Journal Cover
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia
Number of Followers: 0  

  This is an Open Access Journal Open Access journal
ISSN (Print) 2406-8969 - ISSN (Online) 2549-0621
Published by Universitas Indonesia Homepage  [19 journals]
  • COVID-19 dari Perspektif Penyakit Ginjal : Dalam Rangka Memperingati Hari
           Ginjal Sedunia (World Kidney Day 2022)

    • Authors: Anandhara Indriani Khumaedi
      Pages: 1 - 3
      Abstract: Secara global, hingga saat ini pandemi Coronavirus
      disease-19 (COVID-19) telah menjangkit lebih dari 450
      juta orang di dunia dan menyumbang kematian sebanyak
      6 juta jiwa. Situasi di Indonesia menunjukkan bahwa 5,9
      juta jiwa terkonfirmasi positif COVID-19, dengan kasus
      meninggal mencapai 150 ribu jiwa. Case fatality rate
      (CFR) secara keseluruhan menunjukkan angka 2,6%,
      namun angka ini bervariasi sepanjang tahun dan pernah
      dilaporkan sebanyak 9,6% pada Juni 2020 di DKI Jakarta.
      PubDate: 2022-04-02
      DOI: 10.7454/jpdi.v9i1.754
      Issue No: Vol. 9, No. 1 (2022)
       
  • Perbandingan Mortalitas, Lama Rawat, Perbaikan Fungsi Ginjal, dan
           Kebutuhan Hemodialisis Selama Perawatan pada Pasien Acute Kidney Injury
           (AKI) dengan dan Tanpa Sepsis, Serta Faktor yang Memengaruhi Mortalitas
           Pasien

    • Authors: Mochammad Jalalul Marzuki, Nursamsu Nursamsu, Achmad Rifai
      Pages: 4 - 14
      Abstract: Pendahuluan. Acute kidney injury (AKI) merupakan komplikasi utama pada pasien dengan kondisi kritis yang berpengaruh terhadap mortalitas. Sepsis merupakan faktor predisposisi utama terjadinya AKI serta memberikan prognosis yang buruk dan angka mortalitas yang tinggi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbandingan mortalitas selama perawatan, lama rawat, perbaikan fungsi ginjal, dan kebutuhan hemodialisis antara pasien AKI akibat sepsis dan non-sepsis, serta faktor-faktor yang berpengaruh terhadap mortalitas pasien AKI.
      Metode. Penelitian observasional analitik dilakukan pada pasien usia ≥40 tahun yang didiagnosis AKI berdasarkan kriteria KDIGO. Data diambil dari rekam medis pasien di Rumah Sakit dr. Saiful Anwar Malang selama Januari - Juni 2019. Pasien dikelompokkan ke dalam kelompok sepsis dan non-sepsis berdasarkan kriteria diagnostik di instalasi gawat darurat. Kemudian, dilakukan pemantauan luaran yaitu mortalitas selama perawatan, lama rawat, perbaikan fungsi ginjal, dan kebutuhan hemodialisis, serta analisis faktor yang berpengaruh terhadap mortalitas pasien. Perbedaan kejadian mortalitas, perbaikan fungsi ginjal, dan kebutuhan hemodialisis antarkelompok dianalisis dengan analisis bivariat chi square, sedangkan perbedaan lama rawat dianalisis dengan uji Mann Whitney. Faktor risiko yang berpengaruh terhadap mortalitas diuji dengan analisis multivariat regresi logistik berganda.
      Hasil. Didapatkan 135 subjek yang terdiri dari 80 (59,25% ) subjek kelompok sepsis dan 55 (40,74%) subjek non-sepsis. Pasien AKI akibat sepsis mempunyai tingkat mortalitas selama perawatan yang lebih tinggi (p=0,002), kebutuhan hemodialisis yang lebih tinggi (p=0,017), perbaikan fungsi ginjal yang lebih rendah (p=0,022), dan durasi rawat inap yang lebih lama (p=0,004) secara bermakna dibandingkan dengan non-sepsis. Faktor yang paling berpengaruh terhadap mortalitas pada pasien AKI dari hasil analisis multivariat adalah kondisi sepsis [OR 3,468 (IK 95% 1,438-8,366); p=0,006], oligoanuria [OR 2,923 (IK 95% 0,950-8,990); p=0,041], dan penurunan kesadaran [OR 3,817 (IK 95% 1,589-9,168); p=0,003].
