A  B  C  D  E  F  G  H  I  J  K  L  M  N  O  P  Q  R  S  T  U  V  W  X  Y  Z  

  Subjects -> SCIENCES: COMPREHENSIVE WORKS (Total: 374 journals)
The end of the list has been reached or no journals were found for your choice.
Similar Journals
Journal Cover
Elkawnie : Journal of Islamic Science and Technology
Number of Followers: 0  

  This is an Open Access Journal Open Access journal
ISSN (Print) 2460-8912 - ISSN (Online) 2460-8920
Published by UIN Ar-Raniry Banda Aceh Homepage  [9 journals]
  • Synthesis of Reduced Graphene Oxide and Zinc Oxide Composite From
           Candlenut Shell Charcoal (Aleuritas moluccana)

    • Authors: Asri Saleh, Fadhil Asy’ari Amhadin, Iin Novianty
      Pages: 1 - 11
      Abstract: Abstract: Candlenut shell is one of the by-products of the hazelnut processing industry which has not been widely utilized. However, the carbon content from the candlenut shell can be used as charcoal, which has the potential as the base material for making reduced graphene oxide (GO) capacitance products. After the composite process, characterization of the rGO and its composites was carried out with FTIR and XRD instruments. The synthesis results obtained are combined with ZnO to determine the value of the electrical result. From FTIR characterization, it was found that C=C, C-O, and O-H functional groups were formed, and the XRD measurement resulted in a peak diffractogram at 2θ ⁓ 23,96°, which is typical for rGO material. The result of testing with a conductivity meter at a rGO-ZnO 0:1 ratio, produced a capacitance value of 4,72 mF, in terms of 1:2, 6,34 mF; 1:1, 7,36 mF; 2:1, 5,18 mF; and 1:0, 4,28 mF. The optimum ratio of rGO-ZnO with the highest capacitance value was found, which is the ratio of 1:1 with a capacitance value of 7,36 mF.Abstrak: Tempurung kemiri merupakan salah satu hasil samping dari industri pengolahan kemiri yang masih belum banyak dimanfaatkan secara luas. Akan tetapi kandungan karbon pada tempurung kemiri dapat dijadikan arang yang berpotensi sebagai salah satu bahan dasar pembuatan Grafena Oksida(GO) tereduksi. Hasil sintesis yang didapatkan dikompositkan dengan ZnO untuk mengetahui nilai kapasitansi yang dihasilkan. Setelah proses komposit, dilakukan karakterisasi terhadap rGO dan kompositnya dengan instrumen FTIR dan XRD kemudian diuji nilai kapasitansi elektrik yang dihasilkan dengan alat multimeter. Berdasarkan hasil karakterisasi FTIR, didapati terbentuk gugus C=C, C-O, O-H dan uji XRD menghasilkan nilai 2θ ⁓ 23,96o yang mengindikasikan rGO .Hasil pengujian dengan konduktimeter menghasilkan data perbandingan rGO-ZnO 0:1 menghasilkan nilai kapasitansi 4,72 mF, 1:2, 6,34 mF; 1:1, 7,36 mF; 2:1, 5,18 mF; dan 1:0, 4,28 mF. Diperoleh perbandingan optimum rGO-ZnO dengan nilai kapasitansi paling besar yaitu perbandingan 1:1 sebesar 7,36 mF.
      PubDate: 2022-10-07
      DOI: 10.22373/ekw.v8i1.9405
      Issue No: Vol. 8, No. 1 (2022)
       
  • Identification of Secondary Metabolites Compounds From Nampu (Homalomena
           rosrata Griff.)

    • Authors: Fahrauk Faramayuda, Luthfi Fauziah, Ari Sri Windyaswari, Julia Ratnawati
      Pages: 12 - 26
      Abstract: Abstract: Nampu (Homalomena rosrata Griff.) is traditionally used to increase sexual activity for men. However, the lack of scientific information on the phytochemical content of Nampu plants needs further research on the secondary metabolite compounds for isolation and identification purposes. The phytochemical screening of raw material, ethanol extract, and water fraction shows positive results for flavonoid, tannin, polyphenol, quinone, monoterpenoid-sesquiterpenoid, and steroid-triterpenoid groups. The chloroform fractions were monitored by the thin-layer chromatography (TLC) method with the addition of KOH 5%. The results showed a blue spot under UV light at 365 nm after the addition of KOH 5%. The fraction was purified by a preparative thin-layer chromatography method (TLC-P), while the isolates' purity was tested by the two-dimensional TLC method and TLC with three different phases of mobile phases. The results of the analysis with the spectrophotometer UV-Visible showed the wavelength of 278.8 nm and 213.2 nm. In addition, the functional group analysis using the I.R. spectrometer showed O.H. stretch at wave numbers 3419.79 cm-1, aromatic C-H at wave number 2922.16 cm-1, C = O at the wave number 1672.28 cm-1, strain C = C aromatic at the wave number 1585.49 cm-1. Based on TLC and spectrophotometric data, the isolates were coumarin compounds.Abstrak: Nampu (Homalomena rosrata Griff.) secara tradisional digunakan untuk meningkatkan aktivitas seksual pria. Namun, kurangnya informasi ilmiah tentang kandungan fitokimia tanaman Nampu, perlu penelitian lebih lanjut tentang senyawa metabolit sekunder untuk tujuan isolasi dan identifikasi. Penapisan fitokimia bahan baku, ekstrak etanol dan fraksi air menunjukkan hasil positif untuk golongan flavonoid, tanin, polifenol, kuinon, monoterpenoid-seskuiterpenoid, dan steroid-triterpenoid. Fraksi kloroform dipantau dengan metode kromatografi lapis tipis (KLT) dengan penambahan KOH 5%. Hasilnya menunjukkan bercak berwarna biru di bawah lampu U.V. 365 nm. Fraksi dimurnikan dengan metode kromatografi lapis tipis preparatif (KLT-P), sedangkan kemurnian isolat diuji dengan metode KLT dua dimensi dan KLT dengan tiga fase gerak yang berbeda. Hasil analisis dengan spektrofotometer UV-Visible menunjukkan panjang gelombang 278,8 nm dan 213,2 nm. Selain itu, analisis gugus fungsi menggunakan spektrometer infra merah menunjukkan adanya gugus OH, regangan pada bilangan gelombang 3419,79 cm-1, C-H aromatik pada bilangan gelombang 2922,16 cm-1, C = O pada bilangan gelombang 1672,28 cm-1, regangan C = C aromatik pada bilangan gelombang 1585,49 cm-1. Berdasarkan data KLT dan spektrofotometri, diduga isolat merupakan golongan senyawa kumarin.Nampu (Homalomena rosrata Griff.) secara tradisional digunakan untuk meningkatkan aktivitas seksual pria. Namun, kurangnya informasi ilmiah tentang kandungan fitokimia tanaman Nampu, perlu penelitian lebih lanjut tentang senyawa metabolit sekunder untuk tujuan isolasi dan identifikasi. Penapisan fitokimia bahan baku, ekstrak etanol dan fraksi air menunjukkan hasil positif untuk golongan flavonoid, tanin, polifenol, kuinon, monoterpenoid-seskuiterpenoid, dan steroid-triterpenoid. Fraksi kloroform dipantau dengan metode kromatografi lapis tipis (KLT) dengan penambahan KOH 5%. Hasilnya menunjukkan bercak berwarna biru di bawah lampu U.V. 365 nm. Fraksi dimurnikan dengan metode kromatografi lapis tipis preparatif (KLT-P), sedangkan kemurnian isolat diuji dengan metode KLT dua dimensi dan KLT dengan tiga fase gerak yang berbeda. Hasil analisis dengan spektrofotometer UV-Visible menunjukkan panjang gelombang 278,8 nm dan 213,2 nm. Selain itu, analisis gugus fungsi menggunakan spektrometer infra merah menunjukkan adanya gugus OH, regangan pada bilangan gelombang 3419,79 cm-1, C-H aromatik pada bilangan gelombang 2922,16 cm-1, C = O pada bilangan gelombang 1672,28 cm-1, regangan C = C aromatik pada bilangan gelombang 1585,49 cm-1. Berdasarkan data KLT dan spektrofotometri, diduga isolat merupakan golongan senyawa kumarin.
      PubDate: 2022-10-07
      DOI: 10.22373/ekw.v8i1.9511
      Issue No: Vol. 8, No. 1 (2022)
       
