for Journals by Title or ISSN
for Articles by Keywords
help
Followed Journals
Journal you Follow: 0
 
Sign Up to follow journals, search in your chosen journals and, optionally, receive Email Alerts when new issues of your Followed Journals are published.
Already have an account? Sign In to see the journals you follow.
Journal Cover Journal of Innovative Science Education
  [0 followers]  Follow
    
  This is an Open Access Journal Open Access journal
   ISSN (Print) 2252-6412 - ISSN (Online) 2502-4523
   Published by Universitas Negeri Semarang Homepage  [66 journals]
  • PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENILAIAN PROSES DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL
           UNTUK MENGUKUR SOFT SKILLS

    • Authors: Ria Yanna Kharista, Endang Susilaningsih, Sri Susilogati Sumarti
      Pages: 94 - 100
      Abstract: Hasil field study menunjukkan bahwa soft skills siswa rendah, maka diperlukan instrumen penilaian yang dapat menumbuhkan soft skills siswa yang terintegrasi dalam pembelajaran kimia berpendekatan kontekstual sebagai bekal di dunia industri setelah lulus. Penelitian ini merupakan jenis penelitian R & D yang menggunakan metode pre eksperimental dengan one group pretest-posttest design yang bertujuan untuk mengembangkan instrumen penilaian proses berbasis authentic assessment dengan pendekatan kontekstual yang valid, reliabel, efektif, dapat mengukur soft skills, dan dapat meningkatkan hasil belajar serta mendapatkan respon positif dari siswa dan guru. Data dikumpulkan dengan metode tes dan non tes. Hasil validasi instrumen penilaian proses mencapai hasil yang valid dan reliabel. Instrumen penilaian proses yang dikembangkan dikatakan efektif untuk mengukur soft skills karena 20 dari 32 siswa yang mendapatkan skor sangat baik, rerata hasil belajar sikap 84,17, rerata hasil belajar keterampilan 96; 83,76; 78,57 dan rerata hasil belajar pengetahuan sebesar 81,94 atau 87,50% (28 dari 32 siswa) mencapai KKM, serta adanya peningkatan yang signifikan dari pretest ke posttest dengan rerata N-gain sebesar 0,78 (kriteria tinggi). Siswa memberikan respon positif terhadap instrumen penilaian proses, usabilitas dan kebermaknaan instrumen penilaian proses.   The results of field study shows that student’s soft skills are low, the required assessment instruments that can foster student’s soft skills are integrated in chemistry contextual approach learning as a provision in the industrialized world after graduation. This research is a study of R & D which uses pre-experimental method with one group pretest-posttest design to develop an assessment instrument based authentic assessment process withvalid, reliable, effective contextual approach which can measure soft skills, and to improve learning outcomes and elicit a positive response from students and teachers. Data collected by the test and non-test methods. The results of the validation instrument learning assessment that are valid and reliable. Assessment instruments developed process is said to be effective for measuring soft skills because 20 of the 32 students who scored very well, mean of attitude learning outcomes 84.17, mean of skills learning outcomes 96; 83.76; 78.57 and the average knowledge achievement of 81.94, or 87.50% (28 of 32 students) reached KKM, as well as a significant increase from pretest to posttest with N-gain average was 0.78 (height criteria). Students responded positively to the process of assessment instruments, usability and meaningfulness of the process of assessment instruments.
      PubDate: 2016-12-19
      Issue No: Vol. 5, No. 2 (2016)
       
  • PENGEMBANGAN TES DIAGNOSTIK THREE TIER MULTIPLE CHOICE UNTUK
           MENGIDENTIFIKASI MISKONSEPSI PESERTA DIDIK KELAS XI

