for Journals by Title or ISSN
for Articles by Keywords
help
Journal Cover Majalah Geografi Indonesia
  [0 followers]  Follow
    
  This is an Open Access Journal Open Access journal
   ISSN (Print) 0215-1790 - ISSN (Online) 2540-945X
   Published by Universitas Gadjah Mada Homepage  [28 journals]
  • Dinamika Kedudukan Interface di Pesisir Kebumen

    • Authors: Setyawan Purnama
      Abstract: Abstrak Interface adalah mintakat pertemuan antara air laut yang bersifat asin dan airtanah di daratan yang bersifat tawar. Interface tidak ditemukan dalam wilayah yang tegas, namun merupakan wilayah percampuran antara air tawar dan air asin, sehingga keberadaan interface tidak bersifat statis melainkan dinamis. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui dan menganalisis kedudukan interface di Pesisir Kabupaten Kebumen dan (2) menganalisis dinamika kedudukan interface selama kurun waktu 21 tahun yaitu tahun 1993 dan 2014. Kedudukan interface diketahui berdasarkan pendugaan geolistrik rangkaian Schlumberger. Pendugaan dilakukan pada lokasi dan jalur yang sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Simoen dkk. (1993), yaitu pada (1) jalur Salak-Petanahan-Munggu-Gadung-Pantai Petanahan, (2) jalur Tambakrejo-Jeblok-Prajuritan-Adikarto-Pantai Kebumen dan (3) jalur Sinungrejo-Sidoluhur-Bener-Kaibon-Ambal dan Pantai Kutowinangun. Perbandingan hasil pendugaan interface di kedua waktu tersebut akan diketahui perbedaan dan persamaan kedalaman interface pada masing-masing titik pengukuran dalam selang waktu 21 tahun dan selanjutnya dapat dianalisis faktor-faktor yang mempengaruhinya. Hasil penelitian  menemukan adanya lapisan airtanah tawar mulai kedalaman 2 hingga 10 meter dari permukaan tanah. Berbeda dengan di tahun 1993, hasil pendugaan di tahun 2014 tidak mendeteksi adanya interface di semua jalur pengukuran. Tidak terdeteksinya interface disebabkan kedudukan interface semakin dalam akibat desakan airtanah tawar yang semakin kuat.  The interface is a contact zone between saline water and fresh water. The interface is not found in the form of the thin-sharp plane, but it exists as an area where diffusion between freshwater and saline water has taken place, so the existing of an interface is not static but dynamic. The aims of this research are (1) to know and analyze the existing of interface in the research area and (2) to analyze the dynamic of interface existing for 21 years (1993 to 2014). The existing interface is known by Schlumberger arrangement geoelectric sounding. The soundings will be carried out in the same location of  Simon's research in 1993, namely (1) Salak-Petanahan-Munggu-Gadung-Petanahan Coast cross-section, (2) Tambakrejo-Jeblok-Prajuritan-Adikarto-Kebumen Coast cross section dan (3) Sinungrejo-Sidoluhur-Bener-Kaibon-Ambal and Kutowinangun Coast cross-section. By compare the geoelectric sounding result in 1993 and 2014, it can be known and analyzed the dynamic interface in 21 years and factors that influenced it. Base on geoelectric sounding, it is known that occurrence of fresh groundwater is located in 2-10 meter depth. Different within 1993,  result of sounding in 2014 does not detect interface in all cross section. This phenomenon is caused by freshwater insistence.  
      PubDate: 2017-11-01
      DOI: 10.22146/mgi.25493
      Issue No: Vol. 31, No. 2 (2017)
       
  • Produksi Ruang Kekuasaan di Pulau Jawa Abad ke-16 s/d ke-17 dan Dampaknya
           pada Pertumbuhan Kota

