for Journals by Title or ISSN
for Articles by Keywords
help
Journal Cover Jurnal Theologia
  [0 followers]  Follow
    
  This is an Open Access Journal Open Access journal
   ISSN (Print) 0853-3857 - ISSN (Online) 2540-847X
   Published by UIN - Walisongo Homepage  [4 journals]
  • NEO-SKEPTISISME MICHAEL COOK DAN NORMAN CALDER TERHADAP HADIS NABI
           MUHAMMAD

    • Authors: Ali Masrur
      Pages: 1 - 28
      Abstract: Abstract: This writing studies the ideas of renewed skepticism of Michael Cook and of Norman Calder to the prophetic hadith and to the validity of common link theory. By using the method of comparative analysis, it is found that Cook and Calder are highly skeptical to the prophetic hadith and to the validity of common link theory. Cook and Calder's skepticism even exceed Goldziher's and Schacht's skepticism. Cook and Calder say that common link phenomenon did not indicate that a certain hadith is originated from a key or a common transmitter, but it is the result of a different scenario of the spread of isnād and the result of competition of isnād criticism in the schools of Islamic law (madzāhib) in early Islamic society. Both Cook and Calder hesitate the truth and the validity of common link theory. Therefore, according to them, common link method cannot be used to trace the origin, provenance, and authorship of early hadith.Abstrak: Tulisan ini mengkaji ide-ide neo skeptisisme Michael Cook dan Norman Calder terhadap hadis Muhammad. dan terhadap validitas teori common link. Dengan menggunakan metode analisa komparatif, ditemukan bahwa Cook dan Calder sangat skeptis terhadap hadis Nabi Muhammad. Terhadap validitas teori common link. Skeptisisme Cook dan Calder bahkan melebihi skeptisisme Goldziher dan Schacht. Cook dan Calder berpendapat bahwa fenomena common link tidak menunjukkan bahwa sebuah hadis tertentu itu bersumber dari seorang periwayat kunci atau periwayat bersama, tetapi ia merupakan akibat dari skenario yang berbeda mengenai penyebaran isnād dan akibat dari kompetisi isnād di berbagai aliran fikih Islam (madhāhib) dalam masyarakat Islam awal. Baik Cook dan Calder sama-sama meragukan kebenaran dan validitas teori common link. Oleh karena itu, menurut mereka, metode common link tidak dapat digunakan untuk menelusuri asal mula, sumber dan ke­pengarangan hadis di masa awal.
      PubDate: 2017-09-14
      DOI: 10.21580/teo.2017.28.1.1188
      Issue No: Vol. 28, No. 1 (2017)
       
  • AL-QUR’AN DALAM RUANG KEAGAMAAN ISLAM JAWA: Respons Pemikiran Keagamaan
           Misbah Mustafa dalam Tafsir al-Iklīl fī Ma’āni al-Tanzīl

