Publisher: Universitas Airlangga   (Total: 51 journals)   [Sort by number of followers]

Showing 1 - 51 of 51 Journals sorted alphabetically
Amerta Nutrition     Open Access  
Berkala Akuntansi dan Keuangan Indonesia     Open Access  
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin / Periodical of Dermatology and Venereology     Open Access  
Biomolecular and Health Science J.     Open Access   (Followers: 1)
Critical, Medical and Surgical Nursing J.     Open Access  
Dental J. (Majalah Kedokteran Gigi)     Open Access   (Followers: 2)
Etnolingual     Open Access   (Followers: 2)
Folia Medica Indonesiana     Open Access  
Fundamental and Management Nursing J.     Open Access  
Global & Strategis     Open Access   (Followers: 2)
Indonesian J. of Occupational Safety and Health     Open Access   (Followers: 3)
Indonesian J. of Public Health     Open Access   (Followers: 2)
Indonesian J. of Tropical and Infectious Disease     Open Access  
INSAN Jurnal Psikologi dan Kesehatan Mental     Open Access  
Intl. J. of Applied Business     Open Access   (Followers: 1)
J. of Developing Economies     Open Access   (Followers: 5)
J. of Halal Product and Research     Open Access   (Followers: 1)
J. of Information Systems Engineering and Business Intelligence     Open Access   (Followers: 1)
J. of Parasite Science     Open Access   (Followers: 2)
J. of Public Health Research and Community Health Development     Open Access  
J. of Stem Cell Research and Tissue Engineering     Open Access  
J. of Vocational Health Studies     Open Access   (Followers: 1)
Jurist-Diction     Open Access  
Jurnal Administrasi Kesehatan Indonesia     Open Access  
Jurnal Berkala Epidemiologi     Open Access   (Followers: 1)
Jurnal Biometrika dan Kependudukan     Open Access   (Followers: 1)
Jurnal Biosains Pascasarjana     Open Access  
Jurnal Ekonomi dan Bisnis Islam (J. of Islamic Economics and Business)     Open Access  
Jurnal Ekonomi Syariah Teori dan Terapan     Open Access  
Jurnal Farmasi dan Ilmu Kefarmasian Indonesia     Open Access  
Jurnal Hubungan Internasional     Open Access  
Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan / Scientific J. of Fisheries and Marine     Open Access  
Jurnal Ilmu Ekonomi Terapan     Open Access  
Jurnal Kesehatan Lingkungan     Open Access  
Jurnal Kimia Riset     Open Access  
Jurnal Lakon     Open Access  
Jurnal Manajemen Teori dan Terapan | J. of Theory and Applied Management     Open Access  
Jurnal Medik Veteriner     Open Access  
Jurnal Ners     Open Access  
Jurnal PROMKES : Jurnal Promosi Kesehatan dan Pendidikan Kesehatan Indonesia (The Indonesian J. of Health Promotion and Health Education)     Open Access  
Jurnal Respirasi     Open Access  
Juxta : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Universitas Airlangga     Open Access  
Majalah Obstetri & Ginekologi     Open Access  
Masyarakat, Kebudayaan dan Politik     Open Access   (Followers: 1)
Media Gizi Indonesia     Open Access   (Followers: 1)
Media Iuris     Open Access  
Mozaik Humaniora     Open Access  
Notaire     Open Access  
Pediomaternal Nursing J.     Open Access  
Record and Library J.     Open Access   (Followers: 8)
Yuridika     Open Access   (Followers: 1)
Similar Journals
Journal Cover
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin / Periodical of Dermatology and Venereology
Number of Followers: 0  

  This is an Open Access Journal Open Access journal
ISSN (Print) 1978-4229
Published by Universitas Airlangga Homepage  [51 journals]
  • Efek Penambahan Fototerapi Sinar Biru Terhadap Manifestasi Klinis Akne
           Vulgaris Derajat Sedang