    • Authors: Hafid Setiadi, Hadi Sabari Yunus, Bambang Purwanto
      Abstract: AbstrakStudi ini membahas keterkaitan antara tradisi kekuasaan, produksi ruang, dan pertumbuhan kota. Tujuan utamanya adalah untuk memahami secara mendalam pola dan proses spasial produksi ruang kekuasaan dan implikasinya pada pertumbuhan kota. Lingkup penelitian mencakup situasi geopolitik di Pulau Jawa selama abad ke-16 hingga ke-17 ketika Kesultanan Mataram memegang dominasi kekuasaan berlandaskan tradisi sawah. Metode analisis yang diterapkan mengacu pada pemikiran hermeneutika yang mengedepankan metode pembacaan teks. Data penelitian berasal dari sumber-sumber sekunder terutama berupa hasil-hasil penelitian yang telah dipublikasikan dalam bentuk artikel, buku, peta maupun makalah seminar.  Hasil analisis memperlihatkan bahwa selama rentang waktu tersebut pola dan proses spasial produksi ruang kekuasaan didominasi oleh netralisasi dan pembentukan wilayah pinggiran sebagai konsekuensi dari absolutisme kekuasaan raja.  Modus produksi ini menyebabkan terjadinya likuidasi politik terhadap kota-kota tertentu yang ditandai oleh perubahan identitas kota, terutama di wilayah pesisir.  This study focuses on the relationship between power tradition, production of space, and urban growth. The main objective is to comprehend spatial pattern and process of power space production and their implication on urban growth. The study covers the geopolitical situation in the Island of Java during the 16th to the 17th century while the Sultanate of Mataram ran a dominant power under sawah tradition.  By referring hermeneutic idea, the study conducted a text interpretation method. All of the data gained through literature study on various research reports from related disciplines that had published in books, journals, maps or conference papers. The results show that the spatial pattern and process of the power space production in the Island of Java during the study period were dominated by neutralizing as well as creating periphery by way of the absolutism of king’s power. Such production mode caused political liquidation over main particular cities as reflected by the change of urban identity mainly in the coastal region.   
      PubDate: 2017-11-01
      DOI: 10.22146/mgi.26103
      Issue No: Vol. 31, No. 2 (2017)
       
