Subjects -> LAW (Total: 1397 journals)
    - CIVIL LAW (30 journals)
    - CONSTITUTIONAL LAW (52 journals)
    - CORPORATE LAW (65 journals)
    - CRIMINAL LAW (28 journals)
    - CRIMINOLOGY AND LAW ENFORCEMENT (161 journals)
    - FAMILY AND MATRIMONIAL LAW (23 journals)
    - INTERNATIONAL LAW (161 journals)
    - JUDICIAL SYSTEMS (23 journals)
    - LAW (843 journals)
    - LAW: GENERAL (11 journals)

JUDICIAL SYSTEMS (23 journals)

Showing 1 - 15 of 15 Journals sorted alphabetically
American Business Law Journal     Hybrid Journal   (Followers: 23)
Australian Journal of Maritime and Ocean Affairs     Hybrid Journal   (Followers: 7)
Berkeley Journal of Middle Eastern & Islamic Law     Open Access  
Court Review : The Journal of the American Judges Association     Open Access   (Followers: 1)
De Jure: Jurnal Hukum dan Syar'iah     Open Access   (Followers: 1)
European Journal of Health Law     Hybrid Journal   (Followers: 7)
Industrial Law Journal     Hybrid Journal   (Followers: 29)
International Comparative Jurisprudence     Open Access   (Followers: 2)
Judicature     Full-text available via subscription   (Followers: 3)
Justice System Journal     Hybrid Journal   (Followers: 5)
Justicia Islamica     Open Access  
Medical Law Review     Hybrid Journal   (Followers: 26)
Washington University Jurisprudence Review     Open Access   (Followers: 3)
Windsor Yearbook of Access to Justice     Open Access   (Followers: 3)
Zeitschrift für öffentliches Recht     Hybrid Journal   (Followers: 20)
Similar Journals
Journal Cover
De Jure: Jurnal Hukum dan Syar'iah
Number of Followers: 1  

  This is an Open Access Journal Open Access journal
ISSN (Print) 2085-1618 - ISSN (Online) 2528-1658
Published by UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Homepage  [13 journals]
  • Kritik Hukum Alasan Poligami dan Perceraian Sebab Istri Tidak Dapat
           Memberikan Keturunan

    • Authors: Leni Anggraeni, Dudi Badruzaman
      Abstract: Abstract: This study aims to find out what it means for a husband to divorce his wife and have polygamy on the grounds that the wife cannot have children, and this decision is in accordance with the laws and regulations in Indonesia, namely Law no. 1 of 1974 Article 4 paragraph 2 letter a which states that a husband can only practice polygamy if the wife cannot carry out her obligations as a wife, has a physical disability or an incurable disease, or cannot give birth to offspring. The method used in this research is through a normative juridical approach, with the type of qualitative research and library research. With the source of data taken from primary data in the form of decisions, and interviews of judges and secondary data obtained by conducting a literature study on documents related to the problem posed. The data collection technique in this research is by analyzing the contents of the decision and the results of the interviews which are transcribed into writing. The results of this study Based on Islamic law, the decision made by the Panel of Judges in granting the polygamy permit application was not in accordance with the maslahah criteria. The result of this decision is to prioritize and take the larger madlarat and reject the lighter madlarat. This is not in line with the objectives of the shari'ah itself.Keywords: Law; Divorce; Offspring.Abstrak:Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dimaksud suami boleh menceraikan istri dan berpoligami dengan alasan istri tidak bisa memiliki keturunan, dan putusan ini sudah sesuai dengan peraturan perundang-undangan di Indonesia yakni UU No. 1 tahun 1974 Pasal 4 ayat 2 huruf a yang menyatakan bahwa suami baru boleh melaksanakan poligami apabila isteri tidak bisa menjalankan kewajibannya sebagai isteri, cacat pisik atau penyakit yang tak dapat disembuhkan, atau tidak bisa melahirkan keturunan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah melalui pendekatan Yuridis Normatif, dengan jenis penelitian kualitatif dan penelitian kepustakaan. Dengan sumber data yang diambil dari data primer berupa putusan, dan wawancara hakim dan data sekunder diperoleh dengan mengadakan studi kepustakaan atas dokumen-dokumen yang berhubungan dengan masalah yang diajukan. Adapun teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah  dengan cara menganalisa isi putusan dan hasil wawancara yang ditranskip ke dalam tulisan. Hasil dari penelitian ini Berdasarkan Hukum Islam, putusan yang ditetapkan oleh Majelis Hakim dalam mengabulkan permohonan ijin poligami tersebut tidak sesuai dengan kriteria maslahah. Hasil dari putusan ini lebih mengedepankan dan mengambil madlarat yang lebih besar dan menolak madlarat yang lebih ringan. Hal ini tidak sejalan dengan tujuan syari’at itu sendiri.Kata Kunci: Hukum; Perceraian; Keturunan.
      PubDate: 2022-01-01
      DOI: 10.18860/j-fsh.v13i2.12905
      Issue No: Vol. 13, No. 2 (2022)
       