    • Authors: Dhyah Aksarani Handamari, M. Yulianto Listiawan, Linda Astari
      Pages: 185 - 192
      Abstract: Latar Belakang: Penggunaan terapi lini pertama pada akne vulgaris (AV) kadang memberikan hasil yang kurang memuaskan dan juga menimbulkan efek samping.Banyak peneliti melaporkan respons positif pasien AV sedang (AVS) yang diobati dengan fototerapi sinar biru. Penggunaan fototerapi sinar biru menurunkan prosentase jumlah lesi lebih besar dibandingkan tanpa fototerapi.Tujuan: Membuktikan efek penambahan fototerapi sinar biru terhadap manifestasi klinis AVS. Metode: Desain penelitian adalah eksperimental analitik dengan menggunakan metode uji klinis terkontrol, pemilihan pasangan serasi, dan desain paralel yang membandingkan penambahan fototerapi sinar biru terhadap terapi standar (kontrol) akne vulgaris derajat sedang. Subjek penelitian adalah semua pasien AVS yang memenuhi kriteria, yang datang berobat di Unit Rawat Jalan Kesehatan Kulit dan Kelamin Divisi Kosmetik RSUD Dr. Soetomo Surabaya pada Desember 2017 sampai Februari 2018. Hasil: Efek penambahan fototerapi sinar biru terhadap penurunan jumlah komedo dan  papul/pustul pada AVS tidak berbeda bermakna dibandingkan tanpa penambahan fototerapi sinar biru, namun berbeda bermakna pada penurunan jumlah nodul. Efek penambahan fototerapi sinar biru terhadap penurunan porfirin dan jumlah sebum pada AVS tidak berbeda bermakna dibandingkan tanpa penambahan fototerapi sinar biru, namun berbeda bermakna pada penurunan jumlah pori-pori. Simpulan: Penambahan fototerapi lebih baik pada lesi inflamasi dan membantu penurunan jumlah pori pasien AV.
      PubDate: 2018-12-05
      Issue No: Vol. 30, No. 3 (2018)
       
  • Faktor Risiko Kandidiasis Vulvovaginalis (KVV)

    • Authors: Dewi Puspitorini, Linda Astari, Yuri Widya, Sylvia Anggraeni, Evy Ervianti, Cita Rosita Sigit Prakoeswa, Sunarso Suyoso
      Pages: 193 - 200
      Abstract: Latar Belakang: Kandidiasis vulvovaginalis (KVV) merupakan penyakit inflamasi vulva dan vagina yang disebabkan oleh spesies Candida. Penyakit ini menyerang hampir tiga per empat wanita usia subur. Terdapat berbagai faktor yang berpengaruh terhadap kejadian penyakit ini. Penanganan yang baik terhadap faktor-faktor tersebut diharapkan dapat menurunkan angka kejadian KVV. Tujuan: Mengevaluasi faktor-faktor yang memengaruhi KVV. Metode: Penelitian ini bersifat deskriptif cross-sectional untuk mengamati faktor-faktor predisposisi KVV pada 12 April 2017 hingga 11 Juli 2017 di Unit Rawat Jalan RSUD Dr Soetomo Surabaya. Hasil: Didapatkan 25 pasien KVV dengan distribusi usia terbanyak adalah usia 15-24 tahun, lama keluhan terbanyak adalah 1-9 bulan, riwayat predisposisinya antara lain diabetes melitus, kondisi penurunan sistem imun, dan yang terbanyak adalah pemakai douching vagina. Hasil pemeriksaan klinis didapatkan semua pasien dengan vulva dan vagina eritema dan edema. Hasil pemeriksaan sediaan basah didapatkan blastospora positif dengan pseudohifa negatif sebesar 20%, blastospora positif dengan pseudohifa positif sebesar 48%, blastospora negatif dengan pseudohifa negatif sebesar 32%, dan tidak didapatkan blastospora negatif dengan pseudohifa positif. Pemeriksaan mikroskopis pengecatan Gram didapatkan blastospora positif dengan pseudohifa negatif sebesar 16%, blastospora negatif dengan pseudohifa positif sebesar 4%, blastoposra positif dengan pseudohifa positif sebesar 52%, dan blastospora negatif dengan pseudohifa negatif sebesar 28%. Didapatkan 100% sampel tumbuh koloni pada media Saboroud Dextrose Agar (SDA). Simpulan: KVV disebabkan oleh spesies Candida, yang tumbuh 100% pada media SDA. Terdapat faktor-faktor predisposisi yang sangat berpengaruh terhadap kejadian KVV.
      PubDate: 2018-12-05
      Issue No: Vol. 30, No. 3 (2018)
       
  • Hubungan Lingkungan Fisik Rumah dan Nonfisik dengan Kadar Antibodi IgM
           Anti Phenolic Glicolipid –1 (PGL-1) pada Anak dari Pasien Kusta