    • Authors: Supriyanto Supriyanto
      Pages: 29 - 54
      Abstract: Abstract: This study aims to describe the religious thought of an ulama in the face of the diverse social dynamics in the Javanese Islamic are reflected at an interpretation of the Quran. The tradition that developed in Javanese Islamic is one fairly complex dialectic space. This is because the existing of religious traditions in the midst of the Javanese Islamic has various expressions of rituals in religiosity, for example, tahlilan, haul, a pilgrimage to the tomb of trustees and others. The results showed that religious thought of Misbah Mustafa in Tafsir al-Iklil fi Ma'ani al-Tanzil typically displays a distinctive pattern. In this case, the Misbah’s thought not exactly congruent with the construction of traditional Javanese ulama were generally patterned Asy’ariyah (Sunnism), though in many ways still reflects a general pattern of Sunnism. In this case, although much influenced by medieval scholars and Java pesantren, it does not mean Misbah’s thought is replicative. Misbah managed to reconstruct their thinking and consider its relevance to the context of the existing religious social. This is certainly different to most scholars of his day. Thus, the construction of Misbah’s thought in Tafsir al-Iklil is either directly or indirectly has given a new color in the clerical Javanese Islam. In addition, the results of this study also provide the realization that the tradition that developed in Javanese Islamic has a fairly significant influence on the writing of the tafsir of the Quran.Abstrak: Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan respon pemikiran ke­agama­an seorang ulama dalam menghadapi dinamika keberagamaan masyarakat islam jawa yang tercermin dalam penafsiran al-Qur’an. Adapun pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah hermeneutika al-Qur’an Farid Esack. Dalam hal ini, terdapat proses eisegesis (memasukkan wacana asing ke dalam al-Qur’an) sebelum exegesis (mengeluarkan wacana dari al-Qur’an). Dengan de­mikian, tafsir al-Qur’an ditempatkan dalam ruang sosial di mana penafsir berada, dengan segala problematika kehidupannya. Sehingga sifatnya tidak lagi ke­araban, tetapi spesifik konteks sosial di mana tafsir ditulis. Hasil penelitian me­nunjukkan bahwa pemikiran keagamaan Misbah dalam Tafsīr al-Iklīl secara tipikal menampilkan corak yang khas. Dalam hal ini, pemikiran Misbah tidak sebangun persis dengan konstruksi pemikiran ulama tradisonal Jawa yang umumnya bercorak As’ariyah (Sunnism), meskipun dalam banyak hal tetap men­cerminkan pola umum Sunnisme. Dalam hal ini, meskipun banyak di­pengaruhi oleh ulama-ulama abad pertengahan dan pesantren Jawa, bukan berarti pemikiran Misbah bersifat replikatif. Misbah berhasil merekonstruksi pemikiran mereka dengan mempertimbangkan relevansinya terhadap konteks sosiol keagamaan yang ada. Hal ini tentu berbeda dengan kebanyakan ulama pada zamannya. Dengan demikian, konstruksi pemikiran Misbah dalam tafsir al-Iklīl ini baik secara langsung maupun tidak, telah memberikan warna baru di kalangan msyarakat Islam jawa. Selain itu, hasil studi ini juga memberikan bukti bahwa tradisi yang berkembang pada masyarakat Islam Jawa memiliki pengaruh yang cukup siknifikan dalam penulisan tafsir al-Qur’an. 
      PubDate: 2017-09-14
      DOI: 10.21580/teo.2017.28.1.1294
      Issue No: Vol. 28, No. 1 (2017)
       
  • TRADISI KRITIK TAFSIR: Diskursus Kritisisme Penafsiran dalam Wacana
           Qur’anic Studies

