Publisher: Diponegoro University   (Total: 25 journals)   [Sort by number of followers]

Showing 1 - 25 of 25 Journals sorted alphabetically
Bulletin of Chemical Reaction Engineering & Catalysis     Open Access   (Followers: 3, SJR: 0.2, CiteScore: 1)
Geoplanning : J. of Geomatics and Planning     Open Access   (Followers: 5)
ILMU KELAUTAN : Indonesian J. of Marine Sciences     Open Access   (Followers: 1)
Indonesian Historical Studies     Open Access   (Followers: 2)
Intl. J. of Renewable Energy Development     Open Access   (Followers: 8)
Intl. J. of Waste Resources     Open Access   (Followers: 6)
Izumi : Jurnal Bahasa, Sastra dan Budaya Jepang     Open Access  
J. of Biomedicine and Translational Research     Open Access  
J. of Coastal Development     Open Access   (Followers: 2)
J. of the Indonesian Tropical Animal Agriculture     Open Access   (SJR: 0.126, CiteScore: 0)
Jurnal Anestesiologi Indonesia     Open Access  
Jurnal Gizi Indonesia / The Indonesian J. of Nutrition     Open Access   (Followers: 3)
Jurnal Kelautan Tropis     Open Access  
Jurnal Pengembangan Kota     Open Access  
Jurnal Presipitasi     Open Access   (Followers: 1)
Jurnal Reaktor     Open Access  
Jurnal Sistem Komputer     Open Access   (Followers: 2)
Jurnal Teknologi dan Sistem Komputer     Open Access  
Jurnal Wilayah dan Lingkungan     Open Access   (Followers: 1)
Media Komunikasi Teknik Sipil     Open Access  
Parole : J. of Linguistics and Education     Open Access  
Politika : Jurnal Ilmu Politik     Open Access  
Tataloka     Open Access  
Teknik     Open Access  
Waste Technology     Open Access   (Followers: 4)
Similar Journals
Journal Cover
Jurnal Anestesiologi Indonesia
Number of Followers: 0  

  This is an Open Access Journal Open Access journal
ISSN (Print) 2089-970X
Published by Diponegoro University Homepage  [25 journals]
  • The Effectiveness of Intraoperative Ketamine and Fentanyl as Preemptive
           Analgesia Assessed with qNOX Score

    • Authors: Wilesing Gumelar, Hamzah Hamzah, Christijogo Sumartono
      Pages: 67 - 77
      Abstract: Background: Inadequate management of intraoperative pain poses a risk of postoperative chronic pain complications. The use of preemptive analgesia before the onset of surgical incision stimulation was considered to prevent central sensitization. Clinical research around the terms of preemptive analgesia needs to be proven by nociception-based intraoperative monitoring. An objective modality with EEG guidance can provide information on noxious stimuli.Objective: To determine the effectiveness of ketamine and fentanyl administration as preemptive analgesia measured by qNOX scores through the CONOX tool.Methods: This study is a single-blinded randomized experiment with the division of two groups: control and treatment. The control group received preemptive fentanyl, and the treatment group received preemptive ketamine and fentanyl. Then the qNOX score was assessed during operation.Result: The qNOX score of the treatment group in minute-15 and 30 was lower than the control group (p = 0.007; p = 0.025), while in the minute-90 it was higher than the control group (p = 0.001). The mean first 1-hour qNOX score was lower in the treatment group (p <0.001), while in the second 1-hour was higher in the treatment group (p = 0.003). The mean total dose of fentanyl supplementation in the treatment group was lower than in the control group (71.3 ± 25.1 grams vs. 92.0 ± 28.3 grams; p = 0.044).Conclusion: The administration of combined ketamine and fentanyl as preemptive analgesia is more effective in the first hour of surgery compared to single preemptive fentanyl measured by qNOX score. Preemptive ketamine and fentanyl decrease the total dose of intraoperative fentanyl supplementation compared with single-dose preemptive fentanyl administration.
      PubDate: 2021-07-01
      DOI: 10.14710/jai.v13i2.31900
      Issue No: Vol. 13, No. 2 (2021)
       