    • Authors: Ratnawati Ratnawati, M. Zen Rahfiludin, Martha Irene Kartasurya
      Pages: 201 - 207
      Abstract: Latar Belakang: Penyakit kusta merupakan masalah di Indonesia yang menempati urutan ke-3 di dunia. Anak dari pasien kusta mempunyai risiko tinggi tertular penyakit kusta. Kadar antibodi IgM anti Phenolic Glicolipid-1 (PGL-1) dapat digunakan untuk mendiagnosis kusta subklinik. Tujuan: Mengevaluasi hubungan lingkungan fisik dan nonfisik rumah dengan kadar antibodi IgM anti-PGL-1 pada anak dari pasien kusta di perkampungan kusta Jepara. Metode: Penelitian observasional analitik potong lintang dengan subjek penelitian 41 anak dari pasien kusta yang berusia 6-14 tahun dan metode consecutive sampling. Pengumpulan data mengunakan kuesioner terstruktur untuk menilai intensitas kontak dan lama kontak, mengukur kelembapan, pencahayaan, suhu dan kepadatan rumah, dan pemeriksaan sampel darah untuk diperiksa kadar antibodi IgM anti-PGL-1 secara Enzyme Linked Immuno Assay (ELISA). Analisis data mengunakan korelasi rank Spearman dan Fishers’s Exact test. Hasil: Terdapat 10 anak (24,4%) yang mengalami kusta subklinik (kadar antibodi IgM anti-PGL-1 ≥ 600 m/ML). Terdapat hubungan lingkungan fisik rumah: kelembapan (r=-0,366 ; p=0,009) dan suhu rumah (r=0,342 ; p=0,014) dengan kadar antibodi IgM anti-PGL-1. Pencahayaan, kepadatan rumah, ventilasi, jenis lantai, dinding rumah, dan lingkungan nonfisik tidak berhubungan dengan kadar antibodi IgM anti-PGL-1. Simpulan: Faktor lingkungan fisik rumah suhu dan kelembapan berhubungan dengan kadar antibodi IgM anti-PGL-1, semakin tinggi suhu rumah semakin tinggi kadar antibodi IgM anti-PGL-1 dan semakin rendah kelembapan rumah semakin tinggi kadar antibodi IgM anti-PGL-1.
      PubDate: 2018-12-05
      Issue No: Vol. 30, No. 3 (2018)
       
  • Penuaan Kulit: Patofisiologi dan Manifestasi Klinis

    • Authors: Ahmad Zahruddin, Damayanti Damayanti
      Pages: 208 - 215
      Abstract: Latar belakang: Proses penuaan kulit merupakan proses fisiologis yang tidak dapat dihindari. Kulit merupakan bagian tubuh yang paling sering terpapar oleh faktor-faktor luar terutama radiasi sinar ultraviolet, dan karena terlihat oleh orang lain sehingga akan memengaruhi kehidupan sosial individu. Tujuan: Mengetahui patofisiologi dan manifestasi klinis penuaan kulit. Telaah Kepustakaan: Penuaan kulit yang terjadi pada seorang individu merupakan gabungan dari penuaan kulit intrinsik dan penuaan kulit ekstrinsik. Penuaan kulit intrinsik merupakan proses alami yang terjadi seiring bertambahnya usia, dipengaruhi oleh ras, jenis kelamin, gen, hormon, dan sebagainya, sedangkan penuaan kulit ekstrinsik dipengaruhi oleh berbagai faktor dari lingkungan, seperti gaya hidup, polusi, serta terutama paparan sinar ultraviolet (photoaging). Kedua proses penuaan tersebut akan menyebabkan peningkatan produksi radikal bebas, kerusakan sel, penurunan sintesis matriks ekstraseluler, serta peningkatan aktivitas enzim yang mendegradasi kolagen. Simpulan: Dasar patofisiologi penuaan kulit terutama disebabkan oleh peningkatan radikal bebas, akibat pertambahan usia maupun paparan sinar ultraviolet, sehingga menyebabkan kerusakan sel dan jaringan pada lapisan-lapisan dan adneksa kulit yang akan tampak sebagai manifestasi klinis penuaan kulit.
      PubDate: 2018-12-05
      Issue No: Vol. 30, No. 3 (2018)
       
