Publisher: BATAN (Total: 2 journals)   [Sort alphabetically]

Showing 1 - 2 of 2 Journals sorted by number of followers
Eksplorium : Buletin Pusat Pengembangan Bahan Galian Nuklir     Open Access  
Atom Indonesia     Open Access  
Similar Journals
Journal Cover
Eksplorium : Buletin Pusat Pengembangan Bahan Galian Nuklir
Number of Followers: 0  

  This is an Open Access Journal Open Access journal
ISSN (Print) 0854-1418 - ISSN (Online) 2503-426X
Published by BATAN Homepage  [2 journals]
  • Cover+Kata Pengantar+Daftar Isi+Indeks Isi

    • Authors: Redaksi EKSPLORIUM
      Abstract: Cover+Kata Pengantar+Daftar Isi+Indeks Isi Vol. 42, No. 2, November 2021
      PubDate: 2021-11-30
      Issue No: Vol. 42, No. 2 (2021)
       
  • Distribution and Mineralogical Characteristic of Raya Volcanics, West
           Kalimantan

    • Authors: Windi Anarta Draniswari, Fadiah Pratiwi, Ngadenin Ngadenin, I Gde Sukadana, Tyto Baskara Adimedha, Roni Cahya Ciputra, Ekky Novia Stasia Argianto, Erwina Aminarthi, Vertika Dhianda Supraba
      Pages: 77 - 90
      Abstract: ABSTRACT. There are several volcanic rocks in a radius of 150 km from where the Nuclear Power Plant (NPP) site project in West Kalimantan. The Mesozoic volcanic rocks have not been characterized for volcanic hazard evaluation purposes due to their old age. However, the distribution of Raya Volcanic Rocks that covers the site area and the wider area up to 150 kilometers from the site makes this rock group quite important to be characterized to find out how its activities in the past. This paper’s objective is to comprehend the distribution and characteristics of Raya Volcanic Rocks for NPP site volcanic hazard evaluation purposes. Fieldwork and lineament analyses were conducted to map and interpret the distribution of Raya Volcanic Rocks while mineralogical analysis using petrography and micro XRF were conducted to characterize the Raya Volcanic Rocks. The distribution of Raya Volcanic Rocks that relatively show NNW–SSE orientation is probably controlled by the NNW–SSE fault system. The analyses resulted that Raya Volcanic Rocks erupted as lava flows derived from mafic magma as a product of mantle partial melting that underwent crystal fractionation, injection of hotter/more Ca-rich magma, and magma mixing on an open-system magmatic process.ABSTRAK. Terdapat beberapa batuan vulkanik dalam radius 150 km dari lokasi proyek tapak Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Kalimantan Barat. Batuan vulkanik Mesozoikum belum dikarakterisasi untuk tujuan evaluasi bahaya vulkanik karena umurnya yang relatif tua. Namun, sebaran Batuan Vulkanis Raya yang meliputi area tapak dan wilayah yang lebih luas hingga 150 kilometer dari tapak menjadikan gugusan batuan ini cukup penting untuk dikarakterisasi untuk mengetahui bagaimana aktivitasnya di masa lalu. Penelitian ini bertujuan memahami sebaran dan karakteristik Batuan Vulkanik Raya untuk evaluasi bahaya gunung api di lokasi PLTN. Observasi lapangan dan analisis kelurusan dilakukan untuk memetakan dan menginterpretasi sebaran Batuan Vulkanik Raya, sedangkan analisis mineralogi menggunakan petrografi dan XRF mikro dilakukan untuk mengkarakterisasi Batuan Vulkanik Raya. Sebaran Batuan Vulkanik Raya yang relatif menunjukkan orientasi NNW–SSE kemungkinan dikendalikan oleh sistem sesar berarah NNW–SSE. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, Batuan Vulkanik Raya meletus sebagai aliran lava yang berasal dari magma mafik sebagai produk pencairan parsial mantel yang kemudian mengalami fraksionasi kristal, injeksi magma yang lebih panas/kaya Ca, serta pencampuran magma pada proses magmatik sistem terbuka.
      PubDate: 2021-11-30
      DOI: 10.17146/eksplorium.2021.42.2.6511
      Issue No: Vol. 42, No. 2 (2021)
       
  • The Sedimentary Process of Sand Deposits in Bogowonto River, Purworejo,
           Central Java, and Progo River, Kulonprogo, Yogyakarta Using Granulometric
           Analysis

