Journal Cover
Elkawnie : Journal of Islamic Science and Technology
Number of Followers: 0  

  This is an Open Access Journal Open Access journal
ISSN (Print) 2460-8912 - ISSN (Online) 2460-8920
Published by UIN Ar-Raniry Banda Aceh Homepage  [9 journals]
  • Geothermal Distribution Analysis of Geureudong Volcano Based On Satellite
           Data and Fault Fracture Density (FFD)

    • Authors: Muhammad Isa, Zulfadhli Zulfadhli, Cut Fat Thahul, Dwiky Pobri Cesarian
      Pages: 354 - 367
      Abstract: Abstract: Geureudong Volcano area, Bener Meriah, has the potential to be developed as a renewable energy source. Analysis of the distribution of geothermal manifestations can be done with remote sensing techniques and direct measurement. Furthermore, information on geomorphological conditions, surface temperature, and geothermal potential distribution can be known based on the density value on the FFD (Fault Fracture Density) map and satellite image processing results. Data processing uses ArcGIS and ENVI software concerning geothermal manifestations. The analysis was performed by converting DEMNAS data to a hillshade for drawing straightness structures related to the fault. Image data processing to obtain vegetation density (NDVI), hydrological state (NDWI), and surface temperature distribution (LST). NDWI values are inversely proportional to NDVI. The LST value depends on the density of the vegetation; the higher the vegetation density, the lower the surface temperature. The FFD map is divided into three levels i.e. low (0-0.17 km/km2), moderate (0.17-0.47 km/km2) and high (0.47-1.2 km/km2). The distribution of geothermal potential is at medium and high-density levels, including the Silih Nara, Wih Pesam, and Pintu Rime Gayo areas. The straightness direction is in the north-south and southeast-northwest positions. Based on the NDVI, NDWI, and LST map analysis results, geothermal energy distribution has a rare to moderate vegetation density with surface temperatures ranging from 25.8oC-39.6oC. The result clearly shows that the Geureudong geothermal distribution is initial information before in situ exploration is carried out.Abstrak: Gunung berapi Geureudong, Bener Meriah, sangat prospektif untuk dikembangkan terutama sebagai sumber energi terbarukan. Analisis sebaran manifestasi panas bumi dapat dilakukan dengan teknik penginderaan jauh dan pengukuran langsung. Informasi geomorfologi, temperatur permukaan dan sebaran potensi panas bumi dapat diketahui berdasarkan nilai densitas pada peta FFD (Fault and Fracture Density) dan hasil pengolahan citra satelit Landsat 8. Pemrosesan data menggunakan perangkat lunak ArcGIS dan ENVI yang terkait dengan manifestasi panas bumi. Analisis dilakukan dengan mengubah data DEMNAS menjadi hillshade untuk menggambar struktur kelurusan yang berhubungan dengan sesar. Pengolahan data citra untuk mendapatkan kerapatan vegetasi (NDVI), keadaan hidrologi (NDWI) dan distribusi suhu permukaan (LST). Nilai NDWI berbanding terbalik dengan NDVI. Nilai LST tergantung pada kerapatan vegetasi, semakin tinggi kerapatan vegetasi maka semakin rendah suhu permukaan. Peta FFD dibagi menjadi tiga tingkatan; rendah (0-0,17 km/km2), sedang (0,17-0,47 km/km2) dan tinggi (0,47-1,2 km/km2). Sebaran potensi panas bumi berada pada tingkat kepadatan sedang dan tinggi, meliputi kawasan Silih Nara, Wih Pesam dan Pintu Rime Gayo. Arah kelurusan berada pada posisi utara-selatan dan tenggara-barat laut. Berdasarkan hasil analisis peta NDVI, NDWI dan LST didapatkan bahwa sebaran energi panas bumi memiliki kerapatan vegetasi jarang hingga sedang dengan temperatur permukaan berkisar antara 25.8oC-39.6oC.Hasil yang diperolehkan menunjukkan bahwa sebaran panas bumi Geureudong dengan sangat jelas tergambar sebagai informasi awal sebelum dilakukan eksplorasi lapangan (in situ).
      PubDate: 2022-01-17
      DOI: 10.22373/ekw.v7i2.9728
      Issue No: Vol. 7, No. 2 (2022)
       
  • The Alternative of Drainage Construction Technology Selection by Using
           Analytical Hierarchy Process Method

