Journal Cover Majalah Geografi Indonesia
  [0 followers]  Follow
    
  This is an Open Access Journal Open Access journal
   ISSN (Print) 0215-1790 - ISSN (Online) 2540-945X
   Published by Universitas Gadjah Mada Homepage  [27 journals]
  • Kajian Ekologi Bentanglahan dan Persepsi Masyarakat terhadap Rencana
           Eksplorasi Panas Bumi

    • Authors: Agie S. Gizawi, Su Ritohardoyo, Eko Haryono Haryono
      Pages: 1 - 11
      Abstract: ABSTRAKPenelitian bertujuan untuk mengkaji perubahan ekologi bentanglahan dan kondisi sosial masyarakat (pengetahuan, persepsi, tingkat penerimaan) serta merumuskan strategi pengelolaan lingkungan mengenai rencana dan dampak lingkungan dari eksplorasi panas bumi WKP Gunung Ciremai. Kajian perubahan ekologi bentanglahan dianalisis dengan metode Spatial Landscape Impact Assesment (SLIA) dan kajian kondisi sosial masyarakat dilakukan dengan pengambilan data kuisioner serta depth interview. Strategi pengelolaan lingkungan dirumuskan dengan pendekatan Pressure-State-Response (PSR). Hasil penelitian biofisik merujuk pada tiga aspek bentanglahan yakni area permukaan, reduksi kawasan lingkungan penting dan fragmentasi. Area permukaan yang diprediksi akan berubah seluas 42.060 m2 dan 0,05549 km2 kawasan lingkungan penting yang didominasi oleh kebun campur akan tereduksi. Sedangkan fragmentasi yang akan terjadi mengakibatkan perubahan struktur bentanglahan karena terjadinya penambahan jumlah patch dan koridor. Kondisi sosial masyarakat menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat tidak memiliki pemahaman yang cukup tentang rencana dan dampak eksplorasi panas bumi terhadap lingkungan. Masyarakat memiliki persepsi yang negatif terhadap rencana eksplorasi panas bumi sehingga 74% responden menyatakan menolak rencana eksplorasi panas bumi. Strategi pengelolaan lingkungan dianjurkan untuk dititikberatkan pada upaya subsitusi jasa ekosistem yang hilang akibat eksplorasi dan sosialisasi rencana intensif pada masyarakat. ABSTRACTThe main purpose of this study is to assess the ecological landscape change in Mount Ciremai geothermal powerplant site and to examine public’s knowledge, perception and social acceptance about geothermal powerplant exploration and its environmental impact. Also this study aims to  formulate environmental management strategies based on the study of the landscape ecology and public perception about plan for geothermal exploration. This research was conducted in the Pajambon Village and Cisantana Village, Kuningan Regency. Ecological landscape change is analyzed by Spatial Landscape Impact Assesment (SLIA) and the social study was conducted using questionnaire approach and depth interview. Environmental management strategy was formulated using Pressure-State-Response (PSR) method. The results of ecological landscape change observed in three aspects: surface areas, reduction of environmentally important areas and landscape fragmentation. Geothermal exploration will transform the surface areas about 42,060 m2 and Mixed garden as environmentally important areas will be reducted by geothermal exploration about 0,05549 km2. While fragmentation will occur resulting in changes in the structure of the landscape due to the additional number of patches and corridors. Social conditions indicate that the majority of people lack of knowlodge of the geothermal exploration plans and the impact on environment. Public also have a negative perception of the geothermal exploration plan and that the public has a very low acceptance rate. It is shown from more than 74% respondent’s stated that they refuse the plan of the geothermal exploration in this area. To that end, responses reflect a considerable lack of public information on the subject. Environmental management strategy will be focused on the substitution of ecological/ ecosystem services loss because of the exploration and intensify of plan’s infomation to public.
      PubDate: 2017-04-21
      DOI: 10.22146/mgi.24223
      Issue No: Vol. 31, No. 1 (2017)
       
  • Penggunaan Data Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis untuk
           Pembuatan Prototipe Perangkat Lunak Simulasi Penyebaran Kebakaran Hutan