  • Analisis Kritis Pengaturan Sistem Resi Gudang dalam Mendukung Sektor
           Pertanian di Indonesia

    • Authors: Khoirul Hidayah
      First page: 156
      Abstract: Abstract: The Warehouse Receipt System (WRS) is a form of state protection for farmers in Indonesia. Through WRS, farmers can access capital and obtain proper selling prices of agricultural commodities. The implementation of WRS is still interesting to study, especially in Malang Regency. This article aims to analyze the factors of the ineffectiveness of WRS in Malang Regency in terms of legal benefit theory. This article is based on doctrinal law research with a sociological approach. The results showed that the implementation of WRS in Malang Regency has not been able to provide solutions to farmers' problems. The policies issued by the Ministry of Agriculture are easier and less costly. This study can be used as a recommendation for the government to review the WRS arrangements so that the legal objective of WRS to provide maximum benefit to farmers and society in general can be achieved.Keywords: warehouse receipt system; farmer; agriculture; policy.Abstrak: Sistem Resi Gudang (SRG) merupakan bentuk perlindungan negara terhadap petani di Indonesia. Melalui SRG petani dapat mengakses modal dan mendapatkan harga penjualan komiditas pertanian secara layak implementasi SRG masih menarik untuk dilakukan kajian, khususnya di Kabupaten Malang. Artikel ini bertujuan menganalisis factor kurang efektifnya SRG di Kabupaten Malang ditinjau dari teori kemanfaatan hukum. Artikel ini berdasarkan penelitian hukum doctrinal dengan pendekatan sosiologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi SRG di Kabupaten Malang belum mampu memberikan solusi bagi persoalan petani. Kebijakan yang dikeluarkan oleh Kementerian Pertanian lebih memudahkan dan tidak mengeluarkan banyak biaya. Kajian ini dapat dijadikan sebagai rekomendasi pemerintah untuk mengkaji ulang pengaturan SRG sehingga tujuan hukum SRG untuk memberikan kemanfaatan sebesar-besarnya bagi petani dan masyarakat pada umumnya dapat tercapai.Kata Kunci: sistem resi gudang; petani; pertanian; kebijakan.
      PubDate: 2022-01-01
      DOI: 10.18860/j-fsh.v13i2.13137
      Issue No: Vol. 13, No. 2 (2022)
       
  • Implementasi Kebijakan Pemenuhan Hak Beragama Penyandang Disabilitas oleh
           Negara Perspektif Maqashid Syariah