      Kesimpulan. Pasien AKI dengan sepsis memiliki tingkat mortalitas selama perawatan yang lebih tinggi, durasi rawat inap yang lebih lama, perbaikan fungsi ginjal yang lebih rendah, serta kebutuhan hemodialisis yang lebih tinggi dibandingkan dengan AKI non-sepsis. Kondisi sepsis, oligoanuaria, dan penurunan kesadaran memberikan pengaruh yang bermakna terhadap mortalitas pasien AKI.
      Kata Kunci: AKI, hemodialisis, lama rawat, mortalitas, non-sepsis, perbaikan fungsi ginjal, sepsisComparison of Hospital Mortality, Length of Stay, Renal Recovery, and Needs for Hemodialysis in Acute Kidney Injury (AKI) Patients due to Septic and Non-septic, and Factors Affecting Patients’ MortalityIntroduction. Acute kidney injury (AKI) is a major complication in critically ill patients that affects mortality. Sepsis is a major predisposing factor for AKI and provides a poor prognosis and high mortality rate. This study aimed to identify the difference of hospital mortality, length of stay, renal recovery, and needs for hemodialysis between AKI patients due to sepsis and non-sepsis, as well as to determine the factors that influence the mortality of patients with AKI.
      Methods. An analytical observational study was conducted among patients with AKI according to the KDIGO criteria and aged ≥40 years old. Data were obtained from patients’ medical records in Saiful Anwar Hospital Malang in January-June 2019. Patients were categorized into sepsis or non-sepsis group. Patients were then followed during hospitalization for mortality, length of stay, renal recovery, and need of hemodialysis outcome. The difference in the incidence of mortality, renal recovery, and need of hemodialysis between the two groups were analyzed by Chi Square bivariate analysis, while the difference in length of stay was analyzed by Mann Whitney test. Risk factors that influence mortality will be tested by multivariate analysis of binary logistic regression
      Results. There were 135 subject consist of 80 (59.25%) subjects of AKI due to sepsis and 55 (40.74%) subjects of AKI non-sepsis. Patients with AKI due to sepsis has higher hospital mortality (p=0.002), increased needs for hemodialysis (p=0.017), low renal recovery (p=0.022), and longer length of stay (p=0.004) compared to non-sepsis. From multivariate analysis, we revealed that the contributing factors for mortality in patients with AKI were sepsis [OR 3.468 (IK 95% 1.438-8.366); p=0.006], oligoanuria [OR 2.923 (IK 95% 0.950-8.990); p=0.041], and decreased of consciousness [OR 3.817 (IK 95% 1.589-9.168); p=0.003].
      Conclusion. Higher hospital mortality, longer length of stay, increased needs for hemodialysis, and lower renal recovery in patients with AKI due to sepsis compared to those without sepsis. The conditions of sepsis, oligoanuria and decreased of consciousness have a very significant influence on the mortality of AKI patients.