    • Authors: Agung Mulyo Widodo, Dulbahri Dulbahri, Hartono Hartono
      Pages: 12 - 21
      Abstract: Telah didesain dan disusun prototipe perangkat lunak model interaktif kebakaran hutan, yang dapat memberikan skenario terjadinya kebakaran hutan dengan masukan berupa lokasi titik api (hotspot) dan keluaran berupa informasi lokasi penyebaran kebakaran, luas kebakaran, waktu simulasi yang diperlukan untuk mencapai luas kebakaran serta kecepatan penyebaran kebakaran. Prototipe model interaktif ini dibangun dengan mendefinisikan suatu satuan perluasan eskalasi kebakaran (FirePixel) yang mewakili granularitas data riil lapangan sebesar 400X400 m, letak (posisi geografis) dan luasan pengamatan simulasi kebakaran yang dapat dikustomisasi (disetting) oleh pengguna secara interaktif dengan asumsi kondisi pada sebuah satuan perluasan eskalasi kebakaran atau Fire Pixel diasumsikan homogen dengan parameter konfigurasi vegetasi, kelerengan, sebaran gambut, sebaran batubara sebagai faktor internal dan faktor eksternal yaitu faktor tetangga terdekat, kecepatan dan arah angin, temperatur rata-rata, kelembaban rata-rata dari simulasi dapat dikustomisasi secara interaktif pada saat simulasi. Dalam perhitungan proses kebakaran dan proses pemadaman kebakaran hutan didefinisikan faktor percepatan proses kebakaran yang merupakan akumulasi dari faktor internal dan eksternal yang secara langsung mempengaruhi kecepatan terjadinya proses kebakaran dan pemadaman kebakaran hutan. Perubahan fase kebakaran diperoleh melalui pemodelan matematik dari faktor internal dan eskternal mulai dari fase mulai terbakar sampai kebakaran padam. Hasil validasi prototipe diperoleh kebenaran yang dapat diterima dalam perhitungan statistik menggunakan Uji Kolmogorov-Smirnov Dua Sampel. Hasil skenario 1 menghasilkan nilai KD hitung (=1,5722) < KD tabel (-1,9176) dan skenario 2 menghasilkan nilai KD hitung (=1,36) < nilai KD tabel (=1,5722). It has been designed and structured software prototype interactive model of forest fires, which can provide forest fire scenario, input is the location of hotspots and the output of the location information spread of fire, extensive fires, the simulation time required to reach the area of the fires and speed of fire deployment.The prototype interactive model is built by defining an expansion unit escalation fire (FirePixel) that represent real data granularity field of 400x400 m, position (geographical) and the extent of the fire simulation observations that can be customized (be set) by the user interactively by assuming the conditions in a expansion unit escalation of fire or fire pixel assumed homogeneous with the parameters : configuration of vegetation, slope, the distribution of peat, coal distribution as internal factors and external factors that factor nearest neighbors, wind speed and direction, average temperature, average humidity of the simulation can be customized interactively during the simulation. In the calculation of the fire and the fire fighting forest, fires the acceleration factor is defined as an accumulation of internal and external factors that directly affect the speed of the process of extinguishing fires and forest fires. Fire phase change obtained through mathematical modeling of internal and external factors ranging from phase start to burn until the fire goes out. Prototype validation results obtained acceptable truth in statistical calculations using the Kolmogorov Smirnov Two Sample. Results 1 scenario produces KDcount value (= 1.5722) <KD table value (-1.9176) and scenario 2 yields the KDcount value (= 1.36) < KDtable value (=1.5722). 
      PubDate: 2017-04-21
      DOI: 10.22146/mgi.24224
      Issue No: Vol. 31, No. 1 (2017)
       
  • Strategi untuk Mengatasi Permasalahan Wanita Rawan Sosial Ekonomi (WRSE)

    • Authors: Alia Fajarwati, Eva Latifah Puspita Sari, Nirania Galuh Putrie Soewarno
      Pages: 22 - 30
      Abstract: Di Indonesia, dalam upaya untuk mengentaskan kemiskinan, Dinas Sosial mengelompokkan penduduk yang menjadi target, yaitu kelompok penduduk Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS). Menurut Dinas Sosial, setidaknya terdapat 22 definisi operasional dan karakteristik dari masing-masing jenis PMKS, salah satunya adalah Wanita Rawan Sosial Ekonomi (WRSE).  Metode deskriptif baik kuantitatif maupun kualitatif digunakan dalam studi ini. Metode yang digunakan dalam studi ini adalah  deskriptif baik dengan pendekatan  kualitatif maupuan pendekatan kuantitatif.  Lokasi penelitian adalah di Kabupaten Temanggung.  Survei lapangan dilaksanakan di Desa Tepusen, Kecamatan Kaloran.  Metode sensus digunakan dalam studi ini, yaitu dengan mewawancarai seluruh WRSE yang ada di Desa Tepusen.  Hasil studi menunujukkan: 1) jumlah WRSE terbesar di Kabupaten Temanggung menurut data statistik adalah di Kecamatan Temanggung yaitu sebanyak 691 WRSE dan terkecil di Kecamatan Bulu yaitu sebayak 22 WRSE; 2) faktor-faktor yang menyebabkan wanita menjadi WRSE di desa ini adalah perceraian/kematian suami, tingkat pendidikan rendah, pekerjaan dengan gaji rendah; 3) upaya-upaya yang telah dilakukan Dinsos untuk mengatasi WRSE yaitu dana ternak, pelatihan pembuatan kue dan pelatihan sulam pita; 4) faktor-faktor penghambat dalam upaya pengentasan WRSE adalah terbatasnya waktu senggang, tingkat pendidikan rendah, usia, jumlah tanggungan, terbatasnya akses finansial; dan 5) strategi yang dapat direkomendasikan untuk mengentaskan WRSE dari kemiskinan: akses ke pendidikan formal, pelatihan untuk meningkatkan kapabilitas, bantuan dana untuk penghidupan dan anak-anak WRSE, membuka akses pada keuangan mikro, pendampingan spiritual/psikologis, memperkuat jaringan pendukung WRSE dan pelibatan WRSE dalam perencanaan maupun program pengentasan kemiskinan. In Indonesia, as an effort to a poverty alleviation, Department of Social Welfare in Indonesia has a program with the target groups such as ‘Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS)- The Social Welfare Problems People’.  There are at least 22 operational definitions and characteristic from each category of PMKS.  One of group of women who included in this group is ‘Wanita Rawan Sosial Ekonomi (WRSE)- Economic Social Prone Women-group.  This study uses descriptive method, both with quantitative and  qualitative approach. The research location is in the District of Temanggung. The field survey was conducted in Tepusen Village, Kaloran District. Census method used in this study, which by interviewing the entire WRSE in the Tepusen Village. The study results show: 1) factors that cause women to be WRSE in this village is divorcement or the husband’s death, low education level, low-salary occuption; 2) the efforts that have been made to overcome WRSE’s poverty by Dinsos namely livestock funds, cullinary training and training of stitching ribbon; 3) the factors inhibiting reduction WRSE is limited leisure time, low education level, age, number of dependents, limited access to finance; and 4) strategies can be recommended to alleviate WRSE of poverty are opening access to formal education, holding trainings to improve capability, funding for WRSE’s livelihood and WRSE’s children, opening access to microfinance, mentoring WRSE’s spiritual / psychological, strengthening the WRSE’s supporters network and involving WRSE in WRSE’s poverty alleviation planning or program.
      PubDate: 2017-04-21
      DOI: 10.22146/mgi.24227
      Issue No: Vol. 31, No. 1 (2017)
       
