for Journals by Title or ISSN
for Articles by Keywords
help
Followed Journals
Journal you Follow: 0
 
Sign Up to follow journals, search in your chosen journals and, optionally, receive Email Alerts when new issues of your Followed Journals are published.
Already have an account? Sign In to see the journals you follow.
Journal Cover Jurnal Theologia
  [0 followers]  Follow
    
  This is an Open Access Journal Open Access journal
   ISSN (Print) 0853-3857 - ISSN (Online) 2540-847X
   Published by UIN - Walisongo Homepage  [4 journals]
  • KRITIK ATAS CORAK PEMIKIRAN TEOLOGI ISLAM KH. SIRADJUDDIN ABAS

    • Authors: M. Baharudin
      Pages: 241 - 260
      Abstract: Abstract: The article aims to elaborate patterns of theological thought of KH Siradjuddin Abbas (1905-1980). In the midst of mainstream theological schools established in the Islamic world: traditionalists (Sunni) and rationalists (Mu'tazila), Abbas turns out consistently defend traditional theology. In theological thinking, Abbas positioned parallel to al-Ash'arite classical theology (Ahl al-Sunnah wa ’l-Jamā’ah). He stressed all a round of God, revelation paced and use the reason is very little. He put God as absolute ruler, do as His Will. Therefore, theology of Siradjuddin Abbas is very strong hold on revelation and theocentric pattern, and everything begins and centered on God, good or bad all determined by God. Thus theology Siradjuddin Abbas less in line with modern thinking, which is progressive and forward the reason. In other words, theology of Siradjuddin Abbas less actual and contextual for the purposes of contemporary social reality if that expected from such thinking is an applicative conceptual thinking.Abstrak: Artikel ini bertujuan mengelaborasi corak pemikiran teologi K.H. Siradjuddin Abbas (1905-1980). Di tengah mainstream aliran teologi yang sudah mapan di dunia Islam: tradisionalis (Sunni) dan rasionalis (Mu’tazilah), Abbas ternyata konsisten membela teologi tradisional. Dalam pemikiran teologinya, Siradjuddin Abbas sejalan dengan pemikiran teologi klasik al-Asy’ariyah (Ahl al-Sunnah wa ’l-Jamā’ah). Ia menekankan segala suatu serba Tuhan, serba wahyu dan sangat sedikit menggunakan akal pikiran. Ia menempatkan Tuhan sebagai berkuasa mutlak semutlak-mutlaknya, berbuat sehendak-Nya. Karena itu, teologi Siradjuddin Abbas sangat kuat berpegang pada wahyu dan bercorak teosentris, dan segalanya bermula dan memusat pada Tuhan, baik atau buruk semua ditentukan oleh Tuhan. Dengan demikian teologi Siradjuddin Abbas yang ber­corak tradisional ini kurang sejalan dengan pemikiran modern, yang bersifat progresif dan lebih mengedepankan akal. Dengan kata lain, teologi Siradjuddin Abbas yang bercorak tradisional kurang aktual dan kontekstual untuk keperluan realitas sosial kontemporer jika yang diharapkan dari pemikiran tersebut adalah sebuah pemikiran yang bersifat konseptual aplikatif.
      PubDate: 2017-03-09
      DOI: 10.21580/teo.2016.27.2.1070
      Issue No: Vol. 27, No. 2 (2017)
       
  • METODE MEMAHAMI NAṢ-NAṢ TEOLOGIS: Studi tentang Wacana
           Inklusif Ahl al-Kitāb