    • Authors: Hafnidar A Rani, Tamalkhani Syammaun, Aulina Adamy, Ari Fadillah
      Pages: 368 - 381
      Abstract: Abstract: The drainage channel is one of the complementary buildings on the road segment in requiring one of the technical requirements for road infrastructure. The road drainage channels in general are open channels using gravity to drain surface water or inundation to the channel. The distribution of flow in the drainage channel to this channel follows the contours of the highway so that the water will flow easily following gravity. The Several alternatives selection of drainage development technologies include elbow drainage, parallel, grid iron, natural and radial. The problem found that some factor considered in selection the right technology are the construction budget, construction period, material supply, and construction process affecting the selection process become complicated. The purpose of this study is to determine the dominant criteria required in considering the selection of drainage construction technology in Banda Aceh and to determine the proper alternative using Analytical Hierarchy Process (AHP) method. After distributing questionnaires to 16 respondents, the research found that the dominant criterion is the construction period as the score of 0.66. According to the respondents, the construction period become the most vital criteria since the assessment of criteria variable relate to the limitation in complete all drainage proposed. This study founds that the best alternative in selecting drainage construction technology is "parallel drainage" as the score is 4.96. Therefore, this study recommends the use of "parallel drainage" as a priority in the drainage construction Banda Aceh by considering construction budget, construction period, material supply and construction process.Abstrak: Saluran drainase merupakan salah satu bangunan pelengkap pada ruas jalan dalam memenuhi salah satu persyaratan teknis prasarana jalan. Pada umumnya saluran drainase jalan merupakan saluran terbuka yang menggunakan gaya gravitasi untuk mengalirkan air limbah ke outlet. Distribusi aliran di saluran drainase ke outlet ini mengikuti kontur jalan raya sehingga air limbah akan lebih mudah mengalir secara gravitasi. Beberapa alternatif pemilihan teknologi pembangunan drainase antara lain adalah drainase elbow, parallel, gridiron, natural dan radial. Persoalannya, beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan dalam memilih teknologi yang tepat, biaya pembangunan, waktu konstruksi, ketersediaan material, dan proses pembangunan sehingga pilihan menjadi rumit. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan kriteria dominan yang perlu diperhatikan dalam pemilihan teknologi pembangunan drainase di Kota Banda Aceh dan menentukan alternatif yang tepat melalui metode Analytical Hierarchy Process (AHP). Setelah menyebarkan kuesioner kepada 16 responden, penelitian menemukan bahwa kriteria yang dominan adalah waktu pengerjaan dengan bobot tertinggi (0,66). Menurut responden, waktu konstruksi merupakan kriteria yang paling penting karena keterbatasan dalam menyelesaikan seluruh usulan pembangunan drainase perlu dipertimbangkan. Studi ini menemukan bahwa alternatif terbaik dalam memilih teknologi pembangunan drainase adalah “drainase paralel” yang memperoleh nilai kinerja tertinggi sebesar 4,96. Oleh karena itu, penelitian ini merekomendasikan penggunaan “drainase paralel” sebagai prioritas dalam pembangunan drainase di Kota Banda Aceh dengan pertimbangan biaya, waktu konstruksi, ketersediaan material, dan proses pembangunan.
      PubDate: 2022-01-17
      DOI: 10.22373/ekw.v7i2.9880
      Issue No: Vol. 7, No. 2 (2022)
       
  • Digital Trail Awareness in Islamic Perspective

    • Authors: Gunawan Adnan, Mulkan Fadhli, Farid Fathony Ashal
      Pages: 382 - 394
      Abstract: Abstract: The growing popularity of the internet has a significant impact on people's attitudes. The Covid-19 pandemic has accelerated a cultural, ethical, and normative change in people's behavior. The potential for social change resulting from the emergence or advancement of information and technology is significant. The rise of social media, which has now become a common form of communication, is unavoidable. Digital communication through a variety of websites to obtain information will leave digital traces. The concept of a digital trail certainly reaffirms what has previously been written in Al-Qur'an, Surah Yasin: 65. This verse is relevant to digital multi-hop tracks that outline human actions and behavior to the swipe of their fingers. The verse is translated through the use of a digital trail that is connected to internet access. This library research study uses the source triangulation method to analyse exploratory qualitative content. The study's findings indicate a correlation between the digital trail and Surah Yasin 65, demonstrating that current digital technology proves that the Qur'an's nash or verses are consistent with the unquestionable assumption of human rationality. It also emphasizes the importance of being cautious and responsible when using digital platforms.Abstrak: Tren peningkatan penggunaan internet memberikan pengaruh besar terhadap perilaku masyarakat. Pandemi Covid-19 mengakselerasi pergeseran pola perilaku masyarakat baik dari segi budaya etika maupun norma yang ada. Potensi terjadinya perubahan sosial sebagai konsekuensi lahir atau berkembangnya teknologi informasi sangat besar. Kemunculan media sosial yang kini sudah menjadi hal yang umum dalam berkomunikasi memang tak dapat dihindarkan lagi. Jalur komunikasi di era digital yang melalui berbagai proses untuk mendapatkan informasi akan meninggalkan jejak-jejak digital atau digital footprint. Potret jejak digital ini tentunya menegaskan kembali apa yang telah dituliskan dalam Al Quran pada surah Yasin ayat 65. Ayat ini memiliki relevansi dengan jejak hop digital menguraikan perbuatan dan perilaku manusia dari sentuhan jari. Ayat tersebut diterjemahkan dengan footprint digital yang terhubung dalam sebuah jaringan internet. Studi ini merupakan library research dengan  pendekatan kualitatif explanatif dalam bentuk konten analisis dengan metode tringalasi sumber. Hasil studi menunjukkan bahwa terdapat korelasi digital footprint dengan Surah Yasin 65 di mana teknologi digital saat ini menjadi bukti bahwa nash yang termuat dalam Alquran sesuai dengan asumsi rasionalitas manusia yang tidak memiliki keraguan di dalamnya. Penekanan berikutnya adalah setiap individu harus cermat dan bertanggungjawab dalam mengakses platform digital.
      PubDate: 2022-01-17
      DOI: 10.22373/ekw.v7i2.11706
      Issue No: Vol. 7, No. 2 (2022)
       
  • Effects of Dietary Caulerpa lentillifera Supplementation On Growth
           Performance and Survival Rate of Milk Fish, Chanos chanos (Forssk√•l,
           1775)

