for Journals by Title or ISSN
for Articles by Keywords
help
Journal Cover Jurnal Manusia dan Lingkungan
  [0 followers]  Follow
    
  This is an Open Access Journal Open Access journal
   ISSN (Print) 0854-5510 - ISSN (Online) 2460-5727
   Published by Universitas Gadjah Mada Homepage  [28 journals]
  • Indeks Subyek

    • Authors: Editor Editor
      PubDate: 2016-09-27
      DOI: 10.22146/jml.22535
      Issue No: Vol. 23, No. 3 (2016)
       
  • Index Subject

    • Authors: Editor Editor
      PubDate: 2016-09-27
      DOI: 10.22146/jml.22536
      Issue No: Vol. 23, No. 3 (2016)
       
  • PENCEMARAN KADMIUM DI SEDIMEN WADUK SAGULING PROVINSI JAWA BARAT (Cadmium
           Pollution in Saguling DAM Sediment West Java Province)

    • Authors: Eka Wardhani, Dwina Roosmini, Suprihanto Notodarmojo
      Pages: 285 - 294
      Abstract: ABSTRAKSungai Citarum Hulu merupakan sumber air utama Waduk Saguling. Kualitas air sungai ini telah mengalami penurunan bahkan terpantau beberapa logam berat terkandung dalam air Sungai Citarum. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pencemaran Cd di sedimen Waduk Saguling pada dua musim yang berbeda. Lokasi penelitian dilakukan di 10 titik di Waduk Saguling. Penelitian mengkaji perbedaan konsentrasi Cd pada Bulan Juli 2015 mewakili musim kemarau dan Bulan November 2015 mewakili musim hujan. Sedimen yang diperiksa merupakan sedimen permukaan pada kedalaman 0-10 cm pada dasar waduk. Konsentrasi Cd di sedimen dianalisis menggunakan ICP-MS. Tingkat pencemaran sedimen akibat Cd dinilai dengan menggunakan dua metode yaitu: faktor contaminasi/contamination factor, CF dan indeks pencemaran logam/Metal Pollution Index, MPI. Berdasarkan hasil penelitian konsentrasi Cd dalam air selama satu dekade mulai tahun 2008-2014 cenderung mengalami peningkatan, dengan konsentrasi berkisar antara 0 mg/L-0,14 mg/L. Konsentrasi rata-rata Cd di sedimen Waduk Saguling pada Bulan Juli 2015 mewakili musim kemarau sebesar 13,54 mg/kg, sedangkan pada Bulan November 2015 mewakili musim hujan sebesar 21,08 mg/kg. Konsentrasi Cd di sedimen Waduk Saguling tidak memenuhi baku mutu kualitas sedimen berdasarkan baku mutu yang berlaku di Australian dan New Zaeland mengingat Indonesia belum memiliki baku mutu kualitas sedimen yaitu sebesar 1,5 mg/kg. Hasil penilaian kualitas sedimen dengan menggunakan metode CF di semua titik penelitian di Waduk Saguling termasuk kategori terkontaminasi sangat tinggi sedangkan berdasarkan hasil penilaian dengan MPI kualitas sedimen Waduk Saguling termasuk kategori tercemar oleh logam berat Cd. Hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi pengelolaan Waduk Saguling mengenai kondisi pencemaran logam berat yang telah terjadi di waduk tersebut.
      ABSTRACTCitarum river is the main water source for Saguling Dam. The river waters quality has decreased even observed some heavy metals contained in the water. The aims of this study to assess Cd contamination in Saguling sediments in two different seasons. Location of the study conducted at 10 points in Saguling. The study evaluated the differences concentration of Cd in July 2015 represents the dry season and November 2015 represents the rainy season. Surface sediments samples taken from 0-10 cm a depth. Cd concentrations in sediments were analyzed using ICP-MS. Sediment contamination level assessed using two methods which are Contamination Factor (CF), and Metal Pollution Index (MPI). Based on the research Cd concentration in water for a decade beginning in 2008-2014 tended to increase, with concentrations ranging from 0 mg/L-0.14 mg/L. Average concentrations of Cd in sediments Saguling in July 2015 represents the dry season was 13.54 mg/kg, while in November 2015 amounted to 21.08 mg/kg. Cd concentrations in Saguling sediments not meet the quality standards based on Australian and New Zaeland standard of 1.5 mg/kg. Sediments quality assessment using the CF the category of very high contamination at all samples points in Saguling, while based on the MPI sediment quality Saguling polluted by heavy metals Cd. Results of this study can be considered for the management Saguling on the condition that heavy metal pollution occurs in the reservoir.

      PubDate: 2016-09-27
      DOI: 10.22146/jml.18802
      Issue No: Vol. 23, No. 3 (2016)
       
  • DAMPAK HIDROKARBON AROMATIK TERHADAP EKOSISTEM MANGROVE DI KAWASAN
           BINALATUNG KOTA TARAKAN KALIMANTAN UTARA (Impact of Aromatic Hydrocarbon
           on Mangrove Ecosystem in Binalatung Area Tarakan City North Kalimantan)

    • Authors: Dori Rachmawani, Fredinan Yulianda, Cecep Kusmana, Mennofatria Boer, Ety Parwati
      Pages: 295 - 303
      Abstract: ABSTRAKKontaminan yang disebabkan oleh hidrokarbon aromatik pada lingkungan mangrove menjadi perhatian serius, karena dampak yang ditimbulkan dapat berakibat berkurangnya fungsi sistem ekologi mangrove secara menyeluruh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan dampak hidrokarbon aromatik terhadap ekosistem mangrove. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus 2014 hingga bulan Februari 2015. Hasil penelitian menunjukkan bahwa senyawa hidrokarbon aromatik terdiri atas; stirena 2,4,6-trimetil, xilena, stirena, fenantrena dan naftalena 2-benzil. Dampak yang ditimbulkan berupa terjadinya kematian massal terhadap mangrove. Alternatif penanganan kandungan hidrokarbon aromatik pada mangrove adalah dengan metode fitoremediasi. ABSTRACTContaminants of aromatic hydrocarbon on mangrove zone has been a concern seriously, due to the impacts will reduce the overall ecological function of mangrove. The study aims to know kinds and impact of aromatic hydrocarbons of mangrove ecosystem. The study was conducted from August 2014 to February 2015.The results showed that aromatic hydrocarbon compounds consist of; styrene 2,4,6-trimethyl, xylene, styrene, phenantrena dan naftalena 2-benzyl. The impact is dieback of mangrove. Alternative handling aromatic hydrocarbons of mangroves is phytoremediation method.