    • Authors: MK. Ridwan
      Pages: 55 - 74
      Abstract: Abstract: This paper aims to discuss the methodology of interpretation criticism in the qur'anic studies discourse. As new plots in the Qur'an studies, the interpretation criticism  has not been much sought after by Qur’anic scholars. As a consequence, in methodological discourse has not yet found a definite method can be used to criticize an interpretation. As for the thought-provoking critique of the interpretation for this still are sporadic and likely are political-ideological. For that, it needs special attention in developing area studies the Quran towards the study criticism of interpretation. Finally, this paper gives the conclusion that, in the discourse of criticism the methodological framework needed interpretation, as a step towards the operational interpretation of criticism. So, the criticism was done not nuanced political-ideological, but able to uphold the values of objectivity, comprehensiveness, scientific and systematic. There are at least four operational steps in carrying out work interpretation of criticism of the region of ontology, epistemology, and axiology i.e; Firstly, the critic must understand the substance of exegesis are an interpretation as process and interpretation as a product. Secondly, understand the construction of criticism interpretation, namely the construction of the historicity of the critique, the base of criticism, the purpose of criticism, as well as the principles and parameters of criticism. Thirdly, start working with two regions exegesis critique work i.e; intrinsic and extrinsic criticism. Fourthly, give the evaluation and assessment of the object of study of criticism that is good and decent, or perverted and unworthy of being used.Abstrak: Tulisan ini bertujuan untuk mendiskusikan metodologi kritik tafsir dalam diskursus wacana Qur’anic Studies. Sebagai wilayah garapan baru dalam studi al-Qur’an, kritik tafsir belum banyak diminati oleh kalangan sarjana al-Qur’an. Akibatnya, dalam wacana metodologis belum banyak ditemukan metodebaku yang dapat digunakan untuk mengkritisi sebuah tafsir. Adapun pemikiran kritik tafsir selama ini masih bersifat sporadis dan cenderung bersifat politis-ideologis. Untuk itulah dibutuhkan perhatian khusus dalam mengembangkan wilayah studi al-Qur’an ke arah studi kritik tafsir. Akhirnya, tulisan ini memberi­kan kesimpulan bahwa, dalam diskursus kritisisme penafsiran, dibutuhkan kerangka metodologis sebagai langkah operasional kritik tafsir. Sehingga, kritik yang dilakukan tidak bernuansa politis-ideologis, namun mampu menge­depan­kan nilai-nilai objektivitas, komprehensivitas, ilmiah dan sistematis. Setidaknya terdapat empat langkah operasional dalam melaksanakan kerja kritik tafsir yang bermuara pada wilayah ontologis, epistemologis, dan aksiologis yaitu; Pertama, kritikus harus terlebih dahulu memahami hakikat tafsir yakni tafsir sebagai proses (interpretation as process) dan tafsir sebagai produk (interpretation as product). Kedua, memahami konstruksi kritik tafsir, yaitu historisitas kritik, landasan kritik, tujuan kritik, serta prinsip dan parameter kritik. Ketiga, memulai kerja kritik tafsir dengan dua wilayah kerja yaitu; kritik intrinsik dan kritik ekstrinsik. Keempat, memberikan evaluasi dan penilaian terhadap objek kajian kritik yaitu, baik (maḥmūd) dan layak pakai (maqbūl), atau menyeleweng (munḥarif) dan tidak layak digunakan (mardūd).
      PubDate: 2017-09-14
      DOI: 10.21580/teo.2017.28.1.1418
      Issue No: Vol. 28, No. 1 (2017)
       
  • KRITIK TERHADAP REKONSTRUKSI METODE PEMAHAMAN HADIS MUHAMMAD AL-GHAZALI

    • Authors: Sri Purwaningsih
      Pages: 75 - 102
      Abstract: Abstract: Muhammad al-Ghazali is a controversial figure. Some give a positive appreciation to the method of hadith understanding he offered and regarded as a solutive method at the present day. But, other accused him as inkar al-sunnah and regarded his method was inapplicable. According to the author, some ideas of the reconstruction on the method of hadith understanding of Muhammad al-Ghazali still use a positivist paradigm that focuses on objectivity, while there are no objects without a subject. Therefore, in this paper, the author emphasizes the discussion on two points; first, criticizing the application of the method of hadith understanding of Muhammad al-Ghazali; and second, offering the new method of reconstruction using descriptive analysis and explanation method. The author examines the book of Muhammad al-Ghazali and other books that are the result of criticism of the researchers about him. The result, studying and understanding the hadiths requires a set of batiniyah in the form of consciousness and sincere intention, studying the authenticity of the hadith, structural and pragmatic analysis, and the reviewer must verify the results of intellectual activity comprehensively.Abstrak: Muhammad al-Ghazali merupakan tokoh kontroversial. Ada yang mem­berikan apresiasi positif atas metode pemahaman hadis yang ditawar­kan­nya yang dianggap solutif pada saat sekarang. Namun ada juga yang me­nuduh­nya sebagai inkar al-sunnah dan menilai metode yang ditawarkannya belum aplikatif. Menurut penulis, beberapa tawaran rekonstruksi terhadap metode pemahaman hadis Muhammad al-Ghazali masih menggunakan para­digma positivisme yang menitikberatkan pada objektivitas, padahal tidak ada objek tanpa subjek. Dalam tulisan ini, penulis menekankan dua pembahasan, yakni: mengkritik aplikasi metode pemahaman hadis Muhammad al-Ghazali; dan menawarkan bentuk rekonstruksi metode yang baru dengan menggunakan metode analisis deskriptif dan penjelasan. Penulis mengkaji buku karya Muhammad al-Ghazali dan buku-buku lain yang merupakan hasil kritikan para peneliti terhadapnya. Hasilnya, di dalam mengkaji dan memahami hadis di­perlukan seperangkat batiniyah berupa kesadaran dan niat yang ikhlas, meng­kaji otentisitas hadis, analisis struktural dan pragmatik, dan pengkaji melakukan verifikasi terhadap hasil aktifitas intelektual (pemahaman) secara komprehensif.
      PubDate: 2017-09-14
      DOI: 10.21580/teo.2017.28.1.1189
      Issue No: Vol. 28, No. 1 (2017)
       