    • Authors: Dedi Fazriansyah Putra, Muhammadar Abdullah Abbas, Nadri Solin, Norhayati Othman
      Pages: 395 - 407
      Abstract: Abstract: The study aimed to investigate the dietary supplementation effect of sea grape, Caulerpa lentillifera, on the growth performance and survival rate of milkfish, Chanos chanos (Forsskål, 1775). Two hundred fish weighing in the range of 0.20-0.25 g/ind were randomly distributed into 20 of 25 L tanks. The 0 (control), 10, 20, 30, and 40 g/kg of Caulerpa lentillifera powder was supplemented into four formulated feeds and then fed for 49 days. The result exposed that the administration of Caulerpa lentillifera powder in the diet provided a significant effect on the absolute weight gain, absolute length gain, specific growth rate, and feed efficiency (P<0,05), but there was no significant effect on survival rate (P>0,05). The optimum specific growth rate, absolute weight, absolute length and feed efficiency were found at treatment C (20 g/kg diet) with the values of 1.597±0.137 %/days, 4.47±0.08 g, 2.98±0.77 cm and 69.86±2.72 %, respectively. Regarding this result, the supplementation of sea grape (Caulerpa lentillifera) at a 20 g/kg diet is recommended to obtain the optimum growth of milkfish (Chanos chanos).Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suplementasi pakan anggur laut Caulerpa lentillifera terhadap performa pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan bandeng, Chanos chanos (Forsskål, 1775). Dua ratus ikan sampel berbobot berkisar 0.20-0.25 g/ind didistribusikan secara acak ke dalam 20 tangki dengan volume masing-masing 25 L. Tepung anggur laut dengan dosis 0 (kontrol), 10, 20, 30, dan 40 g/kg ditambahkan ke dalam lima formulasi pakan dan diberi makan sebanyak 5% dari biomassa ikan dengan frekuensi 2 kali sehari selama 49 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian tepung C. lentillifera dalam ransum memberikan pengaruh nyata terhadap laju pertumbuhan spesifik, bobot mutlak, panjang mutlak dan efisiensi pakan (P<0.05), tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap kelangsungan hidup (P>0.05). Laju pertumbuhan spesifik, bobot mutlak, panjang mutlak dan efisiensi pakan yang optimum terdapat pada perlakuan C (diet 20 g/kg) dengan nilai 1.597±0.137 %/hari, 4.47±0.08 g, 2.98± 0.77 cm dan 69.86±2.72%. Berkaitan dengan hasil tersebut, disarankan penambahan suplemen anggur laut (C. lentillifera) pada pakan 20 g/kg memberikan pertumbuhan yang optimum bagi ikan bandeng (Chanos chanos).
      PubDate: 2022-01-17
      DOI: 10.22373/ekw.v7i2.10484
      Issue No: Vol. 7, No. 2 (2022)
       
  • Preparation and Characterization of Giant Tiger Shrimp (Penaeus monodon)
           Shell-Based Chitin as Biocoagulant for Water Purification

    • Authors: Khairun Nisah, Rizna Rahmi
      First page: 215
      Abstract: Abstract: Giant tiger shrimp (Penaeus monodon) shells are solid waste that can be utilized for water purification by converting them into chitin-based biocoagulant. The extraction and deproteination of giant tiger shrimp shells (Penaeus monodon) resulted in 83.34% w/w, followed by a demineralization yield of 91.61% w/w product. Chitin extract was used as a biocoagulant using the Jar test method on a fixed variable of 1 L well water and the independent variables of chitin weight (mg) and stirring speed (rpm). The results showed that 15 mg/L chitin reduced the turbidity value of well water from 3.08-1.03 NTU and decreased the Total Dissolved Solids (TDS) from 555-500 mg/L, at 200 rpm and pH 8.4. In conclusion, our investigation proves that chitin derived from giant tiger shrimp shells can be used as a biocoagulant for water purification.Abstrak: Kulit udang merupakan limbah padat yang dapat digunakan untuk penjerniahan air, dengan mengonversi limbah tersebut menjadi biokoagulan berbasis chitin. Limbah kulit udang Windu (Penaeus monodon) diekstrak menjadi chitin sebagai bahan baku Biokoagulan dalam penjernihan air sumur. Proses ekstraksi kulit udang windu (Penaeus monodon) diperoleh rendemen sebesar 83,34% melalui proses deproteinasi, diperoleh rendemen sebanyak 91,61% melalui proses demineralisasi. Hasil ekstrak chitin digunakankan sebagai biokoagulan dengan metode Jar test pada variabel tetap sebesar 1 L air sumur dan variabel berubah adalah massa chitin dan waktu pengadukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 15 mgram/L chitin mampu  menurunkan nilai kekeruhan air sumur dari 3,08-1,03 (NTU) dan menurunkan Total Dissolved Solids TDS  dari 555-500 (mgram/L), dengan kecepatan rotasi 200 rpm untuk nilai pH 8,4. Kesimpulan, penelitian ini menunjukkan bahwa chitin yang diperoleh dari kulit udang windu dapat digunakan sebagai biokoagulan pada proses penjernihan air.
      PubDate: 2021-07-23
      DOI: 10.22373/ekw.v7i2.8229
      Issue No: Vol. 7, No. 2 (2021)
       
  • Tracking The Source of Antimicrobial Production From House Fly (Musca
           domestica): Right-Wing of Fly Or Gut System' - A Mini-Review