    • Authors: Noer Yasin
      First page: 170
      Abstract: Abstract: The fulfillment of the rights of persons with disabilities is a public concern. Various regulations have been issued to guarantee the rights of persons with disabilities. One of them is the right to have a body in the public space. However, the implementation of these regulations has not run optimally. This article aims to analyze the implementation of the policy on the religious rights of persons with disabilities and the factors that hinder its fulfillment. In addition, this article also describes what solution steps need to be taken in order to provide legal protection for the fulfillment of the right of worship accessibility for persons with disabilities in Malang City from a maqashid sharia perspective. This article is a doctrinal law research with a sociological approach. Primary data were obtained directly through interviews, while secondary data were obtained through documentation. The results of this study indicate that the state has protected the rights of persons with disabilities through Law Number 39 of 1999, Law Number 8 of 2016, Regional Regulation of Malang City Number 2 of 2014, Regional Regulation Number 4 of 1997. However, the implementation of this regulation encountered obstacles. because of the lack of socialization and coordination between the government and the community. The fulfillment of the right of accessibility for persons with disabilities in carrying out worship at the Malang City Mosque is part of the primary sharia maqashid, in particular maintaining religion (hifz al-din) and honoring persons with disabilities as human beings.Keywords: disabilites; religious right; maqashid syariah.Abstrak: Pemenuhan hak penyandang disabilitas menjadi perhatian masyarakat. Berbagai regulasi telah dikeluarkan untuk menjamin hak-hak penyandang disabilitas. Salah satunya adalah hak beribadan di ruang public. Namun, implementasi peraturan tersebut belum berjalan maksimal. Artikel ini bertujuan menganalisis pelaksanakaan kebijakan hak beragama penyandang disabilitas dan faktor-faktor penghambat pemenuhannya. Selain itu, artikel ini juga mendeskripsikan langkah solutif apa yang perlu diambil dalam rangka memberikan perlindungan hukum bagi pemenuhan hak aksesibilitas ibadah bagi penyandang disabilitas di Kota Malang perspektif maqashid syariah. Artikel ini merupakan penelitian hukum doctrinal dengan pendekatan sosiologis.  Data-data yang bersifat primer diperoleh secara langsung melalui wawancara sedangkan data sekunder diperoleh melalui dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa negara telah melindungi hak-hak penyandang disabilitas melalui Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999, Undang Nomor 8 Tahun 2016, Peraturan Daerah Kota Malang Nomor 2 Tahun 2014, Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 1997. Namun implementasi regulasi ini menemui kendala karena kurangnya sosialisasi dan koordinasi antara pemerintah dengan masyarakat. Pemenuhan hak aksesibilitas bagi penyandang disabilitas dalam melaksanakan ibadah di Masjid Kota Malang adalah merupakan bagian dari maqashid syariah primer, khususnya memelihara agama (hifz al-din) dan kehormatan penyandang disabilitas sebagai manusia.Kata Kunci: disabilitas; hak beragama; maqashid syariah.
      PubDate: 2022-01-01
      DOI: 10.18860/j-fsh.v13i2.14462
      Issue No: Vol. 13, No. 2 (2022)
       
  • “Fikih Wabah”: Menimbang Ulang Dilema Kebijakan Pemerintah Tentang
           Larangan Libur Hari Raya Tahun 2020-2021

    • Authors: Ahmad Muhtadi Anshor
      First page: 184
      Abstract: Abstract: This study aims to dicribe the dilemma of the Indonesian government's policy regarding the prohibition of going home the fiqh wabah approach. The existence of this policy dilemma is caused by the many different perceptions and understanding about the pandemic amongst the community. The difference in people's perceptions and understandings led to controversy about the existence of the homecoming ban policy. Based on the problems above, this literature-based study aims to describe and answer the dilemma of the prohibition of going home through the fiqh wabah approach. The fikih wabah is a new fiqh design with dimensions on a mashlahah-based approach model. Through in-depth discussion and analysis, this study found that the policy for the prohibition of going home for Eid in 2021 is the actualization of the concept of fiqh wabah, because the policy is based on prioritizing mafsadat prevention and subsequently taking mashlahah.Keywords: Fikih Wabah; Government Policy; Prohibition of Homecoming for Eid.Abstrak: Kajian ini bertujuan untuk mendeskripsikan adanya dilema kebijakan pemerintah Indonesia tentang pelarangan mudik lebaran melalui pendekatan fikih wabah. Dilema kebijakan ini disebabkan oleh adanya persepsi dan pemahaman masyarakat yang berbeda-beda. Perbedaan persepsi dan pemahaman masyarakat tersebut menimbulkan kontroversi tentang adanya kebijakan pelarangan mudik lebaran. Berdasarkan problematika di atas, kajian berbasis pustaka ini ingin menguraikan dan menjawab dilema kebijakan pelarangan mudik lebaran melalui pendekatan fiqih wabah. Fikih wabah adalah sebuah desain fikih baru yang berdimensi pada model pendekatan berbasis mashlahah. Melalui diskusi dan analisa yang mendalam, kajian ini menemukan bahwa kebijakan larangan mudik lebaran tahun 2021 merupakan aktualisasi dari konsep fikih wabah, karena kebijakan tersebut didasarkan pada pengambilan prioritas pencegahan mafsadat dan selanjutnya pengambilan mashlahah.Kata Kunci: Fikih Wabah; Kebijakan Pemerintah; Hari Raya.
      PubDate: 2022-01-01
      DOI: 10.18860/j-fsh.v13i2.12779
      Issue No: Vol. 13, No. 2 (2022)
       
  • Politik Hukum Pemulihan Ekonomi Nasional Akibat Pandemi Covid-19
           Perspektif Konstitusi Ekonomi