  • Analysis of The Physicochemical and Sensory Quality of Adee Cake During
           Storage

    • Authors: Ismail Sulaiman, Syarifah Rohaya, Muhammad Ichsan
      Pages: 27 - 41
      Abstract: Abstract: Cake is a wet food product made by baking dough from flour, sugar, eggs, milk, fat, and other additives. Adee cake is one of the typical foods marketed in the Pidie area, which is very famous and becomes one of the foods as souvenirs. The problem faced with this cake is the shelf life and quality of the cake. Therefore, this research was carried out about the physicochemical properties of Adee cake during the storage process and to observe the sensory properties. This study used a completely randomized design (CRD) with a non-factorial pattern, namely storage time consisting of (0, 1, 2, 3, and 4 days) with three repetitions. Further tests of DMRT will follow the analysis of variance ANOVA in this study. The results of the hardness analysis obtained an average of 51.43 gf. The color analysis showed that the average coefficient value was 111 on the top and 252 on the inside showing a very significant difference. Chemical analysis obtained the average, namely, water content 39.30%, ash content 0.79%, fat content 7.94%, protein content 1.82%, crude fiber content 0.70%, and carbohydrates 49.76%, showed a very significant difference (P≤0.01). The organoleptic test analysis (hedonic) obtained the average, namely, color 3.63, texture 3.29, flavor 3.64, taste 3.30, and overall 3.46 showed a very significant difference (P≤0.01).Abstrak: Cake merupakan salah satu produk makanan semi-basah yang dibuat dengan pemanggangan adonan dari tepung, gula, telur, susu, lemak dan bahan tambahan lainnya. Cake adee ini merupakan salah satu makanan khas yang dipasarkan di daearah Pidie, yang sangat terkenal dan menjadi salah satu makanan sebagai oleh-oleh, problem yang dihadapi pada cake ini adalah masa simpan dan kualitas dari kue tersebut, oleh karena itu dilakukan penelitian tentang  sifat fisikokimia kue Adee selama proses penyimpanan dan mengamati sifat sensorisnya. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan pola non faktorial yaitu lama penyimpanan yang terdiri dari (0, 1, 2, 3, dan 4 hari) dengan tiga kali pengulangan. Selanjutnya uji DMRT akan mengikuti analisis varians ANOVA pada penelitian ini. Hasil analisis kekerasan diperoleh rata-rata 51,43 gf, hasil analisis warna menunjukkan nilai koefisien rata-rata 111 pada bagian atas dan 252 pada bagian dalam menunjukkan perbedaan yang sangat signifikan. Analisis kimia diperoleh rata-rata kadar air 39,30%, kadar abu 0,79%, kadar lemak 7,94%, kadar protein 1,82%, kadar serat kasar 0,70%, dan karbohidrat 49,76%, menunjukkan perbedaan yang sangat nyata (P≤0,01). Uji organoleptik (hedonik) diperoleh rata-rata yaitu warna 3,63, tekstur 3,29, rasa 3,64, rasa 3,30, dan keseluruhan 3,46 menunjukkan perbedaan yang sangat nyata (P≤0,01).
      PubDate: 2022-10-07
      DOI: 10.22373/ekw.v8i1.10239
      Issue No: Vol. 8, No. 1 (2022)
       
  • The Assessment of Seawater Intrusion on The North Coast of Aceh Besar: A
           Surface Water and Well Water Study