  • Kajian Kualitas Airtanah Bebas antara Sungai Kuning dan Sungai Tepus di
           Kecamatan Ngemplak, Yogyakata, Indonesia

    • Authors: Aris Sutardi, Slamet Suprayogi, Tjahyo Nugroho Adji
      Pages: 31 - 38
      Abstract: Pertumbuhan penduduk di Kabupaten Sleman telah menempatkan banyak tekanan pada sumber daya air. Perkembangan ini berkembang pesat ke daerah pedesaan termasuk Ngaglik, Ngemplak dan Kalasan Kecamatan. Oleh karena itu, studi tentang kualitas air di daerah ini penting. Daerah antara Sungai Kuning dan Sungai  Tepus merupakan daerah yang ideal untuk melakukan penelitian ini saerah ini meliputi 3 kecamatan yaitu: Ngaglik, Ngemplak dan Kalasan. Dalam penelitian ini, parameter untuk menilai kualitas air terbatas pada 4 parameter: Nitrat, Nitrit, Amoniak dan Fosfat. Penelitian ini dilakukan pada tahun 2015, pengambilan sampel purposive dipilih untuk mengumpulkan besar sampel air tanah. Penggunaan lahan dan kegiatan lain yang dianggap dapat menyebabkan polusi air seperti pertanian, catel, dan limbah domestik. Sampel dianalisis di laboratorium untuk menentukan konsentrasi Nitrat, Nitrit, amoniak dan fosfat. Secara total, 23 sampel dikumpulkan. Selama kerja lapangan, tabel air diukur untuk menghasilkan peta flownet. Peta flownet ini akan digunakan untuk menganalisis potensi pencemaran air tanah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Nitrat, Nitrit, amoniak, dan fosfat yang bervariasi. Kontaminasi Nitrat dan Nitrit dalam air tanah masih di bawah standar sebesar 10 mg / L untuk Nitrat dan 0,06 mg / L untuk Nitrit sementara amoniak dan fosfat berada di atas standar sebesar 0,02 mg / L untuk amoniak dan 0,2 mg / L untuk fosfat. Tingginya jumlah amoniak ini disebabkan oleh kegiatan peternakan ayam sementara fosfat disebabkan oleh penggunaan pemupukan fosfat di daerah pertanian padi. Distribusi kualitas air tanah di daerah itu bervariasi berdasarkan penggunaan lahan, kegiatan orang dan aliran air tanah. Air tanah potensial pencemaran dilakukan berdasarkan aliran air tanah. Hasilnya menunjukkan bahwa daerah atas (utara) memiliki konsentrasi yang lebih rendah dari Nitrat, Nitrit, amoniak dan fosfat. Daerah pertengahan, di mana sebagian besar peternakan ayam dan pertanian berada, telah menjadi sumber pencemaran air. Population growth in Sleman regency have put a lot of pressure on water resources. This development is growing rapidly into the rural area including Ngaglik, Ngemplak and Kalasan Sub-district. Therefore, study about water quality in these area is important. The area between Kuning River and Tepus River is an ideal area to conduct this research since its cover 3 sub-districts: Ngaglik, Ngemplak and Kalasan. In this research, the parameter to assess water quality is limited to 4 parameters: Nitrate, Nitrite, Ammoniac and Phosphate. The study was conducted in 2015. Purposive sampling was selected to collect the groundwater sampels. Landuse and other people activities that can contribute to water pollution such as farming, catel, and domestic waste were considered. The samples were analysed in laboratory to define the concentration of Nitrate, Nitrite, ammoniac and phosphate. In total, 23 samples were collected. During fieldwork, the water table were measured to generate the flownet map. This flownet map will be used to analyse the groundwater pollution potential. The result of this research shows that the Nitrate, Nitrite, ammoniac, and phosphate were varies. The contamination of Nitrate and Nitrite in the groundwater is still below standard by 10 mg/L for Nitrate and 0,06 mg/L for Nitrite while ammoniac and phosphate were above standard by 0,02 mg/L for ammoniac and 0,2 mg/L for phosphate. These high number of ammoniac were caused by the chicken farming activities while phosphate were caused by the use of phosphate fertilization in the rice farming area. The distribution of groundwater quality in the area were varies based on the landuse, people activities and groundwater flow. The groundwater potential pollution were conducted based on the groundwater flow. The result show that the upper area (north) has lower concentration of Nitrate, Nitrite, ammoniac and phosphate. The mid area, where most of the chicken farm and rice farm are located, has become the sources of the water pollution.
      PubDate: 2017-04-21
      DOI: 10.22146/mgi.24230
      Issue No: Vol. 31, No. 1 (2017)
       