      PubDate: 2022-04-02
      DOI: 10.7454/jpdi.v9i1.623
      Issue No: Vol. 9, No. 1 (2022)
       
  • Karakteristik Pasien Efusi Pleura Non-Maligna di RSUD Dr. Zainoel Abidin
           Tahun 2019

    • Authors: Teuku Romi Imansyah Putra, Price Maya, Maryatun Hasan, Agung Pranata, Safira Salsabila, Hesti Anandini Sariningrum
      Pages: 15 - 22
      Abstract: Pendahuluan. Efusi pleura merupakan akumulasi cairan patologis dalam ruang pleura yang masih menjadi penyebab utama distress pernapasan di seluruh dunia dan dapat disebabkan oleh berbagai macam penyakit, baik yang berasal dari pleura, paru-paru maupun ekstrapulmoner. Morbiditas dan mortalitas efusi pleura secara langsung berkaitan dengan penyebab yang mendasarinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil pasien, etiologi, lokasi dan jenis cairan, penyakit komorbid, serta jenis bakteri yang menginfeksi pasien efusi pleura non-maligna.
      Metode. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif retrospektif berdasarkan data sekunder berupa rekam medis periode Januari hingga Desember 2019 di RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh. Sampel penelitian diambil dengan menggunakan metode total sampling.
      Hasil. Dari 118 pasien efusi pleura non-maligna, jenis kelamin terbanyak adalah laki-laki (66,9%) dengan proporsi usia tertinggi yaitu 46-55 dan >65 tahun pada laki-laki sedangkan pada perempuan yaitu 56-65 tahun. Pneumonia menjadi etiologi efusi pleura non-maligna terbanyak. Eksudat merupakan jenis cairan pleura yang paling banyak ditemukan (72,9%) dan lokasi efusi yang paling sering adalah hemithorax dekstra (53,4%). Sebanyak 104 pasien memiliki penyakit penyerta dengan penyakit terbanyak yaitu tuberkulosis (11,3%). Hasil pemeriksaan kultur cairan pleura menunjukkan adanya pertumbuhan bakteri pada 33 pasien dengan jenis bakteri terbanyak adalah Staphylococcus hominis (22,9%).
      Kesimpulan. Efusi pleura non-maligna secara umum bersifat eksudat dengan pertumbuhan bakteri paling sering adalah Staphylococcus hominis
      Kata Kunci: Efusi pleura non-maligna, karakteristik, komorbid, kulturCharacteristics of Patients with Non-Malignant Pleural Effusion in dr. Zainoel Abidin Hospital Banda Aceh in 2019Introduction. Pleural effusion occurs when there is a pathological process causing fluid to accumulate in the pleural cavity. Pleural effusion is still the main cause of respiratory distress and can also be caused by many diseases either from pleural, lungs, or even extrapulmonary problems. The morbidity and mortality of this condition are directly associated with the underlying causes. The aim of this study is to investigate the profile of the patients, etiology, location, fluid characteristics, comorbidities, and also the bacteria pattern of non-malignant pleural effusion.
      Methods. This is a retrospective descriptive study that used patient’s medical records from January to December 2019 in Zainoel Abidin Hospital, Banda Aceh as the source of data for this study.
      Results. There were 118 patients with non-malignant pleural effusion from January to December 2019. In this study, it was found that the highest gender was male (66.9 %) and in the age group of 46-55 and >65 years old in male, and 56-66 years old in female. The most frequent etiology of non-malignant pleural effusion was pneumonia. The majority (72.9%) of pleural effusion were exudate and mostly happened in the right lung (53.4%). Comorbidities were found in 104 patients and the main comorbidity was tuberculosis (11.3%). The result of the pleural fluid culture test showed that there were 33 samples with positive results. Staphylococcus hominis was the bacteria found in most of the isolates (22.9%).
      Conclusion. Non-malignant pleural effusions are generally exudates with Staphylococcus hominis being the most common bacterial growth

      PubDate: 2022-04-02
      DOI: 10.7454/jpdi.v9i1.696
      Issue No: Vol. 9, No. 1 (2022)
       
  • Dampak Penyakit Ginjal terhadap Pasien COVID-19 di Rumah Sakit Sanglah
           Denpasar, Bali, Indonesia pada Tahun 2021