    • Authors: Muhammad Irham, Ilhamsyah Putra, Irwansyah Irwansyah, Ichsan Setiawan, Ichsan Rusdi
      Pages: 42 - 53
      Abstract: Abstract: Groundwater that is used excessively in coastal areas will have an impact on the entry of salt water into groundwater so that groundwater becomes salty, a process called seawater intrusion. This study aims to determine the spatial distribution of seawater intrusion on the north coast of Aceh Besar. The method used in this study is a random and purposive sampling method on resident well water and surface water in both high and low tide conditions. The collected data was visualized using ArcGIS in the form of a spatial map. The results of the study show that the north coast of Aceh Besar in the eastern part has experienced seawater intrusion, while in the west it has the potential for seawater intrusion. Meanwhile, the salinity level for well water used daily is brackish, so it cannot be used for drinking water and other hygiene needs. The result of the correlation test between salinity and distance shows that salinity is not influenced by distance with a value of 4.17%. However, it is influenced by other factors such as land subsidence due to aquaculture activities and the nature of the rocks that make up the aquifer with a value of 95.83%.Abstrak: Air tanah yang dimanfaatkan secara berlebihan di daerah pesisir akan berdampak pada masuknya air asin ke dalam air tanah sehingga air tanah menjadi asin yang disebut dengan intrusi air laut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sebaran spasial intrusi air laut di pantai utara Aceh Besar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode random dan purposive sampling pada air sumur penduduk dan air permukaan baik pada kondisi pasang maupun surut. Data yang terkumpul divisualisasikan menggunakan ArcGIS dalam bentuk peta spasial. Hasil kajian menunjukkan bahwa pantai utara Aceh Besar di bagian timur telah mengalami intrusi air laut, sedangkan di bagian barat berpotensi terjadi intrusi air laut. Sementara tingkat salinitas untuk air sumur yang digunakan sehari-hari adalah payau sehingga tidak dapat digunakan untuk air minum dan kebutuhan kebersihan lainnya. Hasil uji korelasi antara salinitas dan jarak menunjukkan bahwa salinitas tidak dipengaruhi oleh jarak dengan nilai 4,17%, namun dipengaruhi oleh faktor lain seperti penurunan muka tanah akibat kegiatan budidaya dan sifat batuan penyusun akuifer dengan nilai 95,83%.
      PubDate: 2022-10-07
      DOI: 10.22373/ekw.v8i1.10476
      Issue No: Vol. 8, No. 1 (2022)
       
  • Food Habits and Niche Breadth of Three Species of Fish Catchs in Aneuk
           Laot Lake, Sabang Aceh

    • Authors: Nurfadillah Nurfadillah, Irma Dewiyanti, Muhammad Akbar Maulana, Siswani Sari, Hasfiandi Hasfiandi
      Pages: 54 - 64
      Abstract: Abstract: Aneuk Laot Lake becomes a source of livelihood for people who work as fishermen around the lake. This research was conducted in June 2020. The study aims to analyze the food habits, niche breadth, and niche overlap of tilapia (Oreochromis niloticus), mujair (Oreochromis mossambicus), and louhan (Cichlasoma trimaculatum) in Aneuk Laot Lake. The method used in this study is the survey method. Fishing is done with the use of ring trawls of 2 and 3 inches. Tilapia, Mujair, and Louhan fish that have been caught were dissected and their digestive organs were preserved using 10% NBF. The results showed that Tilapia (O. niloticus) are omnivorous with phytoplankton as their main food and an index of preponderance value of 54.72%, Mujair (O. mossambicus) are omnivorous with the main food in the form of phytoplankton and the index of preponderance value is 50.15%, and louhan (C. trimaculatum) is carnivorous with the main food in the form of small fish and the index of preponderance value is 99.35%. The value of the niche breadth of Tilapia is 2.89, Mujair is 2.66, and Louhan is 1.07. The niche overlap value of food between Tilapia and Mujair is 0.96, meaning that it has great potential to utilize the same type of food, whereas Louhan's niche overlap index with Nila and Mujair is 0.01, indicating that it has very little competition in using the same food.Abstrak: Danau Aneuk Laot menjadi sumber mata pencaharian bagi masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan di sekitar danau. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni 2020 di Danau Aneuk Laot, Sabang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebiasaan makan, luas relung, dan tumpang tindih makanan ikan nila (Oreochromis niloticus), mujair (Oreochromis mossambicus), dan louhan (Cichlasoma trimaculatum) di Danau Aneuk Laot. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Penangkapan ikan dilakukan dengan menggunakan pukat cincin ukuran 2 dan 3 inchi. Ikan Nila, Mujair, dan Louhan yang telah ditangkap dibedah dan organ pencernaannya diawetkan menggunakan NBF 10%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan Nila (O. niloticus) adalah omnivora dengan makanan utama fitoplankton dan nilai indeks preponderance sebesar 54,72%, Mujair (O. mossambicus) adalah omnivora dengan makanan utama berupa fitoplankton dan indeks nilai preponderance adalah 50,15%, dan Louhan (C. trimaculatum) merupakan karnivora dengan makanan utama berupa ikan-ikan kecil dan indeks nilai preponderance sebesar 99,35%. Nilai luas relung Nila sebesar 2,89, Mujair sebesar 2,66, dan Louhan sebesar 1,07. Nilai tumpang tindih makanan antara Nila dan Mujair sebesar 0,96 artinya memiliki  potensi yang besar dalam memanfaatkan jenis makanan yang sama sedangkan indeks tumpang tindih Louhan dengan Nila dan Mujair sebesar 0,01 yang berarti memiliki kompetisi yang sangat kecil dalam memanfaatkan makanan yang sama.
      PubDate: 2022-10-07
      DOI: 10.22373/ekw.v8i1.10536
      Issue No: Vol. 8, No. 1 (2022)
       
  • The Extraction of Curcuminoids From Ethanol Extract of Yellow Turmeric
           (Curcuma longa L) and Activity Test on P-388 Murine Leukemia Cells

