Journal Cover
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Number of Followers: 0  

  This is an Open Access Journal Open Access journal
ISSN (Print) 0853-9987 - ISSN (Online) 2338-3445
Published by Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Homepage  [6 journals]
  • Hubungan Sikap, Persepsi Kontrol Perilaku, Pengetahuan, dan Kesediaan
           Membayar Dengan Intensi Vaksinasi Covid-19 Pada Masyarakat Pulau Jawa
           Tahun 2020

    • Authors: Hoirun Nisa
      Abstract: Pandemi Coronavirus disease 2019 (COVID-19) masih meluas penyebarannya di dunia, termasuk Indonesia. Pengembangan vaksin COVID-19 dan uji klinis sedang dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan sikap, persepsi kontrol perilaku, pengetahuan terkait COVID-19, serta kesediaan untuk membayar dengan intensi terhadap vaksinasi COVID-19. Penelitian dilakukan pada bulan Oktober 2020 di 6 provinsi di wilayah Pulau Jawa (Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Daerah Istimewa Yogyakarta) secara cross-sectional dengan teknik voluntary sampling. Jumlah responden sebanyak 424 yang dikumpulkan melalui kuesioner daring. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji chi square dan uji regresi logistik biner. Hasil utama penelitian ini menunjukkan bahwa sikap (OR= 10,206; 95% CI: 6,416-16,233), persepsi kontrol perilaku (OR= 7,336; 95% CI: 4,703 - 11,444), dan kesediaan untuk membayar (OR= 4,230; 95% CI: 2,760-6,482) memiliki hubungan signifikan dengan intensi vaksinasi COVID-19 (p-value < 0,05). Pengetahuan terkait COVID-19 tidak memiliki hubungan signifikan dengan intensi vaksinasi COVID-19 (p-value > 0,05). Sebagian besar responden tidak bersedia untuk membayar vaksin COVID-19 (49,1%). Sedangkan, dari 36,3% responden yang bersedia membayar vaksin COVID-19 memilih jumlah maksimal yang ingin mereka bayarkan sejumlah Rp 100.000 – Rp 500.000 ($7,06 - $35,31). Sebagian besar masyarakat Pulau Jawa memiliki intensi vaksinasi COVID-19. Sikap positif terhadap vaksin COVID-19, persepsi kontrol perilaku, dan kesediaan untuk membayar memiliki hubungan dengan intensi vaksinasi COVID-19.
      PubDate: Tue, 16 Aug 2022 00:00:00 SE A
       
  • Pola Spasial Temporal Kasus Demam Berdarah Dengue di Kota Palu Provinsi
           Sulawesi Tengah Tahun 2011-2016

