for Journals by Title or ISSN
for Articles by Keywords
help
Followed Journals
Journal you Follow: 0
 
Sign Up to follow journals, search in your chosen journals and, optionally, receive Email Alerts when new issues of your Followed Journals are published.
Already have an account? Sign In to see the journals you follow.
Journal Cover ASPIRATOR : Journal of Vector-borne Disease Studies
  [0 followers]  Follow
    
  This is an Open Access Journal Open Access journal
   ISSN (Print) 2085-4102 - ISSN (Online) 2338-7343
   Published by Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Homepage  [6 journals]
  • FRONT MATTER ASPIRATOR 9(2)

    • Authors: Mutiara Widawati
      PubDate: 2017-12-28
      Issue No: Vol. 9 (2017)
       
  • Konfirmasi Anopheles sinensis dan Anopheles vagus sebagai Vektor Malaria
           di Kabupaten Muara Enim Provinsi Sumatera Selatan

    • Authors: Anif Budiyanto, Lasbudi Pertama Ambarita, Milana Salim
      Abstract: . Muara Enim Regency is one of endemic malaria area in South Sumatera Province. The number of malaria clinical cases in 2015 is 9.382 cases with positive confirmed by microscopy is 143 cases (Annual parasite incidence = 0,26%o). There were no information or publication confirmed the vector of malaria in this regency. The aims of this study was to confirm species of Anopheles as malaria vector and its biting behavior in Muara Enim Regency. The study carried out two activity that were mosquito collection (indoor and outdoor) starts from 18.00 hours until 06.00 in the morning, and survey of the breeding habitat of pre-adult mosquito. The total of Anopheles mosquitoes collected were 1.443 and 200 mosquitoes were prepared for sporozoit identification by ELISA (enzyme-linked immunosorbent assay) method. Two species of Anopheles (of four mosquitoes), Anopheles sinensis and An. vagus, were confirmed sporozoit positive. Anopheles sinensis tends to bite outdoors while An. vagus prefer indoors. Both species actively biting at 9 p.m. until 4 a.m.Keywords: Anopheles sinensis, Anopheles vagus, Malaria Vector, Muara Enim RegencyAbstrak. Kabupaten Muara Enim merupakan kabupaten endemis malaria di Provinsi Sumatera Selatan. Angka kasus malaria klinis pada tahun 2015 berjumlah 9.382 penderita dan kasus malaria positif berjumlah 143 penderita (API=0,26 %o). Sampai saat ini belum diketahui spesies nyamuk Anopheles yang menjadi vektor malaria di Kabupaten Muara Enim. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui spesies nyamuk Anopheles yang menjadi vektor malaria di Kabupaten Muara Enim dan bagaimana perilaku menggigitnya. Kegiatan yang dilakukan adalah survei entomologi dengan melakukan penangkapan nyamuk dewasa dari jam 18.00-06.00 WIB dan survei tempat perkembangbiakan nyamuk di lokasi penelitian. Sebanyak 1.443 ekor nyamuk Anopheles spp. berhasil dikoleksi, dan 200 ekor diantaranya diperiksa dengan metode ELISA untuk mengetahui adanya sporozoit. Empat ekor dikonfirmasi mengandung sporozoit yaitu spesies An. sinensis dan An. vagus. Anopheles sinensis lebih suka menggigit di luar rumah sedangkan An. vagus lebih suka menggigit di dalam rumah. Keduanya aktif menggigit pada jam 21.00-04.00 WIB.Kata Kunci: Anopheles sinensis, Anopheles vagus, Vektor malaria, Kabupaten Muara Enim
      PubDate: 2017-12-28
      Issue No: Vol. 9 (2017)
       
  • The Distribution of Culex spp (Diptera: Culicidae) in Selected Endemic
           Lymphatic Filariasis Villages in Bandung District West Java Indonesia

