Journal Cover Jurnal Agritech
  [0 followers]  Follow
    
  This is an Open Access Journal Open Access journal
   ISSN (Print) 0216-0455 - ISSN (Online) 2527-3825
   Published by Universitas Gadjah Mada Homepage  [27 journals]
  • Potensi Hipolipidemik Yogurt dari Isolat Protein Biji Kecipir
           (Psophocarpus tetragonolobus) pada Tikus Hiperkolesterol dengan Perlakuan
           Jumlah Pakan

    • Authors: Agus Slamet, Bayu Kanetro
      Pages: 1 - 6
      Abstract: Protein content of winged bean is almost the same as soybean, but the beany flavor is more poweful than soybean. Therefore the protein of winged bean was isolated prior to use as raw material of yogurt. This research was aimed to determine the potency of  hypocholestrolemic activity of yogurt protein isolate of winged  bean through in vivo bioassay by using Sprague Dawley male rats. The treatments of the research were yogurt feed treatment with concentration of yogurt 0 (standard feed without yogurt as a control), 2, and 4 g yogurt/day as low and high concentration treatment respectively for 4th weeks after hypercholesterol feed  treatment for 1 week. The blood lipid profile of rats, including triglyceride, cholesterol total, High Density Lipoprotein (HDL), Low  Density Lipoprotein (LDL) cholesterol were analysed on the 2nd  and 4th weeks for the yogurt feed treatment while for before  yogurt feed treatment, the evaluation were based on the  adaptation phase and the 1st week for hypercholesterol phase.  The result of this research showed that the blood triglyceride,  cholesterol total, LDL increased, and the blood HDL decreased in hypercholesterol phase before yogurt feed treatment. The potency of hypocholestrolemic of yogurt from protein isolate of winged  bean was shown by the decreasing of blood triglyceride,  cholesterol total, LDL and increasing the HDL cholesterol after the yogurt feed treatment with low and high concentration. That  indicated that yogurt that was made of protein isolate of winged  bean could reduced cholesterol. ABSTRAKBiji kecipir memiliki kadar protein yang hampir sama dengan  kedelai, namun bau langunya lebih tajam daripada kedelai,  sehingga perlu diisolasi proteinnya sebelum digunakan sebagai  bahan baku yogurt. Tujuan penelitian ini adalah menentukan  potensi hipokolesterolemik yogurt isolat proteun biji kecipir  melalui uji biologis in vivo menggunakan tikus jantan Sprague Dawley. Perlakuan penelitian ini adalah perlakuan pakan yogurt  dengan konsentrasi 0 (pakan standar tanpa penambahan yogurt sebagai kontrol), 2, dan 4 g yogurt/hari berturut-turut sebagai  perlakuan konsentrasi rendah dan tinggi selama 4 minggu  perlakuan pakan yogurt sesudah pemberian pakan hiperkolesterol selama 1 minggu. Profil lipida darah tikus meliputi kadar trigliserida, total kolesterol, kolesterol High Density  Lipoprotein (HDL), dan Low Density Lipoprotein (LDL) dianalisis  pada minggu ke 2 dan 4 minggu selama perlakuan pakan yogurt  dan sebelum perlakuan pakan yogurt yaitu pada fase pemeliharaan adaptasi dan 1 minggu pada fase pemeliharan  hiperkolesterol. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa  trigliserida, total kolesterol, dan kolesterol LDL meningkat dan kolesterol HDL menurun selama fase pemberian pakan  hiperkolesterol sebelum perlakuan pakan yogurt. Potensi  hipokolesterol yogurt isolat protein biji kecipir ditunjukkan dengan penurunan trigliserida, total kolesterol, dan kolesterol LDL, serta peningkatan kolesterol HDL sesudah perlakuan pakan yogurt dengan konsentrasi rendah maupun tinggi. Hal tersebut mengindikasikan bahwa yogurt isolat protein biji kecipir mampu menurunkan kolesterol.
      PubDate: 2017-03-10
      DOI: 10.22146/agritech.16994
      Issue No: Vol. 37, No. 1 (2017)
       
  • Pengaruh Penambahan Rempah dan Bentuk Minuman terhadap Aktivitas
           Antioksidan Berbagai Minuman Tradisional Indonesia

    • Authors: Aisyah Tri Septiana, Mohammad Samsi, Mustaufik Mustaufik
      Pages: 7 - 15
      Abstract: Indonesia traditional beverages such as minuman jahe, kunyit asam, beras kencur, and minuman temulawak are usually made with the addition of spices. They can be served in the form of  liquid or powder. This research was aimed to study the effect of  the beverage type, addition of spices, and the form of product on their antioxidant activity. The type of sugar used in this study was palm sugar juice. Total phenolic contents were measured to  indicate the level of antioxidants. Measurement of antioxidant  activity was conducted by analyzing malonaldehyde from linoleic  acid and capturing capacity of DPPH radical. The results showed  that Indonesian traditional beverage could inhibit the oxidation of linoleic acid and capture free radicals. Free radical capturing  capacity of curcuma beverage greater than other beverages, but  the malonaldehyde (MDA) inhibitor effect was not different. Total phenolic content of curcuma tended to be higher than the other traditional beverages. The addition of spices could raise the level  of total phenolic content in beverages and increase free radical  trapping capacity. Drying the beverages into powder could reduce the levels of total phenolic content and but did not reduce the  antioxidant activity. ABSTRAKMinuman tradisional Indonesia seperti minuman jahe, kunyit  asam, beras kencur, dan minuman temulawak biasanya dibuat  dengan tambahan berbagai rempah. Minuman tersebut dapat  disajikan dalam bentuk cair maupun serbuk. Penelitian ini  bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis minuman,  penambahan rempah tambahan, dan bentuk minuman terhadap aktivitas antioksidan minuman. Jenis gula yang ditambahkan  adalah gula nira. Jenis antioksidan yang diuji adalah total fenolik. Pengukuran aktivitas antioksidan dilakukan dengan uji  penghambatan malonaldehid dan kapasitas penangkapan radikal  DPPH. Hasil penelitian menunjukkan bahwa minuman  tradisional Indonesia dapat menghambat oksidasi asam linoleat dan menangkap radikal bebas. Kapasitas penangkapan radikal  bebas oleh minuman temulawak lebih besar dibandingkan  minuman yang lain tetapi kemampuan penghambatan  malonaldehid (MDA) oleh minumaan tradisional tidak berbeda.  Total fenolik minuman temulawak cenderung lebih besar  dibandingkan minuman tradisional yang lain. Penambahan  rempah-rempah dapat meningkatkan kadar total fenolik  minuman dan meningkatkan kapasitas penangkapan radikal  bebas. Pembuatan minuman serbuk pada penelitian ini dapat  menurunkan kadar total fenolik tetapi tidak menurunkan aktivitas antioksidan.
      PubDate: 2017-03-10
      DOI: 10.22146/agritech.17001
      Issue No: Vol. 37, No. 1 (2017)
       
