for Journals by Title or ISSN
for Articles by Keywords
help
Followed Journals
Journal you Follow: 0
 
Sign Up to follow journals, search in your chosen journals and, optionally, receive Email Alerts when new issues of your Followed Journals are published.
Already have an account? Sign In to see the journals you follow.
Journal Cover Nirmana
  [1 followers]  Follow
    
  This is an Open Access Journal Open Access journal
   ISSN (Print) 0215-0905
   Published by Petra Christian University Homepage  [7 journals]
  • Analisis Semiotika Film Janur Kuning sebagai Representasi Ideologi
           Kekuasaan Soeharto

    • Authors: Panji Dwi Ashrianto
      Abstract: Penelitan ini berjudul “Analisis Semiotika Film Janur Kuning sebagai Representasi Ideologi Kekuasaan Soeharto ”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna ideologi politik Soeharto yang disampaikan dalam simbol-simbol adegan film Janur Kuning dan menganalisa makna pencitraan karakter yang digambarkan dalam adegan-adegan yang dapat mewakili ideologi kekuasaan Soeharto. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan menggunakan analisis semiotika yang mengkaji kepada tanda-tanda dalam sebuah film. Dari hasil penelitian dan analisis, dijelaskan bahwa film dijadikan media yang efektif untuk melakukan propaganda. Film Janur Kuning digunakan Soeharto sebagai alat untuk melegitimasikan kekuasaannya, dengan menampilkan dirinya sebagai tokoh sentral yang digambarkan sebagai figur yang paling benar dan sosok yang penting dalam sejarah. Film Janur Kuning merupakan representasi ideologi kekuasaan yang mencoba membengkokkan sejarah dengan klaim-klaim pembenaran diri, dengan meniadakan peran tokoh lain yang sebenarnya mempunyai andil besar dalam perjuangan.
      PubDate: 2017-02-01
      Issue No: Vol. 16 (2017)
       
  • “Sticker” LINE, Sebuah Jembatan Simbolik Teknologi Interaksi Manusia
           dalam Media Komunikasi

    • Authors: Daniel Kurniawan Salamoon
      Abstract: Perkembangan media komunikasi membuat perubahan dalam interaksi antar manusia. Komunikasi antar manusia menjadi komunikasi antara manusia dan layar (screen). Komunikasi sejatinya merupakan pertukaran informasi, pesan dan emosi. Namun, perkembangan teknologi membuat komunikasi tersebut menjadi termediasi. Ruang maya menjadi ruang menjalin relasi antar manusia. Menjadi menarik bahwa aplikasi-aplikasi komunikasi di ruang maya kini menjadi jembatan bukan sekedar pesan tetapi juga jembatan emosi melalui sticker, emoji dan simbol-simbol visual. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan analisis teks untuk menjabarkan komunikasi yang termediasi saat ini. Diharapkan hal ini dapat membuka wawasan bahwa perkembangan komunikasi kini membuat pesan menjadi termediasi dan bisa menimbulkan kerancuan makna.
      PubDate: 2017-02-01
      Issue No: Vol. 16 (2017)
       
  • Mengungkap Nilai-nilai Simbolis di Balik Warna Tradisional Bali Nawa
           Sanggha melalui Rancangan Desain Buku

    • Authors: Asthararianty Asthararianty, Pribadi Widodo, Agung Ekobudiwaspada
      Abstract: Nilai-nilai dari warna tradisional Bali adalah salah satu budaya Bali yang harus terus diperkenalkan dan diturunkan dari generasi ke generasi. Nilai-nilai ini yang harus terus dipelajari oleh generasi muda, bukan hanya menjalaninya saja namun juga memahami. Pemahaman ini menjadi penting karena terkait kelestarian nilai tersebut terhadap kemajuan jaman yang terus berubah. Banyak sekali informasi yang masuk dan berkembang di Bali. Kemajuan ini juga berpengaruh dengan bergabungnya kebudayaan luar yang beradaptasi dengan kebudayaan Bali sendiri. Hal ini membuat suatu ketakutan bahwa dalam perkembangannya generasi muda menjadi tidak bisa menyaring dengan benar seluruh informasi yang masuk dan malah mengesampingkan kelokalan dari latar belakang generasi muda sendiri yaitu Bali. Dengan adanya kenyataan bahwa, sebenarnya masyarakat Bali dalam hal ini khususnya generasi muda mengetahui bahwa warna-warna tersebut adalah hal yang sangat identik terhadap lingkungannya. Namun, pengetahuan ini tidak disertai dengan pemahaman yang penuh terhadap nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dan juga kurangnya sarana pendukungnya. Pentingnya pengetahuan mengenai nilai-nilai luhur yang tersembunyi di balik warna-warna tradisional Bali bagi generasi penerusnya dan juga bagi keberadaannya sebagai warisan budaya yang harus tetap eksis, merupakan dasar dalam melakukan penelitian ini. Penelitian ini menggunakan dua tahap metode, diawali dengan metode penelitian menggunakan metode kajian budaya untuk mencari data-data mengenai nilai dari warna tradisional Bali. Metode yang dipakai untuk melakukan perancangan adalah metode eksperimen berdasarkan proses membuat buku yang terdiri dari proses edit buku, proses desain buku dan proses produksi buku
      PubDate: 2017-02-01
      Issue No: Vol. 16 (2017)
       
  • Perancangan Promosi Desa Budaya Banjarharjo, Kalibawang, Kulonprogo
           melalui Desain Komunikasi Visual

    • Authors: Reny Triwardani, Kartika Ayu Ardhanariswari
      Abstract: Desa budaya adalah bentuk konkrit pelestarian aset budaya. Pada konteks ini, desa budaya mengandung pengertian sebagai wahana sekelompok manusia yang melakukan aktivitas budaya yang mengekspresikan sistem kepercayaan (religi), sistem kesenian, sistem mata pencaharian, sistem teknologi, sistem komunikasi, sistem sosial, dan sistem lingkungan, tata ruang, dan arsitektur dengan mengaktualisasikan kekayaan potensi budayanya dan mengkonservasi kekayaan budaya yang dimilikinya. Desa Banjarharjo merupakan salah satu desa yang ditetapkan sebagai desa budaya dari 32 desa budaya sesuai dengan Keputusan Gubernur nomor 325/KPTS/1995 tanggal 24 November 1995. Sayangnya, penetapan status desa budaya Banjarharjo belum diimbangi dengan upaya-upaya pengenalan potensi budaya yang dimiliki sekaligus memasyarakatkan budaya lokal itu sendiri. Pendekatan desain komunikasi visual menjadi strategi penyampaian pesan yang kreatif dan komunikatif untuk mempromosikan desa budaya Banjarharjo. Berdasarkan analisis SWOT tentang kondisi desa budaya Banjarharjo, media below the line dapat menjadi media komunikasi visual dalam menyosialisasikan desa budaya sekaligus mempromosikan potensi desa budaya yang dimiliki. Strategi kreatif penyampaian pesan melalui desain komunikasi visual tentang desa budaya diharapkan membantu pelaku kebudayaan lokal dan pengelola  desa budaya menggiatkan promosi wisata budaya di desa Banjarharjo. Artikel ini adalah hasil program kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan di desa Banjarharjo, Kalibawang, Kulon Progo
      PubDate: 2017-02-01
      Issue No: Vol. 16 (2017)
       
  • Tinjauan Ikonografi dan Ikonologi Ilustrasi Kemasan Produk Seduh Teh Cap
           Botol

    • Authors: Donna Carollina
      Abstract: Periode 1940-an telah menjadi saksi kemunculan produk-produk teh seduh di Pulau Jawa. Salah satu produk yang lahir kala itu dan masih kuat eksistensinya hingga kini ialah “Teh Cap Botol”. Sebagai salah satu produk teh seduh yang telah lebih dari lima dasawarsa hadir di Indonesia, ilustrasi pada kemasannya menjadi menarik untuk dikaji. Hal ini disebabkan oleh karena ilustrasi pada kemasan produk Teh Cap Botol sebagai identitas bagi produk itu sendiri. Ilustrasi kemasannya tak lekang oleh waktu dan telah menjadi ciri khas bagi produk Teh Cap Botol di mata konsumennya. Demikian yang menjadi latar belakang dalam penelitian ini ialah pencarian makna atas dasar tema dan konsep di balik ilustrasi kemasan Teh Cap Botol. Tinjauan dalam penelitian ini bersifat sejarah dengan menggunakan teori ikonografi dan ikonologi Erwin Panofsky. Tinjauan ikonografi menekankan kepada tema dan konsep yang terlampir pada ilustrasi Teh Cap Botol. Sedangkan interpretasi ikonologi sebagai hasil akhir pencarian makna di balik ilustrasi kemasan Teh Cap Botol.
      PubDate: 2017-02-01
      Issue No: Vol. 16 (2017)
       