    • Authors: Ida Wati, Vibianti Dwi Partiwi, Maya Ramdianti Musadi
      Pages: 68 - 77
      Abstract: Abstract: Research on the Extraction of Curcuminoids from Ethanol Extract of Yellow Turmeric (Curcuma longa L) and its Activity Test on P-388 Murine Leukemia Cells has been carried out. This study aims to determine the per cent yield, solvent concentration, activity of P-388 murine leukemia cells and pH of the number of curcuminoids produced in ethanol extract. The curcuminoids were obtained by the extraction process through the soxhlet method using 70 and 96% ethanol solvent with a ratio of sample to solvent of 1:8 with variations in operating time for 3, 6, 9 and 12 hours. The absorbance of curcuminoid extract was measured to determine the concentration of curcumin. The cytotoxic test on murine leukemia P-388 cells used the Microculture Tetrazolium Technique (MTT) method. The results obtained were yellow turmeric curcuminoid compounds using 96% ethanol solvent at an extraction operating time of 9 hours. The largest extract yield was 21.15% with a concentration of 1121.10 ppm, which has activity against murine leukemia P-388 cells with an IC50 of 6.15 g/mL have the potential as anticancer leukemia, and dye analysis at acidic pH (2,4,6) is yellow, while alkaline pH (9,12) is brownish red as a natural food coloring.Abstrak: Penelitian ekstraksi kurkuminoid dari ekstrak etanol kunyit kuning (Curcuma  longa L) dan uji aktivitasnya terhadap sel murine leukimia P-388 telah dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui rendemen, konsentrasi pelarut, aktivitas sel murine leukemia P-388 dan pH terhadap jumlah kurkuminoid yang dihasilkan pada ekstrak etanol. Kurkuminoid diperoleh dengan proses ekstraksi dengan  metode sokletasi menggunakan pelarut etanol 70 dan 96% dengan perbandingan sampel dan pelarut 1:8 variasi waktu operasi selama 3, 6, 9 dan 12 jam. Ekstrak kurkuminoid diukur absorbansi untuk mengetahui konsentrasi kurkumin. Pengujian sitotoksik terhadap sel murine leukimia P-388 dengan metode Microculture Tetrazolium Technique (MTT).  Hasil yang diperoleh senyawa kurkuminoid kunyit kuning menggunakan pelarut etanol 96%  pada waktu operasi ekstraksi 9 jam rendemen ekstrak terbesar 21,15% dengan konsentrasi 1121,10 ppm, memiliki aktivitas terhadap sel murine leukimia P-388 dengan IC50 sebesar 6,15 μg/mL berpotensi sebagai antikanker leukemia, dan analisis zat warna pada pH asam (2,4,6) berwarna kuning, pada pH basa (9,12 ) berwarna merah kecoklatan sebagai pewarna alami makananan.
      PubDate: 2022-10-07
      DOI: 10.22373/ekw.v8i1.10720
      Issue No: Vol. 8, No. 1 (2022)
       
  • Screening of Antibacterial and Antioxidant Activities for Safflower Water
           Extracts to Increase Immunity During a Pandemic

    • Authors: Amalyah Febryanti, Fitria Azis
      Pages: 78 - 92
      Abstract: Abstract: Viral infection is the multiplication of viruses in the body. Viruses can reproduce with the help of a host. Viruses infect a host by inserting their genetic material into cells to duplicate their particles. Coronavirus is a type of virus. The coronavirus identified in 2019, SARS-CoV-2, has caused a pandemic of the respiratory disease called COVID-19. Screening of the antibacterial and antioxidant activity of safflower aqueous extract has to be carried out to seal immunity against the virus. The purpose of this study was to determine the antibacterial and antioxidant activity of Kasumba turate water extract. The method used in this study was an experiment consisting of the preparation of Staphylococcus aureus suspensions, the preparation of safflower aqueous extract, phytochemical screening of safflower aqueous extract, a study of the functional group of safflower aqueous extract using FTIR, and the determination of antibacterial and antioxidant activities. The results obtained show that the extract has physical characteristics of a brownish yellow color and the characteristic odor of Kasumba turate. A phytochemical study verified that the aqueous extract of safflower contains alkaloids, flavonoids, and tannins. Analyze FTIR for the expected presence of functional groups including -OH, =CO, and -NH. The best antibacterial activity under three conditions was shown at a 5% extract concentration with a solvent heating temperature of 90 ºC for 15 minutes which gave abroad an inhibition zone. Safflower aqueous extract indicated DPPH radical scavenging activity with an IC50 value of 965.33 mg mL-1. Furthermore, safflower aqueous extract has the potential for antioxidant activity, but it has low antibacterial activity. However, this study supports making Safflower a natural colorant in food and recommends using Safflower as a tea or herbal drink that provides natural antioxidant effects during the pandemic.Abstrak: Skrining aktivitas antibakteri dan antioksidan ekstrak air kasumba turate dilakukan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen yang terdiri dari preparasi suspensi Staphylococcus aureus as test bacteria, preparasi ekstrak air kasumba turate, skrining fitokimia ekstrak air kasumba turate, studi gugus fungsi ekstrak air kasumba turate menggunakan FTIR, penentuan aktivitas antibakteri, dan penentuan aktivitas antioksidan. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa ekstrak memiliki ciri fisik warna kuning kecoklatan dan bau yang khas. Studi fitrokimia membuktikan bahwa ekstrak air kasumba turate mengandung alkaloid, flavonoid, dan tanin. Analisis FTIR diharapkan adanya gugus fungsi yang meliputi -OH, =CO, dan -NH. Aktivitas antibakteri terbaik pada ketiga kondisi ditunjukkan pada konsentrasi ekstrak 5% dengan suhu pemanasan pelarut 90 ºC selama 15 menit yang memberikan zona hambat luas. Ekstrak air safflower menunjukkan aktivitas penangkapan radikal DPPH dengan nilai IC50 1250 mg mL-1. Selain itu, penelitian ini mendukung untuk menjadikan kasumba turate sebagai pewarna alami pada makanan dan merekomendasikan penggunaan kasumba turate sebagai teh atau minuman herbal yang memberikan efek antioksidan alami selama masa pandemi.
      PubDate: 2022-10-07
      DOI: 10.22373/ekw.v8i1.10934
      Issue No: Vol. 8, No. 1 (2022)
       
  • The Potency of Bioplastic Polyhydroxyalkanoate (PHA) Producing Bacteria
           Isolated From Palm Oil Mill Waste