  • Pengaruh Kadar Air terhadap Beberapa Sifat Fisik Biji Lada Putih

    • Authors: Andi Muhammad Akram Mukhlis, Edy Hartulistiyoso, Yohanes Aris Purwanto
      Pages: 16 - 22
      Abstract: The physical properties of seed are required in designing an  apparatus for handling, separation, drying, storage, and processing. The physical properties of white pepper seeds were  determined as a function of moisture content in the range of  15,40 - 64,80 % dry basis (d.b.). The average height, length and width at a moisture content condition of 15,40 % (d.b.) were 4,11 ± 0,27 mm; 4,35 ± 0,34 mm and 4,35 ± 0,35 mm, respectively.  In the range of moisture content 15,40 - 64,80 % (d.b.), the  results of this study showed an increase linearly of the third axial  dimension, the average diameter, the roundness from 0,969 to 0,977, the volume from 39,50 to 67,34 mm3, the surface area  from 55,87 to 79,92mm2 and the thousand seed mass from  52,47 to 75,63 g. Bulk density and true density has a polynomial  correlation with changes in moisture content.The porosity  decreased from 45,01 % to 44,88 % with an increase in the  moisture content range of 15,40 - 64,80 % (d.b.). ABSTRAKSifat fisik biji-bijian diperlukan dalam merancang suatu peralatan  untuk penanganan, pemisahan, pengeringan, penyimpanan dan  pengolahannya. Sifat fisik biji lada putih ditentukan sebagai  fungsi kadar air pada rentang 15,40 - 64,80 % basis kering  (b.k.). Tinggi, panjang dan lebar rata-rata pada kondisi kadar air  15,40 % (b.k.) adalah 4,11 ± 0,27 mm; 4,35 ± 0,34 mm dan  4,35 ± 0,35 mm berturut-turut. Pada rentang kadar air 15,40 -  64,80 % b.k., hasil penelitian ini menunjukkan peningkatan  secara linear pada ketiga dimensi aksial, diameter rata-rata,  kebulatan dari 0,969 hingga 0,977, volume dari 39,50 hingga  67,34 mm3, luas permukaan dari 55,87 hingga 79,92 mm2 dan  massa seribu biji dari 52,47 hingga 75,63 g. Bulk density dan true density memiliki hubungan polinomial dengan perubahan kadar  air biji. Porositas menurun dari 45,01 % hingga 44,88 % dengan  peningkatan kadar air pada rentang 15,40 - 64,80 % (b.k.).
      PubDate: 2017-03-10
      DOI: 10.22146/agritech.15308
      Issue No: Vol. 37, No. 1 (2017)
       
  • Kualitas Mikrobiologis dan Kimiawi Kefir Susu Kambing dengan Penambahan
           Lactobacillus acidophilus FNCC 0051 dan Tepung Kulit Pisang Kepok (Musa
           Paradisiaca)

    • Authors: Dwitiya Martharini, Indratiningsih Indratiningsih
      Pages: 23 - 30
      Abstract: This experiment was carried out to investigate the effect of  plantain peel flour and Lactobacillus acidophilus FNCC 0051 on the microbiological and chemical quality of goat milk kefir. Kefir was made from goat’s milk with 3 % of kefir grain (w/v) and  Lactobacillus acidophilus FNCC 0051 (0, 1 and 3 % (v/v)) and  plantain peel flour (0, 1 and 2 % (w/v)). All treatments were  incubated at room temperature (± 28.5 °C) for 10 hours, until the pH dropped to 4.2-4.6.The quality of Kefir was evaluated by  microbiological analysis (total of lactic acid bacteria, probiotics  viability, total yeast) and chemical analysis (pH, lactose content,  alcohol content, fat content and dietary fiber). The data of total lactic acid bacteria, probiotics viability, total yeast, pH, lactose  content, alcohol content, fat content were evaluated by analysis of variance and followed by Duncan’s New Multiple Range Test  (DMRT). Data of dietary fiber was evaluated by descriptive analysis. The research result showed that the addition of  Lactobacillus acidophilus FNCC 0051 had a significant effect (p ≤  0.05) on decreasing pH, alcohol content and increasing total lactic  acid bacteria and probiotic viability. Plantain peel flour had  significantl effect (p ≤ 0.05) on increasing alcohol content and  total lactic acid bacteria. Kefir had 9.51 log cfu mL-1 of lactic acid  bacteria total; 8.65 log cfu mL-1 of probiotic viability; 6.13 log cfu  mL-1 of total yeast; 4.85 of pH; 3.14 % of lactose content; 0.096 % of alcohol content; 5.33 % of fat content; and 10.49 % of dietary fiber. This research concluded that kefir quality for all  treatments kefir were complied with Codex Standard 234-2003  while the best treatment was the kefir with the addition of 3 %  Lactobacillus acidophilus FNCC 0051 and 1 % flour banana peel. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan tepung kulit pisang dan Lactobacillus acidophilus FNCC 0051  terhadap kualitas mikrobiologis dan kimiawi kefir susu kambing.  Kefir dibuat dari susu kambing dengan kefir grain 3 % (w/v) dan  Lactobacillus acidophilus FNCC 0051 (0, 1 dan 3 % (v/v)) serta  tepung kulit pisang (0, 1 dan 2 % (w/v)). Semua perlakuan  diinkubasi pada suhu ruang (± 28,5 °C) selama 10 jam, hingga pH turun menjadi 4,2 sampai 4,6. Uji kualitas kefir yang diamati yaitu mikrobiologis (total bakteri asam laktat, viabilitas probiotik, total khamir) dan kimiawi (pH, kadar laktosa, kadar alkohol, kadar lemak, serat pangan). Data hasil uji total bakteri asam  laktat, viabilitas probiotik, total khamir, pH, kadar laktosa, kadar  alkohol, kadar lemak dianalisis dengan analisis sidik ragam pola  faktorial 3x3, dan dilanjutkan dengan Duncan’s New Multiple  Range Test (DMRT). Data hasil serat pangan dianalisis dengan  analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa  Lactobacillus acidophilus FNCC 0051 berpengaruh (p ≤ 0,05)  terhadap penurunan pH, kadar alkohol dan peningkatan bakteri  asam laktat serta viabilitas probiotik. Tepung kulit pisang  berpengaruh (p ≤ 0,05) terhadap peningkatan kadar alkohol dan  bakteri asam laktat. Kefir memiliki rerata total bakteri asam  laktat yakni 9,51 log cfu mL-1, viabilitas probiotik 8,65 log cfu  mL-1, total khamir 6,13 log cfu mL-1, pH 4,85, laktosa 3,14 %, kadar alkohol 0,096 %, kadar lemak 5,33 %, dan total serat  pangan 10,49 %. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kualitas kefir semua perlakuan memenuhi standar komposisi  kefir menurut standar Codex 234-2003 dan kefir yang terbaik dengan penambahan Lactobacillus acidophilus FNCC 0051 3 % dan tepung kulit pisang 1 %.
      PubDate: 2017-03-10
      DOI: 10.22146/agritech.17002
      Issue No: Vol. 37, No. 1 (2017)
       