    • Authors: Mujiyanto Mujiyanto; Made Agus Nurjana, Yuyun Srikandi, Hayani Anastasia, Ni Nyoman Veridiana, Ade Kurniawan, Nurul Hidayah, Sitti Chadijah, Rosmini Rosmini
      Abstract: Dengue Fever is a disease neglected tropical diseases are still a major problem in the field of public health, especially the tropics and subtropics. The spatial distribution of dengue fever cases and a location-based early warning system have not yet been developed properly. Modeling the spatial epidemiology of dengue is one of the applications of Geographic Information Systems (GIS). GIS can be used to determine the spatial patterns of temporal occurrence of dengue cases. The purpose of this study is to determine the spatial-temporal patterns of dengue cases based on the spatial statistical analysis in Palu 2011-2016. This study was an observational study with the cross-sectional design. . Samples of dengue cases were all reported from 2011 to June 2016 and were analyzed statistically using the average
      nearest neighbor and space-time permutation. Estimation The results showed the spatial pattern of dengue cases from 2011- June 2016 tend to cluster. Clustering of dengue cases from 2011-2016 obtained two regions with significant clusters. The first cluster region has a p-value of 0.021.Time occurrence of dengue cases that have significant value from 1 March to 30 November 2011 with a total of 25 cases. Furthermore, for the second cluster showed a p-value of 0.037 with a span of the case from 1 May - June 30, 2013, with 17 cases. The main cluster locations or those that are spatially and temporally significant are located in six villages and become a priority in dengue controlling. The implementation of the eradication of dengue mosquito nests with the 3M plus movement and the one house one inspector movement was carried out intensively by prioritizing areas with significant clusters. Surveillance of cases and disease vectors should be improved and developed using GIS.    Abstrak Demam Berdarah Dengue merupakan salah satu penyakit yang masih menjadi masalah utama di bidang kesehatan masyarakat khususnya negara-negara tropis dan subtropis. Distribusi spasial kasus demam berdarah dan sistem kewaspadaan dini berbasis lokasi sampai saat ini belum dikembangkan dengan baik. Pemodelan spasial epidemiologi DBD merupakan salah satu aplikasi dari Sistem Informasi Geografis (SIG). SIG dapat digunakan untuk menentukan pola spasial temporal kejadian kasus DBD. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan pola spasial-temporal kasus DBD berdasarkan analisis spasial statistik di Kota Palu Tahun 2011-2016. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan menggunakan studi potong lintang. Sampel kasus DBD adalah semua yang dilaporkan dari tahun 2011 sampai dengan Juni 2016 dan dianalisis secara spasial statistik menggunakan average nearest neighbour dan space-time permutation. Estimation. Hasil penelitian menunjukkan pola spasial kasus DBD Tahun 2011- Juni 2016 cenderung mengelompok. Untuk pengelompokan kasus DBD Tahun 2011-2016 secara spasial-temporal didapatkan dua daerah dengan klaster yang signifikan. Wilayah klaster tersebut memiliki p-value 0,021 untuk wilayah pertama. Waktu kejadian kasus DBD yang memiliki nilai signifikan tersebut antara rentang waktu 1 Maret – 30 November 2011 dengan jumlah 25 kasus. Selanjutnya untuk klaster kedua didapatkan hasil p-value 0,037 dengan rentang waktu kasus 1 Mei – 30 Juni 2013 dengan jumlah 17 kasus. Lokasi klaster utama atau yang signifikan secara spasial temporal terdapat di enam kelurahan dan menjadi prioritas dalam pengendalian DBD. Pelaksanaan pemberantasan sarang nyamuk DBD dengan gerakan 3M plus dan gerakan satu rumah satu jumantik secara intensif dilakukan dengan memprioritaskan daerah dengan klaster yang signifikan. Surveilans kasus dan vektor penyakit harus ditingkatkan dan dikembangkan dengan memanfaatkan SIG.
      PubDate: Thu, 21 Jul 2022 11:25:48 SE A
       
  • Tingkat Stres Pelajar Sekolah Menengah Saat Pembelajaran Jarak Jauh Pada
           Masa Pandemi Covid-19