    • Authors: Nur Haedar, Donny Suherman, Zasarwati Dwyana, Heriadi Heriadi, Mashuri Masri
      Pages: 93 - 107
      Abstract: Abstract:  Polyhydroxyalkanoate (PHA) is a polymer made up of biodegradable plastics that can be synthesized by microorganisms from various substrates that contain lots of carbon sources including fatty acids and sugars. One of the substrates that contain a lot of carbon sources is waste from palm oil processing plants. PHA-producing bacteria can take advantage of excess carbon sources in palm oil waste in the form of fatty acids to be converted into PHA. This study aims to determine the potential of bacteria isolated from palm oil mill waste to produce polyhydroxyalkanoates (PHA) and to determine the optimum time required for bacteria to produce PHA. Optimization of the fermentation time was carried out at 24, 48, and 72 hours using minimum Ramsay media added with 1% palm oil and 1% glucose. The results of the study obtained 20 isolates of bacteria isolated from palm oil mill waste, and 9 of them were able to produce polyhydroxyalkanoate (PHA) qualitatively. The results of quantitative selection obtained 2 bacterial isolates capable of producing PHA, namely isolates CPS 3 and LPS2 CPS 3, with crotonic acid absorbance values of 41.6 and 5.01, respectively with a fermentation time of 72 hours. Based on the results of genotypic identification using 16S rRNA DNA sequences, isolates of CPS 3, including Bacillus sp. strain CL33 and isolate LPS 2, belonged to Bacillus flexus strain S5a. This shows that isolates from palm oil mill waste can be used as a source of isolate for PHA production.Abstrak: Polyhydroxyalkanoate (PHA) merupakan polimer penyusun plastik biodegredable yang dapat di sintesis oleh mikroorganisme dari bermacam-macam substrat yang banyak mengandung sumber karbon asam lemak dan gula. Salah satu subtrat yang banyak mengandung sumber karbon adalah limbah yang berasal dari pabrik pengolahan kelapa sawit. Bakteri penghasil PHA dapat memanfaatkan sumber karbon berlebih dalam limbah kelapa sawit berupa asam-asam lemak untuk diubah menjadi PHA. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi bakteri yang diisolasi dari limbah pabrik kelapa sawit dalam menghasilkan Polyhydroxyalkanoate (PHA) serta mengetahui waktu optimum yang dibutuhkan oleh bakteri dalam menghasilkan PHA. Optimasi waktu fermentasi dilakukan pada 24, 48 dan 72 jam menggunakan media minimal Ramsay yang ditambahkan minyak sawit 1% dan glukosa 1%. Hasil penelitian memperoleh 20 isolat bakteri yang diisolasi dari limbah pabrik kelapa sawit dan 9 isolat diantaranya mampu menghasilkan Polyhydroxyalkanoate (PHA) secara kualitatif. Hasil seleksi secara kuantitatif diperoleh 2 isolat yang mampu menghasilkan PHA yaitu isolat CPS 3 dengan nilai absorbansi asam krotonoat sebesar 41,6 sedangkan LPS 2 memiliki nilai absorbansi asam krotonoat sebesar 5,01 dengan waktu fermentasi selama 72 jam. Berdasarkan hasil identifikasi secara genotipik dengan menggunakan sekuens DNA 16S rRNA isolat CPS 3 termasuk jenis Bacillus sp. strain CL33 dan isolat LPS 2 termasuk jenis Bacillus flexus strain S5a. Hal ini menunjukkan bahwa isolat dari limbah pabrik kelapa sawit dapat digunakan sebagai sumber isolat untuk produksi PHA.
      PubDate: 2022-10-07
      DOI: 10.22373/ekw.v8i1.11145
      Issue No: Vol. 8, No. 1 (2022)
       
  • Moringa Leaf Infusion and Tea: How are Their Antioxidant Activities
           Different'

    • Authors: Irma Rahmawati, Sinta Dewi Anggraeni, Andi Ika Julianti
      Pages: 108 - 118
      Abstract: Abstract: The global pandemic of the COVID-19 virus has made people around the world aware of the importance of maintaining health. Various efforts have been made to prevent the transmission of the COVID-19 virus, one of which is increasing the body's resistance. Moringa leaf (Moringa oleifera L.) is a medicinal plant that has properties that function as the main antiretroviral molecule to increase the activity of the immune system. This study aims to compare the antioxidant activity of Moringa leaf infusion and Moringa leaf tea. In this study, an analysis of antioxidant activity was performed using the DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl) method. Antioxidant activity of Moringa leaf infusion, Moringa leaf tea, and vitamin C as a comparison with IC50 values of 31.68 mg/mL; 31.17 mg/mL; 0.99 mg/mL. This is supported by the results of statistical tests which show that there are significant differences in the antioxidant activity of Moringa leaf infusion samples and Moringa leaf tea samples. It can be concluded that the antioxidant activity of Moringa tea is greater than Moringa leaf infusion.Abstrak: Pandemi global virus Covid-19, menyadarkan masyarakat di seluruh dunia terhadap pentingnya menjaga kesehatan. Berbagai upaya dilakukan untuk mencegah penularan virus Covid-19, salah satunya dengan meningkatkan daya tahan tubuh. Daun kelor (Moringa oleifera L.) merupakan tumbuhan obat yang mempunyai khasiat yang berfungsi sebagai molekul utama antiretroviral untuk meningkatkan aktivitas sistem kekebalan tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan aktivitas antioksidan pada infusa daun kelor dan seduhan teh daun kelor. Pada penelitian ini, dilakukan analisis aktivitas antioksidan dengan metode DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl). Aktivitas antioksidan pada infusa daun kelor, teh daun kelor, vitamin C sebagai pembanding dengan nilai IC50 berturut-turut sebesar 31,68 mg/mL; 31,17 mg/mL; 0,99 mg/mL. Hal ini didukung dengan hasil uji statistik yang menunjukan terdapat perbedaan aktivitas antioksidan yang signifikan dari sampel infusa daun kelor maupun sampel teh daun kelor. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa aktivitas antioksidan teh daun kelor lebih besar daripada infusa daun kelor.
      PubDate: 2022-10-07
      DOI: 10.22373/ekw.v8i1.11223
      Issue No: Vol. 8, No. 1 (2022)
       
  • Endophytic Bacteria Identification of Red Ginger (Zingiber officinale var.
           Rubrum) From Enggano Island