    • Authors: Muchamad Ocky Bayu Nugroho, Yody Rizkianto, Riyan Ranggas Yuditama, Akbar Ryan, Agam Maulana
      Pages: 91 - 98
      Abstract: ABSTRACT. Sedimentation is the most traditional separation technique and it is relying on efficient coagulation and flocculation to produce flocs with good settling properties. Bogowonto River and Progo River belong to South Serayu Area. There are similar geological processes that affected the river forming process i.e., erosional process, provenance, and fault systems. The sand sedimentation process for each river could be different due to geometry and river morphology. This research aims to reveal the possible parameters that affected the sedimentary process and sediment material along the stream river. Granulometric analysis was done in this research. Samples were taken from 3 points (upstream, middle, and downstream) of Bogowonto river and Progo river. Statistically, the upstream and middle stream of Bogowonto River shows more dunes and beach environment characters than Progo River. It could be interpreted if Bogowonto has more deposit plain like point bar than Progo River. The downstream area has been interpreted as the upper part of estuarine due to river and beach environment. The volcanic arc (Tertiary & Quarternary) is the main sediment source for these rivers. The sediment supply of the Progo River is strongly influenced by Merapi’s eruption whereas Bogowonto river is dominated by reworked Old Andesite Formation (OAF) & Sumbing’s material. Morphologically, Bogowonto has more meandering features than Progo that indicates the development of river stage in a long time and wide distributed sediment materials.ABSTRAK. Sedimentasi adalah teknik pemisahan yang paling tradisional dan tergantung pada koagulasi dan flokulasi yang efisien untuk menghasilkan flok dengan sifat pengendapan yang bagus. Sungai Bogowonto dan Sungai Progo termasuk dalam wilayah Serayu Selatan Selatan. Proses pembentukan sungai dipengaruhi oleh proses geologi seperti proses erosi, batuan asal, dan sistem sesar. Proses sedimentasi pasir yang terjadi pada kedua sungai tersebut dapat berbeda berdasarkan faktor geometri dan morfologi sungai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berbagai parameter yang mempengaruhi proses sedimentasi dan material sedimen di sepanjang aliran sungai. Metode yang digunakan adalah analisis granulometri pada sampel sedimen yang diperoleh dari 3 titik pada masing-masing sungai (hulu, tengah, dan hilir). Secara statistik, bagian hulu dan tengah Sungai Bogowonto memiliki karakter lingkungan pantai atau bukit pasir yang lebih banyak daripada Sungai Progo. Sungai Bogowonto diinterpretasikan memiliki lebih banyak dataran endapan seperti point bar dibandingkan Sungai Progo. Daerah hilir yang merupakan bagian atas dari muara menunjukkan karakter lingkungan sungai dan pantai yang dominan. Busur vulkanik (Tersier & Kuarter) merupakan sumber sedimen utama. Pasokan sedimen sungai Progo sangat dipengaruhi oleh erupsi Merapi sedangkan sungai Bogowonto didominasi hasil rombakan OAF & material Sumbing. Secara morfologi, Kali Bogowonto memiliki ciri lebih berkelok-kelok daripada Kali Progo yang menggambarkan tahap kedewasaan sungai dengan waktu yang lama dan penyebaran material sedimen yang luas.
      PubDate: 2021-11-30
      DOI: 10.17146/eksplorium.2021.42.2.6436
      Issue No: Vol. 42, No. 2 (2021)
       
  • Karakterisasi Hidrogeologi Daerah Sekitar Tapak PLTN di Bengkayang,
           Kalimantan Barat