    • Authors: endang puji astuti, mara ipa, tri wahono, andri ruliansyah, lukman hakim, pandji wibawa dhewantara
      Abstract: Abstrak. Data entomologis terkait aspek bionomik dan distribusi nyamuk vektor lymphatic filariasis di Kabupaten Bandung masih sangat sedikit meskipun kabupaten ini sudah mengimplementasikan POPM Filariasis dari tahun 2009. Tujuan penelitian adalah mengindentifikasi spesies nyamuk potensial penular lymphatic filariasis dan habitatnya di wilayah endemis filariasis yaitu Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung. Survei dilaksanakan selama 2 bulan yaitu September – Oktober 2013 di dua desa Kecamatan Majalaya. Kegiatannya adalah pencidukan larva (termasuk plotting habitat, salinitas, temperatur air, pH), penangkapan nyamuk dewasa menggunakan metode human landing (dalam dan luar rumah) serta resting (dinding rumah dan kandang ternak). Hasil penangkapan nyamuk memperoleh enam spesies yang berhasil diidentifikasi. Culex quinquefasciatus dan Cx. tritaeniorhynchus adalah nyamuk yang dominan tertangkap dengan puncak gigitan antara jam 21.00-01.00 WIB. Terdapat lima tempat perkembangbiakan potensial yang teramati disekitar desa tersebut yang terdiri dari kolam ikan yang terbengkalai dan persawahan dengan salinitas 0‰, temperatur air 28,5-29°C, pH 6-7. Meskipun MHD dan MBR vektor filariasis yaitu Cx. quinquefasciatus di wilayah tersebut relatif rendah, penularan masih dapat terjadi karena didukung dengan kondisi lingkungan dan keberadaan nyamuk vektor tersebut di wilayah iniKata kunci: lymphatic filariasis; tempat perkembangbiakan; Cx. quinquefasciatus; kepadatan, Bandung . Bandung district has been implemented mass drug administration (MDA) program since 2009, but little is known about entomological data especially about bionomic aspects and distribution of lymphatic filariasis (LF) mosquito vectors. This study was aimed to identify potential LF mosquito species and its potential breeding sites in two LF endemic villages in Majalaya, Bandung district. The observational study was conducted in September-October 2013. Mosquito larvae were collected by a scoop and adult mosquitos were captured through indoor-outdoor human-landing and resting collection to identify species diversity and density. Six species filariasis mosquito vectors were identified. The primary LF vectors, Culex quinquefasciatus and Cx. tritaeniorhynchus were found as dominant species with peak landing time between 9 p.m. – 1 a.m. Five potential breeding sites was identified near to villages including neglected fish-pool and paddy field with salinity 0‰, water temperature 28.5-29°C, pH 6-7. The Man-Hour Density (MHD) and Man-Biting Rate (MBR) of Cx. quinquefasciatus was relatively low, however, transmission may potentially occur due to their existence and the availability of favorable environmental conditions across the villages.Keywords: lymphatic filariasis; breeding site; Cx. quinquefasciatus; man-biting density, Bandung
      PubDate: 2017-12-28
      Issue No: Vol. 9 (2017)
       
  • Dengue Hemorrhagic Fever Tranmission Risk Level on Three Local Health
           Center in Three Endemic District in South Sulawesi Province, Indonesia