  • KAJIAN FISIK WILAYAH PESISIR KULON PROGO UNTUK PENENTUAN ZONA KAWASAN
           MANGROVE DAN TAMBAK UDANG

    • Authors: Riskitanjung Tanjung, Nurul Khakhim, Rustadi Rustadi
      Abstract: AbstrakPesisir Kulon Progo saat ini memiliki habitat mangrove dan lahan tambak udang. Perkembangan salah satunya, akan mengakibatkan berkurangnya luas lahan yang lain. Penelitian ini bertujuan untuk (1) menganalisis kondisi fisik wilayah pesisir Kulon Progo, (2) menentukan zona yang sesuai untuk kawasan mangrove dan/atau tambak udang di wilayah pesisir Kulon Progo, dan (3) menyusun rekomendasi pengelolaan kawasan mangrove dan atau tambak udang di wilayah pesisir Kulon Progo. Pengambilan sampel dilakukan dengan purposive sampling. Data kondisi fisik lahan diperoleh melalui observasi dan pengukuran di lapangan. Zonasi kawasan mangrove dan tambak udang dilakukan dengan reinterpretasi peta dan metode matching dengan parameter kesesuaian yang telah ditentukan sebelumnya. Strategi pengelolaan kawasan mangrove dan tambak udang dilakukan dengan menganalisis faktor internal dan eksternal wilayah menggunakan analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi fisik wilayah pesisir Kulon Progo terdiri atas substrat dasar berbatu, lempung bergeluh, lempung, lempung berpasir, berpasir. Pasang surut air laut berkisar 1-1,1m, salinitas air antara 0-29‰, kecerahan air antara 0 cm - tidak terukur, dan suhu air  antara 27-34,1 °C. Kondisi fisik pesisir Kulon Progo ada yang sesuai (S2) untuk pertumbuhan mangrove dan tambak udang, serta ada yang tidak sesuai untuk keduanya. Zona yang sesuai (S2) untuk kawasan mangrove terdapat di muara Sungai Bogowonto seluas 1,58ha. Zona yang sesuai (S2) untuk kawasan tambak udang seluas 134,49ha. Strategi pengelolaan kawasan untuk zonasi mangrove di lokasi kajian yang dapat direkomendasikan dalam penelitian ini antara lain (1) pelestarian dan pengembangan kawasan mangrove dalam bentuk kawasan konservasi sekaligus sebagai objek wisata dan pendidikan, (2) mengembangkan dan meningkatkan komitmen masyarakat atas arti penting kawasan mangrove untuk menghambat alih fungsi kawasan mangrove, (3) mengembangkan zona mangrove dengan menanam jenis mangrove yang sesuai dengan kondisi fisik lahan, (4) melakukan tindakan persuasif dalam mewujudkan konsensus masyarakat untuk membentuk kawasan lindung mangrov Coastal Kulon Progo currently has a mangrove habitat and shrimp ponds. The development of one of them, will result in reduced other land area. This research aims to (1) analyze the physical condition of coastal area of Kulon Progo, (2) to determine the appropriate zone for mangrove and / or shrimp pond in coastal area of Kulon Progo, and (3) to make recommendation of mangrove area management and / or shrimp pond in coastal area of Kulon Progo. Sampling is done by purposive sampling. The physical condition data of the land is obtained through observation and measurement in the field. Zoning of mangrove areas and shrimp ponds is done by reinterpretation of maps and matching methods with pre-determined conformity parameters. The strategy of mangrove area management and shrimp farming is done by analyzing internal and external factor of the area using SWOT analysis. The results showed that the physical condition of the coastal area of Kulon Progo consists of the rocky base substrate, clay, clay, sandy clay, sandy. Tidal sea level ranges from 1-1.1 m, water salinity between 0-29 ‰, water brightness between 0 cm - not measurable, and water temperature between 27-34.1 ° C. The physical condition of coastal Kulon Progo is suitable (S2) for the growth of mangrove and shrimp ponds, and some are not suitable for both. The appropriate zone (S2) for the mangrove area is located at the mouth of Sungai Bogowonto covering 1.58ha. The appropriate zone (S2) for shrimp pond area is 134,49ha. Strategies for mangrove zonation in the assessment sites that can be recommended in this research are: (1) conservation and development of mangrove area in the form of conservation area as well as tourism object and education; (2) develop and increase community commitment to the importance of mangrove area for (3) developing mangrove zone by planting mangrove species suitable with the physical condition of the land, (4) taking persuasive action in realizing community consensus to establish mangrove protected area.



      PubDate: 2017-11-01
      DOI: 10.22146/mgi.26320
      Issue No: Vol. 31, No. 2 (2017)
       
  • Analisis dan Optimalisasi Potensi Lahan Pertanian Sebagai Kajian Dampak
           Positif Erupsi Gunung Api Kelud 2014

    • Authors: Syamsul Bachri, Sugeng Utaya, Farizki Dwitri Nurdiansyah, Alif Erfika Nurjanah, Lela Wahyu Ning Tyas, Denny Setia Purnama, Akhmad Amri Adillah
      Abstract: Kelud volcano eruption in 2014 brings a diverse impact on the surrounding agricultural area. Despite the negative impacts, Kelud volcano eruption also brings positive impact especially on the potential of affected land that needs to be optimized. Through this research, the study of the optimization of eruption potential land is conducted by several stages. The first stage is land suitability analysis through multicriteria assessment and Geographic Information System (GIS) technology. In addition, the Focus Group Discussion (FGD) activity as the second stage is carriedout to find out how the people perception related to the impact of Kelud volcano eruption. The research results reflected in suitability map with the class S1 (64.74%), S2 (31.51%), S3 (3.75%). Based on the results, most of Kelud Volcano area has potential for agricultural development. This is supported by the Kelud volcano community perception that mentioned the positive impact of eruption is felt significanlty.Abstrak Erupsi gunungapi Kelud pada tahun 2014 membawa dampak yang beragam terhadap kondisi pertanian di sekitarnya. Selain dampak negatif, erupsi gunungapi Kelud membawa dampak positif khususnya pada potensi lahan terdampak yang perlu dioptimalkan. Melalui penelitian ini, kajian optimalisasi potensi lahan terdampak erupsi dilakukan dengan beberapa tahapan. Tahap pertama berupa analisis kesesuaian lahan melalui penilaian multikriteria dan teknologi Sistem Informasi geografis (SIG). Selain kajian fisik, kegiatan Focus Group Discussion (FGD) merupakan tahapan kedua yang dilakukan untuk mengetahui bagaimana persepsi masyarakat terkait dengan dampak erupsi Gunungapi Kelud. Hasil penelitian menghasilkan peta kesesuaian dengan kelas kesesuaian S1 (64,74%), S2 (31,51%), S3 (3,75%). Berdasarkan hasil pemetaan ini, sebagian besar wilayah Gunungapi Kelud berpotensi untuk pengembangan pertanian. Hal ini didukung dengan persepsi masyarakat kawasan Gunungapi Kelud yang berpendapat bahwa dampak positif erupsi dirasakan secara signifikan.  
      PubDate: 2017-11-01
      DOI: 10.22146/mgi.27738
      Issue No: Vol. 31, No. 2 (2017)
       