    • Authors: Jazilus Sakhok
      Pages: 261 - 278
      Abstract: This paper examined how to understand the texts of the Qur'an and Ḥadīth concerning the concept of Ahl al-Kitāb. The concept of the Ahl al-Kitāb becomes frequently debatable for there have been contradictions of the texts
      with other texts. To avoid contradictory understanding, it can be reached by way of compromising various existing texts. Through this method, it reveals that there is no contradictory theological understanding in the Qur'an and Ḥadīth about how Muslims should behave towards and treat Ahl al-Kitāb. From the texts it precisely shows an understanding that Muslims have to give respect, to recommend for doing good, and to acknowledge the existence of the Ahl al-Kitāb as long as each of them does not meddle in the affairs of each faith. The texts also produce a strong message that alludes to an inclusive teaching of Islam towards Ahl al-Kitāb.Tulisan ini mengkaji tentang cara memahami nash-nash al-Qur’an dan Hadis mengenai konsep Ahl al-Kitāb. Konsep Ahl al-Kitāb selalu menjadi per­­­debatan karena seolah-olah telah terjadi kontradiksi di antara satu naṣ dengan nash yang lainnya. Untuk menghindari pemahaman yang kontradiktif, bisa ditempuh dengan cara mengkompromikan dan menjama’kan berbagai naṣ yang ada. Melalui metode tersebut ternyata tidak ditemukan kontradiksi pemahaman secara teologis di dalam al-Qur’an dan Hadis mengenai bagaimana seharusnya umat Islam bersikap terhadap  Ahl al-Kitāb. Dari naṣ-naṣ itu justeru me­nunjuk­kan satu pemahaman supaya memberikan respek, menganjurkan berbuat baik, dan mengakui eksistensi Ahl al-Kitāb yang harus dihormati, selama tidak saling men­campuri urusan keimanan masing-masing. Naṣ-naṣ tersebut juga meng­hasilkan pesan kuat akan sikap inklusif ajaran Islam terhadap Ahl al-Kitab.
      PubDate: 2016-12-27
      DOI: 10.21580/teo.2016.27.2.1068
      Issue No: Vol. 27, No. 2 (2016)
       
  • PARADIGMA PEMIKIRAN TAWASSUL DAN TABARRUK SAYYID AHMAD BIN ZAINI DAHLAN
           DITENGAH MAYORITAS TEOLOGI MADZHAB WAHABY

    • Authors: Amin Farih
      Pages: 279 - 304
      Abstract: According to Sayyid Ahmad ibn Zaini Dahlan that the essence of Tawassul is part of the method of praying, and part of the methodology turn towards Allah swt, tawassul no meaning to humans or creatures ask when praying. But the essence of tawassul goal is to ask Allah swt. Tawassul not act or something ḍarūri/must be implemented so that no tawassul then his prayers are not accepted, but tawassul is as a medium, the method pray to Allah SWT. No one was Muslims who reject the validity tawassul with deeds. Whoever fasts, prayer, reading the Qur'an or charity means he has tawassul with fasting, prayers, readings, and donations. While the Tabarruk is part of the model tawassul to Allah SWT through atsar of mutabarrak (people taken his blessing) is considered to have the blessing because the mutabarrak to Allah SWT and because mutabarrak loved by Allah SWT like the prophets and servants who are pious. So the essence of tabarruk goal is to ask Allah SWT through his beloved servant. As tabarruk with shaleh people so because they believe in the primacy and closeness to Allah SWT to continue to believe their inability to give the goodness or badness refused except by permission of Allah SWT.Menurut Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan bahwa hakekat tawassul adalah bagian dari metode berdoa, dan bagian dari metodologi menghadap kepada Allah swt, tawassul tidak mempunyai arti meminta kepada manusia atau makhluk ketika berdoa. Namun hakekat tujuan dari tawassul adalah memohon kepada Allah swt. Tawassul tidaklah perbuatan atau sesuatu yang  ḍarūri/wajib dilaksanakan sehingga kalau tidak tawassul maka doanya tidak diterima, namun tawassul adalah sebagai media, metode berdoa kepada Allah SWT. Tidak ada seorang pun kaum muslimin yang menolak keabsahan tawassul dengan amal shalih. Barangsiapa yang berpuasa, sholat, membaca Al-Qur'an atau bersedekah berarti ia telah bertawassul dengan puasa, sholat, bacaan, dan sedekahnya. Sedang Tabarruk adalah bagian dari model tawassul kepada Allah SWT melalui atsar dari mutabarrak (orang yang dialap berkahnya) dianggap memiliki keberkahan karena ke­dekatan mutabarrak kepada Allah SWT dan karena mutabarrak  dicintai oleh Allah SWT seperti para Nabi dan Hamba-hamba yang sholeh. Maka hakekat tujuan dari tabarruk adalah memohon kepada Allah SWT lewat hamba yang dicintaiNYA. Adapun tabarruk dengan orang-orang maka karena meyakini keutamaan dan kedekatan mereka kepada Allah dengan tetap meyakini ketidakmampuan mereka memberi kebaikan atau menolak keburukan kecuali atas izin Allah SWT.
      PubDate: 2016-12-27
      DOI: 10.21580/teo.2016.27.2.1069
      Issue No: Vol. 27, No. 2 (2016)
       