    • Authors: Putu Satyakumara Upadhana, I Gede Gita Sastrawan Sastrawan, I Gusti Agung Ayu Chintya Cahyarini, Anbiya Umam, Amanda Trisliana Dwi Putri, I Gede Raka Adhyatma, I Ketut Agus Somia
      Pages: 23 - 27
      Abstract: Pendahuluan. Selain berdampak pada sistem pernapasan, COVID-19 juga berdampak pada organ lain yaitu ginjal. Respons inflamasi sistemik memiliki peranan dalam perburukan klinis pada pasien COVID-19 dengan penyakit ginjal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak penyakit ginjal terhadap pasien COVID-19.
      Metode. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Data yang digunakan adalah data sekunder dari rekam medis pasien terkonfirmasi COVID-19 yang dirawat di RSUP Sanglah mulai tanggal 1 Mei 2021 sampai dengan 31 Agustus 2021 dengan menggunakan teknik total sampling.
      Hasil. Terdapat 248 pasien yang dilibatkan dalam penelitian ini. Mayoritas pasien adalah laki-laki (52,4%) dengan rerata usia keseluruhan pasien adalah 59 (rentang 20-92) tahun. Sebagian besar pasien adalah COVID-19 dengan derajat berat (65,3%). Sebanyak 77 pasien menderita penyakit ginjal (31,0%) dan penyakit ginjal yang paling banyak ditemukan adalah acute on chronic kidney disease (n=33; 42,8%). Terdapat perbedaan bermakna pada kadar hemoglobin (p<0,001), nitrogen urea darah (BUN) (p<0,001), kreatinin serum (p<0,001), dan prokalsitonin (p<0,001) pada pasien yang diklasifikasikan berdasarkan penyakit ginjal. Analisis chi-square menunjukkan bahwa pasien COVID-19 dengan penyakit ginjal berhubungan terhadap sepsis [PR=2,587 (IK 95% 1,750-3,824); p<0,001)], mortalitas [PR=1,696 (IK 95% 1,114-2,583); p=0,018)], dan COVID-19 derajat berat [PR=1,513 (IK 95% 1,077-2,342); p=0,040)]. Analisis regresi logistik menunjukkan pasien COVID-19 dengan penyakit ginjal berhubungan secara signifikan terhadap sepsis [PR=4,318 (IK 95% 1,767-10,553); p<0,001)] dan mortalitas [PR=1,413 (IK 95%= ,664-3,005); p=0,045)].
      Kesimpulan. Penyakit ginjal berhubungan secara signifikan dan meningkatkan risiko terhadap kejadian sepsis dan mortalitas pada pasien COVID-19.
      Kata Kunci: COVID-19, komorbiditas, penyakit ginjalKidney Disease and Its Impact on COVID-19 Patients at Sanglah Hospital Denpasar, Bali, Indonesia in 2021Introduction. Besides having an impact on the respiratory system, COVID-19 also has an impact on other organ such as the kidneys. The systemic inflammatory response thought to be associated with bad prognosis of COVID-19 patients with kidney disease. This study aimed to determine the impact of kidney disease on COVID-19 patients.
      Methods. This study is an observational analytic study with a cross-sectional approach. The data used is secondary data from the records of confirmed COVID-19 patients who were treated at Sanglah Hospital from 1 May 2021 to 31 August 2021 using total sampling technique.
      Results. There were 248 patients included in this study. The majority of patients were male (52.4%) with the median overall age of the patients was 59 (range 20–92) years. Most of the patients were severe COVID-19 (65.3%). A total of 77 patients had kidney disease (31.0%) which the most common kidney disease found in patients was acute on chronic kidney disease (n=33; 42.8%). There were significant differences in hemoglobin (p<0.001), blood urea nitrogen (BUN) (p<0,001), serum creatinine (p<0.001), and procalcitonin (p<0.001) in patients classified based on kidney disease. Chi-square analysis showed that COVID-19 patients with kidney disease was correlated with sepsis [PR=2.587 (95%CI 1.750-3.824); p<0.001)], mortality [PR=1.696 (95%CI 1.114-2.583); p=0.018)], and severe COVID-19 [PR=1.513 (95%CI 1.077-2.342); p=0.040)]. Logistic regression analysis showed that COVID-19 patients with kidney disease was correlated with sepsis [PR=4.318 (95%CI 1.767-10.553); p<0,001] and mortality [PR=1.413 (95%CI 1.664-3.005); p=0.045)].
      Conclusion. Kidney disease increases the risk for sepsis and mortality in COVID-19 patients.

      PubDate: 2022-04-02
      DOI: 10.7454/jpdi.v9i1.658
      Issue No: Vol. 9, No. 1 (2022)
       
  • Model Prediksi Kejadian Pneumonia 30 Hari Pasca Bedah Abdomen pada Pasien
           Usia Lanjut