    • Authors: Fidah Syadidurrahmah; Hany Fauzia Rahmah, Hoirun Nisa
      Abstract: The COVID-19 pandemic that occurred in 2020 led to the implementation of the Distance Learning (PJJ) system for students in Indonesia. The learning system that changes suddenly can trigger stress levels in students. This study aims to determine the factors that influence the occurrence of stress in high school students during PJJ in Jabodetabek. This study used a cross sectional study design and was conducted in October – November 2020. Sampling used a voluntary sampling technique. Junior and senior high school students in Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, and Bekasi (n=414) participated in this study. Data was collected by filling out online questionnaires. Multivariate analysis was performed by logistic regression. During PJJ, 50.5% of students experienced severe stress. The results of the multivariate analysis showed that female students (OR=2.444, 95% CI: 1.526 – 3.913); difficulty in accessing learning (OR= 4.244, 95% CI: 2.666 – 6.756); and poor level of understanding of the material (OR= 2.657, 95% CI 1.541 – 4.582) affected the stress level of students during PJJ. We concluded that severe stress during PJJ was quite high in middle school participants. Female students, difficulty of access, and level of understanding of the material were significantly associated with
      the stress level of participants. The variable most related to student’s stress was difficulty in accessing learning material. It is better if the education provider ensure that every student easily to access learning, evaluates the PJJ method regularly, improves students; stress management skills, creates a supportive educational environment, and pays attention to the learning media used. Abstrak Pandemi COVID-19 yang terjadi pada tahun 2020 menyebabkan diberlakukannya sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) pada pelajar di Indonesia. Sistem pembelajaran yang berubah secara tiba-tiba dapat memicu tingkat stres pada pelajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan stres pada pelajar sekolah menengah selama PJJ di Jabodetabek. Studi ini menggunakan desain cross sectional dan dilakukan pada bulan Oktober – November 2020. Teknik voluntary sampling digunakan dalam pemilihan
      responden. Pelajar Sekolah Menengah Pertama dan Atas di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (n=414) berpartisipasi dalam penelitian ini. Pengumpulan data dilakukan dengan pengisian kuesioner secara online. Analisis multivariat dilakukan dengan regresi logistik. Selama PJJ, 50,5% pelajar mengalami stres berat. Hasil analisis multivariat menunjukkan pelajar perempuan (OR=2,444, 95% CI: 1,526-3,913); kesulitan dalam mengakses pembelajaran (OR= 4,244, 95% CI: 2,666-6,756); dan tingkat pemahaman materi yang kurang
      (OR= 2,657, 95% CI: 1,541-4,582) mempengaruhi tingkat stres pada pelajar selama PJJ. Kami menyimpulkan bahwa stres berat saat PJJ cukup tinggi pada responden pelajar menengah. Pelajar perempuan, kesulitan akses, berhubungan dengan stress pelajar adalah kesulitan dalam mengakses pembelajaran. Sebaiknya pihak penyelenggara pendidikan memastikan setiap pelajar mudah mengakses pembelajaran, mengevaluasi metode PJJ secara berkala, meningkatkan keterampilan manajemen stres siswa, menciptakan lingkungan pendidikan yang mendukung, dan memperhatikan media pembelajaran yang digunakan. 
      PubDate: Thu, 21 Jul 2022 11:22:19 SE A
       
  • Kepedulian Pengelola Wisata terhadap Keselamatan dan Kesehatan Pengunjung
           Wisata Jawa Tengah

    • Authors: Zahroh Shaluhiyah; Antono Suryoputro, Aditya Kusumawati
      Abstract: Abstrak  Masih banyaknya kecelakaan dan kejadian penyakit saat berwisata menuntut kepedulian para pengelola wisata terhadap keselamatan dan Kesehatan wisatawan. Untuk itu, diperlukan perhatian yang lebih intensif terhadap keamanan dan kesehatan pengunjung. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran ketersediaan layanan kesehatan dan keselamatan tempat wisata Jawa Tengah. Metode kualitatif dipilih dengan wawancara mendalam kepada 25 pengelola yaitu staf humas, marketing, tour guide dan pengelola, serta observasi di 19 tempat wisata yang dipilih secara purposif. Sebagian besar tempat wisata memiliki informasi keselamatan, P3K dan asuransi kesehatan, tetapi  informasi dan layanan Kesehatan kebanyakan belum tersedia. Kelengkapan informasi dan layanan Kesehatan serta keselamatan wisata terlihat beragam antar tempat wisata, karena tergantung dari sumber dayanya. Beberapa tempat wisata sudah dilengkapi dengan pos pelayanan kesehatan dan petugas penjaga keselamatan, tetapi lebih banyak yang belum memiliki. Hanya satu tempat wisata yang telah dilengkapi pos pelayanan kesehatan, tenaga kesehatan, ambulance, ruang laktasi,  peralatan pencegahan bahaya dan petugas pengawas keselamatan, karena tempat wisata tersebut banyak dikunjungi wisatawan mancanegara. Ketersediaan informasi dan layanan Kesehatan dan keselamatan wisata mempunyai keragaman dari yang tidak tersedia sampai yang relatif lengkap. Kebanyakan pengelola wisata belum memprioritaskan informasi dan layanan kesehatan. Perlu regulasi tentang kesehatan dan keselamatan  untuk meningkatkan kualitas kepariwisataan di Indonesia. Abstract There are many accidents and disease incidents while travelling, which demands the tourism managers' concern for tourist safety and health. For that, more intensive attention to the safety and health of visitors is needed. This study aims to provide an overview of the availability of health and safety services at tourist attractions in Central Java. The qualitative research was selected by in-depth interviews with 25 managers, namely public relations staff, marketing, tour guides and managers, and observation at 19 selected tourist attractions purposively. Most tourist attractions have safety information and first aid kit, but health information and services are not available. Completeness of health and safety information and services depends on its resources. Some tourist attractions are equipped with health service posts and safety guards, but many do not. Only one tourist spot has been fitted with a health service post, health worker, ambulance, lactation room, hazard prevention equipment and safety supervisor, as many foreign tourists visit this site. Health and safety information and services vary among tourist spot. Most tourism managers have not prioritized health and safety information and services. The health and safety regulations are needed to improve the quality of tourism in Indonesia    
      PubDate: Thu, 21 Jul 2022 11:17:27 SE A
       
  • FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KECEMASAN PEGAWAI KANTOR KESEHATAN
           PELABUHAN TERKAIT CORONAVIRUS DISEASE 2019 (COVID-19)

    • Authors: Arisca Dewi Safitri; Ari Udijono, Nissa Kusariana, Lintang Dian Saraswati
      Abstract: Latar Belakang: Banyaknya kasus terkonfirmasi COVID-19 dipengaruhi oleh beberapa faktor internal maupun eksternal. Tingkat bahaya COVID-19 yang paling buruk menyebabkan  kematian. Petugas kesehatan menyumbang sejumlah besar infeksi COVID-19. Tingginya kasus dan banyaknya petugas kesehatan yang terinfeksi menjadi kecemasan bagi pegawai yang bertugas menangani COVID-19 di garda terdepan pintu masuk negara yaitu Kantor Kesehatan Pelabuhan. Kurangnya fokus pada kesehatan mental, terutama kecemasan bagi pegawai KKP dapat mempengaruhi layanan penanggulangan pandemi COVID-19. Belum ada laporan khusus mengenai status keterpaparan COVID-19 bagi pegawai yang bertugas di tempat yang mempunyai risiko tinggi seperti Kantor Kesehatan Pelabuhan. Penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan tingkat kecemasan pegawai Kantor Kesehatan Pelabuhan terkait COVID-19. Metode: Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan desain cross sectional yang dilakukan kepada 533 pegawai kantor kesehatan pelabuhan yang menangani COVID-19. Dilakukan pada bulan Mei-Desember 2020. Data tersebut dikumpulkan dengan angket online menggunakan google form terkait usia, jenis kelamin, lingkungan, ketersediaan sarana prasarana, jabatan teknis, tingkat pendidikan, pelatihan kewaspadaan dini, durasi kerja dan penerapan protokol kesehatan. Hasil: Ada hubungan antara usia, jenis kelamin, lingkungan, ketersediaan sarana prasarana dengan kecemasan terkait COVID-19. Perbedaan kecemasan jenis jabatan teknis dengan penggunaan Alat pelindung diri dan penerapan protokol yang kurang sesuai. Kesimpulan: Kecemasan dapat dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, lingkungan tempat kerja dan sarana prasarana serta kesesuaian penerapan protokol kesehatan. Sebaiknya petugas KKP memperhatikan setiap poin kegiatan dalam protokol kesehatan dan agar pemerintah lebih memperhatikan kesehatan mental.   Kata Kunci: Kecemasan, COVID-19, Tenaga Kesehatan, Pegawai, Faktor
      PubDate: Thu, 21 Jul 2022 11:14:23 SE A
       
  • Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Oleh
           Pemulung Di TPA Kelurahan Sumurbatu Kecamatan Bantargebang Kota Bekasi
           Tahun 2020