    • Authors: Adi Gunawan Muhammad, Rachman Fauzi, Adhika Junara Karunianto, Wira Cakrabuana, Widodo Widodo
      Pages: 99 - 110
      Abstract: ABSTRAK. Evaluasi tapak merupakan tahap penting dalam penentuan lokasi calon tapak PLTN skala komersial di Indonesia. Aspek–aspek yang dikaji dalam evaluasi tapak berdasarkan peraturan yang berlaku antara lain aspek geoteknik dan aspek dispersi zat radioaktif. Untuk mendukung kajian aspek tersebut maka perlu adanya kajian karakterisasi hidrogeologi daerah sekitar tapak. Tujuan penelitian ini adalah menentukan karakteristik hidrogeologi daerah sekitar tapak PLTN di Kabupaten Bengkayang, Provinsi Kalimantan Barat berdasarkan aspek geologi dan geofisika. Metode yang dilakukan adalah pemetaan geomorfologi, pemetaan geologi, pemetaan hidrogeologi, pengukuran geolistrik, serta analisis terpadu. Secara morfologi, daerah penyelidikan dibagi menjadi tiga satuan, yaitu dataran aluvial, bukit terisolasi, dan dataran pantai. Secara stratigrafi, satuan batuan yang ditemukan berurutan dari tua ke muda adalah andesit, granodiorit, diorit, endapan pasir kuarsa, endapan pantai, dan endapan aluvial. Pengukuran geofisika menggunakan metode geolistrik dilakukan pada 12 lintasan dengan masing-masing panjang lintasan 470 m dan spasi elektroda 10 m. Pada penampang geolistrik ditemukan beberapa anomali pada kompleks batuan beku yang mengalami frakturasi atau tubuh diorit yang menerobos satuan andesit. Nilai anomali ini berkisar antara 300 Ωm dan >8000 Ωm. Nilai resistivitas yang sangat rendah (<30 Ωm) diinterpretasikan sebagai endapan aluvial yang jenuh air dengan ketebalan mencapai ±100 m. Daerah penelitian dapat dibagi menjadi tiga satuan hidrogeologi; akuifer dengan aliran melalui ruang antarbutir kelulusan tinggi, akuifer dengan aliran melalui ruang antarbutir kelulusan sedang, dan akuifug setempat berarti. Secara umum pola aliran tanah bebas mengalir relatif dari SSW ke NNE.ABSTRACT. Site evaluation is an important phase of site selection for commercial-scale nuclear power plants (NPP) in Indonesia. Geotechnical and radioactive material dispersion aspects are some of the aspects which are assessed in site evaluation under provisions of laws and regulations. To support those aspect evaluations, it is necessary to conduct hydrogeological characterization in the vicinity of the NPP site. The purpose of this study is to determine the hydrogeological characteristic of the vicinity of the NPP site in Bengkayang Regency, West Kalimantan Province based on geological and geophysical aspects. The methods of this study consist of geomorphological mapping, geological mapping, hydrogeological mapping, geoelectric measurement, and integrated analysis. The study area consists of three morphological units: alluvial plain, isolated hills, and coastal plain. Stratigraphically, the lithology units of the study area, from the oldest to the youngest, consist of andesite, granodiorite, diorite, quartz sand deposits, coastal deposits, and alluvial deposits. The geophysical measurement used is the geoelectric method which is conducted at 12 electrode arrays with 470 m length and spacing of 10 m. In the geoelectrical section, it can be seen that several anomalies can be interpreted as the fractured body of igneous rocks or the diorite intrusion in andesite. These anomaly values are ranged from 300 Wm to >8000 Wm. The relatively low resistivity values (<30 Wm) are interpreted as water saturated-alluvial deposits that could have a thickness of ±100 m. There are three hydrogeological units in the study area: aquifers in which flow is intergranular with high permeability, aquifers in which flow is intergranular with moderate permeability, and aquifug of local importance. Generally, the groundwater in the study area flows from SSW to NNE.
      PubDate: 2021-11-30
      DOI: 10.17146/eksplorium.2021.42.2.6479
      Issue No: Vol. 42, No. 2 (2021)
       
  • Indikasi Sesar Naik di Plampang, Pulau Sumbawa Berdasarkan Analisis Gempa
           Bumi 13 Juni 2020