      PubDate: 2016-09-27
      DOI: 10.22146/jml.18801
      Issue No: Vol. 23, No. 3 (2016)
       
  • ELIMINASI LOGAM Cu OLEH SERASAH Avicennia marina DI LINGKUNGAN TAMBAK
           BANDENG WILAYAH TAPAK TUGUREJO, SEMARANG (Cu Metal Elimination by
           Avicennia marina Litter Leaf in the Environment of Milkfish Fishpond in
           Tapak Village, Tugurejo Semarang)

    • Authors: Nana Kariada Tri Martuti, Budi Widianarko, Bambang Yulianto
      Pages: 304 - 309
      Abstract: ABSTRAKSerasah mempunyai peran penting dalam transfer logam dari tanaman ke dalam media lingkungan hidupnya. Tujuan penelitian mengkaji tingkat eliminasi logam Cu melalui proses defoliasi serasah daun Avicennia marina di tambak bandeng. Bahan penelitian terdiri dari air dan sedimen tambak serta serasah daun mangrove dari jenis A. marina. Destruksi logam Cu pada air, sedimen dan serasah menggunakan Tefflon bomb extraction, dilanjutkan dengan pengukuran logam Cu menggunakan AAS. Penelitian dilakukan selama 90 hari pada tambak bandeng wilayah Tapak Semarang, di dalamnya terdapat tumbuhan mangrove A. marina. Kadar logam Cu pada air tambak penelitian antara 0,02±0,007 - 0,05±0,008 mg/L. Konsentrasi logam Cu pada sedimen tambak penelitian berkisar antara 15,20±1,77 - 25,03 ±4,77 mg/kg, Faktor Konsentrasi (FK) air dan sedimen tambak penelitian antara 500.52 - 897,70. Serasah daun A. marina mengandung logam Cu 2,346±0,536 – 5,285±2,091 mg/kg. Hasil penelitian menunjukkan terdapat kemampuan serasah A. marina dalam mengembalikan logam Cu ke lingkungan hidupnya. Perbandingan antara serasah dengan air dan sedimen menunjukkan bahwa kemampuan serasah dalam mengembalikan Cu ke perairan (46,92 - 228,72) lebih besar dari pada ke sedimen lingkungan hidupnya (0,094 - 0,318).
      ABSTRACTAvicennia marina litter plays an important role in the heavy metal transfer from the plant into its environment. It occurs due to its ability in eliminating the metal from its tissue, as its adaptation to metal – polluted environment. The purpose of this research was to examine the elimination level of Cu through a defoliation process of A. marina into milkfish pond. The objects of the research were water, sediment and A. marina litter. The destruction of Cu in water, sediment and litter was accomplished using Tefflon bomb extraction, followed by measurement of Cu using AAS. The study was conducted in milkfish pond in Tapak region at Semarang city for 90 days, in which the A. marina plants grow. The value of copper content in the water pond was between 0.02 ± 0.007 to 0.05 ± 0.008 mg / L. The concentration of Cu in the sediment ranged from 15.20 ± 1.77 to 25.03 ± 4.77 mg / kg, the concentration factor (CF) of water and waste sediment with water and sediment ranged from 500.52 - 897, 70. The content of Cu in A. marina litter was 2.346 ± 0.536 to 5.285 ± 2.091 mg / kg. The result of the research showed the ability of A. marina litter to reconstruct copper to its environment. The comparison between the ability of A. marina litter to reinstate Cu to water (46.92 to 228.72) is greater than that of the sediment to its environment (.094-.318).

      PubDate: 2016-09-27
      DOI: 10.22146/jml.18800
      Issue No: Vol. 23, No. 3 (2016)
       
  • KONTAMINASI MERKURI PADA SAMPEL LINGKUNGAN DAN FAKTOR RISIKO PADA
           MASYARAKAT DARI KEGIATAN PENAMBANGAN EMAS SKALA KECIL KRUENG SABEE
           PROVINSI ACEH (Mercury Contamination in the Environmental Samples and Risk
           Factors in Inhabitants of the Small Scale Gold)