    • Authors: Dhea Julia Lestari; Putri Permatasari, Chahya Kharin Herbawani, Chaya Arbitera
      Abstract: Pemulung merupakan masyarakat yang memiliki risiko tinggi terpapar penyakit karena kondisi lingkungan yang kurang sehat. Hal tersebut mengharuskan pemulung untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan agar mendapatkan pemeriksaan yang optimal. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran dan hubungan karakteristik pemulung, karakteristik pelayanan kesehatan dan pemanfaatan pelayanan kesehatan oleh pemulung di TPA Kelurahan Sumurbatu tahun 2020. Metode penelitian kuantitatif dengan design cross-secional, menggunakan teknik random sampling. Jumlah sampel sebanyak 150 KK di wilayah TPA Kelurahan Sumurbatu. Alat ukur dalam bentuk kuesioner dengan teknik pengambilan data berupa wawancara. Analisis data menggunakan analisis chi-square dan analisis regresi logistik berganda. Hasil menunjukan bahwa variabel yang berhubungan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan yaitu variabel pengetahuan (p=0,001), jumlah keluarga (p=0,021), persepsi sakit (p=0,001), dan dukungan keluarga (p=0,030). Dan Variabel yang tidak berhubungan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan yaitu kepemilikan jaminan kesehatan (p=0,750), transportasi (p=0,297), jarak (0,340), informasi kesehatan (p=0,538), dan sikap petugas kesehatan (p=1,000). Serta variabel dominan yang berhubungan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan yaitu pengetahuan (p=0,001) dengan OR 12,876. Puskesmas dan petugas kesehatan diharapkan dapat lebih banyak melibatkan kelompok pemulung dan masyarakat di sekitar TPA dalam program kerjanya, seperti pemberian informasi kesehatan.  
      PubDate: Thu, 21 Jul 2022 11:12:04 SE A
       
  • Penyebaran Kasus Difteri Beserta Faktor Risikonya di Daerah Kejadian Luar
           Biasa (KLB) di Indonesia

    • Authors: Noer Endah Pracoyo; Kambang Sariadji
      Abstract: Diphtheria is a Re-emerging Disease. This disease is caused by a bacterium called Corynebacterium diphtheriae which contains an exotoxin that has fatal consequences. This disease can cause plague with the legal basis Law no. 4 1984 on Infection Deseas Outbreak. These diseases were transmitted through air, airborne, or direct contact with the patient. The research was conducted in several provinces that had experienced an Outbreak (KLB) of Diptheria. This research purposes are to give information about the swab test result of correspondents from areas affected by an Outbreak or Kejadian Luar Biasa (KLB) and to discover the relationship between factors that influence the occurrence of diphtheria in Indonesia. The method used is cross-sectional, the type of laboratory and field research. The specimens in this research include 178 people&#39;s throats that have Diphtheria and the close related person who has direct contact with the patient. Different identification is done
      by examining swab specimens from suspected cases and contacts. Specimens are examined by the culture of each specimen and accompanied by questioner which contains information such as demographic information (age, gender, parental occupation, living environment), disease symptoms, and immunization history. Data analysis was carried out descriptively and cross-tabulation to determine the characteristics and the relationship between the dependent variable and the independent variable using the SPSS 017.00 program. The result
      of this research include, the number of specimens that have positive diphtheria are 5.2%, the type of diphthery that founded is type C. grafis, intermedius and mitis sub-type diphtheria. The origin of diphteria patient are from East Java and Banten region. The results of the analysis obtained are that there is a significant relationship between respondents who have had a bleeding throat and the incidence of diphtheria. Abstrak   Difteri merupakan penyakit Re-Emerging Diseases. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheria yang mengandung eksotoksin yang dapat menyebabkan kefatalan. Penyakit ini termasuk penyakit 
      yang dapat menyebabkan wabah. Dasar hukumnya adalah Undang-Undang No. 4 tahun 1984 tentang wabah penyakit menular. Cara penularan melalui udara atau airborne diseases atau kontak langsung dengan penderita, penelitian dilakukan di beberapa Provinsi yang pernah mengalami KLB difteri. Tujuan penelitian adalah untuk menginformasikan hasil identifikasi swab dari responden di daerah Kejadian Luar Biasa (KLB),
      serta hubungan antara faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya difteri di Indonesia. Metode yang digunakan adalah potong lintang, jenis penelitian laboratorium dan lapangan. Spesimen berupa swab tenggorok sebanyak 178 spesimen swab tenggorok dari kasus difteri dan orang dekat yang pernah kontak dengan kasus. Identifikasi difteri dilakukan dengan memeriksa spesimen swab dari kasus suspek dan orang kontak. Specimen diperiksa secara kultur dan setiap spesimen disertai kuesionernya yang berisi data demografi (umur, jenis kelamin, pekerjaan orang tua, lingkungan tempat tinggal), gejala penyakit dan riwayat imunisasi. Analisa data dilakukan secara deskriptif dan tabulasi silang untuk mengetahui karakteristik dan hubungan antara varibel dependen dan variabel independen dengan meggunakan program SPSS 017.00. Hasil yang
      diperoleh jumlah spesimen yang positip difteri sebanyak 5,2 %. Jenis difteri yang ditemukan adalah C.diphtheriae sub tipe gravis , intermedius dan mitis. Asal penderita difteri dari Provinsi Jawa Timur dan Provinsi Banten. Hasil analisa yang diperoleh adalah terdapat hubungan yang bermakna antara responden yang pernah sakit tenggorok yang berdarah dengan kejadian penyakit difteri.
      PubDate: Thu, 21 Jul 2022 11:02:15 SE A
       