    • Authors: Syarifatul Mubarak, Endang Susilaningsih, Edy Cahyono
      Pages: 101 - 110
      Abstract: Penelitian ini mengembangkan instrumen diagnostik three tier multiple choice untuk mengidentifikasi miskonsepsi yang dimiliki peserta didik pada materi larutan asam basa. Jenis penelitian adalah penelitian pengembangan (R&D). Metode penelitian merupakan metode 4D yang dimodifikasi tanpa menyertakan tahap diseminasi. Subjek penelitian adalah 145 peserta didik SMA Kelas XI IPA. Instrumen yang digunakan adalah tes diagnostik three tier multiple choice berjumlah 30 butir soal. Pengembangan instrumen dilakukan dengan tiga prosedur pokok, yaitu: (1) menentukan cakupan konsep yang diteliti, (2) mengumpulkan informasi tentang miskonsepsi peserta didik, (3) penyusunan dan validasi instrumen diagnostik berbentuk three tier multiple choice. Data hasil tes dianalisis secara deskriptif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan instrumen yang dikembangkan baik dan valid dengan nilai CVR 0,99 dan mean sebesar 1,52 dengan nilai reliabilitas instrumen sebesar 0,90. Penelitian ini mengungkap 166 kombinasi profil miskonsepsi yang dialami peserta didik pada materi larutan asam basa. Profil miskonsepsi peserta didik tertinggi yang diperoleh pada penelitian ini yaitu berkaitan dengan pengertian hidrolisis garam dengan temuan 42,07% peserta didik terdiagnosis mengalami miskonsepsi dengan temuan sembilan pola jawaban yang menunjukkan miskonsepsi.   This research is developing three tier multiple choice diagnostic intrument to identify students misconceptions in understanding acid base solution concepts.This study was kind of research and development study. Research method is 4D method modified without including the dissemination phase.Research subjects were 145 IPA XI grade students. Instrument that used is three tier multiple choice diagnostic test instrument consisting of 30 item questions.Developmental of these instrument be done by three main procedures: (1) defining the scope of concepts under study, (2) collecting infromations about students misconceptions, and (3) composing and validating of three tier multiple choice diagnostic instrument.Data result was analized descriptively and qualitatively. Research result shown that the developed instrument was good and valid with CVR value 0,99 and mean 1,52 with instrument reliability value was 0,90.This research reveal 166 type of students misconceptions profile expressed in acid base solution matter. Result of students miscenseptions profile analysis shown that highest students misconceptions profiles was related to definition of salt hydrolysis with 42,07% students had been diagnoted of having misconceptions, with nine answer paterns that showing misconceptions.
      PubDate: 2016-12-19
      Issue No: Vol. 5, No. 2 (2016)
       
  • PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL UNTUK MENINGKATKAN SOFT SKILL KONSERVASI DAN
           KETERAMPILAN PROSES SAINS

    • Authors: Siti Istijabatun, Supartono Supartono, Masturi Masturi
      Pages: 111 - 120
      Abstract: Kegiatan pembelajaran yang saat ini berlangsung masih cenderung mengutamakan aspek kognitif. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa guru belum memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar secara optimal sehingga soft skill konservasi belum muncul serta keterampilan proses sains masih rendah. Budaya masyarakat sebagai pengrajin kerupuk rambak belum menarik perhatian siswa untuk memikirkan dampak yang ditimbulkan terhadap lingkungan. Oleh karena itu diperlukan pengembangan perangkat pembelajaran kontekstual yang disesuaikan dengan lingkungan di sekitar sekolah  yaitu terkait pengolahan limbah kerupuk rambak. Sumber data berasal dari data seluruh siswa kelas X SMA Negeri 1 Pegandon Kendal, dan data dari ahli yang kompeten. Instrumen berupa lembar validasi perangkat pembelajaran, lembar observasi untuk soft skill konservasi, lembar observasi keterampilan proses sains, lembar angket respon siswa terhadap pembelajaran, dan lembar soal tes kognitif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa soft skill konservasi mengalami peningkatan dan keterampilan proses sains memperoleh kriteria tinggi. Rata-rata hasil belajar uji coba luas1 sebesar 73,4 dan pada uji coba luas2 sebesar 71,2. Siswa juga memberikan respon positif terhadap pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perangkat pembelajaran yang dikembangkan terbukti efektif untuk meningkatkan soft skill konservasi, keterampilan proses sains, dan hasil belajar.   The learning activities currently likely tend to give priority to the cognitive aspect. Evidence taken from the field shows that teachers have not used the environment as a learning source optimally, so the soft skills of conservation has yet to appear and science process skills are still low. Cultural society as the craftsmen rinds has not attracted for students to think about the impact on the environment. Therefore, it requires the development of contextual learning tools adapted to the environment around the school which is associated waste rinds treatment. Sources of data is derived from the data of all class X SMA Negeri 1 Pegandon Kendal, and data from competence experts. Instruments are learning device validation sheets, observation sheets for the soft skills of conservation, science process skills of observation sheets, student questionnaire responses sheet to the learning, and cognitive test booklet. The results of the work indicates that soft skills of conservation increased and science process skills gained into high criteria. The average comprehensive learning results of class 1 and class 2 are 73.4 and 71.2, respectively. Students also responded positively to the learning. The results showed that the developed  learning tools are proven effectively to improve the soft skills of conservation, science process skills, and learning outcomes.
      PubDate: 2016-12-19
      Issue No: Vol. 5, No. 2 (2016)
       