  • MENENTANG SEKULARISME: Upaya Membentuk Kesalehan Subjek Muslim di Banten

    • Authors: Mohamad Hudaeri
      Pages: 305 - 330
      Abstract: Contemporary Islamic movements have undergone many changes of outlook, social and political orientations. The movement is not directed to establish an Islamic state or to support the use of military forces to achieve individual and
      communal programs in preparing "good Muslims". But the project is directed to self-transformation through moral cultivation and ethics as the foundation to be performed in public spaces. The movement is more directed to the process of reislamization related to social and discipline practices to prepare a good Muslim. This article explores the Islamization of public space in the Banten province. That is related to the construction of Islamic identity of the body and the public place. Construction of Islamic identity of the body is stressed by obliging veils (ḥijāb) for Muslim women. While Islamization of public places is through mounting names of Allah (Asmaul Husna) and other Islamic messages in several major highways.Gerakan Islam kontemporer banyak mengalami perubahan visi dan orientasi sosial dan politik. Gerakan tersebut bukan diarahkan untuk mendirikan negara Islam atau mendukung penggunaan militer dan kekerasan untuk me­wujudkan program menciptakan individu dan masyarakat “Muslim yang baik”. Tetapi proyek tersebut diarahkan untuk transformasi-diri melalui penanaman moral dan etika sebagai landasan untuk bisa tampil di ruang publik. Gerakan tersebut lebih diarahkan kepada proses re-Islamisasi yang berkaitan dengan praktek sosial dan praktek disiplin untuk membentuk subjek Muslim yang baik. Tulisan ini mengeksplorasi tentang Islamisasi ruang publik yang ada di Provinsi Banten. Yakni terkait dengan konstruksi identitas Keislaman terhadap tubuh dan tempat publik. Konstruksi identitas Islam terhadap tubuh ditekankan melalui keharusan untuk berjilbab bagi wanita Muslimah. Sedangkan Islamisasi tempat publik adalah pemasangan nama-nama Allah (Asmā’ al-Ḥusnā) dan pesan-pesan Islam lainnya di beberapa jalan raya utama.
      PubDate: 2016-12-27
      DOI: 10.21580/teo.2016.27.2.980
      Issue No: Vol. 27, No. 2 (2016)
       
  • GERAKAN PEMIKIRAN DAN PERAN TIGA ULAMA NU (K.H. HASYIM ASY’ARI, K.H.R.
           ASNAWI KUDUS, K. H. WAHHAB HASBULLAH) DALAM MENEGAKKAN AHL Al-SUNNAH
           WAL-JAMA’AH ANNAHDLIYAH DI JAWA TAHUN 1926 – 1971

    • Authors: Mat Solikhin
      Pages: 331 - 364
      Abstract: AbstractThe role of the ulama founder of Nahdlatul Ulama with the historical development of NU is closely, like currency side. The pattern of the development of the mind with the organization cannot be removed from the thinking of the founding. K.H. Hasyim Ash'ari, K.H. Abdul Wahhab Hasbullah and K.H.R. Asnawi Kudus is three great figures that have a very important role in upholding the teachings and values of Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah in Java through both pesantren, ideas and the books written by them. This research aims to know the role of the leaders of the third phase of the development of Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah in Java and movements done by the three prominent figures in upholding the values of Ahl al Sunnah wa al- Jama’ah.Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah what is meant here is in the context of the NU s, where Ahl al- Sunnah wa al-Jama’ah be owned claims NU. Since it was established in 1926. The existence of the Hijaz Committee initiated by the K.H. Abdul Wahhab Hasbullah does not remove from several factors, one factor among others: international factors, religious ideologies and nationalities. With the formation of the Committee of the Hijaz was born Jam’iyah Nahdlatul Ulama as container and vehicle to preserve the values of Ahl al-Sunnah Wa al-Jama’ah al-Nahdliyah. The values of the Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah spread through boarding schools and books of the yellow and the results of the third ideas community.
      PubDate: 2016-12-27
      DOI: 10.21580/teo.2016.27.2.1071
      Issue No: Vol. 27, No. 2 (2016)
       
  • MEMAKNAI KERAGAMAN: The Others dalam Konstruksi Sosial Para Elit
           Kelompok-kelompok Keagamaan di Kota Mataram

