Journal Cover
Jurnal Citizenship
Number of Followers: 2  

  This is an Open Access Journal Open Access journal
ISSN (Print) 2088-7396
Published by Universitas Ahmad Dahlan Homepage  [18 journals]
  • Pendidikan Pancasila ditinjau dari perspektif filsafat (aksiologi)

    • Authors: Sunarni Yassa
      Pages: 1 - 8
      Abstract: Pendidikan berfungsi untuk mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia Indonesia dalam rangka upaya mewujudkan tujuan nasional. Pendidikan itu harus sejalan dengan tujuan pendidikan nasional yakni mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Pancasila sebagai dasar negara Indonesia (ideologi) dan menjadi pedoman hidup, jiwa dan keperibadian bangsa Indonesia. Pancasila terkandung di dalamnya suatu pemikiran-pemikiran yang bersifat kritis, mendasar, rasional, sistematis dan komprehensif, sehingga sistem pemikiran ini merupakan suatu nilai. Oleh karena itu, Pancasila memberikan dasar-dasar yang bersifat fundamental dan universal bagi manusia baik dalam hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Bila dijabarkan dalam kehidupan yang nyata pada masyarakat, bangsa maupun negara maka nilai tersebut dijabarkan dalam suatu norma-norma yang jelas, yaitu norma moral dan norma hukum atau sistem perundangan yang berlaku di Indonesia. Dalam pemikiran filsafat aksiologi yang mengacu pada persoalan nilai, baik dalam konteks estetika, moral maupun agama, mengkaji dan menggali hakikat nilai itu. Maka melalui pendididkan Pancasila peserta didik diharapkan mampu memahami, menganalisis nilai-nilai Pancasila sebagai sumber acuan dalam menyusun etika kehidupan berbangsa bagi seluruh rakyat Indonesia dalam mencapai cita-cita dan tujuan nasionalnya, dan menjawab masalah yang dihadapi secara berkesinambungan.
      PubDate: 2018-01-27
      DOI: 10.12928/citizenship.v1i1.10442
      Issue No: Vol. 1, No. 1 (2018)
       
  • Implementasi pendidikan Pancasila sebagai character building mahasiswa di
           Universitas Sembilanbelas November Kolaka

    • Authors: Zulfikar Putra
      Pages: 9 - 13
      Abstract: Sekurang-kurangnya terdapat lima karakter pribadi pancasilais yang harus dimiliki, dihayati dan diimplementasikan dalam kehidupan mahasiswa diantaranya pengejawantahan nilai-nilai ketuhanan dalam kehidupan serta mampu menunjukkan sikap religius, toleran, berkonstribusi dalam peningkatan mutu kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara dan beradaban berdasarkan Pancasila, berperan sebagai warga negara yang bangga, cinta tanah air, memiliki nasionalisme serta rasa tanggung jawab terhadap negara dan bangsa, menginternalisasi semangat kemandirian, kejuangan dan kewirausahaan.
      PubDate: 2018-01-31
      DOI: 10.12928/citizenship.v1i1.9515
      Issue No: Vol. 1, No. 1 (2018)
       
  • Kemanusiaan dalam falsafah hidup masyarakat Batak Toba

    • Authors: Yakobus Ndona
      Pages: 15 - 22
      Abstract: Kemanusiaan, zaman sekarang telah menjadi prinsip universal dalam membangun peradaban dunia. Indonesia telah menetapkan kemanusiaan sebagai salah satu sila dalam dasar negara. Kemanusiaan dalam Pancasila tidak bersumber dari pemikiran spekulatif filosofis tetapi dari nilai-nilai yang telah hidup dalam kebudayaan nusantara sejak ribuan tahun lalu. Kajian tentang kemanusiaan dalam berbagai kebudayaan nusantara akan membuat pemahaman terhadap prinsip kemanusiaan dalam sila kedua akan komprehensif dan mendalam. Tulisan ini hendak mengungkapkan pemikiran tentang kemanusiaan dalam budaya Batak Toba. Orang Toba memiliki prinsip kemanusiaan yang bersumber dari pemahaman tentang manusia yang bermartabat rajawi. Martabat luhur ini menuntut setiap orang diperlakukan secara adil dan bermartabat.
      PubDate: 2018-01-31
      DOI: 10.12928/citizenship.v1i1.10441
      Issue No: Vol. 1, No. 1 (2018)
       
  • Penguatan karakter bangsa pada masyarakat multikultural: Peran gerakan
           kepanduan Hizbul Wathan