  • Analisis Faktor Risiko terhadap Lama Perawatan Pasien Sepsis yang
           Meninggal di Ruang Perawatan Intensif RSUD Dr. Soetomo Surabaya

    • Authors: Fajra Arif Hatman, Bambang Pujo Semedi, Budiono Budiono
      Pages: 78 - 87
      Abstract: Latar Belakang: Sepsis disebabkan oleh ketidakseimbangan respons tubuh terhadap infeksi dan dapat mengakibatkan komplikasi yang berbahaya. Komplikasi yang ditimbulkan bervariasi, salah satu yang paling sering adalah disfungsi organ yang dapat dinilai melalui skor sequential organ failure assessment (SOFA). Sepsis masih menjadi masalah kesehatan karena sulitnya pengobatan dan lama perawatan yang lama sehingga menyebabkan mortalitas yang tinggi. Sepsis memiliki berbagai penyebab di antaranya pneumonia yang diketahui menjadi salah satu penyebab infeksi terbanyak pada sepsis. Selain itu, mikroorganisme juga menjadi salah satu penyebab infeksi terbanyak di ruang perawatan intensif. Pemeriksaan laboratorium memiliki hasil yang buruk pada banyak pasien sepsis seperti anemia dan leukositosis.Tujuan: Tujuan penelitian ini untuk menganalisis faktor risiko meliputi riwayat penyakit, riwayat konsumsi obat, diagnosis masuk, dan jumlah alat medis invasif terhadap lama perawatan dan mengetahui karakteristik pasien sepsis yang meninggal.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan menggunakan data rekam medis 42 pasien sepsis yang meninggal di ruang perawatan intensif RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Data dideskripsikan dan dianalisis menggunakan software SPSS 26.Hasil: Terdapat 18 (42,86%) laki-laki dan 24 (57,14%) perempuan dengan rata-rata usia 55,98 + 15,411. Didapatkan median skor SOFA 7,5 (3–15) dengan sistem respirasi menjadi tempat infeksi terbanyak (50%). Pemeriksaan laboratorium menunjukkan banyak pasien sepsis mengalami anemia (66,67%) dan leukositosis (59,52%). Acinetobacter baumannii (26,08%) sebagai mikroorganisme yang paling banyak ditemukan. Hasil penelitian ditemukan hanya diagnosis masuk yang memiliki hubungan dengan lama perawatan (P = 0,05). Di sisi lain tidak ditemukan faktor risiko yang berpengaruh terhadap lama perawatan >5 hari (P > 0,05).Kesimpulan: Diagnosis masuk memperpanjang lama perawatan.  Tidak ada faktor risiko yang berpengaruh terhadap durasi perawatan >5 hari. Karakteristik pasien secara umum memiliki kondisi medis yang buruk. 
      PubDate: 2021-07-01
      DOI: 10.14710/jai.v13i2.32441
      Issue No: Vol. 13, No. 2 (2021)
       
  • Diameter dan Indeks Inferior Vena Cava (IVC) Berkorelasi dengan Central
           Venous Pressure (CVP) pada Pasien Kritis yang Menggunakan Ventilasi
           Mekanik di Intensive Care Unit (ICU)