  • VALIDASI NOMOGRAF OPTIK SEBAGAI MEDIA PERHITUNGAN BESARAN FISIS CERMIN DAN
           LENSA

    • Authors: Hasbi Iskandar, Achmad Sopyan, Suharto Linuwih
      Pages: 121 - 127
      Abstract: Belum adanya inovasi media berupa teks dan gambar yang dicetak untuk membantu perhitungan menentukan nilai besaran fisis cermin dan lensa, membuat pembelajaran masih terpusat pada guru. Maka media Nomograf Optik dikembangkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui validasi media Nomograf Optik dalam pembelajaran fisika, pengaruh penggunaan media Nomograf Optik terhadap unjuk kerja dan hasil belajar peserta didik. Validitas media Nomograf Optik merupakan hasil validasi dari 2 dosen fisika dan 1 guru senior. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan dengan model one-shot. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan purposive sampling dari siswa kelas XI SMK NU Ungaran. Hasil menunjukkan bahwa media Nomograf Optik yang dikembangkan layak digunakan dalam pembelajaran. Hasil uji t-test unjuk kerja diperoleh nilai t hitung sebesar 18,97 > t tabel (-2,31) dengan p-value (sig.) 0,00 < 0,05. Artinya terdapat pengaruh sangat signifikan penggunaan media Nomograf Optik terhadap kemampuan unjuk kerja peserta didik. Hasil uji t-test hasil belajar diperoleh nilai t hitung 4,059 > t tabel (2,31) dengan p-value (sig.) 0,00 < 0,025, Menunjukkan bahwa terdapat pengaruh signifikan pada penggunaan media Nomograf Optik terhadap hasil belajar fisika   The absence of media innovations such as text and images printed to help the calculation for determining a fisis amount value of mirror and lens, make a learning process still focused on teacher. Then, Nomograph Optics media has been developed. This research aims to determine Nomograph Optics media validation on learning physics course, the influence of using Nomograph Optics media to the work method and learning outcomes of student. Validity of Nomograph Optics media was a value of validation from two Physics Lecturers and one Senior Teacher. The type of this research is development with one-shot model. Purposive sampling used as a techniques sampling on this research to the student class XI SMK NU Ungaran (Vocational School of NU Ungaran). The result showed that Nomograph Optics media developed is eligible for learning purposes. Result of t-test on work method gained value t-count about 18.97 > t-table (-2.31) with p-value (sig.) 0,00 < 0.05. The meaning of that result is a very significant influence on students work method performance by using Nomograph Optics media. Result of t-test of learning outcomes obtained the value of t-count about 4.059 > t-table (2.31) with p-value (sig.) 0,00 < 0.025. The result showed that, there is a significant influence by using Nomograph Optics media to the physics learning outcomes.
      PubDate: 2016-12-19
      Issue No: Vol. 5, No. 2 (2016)
       
