Journal Cover Jurnal Agritech
  [0 followers]  Follow
    
  This is an Open Access Journal Open Access journal
   ISSN (Print) 0216-0455 - ISSN (Online) 2527-3825
   Published by Universitas Gadjah Mada Homepage  [28 journals]
  • Aplikasi Antioksidan dari Ekstrak Lamun (Cymodocea rotundata) pada Minyak
           Ikan Tongkol (Euthynnus affinis)

    • Authors: Amalia Rahmi Puspasari, Eko Nurcahya Dewi, Laras Rianingsih
      Pages: 115 - 120
      Abstract: Cymodocea rotundata is a seagrass, has a potential antioxidant capacity due to have flavonoid and phenolic compounds that could prevent free radicals. This research aimed was to determine the effect of different concentrations of seagrass extracts on the value of free fatty acids (FFA), peroxide value (PV), and thiobarbituric acid (TBA) during storage at room temperature. The material used in this study was swordfish which were processed into fish oil. The research was conduct through laboratory experiments using a completely randomized design (CRD) which to evaluate the effect of seagrass extract concentrations (0%, 0.1%, 0.2%, and 0.3%) and storage time (days 0 and 5) on the oil quality. The results showed FFA values ranged from 0 to 27.477%, PV value between 0 to 46.737 mEq/kg, and TBA values ranged from 3.310 to 8.731 malonaldehyde. Based on the results of the study showed that the interaction between seagrass C. rotundata extract concentration and storage time was significantly (p < 0.05) influence the value of FFA, PV, and TBA. ABSTRAK
      Cymodocea rotundata adalah spesies lamun yang mengandung senyawa flavonoid dan fenolik sehingga diharapkan mampu mencegah terjadinya oksidasi lemak melalui penghambatan pembentukan radikal bebas. Penelitian ini bertujuan mengetahui efek konsentrasi ekstrak lamun yang berbeda terhadap nilai free fatty acid (FFA), peroxide value (PV), dan thiobarbituric acid (TBA) selama penyimpanan suhu ruang. Materi yang dipergunakan adalah ikan tongkol dengan kisaran panjang 40 ± 1 cm dan berat sekitar 1 kg/ekor yang diolah menjadi minyak ikan. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial untuk mengetahui pengaruh konsentrasi ekstrak lamun (0%; 0,1%; 0,2%; dan 0,3%) dan lama penyimpanan (hari ke-0 dan hari ke-5) pada suhu ruang terhadap kualitas minyak ikan. Hasil penelitian menunjukkan nilai FFA berkisar antara 0-27,477%, nilai PV berkisar antara 0-46,737 mEq/kg, dan nilai TBA berkisar antara 3,310-8,731 malonaldehid. Studi ini menunjukkan interaksi antara konsentrasi ekstrak lamun dan waktu penyimpanan sangat berpengaruh (p < 0,05) terhadap nilai FFA, PV, dan TBA.
      PubDate: 2017-09-14
      DOI: 10.22146/agritech.25324
      Issue No: Vol. 37, No. 2 (2017)
       
  • Gel Glukomanan Porang-Xantan dan Kestabilannya Setelah Penyimpanan Dingin
           dan Beku