    • Authors: Fawaizul Umam
      Pages: 365 - 388
      Abstract: Based on the urgency of the involvement of the groups’ views on the others in any peace initiation, this study attempted (1) to investigate how the leaders of religious groups in Mataram socially constructed the others and (2) to determine the typology of their social constructions by relying on three main paradigms of religiosity (exclusivism, inclusivism, pluralism). The leaders of religious groups were chosen as a major subject because they had contributed significantly to the social dynamics of the Muslims in this city; as religious elites (ulama), they were not only cultural brokers, but also active creators of social change. To analyze their social constructions on the others, this research used the Berger’s social constructionism theory. Their social constructions excavated from purposively selected informants, namely the formal or informal elites of religious groups like the Ahmadiyya, Salafists, Tablighi Jamaat, Shiite, and the traditionalist (Nahdlatul Wathan) and modernist (Muhammadiyah) Islamic groups. It was concluded that their social constructions actually emerged through three moments of dialectic which formed the subjective and objective realities on the others. Through those social constructions, they defined the others. All of their social constructions typologically tended to be exclusive, in certain limits also inclusive, and pluralistic tendencies tended to be absent. Based on the typefication, this study proposed a number of ideal solutions for creating the coexistence of Islamic religious groups in Mataram..Bertolak dari urgensi pelibatan pandangan masing-masing kelompok tentang the others dalam setiap inisiasi perdamaian, studi ini mengkaji (1) konstruksi sosial para elit kelompok-kelompok keagamaan di Kota Mataram tentang the others sekaligus menentukan (2) tipologinya berdasar tiga model utama keberagamaan, yakni eksklusivisme, inklusivisme, dan pluralisme. Para elit dipilih sebagai subjek karena mereka berperan signifikan dalam kelompok masing-masing. Dalam dinamika sosial masyarakat Muslim Kota Mataram, mereka kurang-lebih adalah ulama yang berperan sebagai “makelar budaya” sekaligus kreator aktif perubahan sosial. Untuk memahami konstruksi sosial para elit tentang the others, studi ini menerapkan teori konstruksi sosial Berger. Data utama digali dari para informan yang dipilih secara purposif, yakni mereka yang secara formal maupun informal memimpin kelompok-kelompok keagamaan Islam seperti Ahmadiyah, Salafi, Jama’ah Tabligh, Syi’ah, dan juga kelompok tradisionalis (Nahdlatul Wathan) dan modernis (Muhammadiyah). Hasil kajian menunjukkan bahwa konstruksi sosial mereka muncul lewat tiga momen dialektik yang membentuk realitas subjektif sekaligus objektif tentang the others. Hal itu menentukan cara mereka selaku elit kelompok dalam memaknai dan menyikapi the others. Tipefikasinya menunjukkan, penyikapan mereka tentang the others cenderung eksklusif, dalam batas-batas tertentu inklusif, sementara tendensi pluralistik cenderung absen. Berdasar itu solusi berupa format ideal pengelolaan keragaman bagi penciptaan koeksistensi antarkelompok keagamaan di Kota Mataram diajukan.
      PubDate: 2016-12-27
      DOI: 10.21580/teo.2016.27.2.931
      Issue No: Vol. 27, No. 2 (2016)
       
  • DIALOG LINTAS IMAN DALAM KOMUNITAS LINTAS BUDAYA (Telaah Diskursif Polemik
           Ahmadiah dalam Milis Mahasiswa Pascasarjana Universitas Gajah Mada
           Yogyakarta)

    • Authors: Nur Said
      Pages: 389 - 410
      Abstract: The development of social media has made the world like folded. The actual issues to be so fast and easy to synthetically discussed through a mailing list included in the polemic issue of Ahmadiyah. This paper discussed the genealogy and characteristics of CRCS UGM student mailing list in response to issues of Ahmadiyah in Indonesia and how far it reinforce the idea of archeology students in nurturing empathetic intelligence in internal conflicts of Islam. This study was a library research that relied on documents as objects of study then to do in contents analyzed. The conclusion is in polemics on Ahmadiyah in mailing CRCS indicate an attempt to find "objectivism" and "rationality" in the understanding that the issue be debated Ahmadiyah distintinkly and contextually. But among those showing different domination between objectivism and rationality that sometimes still have not found any common ground between the pro and anti Ahmadiyah although  they generally in inclusive way of life. However, the process of intense discussion through the mailing list is very helpful in understanding the sow intelligence building empathy among Muslims especially those who are experiencing conflict.Perkembangan media sosial telah menjadikan dunia bagai dilipat. Isu-isu aktual menjadi begitu cepat dan mudah untuk didiskusikan melului sarana mailinglist (milis) termasuk dalam polemik isu Ahmadiyah. Paper ini mendiskusikan genealogi dan karakteristik milis mahasiswa crcs UGM Yogyakarta dalam merespon isu-isu Ahmadiyah di Indonesia dan sejauhmana hal itu memperteguh arkeologi pemikiran mahasiswa dalam menyemai kecerdasan empatik di tengak konflik intern umat Islam. Penelitian ini merupakan library research yang mengandalkan dokumen sebagai obyek kajiannya kemudian dilakukan analisis isi. Kesimpulannya adalah dalam berbagai polemik tentang Ahmadiyah di milis crcs menunjukkan upaya menemukan  “obyektivisme” dan “rasionalitas” dalam memahami polemik Ahmadiyah sehingga isunya menjadi distintif dan kontekstual. Namun diantara mereka menunjukkan dominasi yang berbeda antara obyektivisme dan rasionalitas sehingga terkadang masih dijumpai belum adanya titik temu antara yang pro maupun yang kontra meskipun secara umum nalarnya inklusif. Namun proses diskusi yang intens melalui milis tersebut sangat membantu dalam membangun kesepahaman dalam menyemai kecerdasan empati antar umat Islam terutama yang sedang mengalami konflik.
      PubDate: 2016-12-27
      DOI: 10.21580/teo.2016.27.2.1072
      Issue No: Vol. 27, No. 2 (2016)
       