    • Authors: Mustofa Luthfi, Aditya Prastian Supriyadi
      First page: 203
      Abstract: Abstract :The Covid-19 pandemic has slowed the pace of economic growth in Indonesia. As a result, several business sectors in the community experienced a decline, so the state issued a legal policy to take steps to resolve it. Legal politics as a form of government policy in an effort to restore the national economy is a necessity. This article uses a type of normative juridical research method, with a statutory and conceptual approach, legal materials (primary, secondary, tertiary) are analyzed using the content analysis method. This article shows and emphasizes the urgency of the government's legal politics in efforts to recover the national economy due to the Covid-19 pandemic. In the process of its formation, it certainly requires a comprehensive, integrated and targeted policy set. The 1945 Constitution Article 22 paragraphs (1-3) provides space for the government to stipulate Perpu No. 1 of 2020 becomes Law No. 2 of 2020 as a legal umbrella in an effort to maintain the resilience of all elements of the nation from all threats that endanger the safety of the people of the nation and state. The role of the government's legal policy in national economic recovery has a central position in anticipating a fragile "system" and management. The national economic recovery policy cannot be separated from the legal politics policy itself, of course by taking into account the principles of prudence, good faith and full integrity and remains based on the principles of good governance, accountability, and transparency.Keyword: Legal Politics, Economic Recovery, Covid-19, Economic Constitution.Abstrak :Pandemi Covid-19 memperlambat laju pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Akibatnya beberapa sektor usaha bisnis di masyarakat mengalami penurunan, sehingga negara mengeluarkan kebijakan hukum untuk mengambil langkah penyelesaian. Politik hukum sebagai bentuk kebijakan pemerintah dalam upaya pemulihan ekonomi nasional menjadi keniscayaan. Artikel ini menggunakan jenis metode penelitian yuridis normatif, dengan pendekatan perundang-undangan dan konseptual, bahan hukum (primer, sekunder, tersier) dianalisis menggunakan metode content analysis. Artikel ini menunjukan dan menekankan urgensi politik hukum pemerintah dalam upaya pemulihan ekonomi nasional akibat pandemi Covid-19. Dalam proses pembentukannya tentu membutuhkan perangkat kebijakan yang komprehensif, terintegrasi dan tepat sasaran. Konstitusi UUD 1945 Pasal 22 ayat (1-3) memberikan ruang bagi pemerintah menetapkan Perpu No. 1 Tahun 2020 menjadi UU No. 2 Tahun 2020 sebagai payung hukum dalam upaya dan menjaga ketahanan seluruh elemen bangsa dari segala ancaman yang membahayakan keselamatan masyarakat bangsa dan negara. Peran kebijakan hukum pemerintah dalam pemulihan ekonomi nasional, memiliki kedudukan sentral guna mengantisipasi “sistem” dan manajeman yang rapuh. Kebijakan pemulihan ekonomi nasional tidak lepas dari kebijakan politik hukum itu sendiri, tentu dengan memperhatikan prinsip-prinsip kehati-hatian, itikad baik dan penuh integritas serta tetap berlandaskan pada asas tata kelola yang baik, akuntabilitas, dan transparansi.Kata Kunci : Politik Hukum, Pemulihan Ekonomi, Covid-19, Konstitusi Ekonomi.
      PubDate: 2022-01-01
      DOI: 10.18860/j-fsh.v13i2.10384
      Issue No: Vol. 13, No. 2 (2022)
       
  • Urgensi Pemahaman Terhadap Maqashid Al-Syari’ah dan Perubahan Sosial
           dalam Istinbath Al-Ahkam