  • Gambaran e-Government di Indonesia yang Bersistem Desentralisasi Ditinjau
           dari Performa Situs Web Pemerintah Daerah

    • Authors: Rika Febriani
      Abstract: Situs web pemerintah merupakan bagian penting dari e-government. Indonesia dengan sistem peme­rintahan desentralisasi memberi kesempatan otonomi pemerintahan di tingkat kotamadya dan kabupaten. Maka setiap kotamadya dan kabupaten berhak menjalankan e-government sendiri dan memiliki situs web. Kajian ini hendak melihat sejauh mana kemajuan performa situs web pemerintah daerah dengan mengevaluasi situs web Surabaya dan Deli Serdang. Kedua daerah terpilih karena berprestasi nasional di bidang penerapan TIK dalam rangka e-government pada kurun waktu 2011-2013. Hasil evaluasi kedua situs web menunjukkan perbedaan performa yang cukup jauh. Situs web Deli Serdang masih pada tahap emerging presence sedangkan situs web Surabaya telah mencapai tahap transactional presence. Walau kedua daerah tercatat maju di bidang penerapan TIK dalam rangka e-government,  dapat disimpulkan  di antaranya masih terdapat digital divide.
      PubDate: 2017-02-01
      Issue No: Vol. 16 (2017)
       
  • Fotografi: Sains, Teknologi, Seni, dan Industri

    • Authors: Prayanto Widyo Harsanto
      Abstract: The digital photography era is a great development in science and technology in the history of photography after Niepce and Daguerre. Where in the 19th century, their experiments lead to the ability to capture images permanently with the subject of a cityscape in France. This discovery was considered most perfect in photography compared to previous ones. In the digital camera era, society views photography as something easy, inexpensive, and a part of everyday life. This is what is called the digitalization of photography. However so sophisticated the photographic equipment there may be today, there is still the need a photographer that has the knowledge and technical skills with good aesthetic sensibilites as “the man behind the camera.” In the era of creative industry like today, photography can be said to be in four aspects, which are sciense, technology, art, and industry, that are intertwined. It is because photography is not as easy as pushing the shutter button, even more so in the world of education. The teaching of photography cannot be seen as merely teaching techniques, adjusting apertures, speed, and lighting, but it involves the eyes, thoughts (knowledge and understanding), and feeling in selecting an object and arranging it in a frame of a photograph. Furthermore, what should be considered is that besides teaching how to produce and create a photo, one should know and understand as to every possibilites of aspects of its distribution after the photo has been successfully produced.
      PubDate: 2012-06-28
      Issue No: Vol. 14 (2012)
       
  • Perspektif Multikultur, Kasus Film 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta

    • Authors: Maria Nala Damayanti
      Abstract: Multicultural issues in Indonesia is a new discourse in a culture that is important in connection with a lot of racial conflicts that occurred lately. Film as an audio visual media has a major role in campaigning for the idea. Therefore, analyzing the film with a multicultural perspective will be a separate view that may be developed in relation to its role in this culture. This article reviews '3 Hearts 2 Worlds 1 Love’ a movie which was launched in 2010. Through the analysis of cinema studies, the theoretical approach of multiculturalism, open bids for the audience to take part in the interpretation. In particular the interpretation of cultural practice that is reflected through the film’s narrative.
      PubDate: 2012-06-28
      Issue No: Vol. 14 (2012)
       
  • The Importance of Packaging and Graphic Design to Communicate Corporate
           Social Responsibility

    • Authors: Listia Natadjaja
      Abstract: Graphic design’s function develops through time. It does not only function to inform a product but also elements to communicate Corporate Social Responsibility. As happened in catastrophic areas in Indonesia like Aceh in 2004, Nias in 2005, Jogjakarta in 2007, Bekasi District in 2009, etc. many donated products had their contributor’s information, especially the ones from corporations. There are many ways a company could implement their social responsibility. Graphic design cannot stand alone, it needs an effective media for its placement, one of them is packaging design. By using a Biskiz Susu packaging design as a case study, I try to analyze the design elements, like color, shape, brand, illustration/character, typography, and layout and then connect them with aspects like: the visual perception impact of packaging design and the importance in communicating Corporate Social Responsibility. For input information, I also discuss some consideration aspects of placing the contributor’s identity on the packaging. Based on this study, the contributor’s information in the products gives many advantages. The result shows that graphic design could be the effective element for communicating Corporate Social Responsibility and packaging design can be one of the recommended media for graphic design placement. Hopefully, this analysis could help a corporation, organization or the government in organizing the graphic design elements and considering a packaging as a medium to communicate Corporate Social Responsibility (CSR).
      PubDate: 2012-06-28
      Issue No: Vol. 14 (2012)
       
  • Isu-Isu Multikulturalisme dalam Film “cin(T)a-God is a Director” dalam
           Konteks Keindonesiaan Sekarang

    • Authors: Elisabeth Christine Yuwono
      Abstract: “cin(T)a – GODIS A DIRECTOR” is a love story indie movie which is wrapped by Indonesian social issues, such as ethnic group, religion, race, and social status. This article uses qualitative based research method, which describes and explains scene by scene along with its dialogues as to situations or events and how the different views of social issues are explained in the context of multiculturalism of recent Indonesianity.
      PubDate: 2012-06-28
      Issue No: Vol. 14 (2012)
       
  • Wayang Purwa dan Tantangan Teknologi Media Baru

    • Authors: Bedjo Riyanto
      Abstract: The art of shadow puppets or wayang has been established as a Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity by UNESCO. Leathermade shadow puppets or wayang kulit purwa as one of many wayang performances has been the most hegemonic, receiving much attention nationally as well as internationally until today. Therefore, there is an assumption that “the real” wayang is wayang kulit purwa. Globalization, commercialization, and the development of communication technology of popular culture influence greatly the advancement of wayang kulit purwa performances or even other wayang shows. Every stake holder of shadow puppet art truly needs the creative adaptive ability so that wayang can still be sustainable in the future.
      PubDate: 2012-06-28
      Issue No: Vol. 14 (2012)
       
  • Pendekatan Analisis Data Menggunakan NVivo-software untuk Penelitian
           Desain Logo Museum Nasional Jakarta

    • Authors: Amelia Sidik, Bodhiya Wijaya Mulya
      Abstract: Qualitative data analysis can be an exhausting, tough, and time-consuming work because the data obtained is so numerous, varied, and unstructured. However, this problem has been resolved by using computer-assisted qualitative data analysis software (CAQDAS). CAQDAS can help researchers to save, organize, explore data easily, and reduce the risk of damaging the raw data. In this article, the writer will explain about how to apply a quite popular CAQDAS application, NVivo, in the research of logo design of Museum Nasional Jakarta.
      PubDate: 2012-06-28
      Issue No: Vol. 14 (2012)
       
  • Dian Sastrowardjojo Sebagai Citra Produk Untuk Iklan Kartu Perdana Mentari
           Free Talk di Surat Kabar

    • Authors: Hendro Aryanto
      Abstract: Advertisements do not just sell goods or services, but also reflect certain cultural aspects to their viewers because they attempt to change people’s lifestyles. Ads simplify lives, therefore do not see other factors that can contribute to happiness in life. The visualization for Mentari Free Talk SIM card advertisement shows the presence of social codes phenomenon that take on the gender perspective through the figure Dian Sastro, which are beauty, intelligence, and an artist who’s gaining popularity. Woman in this case becomes a means to identify a product in its ability in creating visibility or product image.
      PubDate: 2012-01-16
      Issue No: Vol. 14 (2012)
       
  • Media Pembelajaran tentang Pola Makan Seimbang Bagi Anak-Anak Usia
           4–6 Tahun Melalui Permainan

    • Authors: Maria Hendriani
      Abstract: Today, junk food has become the staple food favored by children. Therefore research is needed in the creation of media aids that provide information and explanation of a balanced diet for children, so children can understand about healthy and unhealthy food for their growth and bodies. This research used observational methods, interviews, and descriptive qualitative analyses. The study started from the media analysis of good learning, child psychology, intellectual games, and the importance of image. Appropriate learning media strategy for children is acquired from the results of the analysis. The delivery of messages is done using a 3-dimensional board game where there are several problems in the game which aims to remind and provide further explanation to children.
      PubDate: 2012-01-16
      Issue No: Vol. 14 (2012)
       
