Publisher: UIN Maulana Malik Ibrahim Malang   (Total: 14 journals)   [Sort by number of followers]

Showing 1 - 14 of 14 Journals sorted alphabetically
Alchemy : J. of Chemistry     Open Access   (Followers: 4)
De Jure: Jurnal Hukum dan Syar'iah     Open Access   (Followers: 4)
El-Harakah     Open Access   (Followers: 2)
el-Hayah     Open Access  
El-Hikmah     Open Access   (Followers: 2, SJR: 0.102, CiteScore: 0)
EL-MUHASABA     Open Access   (Followers: 1)
J. of Islamic Architecture     Open Access   (Followers: 12)
Jurisdictie Jurnal Hukum dan Syariah     Open Access   (Followers: 1)
Jurnal NEUTRINO     Open Access  
LiNGUA : Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra     Open Access   (Followers: 2)
MADARASAH Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Dasar     Open Access   (Followers: 1)
MATICS     Open Access   (Followers: 2)
SAINSTIS     Open Access   (Followers: 1)
Ulul Albab     Open Access   (Followers: 3)
Similar Journals
Journal Cover
El-Harakah
Number of Followers: 2  

  This is an Open Access Journal Open Access journal
ISSN (Print) 1858-4357
Published by UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Homepage  [14 journals]
  • THE ISLAMIC DIALECTICS AND LOCAL CULTURE IN THE PETAWAREN TRADITION IN
           GAYO COMMUNITY

    • Authors: Marhamah Rusdy, Fauzi Fauzi
      Pages: 189 - 204
      Abstract:
      This research aims to analyze the rituals or practices as well as traditional objects used in the Petawaren tradition of the Gayo community in Central Aceh District. This research is descriptive research using a qualitative approach. The data needed are the ritual or implementation of Petawaren tradition and the traditional objects used, especially at a wedding or Ngerje ceremony. Primary data are obtained from research informants, namely traditional leaders, cultural figures, and community leaders, while secondary data are obtained from the relevant literature, documents, results of previous studies, and references. The techniques of collecting data are done by interviewing, observing, and documenting. This research also employs a relational dialectical theory. The results conclude that Petawaren tradition is purely Gayo culture, whereas the dialectics of Islam and Petawaren tradition in the Gayo community is more like accommodation of Islamic values. Therefore, the interpretation of the customary symbols, practices, and objects is eventually based on the Islamic teachings which replace the animistic beliefs existing before the arrival of Islam. Penelitian ini bertujuan menganalisis ritual (amalan) serta benda-benda adat yang digunakan dalam pelaksanaan tradisi Petawaren masyarakat Gayo di Kabupaten Aceh Tengah. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang menerapkan pendekatan kualitatif. Data yang diperlukan berupa tata cara pelaksanaan serta benda-benda yang digunakan dalam tradisi Petawaren pada upacara perkawinan Ngerje. Data utama bersumber dari informan penelitian, yaitu sesepuh (petue), tokoh adat, dan tokoh masyarakat. Sedangkan data sekunder diperoleh dari literatur, dokumen, hasil penelitian terdahulu, dan referensi yang relevan. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, pengamatan, dan dokumentasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan teori dialektika relasional. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa tradisi Petawaren adalah murni budaya Gayo, sedangkan dialektika Islam dan tradisi Petawaren pada masyarakat Gayo lebih kepada akomodasi nilai-nilai Islam. Oleh karena itu, pemaknaan terhadap simbol-simbol, ritual (amalan), dan benda-benda adat pada akhirnya didasarkan pada ajaran Islam, menggantikan kepercayaan animisme yang ada sebelum Islam datang.
      PubDate: 2020-11-05
      DOI: 10.18860/eh.v22i2.9205
      Issue No: Vol. 22, No. 2 (2020)
       