    • Authors: Sofia Sofia, Adi Heru Husodo
      Pages: 310 - 318
      Abstract: ABSTRAKKegiatan penambangan emas skala kecil dengan teknik amalgamasi dapat memberikan peluang introduksi merkuri (Hg) ke lingkungan dan manusia. Penelitian kontaminasi Hg pada air minum, ikan, rambut kepala manusia, dan faktor risiko pada manusia telah dilakukan di wilayah Krueng Sabee, Provinsi Aceh. Metode pengambilan dan pengujian sampel yang mengandung Hg dilakukan dengan prosedur SNI, EPA dan WHO. Rancangan cross sectional survey dilakukan pada empat desa dengan 72 responden yang dipilih secara acak. Wawancara dilakukan menggunakan kuesioner terstruktur untuk mendapatkan informasi terkait faktor risiko kesehatan. Pengukuran konsentrasi Hg untuk sampel air dan ikan dilakukan dengan Cold Vapor Atomic Absorption Spectrophotometer dan untuk sampel rambut kepala menggunakan Inductively Coupled Plasma Mass Spectrometry. Analisis data dilakukan dengan analisis varian, uji t sampel bebas, dan uji t satu sampel. Model prediksi dihasilkan menggunakan analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian ini menunjukkan konsentrasi Hg pada sampel air sumur sebesar 0,24 ± 0,25 µg/L; sampel ikan: Rastrellinger kanagurta,149,46 ± 2,00 µg/g, Selaroides sp, 58,6 ± 3,01 µg/g, Euthynnus affinis, 46,3 ± 2,98 µg/g; dan pada rambut kepala mulai dari 11,2 ± 4,02 µg/g hingga 48,3 ± 22,29 µg/g. Faktor-faktor risiko yang berpengaruh terhadap konsentrasi Hg pada responden adalah status bekerja di Krueng Sabee, lokasi, lama tinggal, status pekerja tambang dan lama penggunaan pembakar amalgam. Faktor-faktor risiko ini memberi peran sebesar 45,8% terhadap akumulasi Hg di dalam rambut kepala responden. ABSTRACTSmall-scale gold mining activities with amalgamation process can contribute the entry of mercury (Hg) into environment and humans. Research on Hg contamination in drinking water, fish, human head hair, and risk factors has been conducted in the area of Krueng Sabee, Aceh Province. Methods of samples collection and Hg concentrations testing conducted by SNI, EPA and WHO procedures. A cross sectional survey was conducted in four villages with 72 respondents which were randomly selected. The interviews were conducted using a structured questionnaire to obtain information related to health risk factors. Measurement of Hg concentration in drinking water and fish samples were conducted by Cold Vapor Atomic Absorption Spectrophotometer and for head hair sample using Inductively Coupled Plasma Mass Spectrometry. Data analysis was performed by analysis of variance, independent samples t-test and t-test of one sample. Predictive models generated using multiple linear regression analysis. The results showed Hg concentration in well water was 0.24 ± 0.25 µg/g; in fish samples were: Rastrellinger kanagurta, 149.46 ± 2.00 µg/g, Selaroides sp, 58.6 ± 3.01 µg/g, Euthynnus affinis, 46.3 ± 2.98 µg/g; and in head hair ranging from 11.2 ± 4.02 µg/g to 48.3 ± 22.29 µg/g. Risk factors that were correlated with respondent’s head hair Hg concentration were working in Krueng Sabee, village location, length of stay, role in mining process, and length of contact with amalgamation combustion. These risk factors giving a role of 45.8% to the accumulation of Hg in the head hair of respondents. 
      PubDate: 2016-09-27
      DOI: 10.22146/jml.18803
      Issue No: Vol. 23, No. 3 (2016)
       
  • PENGARUH PENUTUPAN MANGROVE TERHADAP PERUBAHAN GARIS PANTAI DAN INTRUSI
           AIR LAUT DI HILIR DAS CIASEM DAN DAS CIPUNEGARA, KABUPATEN SUBANG (Effect
           of Mangrove Vegetation Cover to the Shoreline Change and Seawater
           Intrusion at Downstream of Ciasem)

    • Authors: Andi Gustiani Salim, Harris Herman Siringoringo, Budi Hadi Narendra
      Pages: 319 - 326
      Abstract: ABSTRAKPerubahan penggunaan lahan dari hutan ke penggunaan lainnya seringkali diikuti oleh penurunan fungsi tanah sebagai pengatur tata air. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh tutupan mangrove terhadap perubahan garis pantai dan intrusi air laut pada hilir DAS. Penelitian difokuskan pada penentuan jenis penggunaan lahan pantai melalui interpretasi citra satelit dan pengecekan lapangan, analisis kondisi fisik tanah, pengamatan intrusi air laut, dan analisis perubahan garis pantai akibat abrasi atau ekresi. Hasil penelitian menunjukkan pada periode tahun 1989 hingga 2013, tambak yang ditanami mangrove di Kabupaten Subang mengalami penurunan luas dari 3402,6 ha menjadi 2384,9 ha, sebaliknya terjadi peningkatan luas tambak tanpa mangrove dari 5745 ha menjadi 8741,5 ha. Analisis perubahan garis pantai menunjukkan adanya abrasi di Ujung Pamanukan dan Teluk Ciasem mencapai 1,2 km ke arah daratan. Akresi dijumpai di Teluk Blanakan dan Muara Cipunagara mencapai 1,3 km dalam kurun waktu 1989 – 2013, sedangkan di Muara Sungai Cipunagara mencapai 1,7 km. Air tanah di Desa Muara dan Desa Legon Wetan termasuk air agak payau karena memiliki nilai DHL yang lebih besar dari 1500 µS/cm dan TDS di Legon Wetan > 1000 ppm, sedangkan di Muara TDS nya mendekati 1000 ppm. Perbandingan konsentrasi khlorida-bikarbonat di Desa Muara dan Desa Legon Wetan menunjukkan angka R > 1 sehingga tingginya kadar garam pada air tanah diakibatkan oleh intrusi air laut. Hal sebaliknya terjadi di Desa Tegalurung yang penggunaan pantainya didominasi tambak bermangrove memiliki nilai DHL dan TDS air tanah yang masuk dalam klasifikasi air tawar. ABSTRACTChanges in land use from forest to other uses are often followed by a decrease in soil functions as a regulator of the water system. This research aimed to study the effect of mangrove cover to a change of a coastline and sea water intrusion in the downstream watershed. The research were focused on determining the type of land use shore via satellite image interpretation and field inspections, analysis of soil physical conditions, observation of seawater intrusion, and analysis of shoreline change due to abrasion or accretion. The results showed in the period of 1989 to 2013, mangrove ponds in Subang decreased from 3402.6 ha to 2384.9 ha, whereas an increase in pond area without mangroves was from 5745 ha to 8741.5 ha. Analysis of a shoreline change showed abrasion in Ujung Pamanukan and Ciasem gulf, it reached 1.2 km inland. Accretion was found in the Blanakan gulf reached 1.3 km in the period of 1989-2013, while at the Cipunagara estuary reached 1.7 km. The ground water in the Muara and Legon Wetan village included brackish water because it had the DHL that was greater than 1500 μS/cm and TDS in Legon Wetan reached > 1000 ppm, whereas TDS in Muara village closed to 1,000. Comparison of bicarbonate-chloride concentrations in the Muara and Legon Wetan village showed R > 1 so that high levels of salt in groundwater is caused by seawater intrusion. On the other hand, there was occur in the Tegalurung village that the use of shores was dominated by mangrove ponds had DHL and TDS value groundwater that was classified as plain water.
      PubDate: 2016-09-27
      DOI: 10.22146/jml.18805
      Issue No: Vol. 23, No. 3 (2016)
       