  • Karakteristik Desain Poster Film Animasi Amerika Serikat

    • Authors: Aniendya Christianna, Moeljadi Pranata
      Abstract: An animated film will end in vain no matter how well it is without the support of media to give buzz to the message of the film. One of the most important advertising media in promoting an animated film is the poster. Because the animation movie poster is the leading medium which deals directly with the target audience in delivering information about the film before the screening of the film takes place. So visualization of the poster that includes the composition of verbal and non verbal language deserves more attention in its design.
      PubDate: 2012-01-16
      Issue No: Vol. 14 (2012)
       
  • Keindahan Versus Narsisme dalam Undangan Pernikahan

    • Authors: Maria Nala Damayanti
      Abstract: One type of graphic design product that is quite popular in the community is a wedding invitation, because generally people who get married make them. Invitations are usually printed at a certain amount and sent to relatives and friends to various parts of the city and even the country. Lately models of wedding invitations decorated by the bride and groom photos are frequently encountered. A variety of poses and styles of the couple’s intimacy that have been personal property then spread and become publicly owned. Invitations ultimately serve also as a 'show off' or 'advertising' media. In developmental psychology, the tendency of individuals to ostentatiously self exhibit is a personality disorder known as narcissistic. Is the trend of stylish invitation designs as described above can be regarded as a form of narcissism will be questioned. This topic will be further investigated by a review by social psychology. On the other hand, this kind of design can reflect the interests of consumers towards the beauty of wedding invitations. The extent to which these things are related, will be explored in this paper.
      PubDate: 2012-01-16
      Issue No: Vol. 14 (2012)
       
  • Komparasi Destination Branding dalam Official Website Negara
           Singapura-Malaysia-Indonesia

    • Authors: Ryan Pratama Sutanto, Listia Natadjaja, Erandaru .
      Abstract: High profit income has attracted South Asian countries to compete in the fields of tourism marketing. Destination branding as a differentiating factor is an alternative approach in marketing communication. The purpose of this research is to make a comparison study of destination branding application in Singapore's, Malaysia's and Indonesia's tourism official websites. Destination branding in websites as part of promotion campaigns is a strategy used by each country to promote tourism to consumers worldwide. This research uses qualitative method, and involves experts in the fields of Information Technology (IT) and Visual Communication Design. Each website's elements contributes in the success of a country's destination branding and influences its brand image.
      PubDate: 2012-01-16
      Issue No: Vol. 14 (2012)
       
  • Strategi Pembuatan Buku Esai Fotografi tentang Kehidupan Masyarakat
           Bandungan

    • Authors: Daniel Kurniawan, Margana ., Martien .
      Abstract: Bandungan is a countryside which has ten villages. The beauty of the scenery and the fresh air from Bandungan make it a tourist spot especially for tourists from Semarang, Ungaran, Ambarawa and Solo. Through time, Bandungan starts to suffer from irresponsible development. This book is designed as introduction to know Bandungan further about its function for society and citizens from the city around Bandungan. Hopefully through this book many people will recognize Bandungan not only as a spot for holidays and having fun but also realize its role in their lives, and that it will help reduce the exploitation of Bandungan and preserve its beauty. In this book, every potential from each village in Bandungan will be revealed through text which is combined with photography so the information will be easily understood and become more interesting.
      PubDate: 2012-01-16
      Issue No: Vol. 14 (2012)
       
  • Menakar Iklan Politik Pemilu 2009

    • Authors: Sumbo Tinarbuko
      Abstract: Political advertisement is a chamber’s window of a political party. It can connect political parties with the society, electors in particular. None of the political parties, legislative applicants, nor the president and vice president candidates want to win the competition of the general elections 2009 without the use of political advertisements. Such is the importance of the political advertisement in “political parties’ business” that one of the exclusive parameters of political parties is how much fund is used for the political advertisements talked about.
      PubDate: 2011-04-26
      Issue No: Vol. 14 (2011)
       
  • Kajian Iklan Layanan Masyarakat Tentang Pentingnya Mengucapkan Terima
           Kasih Bagi Para Remaja Di Surabaya

    • Authors: Mella Christa Sugoto, Andrian Dektisa H., Jacky Cahyadi
      Abstract: This visual communication’s design is accomplished to improve society awareness on how importance of expressing thank you, especially for Surabaya’s adolescent. Background of this study is formed by attitude and character descent in our society. Expressing thank you should be a simple way but in fact this word is rarely heard, whereas appreciate for all services and helps we received is the important thing in our life. Methode that is used in this study is qualitative, means getting the result by looking data in field and analyzing then. From data which is get, our adolescents think that expressing thank you is not important to do. Because its include a social problem, so I hope a Public Service Ad could be a solution to solve its problem. This Public Service Ad will be using effective media in informing message and this design is aimed to make attitude alteration in our Indonesia society.
      PubDate: 2011-04-26
      Issue No: Vol. 14 (2011)
       
  • Kondisi Desain Kemasan Produk Makanan Ringan Dan Minuman Instant Pada
           Industri Kecil Skala Rumah Tangga (Micro Industry) Di Kabupaten Kediri

    • Authors: Listia Natadjaja, Yohanes Budi Cahyono, Elisabeth Christine Yuwono
      Abstract: The research explores the packaging design general condition at Kabupaten Kediri. The purpose of this research is to get a clear description from many parts like: producer, seller and consumer about Kabupaten Kediri’s products and packaging design these days. The research used qualitative method through deep interview with key person, open questioner and supported by quantitative method based on questioner. Hopefully, this research data and fact’s could be useful for every part especially micro industry’s reference to develop their product quantity and their packaging design quality.
      PubDate: 2011-04-26
      Issue No: Vol. 14 (2011)
       
  • Visual Image Kartun Benny & Mice Versi Bluetooth Handsfree
           Representasi Kaum Miskin Kota Jakarta

    • Authors: Deddi Duto Hartanto
      Abstract: Cartoon as a medium has made visualization one of most important points in transmitting messages as texts, whether verbal or visual, as a process of communication that generates meanings. The “bluetooth handsfree” version of Benny & Mice cartoons is a visual discourse filled with signs. Besides images, signs of texts also determine the direction of the problem. From analyzing visual images in Benny & Mice cartoons using denotative and connotative semiotic analysis, they are interpreted that the city’s poor citizens living in Jakarta are up to date with the lifestyle trends of big cities, even though their conditions are far from it.
      PubDate: 2011-04-26
      Issue No: Vol. 14 (2011)
       
  • A Method of Documentary Photography and its Application in a Student
           Project of Acculturation in Bali

    • Authors: Aristarchus Pranayama Kuntjara
      Abstract: I have devised a methodical research outline for students’ final projects that involve photography as their main medium. The method accommodates the two major kinds of photographic project characteristics. The first is the conceptual or the commercial type, and second is the observational or the photo story type. This article focuses on a photo story type project by a student who has followed the method closely. Osel Gunarso focused his study on documenting a unique acculturation between Christian tradition and Balinese customs in the village of Blimbingsari in Jembrana County, Bali. Through ethnography and qualitative analysis, Gunarso achieved visual discourse for understanding a cultural phenomenon. Although he had beautifully exhibited his documentary project, it also projected several problems and issues that would be important to consider in future projects with similar conditions, especially undergraduate final projects that are confined to a single semester. Technical and non-technical issues in documentary photography become significant and therefore must be addressed in advance along with the methodology.
      PubDate: 2011-04-26
      Issue No: Vol. 14 (2011)
       
  • Faktor-Faktor Dalam Desain Penunjang Buku Autobiografi I Made Ada

    • Authors: Asthararianty ., Andrian Dektisa H., Jacky Cahyadi
      Abstract: A sculptor named I Made Ada that comes from Pakuduwi village, Tegallalang, Gianyar, Bali and his work of garuda statues have been recognized worlwide. His works are spread all over the world. It causes fear that history will be repeated again. That is a claim from our neighboring country about our origins’ culture. The journey of I Made Ada the sculptor is worth to be documented as an autobiography that contains and tells every authentic data in detail and also so that Indonesian people may know about I Made Ada’s existence. The method used to collect all the needed data are observation, interview, and documentation. The making of an autobiography can create an understanding that this is one of Indonesian richness cultures that need to be kept and preserved. Furthermore, this book is presented as an authentic proof that can facilitate in managing patents and legality rights processes on intellectual properties. This autobiography book is designed by combining modern with traditional impressions and supported by photography, information resources, and other attractive interests.
      PubDate: 2011-04-26
      Issue No: Vol. 14 (2011)
       