  • PARADIGMA ANTROPOSENTRIS DALAM MEMAHAMI HADIS-HADIS MUAMALAH

    • Authors: Salamah Noorhidayati
      Pages: 103 - 122
      Abstract: Abstract: In this contents, Hadith reflects the different teaching of Islam, including creed, worship, and muamalah. All of that requires a different treatment and understanding the proportionally. This article examines how to understand the Hadiths in the field of muamalah and what is the paradigm construct of it. By using the method of subjective-humanistic hermeneutics, this article produces findings, as follows: first, the Hadiths of muamalah reflect construct of human relationships and it can change according to the changes and development of social life. Therefore, these Hadiths can be understood by using the anthropocentric paradigm, oriented on the needs of humans and make it as a subject and object either of the understanding. Second, this anthropocentric paradigm aims to find the sunnah and host it again in the present day. This anthropocentric understanding holds on to the principles and the universal values contained in the text of the Hadith as well as humanistic social ethics that upholds human values that are fairness, equal and tolerant without discrimination in various fields.Abstrak: Dari segi kandungannya, hadis Nabi mencerminkan muatan ajaran tentang akidah, ibadah dan muamalah. Kesemuanya itu membutuhkan pen­sikapan yang berbeda dan pemahaman yang proporsional. Artikel ini meng­kaji bagai­mana memahami hadis-hadis Nabi dalam bidang muamalah serta bagai­mana konstruksi paradigma yang dimaksud. Dengan menggunakan metode hermeneutika subjektif-humanistik, artikel ini menghasilkan temuan, sebagai berikut: Pertama, hadis muamalah merefleksikan konstruk relasi manusia, dan bisa berubah sesuai dengan perubahan dan perkembangan kehidupan sosial. Oleh karena itu hadis-hadis ini bisa dipahami dengan meng­gunakan paradigma antroposentris, yang berorientasi pada kebutuhan manusia dan menjadikannya sebagai subjek sekaligus objek dalam pemahaman. Kedua, paradigma antropo­sentris ini bertujuan untuk menemukan sunnah Nabi dan meng­hadir­kannya kembali dalam konteks sekarang. Pemahaman antropo­sentris ini berpegang pada prinsip dan nilai-nilai universal yang terkandung dalam teks hadis serta etika sosial humanistik yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan yang berkeadilan, setara dan toleran tanpa diskriminasi dalam berbagai bidang.
      PubDate: 2017-09-14
      DOI: 10.21580/teo.2017.28.1.1295
      Issue No: Vol. 28, No. 1 (2017)
       
  • MEKANISME PENYELESAIAN AYAT KONTRADIKTIF BERBASIS MAQĀṢID
           AL-SHARĪ’AH: Studi terhadap Ayat Perkawinan Beda Agama