  • Perbandingan Kadar 8-Hydroxydeoxyguanosine (8-OhdG) Urin pada Dermatitis
           Atopik Anak dan Non-Dermatitis Atopik Anak

    • Authors: Shinta Dewi Rahmadhani Soetojo, Iskandar Zulkarnain, Trisniartami Setyaningrum
      Pages: 216 - 223
      Abstract: Latar belakang: Etiologi dan patogenesis dermatitis atopik (DA) masih belum jelas hingga saat ini. Banyak faktor diduga dapat memengaruhi terjadinya DA, salah satunya adalah peningkatan Reactive Oxygen Species (ROS) yang dapat dinilai dengan mengukur konsentrasi 8-hydroksi-2’-deoksiguanosine (8-OHdG) urin.Penelitian analitik mengenai hubungan 8-OHdG urin pasien DA dan non-DA masih jarang ditemukan dan sampai saat ini belum ada publikasi yang serupa di Indonesia. Tujuan: Membandingkan kadar 8-OHdG urin pada pasien DA anak yang sedang eksaserbasi dan non-DA anak. Metode: Desain penelitian adalah analitik observasional dengan  membandingkan kadar 8-OHdG sebagai penanda urin pada pasien DA dan  non-DA anak sebagai kontrol. Populasi penelitian adalah semua pasien anak (£12 tahun) dengan diagnosis DA yang sedang mengalami eksaserbasi dan non-DA yang dikonfirmasi melalui anamnesis, manifestasi klinis, dan kriteria diagnosis Hanfin Rajka di Divisi Dermatologi Anak Unit Rawat Jalan (URJ) Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Soetomo Surabaya pada November 2017 sampai Februari 2017. Hasil: Nilai rerata kadar 8-OHdG urin pada pasien DA adalah 79,77 ± 31,79 ng/mg kreatinin. Nilai rerata kadar 8-OHdG urin pada pasien kontrol adalah 16,92 ± 11,18 ng/mg kreatinin. Kadar 8-OHdG urin pada pasien DA lebih besar daripada kelompok kontrol. Simpulan: Pasien DA mengalami stress oksidatif. 8-OHdG merupakan produk yang banyak ditemukan di dalam tubuh dan mudah terdeteksi akibat kerusakan DNA oksidatif, karena itu dianggap sebagai penanda yang berguna dan relevan untuk stress oksidatif.
      PubDate: 2018-12-05
      Issue No: Vol. 30, No. 3 (2018)
       
  • Perbandingan Nilai Transepidermal Water Loss Pada Lesi Makula Anestetika
           dan Nonanestetika Pada Pasien Kusta

    • Authors: Indah Sari LD, Indropo Agusni, Diah Mira I
      Pages: 224 - 230
      Abstract: Latar belakang: Kusta adalah penyakit infeksi kronis, disebabkan oleh M. leprae, penyakit ini menyerang sistem saraf perifer, kulit, dan jaringan lain. Gangguan kusta pada saraf tepi menyerang juga saraf autonomik yang akan mengganggu kelenjar keringat yang dapat menyebabkan kondisi kulit kering. Transepidermal Water Loss (TEWL) adalah penilaian terhadap jumlah air yang menguap dari kulit. Semakin tinggi TEWL penguapan semakin besar, kemungkinan terdapat kerusakan pada barier kulit atau produksi keringat. Tujuan: Mengukur nilai TEWL pada lesi makula anestetika dan nonanestetika pada pasien kusta. Metode: Penelitian analitik observasional dengan populasi pasien kusta di Poli Kulit dan Kelamin RSUD. Dr. Soetomo Surabaya. Sesuai dengan kriteria inklusi, kemudian dilakukan pemeriksaan TEWL pada pasien tersebut. Hasil: Dari 22 pasien kusta didapatkan perbedaan rerata yang signifikan antara TEWL makula anestetika dan nonanestetika (p= 0,0001). Distribusi nilai TEWL pada makula anestetika 0-<10 g/m2/h (59,1%), kisaran 10-<15 g/m2/h (27,3%), 15-<25 g/m2/h (13,6%). Simpulan: Terdapat perbedaan rerata yang signifikan antara TEWL makula anestetika dan nonanestetika.
      PubDate: 2018-12-05
      Issue No: Vol. 30, No. 3 (2018)
       