  • PERANAN EKOSISTEM MANGROVE DI KOTA PESISIR BENGKULU DALAM MITIGASI
           PEMANASAN GLOBAL MELALUI PENYIMPANAN KARBON (The Role of Mangrove
           Ecosystem in the Coastal City of Bengkulu in Mitigating Global Warming
           through Carbon sequestration)

    • Authors: Gunggung Senoaji, Muhamad Fajrin Hidayat
      Pages: 327 - 333
      Abstract: ABSTRAKPemanasan global saat ini menjadi isu lingkungan utama dan keberadaan ekosistem mangrove ternyata mempunyai peranan yang cukup penting dalam mitigasi pemanasan global. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui luasan dan status ekosistem mangrove, komposisi vegetasi penyusunnya, dan kandungan karbonnya di Pesisir Kota Bengkulu. Metode penelitian yang digunakan adalah telaah peta untuk mengetahui sebaran, luasan dan status ekosistem mangrove; dan survey lapangan untuk mengetahui komposisi penyusun ekosistem mangrove dan kandungan karbon tersimpannya. Survey lapangan dilakukan dengan membuat 57 plot pengamatan. Pada setiap plot diamati jenis dan dimensi vegetasi sesuai dengan tingkatan pertumbuhan. Kandungan karbon tersimpan ditentukan melalui perhitungan biomassa total pohon dengan mempertimbangkan nilai faktor ekspansi biomassa, fraksi karbon, dan massa jenis kayu. Hasil analisis peta menunjukkan bahwa luas sebaran ekosistem mangrove di Pesisir Kota Bengkulu ± 214,62 ha. Status kawasan seluas 116,24 ha berada di dalam kawasan hutan Taman Wisata Alam Pantai Panjang-Pulau Bai; dan 98,38 ha berada di luar kawasan hutan. Vegetasi pohon dan pancang penyusun ekosistem mangrove yang ditemukan hanya 9 jenis, yakni Rhizophora apiculata, Sonneratia alba, Bruguiera gymnoriza, Xylocarpus granatum, Avicennia alba, Hibiscus tiliaceus, Lumnitzera littoreae, Ceriops tagal dan Acrostichum aureum. Kandungan karbon tersimpan pada tegakan ekosistem mangrovenya adalah sebesar 18,53 ton/ha. ABSTRACTGlobal warming is currently a major environmental issue and the mangrove ecosystem has an important role in mitigation of global warming. This study aimed to determine the extent and legal status, vegetation composition, and carbon storage of mangrove ecosystems in the coastal area of Bengkulu. Methods applied in this study included mapping, spatial analysis and field surveys. Carbon storage was determined by calculating the total biomass of the mangrove tree by considering the value of biomass expansion factors, carbon fractions and wood density. The results showed that the area of mangrove ecosystem in the coastal area of Bengkulu was about 214.62 hectares; in which 116.24 hectares within the Pantai Panjang-Pulau Baai Nature Tourism Park and 98.38 hectares outside the nature park area. Nine species were found on the mangrove area, i.e. Rhizophora apiculata, Sonneratia alba, Bruguiera gymnoriza, Xylocarpus granatum, Avicennia alba, Hibiscus tiliaceus, Lumnitzera littoreae, Ceriops tagal and Acrostichum aureum. The total carbon stored in the stand of mangrove was 18.53 tons/ha.
      PubDate: 2016-09-27
      DOI: 10.22146/jml.18806
      Issue No: Vol. 23, No. 3 (2016)
       
  • KEHILANGAN KARBON AKIBAT DRAINASE DAN DEGRADASI LAHAN GAMBUT TROPIKA DI
           TRUMON DAN SINGKIL ACEH (Carbon Loss from Drainaged and Degradation of
           Tropical Peatland in Trumon and Singkil, Aceh)

    • Authors: Aswandi Aswandi, Ronggo Sadono, Haryono Supriyo, Hartono Hartono
      Pages: 334 - 341
      Abstract: ABSTRAKEkosistem hutan gambut tropika merupakan penyimpan karbon potensial, tetapi konversi lahan dan penebangan tidak lestari menyebabkan ekosistem ini juga menjadi sumber emisi karbon ke atmosfer. Pengaruh perubahan penutupan lahan dan pembangunan drainase terhadap dinamika muka air, penurunan tanah dan kehilangan karbon masih belum banyak diketahui pada tipologi gambut pesisir dengan bentang lahan yang sempit. Penelitian dilaksanakan pada berbagai tipe penutupan lahan gambut di Trumon dan Singkil, Provinsi Aceh mulai Mei 2013 hingga Oktober 2014. Penyimpanan dan kehilangan karbon dihitung berdasarkan bobot isi, kadar abu, karbon organik tanah, dan kedalaman tanah. Hasil penelitian menunjukkan perubahan penutupan lahan dan pembangunan drainase mempengaruhi tata air, penurunan tanah, dan kehilangan karbon sebesar 38,54 – 58,52%. Penurunan permukaan tanah tertinggi sebesar 5,6 cm/tahun terjadi pada lahan dengan bobot isi rendah dan intensitas drainase yang tinggi. Kehilangan karbon dari degradasi lahan gambut melepaskan sekitar1,352 ton CO2 eq/ha/tahun.  ABSTRACTTropical peat forest is one of significant atmospheric carbon sequester, but land conversion and illegal logging affects carbon stocks and transform these ecosystem into source of carbon emissions. The influence of land use change and drainage on water table fluctuation, soil subsidence and carbon loss are insufficiently known especially on typhology of narrow marine peatland. A study was conducted in Trumon and Singkil, Aceh Province from May 2012 until October 2014 in various peat land use types. Carbon stocks and carbon loss were calculated from data of bulk density, ash and carbon content, and peat depth. Results showed that land use types and distance from drainage influences the level of water table depth, subsidence rate, and carbon loss 38.54 – 58.52%. The highest subsidence rate occurred on peatlands which low bulk density and highly drainage intensity. Carbon loss from peat degradation released flux 1.352 ton CO2 eq/ha/year, highly correlated with measured rates of subsidence, depth of water table and bulk density.
      PubDate: 2016-09-27
      DOI: 10.22146/jml.18807
      Issue No: Vol. 23, No. 3 (2016)
       