  • Pemetaan kualitas permukiman dengan menggunakan penginderaan jauh dan SIG
           di kecamatan Batam kota, Batam

    • Authors: M. Farizki, Wenang Anurogo
      Pages: 39 - 45
      Abstract: Permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal. Kondisi dari suatu permukiman sangat mempengaruhi kelangsungan kehidupan dan kesejahteraan makhluk hidup di permukiman tersebut. Untuk mengetahui kualitas permukiman di Kecamatan Batam Kota dibutuhkan parameter-parameter penentu yang di interpretasi dari citra resolusi tinggi (Google Earth). Untuk membantu proses analisis dengan memanfaatkan teknologi penginderaan jauh dan untuk pemetaan menggunakan software SIG. Metode yang digunakan adalah metode pengharkatan (scoring), tumpang susun (overlay). Hasil dari overlay tersebut adalah peta kualitas permukiman di kecamatan Batam Kota, Kota Batam. Dari penelitian ini dapat diketahui bahwa permukiman di Kecamatan Batam Kota dengan kualitas baik dengan luas 476.88 Ha, kualitas sedang dengan luas 650 Ha, dan kualitas buruk dengan luas 48.89 Ha. Dari hasil tersebut permukiman di Kecamatan Batam Kota didominasi oleh permukiman dengan kualitas sedang. The neighborhood is part of the environment that serves as a neighborhood residence. The condition of a settlement extremely affects to the continuity of life and the well-being of living creatures in the neighborhood. To find out the quality of the neighborhoods in districts of Batam City required parameters in determining the interpretation of high-resolution images (Google Earth). To help the analysis process by making use of remote sensing technology for the mapping, and using software SIG. The Method is using score (scoring), and stack bundles (overlay). The result of the overlay mapped quality neighborhoods in districts of Batam city, Batam city. From this research it can be known that settlements in Batam City with good quality with extensive 476.88 Ha, better quality with an area of 650 Hectares, and bad quality with extensive 48.89 Ha. The results of the neighborhoods in districts of Batam City are dominated by the neighborhoods with better quality.
      PubDate: 2017-04-21
      DOI: 10.22146/mgi.24231
      Issue No: Vol. 31, No. 1 (2017)
       
  • Integrasi Model SWAT dan SIG dalam Upaya Menekan Laju Erosi DAD Deli,
           Sumatera Utara