    • Authors: Priyobudi Priyobudi, Mohamad Ramdhan
      Pages: 111 - 118
      Abstract: ABSTRAK. Keberadaan sesar aktif dengan pola sesar naik di daerah Plampang berhasil diungkap dari sebaran hiposenter terelokasi, hasil inversi momen tensor, dan pemodelan perubahan tegangan Coulomb. Studi ini juga berhasil mengungkap sumber gempa pada sesar aktif tersebut dengan kedalaman relatif dangkal yang bisa menjadi ancaman di Pulau Sumbawa jika magnitudo maksimumnya rilis di masa yang akan datang. Hasil relokasi hiposenter menunjukkan sebaran episenter berarah barat daya–timur laut. Hal ini didukung juga oleh hasil inversi momen tensor yang menunjukkan bidang sesar berarah barat daya–timur laut (N2240E) dengan dip cukup curam (490). Penampang seismisitas vertikal pada arah dip menunjukkan adanya pola sesar naik yang semakin landai seiring bertambahnya kedalaman. Bidang sesar yang landai menunjukkan struktur decollement pada kedalaman 10–15 km dan berangsur menjadi curam sebagai struktur splay fault pada kedalaman 0–10 km. Hal tersebut konsisten dengan hasil inversi momen tensor yang menunjukkan mekanisme pergerakan sesar naik terjadi pada kedalaman 7 km. Pemodelan perubahan tegangan Coulomb menunjukkan adanya penambahan stress di luar area bidang sesar sehingga memicu terjadinya aftershocks. Sebaran gempa susulan menunjukkan adanya bidang sesar hipotetik dengan panjang 19 km dan lebar 12 km. Sesar sebesar ini berpotensi membangkitkan gempa dengan kekuatan Mw 6,4. Gempa Sumbawa 13 Juni 2020 dengan magnitudo M 5,3 disebabkan oleh sebagian kecil aktivitas dari bidang sesar tersebut.ABSTRACT. The existence of an active fault with a reverse fault mechanism in the Plampang area is successfully delineated from the distribution of the relocated hypocenter, the moment tensor inversion, and the Coulomb stress changes. This study also reveals the source of the earthquake in the active fault with a relatively shallow depth which can be a threat on Sumbawa Island if the maximum magnitude is released in the future. Seismicity from hypocenter relocation shows the distribution of the epicenter with a southwest–northeast direction. It is also supported by the moment tensor inversion result which shows the fault plane trending southwest–northeast (N2240E) with a steep dip (490). The vertical section of seismicity in the dip direction shows that the slope of the plane has a lower angle with increasing depth. The lower angle of a fault plane shows a decollement structure at a depth of 10–15 km and gradually becomes steep as a splay fault structure at a depth of 0–10 km. It is consistent with the result of moment tensor inversion which shows the mechanism of a reverse fault that occurred at a depth of 7 km. The Coulomb stress changes show the stress increasing outside the fault plane area, which triggers aftershocks. The distribution of aftershocks shows a hypothetical fault plane of 19 km long and 12 km wide. A fault of this size has the potential to generate an earthquake with a magnitude maximum of Mw 6.4. The Sumbawa earthquake on June 13, 2020, having M 5.3 was caused by a small part of the activity from the fault.
      PubDate: 2021-11-30
      DOI: 10.17146/eksplorium.2021.42.2.6273
      Issue No: Vol. 42, No. 2 (2021)
       
  • Karakterisasi Geoteknik Fondasi Kandidat Tapak PLTN dengan Metode Seismik
           Refraksi

