Journal Cover
Nuansa : Jurnal Penelitian Ilmu Sosial dan Keagamaan Islam
Number of Followers: 0  

  This is an Open Access Journal Open Access journal
ISSN (Print) 1907-7211 - ISSN (Online) 2442-8078
Published by IAIN Madura Homepage  [5 journals]
  • Pencarian Kembali Moderasi Beragama Dalam Kitab Itḥāf Al-Dhaki

    • Authors: Senata Adi Prasetia
      Pages: 166 - 181
      Abstract: This article explores the concept of religious moderation in the Kitab Itḥāf al-Dhaki and its relevance in contemporary Indonesian Islam. As a new national policy, religious moderation is open to criticism for conceptual establishment. This policy aims for addressing the threat of religious extremism and intolerance in Indonesia which has become more active over the past two decades. Also, have been a move to curb the political exploitation of religion which has led to identity politics and hate speech flourishing in the 2019 elections. By using a qualitative type of research based on a literature study, i.e. the Kitab Ithaf al-Dhaki, this article results that remaking of religious moderation in this manuscript is accommodating two streams of thought is more important than choosing one of them, as long as it can be done. The meaning of moderation according to Ibrahim al-Kurani, author of the Kitab Ithaf al-Dhaki, is a someone who can combine the two meanings of the Qur'an both esoteric and exoteric (i.e., a perfect man or insan kamil). Furthermore, Al-Kurani in Kitab Itḥāf al-Dhaki argues to be moderate, one should be understand both (esoteric and exoteric) thoughts. It's impossible to moderate if you don't know the two streams of thought..  (Artikel ini mengeksplorasi konsep moderasi beragama dalam Kitab Itḥāf al-Dhaki dan relevansinya bagi Islam Indonesia kontemporer. Sebagai kebijakan nasional baru, moderasi beragama terbuka untuk dikritisi demi pematangan konseptual. Terlebih, tujuan dari moderasi beragama adalah untuk mengatasi ancaman ekstremisme dan intoleransi agama di Indonesia yang semakin aktif selama dua dekade terakhir. Selain itu, juga merupakan langkah untuk mengekang eksploitasi politik agama yang telah menyebabkan politik identitas dan ujaran kebencian berkembang dalam pemilu 2019 silam. Dengan menggunakan jenis penelitian kualitatif berbasis studi pustaka, artikel ini menghasilkan temuan bahwa pencarian kembali moderasi beragama dalam manuskrip ini adalah mengakomodir dua aliran pemikiran berseberangan daripada memilih salah satunya, dengan syarat memahami betul kedua aliran pemikiran tersebut. Makna moderasi menurut Ibrahim al-Kurani adalah seseorang yang dapat memadukan dua makna al-Qur’an, baik yang esoteris maupun yang eksoteris (itulah manusia yang sempurna/insan kamil). Lebih lanjut, Al-Kurani dalam Itḥāf al-Dhaki berpendapat untuk menjadi moderat, seseorang harus memahami kedua pemikiran (esoteris dan eksoteris). Tidak mungkin memoderasi jika orang tersebut tidak mengetahui dua aliran pemikiran). Dalam konteks ini, pencarian jati diri moderasi beragama melalui Ithaf al-Dhaki menjadi keniscayaan demi kedewasaan beragama di Islam Indonesia kontemporer.)
      PubDate: 2023-01-16
      DOI: 10.19105/nuansa.v19i2.6211
      Issue No: Vol. 19, No. 2 (2023)
       