    • Authors: Asa’ari Asa’ari, Zufriani Zufriani, Arzam Arzam, Doli Witro
      First page: 222
      Abstract: Abstract: Maqasid sharia is still one of the exciting study themes to be studied. Because of its development, the study of maqasid discourse is still in an effort to find the ideal form of the conceptual formulation. For this reason, this study will review the correlation between the understanding of maqasid sharia and social change as a necessity in an effort to do istinbath al-ahkam. This article uses a qualitative research method that uses authoritative references as primary sources and scientific publications as secondary sources of references which are then analyzed using descriptive-analytical methods. Three main points can be concluded from this article, namely: 1) the development of thought and social change influences the istinbath al-ahkam method of cases that are waqi’iyah; 2) understanding of social changes in society based on socio-anthropological aspects both in the Nubuwwah era and today is significant in maqasidi reasoning; 3) understanding maqashid sharia and social change is very urgent (essential) for a jurist, especially for the purposes of istinbath al-ahkam so that the legal conclusions drawn do not depend on a literal understanding of the text alone; Moreover, this legal case never happened in the time of the Prophet Muhammad p.b.u.h. is still alive, and it is difficult to find the text explicitly, and the resulting law can carry the spirit of the maqasid itself, namely masalih lil ‘ibad.Keywords: Maqashid Sharia; Social Change; Istinbath al-Ahkam.Abstrak: Maqasid al-syari’ah menjadi salah satu tema kajian yang menarik untuk dikaji. Sebab dalam perkembangannya, kajian diskursus maqasid masih dalam upaya mencari bentuk rumusan konsepsi yang ideal. Untuk itu, kajian ini akan mengulas korelasi antara pemahaman atas maqasid al-syari’ah dan perubahan sosial sebagai sebuah keharusan dalam upaya melakukan istinbath al-ahkam. Artikel ini menggunakan metode penelitian kualitatif yang menjadikan rujukan-rujukan otoritatif sebagai sumber primer dan publikasi-publikasi ilmiah sebagai sumber sekunder referensinya yang kemudian dianalisa dengan metode deskriptif-analitis. Ada tiga poin utama yang dapat menjadi kesimpulan artikel ini yaitu: 1) perkembangan pemikiran dan perubahan sosial mempunyai pengaruh terhadap cara istinbath al-ahkam atas kasus-kasus yang bersifat waqi’iyah; 2) pemahaman atas perubahan sosial masyarakat yang berbasis pada aspek sosio-antropologis baik pada masyarakat era nubuwwah maupun saat ini sangat penting dalam nalar maqasidi; 3) memahami maqashid al-syari’ah dan perubahan sosial menjadi sesuatu yang sangat urgen (penting) bagi seorang ulama ahli hukum terutama bagi keperluan istinbath al-ahkam sehingga kesimpulan hukum yang diambil tidak bergantung pada pemahaman nash secara literal semata; apalagi kasus hukum tersebut tidak pernah terjadi di zaman Rasulullah masih hidup, dan sulit dicari nash-nya secara eksplisit, serta hukum yang dihasilkan dapat membawa ruh dari maqasid itu sendiri yaitu masalih lil ‘ibad.Kata Kunci: Maqashid al- Syari’ah; Perubahan Sosial; Istinbath al-Ahkam.
      PubDate: 2022-01-01
      DOI: 10.18860/j-fsh.v13i2.13818
      Issue No: Vol. 13, No. 2 (2022)
       
  • Maqāṣid Sharī'ah Flexibility to Overcome COVID-19 in Indonesia:
           From Government Policies to Fatwā of Council of Indonesian Ulema (MUI),
           Nahdlatul Ulama (NU), and Muhammadiyah

    • Authors: Mashuri Mashuri, Iffatin Nur, Muhammad Ngizzul Muttaqin
      First page: 240
      Abstract: Abstract: Since its first appearance in Wuhan, China, the COVID-19 has become a worldwide concern, and now its impact as a pandemic has been felt globally. The number of cases, the death tolls, the steps that each country’s government must take, and the activities of social life that must be practiced by all people, among others, are interesting phenomena to study. This paper tries to examine from the Islamic perspective, regulations issued by the Indonesian Government and edicts issued by religious institutions and organizations in Indonesia, especially of the Indonesian Council of Ulema (MUI), Nahdlatul Ulama (NU), and Muhammadiyah, in response to the COVID-19 outbreak in Indonesia. This study is qualitative research with a discourse analysis that discusses the legal-socio-contextual aspects of the rules and fatwās/edicts with the maqāṣid sharī'ah (purposefulness of Islamic law) approach. The results show that the regulations and edicts are in accordance with fundamental values in the discourse of obtaining the objectives of Islamic law (maqāṣid sharī’ah), and the necessity to preserve one’s soul is prioritized over preserving one’s religion since practicing religious teachings can only be conducted whenever one’s soul is preserved.Keywords: Pandemic; COVID-19; Fatwā; Indonesian Regulation; Maqāṣid Sharī'ah. Abstrak: Sejak pertama kali muncul di Wuhan, China, COVID-19 telah menjadi perhatian dunia dan kini dampaknya sebagai pandemi sudah terasa secara global. Banyaknya kasus, jumlah korban meninggal, langkah-langkah yang harus diambil oleh pemerintah masing-masing negara, dan aktivitas kehidupan sosial yang harus dilakukan oleh semua orang menjadi fenomena yang menarik untuk dikaji. Tulisan ini mencoba mengkaji, dari perspektif Islam, peraturan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Indonesia dan fatwa yang dikeluarkan oleh lembaga dan organisasi keagamaan di Indonesia, khususnya Majelis Ulama Indonesia (MUI), Nahdlatul Ulama (NU), dan Muhammadiyah, dalam menyikapi mewabahnya COVID-19 di Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan analisis wacana yang membahas aspek legal-sosio-kontekstual terhadap aturan dan fatwa dengan pendekatan maqāṣid syari'ah (tujuan hukum Islam). Hasil penelitian menunjukkan bahwa peraturan dan fatwa tersebut sesuai dengan nilai-nilai fundamental dalam wacana pencapaian tujuan hukum Islam (maqāṣid syari'ah) dan keharusan memelihara jiwa lebih diutamakan daripada memelihara agama karena mengamalkan ajaran agama hanya dapat dilakukan manakala jiwa seseorang terpelihara.Kata Kunci: Pandemi; COVID-19; Fatwa; Peraturan Indonesia; Maqāṣid Sharī'ah.
      PubDate: 2022-01-01
      DOI: 10.18860/j-fsh.v13i2.13280
      Issue No: Vol. 13, No. 2 (2022)
       