  • Efektivitas Corporate Identity Join Pre-School and Enrichment sebagai
           Media Promosi di Surabaya

    • Authors: Mendy Hosana M
      Abstract: Development of Science and Technology in this globalization era which is supported by comprehensive, wide open, and easily accessible information facilities, encourages the Indonesian public mindset to become a modern mindset. This modern mindset even penetrates into all areas including in the field of education. If education used to not be considered for girls, today it has now become a need for all people, whether male or female. Not only that, the high levels of education achieved and the image of the selected educational institutions become markers of modern social class society in big cities now, not just in some areas of Surabaya. There are so many early educational institutions in Surabaya and almost all offer best quality education. But the difference is how the institution portray himself to the eyes of the community through corporate identity. The reflection of an institution or company image that often we know as corporate identity will be discussed through this study. Abstract in Bahasa Indonesia; Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di era globalisasi ini yang ditunjang dengan sarana informasi yang lengkap, terbuka lebar serta mudah diakses mendorong pola pikir masyarakat Indonesia menjadi pola pikir modern. Pola pikir modern ini pun merambah ke segala bidang tak terkecuali bidang Pendidikan. Jika dulu pendidikan dianggap tidak terlalu penting secara khusus bagi anak perempuan maka saat ini pendidikan menjadi suatu kebutuhan penting bagi semua orang, baik laki-laki atau pun perempuan. Bukan hanya itu, tingginya jenjang pendidikan yang diraih dan citra lembaga pendidikan yang dipilih menjadi suatu penanda kelas sosial masyarakat modern.di kota-kota besar saat ini, tak terkecuali Surabaya. Ada begitu banyak lembaga pendidikan di Surabaya dan hampir semua menawarkan kualitas pendidikan yang baik. Namun yang menjadi pembeda adalah bagaimana lembaga pendidikan tersebut mencitrakan dirinya di mata masyarakat melalui identitas perusahaannya. Pencitraan diri dari suatu lembaga atau perusahaan yang sering kita kenal dengan corporate identity inilah yang akan dibahas melalui studi ini. Kata kunci: pendidikan usia dini, corporate identity, logo, media promosi.
      PubDate: 2010-12-03
      Issue No: Vol. 14 (2010)
       
  • Studi Pengaruh Visual Merchandise untuk Anak Terhadap Perilaku Pembelian
           Paket HappyMeal di Restoran McDonald’s Surabaya

    • Authors: Listia Natadjaja, Rosaline Dewi F., Deddy Setyawan
      Abstract: In sales promotion context, premium offers such as toy merchandizes for kids are free incentives or discounted price to encourage sales. A common finding that toys on merchandize offered in Happy Meal packets influence their consumer behavior which are kids, besides kids are known as potential target market nowadays. This thesis is not only giving descriptive explanation about the visual influence on merchandise towards kid’s buying behavior on the purchase of Happy Meal packets, but also about correlation and simple linear regression analysis. The result indicates that visual elements on merchandises have strong and significant impact to kid’s buying behavior on Happy Meal packets. Abstract in Bahasa Indonesia: Dalam konteks promosi penjualan, penawaran premi seperti merchandise mainan untuk anak, merupakan penawaran item gratis atau dalam harga yang lebih murah yang bertujuan menimbulkan suatu respons. Dalam kelanjutannya, diketahui bahwa visual merchandise mainan dalam paket HappyMeal mempengaruhi perilaku konsumen anak-anak. Disamping itu, anak-anak adalah pasar yang potensial dewasa ini. Skripsi ini tidak hanya memberikan pemaparan deskriptif mengenai pengaruh visual merchandise terhadap perilaku pembelian paket HappyMeal pada anak, tetapi juga mengenai analisis hubungan korelasi dan regresi linear sederhana. Hasil penelitian mengidikasikan adanya pengaruh yang kuat dan signifikan antara visual merchandise terhadap perilaku pembelian paket HappyMeal pada anak. Kata kunci: Pengaruh visual, Merchandise, Perilaku pembelian, McDonald’s.
      PubDate: 2010-12-03
      Issue No: Vol. 14 (2010)
       
  • Visualisasi Iklan Cetak Mobil VW ”New Beetle” Sebagai Pencitraan
           Hubungan Manusia dan Teknologi

    • Authors: Hendro Aryanto
      Abstract: When a new car is launched to the market, sometimes it begins with the appearing of the product advertisement. This happened with VW’s products. In VW Beige ”New Beetle” and VW Black ”New Beetle” print ad versions, they are shown as symbols of beauty and comfort because of their modern technology. VW ”New Beetle” could be the peoples’ choice in many countries with different geographical and cultural backgrounds. In the commodity society, beauty is priceless, for it is supported by the image culture which emphasizes appearance. This point will support belief and loyalty to the brand. Abstract in Bahasa Indonesia: Ketika sebuah mobil baru diluncurkan ke pasar, biasanya diawali dengan pemunculan iklan produk tersebut. Ini yang nampak pada produk VW. Pada iklan cetak versi lipstik VW Beige ”New Beetle” dan VW Black ”New Beetle”, merupakan simbol kecantikan dan kenyamanan karena teknologinya yang modern. VW ”New Beetle” bisa menjadi pilihan orang-orang di negara manapun yang mempunyai geografis yang berbeda-beda tentunya dengan budaya yang berbeda pula. Dalam masyarakat komoditas, kecantikan adalah sangat berharga, karena didukung budaya citra yang mengutamakan penampilan. Hal ini akan mendukung keyakinan dan kesetiaan pada merek tersebut. Kata kunci: iklan cetak, VW Beetle, citra, manusia, teknologi.
      PubDate: 2010-12-03
      Issue No: Vol. 14 (2010)
       
  • Gaya Desain pada Visualisasi Undangan Pernikahan di Surabaya

    • Authors: Maria Nala Damayanti, Benny Sampurna, Lasiman Lasiman
      Abstract: Wedding invitation is one of many visual languages which is designed for communicating a massage and an image to the invited guest. Wedding invitation development in Surabaya indicates several uniformity in design, which tends to use the same design style and applicate recent printing technologies. These condition shows an increasing common understanding in the urgency of visualization of invitations. This research topic is to explain the background of the phenomenon from design style as known in visual communication design and the development of visual culture. Design style which is used by the people is eclectic design. This phenomenon contributes to the characteristics of visual culture in Surabaya. Abstract in Bahasa Indonesia: Undangan pernikahan adalah salah satu bahasa visual yang senantiasa dirancang sedemikian rupa sehingga mampu menyampaikan pesan dan kesan tertentu kepada pihak yang diundang. Perkembangan undangan pernikahan di Surabaya menunjukkan adanya beberapa keseragaman desain kecenderungan kesukaan akan gaya desain tertentu, dan digunakannya teknologi cetak terkini. Kondisi ini menunjukkan adanya perkembangan di masyarakat terhadap pentingnya visualisasi undangan. Tulisan ini membahas latar belakang fenomena ini dari sisi gaya desain yang dikenal dalam bidang desain komunikasi visual dan perkembangan budaya visual.Gaya desain yang banyak digunakan masyarakat adalah ekletik desain. Fenomena ini memberi ciri budaya visual di Surabaya, Kata kunci: budaya visual, elemen desain, gaya desain, tipografi, undangan pernikahan.
      PubDate: 2010-12-03
      Issue No: Vol. 14 (2010)
       
  • Metamorfosis Kebudayaan (Sebuah Tinjauan Media Televisi dan Budaya
           Kekerasan)