    • Authors: Buyung Hartiyo Laksono, Arie Zainul Fatoni, Vilda Prasastri Yuwono, Aswoco Andyk Asmoro
      Pages: 88 - 98
      Abstract: Latar belakang: Pengukuran central venous pressure (CVP) merupakan salah satu metode guiding deresusitasi pada pasien dengan kasus tertentu. Kenaikan nilai CVP 1 mmHg dikaitkan dengan peningkatan angka kejadian acute kidney injury (AKI). Namun sebagai sebuah metode yang invasif, pemasangan CVP memiliki risiko yang perlu diperhatikan. Di sisilain, pengukuran diameter dan indeks IVC yang bermuara di atrium kanan dengan menggunakan ultrasonografi (USG) non-invasif dinilai mampu untuk memprediksi nilai CVP pada pasien. Namun beberapa penelitian hubungan antara CVP dengan diameter dan indeks IVC memberikan hasil yang kontroversial.Tujuan: Penelitian untuk mengetahui hubungan antara nilai CVP dengan diameter dan indeks IVC.Metode: Penelitian ini menggunakan metode cross-sectional pada 30 pasien yang dilakukan ventilasi mekanik dan pemasangan CVC di unit perawatan intensif. Parameter CVP, diameter minimum dan maksimum inferior vein cava (IVC mak, IVC min), distensibillity index (DI-index), dan aortacaval index (Cava/Ao index) diukur. Data dianalisis menggunakan uji korelasi pada SPPS 18.0 (p<0.05).Hasil: Didapatkan korelasi signifikan antara CVP dan semua variabel yang diuji (IVC mak, IVC min, DI-index, dan Cava/Ao index) (p<0.05), dengan korelasi terkuat antara CVP dan IVC min (R= 0,908). Korelasi bersifat positif, kecuali antara DI-index dan CVP.Kesimpulan: Parameter IVC min, IVC mak, Cava/Ao- index, dan DI-index signifikan berkorelasi kuat dengan CVP. Korelasi terjadi bersifat positif, kecuali antara DI-index dan CVP.
      PubDate: 2021-07-01
      DOI: 10.14710/jai.v13i2.33829
      Issue No: Vol. 13, No. 2 (2021)
       
  • Analisis Sistem Skoring APACHE II dan SOFA Terhadap Outcome di Intensive
           Care Unit RSUD Dr. Soetomo Surabaya

    • Authors: Habibah Teniya Ariq Fauziyah, Bambang Pujo Semedi, Pudji Lestari, Maulydia Maulydia
      Pages: 99 - 113
      Abstract: Latar belakang: Intensive care unit (ICU) adalah suatu ruangan dari rumah sakit yang khusus untuk merawat pasien yang menderita penyakit, cedera, atau komplikasi yang mengancam jiwa. Pasien yang sedang dilakukan perawatan di ICU dapat diperkirakan prognosisnya menggunakan sistem skoring.Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara sistem skoring acute physiological chronic health evaluation (APACHE II), sequential organ failure assessment (SOFA) hari pertama, SOFA hari ketiga, SOFA hari kelima dengan outcome pasien di ICU RSUD Dr. Soetomo Surabaya.Metode: Prospektif studi analitik observasional. Pengumpulan data dari rekam medis ICU RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Subjek penelitiannya adalah pasien berumur ≥17 tahun yang dirawat di ICU minimal lima hari untuk kemudian dibandingkan sistem skoring APACHE II, SOFA hari pertama, SOFA hari ketiga dan SOFA hari kelima terhadap outcome pasien. Sampel penelitian bulan September 2019 hingga Januari 2020 sebanyak 110 pasien, namun yang masuk kriteria inklusi hanya 30 pasien. Data dianalisis menggunakan software SPSS 16 menggunakan uji spearman dan scatter plot.Hasil: Dari 30 pasien ICU, 56.7% berjenis kelamin laki-laki dan 43.3% berjenis kelamin perempuan, kelompok umur terbanyak 46-65 tahun (50%), indeks massa tubuh (IMT) tertinggi pada kategori IMT Normal (60%), diagnosis terbanyak adalah Sepsis sebanyak 14 pasien. (46.7%), pasien tanpa komorbiditas lebih dominan 15 pasien (50%), kondisi akhir pasien lebih banyak pada pasien yang hidup 18 pasien (60%). Hasil uji Spearman dan scatter plot menunjukkan adanya hubungan antara SOFA hari kelima dengan outcome ICU (p <0.05).Kesimpulan: Sistem penilaian SOFA hari kelima dapat memprediksi outcome ICU. Sedangkan APACHE II dan SOFA pada hari pertama dan ketiga tidak dapat memprediksi outcome ICU.
      PubDate: 2021-07-01
      DOI: 10.14710/jai.v13i2.33984
      Issue No: Vol. 13, No. 2 (2021)
       