  • PERSEPSI DAN POLA PERILAKU MASYARAKAT BANTARAN SUNGAI DAMAR DALAM MEMBUANG
           SAMPAH DI SUNGAI

    • Authors: Sri Endhes Isthofiyani, Andreas Priyono Budi Prasetyo, Retno Sri Iswari
      Pages: 128 - 136
      Abstract: Sungai Damar menunjukkan permasalahan sampah. Masyarakat bantaran sungai kurang peduli dengan kondisi sungai dan dampak sampah pada lingkungan hidupnya. Penelitian bertujuan untuk menganalisis persepsi dan pola perilaku masyarakat bantaran sungai dalam membuang sampah di sungai dan faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi dan perilaku tersebut. Selain itu dianalisis pula upaya yang sudah dilakukan untuk menanggulangi sampah di sungai. Hasil analisis digunakan untuk mendesain pemberdayaan masyarakat  dalam penanggulangan sampah berbasis persepsi dan pola perilaku terhadap lingkungan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif desain studi kasus. Narasumber penelitian adalah masyarakat RT 02 RW 03 Desa Weleri yang tinggal di bantaran Sungai Damar, Kepala Desa Weleri, ketua RW 03, dan pihak Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang. Data dikumpulkan pada bulan Mei-Juli 2016 melalui wawancara, kuesioner, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan persepsi yang rendah terhadap sampah. Rendahnya persepsi berpangaruh terhadap munculnya perilaku membuang sampah di sungai. Ketiadaan fasilitas tempat sampah dan truk pengangkut sampah menjadi faktor utama penyebab rendah persepsi dan perilaku terhadap sampah. Upaya sosialisasi dan program Bank Sampah dari desa tidak berjalan lancar. Pemberdayaan masyarakat ditempuh melalui penyusunan pedoman pemberdayaan masyarakat, pembagian leaflet tentang pengelolaan sampah, pengadaan tempat sampah, dan pengajuan pengangkutan sampah.   Damar River shows a complicated problem of garbage. People living at its riverbank seem to ignore the garbage impacts on their environment. This study aimed to analyze people’ perceptions and behavior pattern of dispensing garbage into Damar River, identify the factors influencing those above, and also describe the efforts taken by the community to address the garbage problems. All collected information was then used for redesigning community empowerment toward rivers garbage. The study approaches used was qualitative case study design. Informants involved in the study were the society of RT 02 RW 03 living along the riverbank, chairman of Weleri and RW 03, and the staff of the Department of Human Settlements and Spatial Planning. The data was collected by interview, questionnaire, observation, and documentation study. The findings showed that the perception of the society was more likely to be clearly weak. This low perception seemed correlated with their behavior patterns on dispensing garbage into the river. The lack of garbage bins and dump trucks became the major factor for this wrong doing behavior. Some community empowerment modes to overcome these existing problem were attitude based socialiszation on garbage problems via interesting leaflets, availability of dump trucks, and education about Garbage Banks and trainings on waste recycling.
      PubDate: 2016-12-19
      Issue No: Vol. 5, No. 2 (2016)
       