  • Kohort Retrospektif: Mortalitas COVID-19 pada Kelompok Lanjut Usia di
           Provinsi Bali Tahun 2020

    • Authors: Ni Luh Putu Suariyani; Ni Made Nujita Mahartati
      Abstract: COVID-19 adalah penyakit menular baru yang disebabkan oleh novel coronavirus SARS-CoV-2 dan memiliki spektrum manifestasi yang luas mulai dari infeksi tanpa gejala hingga pneumonia berat dan gagal napas. Lansia (usia ) menjadi kelompok yang paling berisiko tinggi mengalami kematian jika terinfeksi COVID-19. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kematian pasien COVID-19 pada kelompok lansia di Provinsi Bali Tahun 2020. Penelitian dengan desain kohort retrospektif ini melibatkan 720 pasien terkonfirmasi COVID-19 pada kelompok lansia yang dipilih dengan metode simple random sampling. Analisis multivariable dengan Regresi Poisson. Data dikumpulkan dengan mengakses sistem pendataan terintegrasi COVID-19 di Provinsi Bali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komorbid hipertensi (IRR=2,8; p-value = <0,001; 95%CI= 1,642 – 4,818), diabetes mellitus (IRR=2,36; p-value = 0,001; 95%CI= 1,432 – 3,810), gangguan jantung (IRR=3,07; p-value = 0,001; 95%CI= 1,592 – 5,932), gangguan ginjal (IRR=3,31; p-value = <0,001; 95%CI= 1,788 – 6,134), gejala sulit bernafas (IRR=1,73; p-value = 0,022; 95%CI= 1,082–2,775), dan tempat perawatan (IRR=4,56; p-value = 0,001, 95%CI=1,901 – 10,967) merupakan variable yang paling berpengaruh terhadap kematian pasien COVID-19 pada kelompok lansia di Provinsi Bali Tahun 2020. Pasien usia lanjut, dengan faktor risiko tersebut harus dipertimbangkan lebih serius dalam penangannya. Pemantauan ketat dan pengobatan tepat waktu menjadi solusi dalam meningkatkan pemulihan pasien.
      PubDate: Thu, 21 Jul 2022 10:58:33 SE A
       
 
JournalTOCs
School of Mathematical and Computer Sciences
Heriot-Watt University
Edinburgh, EH14 4AS, UK
Email: journaltocs@hw.ac.uk
Tel: +00 44 (0)131 4513762
 


Your IP address: 3.235.65.220
 
Home (Search)
API
About JournalTOCs
News (blog, publications)
JournalTOCs on Twitter   JournalTOCs on Facebook

JournalTOCs © 2009-