  • Pemurnian Parsial dan Karakterisasi Enzim Xilanase dari Bakteri Laut
           Bacillus safencis strain LBF P20 Asal Pulau Pari Jakarta

    • Authors: Fitria Fitria, Nanik Rahmani, Sri Pujiyanto, Budi Raharjo, Yopi Yopi
      Pages: 31 - 38
      Abstract: Enzyme xylanase (EC 3.2.1.8) is widely used in various industrial  fields for the hydrolysis of xylan (hemicellulose) into xylooligosaccharide and xylose. The aims of this study were to  conduct partial purification and characterization of xylanase from marine Bacillus safencis strain LBF P20 and to obtain the  xylooligosaccharide types from xylan hydrolysis by this enzyme.  Based on this research, the optimum time for enzyme production  occurred at 96 hours with the enzyme activity of 6.275 U/mL and  enzyme specific activity of 5.093 U/mg. The specific activities were  obtained from precipitation by amicon® ultra-15 centrifugal filter devices, gel filtration chromatography and anion exchange chromatography that were increased by 15.07, 34.7, and 96.0  U/mg. The results showed that the highest activity at pH 7, temperature of 60 °C, and stable at 4 °C. Type of  xylooligosaccharide produced by this study were xylohexoses, xylotriose, and xylobiose. SDS-PAGE analysis and zimogram  showed that the molecular weight of xylanase protein were about  25 kDa. ABSTRAKEnzim xilanase (EC 3.2.1.8) digunakan dalam hidrolisis xilan  (hemiselulosa) menjadi xilooligosakarida dan xilosa. Penelitian  ini bertujuan untuk melakukan purifikasi parsial dan karakterisasi xilanase dari bakteri laut Bacillus safencis strain LBF P20 serta uji  hidrolisis untuk mengetahui jenis xilooligosakarida yang  dihasilkan oleh enzim tersebut. Berdasarkan hasil penelitian, waktu optimum untuk produksi enzim terjadi pada jam ke 96  dengan aktivitas enzim sebesar 6,275 U/mL dan aktivitas spesifik enzim sebesar 5,093 (U/mg). Aktivitas spesifik enzim hasil  pemekatan dengan amicon® ultra-15 centrifugal filter devices,  kromatografi filtrasi gel dan kromatografi penukar anion  mengalami peningkatan berturut-turut sebesar 15,1; 34,7 dan96,0 U/mg. Hasil karakterisasi menunjukkan aktivitas  tertinggi pada pH 7, suhu 60 °C dan stabil pada suhu 4 °C. Analisis SDS-PAGE dan zimogram menunjukkan berat molekul protein xilanase berkisar 25 kDa. Jenis gula reduksi yang  dihasilkan yaitu xiloheksosa, xilotriosa, dan xilobiosa.
      PubDate: 2017-03-10
      DOI: 10.22146/agritech.17004
      Issue No: Vol. 37, No. 1 (2017)
       
  • Kajian Metode dan Waktu Fermentasi Cairan Pulpa pada Perubahan
           Karakteristik Cuka Kakao