  • POLA PEMECAHAN MASALAH BERDASARKAN REPRESENTASI SISWA DALAM MEMBANGUN
           PEMAHAMAN KONSEP FISIKA MODEL

    • Authors: Lasiani Lasiani, Ani Rusilowati, Mahardika Prasetya Aji
      Pages: 137 - 143
      Abstract: Representasi dalam memecahkan masalah memberikan informasi cara siswa memahami konsep. Siswa memiliki pola beragam untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan konsep fisika. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi: (1) kecenderungan representasi siswa, (2) pola pemecahan masalah berdasarkan kecenderungan representasi, (3) pola pemecahan masalah dalam membangun pemahaman konsep. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif model grounded theory. Siswa dikategorikan pemahamannya ke dalam kategori tinggi, sedang dan rendah. Hasil penelitian menunjukkan siswa kategori tinggi memiliki kecenderungan representasi simbolik, kategori sedang dan rendah memiliki kecenderungan representasi visual gambar. Siswa kecenderungan representasi simbolik memiliki pola yaitu membaca, menganalisis, merencanakan solusi, melaksanakan, menyimpulkan. Siswa kecenderungan visual gambar memiliki dua pola. Pola pertama yaitu membaca, memahami masalah, menganalisis, melaksanakan dan menyimpulkan, pola kedua sama dengan pola pertama namun proses menganalisis menggunakan konsep. Berdasarkan pemahaman konsepnya, siswa kategori tinggi menggunakan dua pola. Pola pertama yaitu membaca, memahami masalah, menganalisis, membuat solusi, menyimpulkan. Pola kedua yaitu membaca, memahami masalah, menganalisis menggunakan konsep, merencanakan solusi, melaksanakan solusi, menyimpulkan. Siswa kategori sedang menggunakan dua pola. Pola pertama yaitu membaca, memahami masalah, menganalisis dan menyimpulkan. Pola kedua yaitu membaca, memahami masalah, menganalisis menggunakan konsep, merencanakan solusi, melaksanakan solusi dan menyimpulkan. Siswa kategori rendah memiliki pola yaitu membaca, memahami masalah, menganalisis dan menyimpulkan.   Representation in solving the problem gives information on how students understand concepts. Students have a variety of patterns to solve the problems associated with the concept of physics. This study aims to identify: (1) the tendency of student representation, (2) based on the likelihood of resolving problems of representation, (3) pattern of problem solving in building understanding of the concept. This research is a qualitative model of grounded theory. Students are categorized understanding into the category of high, medium and low. The results showed high class students have a tendency symbolic representation, medium and low categories have the tendency visual representation of the image. Students tendency symbolic representation has a pattern of reading, analyzing, planning solutions, implement, conclude. Students tendency visual image has two patterns. The first pattern is read, to understand the problem, analyze, implement and conclude, the second pattern similar to the pattern, but the process of analyzing the first to use the concept. Based on the understanding of the concept, students high category use two patterns. The first pattern is read, to understand the problem, analyze, create solutions, concludes. The second pattern is read, understood the problem, analyze the use of the concept, planning solutions, implementing solutions, concludes. Students category're using two patterns. The first pattern is read, understood the problem, analyze and conclude. The second pattern is read, understood the problem, analyze the use of the concept, planning solutions, implement solutions and concluded. Students low category has a pattern of reading, understanding the problem, analyze and conclude.
      PubDate: 2016-12-19
      Issue No: Vol. 5, No. 2 (2016)
       
  • GUIDED INQUIRY BERBANTUAN E-MODUL UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERPIKIR
           KRITIS

    • Authors: Santi Budiarti, Murbangun Nuswowati, Edy Cahyono
      Pages: 144 - 151
      Abstract: Guided inquiry merupakan model yang menuntun siswa untuk menemukan jawaban dari suatu permasalahan, sedangkan e-modul merupakan media yang dapat menumbuhkan kreativitas, kebiasaan berpikir produktif, menciptakan kondisi aktif, efektif, inovatif dan menyenangkan serta dapat mengembangkan kemampuan literasi kimia pada siswa. Guided inquiry dipadukan dengan e-modul pada materi pokok kelarutan dan hasil kali kelarutan untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa. Penelitian ini menggunakan Control Group Pre Test-Post Test Design. Keterampilan berpikir kritis siswa diukur melalui hasil belajar kognitif kelas eksperimen yang menerapkan guided inquiry berbantuan e-modul dan kelas kontrol yang menerapkan metode konvensional. Berdasarkan hasil analisis, diperoleh rata-rata pre-test dan post test keterampilan berpikir kritis siswa kelas eksperimen sebesar 30,79 dan 73,32, sedangkan kelas kontrol sebesar 31,71 dan 65,15. Hasil uji Anava menunjukkan adanya perbedaan rata-rata yang signifikan antara kedua kelas. Analisis peningkatan keterampilan berpikir kritis menunjukkan bahwa kedua kelas mampu meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa, namun kelas eksperimen lebih efektif dibandingkan kelas kontrol. Simpulan dalam penelitian ini adalah pembelajaran dengan guide inquiry berbantuan e-moduldapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa.   Guided inquiry is a model that leads students to find the answer to a problem, while the e-module is a media that can foster creativity, productive thinking habits, creating conditions of active, effective, innovative and fun and can develop chemical literacy skills in students. Guided Inquiry combined with e-modules in the subject matter solubility and solubility product to increase students' critical thinking skills.Experimental design of this research is Control Group Pre Test-Post Test Design. Critical thingking skills evaluated by cognitive learning outcomes. Based on the results obtained by analysis of the average of pre-test and post-test students' critical thinking skills experiment class is 30,79 and 73,32, and the control class is 31,71 and 65,15. Anova test results showed a significant difference between the averages of two classes. The analysis showed an increase in students 'critical thinking skills, both experimental class and control class, but the experiment class is more effective in enhancing critical thinking skills than control class. The conclusion of this research is the learning guided inquiry assisted e-module can enhance students' critical thinking skills.
      PubDate: 2016-12-19
      Issue No: Vol. 5, No. 2 (2016)
       