  • Quo Vadis Pengecualian Kebijakan Dari Objek Gugatan di Pengadilan Tata
           Usaha Negara di Era Pandemi Covid-19

    • Authors: Ubaiyana Ubaiyana, Fajrul Falah
      First page: 264
      Abstract: Abstract: The issuance of Perppu Number 1 of 2020 in the midst of the Covid-19 pandemic, has invited a number of controversies. One of the articles that also received criticism was Article 27 paragraph (3). Article a quo negates every action, including decisions, is not the object of the PTUN lawsuit. This is clearly contrary to the principle of the rule of law which guarantees the protection of the law and human rights. PTUN is one of the means of legal protection and human rights for people who are harmed by decisions or actions of state administration. By examining library materials or secondary data and using legislation, concepts, and historical approaches, this article will focus on two problem formulations, namely whether all actions and decisions according to the Perppu are included in the object of the PTUN lawsuit' and why are these actions and decisions excluded from the object of the Administrative Court lawsuit' After conducting an in-depth investigation, the actions and decisions based on the Perppu are indeed the objects of the PTUN lawsuit, but theoretically-juridically the exceptions from the object of the lawsuit mandated by the Perppu are justified.Keywords: Policy; lawsuit; covid-19Abstrak: Lahirnya Perppu Nomor 1 Tahun 2020 di tengah pandemi Covid-19, mengundang sejumlah kontroversi. Salah satu pasal yang turut mendapat kecaman adalah Pasal 27 ayat (3). Pasal a quo menegaskan setiap tindakan termasuk keputusan bukan merupakan objek gugatan Peradilan Tata Usaha Negara (PTUN). Hal ini jelas bertentangan dengan prinsip negara hukum yang menjamin perlindungan hukum dan hak asasi manusia. PTUN menjadi salah satu sarana perlindungan hukum dan hak asasi manusia bagi masyarakat yang dirugikan akibat keputusan atau tindakan administrasi negara. Penelitian ini bertujuan menganalisis tindakan dan keputusan yang dapat dikecualikan dari objek gugatan kepada PTUN adalah yang berkaitan dengan penanganan pandemi Covid-19. Dengan meneliti bahan pustaka atau data sekunder, serta menggunakan pendekatan perundang-undangan, konsep, dan sejarah, artikel ini berfokus pada dua rumusan masalah yaitu apakah segala kebijakan dan keputusan menurut Perppu termasuk dalam objek gugatan PTUN' dan mengapa tindakan dan keputusan tersebut dikecualikan dari objek gugatan PTUN' Setelah melakukan penelusuran mendalam, tindakan dan keputusan berdasarkan Perppu memang merupakan objek gugatan PTUN, namun secara teoritis-yuridis pengecualian dari objek gugatan yang diamanatkan Perppu dibenarkan keberadaannya.  Kata Kunci: kebijakan; gugatan, covid-19.
      PubDate: 2022-01-01
      DOI: 10.18860/j-fsh.v13i2.12901
      Issue No: Vol. 13, No. 2 (2022)
       
  • Kontestasi Dewan Perwakilan Rakyat dan Mahkamah Konstitusi dalam
           Menyelesaikan Polemik Lembaga Penyelenggara Pemilu di Aceh