  • Hubungan Penanda Infeksi, Penanda Oksigenasi, dan Faktor Risiko Lainnya
           terhadap Mortalitas Pasien COVID-19 dengan Pneumonia Saat Admisi di Unit
           Perawatan Intensif RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo

    • Authors: Andi Taufik Amiruddin, Haizah Nurdin, Syafri Kamsul Arif, Andi Muhammad Takdir Musba, Andi Salahuddin, Ari Santri Palinrungi
      Pages: 114 - 124
      Abstract: Latar Belakang: Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendeklarasikan penyebaran dari coronavirus disease 2019 (COVID-19). Faktor risiko terhadap mortalitas pasien COVID-19 rawat intensive care unit (ICU) belum banyak diteliti.Tujuan: Mengetahui hubungan penanda infeksi, penanda oksigenasi dan faktor risiko lainnya terhadap mortalitas pasien COVID-19 dengan pneumonia.Metode: Penelitian retrospektif dilakukan di ICU Infection Centre RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo, Makassar pada April – Agustus 2020. Sampel penelitian adalah data pasien COVID-19 dengan pneumonia yang dirawat di ICU. Pasien dibagi ke dalam dua kelompok survivor grup (SG) dan non-survivor (NSG). Variabel penelitian berupa penanda infeksi, penanda oksigenasi dan faktor risiko yang didapatkan dari rekam medis pasien. Analisis bivariat dan multivariat dilakukan terhadap semua variabel penelitian.Hasil: Dari 92 pasien didapatkan 46 NSG dan 46 SG. Perbandingan jenis kelamin dan indeks massa tubuh antara kedua kelompok tidak signifikan bermakna secara statistik. Tidak didapatkan perbedaan signifikan secara statistik pada level c-reactive protein (CRP) antara kelompok NSG dengan median 91,1 (IQR 32,3-200,45) dan SG 88,95 (IQR 33,50-177,80), p= 0,899. Faktor risiko usia tua, diabetes mellitus (DM), dan peningkatan rasio neutrofil-limfosit (RNL) berdasarkan klasifikasi cut-off signifikan secara statistik pada mortalitas antar kedua kelompok.  Pada NSG didapatkan median usia 60,5 (IQR 53-67,25) vs SG 56 (IQR 35-61,25), p= 0.02. Komorbid DM SG 8 dari 46 pasien (17,4%) dan NSG 17 dari 46 pasien (37%), p = 0,035. Pemeriksaan kadar RNL berdasarkan klasifikasi cut-off > 3,4 NSG 42 dari 46 pasien (91,3%) dan NS 11 dari 46 (23,9%), p= 0,048.  Analisis multivariat regresi logistik didapatkan rasio P/F merupakan faktor risiko independen. Mortalitas pasien COVID-19 dengan pneumonia (OR 0,99 95% CI 0,988-1,00, p = 0,043).  Kesimpulan: Umur di atas 60 tahun, DM, RNL, dan indeks oksigenasi bermakna secara signifikan terhadap kejadian mortalitas pasien COVID-19 dengan pneumonia, dimana pada indeks oksigenasi yang rendah didapatkan kejadian mortalitas yang tinggi.
      PubDate: 2021-07-01
      DOI: 10.14710/jai.v13i2.37050
      Issue No: Vol. 13, No. 2 (2021)
       
  • Komplikasi Multi Organ pada Pasien yang Menjalani Operasi Double Valve
           Replacement