    • Authors: Mufti Hasan
      Pages: 123 - 144
      Abstract: Abstract: The paper demonstrated approaches of maqāṣid al-sharī’ah in understanding contradictory verses. Methods available during this time, have been reflecting the firm dominance of languages in describing those verses. In sequence, the completion mechanisms of contradictory verses known are: 1) al-jam’ wa al-taufīq (combining and compromising the verses); 2) al-tarjīḥ (strengthening one of the verses); 3) an-naskh (amending the stipulation in one of the verses); and 4) al-tasāquṭ (restoring the stipulation in the general rule). The reading with linguistics-based, frequently makes the verse apart from its context. In contrast to the completion of this study, the reading of maqasid ash-shari’ah based on system approach as the method of analysis. The Quran is positioned as a system that has six features, namely the nature of cognition, holistic, inclusive, interconnect hierarchy, multidimensional, and purposiveness. These features will be applied to describe the contradictions of the verses. To be operational, it is arranged into four steps: 1) identifications of verses; 2) identifications of meanings; 3) explorations of maqāṣid al-sharī’ah; and 4) conclusion. The author found that this method can provide an applicative and unambiguous conclusion because it is consistent with the maqasid ash-shari’ah. The author takes the example verses of interfaith marriage. The Quran explicitly mentioned the stipulations of interfaith marriage in three verses. Two verses of them allow while the other verses forbid. In literbike, these verses seem contradictory.Abstrak: Tulisan ini akan mendemonstrasikan pendekatan maqāṣid al-sharī’ah dalam memahami ayat-ayat kontradiktif. Metode yang tersedia selama ini, mencerminkan kokohnya dominasi kebahasaan dalam menguraikan ayat-ayat tersebut. Secara berurutan, mekanisme penyelesaian ayat kontradiktif yang dikenal adalah: 1) al-jam’ wa al-taufīq (menggabungkan dan mengkompromikan ayat); 2) at-tarjīḥ (menguatkan salah satu ayat); 3) al-naskh (mengamandemen ketentuan salah satu ayat); dan 4) at-tasāquṭ (mengembalikan ketentuan pada kaidah umum). Pembacaan tersebut, tidak jarang menjadikan ayat terlepas dari konteksnya. Ini berbeda dengan model penyelesaian yang ditawarkan dalam penelitian ini, yakni pembacaan berbasis maqasid asy-syari’ah dengan pen­dekatan sistem (system aproach) sebagai metode analisisnya. al-Qur’an diposisikan sebagai sebuah sistem yang memiliki enam fitur, yaitu sifat kognisi, holistik, inklusif, interkoneksi hierarki, multidimensi, dan kebermaksudan. Fitur- fitur tersebut akan diterapkan untuk menguraikan kontradiksi ayat. Adapun operasioanlisasinya tersusun menjadi empat langkah, yaitu: 1) identifikasi ayat; 2) identifikasi makna; 3) eksplorasi maqāṣid al-sharī’ah; dan 4) penarikan kesimpulan. Penulis mendapati bahwa metode ini dapat memberikan kesimpulan yang aplikatif dan tidak ambigu, karena sejurus dengan tujuan syariat. Penulis mengambil contoh ayat tentang perkawinan beda agama. al-Qur’an secara eksplisit menyebutkan ketentuan perkawinan beda agama dalam tiga ayat. Dua ayat diantaranya membolehkan, sedangkan satu ayat lainnya melarang. Secara tekstual, ayat-ayat tersebut nampak bertentangan. 
      PubDate: 2017-09-14
      DOI: 10.21580/teo.2017.28.1.1413
      Issue No: Vol. 28, No. 1 (2017)
       