    • Authors: Welly Darwis, Annisa Prastika Supriyanto, Risky Hadi Wibowo, Sipriyadi Sipriyadi, Rochmah Supriati
      Pages: 119 - 136
      Abstract: Abstract: Endophytic bacteria are bacteria associated with the tissues of healthy plants that are beneficial. Almost every higher plant has some endophytic bacteria, one of which is Red Ginger (Zingiber officinale var. Rubrum) from Enggano Island. This research aims to obtain endophytic bacteria and to identify the Red Ginger (Zingiber officinale var. Rubrum) endophytic bacteria collected from Enggano Island. Endophyte bacteria isolation was carried out by the paste method on medium Nutrient Agar (NA) after sterilizing the surface of plant organs using alcohol and sodium hypochlorite 5,25%. A total of 24 isolates of endophytic bacteria of Red Ginger (Zingiber officinale var. Rubrum) were isolated from rhizomes (stem modification), leaf sheath, and leaf sheet. Endophytic bacteria were identified based on morphological observation, biochemical tests, and Gram-staining. As a result, the diversity of bacteria consists of 7 genera, namely the genus Bacillus, Sporosarcina, Amphibacillus, Azotobacter, Eubacterium, Pimelobacter, and Micrococcus. The genus Bacillus consists of 4 species, the genus Sporosarcina consists of 6 species, the genus Amphibacillus consists of 1 species, the genus Azotobacter consists of 2 species, the genus Eubacterium consists of 1 species, the genus Pimelobacter consists of 1 species, and the genus Micrococcus which also consists of 1 species. Bacillus is the most common type of endophytic bacteria that was found in red ginger from Enggano Island.Abstrak: Bakteri endofit adalah bakteri yang berasosiasi dengan jaringan tanaman yang memiliki banyak manfaat, baik bagi manusia maupun tumbuhan itu sendiri. Hampir setiap tumbuhan tingkat tinggi memiliki beberapa bakteri endofit, salah satunya jahe merah (Zingiber officinale var. Rubrum) yang berasal dari Pulau Enggano. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan bakteri endofit dan mengetahui keanekaragaman bakteri endofit yang diisolasi dari jahe merah (Zingiber officinale var. Rubrum) asal Pulau Enggano. Isolasi bakteri endofit dilakukan dengan metode tempel pada media Nutrient Agar (NA) setelah dilakukan sterilisasi permukaan organ tanaman menggunakan alkohol dan natrium hipoklorit 5,25%. Sebanyak 24 isolat bakteri endofit jahe merah (Zingiber officinale var. Rubrum) diisolasi dari rimpang (modifikasi batang), pelepah daun, dan helaian daun. Bakteri endofit diidentifikasi berdasarkan pengamatan morfologi, uji biokimia, dan pewarnaan Gram. Hasilnya, keanekaragaman bakteri terdiri dari 7 genus, yaitu Bacillus, Sporosarcina, Amphibacillus, Azotobacter, Eubacterium, Pimelobacter, dan Micrococcus. Genus Bacillus terdiri dari 4 spesies, genus Sporosarcina terdiri dari 6 spesies, genus Amphibacillus terdiri dari 1 spesies, genus Azotobacter terdiri dari 2 spesies, genus Eubacterium terdiri dari 1 spesies, genus Pimelobacter terdiri dari 1 spesies, dan genus Micrococcus yang juga terdiri dari 1 spesies. Bacillus merupakan genus yang mendominasi keanekaragaman bakteri endofit yang diisolasi dari jahe merah asal Pulau Enggano.
      PubDate: 2022-10-07
      DOI: 10.22373/ekw.v8i1.11498
      Issue No: Vol. 8, No. 1 (2022)
       
  • Butterfly Diversity in The Alas River of Soraya Research Station, Leuser
           Ecosystem, Aceh Province

    • Authors: Fitria Nelda Fautama, Alia Rizki, Zuriana Siregar, Suwarno Suwarno
      Pages: 137 - 148
      Abstract: Abstract: Butterflies are insects that live along riverbanks and belong to the Lepidoptera order. The Alas River is one of the longest rivers in Sumatra which passes through four districts in Aceh Province. Along the river banks, there are varied vegetation conditions such as secondary forests, shrubs, and sandy banks. This study aims to determine the diversity and composition of butterfly species in the Alas River, which is included in the Soraya Research Station area of the Leuser Ecosystem. The transect method was used to conduct butterfly diversity research from August to December 2020. A total of 75 species of butterflies were found in this study belonging to five families: Hesperidae, Lycaenidae, Pieridae, Papilionidae, and Nymphalidae. The butterfly compositions obtained were Nymphalidae (32 species and 134 individuals), Papilionidae (16 and 137 ), Pieridae (16 and 121), Lycaenidae (9 and 52), and Hesperidae (2 and 2). The butterfly species diversity index was categorized as high (H'= 3.763).Abstrak: Kupu-kupu merupakan serangga yang tergolong ke dalam ordo Lepidoptera yang banyak hidup di aliran sungai. Penelitian tentang keanekaragaman kupu-kupu dilakukan pada bulan Agustus - Desember 2020, sampel dikoleksi dengan menggunakan metode transek. Sungai Alas merupakan salah satu sungai terpanjang di Sumatera yang melewati empat kabupaten di Provinsi Aceh. Sepanjang tepian sungai ditumbuhi oleh berbagai jenis vegetasi membentuk hutan dan semak serta daerah yang berpasir. Studi ini bertujuan untuk mengetahui keragaman dan komposisi jenis kupu-kupu di aliran Sungai Alas yang masuk dalam wilayah Stasiun Penelitian Soraya Kawasan Ekosistem Leuser. Hasil penelitian ditemukan 75 jenis kupu-kupu yang tergolong dalam lima family yaitu Hesperidae, Lycaenidae, Pieridae, Papilionidae dan Nymphalidae. Komposisi kupu-kupu yang didapatkan berturut-turut adalah Nymphalidae (32 spesies and 134 individu), Papilionidae (16 dan 137), Pieride (16 dan 121), Lycaenidae (9 dan 52), dan Hesperidae (2 dan 2). Indeks keanekaragaman jenis kupu-kupu dikategorikan tinggi (H’= 3.8).
      PubDate: 2022-10-07
      DOI: 10.22373/ekw.v8i1.11646
      Issue No: Vol. 8, No. 1 (2022)
       
  • Nitrogen-Doped Carbon Dots From Bilimbi Juice (Averrhoa bilimbi L.) Via
           Hydrothermal Method For Iron and Mercury Sensing