    • Authors: Muhammad Asril, Ika Agus Rini, Indah Oktaviani, Mushaliyah Mushaliyah
      First page: 225
      Abstract: Abstract: The house fly (Musca domestica) is a vector of disease-causing bacteria because of its habit of perching and feeding on various substrates of pathogenic bacteria.  His role as a disease carrier contradicts the hadith narrated by Bukhari, which is "If a fly falls into your vessel, drown it and then remove it because one of its wings carries disease and the other is the cure." This hadith indicates the presence of antimicrobial compounds produced from the body of flies. Various research reports show that the truth of this hadith is that there are antimicrobial-producing bacterial symbionts on the wings of flies (left and right) that can kill pathogenic bacteria on one of the wings or both. Antimicrobial compounds are also produced naturally in the digestive tract of flies from the larval stage to adulthood as a response to the body's defense against the presence of pathogenic bacteria in their bodies. The antimicrobial compounds are lysozyme, defensin, cecropin, diptericin, and several antimicrobial peptide compounds. This compound can also be removed mechanically through pressure (the process of immersing the fly's body in water). This shows that the process of drowning aims to extract or release antimicrobial compounds from the digestive tract of flies to neutralize pathogenic bacteria that have mixed in the liquid in specific containers. This review examines various reports related to antimicrobial substances produced in flies and their evidence in this hadith.Abstrak: Lalat rumah (Musca domestica) merupakan vektor pembawa bakteri penyebab penyakit karena kebiasaan hinggap dan makan pada berbagai substrat bakteri patogen. Perannya sebagai pembawa penyakit memiliki kontradiksi dengan hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari yaitu “Jika seekor lalat jatuh ke bejana kamu, tenggelamkanlah kemudian singkirkan, karena salah satu sayapnya membawa penyakit dan sayap lainnya adalah obatnya”. Hadist ini mengindikasikan adanya senyawa antimikroba yang dihasilkan dari tubuh lalat. Berbagai laporan penelitian menunjukkan bahwa kebenaran hadist ini yaitu pada sayap lalat (kiri dan kanan) terdapat bakteri simbion penghasil antimikrob yang mampu membunuh bakteri patogen pada salah satu sayap atau keduanya. Senyawa antimikrob juga dihasilkan secara alami dalam pencernaan lalat sejak tahap larva hingga dewasa sebagai respon pertahanan tubuh terhadap keberadaan bakteri patogen ditubuhnya. Senyawa antimikrob tersebut berupa lisozim, defensin, cecrofin, diptericin dan beberapa senyawa peptida antimikrob. Senyawa ini juga dapat dikeluarkan secara mekanik melalui tekanan (proses penenggelaman tubuh lalat dalam air). Hal ini menunjukkan bahwa proses penenggelaman lalat kedalam air bertujuan untuk mengekstrak atau mengeluarkan senyawa antimikrob dari pencernaan lalat untuk menetralisir bakteri patogen yang telah bercampur dalam cairan di wadah tertentu. Review ini bertujuan untuk mengkaji berbagai laporan terkait senyawa antimikrob yang dihasilkan pada tubuh lalat dan pembuktiannya pada hadist tersebut.
      PubDate: 2021-09-25
      DOI: 10.22373/ekw.v7i2.9495
      Issue No: Vol. 7, No. 2 (2021)
       
  • Perception Analysis of Green Construction Implementation on Construction
           Projects For Contractors in Banda Aceh City

    • Authors: Anita Rauzana, Nurul Hidayati Binti Saidan, Wira Dharma
      First page: 239
      Abstract: Abstract: Along with the increasing use of natural resources, and the large number of construction waste dumping in the environment, environmental damage is increasingly visible. Many areas, especially Banda Aceh City, have experienced land and air degradation due to the pattern of life and the number of people. Currently, the construction project has a new concept, namely green construction, which is believed to improve the environment caused by various developments by reducing the occurrence of environmental damage. The research objective was to analyze the perception of the application of green construction in construction projects in the city of Banda Aceh in determining the most dominant factors and the relationship between the factors of implementing green construction (X) on costs (Y). The research location was in the city of Banda Aceh. Secondary data, namely contractor company data. Primary data were 34 questionnaires. The results of data analysis using SPSS include a validity test, reliability test, frequency analysis, and Pearson product-moment correlation test. Based on the research results, it was found that the most dominant green construction factor was the application of energy conservation in construction (X5) of 95.1%, the application of energy conservation (X10) of 92.8%, and the use of construction materials (X8) of 92.5%. The largest correlation coefficient value was obtained in energy conservation (X10) of 0.882.Abstrak: Seiring meningkatnya pemakaian sumber daya alam dan banyaknya pembuangan limbah konstruksi di lingkungan, kerusakan lingkungan semakin terlihat. Telah banyak daerah-daerah khususnya Kota Banda Aceh mengalami degradasi lahan dan udara karena pola hidup dan jumlah manusia. Saat ini proyek konstruksi mempunyai sebuah konsep baru yaitu green construction yang dipercaya mampu memperbaiki lingkungan yang diakibatkan oleh berbagai pembangunan dengan mereduksi terjadinya kerusakan lingkungan. Tujuan penelitian untuk menganalisis persepsi penerapan green construction pada proyek konstruksi di Kota Banda Aceh dalam menentukan faktor-faktor yang paling dominan dan hubungan antara faktor-faktor penerapan green construction (X) terhadap biaya (Y). Lokasi penelitian di Kota Banda Aceh. Data sekunder yaitu data perusahaan kontraktor. Data primer sebanyak 34 kuesioner. Hasil analisis data menggunakan SPSS meliputi uji validitas, uji reliabilitas, analisis frekuensi, dan uji korelasi pearson product moment. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh bahwa faktor green construction  yang paling dominan adalah penerapan konservasi energi pada pelaksanaan konstruksi (X5) sebesar 95,1%, penerapan konservasi energi (X10) sebesar 92,8%, dan penggunaan material konstruksi (X8) sebesar 92,5%. Nilai koefisien korelasi terbesar didapat pada konservasi energi (X10) sebesar 0,882.
      PubDate: 2021-09-25
      DOI: 10.22373/ekw.v7i2.7477
      Issue No: Vol. 7, No. 2 (2021)
       
  • A Pyrolysis of 80 Mesh Spirulina platensis Residue (SPR) With Fe3O4
           Catalyst