  • Penurunan Skor Melasma Area and Severity Index (MASI) antara Asam
           Traneksamat Topikal dan Modifikasi Formula Kligman dengan Plasebo Topikal
           dan Modifikasi Formula Kligman pada Pasien

    • Authors: Frea Astrilia Tamarina, Sawitri Sawitri, Hari Sukanto
      Pages: 231 - 239
      Abstract: Latar Belakang: Melasma merupakan kelainan pigmentasi yang dapat menyebabkan gangguan kualitas hidup. Modifikasi Formula Kligman digunakan sebagai terapi standar melasma di RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Penelitian retrospektif mengenai distribusi kemajuan penyakit melasma berdasarkan skor melasma area and severity index (MASI) di RSUD Dr. Soetomo Surabaya pada periode 2012-2014, menunjukkan jika hanya 44,4% yang mengalami penurunan skor pada kunjungan ulang. Asam traneksamat (AT) telah dilaporkan beberapa studi sebagai terapi adjuvan yang dapat menurunkan skor MASI dan memberikan perbaikan klinis pigmentasi. Penggunaannya secara topikal dianggap aman, tanpa efek samping serius. Tujuan: Mengevaluasi perbedaan selisih penurunan skor MASI antara pemberian AT topikal dan modifikasi Formula Kligman dengan pemberian plasebo topikal dan modifikasi Formula Kligman pada pasien melasma. Metode: Penelitian eksperimental analitik dengan uji klinis acak terkontrol, tersamar tunggal, yang membandingkan AT topikal dan modifikasi Formula Kligman (kelompok perlakuan) dengan plasebo topikal dan modifikasi Formula Kligman (kelompok kontrol), setelah pemakaian minggu ke-4, 8, dan 12 pada pasien melasma. Hasil: Studi melibatkan 14 pasien kelompok perlakuan dan 14 pasien kelompok kontrol. Hasil menunjukkan perbedaan bermakna setelah pemakaian minggu ke-4 (p=0,032) pada selisih penurunan skor MASI antara kelompok perlakuan dan kontrol. Tidak terdapat perbedaan bermakna setelah pemakaian minggu ke-8 (p=0,052) dan minggu ke-12 (p=0,057). Kedua agen memiliki mekanisme kerja yang berbeda dengan titik tangkap yang berbeda. Simpulan: Terdapat perbedaan bermakna setelah pemakaian minggu ke-4 pada selisih penurunan skor MASI antara pemberian AT topikal dan modifikasi Formula Kligman dengan pemberian plasebo topikal dan modifikasi Formula Kligman. Diperlukan penelitian lanjutan untuk membandingkan dan menentukan efikasi dari masing-masing agen.
      PubDate: 2018-12-05
      Issue No: Vol. 30, No. 3 (2018)
       
  • Profil Pasien Kondiloma Akuminata

    • Authors: Riyana Noor Oktaviyanti, Jusuf Barakbah
      Pages: 240 - 247
      Abstract: Latar belakang: Kondiloma Akuminata (KA) merupakan penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) yang sering terjadi di seluruh dunia.KA disebabkan oleh infeksi Human Papilloma Virus (HPV) dengan gejala berupa lesi tunggal atau  multipel pada daerah anogenital yang disertai dengan gejala gatal, discharge vagina, dan perdarahan. Prevalensi KA mengalami peningkatan diseluruh dunia. Tujuan: mengevaluasi gambaran pasien dan pelayanan pasien KA di Divisi IMS Unit Rawat Jalan (URJ) Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Soetomo Surabaya periode 2012-2014. Metode: Studi retrospektif dari data sekunder rekam medik pasien baru KA selama periode 3 tahun. Hasil: Pasien baru KA terbanyak tahun 2013 sebanyak 9,7% dari total kunjungan pasien IMS. Pasien perempuan lebih banyak daripada laki-laki dengan kelompok umur terbanyak pada usia 25-44 tahun (62,9%), dan klinis terbanyak bentuk kondiloma tanpa komplikasi yang multipel dengan penatalaksanaan  Trichloroacetic Acid (TCA) (84,3%). Simpulan: KA merupakan penyakit terbanyak kedua di divisi IMS dengan jenis kelamin terbanyak perempuan pada kelompok umur 25-44 tahun dan klinisnya berupa kondiloma tanpa komplikasi dengan penatalaksanaan terbanyak dengan TCA. Terdapat peningkatan dalam angka pemeriksaan penunjang yang dilakukan dibandingkan dengan tahun 2009-2011.
      PubDate: 2018-12-05
      Issue No: Vol. 30, No. 3 (2018)
       