    • Authors: Riki Rahmad, Ali Nurman
      Pages: 46 - 55
      Abstract: Penelitian ini bertujuan untuk melakukan simulasi model SWAT dalam menghitung besarnya laju erosi DAS, menguji kesesuaian model dalam memprediksi erosi, serta menentukan skenario penggunaan lahan yang paling optimal menurunkan laju erosi. Penelitian ini dilakukan di DAS Deli, Sumatera Utara. Pada penelitian ini analisis SWAT dilakukan dengan bantuan Sistem Informasi Geografi (SIG) melalui 4 proses yaitu delineasi, pembentukan Hydrological Response Unit (HRU), pengolahan data dan simulasi, serta proses visualisasi. Hasil penelitian menunjukkan besarnya erosi rata-rata DAS Deli adalah 410,72 ton/ha/tahun. Hasil ini menunjukkan DAS Deli termasuk kedalam Tingkat Bahaya Erosi (TBE) kategori Berat dengan kriteria sangat berat 37,04%, berat 17,07%, sedang 21,46%, ringan 17,38%, dan sangat ringan 7,04%. Uji validasi model menunjukkan bahwa ada hubungan positif antara debit model dan observasi dimana persentase perbedaan nilainya sangat kecil yang artinya besarnya debit model hampir sangat mendekati besarnya debit observasi, serta model dikategorikan sangat baik dalam melakukan simulasi debit aliran harian pada Sungai Deli. Metode skenario adalah berdasarkan analisis TBE. Hasil skenario penggunaan lahan berhasil menurunkan laju erosi DAS Deli 34,78% menjadi 267,88 ton/ha/tahun.This study aims to conduct SWAT model simulation calculation of the rate of erosion of the watershed, testing the suitability of the model in predicting erosion, land use scenarios and determine the most optimal decrease the rate of erosion. This research was conducted in the watershed Deli, North Sumatra. In this study, SWAT analysis performed with the help of Geographical Information Systems (GIS) through 4 delineation process, namely, the establishment of Hydrological Response Unit (HRU), data processing and simulation, as well as the visualization process. The results show the average amount of erosion DAS Deli is 410.72 ton/ha/year. These results indicate DAS Deli included into Erosion Hazard Level (TBE) weight category with very strict criteria 37.04%, 17.07% by weight, were 21.46%, 17.38% mild and very mild 7.04%. Test model validation indicates that there is a positive relationship between the discharge and observation models where the percentage difference in value is very small, which means the amount of discharge model is very very close to a number of discharge observations, and models are categorized very good at simulating the daily flow rate at the Deli River. The scenario method is based on analysis of TBE. The results of land use scenarios managed to reduce the rate of erosion of the watershed Deli 34.78% to 267.88 tons/ha/year.
      PubDate: 2017-04-21
      DOI: 10.22146/mgi.24232
      Issue No: Vol. 31, No. 1 (2017)
       
  • Identifikasi Dinamika Spasial Sumberdaya Mangrove di Wilayah Pesisir
           Kabupaten Demak Jawa Tengah

    • Authors: Septiana Faturrohmah, Bramantyo Marjuki
      Pages: 56 - 64
      Abstract: Sebagai salah satu sumberdaya pesisir, hutan mangrove memiliki fungsi sosial ekonomi, fungsi ekologis, dan fungsi fisik. Namun demikian, sebagian hutan mangrove di pesisir Kabupaten Demak berada pada kondisi rusak. Menurut data dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Demak, pada tahun 2011 luas ekosistem mangrove di Kabupaten Demak sekitar 8 % dalam kondisi rusak. Sebagai salah satu upaya perlindungan wilayah pesisir di Kabupaten Demak, maka diperlukan revitalisasi hutan mangrove melalui kegiatan konservasi. Kegiatan konservasi dapat berjalan lebih efektif apabila diawali dengan proses perencanaan berdasarkan data-data, inventarisasi, dan pemantauan. Maksud penelitian ini adalah untuk memberikan kontribusi terkait arahan spasial perencanaan konservasi mangrove di wilayah pesisir Kabupaten Demak melalui identifikasi distribusi dan luas tutupan hutan mangrove serta dinamikanya dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif dan kuantitatif sederhana dengan bantuan data citra penginderaan jauh dan Sistem Informasi Geografis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam kurun waktu lima tahun terakhir (2010-2015), distribusi spasial dan luasan hutan mangrove di wilayah pesisir Kabupaten Demak secara umum tidak mengalami perubahan yang besar, yaitu hanya mengalami penurunan seluas 68,17 Ha. Akan tetapi, dalam pengamatan yang lebih detail pada lingkup kecamatan dan desa, perubahan distribusi dan luasan terlihat lebih variatif. As the one of coastal resource, mangrove has socio-economic, and physical functions. Unfortunately, certain extent of the mangrove forests in coastal area of Demak Regency has been degraded over time. Department of Marine and Fisheries of Demak Regency has been informed that at 2011, about 8 % of mangrove area in Demak Regency is in damaged condition. In order to protect the coastal area of Demak Regency, it necessary to revitalize mangrove forest by conservation programme. Conservation can be effective if started by data inventaritation and monitoring-based planning. The aim of this study is to give a contribution on spatial planning of mangrove conservation in coastal area of Demak Regency through mangrove distribution, area, and its dynamics identifications. The dynamics of the mangrove area will be identified for the last five years. The analysis method used in this study is based on qualitative assessment aided by support of remote sensing data and Geographic Information System. The study results show that in the last five years (2010-2015), mangrove forests in Demak Regency didn’t change drastically, instead it is only decreased around 68,17 Hectars. However, observation and analysis on more detailed scale (sub district and village level) shows that the dynamics of mangrove area and its distribution varies significantly.
      PubDate: 2017-04-21
      DOI: 10.22146/mgi.24234
      Issue No: Vol. 31, No. 1 (2017)
       
  • Pemanfaatan Citra Landsat 8 Multitemporal dan Model Forest Canopy Density
           (FCD) untuk Analisis Perubahan Kerapatan Kanopi Hutan di Kawasan Fakultas
           Geografi Universitas Gadjah Mada Gunung Kelud, Jawa Timur