    • Authors: G.P. Ganda Putra, Ni Made Wartini, Luh Putu Trisna Darmayanti
      Pages: 39 - 48
      Abstract: The pulp water as byproduct of cocoa beans fermentation is  potential to be used as a raw material for making cocoa vinegar,  but unfortunately the content of acetic acid is relatively low. So  that, it is necessary to increase the content of acetic acid, by  performed further fermentation method with several addition of  carbon sources (sugar and alcohol) and fermentation time. The  purposes of this research were: (1) to study the effect of the  addition of sugar, alcohol and fermentation time on different  urther fermentation method on the characteristics of cocoa vinegar  and (2) to determine the optimal further fermentation  method and fermentation time for the production of cocoa vinegar  with the highest content of acetic acid. Several  fermentation methods were conducted by using three different  methods e.g.the alcoholic and acetic acid fermentation (2 stages),  acetic acid fermentation (1 stage), and fermentation  without inoculum (natural). The experimental design of this study was using a factorial BRD two factors on the 2 stages and the 1 stage fermentation method, as well as the simple RBD on the  natural fermentation. The first factor on the 2 stages fermentation methods used two different inoculum e.g. Saccharomyces  cerevisiae and Acetobacter aceti, 4 different concentration of sugar (4, 6, 8 and 10 %), while on the 1 stage fermentation method  used inoculum Acetobacter aceti, is 4 different concentrations of  alcohol addition (6, 8, 10, and 12 %), while the second factor is  the same, namely 6 levels of fermentation time (0, 5, 10, 15, 20,  and 25 days). Meanwhile, the treatment of fermentation time  on the natural fermentation method was the same as the  second factor. All methods of fermentation were performed at  room temperature in 2 blocks/replications.The results showed  that: 1) the characteristics of cocoa vinegar and OD660 of watery  pulp were affected by : (1) the treatment of the sugar addition  and fermentation time and their interaction on the 2 stages  fermentation method by the treatment of the alcohol addition and  fermentation time, their interaction on the 1 stage  fermentation method, and by the treatment of fermentation time  on the natural fermentation method, and (2) the cocoa vinegar  with the highest content of acetic acid was produced on the 2  stages fermentation method by the addition of 6 % sugar within  25 days (2.35 %), on the 1 stage fermentation method by the   ddition of 10 % alcohol within 20 days (3.37 %), and on the  natural fermentation method within 15 days (2.65 %),  respectively. Our result showed that the 1 stage fermentation  method with the addition of 10 % alcohol using inoculum of  Acetobacter aceti within 20 days is the most optimal further  fermentation method for the production of cocoa vinegar.
      ABSTRAKCairan pulpa hasil samping fermentasi biji kakao berpotensi  sebagai bahan baku pembuatan cuka kakao, tetapi kadar asam asetat yang dihasilkan relatif rendah. Untuk itu, perlu dilakukan  upaya peningkatan kadar asam asetat antara lain dengan melakukan beberapa metode fermentasi lanjutan dengan variasi penambahan sumber karbon (gula dan alkohol) dan lama fermentasi. Tujuan penelitian ini adalah: (1) mengkaji pengaruh  penambahan gula, alkohol dan lama fermentasi pada metode  fermentasi lanjutan yang berbeda terhadap karakteristik cuka  kakao dan (2) menetapkan metode fermentasi lanjutan dan  lama fermentasi yang optimal untuk produksi cuka kakao dengan kadar asam asetat tertinggi. Metode fermentasi lanjutan yang  dilakukan terdiri dari 3 metode yaitu: fermentasi alkohol dan  asam asetat (2 tahap), fermentasi asam asetat (1 tahap), dan  fermentasi tanpa inokulum (alami). Rancangan percobaan pada  penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK)  faktorial 2 faktor pada metode fermentasi 2 tahap dan 1 tahap, serta RAK faktor tunggal pada fermentasi alami. Faktor I pada  metode fermentasi 2 tahap yang menggunakan inokulum Saccharomyces cerevisiae dan Acetobacter aceti, adalah  penambahan gula 4 konsentrasi (4, 6, 8, dan 10 %), dan pada metode fermentasi 1 tahap, yang menggunakan inokulum  Acetobacter aceti, adalah penambahan alkohol 4 konsentrasi (6,  8, 10, dan 12 %), sedangkan faktor II lama fermentasi (0, 5, 10,  15, 20, dan 25 hari). Sementara itu perlakuan lama fermentasi pada metode fermentasi alami sama seperti pada  faktor II. Semua metode fermentasi dilakukan pada suhu kamar  dalam 2 kelompok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1)  karakteristik cuka kakao dan OD660 cairan pulpa dipengaruhi  oleh perlakuan penambahan gula dan lama fermentasi serta  interaksinya pada metode fermentasi 2 tahap dan oleh perlakuan penambahan alkohol dan lama fermentasi serta  interaksinya pada fermentasi 1 tahap, serta oleh perlakuan lama  fermentasi alami, dan (2) cuka kakao dengan kadar asam asetat  tertinggi masing-masing dihasilkan pada fermentasi 2  tahap dengan penambahan gula cenderung 6 % dalam waktu 25 hari (2,35 %), fermentasi 1 tahap dengan penambahan alkohol 10 % dalam waktu 20 hari (3,37 %), dan fermentasi alami dalam  waktu 15 hari (2,65 %). Dengan demikian metode fermentasi 1  tahap dengan penambahan alkohol 10 % menggunakan  inokulum Acetobacter aceti dalam waktu 20 hari merupakan metode fermentasi lanjutan yang paling optimal untuk produksi cuka kakao.
      PubDate: 2017-03-10
      DOI: 10.22146/agritech.17007
      Issue No: Vol. 37, No. 1 (2017)
       
  • Pengurangan Kadar Digliserida dan Asam Lemak Bebas dalam Minyak Sawit
           Kasar Menggunakan Adsorben

    • Authors: Khoerul Bariyah, Nuri Andarwulan, Purwiyatno Hariyadi
      Pages: 49 - 59
      Abstract: Indonesia is the world’s largest crude palm oil (CPO) producer and consumer in 2014. Components that affect the quality of CPO are diglycerides (DAGs) and free fatty acids (FFA). DAGs in palm oil are known as the precursor of 3-MCPD esters, while higher content of FFA could influence the oil stability. The contact of CPO with adsorbent could affect the present of DAG and FFA in CPO. The purpose of this study was to determine the best type of adsorbent in reducing DAGs and FFA in CPO with emphasis on the characteristics of the adsorbent and adsorbate. This study was carried out by using three different types of CPO quality and six different types of adsorbent (carbon active, MgO, Magnesol R-60, and 3 types of bleaching earth). The contact process of CPO with different adsorbents were carried out at a temperature of 50-60 °C (without vacuum) for adsorbents selection and 90 °C (under vacuum) for 30 minutes at a dose of adsorbent 1 and 3 %. The contact process of different adsorbents with CPO have not been able to reduce both DAGs and FFA significantly at the non vacuum condition in three differents CPO sample. The combination of MgO and bleaching earth type 1 could reduce FFA up to 70 % reaching the content of 14 % at vacuum conditions, but did not reduce DAGs of CPO. Different CPO quality and adsorbent characteristics will affect the reduction process of FFA and DAGs. ABSTRAKIndonesia merupakan negara produsen sekaligus konsumen minyak sawit kasar (Crude Palm Oil/CPO) terbesar di dunia pada tahun 2014. Salah satu komponen yang mempengaruhi kualitas CPO adalah digliserida (DAG) dan asam lemak bebas (ALB). DAG dalam minyak sawit adalah prekursor pembentuk senyawa karsinogen 3-MCPD ester, sedangkan ALB yang tinggi dapat mempengaruhi stabilitas minyak. Proses kontak adsorben ke dalam CPO akan mempengaruhi keberadaan kedua komponen tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan jenis adsorben yang paling baik dalam mengadsorp digliserida dan asam lemak bebas dalam CPO dengan menitikberatkan pada karakteristik adsorben dan adsorbat. Penelitian dilakukan terhadap 3 jenis CPO (nilai ALB: 4, 6, dan 14) dan 6 jenis adsorben (arang aktif, MgO, Magnesol R-60, dan 3 jenis bleaching earth). Proses kontak dilakukan pada suhu 50 – 60 °C (tanpa vakum) untuk seleksi adsorben dan 90 °C (dengan vakum) selama 30 menit dengan dosis adsorben 1 dan 3 %. Proses kontak adsorben pada CPO dengan kondisi adsorpsi tanpa vakum belum dapat menurunkan DAG dan ALB secara signifikan terhadap ketiga jenis CPO. Kombinasi antara adsorben bleaching earth tipe 1 dan MgO dapat menurunkan ALB hingga 70 % pada CPO dengan ALB 14 % pada kondisi vakum, tetapi tidak dapat menurunkan DAG. Karakterisitik CPO dan adsorben mempengaruhi proses reduksi ALB dan DAG.
      PubDate: 2017-03-10
      DOI: 10.22146/agritech.17009
      Issue No: Vol. 37, No. 1 (2017)
       