  • UTOPIA KHILĀFAH ISLĀMIYYAH: Studi Tafsir Politik Mohammed Arkoun

    • Authors: Muhammad Rikza Muqtada
      Pages: 145 - 164
      Abstract: Abstract: This paper aims to study Muhammed Arkoun’s political interpretation thought about the ideal state. He shows that each political contestation often uses religion as a legitimation of political interest. Many of discourses in Qur’an, such as old narratives of Qur’an (amtsal al-Qur’an), is often presented to modify the existing political conditions. Moreover, some of the terms of Quranic discourse, like as ‘Muslim’ or ‘Kafir’ (infidel), is always in a binary position to create sharp differences between the militant and the opposition. The Qur'anic discourses, intentionally or not, since the time of revealing of the Qur’an has been dragged into the political territory as well the theological territory, so it is able to change the profane history into the sacred story with the great power of sacralization. Although the Qur’an is within the dialectic area, some of Islamist always reduces the meaning of Qur’an to support their agenda in realizing the Islamic State (Khilafah Islamiyah). For Arkoun, that desire is a utopian politics idea and nothing more than an interpretation of religious texts. There is no agreement among the people about the ideal state concept. Therefore, Arkoun offers the concept of ideal state is if religious authorities and political authorities apply their function professionally yet integrated.Abstrak: Tulisan ini menggagas pemikiran tafsir politik Muhammed Arkoun tentang negara ideal. M. Arkoun menggambarkan bahwa dalam setiap kontestasi politik sering menyeret agama sebagai legitimasi pemangku kepentingan. Wacana-wacana dalam al-Qur’an seperti teladan-teladan kuno (amthāl al-Qur’an) sering dihadirkan untuk memodifikasi kondisi politik yang ada. Selain itu, beberapa istilah dalam wacana al-Qur’an, seperti ‘Muslim’ dan ‘kafir’, diposisikan biner untuk menciptakan perbedaan tajam antara kelompok militan dan oposan. Wacana-wacana qur’ani tersebut, dengan sengaja atau tidak, sejak masa turunnya ayat telah diseret masuk ke dalam wilayah politik sekaligus wilayah teologis, sehingga mampu mengubah sejarah yang profan menjadi kisah sakral dengan kekuasaan sakralisasi yang besar. Meskipun al-Qur’an berada dalam ruang dialektis yang bebas, oleh sebagian kelompok Islamis pemaknaan al-Qur’an direduksi dan dibawa untuk mendukung agenda mewujudkan Islamic State (negara Islam). Bagi Arkoun, keinginan tersebut merupakan gagasan politik yang utopis dan tak lebih dari sebuah interpretasi atas teks agama. Tidak ada kesepakatan di kalangan umat mengenai konsep negara ideal. Karena itu, Arkoun menawarkan konsep negara ideal adalah jika otoritas keagamaan dan otoritas politik berlaku sesuai dengan fungsinya namun tetap terintegrasi.
      PubDate: 2017-09-14
      DOI: 10.21580/teo.2017.28.1.1410
      Issue No: Vol. 28, No. 1 (2017)
       
  • KONTEKSTUALITAS DAN HISTORISITAS MATAN HADIS-HADIS PEPERANGAN TERHADAP
           NON-MUSLIM

    • Authors: Nasrulloh Nasrulloh
      Pages: 165 - 182
      Abstract: Abstract: Some hadiths of warfare against non-Muslims often used as a reference by radical groups in carrying out their jihad actions.They do not read hadiths thoroughly and just focus on the text, regardless of the historicity and aspects of the language. Moreover, they also did not read hadiths of religious tolerance and attitudes of Rasulullah PBUH while interacting with non-Muslims. This study aims to answer the question of what is the contextual understanding of hadiths of hostility towards non-Muslim' It is library research. It uses hadiths of hostility towards non-Muslims from al-kutub al-tis’ah as a primary source and uses criticism of matan hadith as the research approach. By using content analysis method, it finds that hadiths of hostility towards non-Muslims broadly have a meaning that Rasulullah PBUH commanded to fight the polytheists who were hostile until they are willing to say two sentences creed. Thus, the hadiths intended only for non-Muslims who fight against Muslims, which they have chosen to start a fight and did not accept the way of peace. Therefore, not all of non-Muslims are worthy/ appropriate to be hostile or to be fought either. Furthermore, fighting any non-Muslims who do not fight Muslims is contrary to the texts and scholarly consensus.Abstrak: Beberapa hadis tentang perang melawan non-Muslim sering diguna­kan sebagai acuan oleh kelompok-kelompok radikal dalam melakukan tindakan jihad mereka. Mereka tidak membaca hadis secara menyeluruh dan hanya fokus pada teksnya, terlepas dari historisitas dan aspek bahasa. Selain itu, mereka juga tidak membaca hadis tentang toleransi dan sikap Rasulullah saat berinteraksi dengan non-Muslim. Penelitian ini bermaksud untuk menjawab pertanyaan; bagaimana pemahaman kontekstual hadis-hadis tentang per­musuh­an terhadap non-Muslim' Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan, yang mengguna­kan hadis tentang  permusuhan terhadap non-Muslim dalam al-kutub al-tis'ah se­bagai sumber utama, dan menggunakan kritik matan hadis sebagai pendekatan penelitian. Dengan menggunakan analisis konten, Penelitian ini menemukan; hadis tentang permusuhan terhadap non-Muslim secara luas memiliki makna bahwa Rasulullah diperintahkan untuk memerangi kaum kafir yang me­musuhi sampai mereka bersedia untuk mengatakan dua kalimat syahadat. Dengan demikian, obyek  hadis tersebut ditujukan hanya untuk non-Muslim yang me­merangi umat Islam, yang mereka telah memilih untuk memulai perkelahian dan tidak menerima jalan damai. Oleh karena itu, tidak semua non-Muslim layak/ tepat untuk dimusuhi, bahkan harus diperlakukan secara baik. Di samping itu, memerangi setiap non-Muslim yang tidak memerangi umat Islam bertentangan dengan teks dan konsensus ilmiah.
      PubDate: 2017-09-14
      DOI: 10.21580/teo.2017.28.1.1322
      Issue No: Vol. 28, No. 1 (2017)
       