    • Authors: Prayanto Widyo Harsanto
      Abstract: Culture and communication media cannot be separated one from another, because culture does not only determine who is talking, but also determine about what and how the communication takes place. Culture, in this case, takes a role in determining how the messages are received and meanings are conveyed. The plenty of (visual) mass communication media have succeeded in affirming that globalism has occured everywhere including in Indonesia as a developing country. Television is one sort of mass communication media produced by a long process of human culture development. The intended development is improvement in technological field, specifically in communication and information technology that revolutionize communication techniques. The television mass media have the most powerful effect towards society concerning imitation. Various television programs, especially those that contain violence factors, the violence that is watched by children may stimulate them doing crime in their adulthood. This is because there is a strong relationship between violence on television with factual life. This is a characteristic of media culture that is a kind of visualization culture which can be imitated and followed by anyone. Abstract in Bahasa Indonesia: Budaya dan media komunikasi tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya, sebab kebudayaan tidak hanya menentukan siapa yang berbicara, tetapi tentang apa dan bagaimana komunikasi itu berlangsung. Kebudayaan dalam hal ini ikut menentukan bagaimana pesan-pesan ditangkap dan makna-makna disampaikan. Gencarnya media komunikasi massa (visual) telah berhasil mengukuhkan bahwa globalisme telah terjadi di mana-mana termasuk Indonesia sebagai negara berkembang. Televisi merupakan salah satu jenis media komunikasi massa hasil dari suatu proses perkembangan budaya manusia yang panjang. Perkembangan yang dimaksud adalah kemajuan dalam bidang teknologi, khususnya teknologi komunikasi dan informasi yang merevolusi teknik-teknik berkomunikasi. Media massa televisi ini memiliki efek paling kuat terhadap masyarakat dalam hal peniruan. Berbagai program tayangan di televisi khususnya yang mengandung unsur kekerasan, hasil tontonan kekerasan yang dinikmati anak dapat mendorong aksi kriminalitas saat dewasa nantinya. Karena ada hubungan erat kekerasan di tayangan televisi dengan yang terjadi di kehidupan nyata. Ini merupakan ciri khas budaya media adalah bahwa ia merupakan suatu budaya peragaan yang dapat ditiru dan diikuti siapa saja. Kata kunci: kebudayaan, televisi, kekerasan.
      PubDate: 2010-12-03
      Issue No: Vol. 14 (2010)
       
  • Strategi Pembuatan Film Dokumenter yang Tepat untuk Mengangkat
           Tradisi-Tradisi di Balik Reog Ponorogo

    • Authors: PM. Onny Prihantono, Listia Natadjaja, Deddy Setiawan
      Abstract: Reog is a notable art from Ponorogo which has been existing for centuries and is inherited down from generation to generation among Ponorogo society up to present time. Besides presenting an alluring performance, reog is also full of tradition and customs inherited from old generation such as erotic dance, liquor party, and homosexual relationship. Those traditions are identically associated to reog as a form of free, spontaneous and rules free entertainment for common people, therefore, the customary tradition often cause controversy to emerge among people because of their contradiction toward present customs of ethics and politeness. On the other hand, the tradition contain lofty cultural principles which reflect the true identity of Ponorogo people. Unless the principles are properly preserved, the statement which says that reog is the true identity and distinctive feature of Ponorogo will fade away, and thus reog will be easily taken and claimed by other societies. Documentary movie as audio visual media is able to plainly eplain how reog dancers truly live. By using interview method and daily life document documentary, the controversy in the traditions could be dug transparently. Various opinions toward the erotic dance, liquor party, and homosexual relationship become a strength to trace the history of reog in Ponorogo. Hence, Indonesian people will not be hesitant that reog is an original culture owned by the Indonesians themselves since the time of their ancestors. However, reog is still an entertainment for common people, pleasure is the main purpose of it. Strong limitation toward the expression of art will eventually extinguish the people’s enthusiasm in the art itself. Abstract in Bahasa Indonesia: Reog merupakan kesenian khas daerah Ponorogo yang telah ada sejak berabad-abad yang lalu dan diwariskan secara turun-temurun di kalangan masyarakat Ponorogo hingga saat ini. Selain menyajikan tontonan yang menarik, kesenian reog ini ternyata juga sarat akan tradisi/kebiasaan yang telah dibawa sejak jaman nenek moyang, mulai dari gerakan tari yang erotis, mabuk-mabukan hingga hubungan sesama jenis/homoseksual. Tradisi tersebut identik dengan reog sebagai hiburan rakyat jelata yang bebas dan spontan, tak terikat aturan, sehingga seringkali menimbulkan kontroversi di kalangan masyarakat modern karena bertentangan dengan norma-norma masyarakat terutama norma kesusilaan dan kesopanan. Di sisi lain, setiap tradisi tersebut kaya dengan nilai-nilai luhur budaya yang harus dilestarikan untuk kelangsungan sejarah. Jika tidak, maka pernyataan bahwa reog adalah jati diri dan ciri khas Ponorogo akan luntur dan dapat mudah diambil/diklaim menjadi milik masyarakat lain. Film dokumenter sebagai media audio visual mampu memaparkan kepada masyarakat mengenai kehidupan pelaku reog Ponorogo sesungguhnya. Dengan menggunakan metode wawancara dan dokumentasi kehidupan sehari-hari, tradisi-tradisi yang kontroversial tersebut dapat digali secara transparan. Pendapat yang beragam tentang gerakan tari yang seronok, mabuk-mabukan hingga hubungan homoseksual justru menjadi kekuatan untuk mengetahui jejak sejarah reog di bumi Ponorogo. Dengan begitu masyarakat Indonesia takkan ragu lagi bahwa reog memang adalah aset kebudayaan asli milik bangsa Indonesia sejak nenek moyang. Bagaimanapun kesenian reog tetap merupakan hiburan rakyat, kesenangan adalah tujuan utama yang dicari. Ekspresi kesenian yang terlalu dibatasi akan mematikan antusiasme masyarakat terhadap kesenian tersebut. Kata kunci: reog ponorogo, film dokumenter, seni, budaya.
      PubDate: 2010-12-03
      Issue No: Vol. 14 (2010)
       
  • LITERACY AND SECONDARY ORALITY: (SEBUAH ANALISIS PERBANDINGAN KISAH
           ROMANTIS “A WALK TO REMEMBER” VERSI NOVEL DAN FILM)

    • Authors: Reny Triwardani, Obed Bima Wicandra
      Abstract: Electronic media has given birth to public life based on oral culture, though different from the previous understanding, in this case cited as the secondary oral form. The second difference is oral form can be said that the oral culture of the first (primary orality) is based on human physical, whereas the secondary orality is based on technology. It can be seen that the development of communication technology, especially electronic media resource uses audio as an important tool in communication and delivery of information. The forms of media in secondary orality are radio, television, movies, and other electronic media. This paper provides exposure to a comparison between written culture that manifests itself in a novel with a secondary orality embodied in a film. Both types of cultures used to study the novel and film of the same title, namely "A Walk To Remember" by Nicholas Sparks, in his novel in 1999 or in the movie with director Adam Shankman, released in 2002. Based on the indicators of the cultural characteristics of the two forms of writing and secondary orality, there has been a different reading of the work A Walk to Remember. The indicators that show differences are as follow: subjectivity/objectivity, situational/abstract and analytical, aggregative/stand alone, collaborative/authoritative knowledge, and grounded in observable/transcending barriers of time and place. In this form, the secondary orality through the film version has been able to overcome the limitations of audience involvement in reading the text due to the nature of audio visual. In contrast, in the form of novel writing provides the reader with its own pleasure in the freedom of imagination in the reading of text undertaken. in Bahasa Indonesia: Media elektronika telah melahirkan kembali kehidupan masyarakat yang berdasar atas budaya kelisanan, sekalipun berbeda dengan pengertian yang sebelumnya, dalam hal ini kemudian disebutkan sebagai bentuk kelisanan kedua. Perbedaan kedua bentuk kelisanan ini dapat dikatakan bahwa budaya lisan yang pertama (primary orality) berbasiskan fisik manusia, sedangkan kelisanan kedua berbasis kepada teknologi. Dalam hal ini, dapat dilihat bahwa perkembangan teknologi komunikasi, khususnya media elektronika memanfaatkan kembali sumber kelisanan sebagai alat penting dalam komunikasi dan penyampaian informasi. Bentuk-bentuk media dalam kelisanan kedua diantaranya adalah radio, televisi, film, dam media elektronika lainnya. Tulisan ini untuk memberikan paparan perbandingan antara budaya tulis yang mewujud pada novel dengan kelisanan kedua yang diwujudkan pada film. Kedua jenis budaya ini digunakan untuk mengkaji novel dan film dengan judul yang sama, yaitu “A Walk To Remember” yang ditulis oleh Nicholas Sparks dalam novelnya tahun 1999 atau pada filmnya dengan sutradara Adam Shankman yang dirilis pada tahun 2002. Berdasarkan indikator karakteristik kedua bentuk budaya tulis maupun kelisanan kedua, telah terjadi pembacaan yang berbeda dari sebuah karya A Walk to Remember. Indikator-indikator yang menunjukkan keberbedaan tersebut adalah sebagai berikut; Subyektifitas/Objektifitas, Situasional/Abstrak dan analitikal, Aggregative/ Stand alone, Collaborative/authoritative knowledge dan Grounded in observable/ transcending barriers of time and place. Dalam hal ini bentuk kelisanan kedua, melalui versi filmnya, telah mampu mengatasi keterbatasan keterlibatan penonton dalam melakukan pembacaan teks karena sifat audio visualnya. Sebaliknya, dalam bentuk karya tulis pada novelnya, tetap memberikan kenikmatan tersendiri bagi pembacanya dalam kebebasan imajinasi dalam pembacaan teks yang dilakukan. Kata kunci: kelisanan kedua, literacy, film, novel, A Walk To Remember.
      PubDate: 2010-09-08
      Issue No: Vol. 14 (2010)
       