  • KARAKTERISTIK DAN POTENSI PERAIRAN SEBAGAI PENDUKUNG PERTUMBUHAN LAMUN DI
           PERAIRAN TELUK BUYAT DAN TELUK RATATOTOK, SULAWESI UTARA (The
           Characteristics and Potential of Water to Support the Seagrass Abundance
           at Buyat and Ratatotok Bay Waters)

    • Authors: Restu Nur Afi Ati, Terry Louise Kepel, Mariska Astrid Kusumaningtyas, Desy Maria Helena Mantiri, Andreas Albertino Hutahaean
      Pages: 342 - 348
      Abstract: ABSTRAKPenelitian ini dilakukan untuk mengetahui karakteristik dan potensi perairan Teluk Buyat dan Teluk Ratatotok guna mendukung potensi sumberdaya hayati ekosistem laut dan pesisir, khususnya ekosistem lamun. Penelitian dilakukan pada Juni 2013 pada 6 stasiun di Teluk Buyat dan 4 stasiun di Teluk Ratatotok. Parameter yang diukur in-situ dengan menggunakan alat water quality meter adalah pH, salinitas dan suhu. Parameter nitrat, fosfat dan klorofil-a dianalisis dengan menggunakan metode APHA. Data tutupan lamun diperoleh dengan metode transek kuadrat sesuai Seagrass Watch Method. Hasil pengamatan dipetakan secara spasial menggunakan Ocean Data View. Analisis hubungan antara parameter perairan dan tutupan lamun mengunakan Principal Component Analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu, salinitas dan klorofil-a pada perairan berperan penting pada tutupan lamun dan secara umum kondisi perairan Teluk Buyat dan Teluk Ratatotok masih dalam kategori baik dan subur serta layak untuk kehidupan biota laut, khususnya ekosistem lamun. ABSTRACTThe aim of this research is to identify the characteristics and potential of Buyat Bay and Ratatotok Bay waters to support natural resources in marine and coastal ecosystems, especially seagrass ecosystem. The research was conducted in June 2013, at 6 stations in Buyat Bay and 4 stations in Ratatotok Bay. The in-situ parameters measured using water quality meter instrument were pH, salinity and temperature. Water sample for nitrate, phosphate and chlorophyll-a concentration were taken to laboratory used APHA method. Seagrass cover data obtained with the square method transect of Seagrass Watch. The observations were mapped spatially using Ocean Data View software. Principal Component Analysis was used to analyse the relationship between the water parameters and seagrass covers. The result shows that temperature, salinity and chlorophyll-a at Buyat and Ratatotok Bay waters are considerably good to support the living of marine biota, especially seagrass ecosystem.
      PubDate: 2016-09-27
      DOI: 10.22146/jml.18804
      Issue No: Vol. 23, No. 3 (2016)
       
  • STRATEGI PEMILIHAN JENIS TANAMAN UNTUK MENDUKUNG REHABILITASI PESISIR
           BERDASARKAN KARAKTERISTIK FISIK MAKRO DI MUARA SUNGAI PROGO (Strategy of
           Plant-Species Selection for Coastal Rehabilition Based on Macro-physical
           Characteristics in Progo Estuary)

    • Authors: Budiadi Budiadi, Handojo Hadi Nurjanto, Suryo Hardiwinoto, Enggal Primananda
      Pages: 349 - 359
      Abstract: ABSTRAKMuara Sungai Progo memiliki peran yang penting secara ekologis dan sosial-ekonomis bagi masyarakat Yogyakarta bagian selatan. Mengingat kondisinya kurang baik, maka dibutuhkan strategi rehabilitasi dengan jenis tanaman yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan arahan jenis tanaman yang sesuai untuk rehabilitasi pesisir muara Sungai Progo berdasarkan karakteristik fisik makro lahan. Penelitian ini menggunakan teknologi sistem informasi geografis (SIG) dengan metode digitasi dan overlay peta menggunkan software Arc GIS (ver. 10.0 ESRI) sebagai acuan analisis dan interpretasi peta kondisi muara selama 10 tahun terakhir, sehingga diketahui lokasi-lokasi yang tetap dari waktu ke waktu, dikombinasikan dengan pemetaan genangan air, salinitas dan sebaran jenis endapan. Lokasi penelitian adalah areal pasang surut yang relatif sempit (13,10 ha), namun berperan penting dalam rehabilitasi seluruh areal muara Sungai Progo (luas sekitar 100 ha). Berdasarkan kondisi ketergenangan air yang dipengaruhi arus yang lemah dan kadar salinitas, ditemukan relung-relung lahan basah yang sesuai untuk tanaman mangrove, terdiri dari lahan berpasir (2,49 ha) yang sesuai untuk jenis Avicennia marina, Rhizophora stylosa dan Ceriops tagal; serta berlumpur (0,89 ha) untuk jenis R. mucronata, R. apiculata, Bruguiera sp. dan Sonneratia alba. Pada lahan kering yang didominasi pasir (1,70 ha) direkomendasikan jenis Casuarina equisetifolia dan Pandanus tectorius; serta dominasi tanah (6,45 ha) dengan jenis produktif Callophyllum inophyllum dan kelapa. Dengan menanam jenis-jenis secara tepat dalam rehabilitasi jangka pendek, maka diharapkan akan berdampak baik pada rehabilitasi seluruh kawasan muara. ABSTRACTProgo estuary has an important ecological and socio-economic roles for communities in the South of Yogyakarta. Within a long time, the location is delayed in critical condition, and needs a proper rehabilitation strategy through selecting suitable species. The research aimed to recommend suitable species for coastal region of Progo estuary, based on study of macro-physycal characteristics of the site. The research conducted using GIS technology through digitation method and interpretation of map using Arc GIS (ver. 10.0 ESRI) fot the changes of Progo estuary in the last 10 years, determining the steady spots over time, and mapping wet areas, water salinity and distribution of the sediment. Research site is a small intertidal zone (13.10 ha), but plays important role to the whole rehabilitation program of Progo estuary (approximated 100 ha). Based on the mapping of wet area affected by slow wave and water salinity, it was determined niches of wet land that suitable for mangroves, consisted of sandy soil (2.49 ha) for Avicennia marina, Rhizophora stylosa and Ceriops tagal; and muddy soil (0.89 ha) for R. mucronata, R. apiculata, Bruguiera sp. and Sonneratia alba. On dry land dominated by sand (1.70 ha), the study recommends Casuarina equisetifolia and Pandanus tectorius; and on dry fertile soil with Callophyllum inophyllum and coconut. By planting the suitable species on the specific site, it will positively impacts on the rehabilitation program on the whole area of Progo estuary.
      PubDate: 2016-09-27
      DOI: 10.22146/jml.18809
      Issue No: Vol. 23, No. 3 (2016)
       