  • Karakterisasi Kemasan Kertas Aktif dengan Penambahan Oleoresin Ampas
           Destilasi Sereh Dapur (Cymbopogon citratus)

    • Authors: Lia Umi Khasanah, Windi Atmaka, Dewi Kurniasari, Kawiji Kawiji, Danar Praseptiangga, Rohula Utami
      Pages: 60 - 69
      Abstract: The aims of this research were to determine the effect of lemongrass distillation dregs oleoresin concentration (0 %, 2 %, 4 %, and 6 % b/b) on the active paper packaging characteristics (sensory, water content, thickness, tensile strength, fold endurance and antimicrobial activity), to determine the functional groups of the control and selected active paper packaging, to determine the effect of days of storage (0, 5, 10, 15, and 20 day) on the control and selected active paper packaging characteristics (tensile strength, and fold endurance), and to determine antimicrobial activity of the control and selected active paper packaging during 20 days storage. The result showed that the concentration of lemongrass distillation dregs oleoresin significantly affected the color, overall, tensile strength, fold endurance, and antimicrobial activity while did not significantly affected the flavor, texture, water content, and thickness of the active paper packaging. The addition of lemongrass distillation dregs oleoresin increased the water content, thickness, microbial activity, while decreased the panelists preference, tensile strength and fold endurance of the active paper packaging. The spectrum of functional groups of the active paper packaging showed the presence of chitosan, cellulose, tween 80, and lemongrass oleoresin. The storage days had no significant effect on tensile strength and fold endurance of the control and selected active paper packaging. The control and selected active paper packaging were significantly different at each 5 days storage. However the 20 day of storage showed no significant effect on the antimicrobial activity of the control and selected active paper packaging. ABSTRAKTujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh konsentrasi oleoresin ampas destilasi sereh dapur (0 %, 2 %, 4 %, dan 6 % b/b) terhadap karakteristik kemasan kertas aktif (analisis sensoris, kadar air, ketebalan, ketahanan tarik, ketahanan lipat, dan aktifitas antimikroba), mengetahui gugus fungsi kemasan kertas aktif kontrol dan konsentrasi oleoresin ampas destilasi sereh dapur terpilih, mengetahui pengaruh waktu penyimpanan (0, 5, 10, 15, dan 20 hari) terhadap karakteristik kemasan kertas aktif kontrol dan konsentrasi oleoresin ampas destilasi sereh dapur terpilih (uji ketahanan lipat dan ketahanan tarik), dan mengetahui aktivitas antimikroba kemasan kertas aktif kontrol dan konsentrasi oleoresin ampas destilasi sereh dapur terpilih sebelum dan setelah penyimpanan selama 20 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi oleoresin berpengaruh nyata terhadap warna, overall (penerimaan keseluruhan), ketahanan tarik, ketahanan lipat, dan aktivitas antimikroba tetapi berpengaruh tidak nyata terhadap aroma, tekstur, kadar air, dan ketebalan kemasan kertas aktif. Penambahan oleoresin ampas destilasi sereh dapur meningkatkan kadar air, ketebalan, dan aktivitas antimikroba serta menurunkan ketahanan tarik, ketahanan lipat, dan penerimaan panelis. Kemasan kertas aktif mengandung gugus fungsi selulosa, kitosan, dan tween 80 serta pada kemasan kertas aktif penambahan oleoresin konsentrasi 2 % terdapat gugus fungsi oleoresin sereh dapur. Waktu penyimpanan tidak berpengaruh secara nyata terhadap ketahanan tarik dan ketahanan lipat kemasan kertas aktif kontrol dan konsentrasi terpilih. Kemasan kertas aktif kontrol dengan kemasan kertas aktif penambahan oleoresin konsentrasi 2 % berbeda nyata di setiap 5 hari penyimpanan. Namun, penyimpanan selama 20 hari tidak berpengaruh secara nyata terhadap aktivitas antimikroba kemasan kertas aktif kontrol dan konsentrasi terpilih.
      PubDate: 2017-03-10
      DOI: 10.22146/agritech.17011
      Issue No: Vol. 37, No. 1 (2017)
       
  • Pengaruh Jenis Asam dan Waktu Reaksi Pemanasan terhadap Karakteristik
           Produk Etanolisis PKO (Palm Kernel Oil)

    • Authors: Murhadi Murhadi, Sri Hidayati, Ridwan Kurniawan
      Pages: 70 - 77
      Abstract: Production of ethanolisis product of Palm Kernel Oil (PKO) treatment with the addition of organic acids and different heating times have conducted. Effects of organic acids used and time of heating on characteristics of PKO ethanolisis product were studied. The organic acids used are succinic acid 40 % (w/v) and lactic acid 40 % (w/v). Heating time consists of 15, 30, 45 and 60 minutes. The pH value of the reaction products ranged from 4,88 (± 0,01) to 5,27 (± 0,02). The best antimicrobial activity of product reaction is by addition of succinic acid 40% (w/v) and heating for 30 minutes with zone of inhibitions (d, mm) against Staphylococus aureus ATCC 25923, Escherichia coli ATCC 25922, mixed cultures of natural microbial and Saccharomyces cerevisiae are 20,88 (± 0,50) mm, 25,64 (± 0,81) mm, 6,46 (± 0,24) mm, and 8,84 (± 0,08) mm, respectively. The average value of the power increase emulsion stability in coconut milk (water in oil, w/o) ranged from 5,20 (± 0,65) % to 20,00 (± 2,55) %. ABSTRAKProduksi produk etanolisis dari minyak inti sawit (Palm Kernel Oil, PKO) dengan perlakuan penambahan asam organik dan lama pemanasan yang berbeda telah dilakukan. Penelitian ini dilakukan untuk melihat pengaruh penambahan jenis asam dan lama pemanasan terhadap karakteristik produk etanolisis dari PKO. Asam organik yang digunakan adalah asam suksinat 40 % (b/b) dan asam laktat 40 % (b/b) serta lama pemanasan terdiri dari 15, 30, 45, dan 60 menit. Nilai pH produk reaksi berkisar antara 4,88 (± 0,01) sampai 5,27 (± 0,02). Aktivitas anti mikroba produk reaksi terbaik adalah dengan penambahan asam suksinat 40 % (b/b) dan pemanasan 30 menit dengan diameter (d; mm) zona hambat terhadap Staphylococus aureus ATCC 25923, Escherichia coli ATCC 25922, kultur campuran mikroba alami dan Saccharomyces cerevisiae, masing-masing 20,88 (± 0,50) mm, 25,64 (± 0,81) mm, 6,46 (± 0,24) mm, dan 8,84 (± 0,08) mm. Nilai rata-rata daya peningkatan stabilitas emulsi pada santan kelapa (water in oil, w/o) berkisar antara 5,20 (± 0,65) % hingga 20,00 (± 2,55) %.
      PubDate: 2017-03-10
      DOI: 10.22146/agritech.17012
      Issue No: Vol. 37, No. 1 (2017)
       