  • BEYOND THE HIJAB: SUBJECTIVE EXPERIENCES OF INDONESIAN MUSLIMAH BASKETBALL
           PLAYERS

    • Authors: Dwi Cahyo Kartiko, Deny Efita Nur Rakhmawati
      Pages: 205 - 221
      Abstract:  This study aimed to explore the negotiation of Islam identity reflected from the hijabi basketball players' subjective experiences in Indonesia. A qualitative method was conducted from a subjectivist epistemological position. Six hijabi basketball players between the ages of 16 and 30 were recruited to participate in this study. The data were collected through semi-structured interviews. A thematic analysis was adopted to analyze the data since this analysis method allows the researchers to interpret based on the data's in-depth examination. The study results showed that the negotiation of Islam identity was found in the ways of modifying their sports attires and behaviors in and out of the basketball fields. All of the participants saw their modifications as positive actions to integrate the Islamic values in their lives.  Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui negosiasi identitas Muslim yang direfleksikan dari pengalaman para pemain bolabasket yang berhijab di Indonesia. Penelitian kualitatif ini menggunakan subjectivitas epistemologis. Enam pemain dari usia 16 hingga 30 tahun dipilih menjadi partisipan. Data dikumpulkan melalui interview semi struktural. Sedangkan analisa datanya merupakan analisa tematik karena dalam interpretasi data diperlukan pemeriksaan yang detail dan mendalam. Hasil analisa data menunjukkan bahwa negosiasi Identitas sebagai orang Islam dilakukan dengan cara memodifikasi kostum olahraga dan sikap mereka baik di dalam maupun di luar lapangan bolabasket. Mereka memandang penyesuaian tersebut sebagai tindakan yang positif untuk menerapkan nilai–nilai Islam di dalam kehidupan mereka.
      PubDate: 2020-11-05
      DOI: 10.18860/eh.v22i2.10543
      Issue No: Vol. 22, No. 2 (2020)
       
  • THE CULTURED ISLAM: THE BOUNDARY OF ISLAMIC IDENTITY BETWEEN THE
           MINANGKABAU AND MANDAILING ETHNICS

    • Authors: Muhiddinur Kamal, Syafwan Rozi
      Pages: 223 - 243
      Abstract:
      The relationship between Islam and culture was compatible and not antonym. Islam was a dynamic product and a long-term process of giving and receiving in the dynamics and social interaction of its people. The contradiction between the ideal demands of religion and the demands of tradition and the social reality of society was a crucial problem faced by any religion in the world, but adjustments to social reality always occurred. The Islamic community in the Minangkabau border area was a cultural community that had and continued to confirm genuinely and became accommodative openness in resolving the contradictions of adat and Islam which were in principle very apparent in their cultural systems. Through ethnographic research, this article revealed that conflicts and contradiction between the normative concepts of Islam and adat always occurred in societies inhabited by the Minangkabau and Mandailing ethnic groups, especially related to marriage, kinship, inheritance system and communal property ownership. But the process always ran elegantly and attractively through the dialectics and dynamics of the people. Thus, Islam was culturally acculturated with Minangkabau culture and Mandailing culture and formed a distinctive cultural Islamic identity in the border area. Relasi Islam dengan kebudayaan adalah sesuatu yang selaras dan bukan antonim. Islam adalah produk dinamis dan proses dalam jangka panjang, yang saling memberi dan menerima dalam dinamika dan interaksi sosial masyarakatnya. Kontradiksi antara tuntutan ideal agama dan tuntutan tradisi serta realitas sosial masyarakat merupakan persoalan krusial yang dihadapi agama apapun di dunia, namun penyesuaian realitas sosial selalu terjadi. Masyarakat Islam di daerah perbatasan Minangkabau adalah komunitas budaya yang telah dan terus melakukan konfirmitas secara genuine serta akomodatif terbuka dalam menyelesaikan kontradiksi adat dan Islam yang secara prinsip sangat kentara dalam sistem budaya mereka. Melalui penelitian etnografi, artikel ini mengungkap bahwa konflik dan pertentangan antara konsep normatif Islam dengan adat selalu terjadi dalam masyarakat yang dihuni oleh etnik Minangkabau dan etnik Mandailing, terutama masalah perkawinan, kekerabatan, sistem kewarisan dan kepemilikan harta komunal. Namun proses itu selalu berjalan secara elegan dan atraktif melalui dialektika dan dinamika masyarakatnya. Sehingga, Islam secara kultur berakulturasi dengan budaya Minangkabau dan budaya Mandailing dan membentuk identitas Islam kultur yang khas di daerah perbatasan
      PubDate: 2020-11-05
      DOI: 10.18860/eh.v22i2.9021
      Issue No: Vol. 22, No. 2 (2020)
       