  • PENGARUH PENAMBAHAN UREA TERHADAP PENINGKATAN PENCEMARAN NITRIT DAN NITRAT
           DALAM TANAH (Influence of Addition of Urea to Increased Pollution of
           Nitrite and Nitrate in The Soil)

    • Authors: Aida Mawaddah, Roto Roto, Adhitasari Suratman
      Pages: 360 - 364
      Abstract: ABSTRAKNitrat dan nitrit merupakan sumber nitrogen bagi tanaman. Nitrogen sangat diperlukan tanaman untuk pertumbuhan dan perkembangan. Bentuk-bentuk nitrogen di lingkungan mengalami transformasi sebagai bagian dari siklus nitrogen seperti nitrifikasi dan denitrifikasi. Apabila kadar nitrogen dalam tanah rendah, maka urea digunakan sebagai sumber nitrogen. Perubahan urea menjadi nitrit atau nitrat pada beberapa sampel tanah perlu diketahui. Kadar nitrit dan nitrat yang tinggi dapat meningkatkan pencemaran di dalam tanah. Sampel tanah yang digunakan dalam penelitian ini adalah tanah pasir, tanah sawah, tanah pupuk kompos dan tanah pupuk kandang. Analisis nitrit dan nitrat dilakukan dengan menggunakan pereaksi asam p-amino benzoat (PABA) yang dikopling dengan N-naftiletilendiamin (NEDA) dan reduktor spongy cadmium. Sebelum digunakan untuk analisis nitrit dan nitrat, metode divalidasi terlebih dahulu. Hasil validasi metode analisis nitrit dan nitrat dengan pereaksi PABA/NEDA menunjukkan persentase perolehan kembali masing-masing antara 87,15–100,8% untuk nitrit dan 88,16–105,7% untuk nitrat. Setelah ditambah urea sebesar 0,66 g.kg-1 ke dalam tanah, konsentrasi nitrit dan nitrat pada semua sampel tanah mengalami peningkatan. Dari penelitian ini diketahui bahwa peningkatan kadar nitrit dan nitrat setelah ditambahkan urea sangat dipengaruhi oleh kondisi tanah. ABSTRACTNitrate and nitrite were sources of nitrogen for plants. Nitrogen is indispensable for the growth and development of plants. The forms of nitrogen in the environment undergoes a transformation as part of the nitrogen cycle like nitrification and denitrification. If nitrogen level in the soil is low, urea is used as a source of nitrogen. Changes of urea into nitrite or nitrate in some of soil samples need to be known. The levels of nitrite and nitrate are high can increase pollution in the soil. Some of soil samples which is used in this research were sandy soil, paddy soil, compost soil and manure soil. Analysis of nitrite and nitrate were conducted by using a reagent p-amino benzoic acid (PABA) / N-napthylethylenediamine (NEDA) and spongy cadmium as reductor. Before being used for the analysis of nitrite and nitrate, this method was validated first. The results of validation of nitrite and nitrate analysis method by using a reagents PABA / NEDA showed the percent recovery were respectively 87.15-100.8% for nitrite and 88.16-105.7% for nitrate. After the addition of 0.66 g.kg-1 urea into the soil, nitrite and nitrate concentration in all soil sample has increased. Based on this research was known that the increased levels of nitrite and nitrate after the addition of urea was influenced by soil condition.
      PubDate: 2016-09-27
      DOI: 10.22146/jml.22473
      Issue No: Vol. 23, No. 3 (2016)
       
  • PENGARUH KONTAMINASI INSEKTISIDA PROFENOFOS TERHADAP FISIOLOGIS IKAN NILA
           MERAH (Oreochromis sp.) (Contamination Effect of Profenofos Insecticide on
           Physiology of Red Nila (Oreochromis sp.))

    • Authors: Ratih Ida Adharini, Suharno Suharno, Hari Hartiko
      Pages: 365 - 373
      Abstract: ABSTRAKPeningkatan jumlah penduduk memicu aktivitas manusia yang cenderung merusak lingkungan. Penggunaan insektisida organofosfat berlebih berdampak pada pencemaran lingkungan perairan dan organisme di dalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kontaminasi profenofos (insektisida organofosfat) terhadap fisiologis ikan nila merah. LC50-96.Profenofos ditentukan dengan bantuan perangkat lunak Analisis Probit. Aktivitas kolinesterase plasma darah dan jaringan otak diperiksa menggunakan kolinesterase kit (DiaSys) secara spektrofotometri. Laju konsumsi oksigen (LKO2) diukur menggunakan respirometer. Kadar hemoglobin diperiksa dengan metode oksihemoglobin, hematokrit diukur dengan metode mikro-hematokrit. Desain penelitian menggunakan rancangan acak lengkap, dianalisis secara statistik dengan Anova. Selanjutnya jika terdapat beda nyata dilanjutkan dengan uji LSD (Least Significant Difference) serta persamaan regresinya. Gejala kematian ikan serta kualitas fisik dan kimia air uji diperiksa setiap hari, kemudian dianalisis secara deskriptif. Toksisitas curacron pada LC50-96 nila merah sebesar 2,105 ppm. Semakin besar dosis menurunkan aktivitas kolinesterase secara nyata (P>0,05) pada plasma darah dan jaringan otak. LKO2 setelah 1 jam pendedahan mengalami peningkatan, namun setelah 24 jam hingga 96 jam mengalami penurunan (P>0,01; R2=0,98). Semakin besar dosis selama 96 jam secara nyata meningkatkan kadar Hb (P>0,05; R2=0,95) namun tidak beda nyata pada hematokrit (R2=0,66). Penggunaan insektisida ramah lingkungan dan monitoring secara terus menerus dapat mengurangi dampak insektisida pada lingkungan perairan dan organisme di dalamnya. ABSTRACTThe increasing of human population triggers on human activities which are tend to impact on environment. Excessive use of organophosphate insecticides impact on pollution of the aquatic environment and also the organisme therein. The objective of this research was to study the effects of profenofos (an organophosphate insecticide) to the physiology of red nila. Preliminary research was conducted to find out the Lethal Concentration (LC50-96) of profenofos which was determined by software “Probit analysis”. Cholinesterase activity of blood plasma and brain tissue was examined spectrofotometically using cholinesterase kit (DiaSys). Rate of oxygen consumption was measured by Johnson’s modified respirometer methode. Hemoglobin were measured by oxyhemoglobin and hematocrit by micro-hematocrit methods, respectively. This research used complete random design. Data were analyzed statistically using analysis of variance (ANOVA), continued with Least Significant Difference (LSD) and regression test. Lethal Concentration (LC50-96) of profenofos to red nila was 2.10 mg/L. The results indicated that increasing dosage reduced cholinesterase activity (P<0.05) in blood plasma and brain tissue. Oxygen consumption rate increased after 1-hour exposure, but decreased after 24 to 96 hours (P<0.01; R2=0.98). Increasing dosage of profenofos exposure for 96 hours followed with increasing of Hemoglobin level significantly (P<0.05; R2=0.95), but it was not significantly different in hematocrit (P>0.05; R2=0.66). The use of environmentally friendly insecticides and continually monitoring can reduce the impact of insecticides on the environment and organism therein.
      PubDate: 2016-09-27
      DOI: 10.22146/jml.18808
      Issue No: Vol. 23, No. 3 (2016)
       