    • Authors: Shafira Himayah, Hartono Hartono, Projo danoedoro
      Pages: 65 - 72
      Abstract: Penginderaan jauh memiliki keunggulan dalam hal resolusi temporal yang dapat dimanfaatkan untuk meneliti perubahan suatu obyek dalam waktu yang berbeda. Hutan Gunung Kelud mengalami perubahan setelah erupsi tahun 2014. Perubahan tersebut dapat dianalisis dengan memanfaatkan teknologi penginderaan jauh melalui citra multitemporal. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kemampuan citra Landsat 8 multitemporal dan Forest Canopy Density (FCD) untuk perubahan kerapatan kanopi di Hutan Lindung Gunung Kelud sebelum dan sesudah erupsi tahun 2014.Citra penginderaan jauh yang digunakan adalah citra Landsat 8 perekaman 26 Juni 2013 dan 4 September 2015. Metode yang digunakan adalah pemodelan FCD yang menghasilkan kerapatan kanopi per piksel. Hasil pemodelan FCD kemudian digunakan untuk menganalisis perubahan kerapatan kanopi setelah erupsi. Berdasarkan penelitan ini didapatkan hasil bahwa citra Landsat 8 dapat dipergunakan untuk mengetahui kerapatan kanopi Hutan Lindung Gunung Kelud sebelum dan setelah erupsi dengan masing-masing akurasi sebesar 83,73% dan 81,14%. Terjadi perubahan luas kerapatan kanopi setelah erupsi, dimana terdapat 8833,95 Ha hutan yang mengalami penurunan kerapatan kanopi, sedangkan hutan dengan kerapatan kanopi yang tetap adalah seluas 2149,38 Ha, dan hutan yang mengalami peningkatan kerapatan kanopi adalah seluas 1643,31 Ha. Remote sensing has an advantage in terms of temporal resolution that can be exploited to examine the changes of an object in different times. Gunung Kelud Forest is changing after the eruption in 2014. The changes can be analyzed by utilizing remote sensing technology through multitemporal imagery. This study aims to examine the capabilities of Landsat 8 multitemporal and Forest Canopy Density (FCD) images for changes in canopy density in Kelud Protection Forest before and after the eruption in 2014. Remote sensing imagery used is Landsat 8 image recording June 26, 2013, and September 4, 2015, The method used is FCD modeling that produces a density of the canopy per pixel. FCD modeling results are then used to analyze changes in density of the canopy after the eruption. Based on this research, it can be concluded that Landsat 8 image can be used to determine the density of canopy of Kelud Protection Forest before and after eruption with 83.73% and 81.14% accuracy respectively. There was a change in the area of the canopy density after the eruption, where there was 8833.95 ha of forest that experienced a decrease in canopy density, whereas forests with fixed canopy densities were 2149.38 Ha, and forests with an increase in canopy density were 1643.31 Ha.
      PubDate: 2017-04-21
      DOI: 10.22146/mgi.24236
      Issue No: Vol. 31, No. 1 (2017)
       
  • Pemanfaatan Foto Udara Format Kecil untuk Ekstraksi Digital Elevation
           Model dengan Metode Stereoplotting

    • Authors: Taufik Hery Purwanto
      Pages: 73 - 89
      Abstract: Perkembangan Unmanned Aerial Vehicle (UAV) sebagai wahana dan kamera digital non-metrik sebagai sensor semakin mempermudah dalam akuisisi data foto udara Foto Udara Format Kecil (FUFK). Penelitian ini bertujuan menerapkan metode stereoplotting digital untuk menghasilkan Digital Elevation Model (DEM) dari FUFK hasil pemotretan udara dengan wahana UAV sebagian bukit Jering yang merupakan lokasi pembangunan perumahan murah bersubsidi Godean Jogja Hill’s. Metode penelitian ini meliputi: proses perencanaan (perencanaan jalur terbang, pelaksanaan pemotretan udara), pengolahan data (kalibrasi kamera, koreksi foto udara, stereoplotting, interpolasi), dan uji akurasi. Hasil penelitian adalah blok FUFK dan DEM dengan metode stereoplotting. Kesimpulan dari penelitian ini adalah FUFK yang diperoleh dari UAV memiliki distorsi lensa yang cukup besar, oleh karena itu stereoplotting interaktif dapat diterapkan pada FUFK dengan hasil yang cukup baik jika FUFK yang digunakan telah terkoreksi dari distorsi, terutama distorsi lensa. Akurasi absolut DEM yang dihasilkan memiliki HRMSE sebesar 0.073 meter dengan horizontal accuracy yang mencapai 0.121 meter, sedangkan RMSEz yang dimiliki hanya mampu mencapai 0.482 meter dengan vertical accurasi yang mencapai 0.793 meter pada tingkat kepercayaan 90%. Berdasarkan DEM yang diperoleh, maka dapat digunakan untuk merepresentasikan konfigurasi permukaan bukit dan menghitung volume sebagian bukit Jering yang telah dikeruk sebesar 55.953,813 m3. The development of Unmanned Aerial Vehicle (UAV) as a vehicle and non-metric digital camera as a sensor further simplify the data acquisition of Small Format Aerial Photography (SFAP). This study aims to apply digital stereoplotting method for generating Digital Elevation Model (DEM) of SFAP results of aerial photography with UAV on the Jering hill which is cheap subsidized housing location named Godean Yogyakarta Hill’s. This research method includes: flight planning (flight paths, aerial photography acquisition), data processing (camera calibration, correction of aerial photographs, stereoplotting, interpolation), and accuracy test. Results of the research was SFAP block and DEM generated from stereoplotting method. The conclusion of this study is SFAP obtained from UAV has a lens distortion is large, and therefore can be applied to interactive stereoplotting SFAP with fairly good results if SFAP used has been corrected of distortion, especially distortion lens (idealized). The absolute accuracy of the resulting DEM have HRMSE of 0,073 meters with a horizontal accuracy which reaches 0,121 meters, while RMSEz only able to reach 0,482 meters with a vertical accuracy which reaches 0793 meters at 90% confidence level. Based on the DEM obtained, it can be used to represent the surface configuration and to calculate the volume partially Jering hill that has been dredged out for is 55.953,813 m3.  
      PubDate: 2017-04-21
      DOI: 10.22146/mgi.24246
      Issue No: Vol. 31, No. 1 (2017)
       