    • Authors: Siti Jamilatun, Lukhi Mulia Shitophyta, Heidy Oktavia Nisa, Mutia Endar Nurhidayah
      First page: 252
      Abstract: Abstract: Spirulina platensis Residue (SPR) is obtained from the solid residue of Spirulina platensis extraction, which has high carbohydrate and protein content. Pyrolysis technology will convert SPR into a bio-oil, water phase, char, and gas (CO, CO2, H2, CH4) product with the potential as an environmentally friendly and sustainable fuel. This study aims to obtain data on the optimum conditions and product yield composition of SPR catalytic pyrolysis using the in-situ method.  Pyrolysis occurs in a fixed-bed reactor with SPR 50 gr feed and Fe3O4 catalyst (2.5 gr and 5 gr) at temperature variations of 300-600 °C with an average heating rate. 14.07 °C/min. The higher the pyrolysis temperature, the more bio-oil yield, the optimum at a temperature of 500 ⁰C. The use of 2.5 and 5-gram catalysts obtained bio-oil yields of 25.01 and 17.67 %. The yield of biochar will be lower with increasing pyrolysis temperature. The optimum condition for the gas production was achieved at 300 °C, using a catalyst of 2.5 and 5 grams, the yield of gas was 23.59, and 19.74 %. Moreover, the smaller the specific gravity and the higher the bio-oils pH, the better it is as a vehicle fuel.Abstrak: Spirulina platensis Residu (SPR) diperoleh dari residu padat ekstraksi Spirulina platensis yang memiliki kandungan karbohidrat dan protein tinggi. Teknologi pirolisis akan mengubah SPR menjadi produk bio-oil yang berpotensi sebagai bahan bakar ramah lingkungan dan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data kondisi optimum dan komposisi yield produk dari pirolisis katalitik SPR dengan metode in-situ. Pirolisis SPR akan menghasilkan produk berupa bio-oil, water phase, char dan gas (CO, CO2, H2, CH4). Pirolisis berlangsung dalam reaktor fixed-bed dengan umpan SPR 50 gr serta katalis Fe3O4 (2.5 gr dan  5 gr)  pada variasi suhu 300-600°C dengan heating rate rata-rata 14,07 °C/min. Semakin tinggi suhu pirolisis semakin banyak yield bio-oil, optimum pada suhu 500 ⁰C. Pemakaian katalis 2,5 dan 5 gram diperoleh yield bio-oil sebanyak 25,01 dan 17,67 %. Yield biochar akan semakin rendah dengan kenaikan suhu pirolisis. Kondisi optimum produk gas dicapai pada 300 °C dengan katalis 2,5 dan 5 gram diperoleh yield gas sebesar 23,59, dan 19,74 %. Hal tersebut mengakibatkan, semakin kecil berat jenis dan semakin tinggi pH bio-oil maka semakin baik sebagai bahan bakar kendaraan.
      PubDate: 2021-09-26
      DOI: 10.22373/ekw.v7i2.8950
      Issue No: Vol. 7, No. 2 (2021)
       
  • Similarity Analysis of User Trajectories Based on Haversine Distance and
           Needleman Wunsch Algorithm

    • Authors: Mohammad Jamhuri, Mohammad Isa Irawan, Imam Mukhlash
      First page: 263
      Abstract: Abstract: In this paper, we discuss the similarity between two trajectories using the Needleman Wunsch algorithm. The calculation steps are interpolating the trajectory, calculating the distance between the trajectory coordinates, identifying the equivalent length, transforming trajectories into a sequence of alphabetic letters, aligning the sequences, and measuring the magnitude of the similarity based on the alignment results. The similarity obtained is compared directly to the length of the trajectories shared by the two lines. The calculation results show that the accuracy of the alignment method reaches more than 90%. Abstrak: Dalam tulisan ini dibahas cara perhitungan persentase kesamaan dari dua buah lintasan menggunakan algoritma Needleman Wunsch dan perhitungan secara manual berdasarkan irisan dari lintasan-lintasan tersebut. Pada perhitungan menggunakan algoritma Needleman Wunsch, tahapan-tahapan yang dilakukan adalah menginterpolasi lintasan, menghitung jarak antara titik-titik koordinat dari kedua lintasan, mengidentifikasi jarak yang ekivalen, mengubah lintasan menjadi sekuens huruf alfabet, menyejajarkan sekuens, dan menentukan besarnya kesamaan berdasarkan hasil penyejajaran. Kesamaan yang diperoleh dari metode penyejajaran dibandingkan secara langsung dengan panjang jalur yang dilalui bersama oleh kedua lintasan, hasil perhitungan menunjukkan bahwa akurasi metode penyejajaran mencapai lebih dari 90%.
      PubDate: 2021-09-26
      DOI: 10.22373/ekw.v7i2.9232
      Issue No: Vol. 7, No. 2 (2021)
       
  • Effectiveness Bleaching of Waste Cooking Oil Cleaning Using
           Nano-Montmorillonite Adsorbent