    • Authors: Dwi Haryanto, Yoshi Rachael, Dhatu Kamajati, Gagah Hari Prasetyo, Heri Syaeful, Frederikus Dian Indrastomo
      Pages: 119 - 130
      Abstract: ABSTRAK. Pemerintah Indonesia dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 38 Tahun 2018 tentang Rencana Induk Riset Nasional Tahun 2017–2045, menetapkan beberapa bidang utama yang akan menjadi prioritas penelitian nasional, salah satunya adalah bidang energi. Dalam tema riset teknologi kelistrikan berbasis energi baru dan terbarukan rendah/nol karbon terdapat topik riset teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) skala komersial. Pada topik riset tersebut, ditetapkan bahwa dalam jangka waktu penelitian tahun 2020–2024, dihasilkan purwarupa PLTN. Pada penelitian ini, karakterisasi geoteknik tapak PLTN dilakukan dengan menggunakan metode seismik refraksi guna melengkapi data penelitian sebelumnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui profil perlapisan batuan bawah permukaan untuk estimasi pekerjaan terkait fondasi PLTN. Pemetaan geologi dan akuisisi data geofisika, pengolahan, serta interpretasi tanah/batuan berdasarkan parameter kecepatan gelombang kompresi (Vp). Hasil pemetaan geologi menunjukkan adanya 2 satuan batuan beku yaitu diorit kuarsa dan andesit. Hasil pengolahan dan interpretasi data seismik refraksi menghasilkan model penampang Vp pada lapisan batuan bawah permukaan. Terdapat 3 lapisan batuan di lokasi penelitian yaitu lapisan tanah (Vp = 361–715 m/s), lapisan batuan beku lapuk (Vp = 1.386–2.397 m/s), dan lapisan beku segar (Vp = 3.789–6.133 m/s). Perkiraan densitas batuan beku segar berdasarkan perhitungan adalah 2,43–2,74 g/cm3. Hasil pemodelan dapat menunjukkan kedalaman dan struktur bawah permukaan lapisan batuan beku segar yang dapat menjadi fondasi bangunan PLTN.ABSTRACT. Presidential Regulation (Perpres) number 38 of 2018 concerning the National Research Master Plan for 2017–2045, the Government of Indonesia establishes several main areas that will become national research priorities, one of which is the energy sector. In the research theme of electricity technology based on new and renewable low/zero carbon energy, there is the topic of research on commercial-scale Nuclear Power Plant (NPP) technology. On the research topic, it was determined that within the research period of 2020–2024, a prototype nuclear power plant would be produced. Research related to the geotechnical characterization of the nuclear power plant site using the seismic refraction method was carried out to complement the previous research data. The purpose of this study was to determine the subsurface rock layer profile for estimation of work related to nuclear power plant foundations. Geological mapping and geophysical data acquisition, processing, as well as soil/rock interpretation based on the compression wave velocity (Vp) parameter are carried out to achieve this goal. The results of geological mapping show that there are 2 igneous rock units, namely quartz diorite and andesite. The results of processing and interpreting seismic refraction data produced a cross-sectional model of Vp in the subsurface rock layers. There are 3 rock layers in the research location, namely soil layer (Vp = 361–715 m/s), weathered igneous rock layer (Vp = 1.386–2,396 m/s), and fresh igneous layer (Vp = 3.789–6.133 m/s). The estimated density of fresh igneous rock based on calculations is 2.43–2.74 g/cm3. The modeling results can show the depth and structure of the subsurface layer of fresh igneous rock that can be the foundation of nuclear power plants.
      PubDate: 2021-11-30
      DOI: 10.17146/eksplorium.2021.42.2.6538
      Issue No: Vol. 42, No. 2 (2021)
       
  • Aplikasi Metode Geolistrik dan Analisis X-Ray Diffraction (XRD) untuk
           Investigasi Longsor di Pidada, Kecamatan Panjang, Bandar Lampung

    • Authors: Rahmi Mulyasari, Suharno Suharno, Nandi Haerudin, Hesti Hesti, Ida Bagus Suananda Yogi, Sugeng Purwo Saputro
      Pages: 131 - 140
      Abstract: ABSTRAK. Bandar Lampung merupakan wilayah perkotaan padat penduduk yang terdiri atas daratan dan perairan dengan beberapa dataran tinggi dan pegunungan yang terbentang di wilayah ini. Untuk mendukung pembangunan yang berkelanjutan di sebuah kawasan kota diperlukan konsep penataan wilayah yang mempertimbangkan segala aspek, salah satunya adalah aspek potensi bencana. Salah satu bencana yang berpotensi terjadi di Bandar Lampung, khususnya di Kecamatan Panjang, adalah gerakan massa/longsoran. Berdasarkan penelitian sebelumnya, daerah ini terekam memiliki beberapa titik sejarah longsor tetapi belum ada mitigasi/penanggulangan yang diaplikasikan khusus untuk jenis bencana tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui susunan batuan yang berada pada zona rawan longsor Kecamatan Panjang menggunakan metode geolistrik resistivitas serta untuk mengetahui hasil penilaian keteknikan tanah yang diperoleh dari hasil analisis litologi menggunakan X-Ray Diffraction (XRD). Hasil analisis dua lintasan geolistrik mengindikasikan adanya tiga lapisan litologi pada daerah penelitian, yaitu sedimen tuf dengan nilai resistivitas dan kedalaman antara (1–40 Ωm; 0,4–4 m), zona kontak atau bidang gelincir (40–120 Ωm; 2–4 m), dan breksi padu dengan komponen batuan beku (> 120 Ωm; 2–22 m). Selanjutnya berdasarkan hasil analisis penilaian keteknikan tanah, sedimen tuf sebagai lapisan permukaan yang mengalami longsoran diidentifikasi memiliki sifat keteknikan litologi yang rentan karena telah mengalami oksidasi dan pelapukan yang cukup intensif. Data yang diperoleh ini diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai data dukung penataan wilayah berbasis potensi bencana.ABSTRACT. Bandar Lampung is a densely populated urban area consisting of land and water with several plateaus and mountains that stretch across this region. To support sustainable development in a city area, it is necessary to have a regional arrangement concept that considers all aspects, one of which is the potential disaster aspect. One of the potential disasters in Bandar Lampung, especially in Panjang District is a mass movement/landslide. Based on previous research, this area has been recorded as having several historical points of landslides, but there is no mitigation/response specifically for this type of disaster. The purpose of this study was to determine the arrangement of rocks that are in the landslide-prone zone in Panjang District using the geoelectric resistivity method and to analyze the soil engineering assessment obtained from the results of lithological analysis using X-Ray Diffraction (XRD). The results of the geoelectric analysis indicate that there are three lithological layers in the study area; namely tuff sediments with resistivity values and depths between (1–40 Ωm; 0.4–4 m), clay sand (40–120 Ωm; 2–4 m), and solid breccias with igneous rock components (>120 Ωm; 2–22 m). Furthermore, based on the results of the analysis of soil engineering assessments, tuff sediment as a surface layer that has experienced landslides has been identified as having susceptible lithological engineering properties because it has undergone quite intensive oxidation and weathering. The data obtained is expected to be used as supporting data for disaster potential-based regional planning.
      PubDate: 2021-11-30
      DOI: 10.17146/eksplorium.2021.42.2.6304
      Issue No: Vol. 42, No. 2 (2021)
       