    • Authors: Averroes Fazlur Rahman Piliang, Kerista Tarigan, Syahrul Humaidi, Diana Alemin Barus, Saharman Gea
      Pages: 149 - 160
      Abstract: Abstract: Carbon dots (CDs) have been widely used in various applications, one of them being metal ion sensing. Synthesizing CDs with sensing characteristics is influenced by two factors, i.e., precursor and dopant agent. This study aims to use bilimbi (Averrhoa bilimbi) with N, N-dimethylformamide (DMF) as a nitrogen source to synthesize CDs via the hydrothermal method. The result of hydrothermal showed significant colors of CDs with and without the presence of nitrogen, and these behaviors were also confirmed by the differential absorption of the CDs, with λmax of absorption at 291 nm. FTIR spectra confirmed the presence of functional groups related to CDs, such as C-H, C=H, C=N, C=O, C-O-C, and NH2. Meanwhile, emission spectra displayed fluorescent emission at λmax 495 nm (DMF 2%) and 491 nm (DMF 4%). The ion metal sensing test showed that these two samples with 2% and 4% of DMF were sensitive to Fe3+ and Hg2+ sensing. These characteristics concluded that NCDs from bilimbi juice via hydrothermal method were able in sensing metal ions, such as Fe3+ and Hg2+.Abstrak: Karbon dots (CDs) telah banyak diterapkan pada berbagai penggunaan, salah satunya adalah sebagai alat pendeteksi ion logam. Sintesis Cds dengan kemampuan mendeteksi dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu prekursor dan agen dopant. Penelitian ini bertujuan untuk menggunakan asam belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi) dengan penambahan N, N dimetilformamida (DMF) sebagai sumber nitrogen sebagai bahan sintesis CDs melalui metode hidrotermal. Hasil hidrotermal menunjukkan perbedaan emisi warna dari CDs dengan dan tanpa penambahan DMF, dan karakteristik ini juga ditunjukkan dengan adanya perbedaan penyerapan panjang gelombang maksimum (λmax) di 291 nm. Spektra FTIR juga mengkonfirmasi adanya gugus fungsi terkait dengan CDs, seperti C-H, C=H, C=N, C=O, C-O-C, dan NH2. Sementara itu, emisi spekra menunjukkan emisi fluorosensi pada λmax sebesar 495 nm (DMF 2%0, dan 491 nm (DMF 4%). Pendeteksian ion logam pada kedua sampel sensitif pada ion Fe3+ dan Hg2+. Karakteristik ini menyimpulkan bahwa NCDs dari jus asam belimbing dapat digunakan sebagai alat pendeteksi ion logam dalam air, khususnya pada ion logam besi dan merkuri.
      PubDate: 2022-10-07
      DOI: 10.22373/ekw.v8i1.11813
      Issue No: Vol. 8, No. 1 (2022)
       
  • UV-C Technology to Support Air Quality For Safety Work and Security From
           Biological Agent Threats

    • Authors: Lilik Mugiharto, Aries Sudiarso, Luhut Simbolon, Suparlan Suparlan, Wely Pasadena
      Pages: 161 - 174
      Abstract: Abstract: The UV-C-based air disinfection device is the equipment used for air disinfection whose working principle uses UV-C radiation to inactivate microorganisms. This study aimed to determine the effectiveness of UV-C devices for disinfection in the indoor air at the workspace and the safety of humans in the room from being exposed to UV-C radiation when the disinfectant is operating. The research used quantitative methods through laboratory experiments. The working principle of the UV-C device is to circulate air in the room through a chamber equipped with a UV-C radiation source from an electric lamp with a wavelength of 254 nm. Laboratory tests were carried out with the Total Plate Count (TPC) parameter to determine its effectiveness by measuring the number of conditions before and after treatment. The average effectiveness value at 30 minutes was 64.14% and at 60 minutes it was 86.26%, so the effect increased with time. In terms of the dangers of UV-C radiation, UV-C devices are safe to use with designs and engineering that can prevent or minimize UV-C radiation outside the device. The radiation in human skin is not beyond the specified allowed. The result of measuring UV-C radiation in the workspace was 0.000 μW/cm2. UV-C technology can be used as a defense tool against biological agents effectively and safely.Abstrak: Perangkat disinfeksi udara berbasis UV-C merupakan alat yang digunakan untuk disinfeksi udara yang prinsip kerjanya menggunakan radiasi sinar UV-C untuk menonaktifkan mikro organisme. Tujuan penelitian ini adalah menentukan efektifitas perangkat UV-C pada disinfeksi mikroorganisme di udara dalam ruang kerja dan menentukan keamanan terhadap manusia yang berada di dalam ruangan dari paparan radiasi sinar UV-C pada saat disinfektor beroperasi. Prinsip kerja perangkat UV-C adalah mensirkulasikan udara pada ruangan untuk melalui chamber yang telah dilengkapi dengan sumber radiasi UV-C yang berasal dari lampu elektrik dengan panjang gelombang 254 nm. Dilakukan uji laboratorium dengan parameter Total Plate Count (TPC) untuk mengetahui efektifitasnya dengan mengukur jumlah kondisi sebelum dan sesudah sehingga diperoleh nilai rata-rata efektifitas pada 30 menit adalah 64,14% dan 60 menit adalah 86,26% sehingga efektifitas naik dengan ditambahnya waktu. Perangkat UV-C dari segi bahaya radiasi UV-C aman digunakan dengan desain yang dapat mencegah/meminimalisir radiasi UV-C sehingga tidak sampai pada kulit manusia melebihi nilai ambang batas yang ditentukan. Hasil ukur radiasi UV-C di ruang kerja adalah 0,000 μW/cm2. Teknologi UV-C dapat digunakan sebagai alat pertahanan terhadap agensia biologi dengan efektif dan aman. 
      PubDate: 2022-10-07
      DOI: 10.22373/ekw.v8i1.12028
      Issue No: Vol. 8, No. 1 (2022)
       
  • Functional Characteristic of Analog Rice Made From Taro Kimpul Flour
           (Xhantosoma sagitifolium)