  • PROFESIONALITAS GURU DALAM PEMBELAJARAN BIOLOGI: STUDI KASUS SEKOLAH
           MENENGAH ATAS SWASTA KATOLIK BHAKTYARSA MAUMERE

    • Authors: 1Yohanes Nong Bunga, Andreas Priyono Budi Prasetyo, R. Susanti
      Pages: 152 - 162
      Abstract: Profesionalitas guru biologi merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan proses belajar mengajar biologi di sekolah. Penelitian mengenai profesionalitas guru telah banyak dilakukan, namun informasi mengenai profesionalitas guru biologi di SMAS Katolik Bhaktyarsa Maumere masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis dan mendeskripsikan profesionalitas guru biologi, mendeskripsikan pemahaman dan tingkat partisipasi siswa dalam pembelajaran biologi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Subjek penelitian ditentukan menggunakan teknik purposive sampling, terdiri dari narasumber utama dan narasumber pendukung. Data dikumpulkan melalui pengisian skala psikologi, wawancara, observasi dan dokumentasi. Keabsahan data ditentukan dengan menggunakan triangulasi teknik dan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukan bahwa guru biologi SMAS Katolik Bhaktyarsa Maumere memenuhi kualitas professional engagement, sedangkan professional knowledge dan professional practice masih mengalami kendala yang perlu dibenahi. Umumnya siswa berpartisipasi aktif dan mampu memahami materi yang disampaikan guru biologi.   Biology teacher professionalism is one of the critical factors for the quality of biology teaching and learning at schools. Research on teacher professionalism has been widely implemented, but there is still limited information about the biology teacher professionalism at the Private Catholic Senior High School of Bhaktyarsa Maumere. This research aimed to analys the biology teacher professionalism, describe students’ understanding and participations in learning biology. This research used a qualitative method with case study approaches. The participant subjects were decided by using purposive sampling technique. It consists of main informers and supporting informers. The data was collected from interview, filled questionnaire, observation, and documentation. Validity of data was improved by triangulation techniques and sources. The result showed that the biology teachers at the school ready satisfied the quality of professional engagement, meanwhile there were some problems found in term of their professional knowledge and practice. In general, the students were actively participated in their biology class and capable of understanding the content material presented by biology teacher.
      PubDate: 2016-12-19
      Issue No: Vol. 5, No. 2 (2016)
       