    • Authors: Zahlul Pasha Karim, Khairil Akbar, Ihdi Karim Makinara
      First page: 283
      Abstract: Abstract: This article tries to trace the steps of the House of Representatives which revoked two articles in Law Number 11 of 2006 concerning Aceh Governance, namely Article 57 and Article 60 paragraph (1), (2) and (4), which relate to the Aceh election institution through Law Number 7 of 2017 concerning General Elections. Later, the Constitutional Court's action was annulled by the Constitutional Court because it violated the formal procedure for amending the Aceh Governance Law. The research method was carried out normatively with two problem formulations, why did the House of Representative revoke two articles of the Aceh Governance Law related to election management institutions in Aceh without complying with and even violating the procedures regulated by the Aceh Governance Law as a special law' Why did the Constitutional Court annulled the revocation of the two articles and consider them unconstitutional' The result showed that the revocation of the two articles was carried out by the House of Representative for several reasons, namely removing the dualism of the election supervisory agency in Aceh and tidying up the structure of the election management body in Indonesia to comply with the provisions of Article 22E paragraph (5) of the Constitution of the Republic of Indonesia. In 1945 and strengthening election administration institutions in the face of simultaneous elections in 2019. Meanwhile, the steps were taken by the Constitutional Court to cancel the revocation of the two articles and judge them as unconstitutional because the House of Representative did not conduct consultations and asked the Aceh People's Representative Council for consideration in the revocation process.Keywords: Aceh Election Commission; Election Supervisory Committee; Aceh Governance Law; Election Law.Abstrak: Artikel ini bertujuan menelusuri langkah DPR yang mencabut dua pasal dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (UUPA), yakni Pasal 57 dan Pasal 60 ayat (1), (2) dan (4), yang berhubungan dengan lembaga penyelenggara pemilu di Aceh melalui Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum. Belakangan, pencabutan itu dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi karena dinilai inkonstitusional. Metode penelitian dilakukan secara normatif dengan dua rumusan masalah, mengapa DPR mencabut dua pasal UUPA terkait lembaga penyelenggara pemilu di Aceh tanpa mematuhi tata cara yang telah diatur oleh UUPA sebagai undang-undang khusus' Mengapa Mahkamah Konstitusi membatalkan pencabutan kedua pasal tersebut dan menilainya sebagai tindakan inkonstitusional' Adapun metode penelitian adalah hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan, teori, dan historis. Hasilnya diperoleh bahwa pencabutan kedua pasal tersebut dilakukan DPR karena beberapa alasan, yakni menghapus dualisme lembaga pengawas pemilu di Aceh dan menertibkan struktur lembaga penyelenggara pemilu di Indonesia agar sesuai dengan ketentuan Pasal 22E ayat (5) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Sementara langkah Mahkamah Konstitusi membatalkan pencabutan kedua pasal tersebut dan menilainya sebagai tindakan inkonstitusional dikarenakan DPR tidak melakukan konsultasi dan meminta pertimbangan DPRA dalam proses pencabutan.Kata Kunci: Dewan Perwakilan Rakyat; Mahkamah Konstitusi; Lembaga Pemilu Aceh; Undang-undang Pemilu.
      PubDate: 2022-01-01
      DOI: 10.18860/j-fsh.v13i2.13876
      Issue No: Vol. 13, No. 2 (2022)
       
  • Kontruksi Hukum Kebijakan Pembiayaan Infrastruktur Milik Negara Melalui
           Skema Non-APBN Untuk Mewujudkan Ketahanan Ekonomi Nasional