  • KARAKTERISTIK VISUAL BUKU PEMBELAJARAN BAHASA MANDARIN-INDONESIA-INGGRIS
           UNTUK ANAK-ANAK USIA 4-7 TAHUN

    • Authors: Rachel Myrna Nathania Basuki, Listia Natadjaja, Hen Dian Yudani
      Abstract: In globalization, people are required to master languages other than their own mother tongues. Chinese Mandarin is one of foreign languages which often used as a communication tool in the world. Nowadays, it is also included in some Indonesia's education syllabuses. This learning book is made to help children in learning Chinese as a foreign language since their early childhood. The concept of this book is how to create a creative, communicative, and educative learning book for children. Hence, it is proposed to create an easier learning process and to initiate the children into creativity. This book uses two languages, English and Chinese with Bahasa as the teaching language. It also comprises a SWOT analysis method and open interviews with some professionals as supporting information in its design process. The design execution is made by creating some illustrations that are appropriate to children's interests, like people or animals in colorful illustrations, and simple strokes, which hopefully can motivate them to learn. This book design consists of four learning books and one introduction book of numbers, with a range of topics about children, their families, and their daily activities. Abstract in Bahasa Indonesia: Dalam globalisasi, masyarakat dituntut untuk menguasai bahasa lain selain bahasa ibu dan bahasa Inggris. Bahasa Mandarin adalah salah satu bahasa asing yang banyak digunakan sebagai alat komunikasi di dunia. Saat ini, bahasa Mandarin juga mulai banyak disertakan dalam silabus pendidikan di Indonesia. Oleh karena itu perlu dibuat buku pembelajaran untuk membantu anak-anak dalam mempelajari bahasa Mandarin sebagai bahasa asing sejak dini. Konsep buku sangatlah penting untuk membantu anak-anak dalam mempelajari bahasa Mandarin. Selain itu juga bertujuan untuk memudahkan proses belajar dan merangsang anak-anak untuk lebih kreatif. Buku ini dibuat menggunakan dua bahasa, yakni bahasa Inggris dan Mandarin, dengan bahasa pengantar Bahasa Indonesia. Dalam pembuatan buku pembelajaran bahasa Mandarin menggunakan metode analisa SWOT (Strengh, Weekness, Opportunity, and Threat) dan wawancara terbuka terhadap beberapa orang sebagai informasi pendukung dalam proses desain buku. Eksekusi desain dibuat dengan menciptakan ilustrasi yang sesuai dengan minat dan kesukaan anak, seperti gambar orang maupun hewan yang diwujudkan dalam gambar-gambar yang penuh warna dan garis-garis yang sederhana, dimana diharapkan dapat memotivasi anak untuk belajar. Setelah melalui proses penelitian, penulis merasa perlu membuat buku pembelajaran. Desain buku yang terdiri dari empat buku pembelajaran dan satu buku pengenalan angka, dengan topik mengenai anak dan keluarganya, serta anak dan aktivitas sehari-harinya. Kata kunci: Buku Pembelajaran, Bahasa, Inggris, Mandarin, Kreatifitas, anak-anak.
      PubDate: 2010-09-08
      Issue No: Vol. 14 (2010)
       
  • MAKNA TANDA PADA FESYEN PENGANTIN JAWA BERGAYA MODERN

    • Authors: Hendro Aryanto
      Abstract: With the advancement of time, traditional wedding fesyen has gone through development and modification. The changes can be observed through the make-up techniques, materials of the gowns, and the hair-dos, such as sanggul. This article is focused on the shift of the meaning in modern style Javanese wedding fesyen because of its development and modification. The analysis method uses Roland Barthes’ sign analysis. The conclusion shows that modern traditional Javanese wedding fesyen is a representation of cultural shifts and an accumulation of established values and modernization effects. The goal is to develop a higher self-image by reproducing the current situation and condition. Abstract in Bahasa Indonesia: Seiring dengan perjalanan waktu, fesyen pengantin tradisional mengalami perkembangan dan modifikasi. Perubahan bisa terlihat dari tata rias wajah, bahan gaun yang dipergunakan, dan sanggul. Fokus tulisan ini mengangkat tentang masalah pergeseran makna pada fesyen pengantin Jawa bergaya modern dikerenakan perkembangan dan modifikasi. Metode analisis menggunakan analisis tanda dari Roland Barthes. Hasil analisis menunjukkan bahwa fesyen pada pengantin tradisional bergaya Jawa modern, adalah representasi pergeseran budaya dan perpaduan dari nilai-nilai yang sudah pakem dengan efek modernisasi. Tujuannya adalah membangun citra diri yang lebih tinggi dengan mereproduksi kondisi dan situasi yang ada. Kata kunci: makna, tanda, fesyen, pengantin, jawa, modern.
      PubDate: 2010-09-08
      Issue No: Vol. 14 (2010)
       
  • AUGMENTED REALITY APPLICATIONS IN HAND-HELD DEVICES IN THE LIGHT OF
           BAUDRILLARD’S “SIMULACRA AND SIMULATION”

    • Authors: Erandaru Erandaru
      Abstract: Baudrillard merupakan salah satu tokoh dalam filsafat postmodern yang mengkritik kehadiran media dunia maya dalam budaya hidup manusia saat ini. Baudrillard melontarkan pendapat bahwa interaksi manusia dengan media tersebut tidak membawa manfaat. Lebih jauh lagi dia mengkhawatirkan bahwa masyarakat dapat menjadi obyek bagi media. kemampuan media tersebut untuk membentuk dunia impian yang dapat menarik masyarakat untuk semakin menjauh dari kehidupan nyata. Perkembangan terakhir dalam teknologi virtual telah memungkinkan kehadirannya secara luas di pasar dan dalam jangkaun daya beli konsumen melalui aplikasi augmented reality. Aplikasi dengan konsep untuk memungkinkan pengguna melihat dunia maya terintegrasi ke dalam dunia nyata. Suatu pendekatan yang berbeda dibandingkan dengan aplikasi yang menggunakan teknologi virtual reality pada umumnya yang berusaha untuk menghadirkan pengguna ke dalam dunia maya. Bukannya semakin menarik pengguna menjauh dari dunia nyata, aplikasi augmented reality justru semakin menarik pengguna untuk berinteraksi dengan dunia nyata. Walaupun masih terlalu dini untuk mengetahui seberapa jauh dampak teknologi augmented reality bagi masyarakat, pemahaman terhadap kritik yang dilontarkan oleh Baudrillard setidaknya mampu memberikan wawasan bagi pelaku desain media dalam memanfaatkan teknologi augmented reality dan menerapkannya sedemikian hingga membantu dalam meningkatkan wawasan dan kepedulian masyarakat terhadap dunia nyata. Abstract in Bahasa Indonesia: Baudrillard is one of postmodernist theorists that criticize the unreality of the culture which we live in. He suggests that human interactions with virtual reality media and unreal technologies, achieve nothing; He even fears that society will fall prey to these media subjectivity. The virtual reality media capability to produce simulated reality could mislead society into voluntary detachment with the real world. The latest development in virtual technology has made it available within the consumer market in the form of augmented reality application. An application based on a concept that merges virtual data within the physical environment, a different approach compared to common virtual reality technology where user is immersed within a virtual environment. Instead of detachment, augmented reality offers attachment with reality. While it is still too early to study augmented reality technology’s impact on society, a study on Baudrillard’s critiques will nevertheless gives a valuable insight on how designers could make use of augmented reality technology to shape society with a sense of consciousness of the real world. Keywords: Baudrillard, augmented reality applications.
      PubDate: 2010-09-08
      Issue No: Vol. 14 (2010)
       