  • TINGKAT KEPEKAAN MANGROVE INDONESIA TERHADAP TUMPAHAN MINYAK (The
           Sensitivity Levels of Indonesian Mangrove to Oil Spills)

    • Authors: Muarif Muarif, Ario Damar, Sigid Hariyadi, Mennofatria Boer, Dewayani Soetrisno
      Pages: 374 - 380
      Abstract: ABSTRAKKepekaan mangrove merupakan komponen penting dalam menentukan tingkat kepekaan ekosistem mangrove terhadap tumpahan minyak. Mangrove Indonesia dapat dikelompokkan dalam 5 tingkat kepekaan terhadap tumpahan minyak, yaitu tidak peka (Acanthus, Nypa, Inocarpus, Acrostichum), kurang peka (Aegiceras, Excoecaria, Hibiscus, Lumnitzera, Ficus, Scyphiphora, Thespasia, Merope, Osbornea, Pandanus), cukup peka (Bruguiera, Ceriops, Xylocarpus, Heritiera), peka (Rhizophora), dan sangat peka (Avicennia, dan Sonneratia). Penilaian terhadap komunitas mangrove di Indonesia menunjukkan sebagian besar tergolong ke dalam katagori sangat peka dan peka apabila komunitas mangrove tersebut terkena tumpahan minyak. ABSTRACTThe sensitivity of mangrove is an important component to determine the sensitivity of mangrove ecosystem to oil spills. The Indonesian mangrove can be grouped into five levels of sensitivity to the oil spill, include not sensitive (Acanthus, Nypa, Inocarpus, and Acrostichum), low sensitive (Aegiceras, Excoecaria, Hibiscus, Lumnitzera, Ficus, Scyphiphora, Thespasia, Merope, Osbornea, and Pandanus), intermediate sensitive (Bruguiera, Ceriops, Xylocarpus, and Heritiera), sensitive (Rhizophora), and very sensitive (Avicennia, and Sonneratia). Assessment of mangrove communities in Indonesia showed mostly belong to the category of very sensitive and sensitive if the mangrove communities injured by the oil spill.
      PubDate: 2016-09-27
      DOI: 10.22146/jml.22476
      Issue No: Vol. 23, No. 3 (2016)
       
  • PENGELOLAAN KAWASAN PESISIR KABUPATEN BULELENG MELALUI PENGEMBANGAN MINA
           WISATA BAHARI (Management of Buleleng Coastal Areas Through the Marine
           Fisheries Tourism Development)

    • Authors: Gede Ari Yudasmara
      Pages: 381 - 389
      Abstract: ABSTRAKKawasan pesisir Kabupaten Buleleng saat ini telah dimanfaatkan dengan berbagai kegiatan kepariwisataan, akan tetapi kegiatan tersebut masih belum memberikan manfaat yang optimal bagi masyarakat dan memiliki kecenderungan mengalami kejenuhan. Untuk itu, diperlukan suatu pengembangan wisata alternatif yang sesuai dengan kondisi dan potensi sumber daya alam yang ada serta saling bersinergi dengan aktivitas wisata lainnya, seperti contohnya pengembangan mina wisata. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan menganalisis kondisi dan potensi sumberdaya alam pesisir dan laut, tingkat kesesuaian kawasan pesisir Buleleng dalam menunjang pengembangan mina wisata dan menghasilkan model aktivitas mina wisata di kawasan pesisir Buleleng yang terpadu dan berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kesesuaian kawasan dengan rancangan penelitiannya berupa survei lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pesisir Kabupaten Buleleng apabila dilihat dari kondisi dan potensi sumberdaya alamnya masih mampu untuk mendukung aktivitas mina wisata dengan tingkat kesesuaian kawasan berdasarkan indeks kesesuaian wisata, yaitu pesisir Buleleng timur terkategori cukup sesuai (76,92), pesisir Buleleng tengah terkategori cukup sesuai (61,53) dan pesisir Buleleng barat terkategori sangat sesuai (87,17). Rencana model mina wisata yang dapat dikembangkan antara lain pesisir Buleleng timur adalah mina wisata budidaya laut (ikan hias dan karang) dan mina wisata perikanan tangkap (pemancingan dan spearfishing adventures), pesisir Buleleng tengah adalah mina wisata budidaya laut (rumput laut) dan mina wisata perikanan tangkap (pemancingan dan spearfishing adventures), dan pesisir Buleleng barat adalah mina wisata budidaya laut (rumput laut, Bandeng, Kerapu, Mutiara, ikan hias dan karang) dan mina wisata perikanan tangkap (pemancingan dan spearfishing adventures).  ABSTRACTBuleleng coastal area has been used for various tourism activities, however, the activities have not given an optimum benefit for the community and tend to experience saturation. This study was aimed at investigating the condition and potentiality of the coastal area and the sea, the degree of fit of Buleleng coastal area in supporting the development of fisheries tourism and at producing a model of the coastal area tourism activities that are integrated and sustainable. This study used the approach of area suitability with field survey design. The results showed that Buleleng regency coastal area, viewed from the point of the condition and the potentiality of the natural resources still has the capacity to support fisheries tourism. The model plannings of fisheries tourisms that can be developed, among others, are: the East Buleleng coastal area is suitable for marine culture fisheries tourism (ornamental fish and coral) and fished fisheries tourism (fishing and spearfishing adventures); the central Buleleng coastal area for marine culture fisheries tourism (seaweed) and fished fisheries tourism (fishing and spearfishing adventures), and the West Buleleng coastal area for marine culture fisheries tourism (seaweed, milk fish, grouper, pearl, ornamental fish and coral) and fished fisheries tourism (fishing and spearfishing adventures).
      PubDate: 2016-09-27
      DOI: 10.22146/jml.18810
      Issue No: Vol. 23, No. 3 (2016)
       