  • Rapid Mapping Kawasan Terdampak Bencana Longsor Di Kabupaten Bangli, Bali

    • Authors: Theresia Retno Wulan, Wiwin Ambarwulan, Anggara S. Putra, Mega D Putra, Dwi Maryanto, Ferrari Pinem, Edwin Maulana
      Abstract: Abstrak Teknologi penginderaan jauh mengalami perkembangan yang sangat pesat. Salah satunya adalah teknologi akuisisi data dengan menggunakan UAV (Unmanned Aerial Vehicle).  Teknologi UAV dapat dipergunakan dalam berbagai bidang, salah satunya adalah bidang kebencanaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan pemetaan secara cepat kawasan terdampak bencana banjir dan longsor di Kabupaten Bangli, Bali dengan menggunakan teknologi UAV. Metode yang digunakan adalah pemotretan udara dengan UAV, survei lapangan dan analisis laboratorium. Pemotretan udara dilakukan satu hari pasca kejadian longsor dengan ketinggian jelajah pesawat antara 100-120 meter di atas permukaan tanah. Resolusi spasial yang dihasilkan antara 4,5 - 6,5 cm. Wilayah yang berhasil dipetakan adalah wilayah yang terdampak banjir dan longsor di Desa Songan A serta Songan B, wilayah terdampak banjir bandang Yeh Mampeh di Desa Batur Selatan, serta wilayah terdampak longsor di Desa Sukawana dan Desa Awan. Berdasarkan hasil pemotretan udara, dapat diketahui luasan daerah terdampak longsor. Lebih lanjut, strategi rehabilitasi dan rekonstruksi dapat dilakukan dengan menggunakan hasil pemotretan udara.  
      Abstrak Remote sensing technology growing very fast. One of them is data acquisition technology using UAV (Unmanned Aerial Vehicle). UAV technology can be used in various fields, such as disaster mapping. The purpose of this research is to conduct rapid mapping of flood and landslide in Bangli Regency, Bali by using UAV technology. The methods used are field survey, aerial photography and laboratory analysis. The aerial photography took place one day after the landslide with the cruising altitude of the plane between 100-120 meters above ground level. Spatial resolution generated between 4.5 - 6.5 cm. The areas that were successfully mapped were floods and landslides in the villages of Songan A and Songan B, banjir bandang Yeh Mampeh in South Batur Village, the landslide in Sukawana Village and Awan Village. Based on the results of aerial photography, can be seen the extent of the area affected by landslides. Furthermore, the strategy of rehabilitation and reconstruction can be done by using the results of aerial photography. 
      PubDate: 2017-11-01
      DOI: 10.22146/mgi.26230
      Issue No: Vol. 31, No. 2 (2017)
       
  • Analisis Kandungan Bakteri Fecal Coliform Pada Sungai Kuin Kota
           Banjarmasin