    • Authors: Dicky Andiarsa, Wulan Sari Rasna Giri Sembiring
      Abstract: Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan tingkat risiko penularan DBD di wilayah endemis DBD di Kabupaten Bone, Kota Palopo dan Kota Makassar Provinsi Sulawesi Selatan. Penelitian dilaksanakan Bulan Mei-Juni 2015 pada rumah tangga secara sistematik sampling sebanyak 100 rumah pada setiap wilayah kerja puskesmas endemis DBD tertinggi di Kab. Bone (Watampone), Kota Palopo (Wara) dan Kota Makassar (Mangasa) Provinsi Sulawesi Selatan. Data dianalisis untuk menunjukkan indikator surveilans larva (HI, CI, dan BI) dan density figure. Data disajikan dengan jumlah larva berdasarkan jenis kontainer, persentase dan distribusi kontainer. Nilai ABJ ketiga puskesmas termasuk rendah Watampone: 53%, Wara: 54%, Mangasa: 68%. Persentase CI (angka container) larva tertinggi adalah Puskesmas Watampone (17, 78%), selanjutnya Wara (17,71%) dan Mangasa (15,47%). Berdasarkan perhitungan HI, CI dan BI, density figure dari ketiga kabupaten pada kategori sedang hingga tinggi dan Maya index menunjukkan tingkat risiko penularan DBD sedang. Hasil menunjukkan bahwa Density figure pada kontainer rumah tangga yang diperiksa sedang hingga tinggi. Kampanye pencegahan DBD yang kuat, deteksi kasus dari rumah ke rumah dan upaya persuasif yang mengedukasi mengenai hal ini penting dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat agar ikut berpartisipasi dan lebih waspada terhadap DBD.Kata Kunci: DBD, larva, Aedes aegypti, kontainer, Maya Indeks . The aim of this research is to determine of transmission risk level of Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) endemic area in District of Bone, Municipal of Palopo, and Municipal of Makassar, South Sulawesi province. Study held in May-June 2015 to 100 households by systematically sampling method in three highest local healthcare center work area in each endemic in District of Bone (Watampone), Municipal of Palopo (Wara), and Municipal of Makassar (Mangasa), South Sulawesi Province. Data analyzed to show the indicators of DHF surveillance (House Index, Container Index, and Breteau Index) and density figure. Data served with the number of larva in each inspected container, percentage and distribution of containers. Larval free house indices values of three local healthcare center were Watampone: 53%, Wara: 54%, and Mangasa: 68%. The highest container indices values were local healthcare center of Watampone (17.78%), Wara (17.71%) and Mangasa (15.47%) respectively. According to HI, CI and BI, density figure calculation, the study areas were categorized as moderate to high risk to DHF and the Maya index indicate the moderate risk to DHF transmission. Density figure of household water containers were moderate to high. Stronger campaign, door to door case detection and educating persuasive efforts concerning DHF case is important to be done in order to awaken the community awareness including stake holder to contribute to solve on DHF problem.Keywords: Dengue Hemorrhagic Fever, larva, Aedes aegypti, container, Maya index.
      PubDate: 2017-12-28
      Issue No: Vol. 9 (2017)
       
  • Status Kerentanan Larva Aedes aegypti terhadap Temefos (Organofosfat) di
           Tiga Kabupaten/Kota Provinsi Aceh

    • Authors: Mara Ipa, Joni Hendri, lukman Hakim, Rizky Muhammad
      Abstract: . Dengue haemorrhagic fever (DHF) incidence rate in Aceh Province for the past three years 2012-2014 were fluctuated from 51‰, 29 ‰ and 45 ‰. The most widely used larvacide to control larvae Ae. aegypti is temefos, in Indonesia 1% temefos (abate 1SG) started used in 1976, and since 1980 has been used for the eradication program of Ae. aegypti larvae. The intensive use of temefos will be not a problem until population were dominated by resistant individuals. The purpose of this study was to determine the status of susceptibility of Ae. aegypti larvae against temefos in three dengue fever endemic areas in Aceh. We conducted an observational study to examine the susceptibility of Ae. aegypti population in 3 districts of Aceh Province: Banda Aceh, Lhokseumawe and Aceh Besar. Entomological survey and larval collection was assigned. Larvae then reared in laboratory until third generation. Third and early fourth instars stage of Ae. aegypti larvae were used as test samples. Susceptibility test was undergo based on World Health Organization guidelines. Results shows that larva Ae. aegypti from Banda Aceh (100%) and Lhokseumawe (99%) districts was still susceptible, while Aceh Besar (97%) indicates tolerance to temefos 0,02%. In conclusion, temefos still effective to be used as larvicide for vector control in those three endemic of dengue fever in Aceh Province. The priority vector control program that can be suggested is put mosquito breeding place eradication called PSN as a proactive movement in community.Keywords: Aedes aegypti, temefos, susceptibility, insecticide, AcehAbstrak. Angka insidensi demam berdarah dengue (DBD) di Provinsi Aceh tahun 2012-2014 berturut turut 51‰ menurun 29 ‰ dan meningkat kembali 45 ‰. Penggunaan larvasida temefos 1% (abate ISG) untuk mengendalikan larva Aedes aegypti sudah digunakan oleh program sejak 1976. Penggunaan larvasida tidak akan menjadi masalah sampai suatu populasi didominasi oleh individu-individu yang resisten. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan status kerentanan larva Ae. aegypti terhadap temefos di tiga kabupaten/kota endemis DBD di Provinsi Aceh. Penelitian observasional ini menggunakan desain potong lintang. Pengumpulan data dilakukan selama bulan Mei-Juni 2015 dengan lokasi penelitian di tiga Kabupaten/Kota yang tersebar di Provinsi Aceh, yaitu Kota Lhokseumawe, Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar. Survei larva Ae. aegypti dilakukan pada 100 rumah terpilih di setiap kab/kota dengan pengamatan pada kontainer yang dapat menampung air di dalam dan luar rumah. Larva Ae. aegypti yang diperoleh kemudian dipelihara sehingga didapatkan nyamuk generasi ketiga. Spesimen uji yang digunakan adalah larva instar III dan atau IV awal berdasarkan metodologi WHO. Hasil uji terhadap temefos 0,02 ppm menunjukkan bahwa larva Ae. aegypti dari semua wilayah yang diteliti Kota Lhokseumawe (100%) dan Banda Aceh (99%) masih rentan kecuali di Kabupaten Aceh Besar (97%) sudah toleran terhadap insektisida tersebut. Kesimpulan penelitian adalah temefos masih layak digunakan sebagai larvasida dalam pengendalian vektor di tiga kabupaten/kota endemis DBD di Provinsi Aceh. Upaya pengendalian yang lebih utama diterapkan adalah Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) sebagai gerakan proaktif di masyarakat.Kata Kunci: Aedes aegypti, kerentanan, insektisida, temefos, Aceh
      PubDate: 2017-12-28
      Issue No: Vol. 9 (2017)
       