  • ISLAMIC EDUCATION VALUES OF BARIKAN: JAVANESE CULTURAL RITUALS AS A
           PRACTICE OF ISLAM NUSANTARA

    • Authors: Ahmad Saefudin, Deliavega Nanda Pangestuti, Santi Andriyani
      Pages: 245 - 262
      Abstract: Religion and culture are two important elements in society that influence each other. Even though both have their respective fundamental values, Islam as a religion with tradition as culture in Nusantara can acculturate and come into direct contact in harmony. The Barikan tradition showed that there is a fairly close relationship between religion and local culture. The tradition, which initially aims to pray for ancestral spirits, has since been considered an obligation by the people of Manyargading Village. Through this tradition, they believe that they will get blessings, peace, security, and get an abundant fortune. The Barikan tradition is a representation of Javanese culture that stores the values of Islamic education. They are the values of faith, worship, community, local Islamic history, morals, and da'wah.
      Agama dan budaya merupakan dua unsur penting dalam masyarakat yang saling mempengaruhi. Walaupun memiliki nilai fundamental masing-masing, Islam sebagai agama dengan tradisi sebagai budaya di Nusantara, mampu berakulturasi dan bersentuhan secara langsung dengan harmonis. Tradisi Barikan menunjukkan adanya perkawinan antara agama dengan budaya lokal yang cukup erat. Tradisi yang awalnya bertujuan untuk mendoakan arwah leluhur, pada perkembangan selanjutnya sudah dianggap sebagai kewajiban oleh masyarakat Desa Manyargading. Melalui tradisi ini, mereka percaya akan mendapatkan keberkahan, ketenteraman, keamanan, dan memperoleh rejeki yang melimpah. Tradisi Barikan menjadi salah satu representasi budaya Jawa yang menyimpan nilai-nilai pendidikan Islam. Di antaranya ialah nilai aqidah, ibadah, kemasyarakatan, sejarah Islam lokal, moral, dan dakwah.
      PubDate: 2020-11-05
      DOI: 10.18860/eh.v22i2.10217
      Issue No: Vol. 22, No. 2 (2020)
       
  • PAMALI CULTURE OF POLEWALI COMMUNITY IN WEST SULAWESI AND APPRECIATION OF
           ISLAMIC JURISPRUDENCE

    • Authors: Anwar Sadat, Muhammad Yusuf
      Pages: 263 - 286
      Abstract:
      The article explores the values of the local wisdom (‘urf) of the West Sulawesi Polewali community and an appreciation of Islamic law towards it. This research used a qualitative approach. Data collection was done through triangulation techniques that were intended to obtain more complete data. Data were analyzed with content analysis techniques and semiotics analysis approach. Content analysis can provide closer philosophical meaning of the phrase. While the semiotics approach can help to understand the meaning of the symbolic expressions of Pamali. The phrases in Pamali contain very deep and philosophical meanings. This research showed that Pamali has a depth of meaning so that a symbolic and contextual analysis approaches can give exact meaning of Pamali expression. Thus, the local wisdom in muamalat can be considered in formulating Islamic law that applies to the Mandar community in general and the Polewali community in particular. Local wisdom in the Polewali community can be used as a consideration in the formulation of Islamic law and development policies in Polewali. Artikel ini mengupas tentang nilai-nilai kearifan local (‘urf) masyarakat Polewali Sulawesi Barat dan apresiasi hukum Islam terhadapnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik triangulasi yang bertujuan untuk memperoleh data yang lebih lengkap. Data dianalisis dengan teknik analisis isi dan pendekatan analisis semiotika. Hal itu karena pesan di dalam Pamali menggunakan bahasa simbolik untuk tujuan tertentu. Analisis isi dapat lebih mendekatkan pada makna filosofis dari ungkapan. Sedangkan pendekatan semiotika dapat membantu untuk memahami makna ungkapan simbolik Pamali. Ungkapan pada Pamali mengandung makna yang sangat dalam dan filosofis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pamali memiliki makna yang dalam sehingga hanya dengan pendekatan analisis simbolik dan kontekstual dapat menempatkan makna ungkapan Pamali secara tepat. Dengan demikian, kearifan lokal dalam muamalat itu dapat menjadi pertimbangan dalam merumuskan hukum Islam yang berlaku bagi masyarakat Mandar umumnya dan masyarakat Polewali pada khususnya. Kearifan lokal pada masyarakat Polewali memungkinkan untuk  dijadikan pertimbangan dalam perumusan hukum Islam dan kebijakan pembangunan di Polewali.
      PubDate: 2020-11-05
      DOI: 10.18860/eh.v22i2.9372
      Issue No: Vol. 22, No. 2 (2020)
       