    • Authors: Supriyadi Supriyadi
      Pages: 23 - 30
      Abstract: Bangsa Indonesia yang multikultur memerlukan pendidikan untuk pembentukan karakter bangsa. Karakter bangsa atau kualitas dan kuantitas perilaku kolektif kebangsaan itu, hendaknya dibangun dengan bercirikan kekhasan keindonesiaan, yakni didasarkan pada nilai-nilai Pancasila, UUD 1945, keberagaman dan komitmen terhadap NKRI. Nilai-nilai tersebut diupayakan penanamannya ke dalam kesadaran, pemahaman, rasa, karsa, dan perilaku bermasyarakat berbangsa dan bernegara pada setiap insan Indonesia. Melalui pendidikan, nilai-nilai itu dikembangkan untuk membangun kemampuan diri dalam olah pikir, olah hati, olah rasa dan karsa serta olah raga, baik secara individual maupun kolektif. Sejak awal kelahirannya, pendidikan kepanduan, khususnya kepanduan Hizbul Wathan telah melakukan penanaman nlai-nilai kebangsaan, yakni sebagai gerakan pembela tanah air. Gerakan kepanduan ini berazaskan Islam, untuk menyiapkan dan membina anak, remaja, dan pemuda menjadi manusia muslim yang sebenar-benarnya dan siap menjadi kader persyarikatan, umat, dan bangsa. Program-program pendidikannya melibatkan pengembangan potensi kejiwaan individu dan mengaitkannya dengan aspek sosial kebudayaan. Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan juga menetapkan kriteria persyaratan dalam setiap kenaikan jenjang. Kriteria-kriteria itu menunjukkan pendidikan capaian pendidikan karakter individu dan karakter publik, termasuk di dalamnya adalah karakter bangsa.
      PubDate: 2018-01-27
      DOI: 10.12928/citizenship.v1i1.9747
      Issue No: Vol. 1, No. 1 (2018)
       
  • Pengembangan pembelajaran pendidikan kewarganegaraan perspektif
           kosmopolitanisme

    • Authors: Lili Halimah
      Pages: 31 - 40
      Abstract: Tulisan ini mengajukan masalah utama seberapa besar dampak kosmopolitanisme dalam terhadap pembelajaran pendidikan kewarganegaraan. Riset ini menggunakan perspektif studi kosmopolitanisme yang didukung perspektif teori situasional dan teori relasional. Lokasi penelitian tersebar di Kota Cimahi Jawa Barat. Populasi penelitian berjumlah 20.702 orang dan sampel penelitian berjumlah 400 peserta didik.  Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan metode survey cross-sectional. Data diambil melalui kuesioner dan uji kompetensi, dianalisis dengan menggunakan analisis Structural Equation Modeling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dampak kosmopolitanisme terhadap pendidikan kewarganegaraan memiliki angka yang cukup signifikan (dengan R2 = 0,6971 atau 69,71%). Karena itu, perlu adanya proses harmonisasi kosmopolitanisme bagi siswa-siswi sekolah menengah dalam pembelajaran pendidikan kewarganegaraan. Kosmopolitanisme memiliki efek lebih tinggi terhadap pendidikan kewarganegaraan (31,44%). Kosmopolitanisme yang dipelajari dalam pembelajaran pendidikan kewarganegaraan memiliki efek pada siswa-siswi sekolah menengah di Cimahi, sebesar 13,42%. Kosmopolitanisme menjadi faktor krusial dalam mengembangkan kualitas pembelajaran pendidikan kewarga-negaraan di tengah proses globalisasi. Hal ini memberikan implikasi bahwa pemerintah perlu meninjau kembali kurikulum pendidikan kewarganegaraan, agar siswa tidak terpengaruh budaya global yang negatif dan pola pikir yang dapat mencabut nilai-nilai keindonesiaan.
      PubDate: 2018-01-27
      DOI: 10.12928/citizenship.v1i1.9749
      Issue No: Vol. 1, No. 1 (2018)
       
  • Peranan guru PKn dalam mengatasi perilaku siswa broken home di SMP YP
           Mustika Padalarang

    • Authors: Eneng Martini, Crisma Crisma
      Pages: 40 - 45
      Abstract: Tulisan ini membahas secara kualitatif peranan dan upaya guru PKn dalam mengatasi perilaku siswa broken home di sekolah. Siswa yang kurang mendapatkan perhatian dan kasih sayang orang tua, baik karena tinggal berjauhan dengan orang tua, ditinggal menjadi TKI di luar negeri, maupun karena perceraian orang tua, cenderung memiliki sikap yang negatif. Mereka malas-malasan dalam belajar, menyendiri, agresif, bolos sekolah, menentang guru, merokok, tidak rapi, tidak disiplin waktu, bergabung dengan komunitas yang negatif. Data diperoleh melalui observasi dan wawancara kepada informan terpilih. Hasilnya menunjukkan bahwa peranan dan upaya guru PKn dalam mengatasi perilaku siswa broken home adalah dengan mengembangkan materi, metode, media, sumber dan evaluasi pembelajaran PKn yang dapat membangkitkan motivasi siswa dalam belajar. Selain itu, guru juga menjadi teladan yang baik untuk siswa-siswanya.
      PubDate: 2018-01-31
      DOI: 10.12928/citizenship.v1i1.9293
      Issue No: Vol. 1, No. 1 (2018)
       
 
JournalTOCs
School of Mathematical and Computer Sciences
Heriot-Watt University
Edinburgh, EH14 4AS, UK
Email: journaltocs@hw.ac.uk
Tel: +00 44 (0)131 4513762
 


Your IP address: 3.226.97.214
 
Home (Search)
API
About JournalTOCs
News (blog, publications)
JournalTOCs on Twitter   JournalTOCs on Facebook

JournalTOCs © 2009-