOCs
School of Mathematical and Computer Sciences
Heriot-Watt University
Edinburgh, EH14 4AS, UK
Email: journaltocs@hw.ac.uk
Tel: +00 44 (0)131 4513762
 


Your IP address: 18.208.126.232
 
Home (Search)
API
About JournalTOCs
News (blog, publications)
JournalTOCs on Twitter   JournalTOCs on Facebook

JournalTOCs © 2009-