  • Pemetaan Potensi Kekeringan Lahan se-pulau Batam menggunakan Teknik Sistem
           Informasi Geografis (SIG) dan Penginderaan Jauh

    • Authors: Titi Aprilliyanti, Muhammad Zainuddin
      Pages: 90 - 94
      Abstract: Kekeringan merupakan hubungan antara ketersediaan air yang jauh dibawah kebutuhan baik untuk kebutuhan hidup, pertanian, kegiatan ekonomi dan lingkungan. Informasi mengenai potensi kekeringan sangat diperlukan untuk pencegahan ataupun penanggulangan untuk mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah menghasilkan peta potensi kekeringan lahan di Batam yang berbasis web. Dalam penelitian ini memanfaatkan teknik penginderaan jauh dan SIG. Penggunaan citra landsat 8 untuk menentukan nilai LST (Land Surface Temperature) dan penggunaan lahan kemudian di overlay dan dilakukan scoring. Tahap akhir penelitian yaitu melakukan validasi terhadap parameter-parameter yang mempengaruhi dengan mengambil beberapa sampel. Adapun hasil akhir dari penelitian ini adalah peta potensi kekeringan se-pulau Batam yang memiliki 5 kelas potensi kekeringan. Kelas potensi kekeringan sangat rendah dengan  luas area 2629.45 ha yang dominan terletak pada Kecamatan Sungai Beduk, Sekupang dan Batu Aji. Kelas potensi kekeringan rendah dengan luas area 9585.521 ha yang dominan terletak pada Kecamatan Sekupang. Kelas potensi kekeringan sedang dengan  luas area 9507.12 ha yang dominan terletak pada Kecamatan Sekupang. Kelas potensi kekeringan tinggi dengan  luas area 7081.392 ha yang dominan terletak pada Kecamatan Sekupang, Sagulung dan Nongsa. Kelas potensi kekeringan sangat tinggi dengan luas area 15600.12 ha yang dominan terletak pada Kecamatan Batam Kota dan Nongsa. Drought is the relationship between the availability of water is far below the need both for the necessities of life, agriculture, economic activities and the environment. Information about potential droughts is indispensable for the prevention or mitigation to reduce the negative impact caused. As for the purpose of this research is to produce a map of potential drought land in the Batam-based web. In this research utilising remote sensing and GIS techniques. The use of landsat 8 to determine the value of the LST (Land Surface Temperature) and land use overlay and then done the scoring. The final stage of research i.e. performs validation against parameters that influence by taking some samples. As for the end result of this research is to map the potential dryness in Island Batam which have 5 classes of potential drought. The class of potential drought is very low with an area of 2629.45 ha, the dominant River is located in Sungai Beduk , Sekupang and Batu Aji. The class of potential low drought with an area of 9,585,521 ha located on the dominant Sub Sekupang. The class of potential drought being with an area of 9507.12 ha located on the dominant Sub Sekupang. The class of potential high dryness with an area of 7,081,392 ha located on the dominant Sub Sekupang, Sagulung and Nongsa. The class of potential drought is extremely high with an area of 15600.12 ha located on the dominant sub Batam city and Nongsa.
      PubDate: 2017-04-21
      DOI: 10.22146/mgi.24251
      Issue No: Vol. 31, No. 1 (2017)
       
  • Vegetasi Habitat Komodo dalam Bentang Alam Riung dan Pulau Ontoloe di Nusa
           Tenggara Timur