  • SUFI HEALING COMMODIFICATION THROUGHOUT EAST JAVA URBAN ENVIRONMENTS

    • Authors: M. Syamsul Huda
      Pages: 287 - 307
      Abstract:  This article examines the shifting of the functions and motives of Sufi healing from the pesantren tradition, in which the main actor is the healer kiai who prioritizes community service and healing as part of the da’wah, changing to capital motives in conducting healing traditions in Islam. The research process used participatory observation method in clinical settings to examine Sufi healing practices and interview therapists and patients who use Sufi healing services, as well as comparative-historical methods in studying the ontology and epistemology of healing. The findings of this study include: first, Sufi healing contains elements of bayani, irfani, and finally bil kasbi. Yet, in practice it takes the irfani as the most common method, especially through the method of prayer, zikr, and prayer. Second, the integration built by Islamic therapists is done by combining medical method in the area of marketing share and psycho-sufism to build patient confidence. Third, this role is more than Sufi healing prioritizing the practice of religious capitalization, namely identifying medical treatment clinics in the form of Sufi healing for economic purposes. Artikel ini mengkaji pergeseran fungsi dan motif penyembuhan sufi dari tradisi pesantren yang aktor utamanya kiai tabib yang mengutamakan pengabdian kepada kesehatan dan penyembuhan masyarakat sebagai bagian dari dakwah, berubah ke motif kapital tradisi penyembuhan dalam Islam. Dalam proses penelitian menggunakan metode observasi partisipatif ke tempat klinik yang membuka praktek penyembuhan sufi dan mewawancarai terapis dan pasien yang menggunakan jasa penyembuhan sufi, serta menggunakan metode historis komparatif dalam menelaah ontologi dan epistemologi penyembuhan. Adapun temuan penelitian ini antara lain pertama, penyembuhan sufi memuat unsur bayani, irfani, dan terakhir bil kasbi. Namun dalam prakteknya cara irfani menjadi metode yang paling umum dilakukan, khususnya melalui metode do’a, zikir, dan salat. Kedua, integrasi yang dibangun para terapis islami adalah dengan cara memadukan antara cara medis pada wilayah pemasaran dan psiko sufistik untuk membangun keyakinan para pasien. Ketiga, peran ini lebih dari sufi healing yang mengutamakan praktik kapitalisasi agama, yakni mengidentifikasi klinik jasa pengobatan dalam bentuk penyembuhan sufi demi tujuan ekonomis.
      PubDate: 2020-11-05
      DOI: 10.18860/eh.v22i2.10021
      Issue No: Vol. 22, No. 2 (2020)
       