    • Authors: Silvia Ningsih, Puji Wahyuningsih, Tisna Harmawan
      First page: 277
      Abstract: Abstract: Waste cooking oil contains carcinogenic compounds which are formed during the frying process. The content change makes it is not worth for reuse cooking oil. One of the damages to cooking oil is caused by heating. The quality of useable oil refers to SNI 01-3741-2013. The sample used in this research is waste cooking oil that is used for 5 times of frying. The quality of the oil can be improved using Nano-Montmorillonite adsorbent. The results of PSA and FTIR characterization show that Nano-Montmorillonite has a nano-scale particle size of 15.3 nm with a percentage of 6%. The rest are particles that have a size> 100 nm with a total percentage of 94% with a respective size of 383.9 nm with a percentage of 59% and 6647.1 nm with a percentage of 35% and have functional groups, namely hydroxyl (-OH), Si-O-Si and Al-Al-OH. Testing of waste cooking oil quality includes organoleptic, acid numbers, peroxide numbers, and saponification numbers using Nano-Montmorillonite. Based on the results, the more Nano-Montmorillonite adsorbent was added, the lower the numbers of acid, peroxide, and saponification in waste cooking oil and the better the quality of flavor and color. Based on this analysis, Nano-Montmorillonite adsorbent can improve the quality of waste cooking oil.Abstrak: Minyak jelantah mengandung senyawa yang bersifat karsinogenik yang terbentuk selama proses penggorengan. Perubahan sifat ini menjadikan minyak goreng tersebut tidak layak digunakan kembali sebagai bahan makanan. Salah satu kerusakan pada minyak goreng disebabkan oleh pemanasan. Kualitas minyak layak pakai merujuk pada SNI 01-3741-2013. Sampel minyak yang digunakan dalam penelitian ini adalah  minyak jelantah dengan 5 kali penggorengan. Kualitas minyak tersebut dapat ditingkatkan menggunakan adsorben Nano-Montmorillonit. Berdasarkan hasil karakterisasi PSA dan FTIR menunjukkan bahwa Nano-Montmorillonit memiliki ukuran partikel berskala nano yaitu 15,3 nm dengan persentase sebesar 6% dan sisanya merupakan partikel yang memiliki ukuran > 100 nm dengan total persentase 94% dengan ukuran masing-masing sebesar 383,9 nm dengan persentase 59% dan 6647,1 nm dengan persentase 35%serta memiliki gugus-gugus fungsional yaitu hidroksil (-OH), Si-O-Si dan Al-Al-OH. Pengujian kualitas minyak jelantah meliputi organoleptik, bilangan asam, bilangan peroksida dan bilangan penyabunan menggunakan Nano-Montmorillonit. Berdasarkan hasil pengujian maka semakin banyak jumlah adsorben Nano-Montmorilonit yang ditambahkan maka bilangan asam, bilangan peroksida, bilangan penyabunan mengalami penurunan serta kualitas aroma dan warna pada minyak jelantah menjadi lebih baik. Berdasarkan analisis tersebut adsorben Nano-Montmorillonit dapat meningkatkan kualitas minyak jelantah.
      PubDate: 2021-09-26
      DOI: 10.22373/ekw.v7i2.9252
      Issue No: Vol. 7, No. 2 (2021)
       
  • Climate-Responsiveness Embodied in Modern Mosque Design

    • Authors: Era Nopera Rauzi, Izziah Hasan, Laina Hilma Sari
      First page: 288
      Abstract: Abstract: A mosque is a place of worship for Muslims. Modernity concept to visualize the simple form in a mosque is relevant, which would help the worshippers to be more solemn. Office buildings, mainly located in Aceh, known as Serambi Mekkah, are required to provide a mosque in the office environment. Since its concept transforms from traditional style to modern style, the mosque in the office area is designed in modernity. The study purposes of enabling climate-responsive principles in mosque design for achieving indoor thermal comfort. Even though without available power support. The design method approached problem-solving by creating the building friendly to the environment and achieving indoor thermal comfort. This study used trial and error through modeling appropriate to climate-responsiveness mosque design in the office area. Furthermore, this study would be continued in complex buildings, namely schools and offices, promoting environmentally-friendly to be applied in building design. Abstrak: Masjid adalah tempat ibadah bagi umat Islam. Konsep modernitas untuk memvisualisasikan bentuk sederhana di masjid adalah relevan, yang akan membantu jamaah untuk lebih khusyuk. Gedung perkantoran khususnya yang berada di Aceh yang dikenal dengan Serambi Mekkah wajib menyediakan mushola di lingkungan kantor. Karena konsepnya bertransformasi dari gaya tradisional ke gaya modern, masjid di area perkantoran juga didesain dengan gaya modern. Tujuan studi ini adalah untuk mengaktifkan prinsip responsif iklim dalam desain masjid untuk mencapai kenyamanan termal dalam ruangan meskipun tanpa dukungan daya yang tersedia. Metode desain pada studi ini menggunakanpendekatan pemecahan masalah untuk menciptakan bangunan ramah lingkungan dan mencapai kenyamanan termal dalam ruangan. Penelitian ini menggunakan metode trial and error melalui pemodelan yang sesuai dengan desain masjid yang responsif terhadap iklim di kawasan perkantoran. Selanjutnya studi ini akan dilanjutkan penerapannya pada bangunan kompleks seperti sekolah dan perkantoran untuk mempromosikan desain bangunan ramah lingkungan.
      PubDate: 2021-09-28
      DOI: 10.22373/ekw.v7i2.9138
      Issue No: Vol. 7, No. 2 (2021)
       
  • The Effect of Lemon (Citrus limon) Extract on The Quantity and Quality of
           Mice (Mus musculus) Sperm