    • Authors: Anny Yanuriati, Djagal Wiseso Marseno, Rochmadi Rochmadi, Eni Harmayani
      Pages: 121 - 131
      Abstract: The objectives of this research were to find the porang glucomannan-xanthan optimum ratio on composite gelation and its stability after chilled and frozen storage. Porang glucomannan sol was mixed with xanthan sol in ratio 20/40; 40/60; 50/50; 60/40 and 80/20. The composites were heated for 45 minutes at 90 °C with agitation for 5 minutes, molded, tempered, and stored at 5 °C dan -8 °C for 24 days. Before dan after storage, the texture profile, WBC and sineresis of the gel were analyzed. The composite gel microstructure was analyzed using SEM. The composite gel with ratio 20/80 had the optimum interaction synergy on gelation and stability. The GP-X intermolecular association resulted in long high density junction zones which had highest hardness, chewiness and gumminess with the smallest deformation degree and sineresis as well as medium cohesiveness. Despite of no sineresis after chilled storage, the smaller gel pores indicated that the composite gel began to contract and degrade which resulted in cohesiveness, chewinees, hardness and gumminess decrease. The WBC increase on the higher GP-X ratio composite gel made the gel to be more stable in frozen storage compared to chilled storage. However, the bigger gel pores from entrapped water volume increasing during frozen storage crystal ice formation resulted in sineresis increase. The gel became more compact with higher cohesiveness, hardness, chewiness, gumminess and deformation degree. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menentukan proporsi komposit glukomanan porang dan xantan (GP-X) yang bersinergi optimal dalam pembentukan gel yang stabil setelah penyimpanan dingin dan beku. Sol glukomanan porang 1% dan sol xantan 1% dicampur dengan proporsi GP-X 20/40; 40/60; 50/50; 60/40; dan 80/20. Campuran tersebut dipanaskan pada suhu 90-95  °C selama 45 menit disertai pengadukan selama 5 menit, dicetak, didinginkan dan disimpan pada suhu dingin (5 °C) dan beku (-8 °C) selama 24 hari. Profil tekstur, water binding capacity (WBC), dan sineresis dianalisis di awal dan setelah penyimpanan. Morfologi gel komposit sebelum penyimpanan dan morfologi gel yang paling optimum setelah penyimpanan dianalisis dengan Scanning Electron Microscope (SEM). Sinergi pembentukan gel komposit GP-X paling optimal didapatkan dengan ratio 20/80. Asosiasi intermolekul GP-X pada proporsi tersebut membentuk zona hubung yang panjang dan densitas tinggi sehingga  menghasilkan hardness, chewiness, dan gumminess paling tinggi dengan derajat deformasi dan sineresis paling rendah serta daya kohesif yang sedang. Meskipun belum mengalami sineresis selama 24 hari penyimpanan dingin, pengecilan ukuran jaringan tiga dimensi (pori) gel komposit tersebut menunjukkan gel mulai kontraksi dan mengalami penurunan mutu dengan indikasi penurunan daya kohesif, chewiness, hardness, dan gumminess. Peningkatan WBC pada proporsi yang lebih tinggi menyebabkan gel nampak lebih stabil pada penyimpanan beku dibandingkan dengan penyimpanan dingin. Pembesaran pori gel akibat pengembangan volume air yang terperangkap selama pembentukan kristal es menyebabkan peningkatan sineresis, pemadatan gel, dan peningkatan hardness, chewiness, gumminess, dan persentase deformasi.
      PubDate: 2017-09-14
      DOI: 10.22146/agritech.10793
      Issue No: Vol. 37, No. 2 (2017)
       
  • Pengaruh Pretreatment Secara Alkalisasi-Resistive Heating terhadap
           Kandungan Lignoselulosa Jerami Padi