  • Peningkatan Perolehan Uranium, Torium, dan Logam Tanah Jarang dalam Residu
           Pelarutan Parsial pada Pengolahan Monasit

    • Authors: Novita Sari Fatihah, Mutia Anggraini, Afiq Azfar Pratama, Kurnia Setiawan Widana
      Pages: 141 - 148
      Abstract: ABSTRAK. Monasit merupakan mineral hasil samping pengolahan timah yang mengandung fosfat, logam tanah jarang, dan unsur radioaktif berupa uranium dan torium. Unsur-unsur tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal jika terpisah satu dengan yang lainnya melalui proses pengolahan. Pengolahan monasit meliputi proses dekomposisi, pelarutan parsial, dan pengendapan. Pemisahan unsur logam tanah jarang dari unsur radioaktif dalam monasit dilakukan melalui proses pelarutan parsial, akan tetapi pemisahan tersebut belum optimal sehingga diperlukan proses lebih lanjut untuk meningkatkan perolehan unsur-unsur tersebut. Pada penelitian ini, proses tersebut dilakukan melalui dua metode yaitu pelarutan total dengan asam klorida (HCl) yang bertujuan untuk melarutkan semua unsur dalam endapan dan pengendapan dengan ammonium hidroksida (NH4OH) yang bertujuan untuk memisahkan unsur radioaktif dan unsur logam tanah jarang. Kedua metode tersebut dilakukan pada kondisi optimum proses dengan berbagai variasi pH, suhu, dan waktu. Berdasarkan hasil pengamatan diperoleh bahwa kelarutan optimum masing-masing unsur sebesar 67,6% uranium, 15,3% torium, dan 50,8% LTJ pada kondisi proses pelarutan pH 1, pada suhu 80°C selama 2 jam. Sedangkan pada proses pengendapan diperoleh recovery pengendapan masing-masing unsur sebesar 57% uranium, 75,7% torium, 4,8% logam tanah jarang pada kondisi pH 6. Berdasarkan data tersebut disimpulkan bahwa uranium, torium, dan logam tanah jarang dapat larut pada kondisi proses pelarutan pH 1, suhu 80°C selama 2 jam, dan dapat dipisahkan pada kondisi pH pengendapan 6.ABSTRACT. Monazite is a by-product of tin processing containing phosphate, rare earth elements, and radioactive elements such as uranium and thorium. These elements can be utilized optimally if separated from one another through processing. Monazite processing includes decomposition, partial dissolution, and precipitation processes. The separation of rare earth elements from radioactive elements in monazite is carried out through a partial dissolution process, but the separation is not optimal so that further processes are needed to increase the recovery of these elements. In this study, the process was carried out using two methods, namely total dissolution with hydrochloric acid (HCl) which aims to dissolve all elements in the precipitate and precipitation with ammonium hydroxide (NH4OH) which aims to separate radioactive elements and rare earth elements. Both methods were carried out under optimum process conditions with various variations in pH, temperature, and time. Based on observations, it was found that the optimum solubility of each element was 67.6% uranium, 15.3% thorium and 50.8% LTJ under the dissolving process conditions of pH 1, at 80°C for 2 hours. While in the deposition process, the precipitation recovery of each element is 57% uranium, 75.7% thorium, 4.8% rare earth metals at pH 6 conditions. Based on these data, it can be concluded that uranium, thorium, and rare earth elements can be dissolved at pH 1, at 80°C for 2 hours, and can be separated at pH 6 precipitation conditions.
      PubDate: 2021-11-30
      DOI: 10.17146/eksplorium.2021.42.2.6044
      Issue No: Vol. 42, No. 2 (2021)
       