    • Authors: Noto Dwimartutie, Harini Oktadiana, Gurmeet Singh, Wifanto Saditya Jeo, Kuntjoro Harimurti
      Pages: 28 - 34
      Abstract: Pendahuluan. Perubahan fisiologis sistem pernapasan pada usia lanjut meningkatkan risiko kejadian pneumonia pasca bedah. Pneumonia pasca bedah non-toraks ditemukan paling tinggi pada bedah abdomen. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan model prediksi pneumonia 30 hari pasca bedah abdomen pada pasien usia lanjut.
      Metode. Penelitian dengan desain kohort retrospektif dilakukan dengan menggunakan rekam medis pasien usia lanjut yang menjalani bedah abdomen di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Analisis multivariat dengan regresi logistik digunakan untuk mendapatkan nilai odds ratio (OR). Performa kalibrasi dinilai dengan uji Hosmer-Lemeshow. Performa diskriminasi dinilai dengan menghitung area under the curve (AUC).
      Hasil. Dari 753 subjek yang dilakukan bedah abdomen, sebanyak 9,2% subjek mengalami pneumonia 30 hari pasca bedah. Prediktor independen kejadian pneumonia adalah status fungsional [skor ADL Barthel 0-11, OR 6,908 (interval kepercayaan (IK) 95% 2,933-16,273); skor ADL Barthel 12-19, OR 3,191 (IK 95% 1,53-6,657)], bedah abdomen atas [OR 4,869 (IK 95% 1,805-13,132)], penyakit paru obstruktif kronik/PPOK [OR 6,888 (IK 95% 2,001-23,709)], dan albumin <3 g/dl [OR 2,54 (IK 95% 1,404-4,596)]. Model prediksi pneumonia terbagi menjadi risiko rendah (skor <2; probabilitas 3,4%), risiko sedang (skor 2-3; probabilitas 19,97%), dan risiko tinggi (skor >3; probabilitas 60,42%). Uji Hosmer–Lameshow mendapatkan nilai p=0,452 dan AUC 0,811 (IK 95% 0,75-0,86).
      Simpulan. Model prediksi pneumonia 30 hari pasca bedah abdomen pada pasien usia lanjut dengan 4 prediktor yaitu status fungsional, bedah abdomen atas, PPOK, dan kadar albumin <3 g/dl memiliki performa yang baik.
      Kata Kunci: Bedah abdomen, model prediksi, pneumonia pasca bedah, usia lanjutPrediction Model of 30-Days Postoperative Pneumonia in Elderly Patient Undergoing Abdominal SurgeryIntroduction. Physiologic changes in respiratory tract in elderly increase incidence of post-operative pneumonia. Post-operative pneumonia in non-thoracic surgery was found higher in abdominal surgery. This study aimed to develop a prediction model of 30-day post-operative pneumonia in elderly patients undergoing abdominal surgery.
      Methods. A retrospective cohort study was conducted using elderly patient’s medical records who underwent abdominal surgery in Cipto Mangunkusumo General Hospital. Multivariate analysis using logistic regression was used to determine Odds Ratio (OR). Model’s calibration performance was determined by Hosmer-Lameshow test and its discrimination performance was determined by calculating area under the curve (AUC).
      Results. Of 753 subject who underwent abdominal surgery, postoperative pneumonia was found in 9.2% subjects. Independent predictors for 30-day postoperative pneumonia were functional status [ADL Barthel 0-11, odds ratio (OR) 6.908 (95% confidence interval (CI) 2.933-16.273); ADL Barthel 12-19, OR 3.191 (95%CI 1.53-6.657)], upper abdominal surgery [OR 4.869 (95%CI 1.805-13.132)], chronic obstructive pulmonary disease [OR 6.888 (95%CI 2.001-23.709)], and albumin level <3 g/dl [OR 2.54 (95%CI 1.404-4.596)]. Prediction model of pneumonia was stratified into lower risk (score <2; probability 3.4%), moderate risk (score 2-3; probability 19.97%), and high risk (score >3; probabililty 60.42%). Hosmer-Lemeshow test revealed p-value 0.452 and the AUC value is 0.811 (95%CI 0.87-0.97).
      Conclusion. A simple prediction model of 30-day post-operative pneumonia for elderly patients undergoing abdominal surgery consisted of 4 predictors (functional status, upper abdominal surgery, COPD and albumin level <3 g/dl) has a good performance.

      PubDate: 2022-04-02
      DOI: 10.7454/jpdi.v9i1.716
      Issue No: Vol. 9, No. 1 (2022)
       
  • Kejadian Sindrom Kolon Iritabel Berdasarkan Kriteria Baru Roma IV pada
           Mahasiswa Kedokteran dan Faktor-Faktor yang Berhubungan