    • Authors: Deasy Ari Santy, Sidharta Adyatma, Nurul Huda
      Abstract: ABSTRAKSungai Kuin merupakan anak Sungai Martapura yang yang bermuara di Sungai Barito. Sungai ini terdapat di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Kejadian diare tertinggi di Kota Banjarmasin terjadi di bantaran Sungai Kuin, sehingga perlu dilakukan penelitian mengenai kandungan bakteri fecal coliform pada sungai ini. Penelitian ini bertujuan menganalisis jumlah kandungan bakteri fecal coliform di Sungai Kuin dan menganalisis cara mengatasi penurunan kualitas air Sungai Kuin akibat keberadaan bakteri fecal coliform. Data diambil sepanjang Sungai Kuin dengan panjang 3.909,00 m yang terbagi menjadi 20 segmen (10 segmen berada di bagian kanan sungai dan 10 segmen berada di bagian kiri sungai). Pembagian segmen berdasarkan panjang sungai per 390 meter, dengan sampel sebanyak 5 segmen yang mewakili segmen lainnya. Teknik analisis yang digunakan yaitu dengan menggunakan hasil uji laboratorium, perbandingan terhadap Peraturan Gubernur Kalimantan Selatan No 5 tahun 2007 dan referensi dari katalog informasi pilihan jamban sehat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas air Sungai Kuin adalah berwarna kecoklatan, dan terkadang tercium bau terutama pada saat hujan turun. Jumlah rerata kandungan bakteri fecal coliform di Sungai Kuin adalah 210/100 ml pada saat pasang naik dan 780/100 ml pada saat pasang surut. Kualitas air Sungai Kuin tidak tidak memenuhi baku mutu air minum karena kandungan bakteri fecal coliform berada di atas baku mutu 100/100 ml.  Penurunan kualitas air Sungai Kuin dapat dilakukan dengan pembangunan jamban yang sesuai dengan lingkungan perairan pasang surut. ABSTRACT Kuin River is a tributary of Martapura River which leads to Barito River. This river is located in the city of Banjarmasin, South Kalimantan. The highest incidence of diarrhea in the city of Banjarmasin occurred on the banks of the Kuin River, so it is necessary to do research on the content of fecal coliform bacteria in this river. This study aims to analyze the amount of fecal coliform bacteria in Kuin River and analyze how to overcome the decrease of water quality of Kuin River due to the presence of fecal coliform bacteria. The data is taken along the Kuin River with a length of 3,909.00 m which is divided into 20 segments (10 segments are on the right side of the river and 10 segments are on the left side of the river). Segment distribution based on river length per 390 meter, with sample of 5 segment representing other segment. The analytical technique used is by using the results of laboratory tests, a comparison to the South Kalimantan Governor's Regulation No. 5 of 2007 and references from the health information collection of healthy latrines. The results show that the water quality of Kuin River is brownish, and sometimes smells especially when it rains. The average number of fecal coliform bacteria in Kuin River is 210/100 ml at rising tide and 780/100 ml at high tide. The quality of Kuin River water does not meet the drinking water quality standard because the content of fecal coliform bacteria is above 100/100 ml standard. The decrease of water quality of Kuin River can be done by constructing latrines in accordance with tidal water environment.  
      PubDate: 2017-11-01
      DOI: 10.22146/mgi.26551
      Issue No: Vol. 31, No. 2 (2017)
       
  • Analisis Dampak Intrusi Air Laut Terhadap Airtanah di Pulau Koral Pramuka,
           DKI Jakarta