    • Authors: Dewi Maya Maharani, Lisa Normalasari, Dianita Kumalasari, Chandra Ardin Hersandi Prakoso, Mutiara Kusumaningtyas, Mochamad Taufik Ramadhan
      Pages: 132 - 138
      Abstract: Cellulose is a potential biomass that is used for bioethanol production and commonly present in agricultural residues like rice straw. Cellulose is an important material to produce glucose and bioethanol, but it is covered by lignin and hemicellulose bonds to form a lignocellulose.  Bioethanol production using basic material containing cellulose requires special attention in the process of pretreatment for lignin degradation process and increase the accessible surface and decrystallize cellulose. The aim of this research was to apply alkalization and resistive heating combine method for rice straw pretreatment process before further being converted into bioethanol and to determine the effects of heating temperature and NaOH concentration on the content of  lignin, cellulose, and hemicellulose. The reactor had been designed for resistive heating process. Rice straw that was resized into 100 mesh has dissolved with 0.03 M, 0.05 M, and 0.07 M NaOH and heated with resistive heating temperature of 75 oC, 85 oC, and 99 oC. Cellulose is a raw material that will be further converted into glucose. So that, the selected optimum conditions of this study were  pretreatment with the highest increase of cellulose content level until 8.88% and resulted decreasing levels of lignin (1.39%) and hemicellulose (4.33%) by temperature  75 oC and 0.07 M NaOH concentration. Resistive heating that combine with alkalization can be used for rice straw pretreatment process that reduce lignin and hemicellulose content as well as increasing cellulose content. ABSTRAKSelulosa merupakan biomassa yang potensial digunakan untuk produksi bioetanol dan banyak ditemukan di residu pertanian seperti jerami padi. Selulosa merupakan material penting yang dapat dikonversi menjadi glukosa kemudian dikonversi menjadi bioetanol, namun selulosa pada alam dilapisi oleh ikatan lignin dan hemiselulosa menjadi lignoselulosa. Pembuatan bioetanol berbasis selulosa membutuhkan proses pretreatment yang berfungsi untuk mendegradasi ikatan lignin, meningkatkan luas permukaan biomassa dan dekristalisasi selulosa. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh alkalisasi resistive heating pada proses pretreatment jerami padi sebelum dikonversi lebih lanjut menjadi bioetanol dan mengetahui pengaruh suhu pemanasan serta konsentrasi NaOH selama pretreatment terhadap perubahan kandungan lignin, selulosa dan hemiselulosa. Sebelum dilakukan penelitian dilakukan perancangan reaktor resistive heating. Jerami padi ukuran 100 mesh dilarutkan pada larutan NaOH dengan variasi konsentrasi 0,03 M, 0,05 M, dan 0,07 M, selanjutnya dipanaskan pada reaktor resistive heating dengan variasi suhu pemanasan 75 oC, 85 oC, dan 99 oC. Selulosa merupakan senyawa yang akan dikonversi lebih lanjut menjadi glukosa. Sehingga pada penelitian ini dipilih kondisi optimum berdasarkan peningkatan selulosa tertinggi hingga 8,88% serta penurunan lignin dan hemiselulosa sebesar 1,39% dan 4,33% pada perlakuan suhu pemanasan 75 oC dan konsentrasi NaOH 0,07 M. Alkalisasi resistive heating dapat diterapkan pada pretreatment jerami padi karena dapat mengurangi kandungan lignin dan hemiselulosa serta meningkatkan kandungan selulosa.
      PubDate: 2017-09-14
      DOI: 10.22146/agritech.25326
      Issue No: Vol. 37, No. 2 (2017)
       
  • Isolasi dan Aktivitas Antioksidan Fraksi dari Ekstrak Tongkol Jagung

    • Authors: Edi Suryanto, Lidya Irma Momuat
      Pages: 139 - 147
      Abstract: The corn cob is one of the food waste-material having phytochemical component that of health benefit. The objectives of the research were to isolate phenolic fractions of the corn cob extract and to determine antioxidant and antiphotooxidant activities. The corn cob was extracted with reflux method using ethanol 80% for 2 hours. After that the extracts were filtered and the filtrates were combined and concentrated on rotary evaporator. This crude ethanolic extract was suspended in water and extracted with petroleum ether, ethyl acetate, n-butanol and water, respectively. The best fractions of partition fractionated with colomn chromatography using silica gel 60 and n-hexane: ethyl acetate (4:6). Corncob extract and fraction were evaluated for total phenolic content free radical scavenging activity (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl radical assay) and total antioxidant capacity (ferric reducing ability of plasma assay). The results of total phenolic content showed that ethyl acetate fraction (163.57 μg/mL) has higher phenolic content than butanol fraction (83.30 μg/mL), ethanol extract (81.53 μg/mL), water fraction (23.71 μg/mL) and petroleum ether fraction (23.57 μg/mL). The results also showed that ethyl acetate fraction has highest free radical scavenging activity and total antioxidant capacity than butanol fraction, ethanol extract, water fraction and petroleum ether fraction. The free radical scavenging activity of fractions II and III exhibited strongest activity than fraction V, I, IV and VI. The results also showed that fraction II has highest total antioxidant capacity than I, III, IV, VI, and V. The results suggest that the ethyl acetate fraction and fraction II contains phenolic compounds which possess antioxidant activities. ABSTRAKTongkol jagung merupakan salah satu limbah tanaman pangan yang mempunyai kandungan fitokimia yang bermanfaat untuk kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi fraksi fenolik dari ekstrak tongkol jagung dan menentukan aktivitas antioksidan. Tongkol jagung diekstraksi dengan cara refluk menggunakan etanol 80% selama 2 jam. Setelah itu disaring dan filtratnya diuapkan dengan rotary evaporator. Ekstrak etanol disuspensikan dalam air dan diekstraksi berturut turut dengan petroleum eter, etil asetat, butanol, dan air. Fraksi pelarut terbaik difraksinasi dengan kromatografi kolom menggunakan silika gel 60 dan eluen n-heksana : etil asetat (4:6). Ekstrak tongkol jagung dan fraksi dievaluasi kandungan total fenolik, aktivitas penangkal radikal bebas (uji 1,1-difenil-2-pikrilhidrazil) dan kapasitas total antioksidan (uji ferric reducing ability of plasma). Hasil uji kandungan total fenolik menunjukkan bahwa fraksi etil asetat (163,57 μg/mL) memiliki kandungan total fenolik yang paling tinggi daripada fraksi butanol (83,30 μg/mL), ekstrak etanol (81,53 μg/mL), fraksi air (23,71 μg/mL) dan fraksi petroleum eter (23,57 μg/mL). Hasil ini juga menunjukkan bahwa fraksi etil asetat mempunyai aktivitas penangkal radikal dan kapasitas total antioksidan paling tinggi daripada fraksi butanol, ekstrak etanol, fraksi air, dan fraksi petroleum eter. Aktivitas penangkal radikal bebas fraksi II dan III memperlihatkan paling kuat daripada fraksi V, I, IV dan VI. Hasil penelitian ini menyarankan bahwa fraksi etil asetat dan fraksi II mengandung senyawa fenolik yang mempunyai aktivitas antioksidan kuat.
      PubDate: 2017-09-14
      DOI: 10.22146/agritech.27537
      Issue No: Vol. 37, No. 2 (2017)
       