    • Authors: Ardhi Rahman Ahani, Ari Fahrial Syam, Rudi Putranto, Pringgodigdo Nugroho
      Pages: 35 - 41
      Abstract: Pendahuluan. Pendidikan kedokteran memiliki masa studi yang panjang dan terdapat berbagai macam tugas serta ujian. Mahasiswa kedokteran yang menjalani pendidikan kedokteran dapat menghadapi masalah kesehatan sindrom kolon iritabel selama masa pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi sindrom kolon iritabel (SKI) pada mahasiswa kedokteran dengan menggunakan kriteria Roma IV dan faktor-faktor yang berhubungan.
      Metode. Studi potong lintang dilakukan terhadap 350 mahasiswa kedokteran Universitas Indonesia tingkat I hingga tingkat V pada bulan November-Desember 2016. Pemilihan subjek dilakukan berdasarkan stratified random sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara menggunakan kuesioner. Kriteria diagnosis yang digunakan adalah kriteria Roma IV. Dilakukan analisis bivariat untuk mengetahui hubungan antara faktor-faktor dengan kejadian SKI pada mahasiswa kedokteran menggunakan uji chi square, uji T tidak berpasangan, dan alternatifnya. Analisis multivariat dilakukan dengan menggunakan regresi logistik.
      Hasil. Proporsi sindrom kolon iritabel pada mahasiswa kedokteran perempuan dengan menggunakan kriteria Roma IV sebesar 18,3% dan pada mahasiswa kedokteran laki-laki sebesar 9,7% (IK 95% 1,11-3,91). Subtipe SKI terbanyak adalah subtipe diare (53,1%). Skor student-life stress inventory, baik stressor maupun respons terhadap stressor, pada mahasiswa dengan SKI lebih tinggi dibandingkan tanpa SKI, untuk skor stressor (66,4 (SB 11,4) vs. 60,0 (SB 12,2), p=0,001), dan skor respons terhadap stressor (64,0 (41-97) vs. 55,0 (35-88), p<0,001). Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian SKI di antaranya adalah jenis kelamin perempuan (aOR 2,14; IK 95% 1,12-4,08) dan ansietas (aOR 2,89; IK 95% 1,43-5,83).
      Simpulan. Proporsi SKI pada mahasiswa kedokteran perempuan dengan menggunakan kriteria Roma IV 18,3% dan pada mahasiswa kedokteran laki-laki 9,7% (1,11-3,91 IK 95%), didominasi subtipe diare (53,1%). Ansietas dan jenis kelamin perempuan berhubungan dengan kejadian SKI.
      Kata Kunci: Ansietas, kriteria Roma IV, sindrom kolon iritabelThe Prevalence of Irritable Bowel Syndrome Using Rome IV Criteria in Medical Student and The Related FactorsIntroduction. Medicine is a long study time. Medical student will take five years study to accomplish the education. Because the lot of task and some taken test, some medical student will face irritable bowel syndrome in their study periods. This study aims to identify the prevalence of IBS in medical student and related factors.
      Methods. A cross-sectional study of 350 medical student Universitas Indonesia from first grade until fifth grade was done during November-December 2016. This study used stratified randomized sampling. The Rome IV criteria was used for diagnosing IBS. Interview with questionnaire guided was applied to all subjects. A bivariate analysis was done to know relationship between IBS and its related factors using chi-square, unpaired t-test, and their alternatives. Multivariate analysis was done using logistic regression test.
      Results. The IBS proportions were 18.3% in the female medical students and 9.7% in the male medical students (95% CI 1.11- 3.91). The highest subtype was diarrhea subtype (53.1%). Both student-life stress inventory score (stressor and response to stressor) were higher in IBS group than in non-IBS group (For stressor (66.4 (SB 11.4) vs 60.0 (SB 12.2), p=0,001) and for response to stressor (64.0 (41-97) vs 55,0 (35-88), p<0,0001). Female sex and anxiety were related to IBS ((aOR 2.14; 95% CI 1.12-4.08) and (aOR 2.89; 95% CI 1.43-5.83)).
      Conclusions. The IBS proportions were 18.3% in the female medical students and 9.7% in the male medical students (95% CI 1.11- 3.91) with predominant diarrhea subtype (53.1%). Anxiety and woman were related to IBS.

      PubDate: 2022-04-02
      DOI: 10.7454/jpdi.v9i1.715
      Issue No: Vol. 9, No. 1 (2022)
       