  • Profil Psoriasis Vulgaris di RSUD Dr. Soetomo Surabaya: Studi Retropektif

    • Authors: Karina Dyahtantri Pratiwi, Damayanti Damayanti
      Pages: 248 - 254
      Abstract: Latar belakang: Psoriasis vulgaris adalah penyakit kulit inflamasi kronis yang ditandai dengan plak merah berbatas tegas tertutup skuama tebal sebagai akibat dari gangguan proliferasi dan diferensiasi epidermis.  Sifat kronis dari psoriasis vulgaris sangat mempengaruhi kualitas hidup pasien. Profil pasien psoriasis vulgaris diperlukan untuk mengevaluasi morbiditas akibat psoriasis vulgaris, sehingga dapat meningkatkan mutu pelayanan. Tujuan: Mengevaluasi profil pasien psoriasis vulgaris meningkatkan mutu pelayanan terhadap pasien. Metode: Studi retrospektif dari data rekam medis pasien psoriasis vulgaris yang dirawat di Instalasi Rawat Inap (IRNA) Kemuning I dan II Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Soetomo Surabaya selama periode 1 Januari 2016 sampai 31 Desember 2017. Hasil: Sebanyak 36 pasien psoriasis vulgaris didapatkan dari pengamatan selama 2 tahun. Faktor pencetus kekambuhan lesi terbanyak adalah fokal infeksi gigi pada 30,6% pasien. Luas lesi >30% Body Surface Area (BSA) terdapat pada 55,6% pasien. Terapi sistemik yang diberikan berupa metotreksat (55,6%) dan siklosporin (25%); sedangkan 19,4% tidak diberikan terapi sistemik terkait kontraindikasi individual. Kesimpulan: Diagnosis psoriasis vulgaris ditegakkan berdasarkan anamnesis dan gejala klinis, didukung dengan hasil histopatologi. Terapi sistemik berupa metotreksat atau siklosporin, disertai dengan terapi topikal dan terapi suportif, memberikan hasil perbaikan skor PASI 50% - 75% pada 58,3% pasien.
      PubDate: 2018-12-05
      Issue No: Vol. 30, No. 3 (2018)
       
  • Studi Retrospektif: Alopesia Areata

    • Authors: Agatha Anindhita Ayu Ardhaninggar, Trisniartami Setyaningrum
      Pages: 255 - 263
      Abstract: Latar Belakang: Alopesia areata (AA) adalah penyakit yang ditandai dengan kerontokan rambut pada kulit kepala secara tiba-tiba. Penegakan diagnosis AA dengan pemeriksaan fisik dan dermoskopi cukup mudah, namun penatalaksanaan pasien AA cenderung sulit.Terapi hanya merangsang pertumbuhan rambut yang baru, tetapi tidak memengaruhi perjalanan penyakit. Tujuan: Mengevaluasi gambaran umum dan penatalaksanaan pasien AA. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif retrospektif dalam kurun waktu 5 tahun yaitu tahun 2012-2016 di Divisi Kosmetik URJ Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Hasil:  Jumlah pasien baru AA di Divisi Kosmetik Medik URJ Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Soetomo Surabaya periode 2012-2016 sebesar 0,6% dari 4875 pasien Divisi Kosmetik Medik. Sebesar 70% pasien baru AA adalah pria dan didominasi oleh kelompok usia 25-44 tahun (40%). Keluhan pasien AA terbanyak berupa kerontokan atau kebotakan rambut setempat pada 27 pasien (90%). Lama sakit terbanyak pasien baru AA adalah 0-6 bulan, yaitu sebanyak 20% pasien dengan riwayat tanpa pengobatan sebelumnya sebanyak 76,7%, kriteria diagnosis terbanyak adalah area kecil tidak berambut yang didapatkan pada 90% pasien. Subtipe AA yang paling banyak ditemukan adalah subtipe klasik sebanyak 90% pasien. Terapi AA yang banyak digunakan adalah pemberian topikal minoxidil (96,7%) dan suplemen kombinasi. Sebanyak 46,7% pasien melakukan kontrol ulang. Simpulan: AA banyak menyerang pria pada usia produktif. Terapi pertama yang diberikan adalah topikal minoxidil. Hasil terapi pada pasien yg melakukan kontrol ulang 50% menunjukkan perbaikan yaitu pertumbuhan rambut baru pada lesi AA.
      PubDate: 2018-12-05
      Issue No: Vol. 30, No. 3 (2018)
       