    • Authors: Iradewi Karseno, Reza Sudjud
      Pages: 125 - 133
      Abstract: Latar Belakang: Penggantian lebih dari satu katup jantung digolongkan sebagai operasi risiko tinggi dengan risiko komplikasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan operasi penggantian satu katup jantung.Kasus: Seorang wanita usia 35 tahun dengan stenosis katup aorta berat, regurgitasi katup aorta moderat dan stenosis katup mitral berat disertai atrial fibrilasi menjalani operasi double-valve replacement. Komplikasi yang ditemukan di intensive care unit (ICU) berupa perdarahan yang signifikan, fibrilasi atrial, cedera ginjal akut dan perdarahan intrakranial.Pembahasan: Komplikasi yang mungkin ditemukan setelah penggantian dua katup jantung meliputi koagulopati, cedera ginjal akut, aritmia dan gangguan serebrovaskular. Koagulopati dapat menyebabkan perdarahan yang signifikan dan instabilitas hemodinamik sehingga harus diberikan tatalaksana yang tepat. Aritmia dapat disebabkan oleh imbalans elektrolit. Cedera ginjal akut sering ditemukan pascaoperasi jantung terbuka dan sebaiknya dilakukan hemodialisis sesegera mungkin.  Tatalaksana gangguan serebrovaskular dapat bersifat konservatif atau operasi. Keputusan tatalaksana gangguan serebrovaskular harus disesuaikan menurut kondisi klinis pasien.Kesimpulan: Deteksi dini dan tatalaksana yang cepat dan tepat sangatlah penting untuk menghindari morbiditas dan mortalitas pascaoperasi yang signifikan.
      PubDate: 2021-07-01
      DOI: 10.14710/jai.v13i2.31578
      Issue No: Vol. 13, No. 2 (2021)
       
  • Acid-base Management in Cardiopulmonary Bypass

    • Authors: Sonny Lesmana Surya, Yudi Hadinata
      Pages: 134 - 143
      Abstract: Cardiopulmonary bypass (CPB) merupakan alat penunjang fungsi sirkulasi dan pernapasan pasien yang biasa digunakan ketika menjalani pembedahan jantung atau pembuluh darah besar. Selama prosedur CPB, kondisi hipotermia dipertahankan untuk menurunkan kebutuhan oksigen dan laju metabolisme. Kondisi hipotermia akan mempengaruhi keseimbangan asam-basa pada tubuh. Manajemen asam-basa selama prosedur CPB dicapai dengan menggunakan metode a-stat atau pH-stat. Pada metode a-stat, manajemen asam-basa dilakukan dengan menjaga pHa 7.4 dan PaCO2 40 mmHg pada suhu 37oC tanpa penambahan CO2 oksigen untuk menjaga total CO2 tetap konstan. Sedangkan, pada metode pH-stat, diberikan CO2 oksigen untuk menjaga PaCO2 40 mmHg dan pHa 7.4 secara in vivo. Masih banyak perdebatan terkait waktu penerapan masing-masing metode. Pada level mikrosirkulasi, manajemen a-stat terbukti memberikan keuntungan pada otak dan mengurangi insidensi postoperative cerebral dysfunction. Sedangkan, metode pH-stat dilaporkan meningkatkan risiko emboli otak, sehingga tidak disarankan untuk pasien yang memiliki risiko tinggi gangguan aliran darah otak. Namun, terdapat pula laporan yang menyatakan pH-stat bermanfaat pada operasi bedah jantung anak. Berdasarkan hal itu, usia pasien dapat menentukan waktu penggunaan metode a-stat dan pH-stat. Satu indikasi primer penggunaan pH-stat adalah selama proses pendinginan saat deep hypothermic circulatory arrest (DHCA), sedangkan metode a-stat lebih baik digunakan selama selective cerebral perfusion (SCP) dan rewarming.
      PubDate: 2021-07-01
      DOI: 10.14710/jai.v0i0.32404
      Issue No: Vol. 13, No. 2 (2021)
       
 
JournalTOCs
School of Mathematical and Computer Sciences
Heriot-Watt University
Edinburgh, EH14 4AS, UK
Email: journaltocs@hw.ac.uk
Tel: +00 44 (0)131 4513762
 


Your IP address: 52.23.219.12
 
Home (Search)
API
About JournalTOCs
News (blog, publications)
JournalTOCs on Twitter   JournalTOCs on Facebook

JournalTOCs © 2009-