  • Pengaruh Gangguan Fungsi Hepar terhadap Prognosis Pasien COVID-19

    • Authors: Sakinah Rahma Sari, Juferdy Kurniawan
      Pages: 42 - 52
      Abstract: Meskipun cukup banyak ditemukan peningkatan enzim hati pada pasien COVID-19, namun pengaruh peningkatan penanda fungsi hepar yang abnormal terhadap prognosis pasien COVID-19 masih belum diketahui dengan pasti. Laporan kasus berbasis bukti ini disusun untuk mengetahui pengaruh fungsi hati abnormal pada pasien COVID-19 melalui penelusuran literatur pada tiga database, yaitu PubMed, Scopus, dan Proquest pada tanggal 16-17 Agustus 2021. Hasil penelusuran kemudian diseleksi melalui skrining judul dan abstrak, eliminasi duplikasi, dan penerapan kriteria eligibilitas. Artikel yang terpilih kemudian ditelaah menggunakan Centre of Evidence Based Medicine (CEBM), University of Oxford. Meskipun beberapa studi melaporkan tidak ada perbedaan signifikan antara fungsi hati abnormal dan fungsi hati normal dalam prognosis pasien COVID-19, mayoritas studi menyatakan fungsi hati abnormal meningkatkan risiko prognosis buruk pada pasien COVID-19. Berdasarkan studi dengan tingkat kepercayaan tertinggi, didapatkan pasien dengan peningkatan kadar serum glutamic oxaloacetic transaminase (SGOT) dan serum glutamic pyruvic transaminase (SGPT) berisiko terjadinya prognosis yang lebih buruk dibandingkan pasien dengan kadar SGOT dan SGPT normal [OR 2,98 (IK 95% 2,35-3,77); p<0,001) dan OR 1,73 (IK 95% 1,32-2,27; p<0,001)]. Berdasarkan 34 studi yang telah ditelaah, dapat disimpulkan bahwa fungsi hati abnormal dapat menyebabkan prognosis yang lebih buruk pada pasien COVID-19 sehingga pasien COVID-19 dengan fungsi hati abnormal memerlukan pengawasan yang lebih ketat.
      Kata Kunci: COVID-19, fungsi hati abnormal, prognosisAbnormal Liver Function in Predicting COVID-19 Patients’ PrognosisDespite of the high prevalence of liver enzyme elevation in COVID-19 patients, its effect on predicting COVID-19 patients’ prognosis was still debatable. This evidence-based case report aims to evaluate the effect of abnormal liver function in the prognosis of COVID-19 patients. Literature searching was performed on August 16-17 2021 using 3 databases: PubMed, Scopus, and Proquest. The articles selected by title/abstract screening, duplication elimination, and applying eligibility criteria were then appraised using Centre of Evidence Based Medicine (CEBM), University of Oxford. Some of the studies reported there were no significant difference in the prognosis of COVID-19 patient with and without abnormal liver function. However, most of the studies reported abnormal liver function as an independent poor prognosis predictor in COVID-19 patients. Based on the study with the highest level of evidence, the elevation of AST and ALT increase the risk of poor prognosis in COVID-19 patients [OR 2.98 (95% CI 2.35-3.77), p<0.0001) and OR 1.73 (95% CI 1.32-2.27, p<0.001)]. Based on the 34 studies appraised, we conclude that abnormal liver function will increase the risk of poor prognosis in COVID-19 patients. Thus, careful monitoring must be done in COVID-19 patients with abnormal liver function.
      PubDate: 2022-04-02
      DOI: 10.7454/jpdi.v9i1.624
      Issue No: Vol. 9, No. 1 (2022)
       
  • Manajemen Nyeri pada Karsinoma Hepatoseluler Stadium Lanjut: Sebuah Studi
           Kasus

    • Authors: Fita Fitrianti, Hamzah Shatri, Edward Faisal, Rudi Putranto, Ratih Arianita Agung, Leonard Nainggolan, Kemal Fariz Kalista, Cophiadi Irawan
      Pages: 53 - 58
      Abstract: Karsinoma hepatoselular (KHS) merupakan tumor primer hepar yang paling sering terjadi dari seluruh tipe kanker hati, serta menduduki peringkat ke-5 kanker tersering di dunia dan ke-3 kanker penyebab kematian terbanyak di dunia. Nyeri merupakan masalah yang seringkali dialami pasien dengan KHS yang mana dapat memberikan pengaruh terhadap penurunan kualitas hidup pasien. Selanjutnya, pasien dengan KHS sering muncul dengan keadaaan sirosis, sehingga penatalaksanaan terkait nyeri menjadi suatu tantangan klinis bagi klinisi. Artikel ini membahas mengenai kasus seorang laki-laki berusia 26 tahun dengan keluhan nyeri perut bagian kanan atas sejak empat bulan lalu disertai dengan penurunan berat badan. Hasil pemeriksaan menunjukkan serologis hepatits B positif dengan peningkatan alfa feto protein (AFP). Computed tomography (CT) scan abdomen dan biopsi hati menyokong karsinoma hepatoseluler, disertai penyebaran ke paru. Pasien kemudian didiagnosis dengan karsinoma hepatoseluler stadium lanjut. Pasien masuk rumah sakit dengan penurunan kesadaran akibat hipoglikemia. Namun, dikarenakan keluhan nyeri perutnya, pasien kemudian mendapatkan terapi analgesik opioid berupa morphine intermediate release (MIR). Dengan pemberian opioid yang hati-hati serta terukur dan terkendali baik, keluhan pasien akibat nyeri keganasan dapat dikontrol dengan memadai, sehingga mampu meningkatkan kualitas hidup pasien.
      Kata Kunci: Analgesik, karsinoma hepatoseluler, nyeri, opioidPain Management in Advanced Hepatocellular Carcinoma:
      A Case StudyHepatocelullar carcinoma (HCC), the most common primary liver malignancy is the fifth most common cancer and the third most frequent cause of cancer related death globally. Pain comprises one the most common symptoms of HCC and may have severely negative effects on patient’s quality life. Furthermore, patients with HCC often presented with a cirrochis,so to control pain in this patient poses a clinical challenge. This case report discuss about a young 26-years-old male patient who presented with a four-month history of right upper quadrant abdominal pain and weight loss. HbsAg positive and serum alpha-fetoprotein level was high. Computed tomography (CT) and liver biopsy confirmed the presence of primary hepatocellular carcinoma.,with lung metastatic from the radiologic x-ray. Patient came with a loss of consciousness due to hypoglicemia. During hospitalization, patient complaint of abdominal pain and was given morphine intermediate release (MIR) to control the pain. By administering measurable and well-controlled opioids, the patient’s suffering can be reduced, thus improving the patient’s quality of life.