    • Authors: Santi Noviasari, Permata Salsa Assyifa, Ismail Sulaiman
      Pages: 175 - 189
      Abstract: Abstract: Analog rice is artificial rice made from carbohydrate sources to resemble rice. Taro kimpul is one of Indonesia's local foods rich in carbohydrates that have not been widely used and have functional properties to be used as a raw material for analog rice. In this study, the manufacture of analog rice also used functional ingredients (beets and dragon fruit peels) containing phytochemical beneficial compounds and binders (carboxymethyl cellulose/CMC and carrageenan). This research aimed to determine the functional characteristics of analog rice and was expected to produce analog rice with a low-calorie value. The research was conducted in two stages: analog rice was made with four formulations; and an analysis of the functional characteristics of analog rice was conducted. This research was done with descriptive analysis so that it could describe the effect of adding functional ingredients and binders to the characteristics of analog rice. Based on the decision-making method, the best treatment in this study was taro analog rice F1 with the use of 2% carrageenan and 32% beetroot. The functional characteristics of taro analog rice F1 are as follows: crude fiber 2.13%, calories 112.29 kcal/100g, total phenol 0.51 mg GAE/g, anthocyanin 56.77mg/100g, and antioxidant activity of 74.92%. The analog rice obtained had higher antioxidant activity, total phenol, anthocyanin, and lower calorific value compared to polished rice.Abstrak: Beras analog adalah beras tiruan yang dibuat dari sumber karbohidrat menyerupai beras. Talas kimpul merupakan salah satu pangan lokal Indonesia yang kaya akan karbohidrat yang belum banyak dimanfaatkan dan memiliki sifat fungsional yang berpotensi digunakan sebagai bahan baku beras analog. Dalam penelitian ini, pembuatan beras analog menggunakan bahan-bahan fungsional (bit dan kulit buah naga) yang mengandung senyawa fungsional dan bahan pengikat (CMC dan karagenan). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik fungsional beras analog talas dan diharapkan dapat menghasilkan beras analog dengan nilai kalori yang rendah. Penelitian telah dilakukan dengan dua tahap: pembuatan beras analog empat formulasi; dan analisis karakteristik fungsional pada beras analog. Penelitian ini dianalisis secara deskriptif sehingga menjelaskan pengaruh penambahan bahan fungsional dan pengikat terhadap karakteristik beras analog. Berdasarkan metode pengambilan keputusan perlakuan terbaik dalam penelitian ini adalah beras analog talas F1 dengan penggunaan 2% karagenan dan bit 32% dengan karakteristik sebagai berikut: serat kasar 2,13%, kalori 112,29 kkal/100g, total fenol 0,51 mg GAE/g, antosianin 56,77mg/100g dan aktivitas antioksidan 74,92%. Beras analog yang dihasilkan memiliki aktivitas antioksidan, total fenol, antosianin yang lebih tinggi dan nilai kalori yang lebih rendah dibandingkan dengan beras sosoh.
      PubDate: 2022-10-07
      DOI: 10.22373/ekw.v8i1.12614
      Issue No: Vol. 8, No. 1 (2022)
       
  • The Total Phenolic, Total Flavonoid, and Brown Pigment in Honey Before and
           After Heating

    • Authors: Achmad Tjachja Nugraha, La Ode Sumarlin, Anna Muawanah, Nurul Amilia, Meyliana Wulandari
      Pages: 190 - 208
      Abstract: Abstract: Honey has unique components, a characteristic that makes it a valuable food for consumers. It is known that UV radiation and heating impact the quality of honey's bioactive compounds, including total phenolic, total flavonoid, and brown pigment contents. The absorbance of brown pigment at a wavelength of 420 nm, total phenolic at a wavelength of 733 nm, and total flavonoid at a wavelength of 430 nm was measured using a UV-Vis spectrophotometer. The method used in the total phenolic test was the Folin-Ciocalteu method with gallic acid standard (mgGAE/g sample). In contrast, for flavonoids, the method used was the colorimetric method with quercetin standard (mg QE/g sample). The qualitative test results showed that all honey samples contained phenolic and flavonoid compounds. Total phenolic and flavonoid levels showed a decrease in several samples, including TR SLT (Trigona Southeast Sulawesi), TRG BGR (Trigona Bogor), and TR SLS (Trigona Genotrigona Indica South Sulawesi) in the range of 11.8–57.6%. However, most of the total phenolic and flavonoid levels increased after the heating process, i.e., in the samples of AP LMB (apis North Lombok) (25.3% and 88.8%), AP MG (apis mango) (73.1% and 114%), AP MAC (Aceh honey, Buloh Seuma) (8.8% and 199%), TR BIR (Trigona tetroginola biroi South Sulawesi) (58.8% and 146%), and TR LMB (Trigona North Lombok) (44.3% and 84.9%). In contrast, for the formation of brown pigment, there was an increase in all honey samples between 32 and 1.428%. The presence of brown pigment at the end of the heating process of honey samples is thought to have the same role as phenolic compounds and flavonoids, which change the heating process, especially in antioxidant activities and other bioactivities. However, further analysis is needed to prove the conjecture.Abstrak: Madu memiliki komponen yang unik, yang membuatnya menjadi makanan yang berharga bagi konsumen.  Telah diketahui bahwa radiasi UV dan pemanasan berdampak pada kualitas senyawa bioaktif madu, di antaranya kandungan total fenolik, total flavonoid, dan pigmen coklat. Pengukuran absorbansi pigmen coklat pada panjang gelombang 420 nm, pengukuran total fenolik pada panjang gelombang 733 nm dan total flavonoid pada panjang gelombang 430 nm dilakukan menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Metode yang digunakan untuk uji total fenolik adalah metode Folin-Ciocalteu dengan standar asam Galat (mgGAE/g sampel), uji flavonoid menggunakan metode Kolorimetri dengan standar kuersetin (mg QE/g sampel).  Hasil uji kualitatif menunjukan bahwa semua sampel madu terdapat senyawa fenolik dan flavonoid. Kadar total fenolik dan flavonoid menunjukkan penurunan pada beberapa sampel, di antaranya TR SLT (Trigona Sulawesi Tenggara, TRG BGR (Trigona Bogor), TR SLS (Trigona Genotrigona Insica Sulawesi Selatan) pada kisaran 11,8 – 57,6%.  Namun, sebagian besar kadar total fenolik dan kadar flavonoid mengalami kenaikan setelah proses pemanasan, yaitu pada sampel AP LMB (apis Lombok Utara) (25,3% dan 88,8%), AP MG (apis mangga) (73,1% dan 114%), AP MAC (madu Aceh, Buloh Seuma) (8,8% dan 199%), TR BIR (Trigona Tetroginola biroi sulawesi selatan) (58,8% dan 146%), TR LMB (Trigona North Lombok) (44,3% dan 84,9), sedangkan untuk pembentukan pigmen coklat, terjadi peningkatan pada semua sampel madu di antara 32 – 1.428%. Keberadaan pigmen coklat pada akhir proses pemanasan, diduga memiliki peran yang sama dengan senyawa fenolik dan flavonoid yang mengalami perubahan selama proses pemanasan, terutama pada aktivitas antioksidan dan bioaktivitas lainnya.  Namun diperlukan analisis lebih lanjut untuk membuktikan dugaan tersebut.
      PubDate: 2022-10-07
      DOI: 10.22373/ekw.v8i1.12757
      Issue No: Vol. 8, No. 1 (2022)
       
 
JournalTOCs
School of Mathematical and Computer Sciences
Heriot-Watt University
Edinburgh, EH14 4AS, UK
Email: journaltocs@hw.ac.uk
Tel: +00 44 (0)131 4513762
 


Your IP address: 44.200.169.3
 
Home (Search)
API
About JournalTOCs
News (blog, publications)
JournalTOCs on Twitter   JournalTOCs on Facebook

JournalTOCs © 2009-