  • THE CULTURAL SIGNIFICANCE AND ISLAMIC VALUES OF GUGON TUHON

    • Authors: Favorita Kurwidaria, Astiana Ajeng Rahadini, SF. Lukfianka Sanjaya Purnama, Bagus Wahyu Setyawan
      Pages: 309 - 326
      Abstract: This research focused on studying gugon tuhon in Surakarta and its relation to Islamic values. The gugon tuhon was related to the marriage cycle, pregnancy cycle, and children family education. The data were obtained through interviewing the Javanese society in Surakarta area. It employed an interactive analysis with the cultural interpretation relevant to Islamic values. The result indicates that some gugon tuhon in the marriage include prohibition for brides to go out by themselves and conduct wedding ceremonies in Sura/Muharram month. In the pregnancy cycle of gugon tuhon, pregnant women are prohibited from gossip and think negatively since those result in the child personality. Husbands of pregnant women are also prohibited from killing or hurt animals because their children will be harmed. The gugon tuhon in educating children includes the prohibition to go out at Maghrib (sunset prayer) because an evil spirit will kidnap them and suggest washing hands and legs before visiting babies. The existence of gugon tuhon can be used as the character education to construct good habits. Besides, gugon tuhon functions to implant Islamic moral values in terms of tolerance, responsibility, and good deeds to build a harmonious life system.Penelitian ini mengkaji gugon tuhon di Surakarta dan kaitannya dengan nilainilai keislaman. Gugon tuhon yang dikaji adalah dalam siklus pernikahan, siklus kehamilan, dan yang digunakan untuk mendidik anak. Data diperoleh dari hasil wawancara dengan masyarakat di wilayah karesidenan Surakarta. Analisis interaktif digunakan dengan pemaknaan secara kultural selanjutnya direlevansikan dengan nilai islami. Hasil penelitian menunjukkan beberapa gugon tuhon dalam perkawinan, diantaranya adalah larangan calon penganten putri untuk bepergian sendiri dan larangan untuk melaksanakan pernikahan di bulan Sura/Muharram. Dalam gugon tuhon siklus kehamilan, wanita hamil dilarang menggunjing dan berpikiran negatif karena akan berdampak pada watak anaknya. Suami yang istrinya sedang hamil juga dilarang membunuh dan menyakiti hewan karena anaknya akan celaka. Gugon tuhon dalam mendidik anak seperti larangan untuk keluar di waktu Magrib karena akan diculik oleh wewe gombel dan anjuran untuk membasuh kaki-tangan sebelum bertemu dengan bayi. Adanya gugon tuhon dapat digunakan sebagai sarana pendidikan karakter kepada generasi muda untuk membentuk kebiasaan-kebiasaan yang baik. Selain itu, fungsi gugon tuhon juga sebagai sarana menanamkan nilai-nilai moral keislaman seperti tenggang rasa, toleransi, tanggung jawab, dan selalu berbuat baik kepada sesama untuk membentuk sistem kehidupan masyarakat yang harmonis.
      PubDate: 2020-11-05
      DOI: 10.18860/eh.v22i2.9389
      Issue No: Vol. 22, No. 2 (2020)
       
  • RADICALISM PREVENTION MOVEMENT: RELIGIOUS MANIFESTATION OF SHOLAWAT
           COMMUNITIES IN THE MATARAMAN

    • Authors: A. Jauhar Fuad
      Pages: 327 - 340
      Abstract:  Religious traditions become a form of community religiosity. One’s religious attitude can be manifested in religious forms and actions through religious rituals such as prayer, fasting, zakat, pilgrimage, and other rituals such as tahlil, istighasha, and salawat. Public openness to religious traditions will close the space for radicalization. The research method uses a qualitative approach with data collection techniques, Interviews, documentation and focus group discussion. The findings of this study: first, the salawat council becomes a forum for people who have a spirit of religiosity in carrying out religious traditions. The development of salawat assemblies in the Mataraman region is quite a lot, but there are salawat assemblies having affiliations with FPI and defend against HTI. Second, the salawat council's existence received a response from Gus (young Kyai) who then brought the salawat council as a counterweight to the previous assembly. Its presence becomes a choice for the people in neutralizing radical understanding. As the community's religious universe grows, it needs an assembly that can lead to Islam's concept wasathiyah. Tradisi keagamaan menjadi wujud dari religiusitas masayarakat. Sikap religiusitas seseorang dapat diwujudkan dalam bentuk dan tindakan keagamaan melalui ritual-ritual kegamaan seperti, salat, puasa, zakat, haji, dan ritual lain seperti tahlil, istighasha, dan salawat. Keterbukaan masyarakat pada tradisi agama akan menutup ruang gerak radikalisasi. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data, wawancara, dokumentasi dan FGD. Temuan penelitian ini: pertama, majelis salawat menjadi wadah bagi masyarakat yang mimiliki spirit religiusitas dalam menjalankan tradisi keagamaan. Perkembangan majelis salawat di wilayah Mataraman cukup banyak, akan tetapi ada majelis salawat yang memiliki afiliasi dengan FPI dan melakukan pembelaan terhadap HTI. Kedua, keberadaan majelis salawat tersebut mendapat respon dari Gus (kyai muda) yang kemudian memunculkan majelis salawat sebagai penyeimbang  majelis sebelumnya. Kehadirannya menjadi pilihan bagi umat dalam menetralisir paham radikal. Seiring meningkatnya semangat keagamaan masyarakat, maka dibutuhkan majelis yang dapat mengarahkan pada konsep Islam wasatiyah.
      PubDate: 2020-11-05
      DOI: 10.18860/eh.v22i2.9729
      Issue No: Vol. 22, No. 2 (2020)
       