  • TINJAUAN VISUAL GAMBAR UANG KERTAS INDONESIA

    • Authors: Baskoro Suryo Banindro
      Abstract: Images depicted on currency bills are works of art containing aesthetic value. They involve elements of letters, pictures, colors, and specialized printing techniques. Moreover, the images indicate information and even visual codes. Understanding art is attempt to interpret symbols used in a certain culture. One can express and implement one’s experience in forms or images. In images of currency bills, their visual expressions can reflect ideas, concepts, or political legitimation and ideology. Thus, this article investigates symbolic meanings through visual semiotic descriptions of images in Indonesian currency bills. Abstract in Bahasa Indonesia: Gambar pada uang kertas adalah salah satu hasil karya seni rupa, di dalam uang kertas terkandung nilai estetika yang berhubungan dengan masalah keindahan visual, antara lain tersusun atas elemen huruf, gambar, warna serta teknik cetak yang khas. Selain itu gambar pada uang kertas sarat dengan muatan informasi, atau bahkan kode visual. Memahami seni adalah usaha membaca simbol yang digunakan dalam budaya masyarakat tertentu, manusia dapat mengekspresikan dan memancarkan pengalamannya dalam bentuk ujud atau rupa. Dalam gambar uang kertas, ekspresi visual yang dituangkan dapat mencerminkan gagasan, ide, konsep atau muatan politik terkait legitimasi dan ideologi. Melalui uraian semiotika visual gambar uang kertas yang pernah beredar di Indonesia, akan dikaji makna-makna simbolik bahasa rupa di dalamnya. Kata kunci: bahasa rupa, semiotika visual, Uang Kertas Indonesia.
      PubDate: 2010-09-08
      Issue No: Vol. 14 (2010)
       
  • ROMANTIKA MANUSIA MELAYU DI BANDAR RAYA (IMAJI-IMAJI KEHIDUPAN KOTA DALAM
           KOMIK KARTUN MALAYSIA-INDONESIA)

    • Authors: Ary Budiyanto, Obed Bima Wicandra
      Abstract: A big city or a metropolitan is a symbol of modernization and globalization. What happens in a big city in this article is stories of ordinary people struggling for a decent living in the dusts of global modernity in a big Malay city. These people are often village migrants. The attraction of modern city lifestyle offers cultural addiction that is foreign for the migrants, even if sometimes it is considered a threat culturally from where they are from. Eventually, adaptation, adoption, and even apathy towards values, symbol, and the city’s global modernity create diverse lifestyles, romances, and identities of its citizens. This article observes how the citizens, the city, and its romance present in the reflections of some Malaysian and Indonesian cartoonists, like in the visualization of the comic “Mat Som” by Dato Lat, and the comic script Kee’s World (1989) of Malaysia and Benny and Mice of Indonesia. Cartoonists, as social observers, tell us how the city is recognized in the lives of the Malay people in two different countries. Abstract in Bahasa Indonesia: Kota Besar atau Bandar Raya modern adalah simbol dari modernisasi dan globalisasi. Apa yang terjadi di sebuah kota besar di artikel ini adalah cerita-cerita orang biasa yang mencari kehidupan yang layak dalam debu modernitas global di kota besar dunia melayu. Tak jarang mereka adalah orang yang datang dari kampung (atau luar daerah). Pikatan gaya hidup kota modern ini menawarkan candu budaya yang ‘asing’ bagi pendatang, meski tak jarang hal itu dianggap ‘ancaman’ bagi budaya ‘asal’. Akhirnya, adaptasi, adopsi, maupun, antipati pada nilai-nilai, simbol, modernitas global perkotaan itupun menciptakan keberagaman gaya hidup, romantika, dan identitas penghuni kota. Artikel ini akan melihat bagaimana penghuni kota, kota, dan romantikanya hadir dalam renungan-renungan para kartunis malasyia dan Indonesia seperti, di antaranya, dalam visualisasinya komik “Mat Som” karya Dato Lat dan komik Script Kee’s World (1989) Malaysia dan Benny & Mice Indonesia. Kartunis, sebagai pengamat sosial, menuturkan pada kita bagaimana kota dihayati dalam kehidupan bangsa melayu di dua negara yang berbeda. Kata kunci: romantika kota, narasi visual, komik, Malaysia, Indonesia.
      PubDate: 2010-09-08
      Issue No: Vol. 14 (2010)
       
  • PENGARUH MEDIA KOMUNIKASI MASSA TERHADAP POPULAR CULTURE DALAM KAJIAN
           BUDAYA/CULTURAL STUDIES

    • Authors: Bing Bedjo Tanudjaja
      Abstract: Cultural studies (including social studies) differs than the conventional modern cultural studies. Cultural studies cannot be examined and understood based on modern epistemology, because the basic asumptions of the two are very much influenced by postmodern thoughts. There is incommensurability between the two because of the different worldview and language games. If modern cultural studies is objective, universal, monocultural, and has single identity, then cultural studies sees culture as plural, multicultural, complex, and has constructed identity, that is dynamic, different, interactive, and intensively effecting others. Pop culture, which has more attention in cultural studies, is a place where consciousness is being fought for. This situation cannot be separated from the growth of the information and the globalization eras that tend to bring the world into a global world. Abstract in Bahasa Indonesia: Cultural Studies atau kajian budaya adalah model kajian budaya (termasuk sosial) yang berbeda dengan kajian budaya modern (konvensional). Cultural Studies tidak dapat diteliti dan pahami berdasarkan epistemologi modern, karena asumsi-asumsi dasar kedua kajian ini sangat dipengaruhi oleh pemikiran posmodern. Ada prinsip ketidakterbandingan (incommensurability) antara kajian budaya modern dengan Cultural studies, karena perbedaan pandangan dunia dan language games-nya. Jika karakter kajian budaya modern bersifat obyektif, universal, monokultural, dun beridentitas tunggal, maka cultural Studies memandang budaya bersifat plural, multikultural, kompleks, identitas terkonstruksi, dinamis, berbeda, interaktif, dan saling berpengaruh secara intens. Budaya pop, yang mendapat perhatian berlebih dalam kajian budaya, merupakan medan di mana kesadaran diperebutkan. Situasi ini tentu tidak dapat dipisahkan dan berkembangnya era informasi dan era globalisasi yang cenderung membawa dunia menjadi desa global. Kata kunci: cultural studies, multikultural, budaya pop.
      PubDate: 2009-12-04
      Issue No: Vol. 14 (2009)
       
  • PERANAN EYE CATHCER DALAM IKLAN DAN MASALAH PENCARIANNYA

    • Authors: Nova Kristiana
      Abstract: Eye Cathcer represents one of the determinant factors for succeeding in an advertisement. The main objective in advertising is to get positive response from the consumer, to use the product offered, through advertisements and to position the product image in the consumer’s mind. Advertisements that go to and fro have various styles from the products offered. Advertisers also must think deeper on how to attract consumers so that the products offered are appropriate towards the sales target. This article will discuss the attraction in the different kinds of ads and how to look for attraction in the ads. Abstract in Bahasa Indonesia: Eye cathcer merupakan salah satu faktor penentu berhasil tidaknya suatu iklan. Tujuan utama beriklan adalah memunculkan respons positif konsumen untuk memakai produk yang ditawarkan melalui iklan dan memposisikan image produk di benak konsumen. Iklan yang berlalu-lalang memiliki berbagai macam daya tarik dari produk yang ditawarkan. Pengiklan juga harus berpikir lebih dalam untuk menarik konsumen supaya produk yang ditawarkan sesuai dengan target penjualan. Tulisan ini akan membahas daya tarik apa saja yang ada dalam iklan dan bagaimana cara mencari daya tarik yang ada pada iklan tersebut. Kata kunci: eye cathcer, iklan, konsumen
      PubDate: 2009-12-04
      Issue No: Vol. 14 (2009)
       
  • KOMPOSISI DALAM SENI FOTOGRAFI

    • Authors: Yekti Herlina
      Abstract: The art of photography is not only a simple record of the real world, but becomes a complex creation of art and an image medium that also gives meaning and message. The quality of a good photo is not only becouse of its clear picture but also because of its proper lighting and also its good composition. Composition contains the elements of an image in a format. An image can be produced more effectively and meaningfully with an understanding of good composition. Composition is an instrument for a photographer to take the viewer beyond the experience of “peeking through someone else’s window. Abstract in Bahasa Indonesia: Seni fotografi bukan sekedar merupakan rekaman apa adanya dari dunia nyata, tapi menjadi karya seni yang kompleks dan media gambar yang juga memberi makna dan pesan. Foto yg baik tidak cukup hanya tajam gambarnya, tetapi juga tepat pencahayaannya dalam bidang gambar dengan komposisi yang baik pula. Komposisi adalah rangkaian elemen gambar dalam suatu ruang/format. Dengan komposisi yang baik, foto akan lebih efektif menampilkan pesan pembuatnya dan menimbulkan dampak yang lebih kuat. Komposisi foto merupakan salah satu cara bagaimana fotografer mengekspresikan dirinya. Kata kunci: seni, fotografi, komposisi.
      PubDate: 2009-12-04
      Issue No: Vol. 14 (2009)
       