  • IDENTIFIKASI MODEL MENTAL MAHASISWA PADA MATERI ATOM BERELEKTRON TUNGGAL

    • Authors: Dian Wahid Hermawan, Agus Yulianto, Sulhadi Sulhadi
      Pages: 163 - 169
      Abstract: Sebagian besar mahasiswa fisika memiliki pandangan fisika klasik dalam mempelajari fisika kuantum. Pembelajaran pemodelanpada penelitian ini dilaksanakan untuk mengidentifikasi perubahan model mental mahasiswa dalam mempelajari model konseptual kuantum. Model mental adalah gambaran yang tercipta dalam pikiran tentang suatu fenomena alam. Model konseptual adalah gambaran dari fenomena alam yang sesuai dengan pandangan para ilmuan.Analisis kualitatif yang digunakan pada penelitian ini adalah grounded theory. Hasil dari analisis tersebutdidapatkan pandangan (model mental) mahasiswa tentang konsep fisika kuantum adalah model kuantum, intermediate dan mekanikaklasik.Mahasiswa mengalami perubahan daerah dimensi pemahaman dari mekanika klasik menjadi model mental kuantum.Akurasi dari identifikasi model mental mahasiswa dapat ditingkatkan dengan membuat gambar interpretasi secara berulang. Gambar tersebut dapat diperkuat dengan hasil observasi dan wawancara.   Most of physics students hold classical physics perspective when they learn quantum physics. Modeling instruction is implemented to identifymental modelschanging in learning quantum conceptual models.Mental model is animage created in the mind of a natural phenomenon. The conceptual models are a description of natural phenomena in appropriate with the scientistsperspective.Qualitative analysis used in this research is grounded theory. The results of identification student model mental is categorized as quantum, intermediate and clasical mechanics. Students haveexperienced changing of dimensional understanding area from classical mechanics into a quantum perpective. The accuracy of mental modelidentification can be improved by making the interpretation image repeatedly.The images can be legitimated by observations and interviews.
      PubDate: 2016-12-19
      Issue No: Vol. 5, No. 2 (2016)
       
  • PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI MATERI KELARUTAN DAN HASIL KALI
           KELARUTAN UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS

    • Authors: Haryanti Haryanti, Sudarmin Sudarmin, Murbangun Nuswowati
      Pages: 170 - 177
      Abstract: Penelitian ini dilatar belakangi oleh rendahnya kemampuan berpikir kritis siswa. Selain itu, pembelajaran yang berlangsung kurang melibatkan aktivitas siswa. Penelitian ini merupakan penelitian quasi experimental, dengan desain yang digunakan Nonequivalent Control Group Design. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui apakah besarnya peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa yang belajar dengan model pembelajaran inkuiri lebih baik secara signifikan dibandingkan dengan siswa yang belajar dengan metode konvensional. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI SMA Negeri 1 Semarang, sedangkan sampel yang digunakan sebanyak 2 kelas, yaitu kelas XI MIA 7 dan kelas XI MIA 8. Teknik penarikan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah cluster random sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu instrumen tes, berupa pretest dan posttest. Teknik analisis data yang digunakan adalah uji normalitas, uji homogenitas, uji beda rata-rata, dan uji N-gain. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini, yaitu besarnya peningkatan N-gain kemampuan berpikir kritis siswa pada kelas eksperimen secara signifikan lebih tinggi dibandingkan kemampuan berpikir kritis siswa pada kelas kontrol.   This research was conducted based on the finding of low of student critical thinking skills of. In addition, the learning that takes less involve student activity. This study is a quasi-experimental research, the design used Nonequivalent Control Group Design. The purpose of this study is to determine whether the magnitude of increase in critical thinking skills students learn by inquiry learning model significantly better than students who studied with conventional methods. The population in this study is student of a class XI SMAN 1 Semarang, while samples are used as much as two classes, that is class XI MIA 7 and class XI MIA 8. The sampling technique used in this study is a cluster random sampling. Instruments used in this research that the test instrument, such as pretest and posttest. Analysis technique of data used is normality test, homogeneity, different test average, and N-gain test. The results obtained from this study, which is a big increase in N-gain critical thinking skills of students in the experimental class is significantly higher than the critical thinking skills of students in the control class.
      PubDate: 2016-12-19
      Issue No: Vol. 5, No. 2 (2016)
       
 
 
JournalTOCs
School of Mathematical and Computer Sciences
Heriot-Watt University
Edinburgh, EH14 4AS, UK
Email: journaltocs@hw.ac.uk
Tel: +00 44 (0)131 4513762
Fax: +00 44 (0)131 4513327
 
Home (Search)
Subjects A-Z
Publishers A-Z
Customise
APIs
Your IP address: 54.80.158.127
 
About JournalTOCs
API
Help
News (blog, publications)
JournalTOCs on Twitter   JournalTOCs on Facebook

JournalTOCs © 2009-2016