  • RESPONS NABI TERHADAP TRADISI JAHILIYYAH: Studi Reportase Hadis Nabi

    • Authors: Abdul Sattar
      Pages: 183 - 206
      Abstract: Abstract: This writing aims to study about the dialogue between norm and culture; in this case dialogue between Muhammad as Messenger of God with his people at that time. As we knew that all societies, including Arabic people, absolutely had their own specific tradition. When Muhammad comes to them and offering new norm, ideology and believe, it will appear the dialogue between these two traditions. The question is what is Muhammad do to respond that tradition' This article is based on library research relating to the hadith literature dealing with Muh}ammad’s respond to the tradition of Arabic people. To make the research easier, the word “al-jāhiliyyah” will be used as an entry point to look for jāhiliyyah tradition. The are four important things can be noted to explain the response of Muh}ammad to the tradition of jāhiliyyah. The first, total accommodation. The second, total refuse or total correction. The third, particular accommodation. The fourth, synchronization and modification.Abstrak: Penelitian ini bermaksud mengkaji tentang dialog agama dan budaya; dalam hal ini dialog antara Nabi Muhammad dengan budaya masyarakat Arab jahiliyyah saat itu. Sebuah masyarakat, termasuk masyarakat Arab sebelum kedatangan Islam, bukanlah masyarakat yang steril dari pengaruh agama, adat istiadat, akhlak serta peraturan-peraturan hidup yang telah ada di kalangan mereka. Begitu Islam datang dengan segala norma yang ada di dalamnya, maka Islam menjadi filter bagi budaya, adat istiadat dan keyakinan yang sudah ada di kalangan masyarakat Aran pra Islam. Pertanyaannya adalah bagaimana respon Muh}ammad saw terhadap tradisi itu' Kajian ini didasarkan pada penelitian literatur  ḥadīth yang berisi respon Nabi terhadap tradisi masyarakat Arab saat itu. Untuk memudahkan pembahasan ini, kata “al-jāhiliyyah” digunakan sebagai entri point guna melacak hadis-hadis yang berkenaan dengan tema kajian ini. Ada empat temuan penting yang bisa dicatat berkenaan dengan respon Nabi terhadap tradisi jāhiliyyah. Pertama, tradisi yang secara utuh diakomodasi (total accomodation). Kedua, tradisi yang secara total ditolak atau total dikoreksi (total refuse or total correction). Ketiga, tradisi yang sebagiannya diadopsi tetapi sebagian yang lain ditolak  (particular accomodation). Keempat, tradisi yang secara prinsip tetap dilestarikan dengan sedikit modifikasi di sana-sini (sincronization and modification). 
      PubDate: 2017-09-14
      DOI: 10.21580/teo.2017.28.1.1338
      Issue No: Vol. 28, No. 1 (2017)
       