    • Authors: Willem Amu Blegur, Tjut Sugandawaty Djohan, Su Ritohardoyo
      Pages: 95 - 111
      Abstract: Penelitian ini mengkaji vegetasi habitat komodo dalam bentang alam Riung dan Ontoloe. Ekosistem karst mendominasi di Riung dan Ontoloe. Lokasi kajian merupakan taman nasional yaitu CA Wolo Tado, CA Riung dan TWAL 17 Pulau. Taman nasional ditetapkan pada tahun 1992 dan 1996. Pembakaran sabana di hutan sabana atau savanna woodland dengan skala kecil menjaga ketersediaan sabana di Pulau Besar, Flores. Sabana tersebut merupakan sumber makanan bagi pakan komodo yaitu rusa (Cervus timorensis). Sebaliknya, di Pulau Kecil atau Ontoloe tidak ada pembakaran sabana berskala kecil. Secara khusus, penelitian ini, mempelajari: a) tipe ekosistem penyusun bentang alam Pulau Besar dan Pulau Kecil; b) cacah jenis, densitas dan growth form vegetasi habitat; c) kualitas ἀsiko kimia tanah yaitu temperatur, tekstur, pH, NO3, NH4,  PO4, K tersedia; udara yaitu temperatur dan salinitas air ekosistem hutan bakau. Data dikoleksi dengan  kuadrat plot dengan bantuan transek. Ukuran plot pada ekosistem hutan bakau, hutan ekoton dan hutan legong 20mx20m dengan ulangan 4x. Sedangkan  padang rumput yang jarang pohon, ukuran plot 100mx100m dengan ulangan 4x. Data dicuplik berupa: cacah jenis, densitas dan growth form penyusun vegetasi.  Data ἀsikokimia  tanah, udara dan air dicuplik di bawah kanopi dan gap kanopi. Hasil yang diperoleh tipe ekosistem habitat di Pulau Besar lebih banyak daripada di Pulau Kecil yaitu ekosistem hutan bakau, hutan ekoton, hutan sabana, dan hutan legong. Cacah jenis, densitas dan growth form di Pulau Besar juga lebih tinggi daripada di Pulau Kecil. Hal ini merespon tekstur tanah, kadar NO3, kadar NH4 dan temperatur. Pada Pulau Kecil, ditemukan ancaman dengan densitas yang cukup tinggi per 4 ha yaitu sapling L. glauca 179 individu, A. lebbeck 353 individu dan semak L. camara 169 individu. Hal ini membuktikan bahwa pembakaran hutan sabana dengan skala kecil menjaga ketersediaan sabana di Pulau Besar, sehingga komodo akan terlindungi. This study examines the vegetation of Komodo habitat in the Riung and Ontoloe landscapes. the karst ecosystem dominates in Riung and Ontoloe. The study location is a national park of CA Wolo Tado, CA Riung and TWAL 17 Islands. National parks were set in 1992 and 1996. the savanna Ḁres in savanna woods or small-scale savanna woodland keep the availability of savannas on the Great Island of Flores. Sabana is a source of food for feeding dragons deer (Cervus timoren-sis). On the other hand, on Small Island or Ontoloe there is no small scale savanna burning. Speciacally, this study, studied: a) the type of ecosystem composing the landscape of Big Island and Small Islands; B) count type, density and growth form of habitat vegetation; C) quality of soil chemical physics ie temperature, texture, pH, NO3, NH4, PO4, K available; Air that is temperature and salinity water ecosystem of mangrove forest. Data collected with square plot with transect help. ἀe plot size of the mangrove ecosystem, the ecoton forest and the 20mx20m legong forest with 4x replications. While a rare meadow of trees, plot size 100mx100m with 4x repeat. ἀe data is cultivated in the form of: count type, density and growth form of vegetation. Physicochemical data of soil, air and water are collected under canopy and canopy gap. ἀe results obtained by habitat ecosystem type in Pulau Besar are more than in Small Island, ie mangrove forest ecosystem, ecoton forest, savannah forest, and forest legong. Character type, density and growth form on the Big Island is also higher than in Small Island. It responds to soil texture, NO3 levels, NH4 levels and temperature. On Small Island, there were threats with high density per 4 ha ie Sapling L. glauca 179 individuals, A. lebbeck 353 individuals and L. camara bushes 169 individuals. ἀis proves that small-scale savage forest savings keep the availability of savannas on the Big Island, so that the Komodo dragon will be protected.
      DOI: 10.22146/mgi.24530
      Issue No: Vol. 31, No. 1
       
 
 
JournalTOCs
School of Mathematical and Computer Sciences
Heriot-Watt University
Edinburgh, EH14 4AS, UK
Email: journaltocs@hw.ac.uk
Tel: +00 44 (0)131 4513762
Fax: +00 44 (0)131 4513327
 
Home (Search)
Subjects A-Z
Publishers A-Z
Customise
APIs
Your IP address: 54.225.57.120
 
About JournalTOCs
API
Help
News (blog, publications)
JournalTOCs on Twitter   JournalTOCs on Facebook

JournalTOCs © 2009-2016