    • Authors: Vitaloka Guci Rahayu, Evi Hanizar
      First page: 300
      Abstract: Abstract: Vitamin C has been proved as a nutrient to improve the quality of sperm. Society believed that consuming the lemons could potentially enhance the sperm quality of humans. However, the appropriate concentration should be well studied to obtain the optimum concentration to improve the sperm quality and quantity. The present research tried to explain how lemon could improve the sperm quality by designing a true experimental using a series concentration of lemon extract (25%, 50%, and 75 % concentrations) given to the male mice (Mus musculus). The investigation was made by giving the lemon treatment three times a day for 5 weeks. To investigate the effect of lemon extract, the mice sperm were taken from the epididymis and observed using a multimedia microscope and counted using Neubauer’s counting rooms, while motility and morphology were observed using object-glass. The result showed that the high concentration of lemon could not provide the highest improvement of sperm quality and quantity. The optimum condition was seen in 25% of lemon extract, where the increase of lemon concentration suppressed the lemon improvement effect, which reduced the sperm quality and quantity. However, the improvement was still made if the result was compared to control, meaning consuming lemon was better than consuming any lemon treatment. The result was in accordance with quality improvement of sperm, where 25% of lemon concentration treatment provided the highest average motility and normal morphology of sperm. However, the high concentration of lemon extract (50% and 75% of lemon concentrations) provided a lower effect due to the adverse effect. The result proved that lemon could boost the quality and quantity of sperm in an appropriate concentration where the excess lemon extract could reduce the effect of lemon in improving sperm quality and quantity.Abstrak: Vitamin C telah terbukti sebagai nutrisi untuk meningkatkan kualitas sperma dimana masyarakat percaya bahwa mengkonsumsi lemon berpotensi meningkatkan kualitas sperma manusia. Namun, konsentrasi yang tepat harus dipelajari dengan baik untuk mendapatkan konsentrasi yang optimal untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas sperma. Penelitian ini mencoba memberikan informasi bagaimana lemon dapat meningkatkan kualitas sperma dengan merancang eksperimen nyata menggunakan serangkaian konsentrasi ekstrak lemon (konsentrasi 25%, 50% dan 75%) yang diberikan kepada mencit jantan (Mus musculus). Penyelidikan dilakukan dengan memberikan ekstrak lemon sebanyak tiga kali dalam sehari selama 5 minggu. Untuk mengetahui pengaruh ekstrak lemon, sperma mencit diambil dari epididimis dan diamati menggunakan mikroskop multimedia dan dihitung menggunakan kamar hitung Neubauer, sedangkan motilitas dan morfologi diamati menggunakan kaca objek. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi lemon yang tinggi tidak dapat memberikan peningkatan kualitas dan kuantitas sperma yang tertinggi. Kondisi optimum terlihat pada ekstrak lemon 25% dimana peningkatan konsentrasi lemon menekan efek perbaikan lemon yang menurunkan kualitas dan kuantitas sperma. Namun perbaikan tetap dilakukan jika hasilnya dibandingkan dengan kontrol, artinya mengkonsumsi lemon lebih baik daripada tanpa mengkonsumsi lemon. Hasil tersebut sesuai dengan peningkatan kualitas sperma dimana perlakuan konsentrasi lemon 25% memberikan rata-rata motilitas dan morfologi sperma yang normal paling tinggi. Namun, konsentrasi tinggi ekstrak lemon (50% dan 75% konsentrasi lemon) memberikan efek yang lebih rendah karena efek samping. Hasil penelitian membuktikan bahwa lemon dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas sperma dalam konsentrasi yang sesuai dimana kelebihan ekstrak lemon dapat mengurangi efek lemon dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas sperma.
      PubDate: 2021-09-28
      DOI: 10.22373/ekw.v7i2.9389
      Issue No: Vol. 7, No. 2 (2021)
       
  • Immunodetection of Adhesin Pili Protein 38.6 kDa K.pneumoniae Using
           Western Blot

    • Authors: Dini Agustina, Diana Chusna Mufida, Nurul Indah Saffanah
      First page: 317
      Abstract: Abstract: Klebsiella pneumoniae is a pathogen that causes infections in communities and hospitals. These bacteria have many virulence factors that play an important role in the pathogenicity of infection and antibiotic resistance. Pili protein Klebsiella pneumoniae with 38.6 kDa as one of the virulence factors, that have roles as hemagglutinin dan adhesin protein so potentially as a vaccine candidate. This research aimed to immunodetection pili protein 38.6 kDa using Western Blot.  Western Blot was used to detect that protein with specific primary antibodies. These antibodies are obtained from mice serum-induced intraperitoneally with Pili protein 38.6 kDa Klebsiella pneumoniae. Protein bands that appear on the membrane of Western Blot results are proteins with a molecular weight of 85.6 kDa, 65.5 kDa, 46.9 kDa, and 29.4 kDa. This study concludes that Pili protein 38.6 kDa Klebsiella pneumoniae as the target protein does not appear in the Western Blot result.Abstrak: Klebsiella pneumoniae adalah patogen yang menyebabkan infeksi di komunitas maupun rumah sakit. Bakteri tersebut memiliki banyak faktor virulensi yang berperan penting dalam patogenisitas terjadinya infeksi dan resistensi antibiotik. Protein pili Klebsiella pneumoniae dengan 38.6 kDa sebagai salah satu faktor virulensi, memiliki peran sebagai protein hemagglutinin dan adhesin sehingga berpotensi sebagai kandidat vaksin. Tujuan penelitian ini untuk imunodeteksi protein pili 38.6 kDa dengan menggunakan Western Blot. Western Blot digunakan untuk mendeteksi protein itu dengan spesifik antibodi primer. Antibodi ini diperoleh dari serum tikus yang telah diinduksi secara inteperitoneal dengan protein Pili 38.6 kDa Klebsiella pneumoniae. Band protein yang muncul pada membran hasil Western Blot adalah protein dengan berat molekul 85.6 kDa, 65.5 kDa, 46.9 kDa dan 29.4 kDa. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa protein Pili 38.6 kDa Klebsiella pneumoniae sebagai protein target tidak muncul.
      PubDate: 2021-12-14
      DOI: 10.22373/ekw.v7i2.10127
      Issue No: Vol. 7, No. 2 (2021)
       
  • The Application of Goat Bone Waste Activated Charcoal As Manganese Heavy
           Metal Absorbent in Borehole Water