    • Authors: Ahmad Cahyadi, Tjahyo Nugroho Adji, Muh Aris Marfai, Sembodo Noviandaru, Romza Fauzan Agniy
      Abstract: Abstrak Pulau Koral Pramuka merupakan salah satu pulau yang memiliki fungsi strategis sebagai Ibukota Kabupaten Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Pembangunan yang terus berlangsung untuk mendukung fungsi sebagai ibukota sekaligus sebagai tujuan wisata menjadikan pertumbuhan penduduk tinggi dan kebutuhan akan sumberdaya air terus meningkat. Kondisi demikian dapat menyebabkan ancaman intrusi air laut menjadi semakin tinggi karena jumlah pengambilan airtanah akan semakin bertambah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak intrusi air laut terhadap airtanah di Pulau Koral Pramuka. Metode yang digunakan adalah analisis daya hantar listik (DHL) airtanah serta perbandingan ion klorida dan ion karbonat dalam airtanah. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah nilai DHL, kandungan ion klorida dan bikarbonat yang diambil dari sampel airtanah. Sampel diambil secara sistematis berdasarkan grid berukuran 100 meter x 150 meter. Total sampel airtanah adalah sejumlah 23 sampel. Hasil kajian menunjukkan bahwa 15 sampel airtanah menunjukkan bahwa intrusi telah berpengaruh cukup besar terhadap airtanah, sedangkan 8 sampel menunjukkan bahwa intrusi telah berpengaruh besar terhadap airtanah di Pulau Koral Pramuka.
      Pramuka Cay is one of the islands which have a strategic function as the capital of Kepulauan Seribu Regency, Jakarta. Development continues to support the function as the capital as well as a tourist destination makes high population growth and demand for water resources continues to rise. Such conditions can lead to the threat of sea water intrusion becomes higher as the extraction number of groundwater will increase. This study aims to determine the impact sea water intrusion to groundwater resources in Pramuka Cay. The method which used in this research is the analysis of electrical conductivity of groundwater and analysis of ratio chloride and carbonate ions in the groundwater. The data used in this study is the content of chloride and bicarbonate ions are extracted from the groundwater sample. Samples were taken systematically based on a grid measuring 100 meters x 150 meters. A total sample of groundwater is a number of 23 samples. The results showed that 15 groundwater samples showed that the intrusion had considerable influence on groundwater, whereas 8 samples showed that the intrusion had a big impact on groundwater in Pramuka Cay. 

      PubDate: 2017-11-01
      DOI: 10.22146/mgi.23725
      Issue No: Vol. 31, No. 2 (2017)
       
  • Model Penilaian Risiko Kebakaran Perkotaan dengan Sistem Pakar berbasis
           GIS Grid-Based

    • Authors: Sabrillah Taridala, Ananto Yudono, M. Isran Ramli, Arifuddin Akil
      Abstract:
      Abstrak
      Kota Kendari merupakan suatu kawasan perkotaan dengan luas wilayah terkecil dan jumlah penduduk terpadat di Provinsi Sulawesi Tenggara. Bencana kebakaran di Kota Kendari sering terjadi dan telah menimbulkan kerugian yang cukup banyak, hingga menelan korban jiwa. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan penilaian terhadap tingkat risiko bencana kebakaran di Kota Kendari dengan menggunakan pendekatan Sistem Pakar (Expert System) berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG). Hasil penelitian menujukkan bahwa tingkat risiko kebakaran di Kota Kendari terklasifikasi dalam empat kelas, yaitu tingkat risiko kebakaran sangat tinggi sebanyak 206 grid, tingkat risiko kebakaran tinggi sebanyak 6.815 grid, tingkat risiko kebakaran rendah sebanyak 46.175 grid, dan tingkat risiko kebakaran sangat rendah sebanyak 54.640 grid. Tingkat risiko kebakaran sangat tinggi di Kota Kendari merupakan kawasan terbangun yang berpenduduk padat dengan dominasi jenis material bangunan kayu dan campuran, terletak pada daerah dengan morfologi berbukit, dan aksesibilitas hanya dilalui oleh jalan umum yang memiliki lebar jalur lalu lintas <4 meter. Wilayah dengan tingkat risiko sangat rendah merupakan kawasan non-terbangun yang didominasi oleh badan air (sungai dan rawa), hutan dan sebagian kawasan pertanian (kebun). Kawasan tersebut bermorfologi datar, berbukit dan bergunung. Kendari city is an urban area with the smallest area and the densest population in Southeast Sulawesi Province. Fire disaster in the city of Kendari often occurs and has caused considerable losses, to claim casualties. This study aims to assess the risk degree of fire disaster in Kendari City using Expert System Approach based on Geographic Information System (GIS). The results showed that the degrees of fire risk in Kendari City were classified into four classes, ie very high fire risk degree, 206 grid, high fire risk degree, 6,815 grid, low fire risk degree, 46.175 grid, and very low fire risk, as many as 54.640 grids. The high fire risk degree in Kendari City is a densely populated area, with dominance of wooden and mixed building materials, located in areas with hilly morphology, and accessibility is only by public roads with a traffic width of <4 meters, while fires with a very low-risk level is a non-built area dominated by water bodies (rivers and swamps), moist forests and some agricultural areas (gardens). This area is flat, hilly and mountainous. 