  • “AKTIVASI” MAKNA-MAKNA TEKS DENGAN PENDEKATAN KONTEMPORER:
           Epistemologi Hermeneutika Subjektif-Fiqhiyyah El-Fadl

    • Authors: Khabibi Muhammad Luthfi
      Pages: 207 - 230
      Abstract: Abstract: This paper aims to review the use of hermeneutics Khaled M. Abou El-Fadl in finding a potential meaning of the text Quran and the hadith in terms of epistemology. It departs from El-Fadl is one of the contemporary Muslim intellectuals who has criticized the authoritarianism of most Muslims to be removed because against God and just believe in the single meanings. Though the text made by God to contain the potential meanings can be harmonized and contextualize the demands of the times. In addition, hermeneutic departing from the study of Islamic law or fiqh, which is often confused with the Quranic text or as fiqh is the text itself. With a philosophical approach based on literature data and discourse analysis found that El-Fadl offers hermeneutics subjective-fiqhiyyah based on the interaction between the text and the interpretive community and "a little concerned" about the role of the author or the Lord so as to present a reinterpretation of the text in the form of the potential meaning of the text which at the same time avoiding the imposition of the single meaning that generally do lending institutions fatwa. Besides that distinguishes it from other contemporary hermeneutics Muslim intellectuals or philosophers west are El-Fadl did not recognize the individual's ability to interpret text, but "community" or in the language of jurisprudence called mujtahid jam'ī and was able to explain the position of God in the stage of interpreting the text without having to remove it as subjective hermeneutics of the West.Abstrak: Tulisan ini bertujuan mengulas hermeneutika yang digunakan Khaled M. Abou El-Fadl dalam menemukan potensi-potensi makna dalam teks Alquran dan hadis ditinjau dari epistemologi. Ini berangkat dari El-Fadl merupakan salah satu intelektual muslim kontemporer yang kritis atas otoritarianisme sebagian umat muslim harus dihilangkan karena melawan Tuhan dan hanya percaya terhadap pemaknaan tunggal. Padahal teks yang dibuat oleh Tuhan mengandung potensi-potensi makna yang bisa diselaraskan dan dikontekstualisasikan dengan tuntutan zaman. Selain itu hermeneutikanya berangkat dari kajian hukum Islam atau fikih yang sering tertukar dengan teks Alquran atau seolah fikih adalah teks itu sendiri. Dengan pendekatan filosofis berbasis data pustaka dan analisis wacana, ditemukan bahwa El-Fadl menawarkan hermeneutika subjektif-fiqhiyyah yang berbasis pada interaksi antara teks dan komunitas interpretasi dan “sedikit peduli” terhadap peran pengarang atau Tuhan sehingga mampu menghadirkan pemaknaan ulang terhadap teks berupa potensi-potensi makna teks yang sekaligus menghindari pemaksaan terhadap pemaknaan tunggal yang umumnya dilakukan lembaga pemberi fatwa. Selain itu yang membedakannya dengan hermeneutika intelektual muslim kontemporer lain atau filosuf Barat adalah El-Fadl tidak mengakui kemampuan individu dalam menafsirkan teks, melainkan “komunitas” atau dalam bahasa fikih disebut mujtahid jam’ī dan mampu menjelaskan posisi Tuhan dalam tahapan menafsirkan teks tanpa harus menghilangkannya sebagaimana hermeneutika subjektif dari Barat.
      PubDate: 2017-09-14
      DOI: 10.21580/teo.2017.28.1.1195
      Issue No: Vol. 28, No. 1 (2017)
       
 
 
JournalTOCs
School of Mathematical and Computer Sciences
Heriot-Watt University
Edinburgh, EH14 4AS, UK
Email: journaltocs@hw.ac.uk
Tel: +00 44 (0)131 4513762
Fax: +00 44 (0)131 4513327
 
Home (Search)
Subjects A-Z
Publishers A-Z
Customise
APIs
Your IP address: 54.224.197.251
 
About JournalTOCs
API
Help
News (blog, publications)
JournalTOCs on Twitter   JournalTOCs on Facebook

JournalTOCs © 2009-2016