  • Resepsi atas Islam Moderat: Antara Kritik dan Sikap yang Representatif

    • Authors: Benny Afwadzi
      Pages: 182 - 208
      Abstract: Until now, many rejections of the terminology of Islam Nusantara have emerged, not only among the general public, but also in the academic environment. In fact, moderate Islam is a means to tackle extremism, radicalism, and terrorism. Therefore, a systematic description of what is meant by moderate Islam is needed from various literatures. It is for this purpose that this article was written. With a qualitative approach and the type of literature research on works related to moderate Islam, it was found that moderate Islam must be understood with middle Islam, not extreme right or left. Although in Western literature, moderate is synonymous with liberal and secular, but a representative attitude is to filter what comes from the West. Not everything that comes from the West must be accepted, and not all must be rejected, as well as the terminology of moderate Islam. Even the arguments against moderate Islam, if analyzed, have a fundamental weakness, because they are not in accordance with the spirit of moderate Islam. The basis for the foundation of moderate Islam is clear, namely Q.S. al-Baqarah [2]: 143, so it has a normative basis that can be accounted for. Furthermore, Islam in the archipelago is essentially a representation of moderate Islam, although it must be admitted that not all adherents are moderate.  (Sampai saat ini, penolakan terhadap terminologi Islam Nusantara banyak bermunculan, tidak hanya di kalangan masyarakat awam, namun juga di lingkungan akademik. Padahal, Islam moderat adalah sarana untuk menanggulangi ekstremisme, radikalisme, dan terorisme. Oleh sebab itu, diperlukan uraian yang sistematis terkait apa yang dimaksud dengan Islam moderat dari berbagai literatur. Untuk tujuan itulah artikel ini ditulis. Dengan pendekatan kualitatif dan jenis penelitian pustaka terhadap karya-karya terkait Islam moderat, ditemukan bahwa Islam moderat haruslah dipahami dengan Islam pertengahan, tidak ekstrem kanan maupun kiri. Meskipun dalam literatur Barat, moderat identik dengan liberal dan sekuler, akan tetapi sikap yang repreentatif adalah dengan melakukan filterisasi terhadap apa yang datang dari Barat. Tidak semua yang datang dari Barat harus terima, dan tidak pula semua pula harus ditolak, begitu pula terminologi Islam moderat. Argumen-argumen penolak Islam moderat pun, jika dianalisis, mempunyai kelemahan yang mendasar, karena tidak sesuai dengan semangat Islam moderat. Dasar pijakan Islam moderat pun jelas, yakni Q.S. al-Baqarah [2]: 143, sehingga  mempunyai landasan normatif yang bisa dipertanggungjawabkan. Lebih lanjut, Islam yang ada di Nusantara ini pada hakikatnmya merupakan representasi Islam moderat, meski harus diakui bahwa tidak semua penganutnya berpaham moderat.)
      PubDate: 2023-01-19
      DOI: 10.19105/nuansa.v19i2.6687
      Issue No: Vol. 19, No. 2 (2023)
       
  • Bantuan Hukum Terhadap Istri dalam Perkara Perceraian Melalui Posbakum di
           Pengadilan Agama Sampang

    • Authors: Eka Susylawati, Siti Musawwamah
      Pages: 209 - 231
      Abstract: Posbakum is a place within the Religious Courts that provides free legal aid services to the poor. But in reality there are certain parties who need more services than Posbakum, for example the wife in fighting for her rights in divorce. Considering that wives in general have low levels of education, economy and access compared to their husbands. This study uses a qualitative approach that is directed at a sociological approach by using interview, observation and documentation data collection techniques. The results showed that the application of legal assistance for wives in divorce cases through Posbakum at the Sampang Religious Court was in accordance with applicable regulations, namely providing consultation and making claims (application for divorce) and providing information about advocate organizations that can provide legal assistance and among these services the dominant one is the making of divorce papers. The obstacles to the role of Posbakum in providing legal assistance to wives in divorce cases include the Posbakum rules which only provide services in the early stages of making a lawsuit (application for divorce), the wife's knowledge is minimal about the role and function of Posbakum, the Posbakum service room which is one with a court waiting room (without any partitions) and the lack of funds allocated by the state through the DIPA of the Sampang Religious Court. (Posbakum merupakan tempat yang berada di dalam Pengadilan Agama yang memberikan layanan bantuan hukum secara prodeo kepada masyarakat miskin. Namun dalam realita terdapat pihak tertentu yang membutuhkan pelayanan lebih dari Posbakum, misalnya pihak istri dalam memperjuangkan hak-haknya dalam perceraian. Mengingat istri pada umumnya memiliki tingkat pendidikan, ekonomi dan akses yang rendah dibandingkan dengan suami. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang diarahkan pada pendekatan sosiologis dengan menggunakan tehnik pengumpulan data wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa penerapan bantuan hukum bagi istri dalam perkara perceraian melalui Posbakum di Pengadilan Agama Sampang telah sesuai dengan aturan  yang berlaku yaitu pemberian konsultasi dan pembuatan gugatan (permohonan cerai gugat) serta pemberian informasi tentang organisasi advokat yang dapat memberikan bantuan hukum dan diantara layanan tersebut yang dominan adalah pembuatan surat gugat cerai. Adapun kendala atas peran Posbakum dalam memberikan bantuan hukum bagi istri dalam perkara perceraian antara lain aturan Posbakum yang hanya memberikan layanan pada tahap awal pembuatan gugatan (permohonan cerai gugat), pengetahuan pihak istri yang minim tentang peran dan fungsi Posbakum, ruang pelayanan Posbakum yang menjadi satu dengan ruang tunggu sidang (tanpa ada sekat) dan minimnya dana yang diperuntukan oleh negara melalui DIPA Pengadilan Agama Sampang.)
      PubDate: 2023-01-20
      DOI: 10.19105/nuansa.v19i2.6168
      Issue No: Vol. 19, No. 2 (2023)
       