      PubDate: 2017-11-01
      DOI: 10.22146/mgi.27801
      Issue No: Vol. 31, No. 2 (2017)
       
  • Pemetaan Risiko Tsunami terhadap Bangunan secara Kuantitatif

    • Authors: Totok Wahyu Wibowo, Djati Mardiatno, Sunarto Sunarto
      Abstract: Tsunami is a natural disaster that most of the incident is triggered by the seabed earthquake. The impact of tsunami on coastal environments such as damage to property, structures, infrastructure and may result in economic disturbance. Tsunami disaster has a uniqueness compared to other disasters, because it has a very small possibility but with a high threat. The Disaster Risk Reduction (DRR) Paradigm that has evolved in recent years emphasizing that risk is essential to the determination of disaster strategies. Ploso Village, is one of the villages located in Pacitan Regency that are potentially affected by the tsunami disaster. Building risk mapping is done by quantitative method, which is composed by vulnerability maps and building price maps. Tsunami Vulnerability Papathoma 3 (PTVA-3) was adopted for vulnerability mapping. Building price data is obtained from a combination of fieldwork and Geographic Information System (GIS) analysis. The result of risk mapping indicates that Barehan Environment has the highest risk of loss among all neighborhoods in Ploso Village. This result can be used as a reference for the determination of disaster risk reduction strategy in Ploso Village.
      PubDate: 2017-11-01
      DOI: 10.22146/mgi.28044
      Issue No: Vol. 31, No. 2 (2017)
       
  • Kerentanan Masyarakat Perkotaan Terhadap Bahaya Banjir Di Kelurahan Legok,
           Kecamatan Telanipura, Kota Jambi

    • Authors: Sri Rum Giyarsih, Dian Adhietya Arif, Djati Mardiatna
      Abstract: This study aims to map the flood disaster and analyze the physical and socioeconomic vulnerability of urban community to flood disaster in Legok Village, Telanipura Subdistrict, Jambi City. This research uses quantitative descriptive method. The data used in this study consists of primary data and secondary data. Primary data is data obtained through field observation and structured interview with questionnaire guidance, while secondary data is data obtained from documents through competent related institution. Interviews were conducted on 90 households taken by simple random sampling method from 476 population. Processing and data analysis is done descriptively quantitative and equipped with spatial analysis. The results showed that based on interpolation result of 2004 flood depth it can be seen that most of the research area was affected by flood with maximum depth reaching 3 meter in eastern of research area. This phenomenon is caused by several factors such as lower topographic conditions than other regions, there is a narrowing of the river and the dirty channel channel that inhibits the water flowing into the main outlet. The study also found that high levels of physical vulnerability were found in 35 buildings, moderate physical susceptibilities of 46 buildings, and a low vulnerability of 9 buildings. Medium to high levels of vulnerability dominate the research area because of the type of building in the form of non-walled buildings. Other research findings are higher socioeconomic vulnerability found in elemental level of education with the majority of low educated level of primary school (44.4%) and vulnerable population element due to elderly and children as much as 30.4%.
      PubDate: 2017-11-01
      DOI: 10.22146/mgi.29779
      Issue No: Vol. 31, No. 2 (2017)
       
  • Simulasi Penggunaan Lahan dan Transportasi Massal untuk Pemodelan
           Pelayanan Jalan di Koridor Jalan Godean