  • Structural Changes in Cooked Rice Treated with Cooling-Reheating Process
           and Coconut Milk Addition as Observed With FT-IR and 13C NMR

    • Authors: Nuri Arum Anugrahati, Yudi Pranoto, Yustinus Marsono, Djagal Wiseso Marseno
      Pages: 78 - 81
      Abstract: The molecular structural changes of food could be observed by the technique of FT-IR and 13C NMR spectroscopy. This research was aimed to study the structural changes in cooked rice treated with cooling-reheating process and coconut milk addition using FT-IR and 13C NMR. It was found that the cooling-reheating process and addition of coconut milk cause several structural changes of cooked rice. The IR analysis showed the bands at 3,400, 2,900, 1,018 and 856 cm-1 changed due to the retrogradation during cooling process. The spectrum of 13C NMR showed the change of peaks at 100.28 and 100.10 ppm. These changes may be related to the addition of coconut milk during rice cooking.
      PubDate: 2017-03-10
      DOI: 10.22146/agritech.10669
      Issue No: Vol. 37, No. 1 (2017)
       
  • Profil Antioksidan Darah Tikus Diabetes dengan Asupan Beras Merah yang
           Diperkaya Kappa-Karagenan dan Ekstrak Antosianin

    • Authors: Nurhidajah Nurhidajah, Mary Astuti, Sardjono Sardjono, Agnes Murdiati
      Pages: 82 - 88
      Abstract: This study aimed to analyze the effect of red rice enriched-kappa-carrageenan and anthocyanin extracts on blood antioxidant profile in diabetic rats. Variables analyzed in this research were blood glucose, malondialdehyde (MDA) level, and plasma antioxidant by Ferric Reducing Ability of Plasma (FRAP) method. This study was conducted in vivo on male Wistar rats aged 2.5 months using completely randomized design. Rats divided into 6 groups based on types of feed, standard feed (normal and DM), red rice (BM), red rice enriched kappa-carrageenan (BMK), red rice enriched extracts of anthocyanin (BMA) and red rice enriched with kappa-carrageenan and extract anthocyanin (BMKA). Experiments were carried out for 6 weeks. Rats feed with red rice showed decreased in blood glucose levels from 234.26 to 84.78 mg/dL (p = 0.000), MDA diabetic group compared to BMKA 2.175 and 0.530 μmol/L (p = 0.000) respectively, and the rate of FRAP in DM and BMKA 69 and 216 nmol/mL (p = 0.000) respectively. This study showed that red rice enriched with kappa-carrageenan and anthocyanin extract was able to decrease blood glucose levels and increase plasma antioxidant of diabetic rats which characterized by decreased MDA value and increased FRAP value. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh pemberian beras merah yang diperkaya kappa-karagenan dan ekstrak antosianin terhadap profil antioksidan darah pada tikus Diabetes Melitus (DM). Indikator penelitian adalah penurunan glukosa darah dan angka Malondialdehid (MDA) serta peningkatan antioksidan plasma dengan metode Ferric Reducing Ability of Plasma (FRAP). Penelitian ini dilakukan secara in vivo pada hewan coba tikus Wistar usia 2,5 bulan dengan desain penelitian rancangan acak lengkap (RAL). Tikus dibagi 6 kelompok pakan, yaitu standar negatif dan positif (normal dan DM), beras merah (BM), beras merah ditambah kappa-karagenan (BMK), beras merah ditambah ekstrak antosianin (BMA), dan beras merah ditambah kappa-karagenan dan ekstrak antosianin (BMKA). Percobaan dilakukan selama 6 minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok BMKA setelah intervensi terjadi penurunan kadar glukosa darah dari 234,26 menjadi 84,78 mg/dL (p = 0,000), MDA kelompok DM dibandingkan BMKA masingmasing 2,175 dan 0,530 μmol/L (p = 0,000) serta FRAP pada kelompok DM dan BMKA masing-masing 69 dan 216 nmol/mL (p = 0,000). Kesimpulannya adalah beras merah dengan pengkayaan kappa-karagenan dan ekstrak antosianin mampu menurunkan kadar glukosa darah dan meningkatkan antioksidan plasma tikus diabetes yang ditandai dengan penurunan nilai MDA dan peningkatan nilai FRAP.
      PubDate: 2017-03-10
      DOI: 10.22146/agritech.17013
      Issue No: Vol. 37, No. 1 (2017)
       
  • Aktivitas Antioksidan Kulit Biji Kakao dari Hasil Penyangraian Biji Kakao
           Kering pada Derajat Ringan, Sedang dan Berat