  • RELIGIOUS CULTURE OF SHARIA MICROFINANCE INSTITUTIONS IN DENPASAR-BALI

    • Authors: Siswanto Siswanto, Khairil Anwar
      Pages: 341 - 361
      Abstract:  This study aims to develop organizational culture in Islamic microfinance institutions Baitul Maal wa at-Tamwil (BMT) Sidogiri in  Denpasar, Bali. Organizational culture is a basic assumption that grows from social construction results based on a mutual agreement to solve problems and achieve organizational goals. Therefore, the organizational culture in each company is different. This study uses a qualitative approach to data collection and analysis. Data collection uses in-depth interviews with the informant. The informants are leaders, employees, and customers of the BMT. The results of the study show the practice of religious culture. The dimensions of religious culture are amanah or trustworthy, mutual help (ta'awun), kinship and togetherness. Its value is clarified with sharia enterprise theory. This research has implications for developing the concept of organizational culture based on the peculiarities of Islamic microfinance institutions based on pesantren. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengembangkan konsep budaya organisasi di lembaga keuangan mikro syariah BMT Sidogiri Denpasar, Bali. Budaya organisasi merupakan asumsi dasar yang tumbuh dari hasil konstruksi sosial berdasarkan kesepakatan bersama untuk menyelesaikan masalah dan mencapai tujuan organisasi. Oleh karena itu, budaya organisasi dalam setiap perusahaan berbeda-beda. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dalam pengumpulan dan analisis data. Pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam kepada informan. Para informan adalah pimpinan, karyawan, dan nasabah BMT Sidogiri. Hasil penelitian menemukan penerapan budaya religius. Dimensi budaya religius tersebut meliputi amanah, tolong menolong (ta’awun), kekeluargaan & kebersamaan. Nilai budaya religius tersebut selanjutnya diperjelas dengan teori usaha syariah. Penelitian ini memiliki implikasi pada pengembangan konsep budaya organisasi berdasarkan kekhasan lembaga keuangan mikro syariah berbasis pesantren.
      PubDate: 2020-11-05
      DOI: 10.18860/eh.v22i2.10070
      Issue No: Vol. 22, No. 2 (2020)
       
  • الائتلاف والاختلاف في الأمثال العربية
           واليوربوية: دراسة مقارنAL-I’TILAF WA AL-IKHTILAF FI
           AL-AMTSAL AL-ARABIYAH WA AL-YORUBIYYAH: DIRASAH MUQARANAH