  • Penentuan Komposisi Bahan Bakar Nabati Dalam Bahan Bakar Minyak Campuran
           Menggunakan Metode Direct Counting C-14

    • Authors: Neneng Laksminingpuri Sanusi, Moch Faizal Ramadhani, Nurfadhlini Nurfadhlini, Lies Aisyah
      Pages: 149 - 162
      Abstract: ABSTRAK. Telah dilakukan penentuan komposisi bahan bakar nabati (BBN) dalam bahan bakar minyak campuran (BBMC) dengan metode direct counting C-14. Penentuan komposisi BBN dalam BBMC dilakukan dengan cara memipet 10 mL BBMC ke dalam vial gelas kemudian ditambahkan 10 mL larutan sintilator Ultima Gold F (UGF) ke dalamnya. Vial tersebut dikocok agar campuran menjadi homogen kemudian dicacah menggunakan LSC (Liquid Scintillation Counter) Elmer Perkin 2900TR selama 20 menit sebanyak 30 siklus. Hasil pencacahan ditampilkan dalam bentuk tSIE (transformed external standard spectrum) dan cpm (cacahan permenit). Hasil analisis memperlihatkan nilai cpm yang meningkat seiring kenaikan persentase BBN dalam BBMC. Nilai cpm terendah dan tertinggi untuk sampel bensin, avtur, dan solar berturut-turut adalah 14,2363 dan 62,0343, 10,664 dan 44,535, serta 9,410 dan 61,789. Terdapat korelasi kuat antara nilai tSIE dan nilai cpm pada bensin dan solar tapi tidak pada avtur. Hasil analisis terhadap sampel uji menunjukkan bahwa sampel tersebut berada di luar grafik deret sampel. Metode direct counting ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam uji mutu BBMC.ABSTRACT. The composition of biofuel (BF) in mixed oil fuel (MOF) has been determined using the C-14 direct counting method. Determination of the composition of BF in MOF was carried out by pipetting 10 mL of BBMC into a glass vial and then adding 10 mL of Ultima Gold F (UGF) scintillator solution into it. The vial was shaken so that the mixture became homogeneous and then counted using the Elmer Perkin 2900TR LSC (Liquid Scintillation Counter) for 20 minutes for 30 cycles. The results of the counting are displayed in the form of tSIE (transformed external standard spectrum) and cpm (counts per minute). The results of the analysis show that the value of cpm increases with the increase in the percentage of BF in MOF. The lowest and highest cpm values for gasoline, avtur, and diesel samples were 14.2363 and 62.0343, 10.664 and 44.535, and 9.410 and 61.789, respectively. There is a strong correlation between tSIE and cpm values for gasoline and diesel but not for avtur. The results of the analysis of the test sample indicate that the sample is outside the sample series graph. This direct counting method is expected to be a reference in the BBMC quality test.
      PubDate: 2021-11-30
      DOI: 10.17146/eksplorium.2021.42.2.6363
      Issue No: Vol. 42, No. 2 (2021)
       
 
JournalTOCs
School of Mathematical and Computer Sciences
Heriot-Watt University
Edinburgh, EH14 4AS, UK
Email: journaltocs@hw.ac.uk
Tel: +00 44 (0)131 4513762
 


Your IP address: 44.200.74.241
 
Home (Search)
API
About JournalTOCs
News (blog, publications)
JournalTOCs on Twitter   JournalTOCs on Facebook

JournalTOCs © 2009-