  • Tinjauan Ulang Hipotesis Higiene

    • Authors: Anang Endaryanto
      Pages: 264 - 274
      Abstract: Latar Belakang: Hipotesis higiene mendalilkan bahwa infeksi memberikan perlindungan terhadap alergi. Hubungan terbalik antara infeksi dan alergi belum banyak dikonfirmasi secara langsung oleh studi epidemiologi. Belum ada review yang konsisten tentang hal ini. Tujuan: Tulisan ini memberikan informasi dan analisis mengenai berbagai hasil penelitian yang relevan dalam rangka memberi gambaran tentang peran Hipotesis higiene pada alergi. Telaah Kepustakaan: Ditemukan kesesuaian hipotesis higiene dengan fakta klinis dan epidemiologis masa kini; serta relevansi konsep keseimbangan respons imun Th1/Th2 dalam hubungan antara infeksi dengan penyakit alergi saat ini setelah adanya temuan baru tentang respons imun Treg, Th17, Th9, serta Th22. Simpulan: Hipotesis Higiene menjadi salah satu cara untuk menjelaskan perubahan global terbaru dalam prevalensi alergi, teori mengenai imunopatogenesis lebih lanjut yang konsisten dengan bukti epidemiologi masih diperlukan.
      PubDate: 2018-12-05
      Issue No: Vol. 30, No. 3 (2018)
       
  • Pseudolimfoma Kutis: Laporan Kasus

    • Authors: Kartika Kemala, Wening Setyani, Dyah Ayu Mira Oktarina, Yohanes Widodo Wirohadidjojo
      Pages: 275 - 278
      Abstract: Latar Belakang: Pseudolimfoma kutis adalah proses limfoproliferatif jinak poliklonal pada kulit, yang menyerupai limfoma kutis secara klinis dan atau histopatologi. Pseudolimfoma kutis bermanifestasi dalam bentuk nodul atau plak keunguan pada wajah. Pada kasus yang dicurigai sebagai pseudolimfoma kutis, bagian terpenting adalah diagnosis untuk membedakan lesi tersebut jinak atau ganas. Diagnosis memerlukan kombinasi antara pemeriksaan klinis, histopatologis, dan imunohistokimia. Tujuan: Melaporkan satu kasus pseudolimfoma kutis yang menitikberatkan pada masalah penegakan diagnosis. Kasus: Seorang wanita usia 27 tahun, datang dengan keluhan nodul asimptomatik berwarna merah pada pipi sejak 2 bulan yang lalu. Pemeriksaan histopatologi didapatkan sebukan limfosit padat membentuk folikel limfoid dengan centrum germinativum yang sebagian mendestruksi kelenjar appendices kulit dan meluas hingga jaringan lemak subkutis. Pemeriksaan imunohistokimia menunjukkan hasil positif dengan pewarnaan cluster of differentiation (CD) 20+, CD3+, dengan dominasi pada CD3+. Pewarnaan CD4+ menunjukkan hasil positif dan CD8+ dengan hasil negatif. Penatalaksanaan: Pasien diterapi dengan injeksi triamsinolon asetonid 10 mg/ml intralesi, dan memberikan hasil yang memuaskan setelah 3 kali injeksi. Simpulan: Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan histopatologi, dan imunohistokimia, telah ditegakkan kasus pseudolimfoma kutis pada seorang wanita 27 tahun. Terapi dengan injeksi triamsinolon asetonid 10 mg/ml intralesi memberikan hasil yang memuaskan.
      PubDate: 2018-12-05
      Issue No: Vol. 30, No. 3 (2018)
       
 
JournalTOCs
School of Mathematical and Computer Sciences
Heriot-Watt University
Edinburgh, EH14 4AS, UK
Email: journaltocs@hw.ac.uk
Tel: +00 44 (0)131 4513762
 


Your IP address: 18.234.97.53
 
Home (Search)
API
About JournalTOCs
News (blog, publications)
JournalTOCs on Twitter   JournalTOCs on Facebook

JournalTOCs © 2009-