  • Strategies For Delivering Islamic Religious Education Learning Materials
           in The Post-Truth Era

    • Authors: Nasikhin, Mahfud Junaedi
      Pages: 127 - 145
      Abstract: This study aims to investigate the delivery strategy of Islamic religious education learning materials in the post-truth era in senior high school. This qualitative research with a phenomenological approach relies on in-depth interview data, observation, and documentation. The research participants involved three teachers of Islamic Religious Education and nine students of SMA Islam Al-Azhar 29 Semarang. Data analysis used the Miles and Huberman model through the stages of data reduction, data display and drawing conclusion. The results of the study indicate that the learning organization strategy tends to be against posh-truth. First, resistance to post-truth can be seen from the pattern of scientific learning approaches through problem-based learning models, cooperative learning models, inquiry learning models, quantum teaching learning models, and learning models for improving thinking skills combined with integrated learning methods. The chosen model has been able to instill character education, literacy, HOTS, and 4C as the main components in fighting posh truth. Third, resistance to post-truth is given through a communication model that is polite, courteous, and not easy to spread hoax information. The results of the study recommend that schools need to prepare adequate learning resource facilities and increase teacher professionalism so that the negative impact of post-truth can be minimized in schools. (Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi penyampaian materi pembelajaran pendidikan agama Islam era post-truth di SMA. Penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi ini mengandalkan data wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Partisipan penelitian ini melibatkan tiga orang guru PAI dan sembilan siswa SMA Islam Al-Azhar 29 Semarang. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman melalui tahapan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi organisasi pembelajaran cenderung bertentangan dengan posh-truth. Pertama, resistensi terhadap post-truth dapat dilihat dari pola pendekatan pembelajaran saintifik melalui model pembelajaran berbasis masalah, model pembelajaran kooperatif, model pembelajaran inkuiri, model pembelajaran quantum teaching, dan model pembelajaran peningkatan keterampilan berpikir yang dipadukan dengan metode pembelajaran terpadu. Model yang dipilih telah mampu menanamkan pendidikan karakter, literasi, HOTS, dan 4C sebagai komponen utama dalam memperjuangkan kebenaran. Ketiga, resistensi terhadap post-truth diberikan melalui model komunikasi yang santun, santun, dan tidak mudah menyebarkan informasi hoax. Hasil penelitian merekomendasikan agar sekolah perlu menyiapkan fasilitas sumber belajar yang memadai dan meningkatkan profesionalisme guru sehingga dampak negatif post-truth dapat diminimalisir di sekolah.)
      PubDate: 2022-09-26
      DOI: 10.19105/nuansa.v19i2.6354
      Issue No: Vol. 19, No. 2 (2022)
       