    • Authors: Ratri Retno Utami, Supriyanto Supriyanto, Sri Rahardjo, Ria Armunanto
      Pages: 89 - 95
      Abstract: Cocoa bean shell is waste from chocolate industry that containing polyphenol 5.78 % and can be used as natural antioxidant source. The most important step in cocoa processing is roasting. Roasting is needed for developing the chocolate flavor. Chocolate industries do their roasting with low, medium and high degree, depend on product’s necessity. The objective of this research is to determine the effect of roasting degree toward cocoa bean shell antioxidant activity. Cocoa bean roasted at low degree (110 ºC for 60 minutes), medium (140 ºC for 40 minutes) and high (190ºC for 15 minutes). Cocoa bean shell polyphenol was extracted with acetone 70 %. Yield, total phenolic, DPPH free radical scavenging activity as IC50 and inhibition of linoleic acid oxidation was analyzed from crude polyphenol extract. The result shows that the increasing of roasting temperature leads to low yield. Cocoa bean shell polyphenol extract with high roasting degree has the lowest yield (8.07 % b/b). While cocoa bean shell polyphenol extract using medium roasting degree has the highest total phenolic and DPPH free radical scavenging activity of 21.23 ± 0.39 mg GAE/g dry extract and IC50 74.31 ± 0.72 μg/mL, respectively. Cocoa bean shell polyphenol extract is able to inhibit the linoleic acid oxidation. Roasting enhance the inhibition of linoleic acid oxidation compared to extract without roasting about 6%. For the future study, it is needed to identify the cocoa bean shell antioxidant compound during roasting. ABSTRAKKulit biji kakao merupakan limbah dari industri pengolahan cokelat yang mengandung polifenol sebesar 5,78 %, sehingga berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai sumber senyawa antioksidan alami. Tahapan penting dalam pengolahan biji kakao kering adalah penyangraian yang berguna untuk pengembangan citarasa khas cokelat. Industri pengolahan cokelat melakukan penyangraian dengan derajat ringan, sedang dan berat, berdasarkan produk yang dikehendaki. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh derajat penyangraian terhadap aktivitas antioksidan kulit biji kakao. Biji kakao kering disangrai pada derajat ringan (110 ºC selama 60 menit), sedang (140 ºC selama 40 menit) dan berat (190 ºC selama 15 menit). Polifenol kulit biji kakao diekstrak menggunakan aseton 70 %. Ekstrak polifenol kering dianalisis rendemen, total fenolik, RSA DPPH yang dinyatakan sebagai IC50 dan penghambatan oksidasi asam linoleat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi suhu penyangraian, rendemen yang diperoleh semakin kecil. Ekstrak polifenol kulit biji kakao dengan penyangraian derajat berat mempunyai rendemen paling kecil (8,07 % b/b). Ekstrak polifenol kulit biji kakao dengan penyangraian derajat sedang mempunyai total fenolik dan aktivitas antioksidan penangkap radikal DPPH paling tinggi yaitu sebesar 21,23 ± 0,39 mg EAG/g ekstrak kering dan nilai IC50 74,31 ± 0,72 μg/mL. Ekstrak polifenol kulit biji kakao mampu menghambat oksidasi asam linoleat. Penyangraian meningkatkan aktivitas penghambatan oksidasi asam linoleat sebesar 6 % bila dibandingkan dengan ekstrak polifenol kulit biji kakao tanpa penyangraian. Perlu dilakukan penelitian selanjutnya untuk identifikasi senyawa antioksidan kulit biji kakao dari hasil penyangraian.
      PubDate: 2017-03-10
      DOI: 10.22146/agritech.10454
      Issue No: Vol. 37, No. 1 (2017)
       
  • Karakterisasi Bakteri Asam Laktat Amilolitik dari Industri Pengolahan Pati
           Sagu

    • Authors: Yusmarini Yusmarini, Usman Pato, Vonny Setiaries Johan, Akhyar Ali, Kusumaningrum Kusumaningrum
      Pages: 96 - 101
      Abstract: Amylolytic lactic acid bacteria are a group of bacteria that are capable to use starch as the carbon source. The objectives of this research were to characterize, and identify the lactic acid bacteria from sago starch processing industry, which might be used to modify the sago starch. There were 39 isolates isolated from sago processing industry, and 36 of them were presumed as lactic acid bacteria. From 36 isolates suspected as lactic acid bacteria, 9 of them had amylolytic properties. Morphological identification results show that the 9 isolates were l Gram-positive bacteria, negative catalase, rod shape, and 5 isolates produced gas, while 4 isolates did not produce gas. The ability to produce amylase varied among isolates and isolate RN2.12112 had the higher amylolytic ability than others. Results show that the nine isolates identified as lactic acid bacteria were dominated by Lactobacillus plantarum 1. ABSTRAKBakteri asam laktat (BAL) yang bersifat amilolitik adalah bakteri asam laktat yang mampu memanfaatkan pati sebagai substratnya. Tujuan penelitian adalah untuk mengkarakterisasi sifat amilolitik dan mengidentifikasi bakteri asam laktat yang mempunyai kemampuan amilolitik untuk memodifikasi pati sagu. Hasil penelitian memperoleh 39 isolat dari industri pengolahan sagu dan 36 diantaranya diduga sebagai bakteri asam laktat. Sembilan dari 36 isolat yang diduga bakteri asam laktat mempunyai sifat amilolitik. Sembilan isolat yang bersifat amilolitik selanjutnya diidentifikasi secara morfologi yang meliputi pewarnaan Gram, bentuk sel, uji katalase, dan uji kemampuan fermentasi. Hasil identifikasi secara morfologi menunjukkan bahwa kesembilan isolat termasuk kelompok bakteri Gram positif, katalase negatif, bentuk basil, dan lima isolat menghasilkan gas sedangkan empat isolat tidak menghasilkan gas. Kemampuan isolat untuk menghasilkan amilase bervariasi dan isolat RN2.12112 mempunyai kemampuan amilolitik lebih tinggi dibanding isolat lainnya. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa dari sembilan isolat yang diidentifikasi didominasi oleh Lactobacillus plantarum 1.
      PubDate: 2017-03-10
      DOI: 10.22146/agritech.17014
      Issue No: Vol. 37, No. 1 (2017)
       
  • Optimasi Kualitas Tandan Buah Segar Kelapa Sawit dalam Proses Panen-Angkut
           Menggunakan Model Dinamis