    • Authors: M. Rifqinizamy Karsayuda, Moh Fadli, Adi Kusumaningrum, Nurjannah Nurjannah
      First page: 310
      Abstract: Abstract:Indonesia needs a huge investment in infrastructure. Of the total funding needs for strategic infrastructure from year 2019 to 2024, it is projected that the country is only able to provide less than half. Hence, Indonesia needs to seek another source to finance its infrastructure. This research aims to review and provide input to the government on the construction of state-owned infrastructure financing policies to realize national economic resilience. Through legal construction methods using a statutory approach, a conceptual approach, and a multidisciplinary approach. The results of this study show that the right state-owned infrastructure financing model to realize national economic resilience is with the Non-APBN scheme, which is a cooperation between the government and all stakeholders. The infrastructure development is supported by the VfM (Value for Money) method, with a new financing scheme in the form of participation of the entire community through the issuance of securities by the sharia-based government. The development of infrastructure with the Non-State Budget scheme will maintain the country's financial stability and reduce the burden of dependence on foreign debt.Keywords: Infrastructure, Financing, Non-APBNAbstrak:Indonesia membutuhkan investasi Infrastuktur yang sangat besar. Dari total pendanaan ivestasi strategis infrastruktur untuk kurun waktu 2019 sampai dengan. 2024, pemerintah hanya mampu menyediakan pendanaan kurang dari separuhnya saja. Pemerintah perlu mencari alternatif sumber pendanaan lain guna mendanai kebutuhan infrastrukturnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan memberikan masukan kepada pemerintah terhadap konstruksi kebijakan pembiayaan infrastruktur milik negara untuk mewujudkan ketahanan ekonomi nasional. Melalui metode konstruksi hukum dengan menggunakan pendekatan perundang-undangan, pendekatan konseptual, dan pendekatan multidisipliner. Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa model pembiayaan infrastruktur milik negara yang tepat untuk mewujudkan ketahanan ekonomi nasional adalah dengan skema Non-APBN, yang merupakan kerjasama antara pemerintah dan seluruh stakeholders. Pembangunan  infrastruktur tersebut didukung dengan metode VfM (Value for Money), dengan skema pembiayaan baru berupa partisipasi seluruh masyarakat melalui penerbitan surat berharga oleh pemerintah yang berbasis syariah. Penerpan pembanguan infrastruktur dengan skema Non-APBN akan menjaga stabilitas keuangan negara dan mengurangi beban ketergantungan terhadap hutang luar negeri.Kata Kunci: Infrastruktur, Pembiayaan, Non-APBN
      PubDate: 2022-01-01
      DOI: 10.18860/j-fsh.v13i2.14533
      Issue No: Vol. 13, No. 2 (2022)
       
  • Bank Wakaf Mikro dan Pemberdayaan Usaha Mikro Kecil dan Menengah di
           Indonesia Perspektif Maqashid Syariah

    • Authors: Fakhruudin Fakhruudin, Ahmad Sidi Pratomo
      First page: 323
      Abstract: Micro Waqf Bank (BKM) is a form of community empowerment innovation through Islamic philanthropy. Even so, its development must still be measured using sharia principles so that it is in accordance with the teachings of Islam. This article aims to describe the potential and role of BKM in empowering Micro, Small and Medium Enterprises (MSMEs) in Indonesia. This article is based on empirical research with a conceptual approach. The location of this research is micro waqf bank located in three provinces, namely East Java, Yogyakarta, and West Nusa Tenggara. The results showed that the micro waqf bank which was the object of the research carried out financing through Corporate Social Responsibility (CSR) funds. The micro waqf banks studied are microfinance institutions that run their business activities based on sharia principles, so all agreements made must be guided by the DSN-MUI fatwa. Micro waqf banks participate in maintaining qasd al-syari' (God's purpose) through financing to their customers in order to realize prosperity.Bank Wakaf Mikro (BKM) merupakan wujud inovasi pemberdayaan masyarakat melalui filantropi Islam. Meskipun dmeikian perkembangannya harus tetap diukur menggunakan prinsip syariah agar sesuai dengan ajaran agama Islam. Artikel ini bertujuan  mendeskripsikan potensi  dan peran BKM  dalam pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil dan  Menengah   (UMKM) di  Indonesia.  Artikel ini  berdasarkan penelitian empiris dengan pendekatan konseptual. Lokasi penelitian ini adalah bank wakaf mikro yang berada di tiga provinsi yaitu Jawa Timur, Yogyakarta, dan Nusa Tenggara Barat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bank wakaf mikro yang menjadi objek penelitian melakukan pembiayaan melalui dana Corporate Social Responsibility (CSR). Bank wakaf mikro yang diteliti merupakan lembaga  keuangan  mikro  yang menjalankan kegiatan usahanya  berdasarkan  prinsip syariah, sehingga seluruh kesepakatan  yang dilakukan harus berpedoman pada fatwa DSN-MUI. Bank wakaf mikro turut menjaga qasd al-syari’ (tujuan Allah) melalui pembiayaan kepada nasabahnya agar terwujud kesejahteraan.
      PubDate: 2021-12-25
      DOI: 10.18860/j-fsh.v13i2.15485
      Issue No: Vol. 13, No. 2 (2021)
       
 
JournalTOCs
School of Mathematical and Computer Sciences
Heriot-Watt University
Edinburgh, EH14 4AS, UK
Email: journaltocs@hw.ac.uk
Tel: +00 44 (0)131 4513762
 


Your IP address: 34.239.147.7
 
Home (Search)
API
About JournalTOCs
News (blog, publications)
JournalTOCs on Twitter   JournalTOCs on Facebook

JournalTOCs © 2009-