  • REPRESENTASI STEREOTYPE PEREMPUAN DALAM IKLAN LAYANAN MASYARAKAT
           “SAHABAT PEDULI ANTI KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA”

    • Authors: Deddi Duto Hartanto
      Abstract: Ads in mass media very often publish images of women with their various feminine attractiveness; whether it be the soft hair, or black, shiny, and straight hair, the thin and tall body, small and pointy nose, thin lips, large chest, and silky white skin. Ads whether consciously or not, have shaped standardized perceptions where they are directed towards certain groups. Abstract in Bahasa Indonesia: Dalam media massa terutama iklan sering memuat ilustrasi citra perempuan dengan berbagai daya tarik feminitasnya, apakah itu rambut halus, hitam, berkilau, dan lurus, bentuk badan langsing dan tinggi, hidung yang mancung-mungil, bibir tipis, payudara menonjol, dan berkulit kuning keputih-putihan. Iklan secara sadar atau tidak telah membentuk standar pikiran akan sesuatu menuju pada suatu kelompok tertentu. Kata kunci: perempuan dalam iklan, representasi stereotype perempuan
      PubDate: 2009-12-04
      Issue No: Vol. 14 (2009)
       
  • GAYA PSYCHEDELIA COUNTER CULTURE AMERIKA KOMODIFIKASI INDONESIA KINI

    • Authors: Baskoro Suryo Banindro
      Abstract: The art of psychedelia is an example of art that uses a nation’s cultural consciousness as a source of expression of the past. Conceptually, the spirit of this art is to connect the modern movement with the effects of drug use. The American youths utilized this movement as counter culture that gave the birth to the flower generation in a settled community. Psychedelic style which in the beginning was an identity, a symbol of anti settledness, and Uncle Sam’s youth’s fight against its politics in the 1960’s. At the end it became the signs of times. The zeitgeist movement in the next decade entered Indonesia with new packaging that transforms into comodification that can be applied to various media through popular culture of its youths. Abstract in Bahasa Indonesia: Seni penggunaan kesadaran budaya bangsa untuk diubah sebagai sumber pengungkapan yang terjadi di masa lalu salah satu contohnya ialah “seni psychedelic”. Secara konseptual jiwa seni ini ialah menghubungkan kepada pergerakan modern yang berhubungan dengan perasaan yang diakibatkan oleh pengaruh obat bius. Kaum muda Amerika meman¬faat¬kan pergerakan ini sebagai budaya tanding “counter culture” yang melahirkan “generasi bunga” di komunitas yang telah mapan. Gaya psychedelia yang pada mulanya dijadikan “jati diri” dan simbol anti kemapanan dan perlawanan kawula muda negara “Paman Sam” terhadap kebijakan politik di negaranya tahun 1960an, pada akhirnya menjadi sebuah penanda jaman. Gelombang “zeitgeist” ini pada dekade berikutnya masuk ke Nusantara dengan “kemasan baru” yang menjelma dalam bentuk komodifikasi yang aplikatif di berbagai media melalui budaya popular yang lekat di hati generasi muda Indonesia. Kata kunci: gaya, psychedelic, counter culture, komodifikasi.
      PubDate: 2009-12-04
      Issue No: Vol. 14 (2009)
       
  • ANALISIS EFEKTIVITAS IKLAN-IKLAN TV BERTEMA LOCAL CONTENT DI INDONESIA
           TAHUN 2004

    • Authors: Bernadette Dian Arini Maer, Bing Bedjo Tanudjaja, Baskoro Suryo Banindro
      Abstract: In the globalization era, local content TV commercials are considered to be more and more important. This thesis aims to analyze how far the local content TV commercials can be accepted by the Indonesian audience, who are culturally diverse; moreover, this thesis would analyze how these commercials contribute positively to the advertisers. Abstract in Bahasa Indoensia: Dalam era globalisasi, iklan bertema local content semakin dianggap penting. Karya tulis ini menganalisis sejauh mana iklan televisi bertema local content dapat diterima oleh masyarakat Indonesia yang memiliki kemajemukan budaya tinggi, serta memberikan kontribusi bagi pengiklan. Kata kunci: Efektivitas, iklan televisi, local content, Indonesia
      PubDate: 2009-12-04
      Issue No: Vol. 14 (2009)
       
  • KAJIAN KRITIS PRAKTIK ANAK MENONTON FILM KARTUN DI TELEVISI DALAM
           AKTIFITAS KESEHARIAN DI BANYUWANGI

    • Authors: Reny Triwardani, Obed Bima Wicandra
      Abstract: This research was held in 2006 for six months. It has been done because the audience was considering become the power to determine the Television program strength. As we know the audience has an important position in mediated communication, they are equal with communicator or text. The research of Television audience is to complete the studies about Television; however text will be meaningful if they deliver by the new communicator. Children are the research object in order to know how much Television become a part of daily life, especially Television programmed that broadcast the cartoon. This research involves three children with different social culture as an informant that lives in Banyuwangi. The research focus is analyze the practical of watching television activity of those three children and what kind of matter that negotiate and integrated in their daily life. Abstract in Bahasa Indonesia: Penelitian yang dilakukan pada tahun 2006 selama enam bulan ini dilakukan karena penonton dianggap menjadi kekuatan penentu bagi keberlangsungan suatu program televisi. Seperti kita ketahui bahwa penonton memiliki posisi penting dalam proses komunikasi bermedia (mediated communication) sebanding dengan komunikator maupun teks dan penelitian audiens televisi dilakukan untuk melengkapi kajian tentang televisi, karena bagaimanapun juga pesan (teks) yang disampaikan oleh pembuat pesan (komunikator) baru akan bermakna ketika sampai ke mata penonton. Anak menjadi objek penelitian untuk mengetahui seberapa banyak televisi menjadi bagian dari keseharian hidup mereka, terutama acara televisi yang menayangkan film-film kartun. Dengan menggunakan 3 anak dengan latar belakang sosial dan budaya yang berbeda sebagai informan yang berada di Banyuwangi, fokus perhatian dalam analisis ini adalah praktik menonton program film kartun yang dilakukan ketiga anak tersebut dan hal-hal apa sajakah yang ternegosiasikan di dalam praktik menonton yang terintegrasi dalam keseharian mereka. Kata kunci: audiens, anak, televisi, menonton, film kartun.
      PubDate: 2009-04-29
      Issue No: Vol. 14 (2009)
       
  • INTERPRETASI KONSEP KREATIVITAS ANTARA AKADEMISI DAN PRAKTISI DESAIN
           KOMUNIKASI VISUAL PADA KUALITAS KARYA KREATIF PEMENANG CITRA PARIWARA
           KATEGORI PRINT AD (2003-2006)

    • Authors: Alex Waloeyo, Yohanes Moeljadi Pranata, Ani Wijayanti Suhartono
      Abstract: How far is the difference and the similarity of academicians dan practicioners’s interpretation in difine the advertising creativity’s concept and to appreciate the creative quality of Citra Pariwara’s winner advertisement works print ad category, from 2003 until 2006. An Advertisement work can be categorized for being creative, if it contains the element of novelty, freshness, innovative, original, and can fulfill it’s early destination, which is to rise the product’s sale or even to solve it’s audience’s problem. Abstract in Bahasa Indonesia: Sejauh mana perbedaan dan persamaan interpretasi, antara akademisi dan praktisi Desain Komunikasi Visual, dalam mendefinisikan konsep kreativitas periklanan dan menilai kualitas kreatif karya iklan pemenang Citra Pariwara kategori iklan cetak, mulai tahun 2003-2006. Sebuah karya iklan dapat dikategorikan kreatif jika memiliki unsur kebaruhan (novel), segar, inovatif original, dan mampu memenuhi tujuan awal dibuatnya iklan tersebut, baik untuk meningkatkan penjualan produk maupun untuk memecahkan masalah target audiens-nya. Kata kunci: Interpretasi, konsep kreativitas, iklan cetak pemenang Citra Pariwara.
      PubDate: 2009-04-29
      Issue No: Vol. 14 (2009)
       
 
 
JournalTOCs
School of Mathematical and Computer Sciences
Heriot-Watt University
Edinburgh, EH14 4AS, UK
Email: journaltocs@hw.ac.uk
Tel: +00 44 (0)131 4513762
Fax: +00 44 (0)131 4513327
 
Home (Search)
Subjects A-Z
Publishers A-Z
Customise
APIs
Your IP address: 174.129.66.66
 
About JournalTOCs
API
Help
News (blog, publications)
JournalTOCs on Twitter   JournalTOCs on Facebook

JournalTOCs © 2009-2016