      PubDate: 2022-04-02
      DOI: 10.7454/jpdi.v9i1.509
      Issue No: Vol. 9, No. 1 (2022)
       
  • Mutasi dan Varian Coronavirus Disease 2019 (COVID-19): Tinjauan Literatur
           Terkini

    • Authors: Adityo Susilo, Chyntia Olivia Maurine Jasirwan, Syahidatul Wafa, Suzy Maria, Wulyo Rajabto, Akhmadu Muradi, Ihza Fachriza, Myranda Zahrah Putri, Stacy Gabriella
      Pages: 59 - 81
      Abstract: Pandemi Coronavirus disease 2019 (COVID-19) telah berlangsung sejak Maret 2020 hingga saat ini sudah hampir dua tahun melanda dunia, tak terkecuali Indonesia. Dalam perjalanannya sebagai patogen, SARS-CoV-2 sudah mengalami beberapa mutasi menjadi berbagai varian yang menjadi perhatian dunia. Varian-varian virus ini dikhawatirkan menghambat resolusi wabah, bahkan membuat wabah tidak terkendali. Masih banyak kontroversi dan riset yang berjalan tentang varian-varian baru SARS-CoV-2. Mekanisme penularan yang cepat dan belum meluasnya cakupan vaksinasi telah menyebabkan virus ini cepat bermutasi dan menimbulkan beberapa jenis varian baru. Hingga terakhir ini timbul varian baru Omicron (B.1.1.529) yang pertama ditemukan pada November 2021 di Afrika Selatan dan telah menyebar ke 103 negara. Daya transmisi Omicron yang lebih kuat dibandingkan varian sebelumnya membuat Omicron ditetapkan sebagai variant of concern (VoC). Meskipun beberapa informasi menyebutkan gejala yang ditimbulkan oleh varian ini cenderung ringan, akan tetapi kecepatan transmisi Omicron berpotensi menimbulkan peningkatan gelombang kasus COVID-19 berikutnya. Studi lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui daya transmisi, patogenesis, diagnosis dan tata laksana yang tepat. Oleh karena itu, kami melakukan telaah terhadap studi-studi terkait berbagai mutasi dan varian COVID-19 hingga Januari 2022.
      Kata Kunci: COVID-19, mutasi, Omicron, pandemi, varianMutation and Variant of Coronavirus Disease 2019 (COVID-19): Review of Current LiteraturesSince March 2020, the Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) pandemic has engulfed the world, including Indonesia, for nearly two years. SARS-CoV-2 has undergone several mutations during its evolution as a pathogen, resulting in various variants of global concern. Variants of this virus are suspected to impede the outbreak resolution and possibly causing the outbreak to spiral out of control. There is still considerable debate and research underway regarding the new SARS-CoV-2 variants. Rapid transmission mechanisms and widespread vaccination coverage have accelerated the virus’s mutation rate and resulted in numerous new variants. To date, this has resulted in the discovery of a new variant Omicron (B.1.1.529) in November 2021 in South Africa, which has since spread to 103 countries. Omicron is designated a Variant of Concern (VoC) due to its more powerful transmission than the previous variant. Although some information indicates that the symptoms associated with this variant are typically mild, the rapid transmission of Omicron can increase the next wave of COVID-19 cases. Additional research is required to determine transmissibility, pathogenesis, diagnosis, and proper management. As a result, we conducted an adjunct to studies on various COVID-19 mutations and variants until January 2022.
      PubDate: 2022-04-02
      DOI: 10.7454/jpdi.v9i1.648
      Issue No: Vol. 9, No. 1 (2022)
       
 
JournalTOCs
School of Mathematical and Computer Sciences
Heriot-Watt University
Edinburgh, EH14 4AS, UK
Email: journaltocs@hw.ac.uk
Tel: +00 44 (0)131 4513762
 


Your IP address: 18.208.186.139
 
Home (Search)
API
About JournalTOCs
News (blog, publications)
JournalTOCs on Twitter   JournalTOCs on Facebook

JournalTOCs © 2009-