    • Authors: Sari Wardani, Savitri Savitri, Firda Mawardah, Muhammad Adham, Lindawati Lindawati
      First page: 328
      Abstract: Abstract: Bone is a waste from livestock that contains both organic and inorganic components. It consists of 69% organic compounds used as raw materials for activated charcoal manufacturing. The research aimed to process goat bone waste into activated charcoal products to absorb manganese-heavy metals in borehole water. This research was conducted through carbonization, activation, and characterization. The goat bone waste was carbonized and heated at 700oC for 1 hour, followed by activation. The absorption of manganese-heavy metal was determined by variating the weight of goat bone activated charcoal in 5 g, 10 g, 15 g with a contact time of 15 and 30 minutes. The goat bone waste charcoal obtained was characterized by proximate test, Fourier  Transform  Infrared  Spectroscopy  (FT-IR), and Scanning  Electron  Microscopy  (SEM). The results showed that goat bone activated charcoal has a water content value of 2%, ash content of 7%, volatile matter of 10%, fixed carbon 87%, and iodine absorption of 968 mg/g. These values still meet the requirement specified in SNI 06-3730-1995 and SNI 06-4253-1996. The Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR) analysis produced functions groups of C–H, C=C, C=H, CºC, N-H dan O–H. The Scanning Electron Microscopy (SEM) test results found an active charcoal pore diameter of 5,200 mm x 12,952 mm. The efficiency of manganese heavy metals absorption in borehole water ranges from 99.707% - 99.821%.Abstrak: Tulang merupakan limbah hasil peternakan yang pemanfaatannya belum maksimal. Tulang tersusun dari senyawa organik sebesar 69% yang dapat dijadikan bahan baku pembuatan arang aktif. Penelitian bertujuan mengolah limbah tulang kambing menjadi produk arang aktif yang mampu menyerap logam berat mangan pada air sumur bor. Metode penelitian meliputi tahap karbonisasi tulang, tahap aktivasi arang pada suhu 700 oC selama 1 jam, tahap penyerapan logam berat mangan mengunakan variasi berat arang aktif tulang kambing 5 g, 10 g, 15 g dengan waktu kontak 15 dan 30 menit dan tahap analisis meliputi uji proksimat, uji gugus fungsi dan uji morfologi. Hasil uji proksimat menunjukkan nilai kadar air 2%, kadar abu 7%, volatile matter 10%, fixed karbon 87 %, daya serap yodium 968 mg/g masih memenuhi SNI 06-3730- 1995 dan SNI 06-4253-1996. Uji FTIR menghasilkan gugus fungsi C–H, C=C, C=H, CºC, N-H dan O–H. Pengujian SEM menghasilkan diameter pori arang aktif sebesar 5,200 mm x 12,952 mm. Efesiensi penyerapan logam berat mangan pada air sumur bor berkisar pada 99,707% - 99,821%.
      PubDate: 2021-12-15
      DOI: 10.22373/ekw.v7i2.9586
      Issue No: Vol. 7, No. 2 (2021)
       
  • The Type Fragmentation Patterns Confirmed Acetaminophen By Using Liquid
           Chromatography-Mass Spectroscopy (LCMS) From Herbal Medicine (Jamu)

    • Authors: Muhammad Taupik, Endah Nurrohwinta Djuwarno, Moh Adam Mustapa, Wiwin R Kunusa, Jafar La Kilo, Muhamad Handoyo Sahumena
      First page: 341
      Abstract: Abstract: In the last twenty years, the Jamu or herbal medicine were adulterated with chemical drugs. One of the chemical drugs that are commonly added to herbal medicine is acetaminophen. Acetaminophen is generally considered an analgesic-antipyretic drug. The research aims to identify the content of paracetamol and its amount added to the jamu. This study consisted of 6 jamu or herbal medicine samples with different brands. The TLC method conducted the qualitative analysis using the mobile phase n-hexane: ethyl acetate (1:1). Three positive samples containing acetaminophen were obtained, namely samples D, E, and F. The three positive samples containing acetaminophen were calculated using the LCMS method. Quantitative analysis was conducted with LCMS using a reversed-phase with a mobile phase of acetonitrile: water (15%>: 85%> v/v) at a flow rate of 0.2 mL/min and an injection volume of 5 µL, it was obtained the levels of acetaminophen in sample D as much as 0.16 g/2 g of sample, in sample E of 0.63 g/7 g of sample, and sample F of 0.56 g/7 g of sample. Although the acetaminophen content in herbal medicine is relatively small, according to the Regulation of the Minister of Health of Indonesia No. 007 of 2012, traditional medicine or herbal medicine should not contain synthetic chemicals.Abstrak: Dalam dua puluh tahun terakhir, banyak jamu yang dipalsukan dengan obat-obatan kimia. Salah satu obat kimia yang biasa ditambahkan pada jamu adalah asetaminofen. Acetaminophen umumnya dianggap sebagai obat analgesik-antipiretik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan parasetamol dan jumlah yang ditambahkan pada jamu. Sampel penelitian ini terdiri dari 6 sampel jamu dengan merek yang berbeda. Analisis kualitatif dilakukan dengan metode KLT menggunakan fase gerak n-heksana: etil asetat (1:1). Diperoleh tiga sampel positif mengandung asetaminofen, yaitu sampel D, E, dan F. Tiga sampel positif mengandung asetaminofen dihitung menggunakan metode LCMS. Analisis kuantitatif dilakukan dengan LCMS menggunakan fase terbalik dengan fase gerak asetonitril: air (15%>:85%> v/v) pada laju alir 0,2 mL/menit dan volume injeksi 5 µL. Diperoleh kadar asetaminofen pada sampel D sebanyak 0,16 g/2 g sampel, pada sampel E sebesar 0,63 g/7 g sampel, dan pada sampel F sebesar 0,56 g/7 g sampel. Meskipun kandungan asetaminofen dalam jamu relatif sedikit, namun menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 007 Tahun 2012, obat tradisional atau jamu tidak boleh mengandung bahan kimia sintetik.
      PubDate: 2021-12-24
      DOI: 10.22373/ekw.v7i2.7492
      Issue No: Vol. 7, No. 2 (2021)
       
 
JournalTOCs
School of Mathematical and Computer Sciences
Heriot-Watt University
Edinburgh, EH14 4AS, UK
Email: journaltocs@hw.ac.uk
Tel: +00 44 (0)131 4513762
 


Your IP address: 3.238.180.255
 
Home (Search)
API
About JournalTOCs
News (blog, publications)
JournalTOCs on Twitter   JournalTOCs on Facebook

JournalTOCs © 2009-