  • Analisis Spasial Sebaran Demam Berdarah Dengue di Kota Tasikmalaya Tahun
           2011 – 2015

    • Authors: Andri Ruliansyah, Yuneu Yuliasih, Wawan Ridwan, Asep Jajang Kusnandar
      Abstract: . Tasikmalaya is one of the DHF endemic area in West Java. In 2012 Tasikmalaya Government set the status of DHF Outbreak. DHF cases spread across Sub District. The purpose of this research is to recognize the spread of DHF incident in Tasikmalaya, so it can be used by surveillance in reducing the number of dengue cases. Efforts to reduce the number of dengue fever cases are by increasing surveillance knowledge about analysis of surveillance data. This research used cross-sectional design and spatial analysis of dengue cases in Tasikmalaya (2011 – 2015) using autocorrelation method of Moran index and nearest neighbour analysis. The research was conducted in Tasikmalaya, West Java. Research is carried out for 3 months in 2016. The result showed that DHF distribution showed positive spatial autocorrelation in every year from 2011 to 2015. The pattern of spread of dengue cases is cluster (occurs in clumps). So the areas where cases clustered occured are areas that are susceptible to dengue disease.Keywords: Moran index, DHF, spatial distributionAbstrak. Kota Tasikmalaya merupakan salah satu wilayah endemis DBD di Provinsi Jawa Barat, pada tahun 2012 Pemerintah Kota Tasikmalaya menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) Demam Berdarah Dengue (DBD). Kasus DBD tersebar di seluruh kecamatan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui persebaran kasus DBD di Kota Tasikmalaya, sehingga dapat dimanfaatkan oleh surveilans dalam menekan angka kasus DBD. Upaya untuk menekan angka kasus DBD diantaranya dengan peningkatan pengetahuan sumber daya manusia tentang analisis data surveilans. Desain penelitian menggunakan cross-sectional dan analisis spasial kasus DBD di Kota Tasikmalaya Tahun 2011 – 2015 menggunakan metode autokorelasi indeks Moran dan analisis nearest neighbour. Penelitian dilakukan di Kota Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat. Penelitian dilakukan selama 3 bulan di tahun 2016. Hasil yang didapatkan yaitu persebaran DBD menunjukkan adanya autokorelasi spasial positif pada setiap tahun dari tahun 2011-2015. Pola sebaran kasus DBD adalah cluster (terjadi secara mengelompok). Sehingga wilayah-wilayah yang terjadi pengelompokan (cluster) kasus merupakan daerah yang rentan terhadap penyakit DBD.Kata Kunci: Indeks Moran, DBD, distribusi spasial
      PubDate: 2017-12-28
      Issue No: Vol. 9 (2017)
       