    • Authors: Okta Fajar Saputra, M. Pramono Hadi, Suharyadi Suharyadi
      Abstract: AbstrakRendahnya tingkat pelayanan jalan menjadi salah satu permasalahan yang ada di Koridor Jalan Godean. Permasalahan tersebut dapat di atasi dengan pengendalian penggunaan lahan serta penyediaan angkutan massal. Penelitian ini dilakukan untuk memodelkan tingkat pelayanan jalan jika terjadi perubahan penggunaan lahan sesuai dokumen Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) serta pemodelan jika dilakukan pembangunan angkutan massal. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kuantitatif. Metode kuantitatif digunakan untuk menghitung nilai VCR (Volume - Capacity Ratio) eksisting, nilai VCR dengan pemodelan pembangunan sesuai RDTR, ketentuan nilai intensitas bangunan ideal, dan nilai VCR dengan pemodelan pembangunan angkutan massal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pelayanan jalan pada kondisi eksisting masih sangat rendah dan jauh dari kondisi ideal. Kondisi ini diperakan sama dengan yang terjadi di masa mendatang, bahkan tingkat pelayanan jalan di sebagian segmen jalan akan semakin menurun. Potensi volume kendaraan tidak dapat ditampung oleh ruas jalan yang ada. Ketentuan intensitas bangunan perlu diturunkan sebesar 44,5% di segmen 2 dan sebesar 74,9% di segmen 4 dari nilai koefisien nilai bangunan (KLB) yang sudah direncanakan. Selain menurunkan intensitas bangunan, tingkat pelayanan jalan dapat ditingkatkan dengan pembangunan angkutan massal. Hasil pemodelan menggunakan angkutan massal menunjukkan bahwa moda transportasi yang masih memungkinkan untuk dibangun di Koridor Jalan Godean yaitu monorail dan trem dengan model jalur trem tidak eksklusif. Namun, jika pembangunan angkutan massal yang dipilih berupa trem, maka masih diperlukan penurunan ketentuan intensitas bangunan sekitar 37,8% di segmen 2 dan sekitar 68,78% di segmen 4 dari nilai KLB yang sudah direncanakan.  The low level of road service is one of the problems in the Godean Road Corridor. These problems can be overcome with the control of land use and the provision of mass transportation. This research was conducted to model the level of road service in case of land use change according to the Detailed Spatial Plan (RDTR) document and modeling if mass transportation is carried out. The method used in this research is quantitative method. Quantitative methods are used to calculate the value of the existing VCR (Volume - Capacity Ratio), VCR value with RDTR development modeling, stipulation of ideal building intensity value, and VCR value with mass transportation modeling model. The results showed that the level of road service in the existing condition is still very low and far from ideal conditions. This condition is similar to what happens in the future, even the level of road service in some segments of the road will decrease. Potential volume of vehicles can not be accommodated by existing roads. The building intensity requirement needs to be decreased by 44.5% in segment 2 and equal to 74.9% in segment 4 of the planned building value coefficient (KLB). In addition to reducing the intensity of the building, the level of road services can be increased by the construction of mass transit. The results of modeling using mass transit indicate that the modes of transportation which are still possible to build on the Godean Road Corridor are monorail and tram with non-exclusive tramway model. However, if the construction of mass transit is selected in the form of tram, it is still necessary to decrease the provision of building intensity by 37.8% in segment 2 and about 68.78% in segment 4 of the planned outbreak value.



      PubDate: 2017-11-01
      DOI: 10.22146/mgi.29782
      Issue No: Vol. 31, No. 2 (2017)
       
 
 
JournalTOCs
School of Mathematical and Computer Sciences
Heriot-Watt University
Edinburgh, EH14 4AS, UK
Email: journaltocs@hw.ac.uk
Tel: +00 44 (0)131 4513762
Fax: +00 44 (0)131 4513327
 
Home (Search)
Subjects A-Z
Publishers A-Z
Customise
APIs
Your IP address: 54.196.47.128
 
About JournalTOCs
API
Help
News (blog, publications)
JournalTOCs on Twitter   JournalTOCs on Facebook

JournalTOCs © 2009-2016