  • IDEOLOGI, KEYAKINAN, DOKTRIN DAN BID’AH KHAWARIJ: Kajian Teologi
           Khawarij Zaman Modern

    • Authors: Sukring Sukring
      Pages: 411 - 430
      Abstract: Islam is a religion of balance and moderation, Muslim are supposedly the people of the middle or the neutral people. But in fact, this word means not to be excessive (moderate). Its modesty appears in doctrine and morals. That is the main characteristic of Islam. Those who are far away from moderation have indeed moved away from the spirit of Islam. Throughout ages there have been always extreme groups. Consequently, they will be shunned by people, although they outwardly practice good deeds and are devout. In this case, the most obviously extreme group was the Khawarij. Killing Muslims deemed valid by the Khawarij. Even today Khawarij still uses the name of Islam and raised slogans to establish a divine order. However, all of their actions and steps actually violate the teachings of Islam. Khawarij passed through indelible traces in the history. Nevertheless, Nowadays, there are groups showing up again in the world and in the new paradigm of Khawarij by murder,rebellion in a legitimate government, and terrorism. The scholars indicate they are modern Khawarij.Islam adalah agama seimbang dan moderat, sebagai umat pertengahan, perantara, atau bangsa yang netral. Namun faktanya, kata ini bermakna tidak berlebih-lebihan (moderat). Kesederhanannya tampak dalam doktrin dan akhlak. Itulah ciri utama dari Islam. Mereka yang menjauhkan diri dari sikap moderat telah menjauh dari semangat Islam yang sebernarnya. Sepanjang zaman akan selalu muncu kelompok-kelompok yang berhaluan ekstrim. Sebagai konsekwensi, mereka akan dijauhi umat, meski secara lahiriah me­nampilkan amalan Islam dan taat dalam beragama. Dalam hal ini kelompok yang paling kentara adalah Khawarij. Membunuh orang Muslim dianggap sah oleh Khawarij. Bahkan hari ini Khawarij menggunakan nama Islam dan mengangkat slogan-slogan untuk membangun tatanan Ilahi. Akan tetapi, semua tindakan dan langkah mereka sejatinya merupakan pelanggaran terhadap ajaran Islam. Ketika para pendukung Khawarij tidak memiliki dalil yang sah untuk tindakan mereka. Aliran Khawarij telah berlalu dengan jejak yang tak terhapuskan dalam sejarah. Namun dalam perkembangan zaman, kelompok ini mulai kembali dalam pentas dunia, dalam paradigma baru dengan melakukan pembunuhan, pem­berontakan pada pemerintah yang sah, dan terorisme. Para ulama meng­indikasikan mereka adalah kelompok Khawarij zaman modern
      PubDate: 2016-12-27
      DOI: 10.21580/teo.2016.27.2.1076
      Issue No: Vol. 27, No. 2 (2016)
       
 
 
JournalTOCs
School of Mathematical and Computer Sciences
Heriot-Watt University
Edinburgh, EH14 4AS, UK
Email: journaltocs@hw.ac.uk
Tel: +00 44 (0)131 4513762
Fax: +00 44 (0)131 4513327
 
Home (Search)
Subjects A-Z
Publishers A-Z
Customise
APIs
Your IP address: 54.81.139.235
 
About JournalTOCs
API
Help
News (blog, publications)
JournalTOCs on Twitter   JournalTOCs on Facebook

JournalTOCs © 2009-2016