  • Berbagai Faktor yang Memengaruhi Kejadian Demam Berdarah Dengue di Kota
           Bandung

    • Authors: Titik Respati, Ardini Raksanagara, Henni Djuhaeni, Asep Sofyan, Lia Faridah, Dwi Agustian, Hadyana Sukandar
      Abstract: . Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) reemerged as a significant public health problem, which reflects the difficulty in sustaining DHF control program. Community-based strategy to control Aedes aegypti breeding sites needs to be understood. The objective of this study is to understand contributed factors to DHF based on characteristics, the availability of basic sanitation, knowledge, perception, and attitude towards DHF prevention program. A survey conducted to 2035 households in 12 districts and 16 villages in Kota Bandung in April to June 2015 using stratified random sampling method. A questionnaire was administered to collect information on variables related to economic status, knowledge on DBD, risk perception and practices associated with Aedes aegypti breeding sites, also basic sanitation facilities. The analysis used was correlation and generalized estimating equation (GEE). Results showed that gender, basic sanitation availability, knowledge about dengue in general, knowledge about DHF symptoms, and perception about the disease contribute to dengue cases (p ≤ 0.05). The conclusion of this study is factors contributed to dengue cases were sex, education, basic sanitation, knowledge about dengue in general, knowledge about DHF symptoms and perception about the disease. Program planning should also include factors and the need for the local community.Keywords: knowledge, attitude, risk perception, basic sanitation, dengueAbstrak. Munculnya kembali Demam Berdarah Dengue (DBD) sebagai masalah kesehatan masyarakat yang utama menunjukkan sulitnya mempertahankan kelangsungan program pencegahan dan pemberantasan penyakit ini. Pengetahuan yang memadai mengenai DBD dan metode untuk mencegahnya harus dapat dimengerti oleh masyarakat sebelum mereka mau berpartisipasi aktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian DBD di Kota Bandung. Penelitian ini merupakan survei pada 2035 rumah tangga di 12 kecamatan dan 16 desa di Kota Bandung pada Bulan Mei – Juni 2015 yang dilakukan dengan metode stratified random sampling. Kuesioner dipergunakan untuk mengetahui faktor-faktor karakteristik, pengetahuan mengenai DBD, persepsi risiko dan sikap dalam pemberantasan sarang nyamuk serta fasilitas sanitasi dasar. Analisis data menggunakan analisis korelasi serta Generalized Estimating Equation (GEE). Hasil menunjukkan jenis kelamin, pendidikan, ketersediaan sanitasi, pengetahuan umum mengenai DBD, pengetahuan mengenai gejala DBD, dan persepsi mengenai DBD menjadi faktor yang memberikan pengaruh terhadap kejadian DBD (p<0,005). Simpulan penelitian adalah faktor yang memengaruhi kejadian DBD di Kota Bandung adalah jenis kelamin, pendidikan tinggi, sanitasi, pengetahuan umum mengenai DBD, pengetahuan mengenai gejala DBD dan persepsi mengenai DBD. Perencanaan program sebaiknya mengikut sertakan faktor karakteristik lokal masyarakat.Kata Kunci: DBD, sanitasi dasar, persepsi, pengetahuan, pencegahan
      PubDate: 2017-12-28
      Issue No: Vol. 9 (2017)
       
  • BACK MATTER ASPIRATOR 9(2)

    • Authors: Mutiara Widawati
      PubDate: 2017-12-28
      Issue No: Vol. 9 (2017)
       
 
 
JournalTOCs
School of Mathematical and Computer Sciences
Heriot-Watt University
Edinburgh, EH14 4AS, UK
Email: journaltocs@hw.ac.uk
Tel: +00 44 (0)131 4513762
Fax: +00 44 (0)131 4513327
 
Home (Search)
Subjects A-Z
Publishers A-Z
Customise
APIs
Your IP address: 54.90.202.184
 
About JournalTOCs
API
Help
News (blog, publications)
JournalTOCs on Twitter   JournalTOCs on Facebook

JournalTOCs © 2009-