    • Authors: Andreas Wahyu Krisdiarto, Lilik Sutiarso, Kuncoro Harto Widodo
      Pages: 102 - 108
      Abstract: Oil palm fresh fruit bunch (FFB) handling processes, i.e harvesting, loading, and transporting to the Palm Oil Mill are interrelated activities because each of them contributed to the degradation of oil palm fruit quality. This paper presented studied among factors that together in series interfere FFB quality. FFB quality parameter observed was Free Fatty Acid (FFA) content. Experiment was conducted by measuring FFA content of FFB at each step of handling processes, i.e harvesting, transportation in plantation block, loading into truck, and transportation to the palm oil mill. Interrelationship among factors was built using dynamic modelling. Output of dynamic model simulation showed that there was differences of FFA content among different handling conditions. A slight difference on FFA content was observed between harvesting in mineral land and peatland and among different plant heights. Loading into truck was a handling step that had biggest contribution to quality degradation due to FFB bruise. FFBs laid on the base of truck bin suffered more bruise that resulted in higher FFA content. Manual loading of FFB harvested from mineral soil by throwing to the bottom of truck bin resulted in FFA content of bruised fruit by 5.5%, higher compared to those of the top layer which was 4.5%. Model also showed that FFA content increased due to series handling steps, compared with natural degradation. Proportion of good FFB can be used to control the whole FFA content. Without mixing, bruised FFB produced FFA content of 9.95 %, while mixing bruished and good fruit at a ratio 20 % : 80 % resulted in FFA content of 2.82 %. Increasing bruise fruit proportion from 10 % to 20 % resulted in higher FFA content of fruit harvested on mineral land than those harvested on peat land (0.88 % compare to 0.80 %), and resulted in 0.92 % increment for 3rd maturity level fruit harvested compared to 0.72 % for 1st maturity level harvested fruit. Recommendations related to harvesting were: 1) If the road and truck bin was in bad condition, FFB should be harvested at 1st or 2nd level of maturity; 2) The optimum harvesting-transportation condition for FFB quality was at 1st maturity level in peat land and transported by wood bin truck. While recommendations related to transportation were: 1) The manual loading by throwing to truck bin should be avoided; and 2) In order to maintain FFB quality, loading and transportation delay was better than waiting or queing in oil palm mill. ABSTRAKProses penanganan Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit, yaitu pemanenan, pemuatan, dan pengangkutan ke pabrik minyak kelapa sawit merupakan kegiatan saling terkait, karena masing-masing berkontribusi terhadap penurunan kualitas. Penelitian ini bertujuan mempelajari keterkaitan antar faktor-faktor yang bersama-sama secara berurutan mempengaruhi kualitas TBS. Parameter kualitas TBS yang diamati adalah kadar Asam Lemak Bebas (ALB). Metode yang digunakan adalah mengukur kadar ALB TBS pada setiap tahap proses penanganan bahan, yaitu pemanenan, pengangkutan di dalam blok kebun, pemuatan ke bak truk, dan pengangkutan ke pabrik minyak kelapa sawit. Keterkaitan antar faktor dibangun dengan model dinamis. Keluaran dari simulasi model dinamis menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kadar ALB antar kondisi penanganan TBS yang berbeda. Terdapat sedikit perbedaan kadar ALB antara TBS yang dipanen pada lahan mineral dan lahan gambut dan antara ketinggian pohon yang berbeda. Tahap penanganan TBS yang berkontribusi paling besar kepada penurunan kualitas akibat memar adalah pemuatan ke bak truk. TBS yang dimuat di dasar bak truk mengalami memar lebih banyak sehingga kadar ALB-nya lebih tinggi. Kadar ALB TBS yang dipanen di lahan mineral dan dimuat pada dasar bak truk 5,5 %, sedangkan yang di lapisan atas 4,5 %. Model menunjukkan bahwa kadar ALB meningkat pada penanganan bahan berurutan, berbeda dengan penurunan kualitas secara alami. Proporsi buah utuh dapat digunakan untuk mengendalikan kadar ALB secara keseluruhan. Bila seluruh buah memar, kadar ALB dapat mencapai 9,95 %, sedangkan campuran 20 % buah memar dan 80 % buah utuh, kadar ALB-nya 2,82 %. Peningkatan proporsi buah memar dari 10 % menjadi 20 % untuk buah yang dipanen dari lahan mineral menyebabkan penambahan kadar ALB lebih besar daripada buah yang dipanen dari lahan gambut, yaitu 0,88 % dibanding 0,80 %. Hal yang sama menyebabkan perbedaan kadar ALB 0,92 % untuk buah yang dipanen pada fraksi 3 dan 0,72 % untuk buah dipanen pada fraksi 1. Rekomendasi dari hasil penelitian ini adalah: 1) Pemuatan dengan pelemparan TBS secara manual sebaiknya dihindari; 2) Bila kondisi bak truk dan jalan buruk, sebaiknya TBS dipanen pada fraksi 1 atau 2; 3) Titik optimum kualitas TBS saat panen dan angkut adalah pada fraksi 1 di lahan gambut dan diangkut dengan truk bak kayu, dan 4) Dari sisi kualitas TBS, penundaan pengangkutan lebih menguntungkan daripada menunggu proses (mengantri) di pabrik minyak kelapa sawit (PMKS).
      PubDate: 2017-03-10
      DOI: 10.22146/agritech.17015
      Issue No: Vol. 37, No. 1 (2017)
       
  • Aplikasi Analisis Multivariat Berdasarkan Warna untuk Memprediksi Brix dan
           pH pada Pisang

    • Authors: Yohanita Maulina Akbar, Dr. Rudiati Evi Masithoh, Nafis Khuriyati
      Pages: 109 - 115
      Abstract: In this research, Multiple Linear Regression (MLR) model was used to predict Brix and pH of banana based on RGB and Lab color values. Banana samples varied in color and ripening level from less ripen to ripen. RGB and Lab values were measured non-destructively using colormeter, while Brix and pH were determined using conventional method in laboratory. Multivariate analysis was done using the Unscrambler ® X 10.3 (CAMO, AS, OLSO, Norway, and trial version). Results showed that calibration model using MLR was able to predict Brix and pH of banana based on RGB and Lab color values. Furthermore, validation data were used to test the selected models. MLR model to predict Brix based on RGB and Lab validation resulted in 0.8 and 0.84 of determination coefficient between observation and prediction data. The model was also able to predict pH based on RGB and Lab values with 0.71 and 0.79 of determination coefficient between observation and prediction data. ABSTRAKPada penelitian ini, model Multiple Linear Regression (MLR) digunakan untuk memprediksi Brix dan pH pada buah pisang berdasarkan nilai warna Red Green Blue (RGB) dan Lab. Pisang yang dianalisis mempunyai variasi warna dari kurang masak sampai masak. Parameter warna RGB dan Lab dilakukan secara non-destruktif dengan menggunakan colormeter, sedangkan pengukuran kualitas internal yaitu Brix dan pH ditentukan secara destruktif atau dengan prosedur konvensional di laboratorium. Aplikasi analisis multivariat yang digunakan adalah Unscrambler ® X 10.3 (CAMO, AS, OLSO, Norway, versi trial). Analisis data menunjukkan bahwa model kalibrasi MLR dapat digunakan untuk memprediksi Brix dan pH berdasarkan parameter warna RGB dan Lab pada buah pisang. Selanjutnya, data validasi digunakan untuk menguji model MLR terpilih. Model kalibrasi MLR dapat memprediksi Brix berdasarkan nilai RGB dan Lab dengan nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0,8 dan 0,84, secara berurutan. Sedangkan koefisien determinasi (R2) untuk pH berdasarkan warna RGB dan Lab adalah 0,71 dan 0,79.
      PubDate: 2017-03-10
      DOI: 10.22146/agritech.17022
      Issue No: Vol. 37, No. 1 (2017)
       
 
 
JournalTOCs
School of Mathematical and Computer Sciences
Heriot-Watt University
Edinburgh, EH14 4AS, UK
Email: journaltocs@hw.ac.uk
Tel: +00 44 (0)131 4513762
Fax: +00 44 (0)131 4513327
 
Home (Search)
Subjects A-Z
Publishers A-Z
Customise
APIs
Your IP address: 54.92.142.198
 
About JournalTOCs
API
Help
News (blog, publications)
JournalTOCs on Twitter   JournalTOCs on Facebook

JournalTOCs © 2009-2016