  • Strategi Bertahan Kelompok Minoritas Agama Menghadapi Diskriminasi:
           Pengalaman Jemaat Ahmadiyah Indonesia Banjarnegara Jawa Tengah

    • Authors: Thomas Rizki Ali, Bowo Sugiarto, Ahmad Sabiq
      Pages: 146 - 165
      Abstract: After the Ahmadiyya was sentenced as a heretical group outside Islam in 2005 and restrictions on the spread of its doctrines in 2008, in 2018 the Indonesian Ahmadiyya Community (JAI) experienced restrictions on their activities in Banjarnegara, Central Java due to resistance from the number of dominant Islamic organizations and prohibitions from the local district government. In discussing this, this article describes the discrimination received by the Ahmadiyya group in Banjarnegara according to the historical and developmental timelines and the Banjarnegara JAI's strategy to be able to maintain its existence. Based on qualitative research, this article shows that discrimination against Ahmadiyya in Banjarnegara was closely related to the fatwa that mentions Ahmadiyya as a group outside Islam or heretical and concerns of dominant Islamic groups over the spread of Ahmadiyya doctrines. To maintain its existence, the Ahmadiyya group has taken advantage of the structure of political opportunities available in the region where their new activities were located and social capital formed through collective identity, as well as reaching out to the community with framed humanism-altruistic activities. The region which was the new location for their activities has a relatively tolerant of political structure and society towards religious minority groups such as the Ahmadiyya. As an organization that already has several branches, the group also has taken advantage of social networks that had been formed historically.  (Setelah Ahmadiyah sempat divonis sebagai kelompok sesat di luar Islam pada tahun 2005 dan pembatasan penyebaran ajarannya pada tahun 2008, pada tahun 2018 Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) mengalami pembatasan aktivitas mereka di Banjarnegara, Jawa Tengah karena adanya resistensi dari jumlah ormas Islam dominan dan larangan dari pemerintah kabupaten setempat. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji dinamika diskriminasi yang dialami Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) di Banjarnegara dan strategi mereka dalam menghadapinya. Dalam membahas hal tersebut, artikel ini memaparkan diskriminasi yang diterima oleh kelompok Ahmadiyah di Banjarnegara sesuai dengan kronologi sejarah dan perkembangan serta strategi JAI Banjarnegara untuk dapat mempertahankan eksistensinya. Artikel ini, berdasarkan penelitian kualitatif, menunjukkan bahwa diskriminasi terhadap Ahmadiyah di Banjarnegara erat kaitannya dengan fatwa yang menyebut Ahmadiyah sebagai kelompok di luar Islam atau sesat dan kekhawatiran kelompok Islam dominan atas penyebaran doktrin Ahmadiyah. Untuk mempertahankan eksistensinya, kelompok Ahmadiyah memanfaatkan struktur peluang politik yang ada di wilayah tempat aktivitas baru mereka berada dan modal sosial yang terbentuk melalui identitas kolektif, serta menjangkau masyarakat dengan kegiatan berbingkai humanisme-altruistik. Wilayah yang menjadi lokasi baru kegiatan mereka memiliki struktur politik dan masyarakat yang relatif toleran terhadap kelompok minoritas agama seperti Ahmadiyah. Sebagai organisasi yang sudah memiliki sejumlah cabang, mereka juga memanfaatkan jejaring sosial yang telah terbentuk secara historis.)
      PubDate: 2022-09-27
      DOI: 10.19105/nuansa.v19i2.6580
      Issue No: Vol. 19, No. 2 (2022)
       
 
JournalTOCs
School of Mathematical and Computer Sciences
Heriot-Watt University
Edinburgh, EH14 4AS, UK
Email: journaltocs@hw.ac.uk
Tel: +00 44 (0)131 4513762
 


Your IP address: 3.237.29.69
 
Home (Search)
API
About JournalTOCs
News (blog, publications)
JournalTOCs on Twitter   JournalTOCs on Facebook

JournalTOCs © 2009-