    • Authors: S. Muhammad Jumahalaso
      Pages: 363 - 380
      Abstract:       الأمثال مجموعة من أفكار الشعوب وعاداتها وعقائدها وتقاليدها المتوارثة جيلاً بعد جيل، وهي مرآة تعكس ثقافات الشعوب بصفة عامة، ومن أكثر أساليب التعبير الشعبية انتشارا وشيوعا، وأقدرها على مساعدة المتكلم للوصول إلى هدفه بأقل جهد وفي أقصر وقت. وقد حظيت الأمثال باهتمام كبير وعناية عظيمة لدى الأدباء العرب وحكمائها وشعرائها نظرا للأهمية التي تكتسبها في الثقافة العربية لما فيها من إيجاز اللفظ وإصابة المعنى وغيرها. وكما تهتم العرب بفن المثل وبحسن استعماله في كلامهم، كذا الشعب اليوربوي القاطنون في الجنوب الغربي لدولة نيجيريا يولون استخدام الأمثال في ثنايا حديثهم اهتماما أعظم وعناية كبرى لأن المثل عند حصان الكلام الذي يركبه المتكلم إلى هدفه. ولأهمية المثل لدى الشعبين جاءت هذه الدراسة لتتناول المثل من حيث مفهومه، وأنواعه، ومصادره، وكيفية استعماله في الكلام لدى الشعبين. وقد نسج الباحث في جمع مواد الدراسة وفحصها وتحليلها على منوال المنهج الوصفي مع الاستعانة بالمنهج التاريخي. ومما توصلت إليه الدراسة من النتائج أن المثل ظاهرة أدبية شعبية وعالية عرفتها شعوب العالم وبالأخص الشعب العربي و...
      PubDate: 2020-11-05
      DOI: 10.18860/eh.v22i2.9404
      Issue No: Vol. 22, No. 2 (2020)
       
  • أوجه الاختلاف بين السيرتين الذاتيتين
           (الأيام لطه حسين وأكى لوولى شوينكا) AWJUH
           AL-IKHTILAF BAINA AS-SIRATAIN ADZ-DZATITAIN (AL-AYYAM LI TAHA HUSSEIN WA
           AKE LI WOLE SOYINKA)

    • Authors: Abdulhakeem Zubair
      Pages: 381 - 393
      Abstract: الدراسة المقارنة هي فن من فنون الأدب التي تعزز تلاقي الأفكار والمعرفة والثقافة. ولقد تلقى هذا النوع من الدراسة عناية فائقة لدى الدارسين في اللغة العربية والإنجليزية في العصر الحديث. ومع ذلك، كانت مقارنة العمل الأدبي العربي بالعمل الأدبي الإنجليزي نادرًا جدًا في مجال الدراسات العربية في نيجيريا. لذلك ركّزتُ هذه الورقة على استنباط ودراسة أوجه الاختلاف بين كتابي «الأيام» لطه حسين و«أكى سنوات الطفولة»لـ Wole Soyinka (وولي شوينكا). ومن أهدافها أن تقوم بمقارنة وتباين مضامين العملين الأدبيْين، وتحليل الجانب الفني والسردي في الكتابين المقارنين وتوضيح بعض سلوك الطفولة على الرغم من خلفية منطقتيهما وأيديولوجيتيهما ودينيهما المختلفين؛ واعتمدت الدراسة على منهجين أساسي ينهما المنهج التاريخي والمنهج التحليلي؛ أما المنهج التاريخي فيتناول نبذة يسيرة عن حياة كل من الأديبين من خلال الدراسة. والمنهج التحليلي عبارة عن دراسة السيرتين الذاتيتين للأديبين، وتمّ تحليلهما على المعايير الأدبية والفنية. وفي الختام أثبت هذا البحث أنّ السيرتين تعكسان حياة الطفولة للکاتبين مع الاختلاف في البيئة والثقافة، وكلا العملين يتفق ...
      PubDate: 2020-11-05
      DOI: 10.18860/eh.v22i2.10320
      Issue No: Vol. 22, No. 2 (2020)
       
 
JournalTOCs
School of Mathematical and Computer Sciences
Heriot-Watt University
Edinburgh, EH14 4AS, UK
Email: journaltocs@hw.ac.uk
Tel: +00 44 (0)131 4513762
 


Your IP address: 3.235.236.13
 
Home (Search)
API
About JournalTOCs
News (blog, publications)
JournalTOCs on Twitter   JournalTOCs on Facebook

JournalTOCs © 2009-