  • COMMUNITY ENGAGEMENT WITH URBAN RIVER IMPROVEMENT: THE CASE OF YOGYAKARTA
           CITY (Melibatkan Masyarakat dalam Memperbaiki Lingkungan Sungai Perkotaan
           : Kasus Kota Yogyakarta)

    • Authors: Hari Kusnanto, Suprapto Dibyosaputro, Suwarno Hadisusanto, Sri Puji Saraswati
      Pages: 390 - 393
      Abstract: ABSTRACTThe restoration of urban rivers has shifted from predominantly physical and ecological to community oriented social and economic improvement. Community engagement is needed in the people approach of development. Information sharing and public consultation are not enough. A case study among the riverside communities living in Yogyakarta city indicated that these communities need to move out of poverty and destitution through coaching and mentoring by various experts, and at the same time they would assure the ecosystem functioning of urban rivers. ABSTRACTRestorasi sungai-sungai perkotaan telah bergeser dari peningkatan fisik dan ekologis menjadi lebih berorientasi pada sosial dan ekonomi. Keterlibatan masyarakat dibutuhkan dalam pendekatan manusiawi pembangunan. Pemberian informasi dan konsultasi public tidak cukup studi kasus pada komunitas-komunitas yang hidup di pinggir sungai di kota Yogyakarta menunjukkan bahwa komunitas tersebut perlu mengentaskan diri dari kemiskinan dan keterbelaknagn dengan bantuan ahli, dan pada saat yang sama menjaga fungsi ekosistem sungai-sungai perkotaan.
      PubDate: 2016-09-27
      DOI: 10.22146/jml.22484
      Issue No: Vol. 23, No. 3 (2016)
       
  • PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PROGRAM PENGELOLAAN HUTAN LINDUNG WOSI
           RENDANI (Participation of Communities in the Wosi Rendani Protected Forest
           Management)

    • Authors: Anton Silas Sinery, Jacob Manusawai
      Pages: 394 - 401
      Abstract: ABSTRAKPartisipasi masyarakat dalam pengelolaan program merupakan hal mendasar yang menentukan keberhasilan penyelenggaraan program. Dalam perspektif konservasi sumber daya alam, partisipasi merupakan prinsip dasar yang menentukan keberhasilan pencapaian program. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui fungsi, intensitas dan tingkat partisipasi masyarakat dalam program pengelolaan hutan lindung Wosi Rendani. Fungsi partisipasi masyarakat dalam pengelolaan kawasan hutan lindung Wosi Rendani tertinggi pada kampung Kentekstar (60,0%), diikuti Ipingoisi (31,11%), Soribo (28,57%) dan Tanah Merah Indah (27,27%) dengan frekuensi 41 responden (34,75%). Konsentrasi responden pada fungsi partisipasi distribusi dengan frekuensi partisipasi 26 responden (22,03%). Intensitas partisipasi tertinggi pada kampung Kentekstar (60,00%), diikuti Tanah Merah Indah (36,36%), Ipingoisi (31,11%), dan Soribo (28,57%) dengan frekuensi 41 responden (34,75%). Tingkat partisipasi masyarakat masuk dalam kategori “sangat tidak aktif dengan indek partisipasi berada pada rentang 1 – 25. ABSTRACTParticipation of community in the management is fundamental that determines the success of the programs. In the perspective of natural resources conservation, participation is a basic principle that determines the success of achieving the programs. The purpose of research is to determine the function, the intensity and the level of community participation in Wosi Rendani protected forest management program. The results of the research that participation indexs in the management of protected forest of Wosi Rendani based functions at Kentekstar village highest participation (60.0%) followed Ipingoisi (31.11%), Soribo (28.57%) and lowest in Tanah Merah Indah (27.27%) with the value of the frequency of participation of 41 respondents (34.75%). Overall all respondents would participate in the function of the distribution with participation frequency of 26 respondents (22.03%). Intensity of participation at Kentekstar village is highest (60.0%) followed Tanah Merah Indah (36.36%), Ipingoisi (31.11%) and lowest in the Soribo (28.57%) with the value of the frequency of participation of 41 respondents (34.75%). The level of community participation in the category of "very active with Participation Index values were in the range 1 – 25.
      PubDate: 2016-09-27
      DOI: 10.22146/jml.18811
      Issue No: Vol. 23, No. 3 (2016)
       
 
 
JournalTOCs
School of Mathematical and Computer Sciences
Heriot-Watt University
Edinburgh, EH14 4AS, UK
Email: journaltocs@hw.ac.uk
Tel: +00 44 (0)131 4513762
Fax: +00 44 (0)131 4513327
 
Home (Search)
Subjects A-Z
Publishers A-Z
Customise
APIs
Your IP address: 54.196.47.128
 
About JournalTOCs
API
Help
News (blog, publications)
JournalTOCs on Twitter   JournalTOCs on Facebook

JournalTOCs © 2009-2016