  • Ekstraksi Komponen Bioaktif Daun Alpukat dengan Bantuan Ultrasonik pada
           Berbagai Jenis dan Konsentrasi Pelarut

    • Authors: I Wayan Rai Widarta, I Wayan Arnata
      Pages: 148 - 157
      Abstract: Avocado leaves contain high bioactive components that can be utilised as a source of antioxidants. The purpose of this research was to obtain the appropriate solvent types and concentration to recover high level of bioactive compounds and high antioxidant activity from the avocado leaves’ extract. This study was conducted in two stages. The first stage was the determination of the solvent types and concentration in producing the extract of avocado leaves with the highest antioxidant activity. The research was designed using complete randomised factorial design with the type of solvent (methanol, ethanol, acetone) as the first factor and the second factor was the solvent concentration (30%, 50%, 70%). The second stage of this research was the IC50 determination of avocado leaves which has highest antioxidant activity. The result showed that the appropriate solvent used in obtaining the extract of avocado leaves with the highest antioxidant activity was 70% ethanol. The total contents of phenolic, flavonoids, tannins, and DPPH radical inhibition activity of this extract were 23.28 mg/g materials, 93.97 mg/g materials, 9.47 mg/g materials and 90.80%, respectively. Whereas, IC50 value measured using DPPH, Fe2+ chelating, and reducing power were 1870 mg/L, 1180 mg/L and 85.24 mg/L, respectively.
      ABSTRAKDaun alpukat mengandung komponen bioaktif yang tinggi sehingga dapat dimanfaatkan sebagai sumber antioksidan. Tujuan  penelitian ini adalah mendapatkan jenis dan konsentrasi pelarut yang tepat untuk menghasilkan komponen bioaktif dan aktivitas antioksidan yang tinggi dari ekstrak daun alpukat. Penelitian dilakukan dalam dua tahapan. Pada tahap I dilakukan penentuan jenis dan konsentrasi pelarut untuk menghasilkan ekstrak daun alpukat dengan aktivitas antioksidan tertinggi. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap pola faktorial dengan faktor I adalah jenis pelarut (metanol, etanol dan aseton) dan faktor II adalah konsentrasi pelarut (30%, 50%, dan 70%). Pada tahap II dilakukan penentuan IC50 dari ekstrak daun alpukat yang memiliki aktivitas antioksidan tertinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelarut yang tepat digunakan untuk memperoleh ekstrak daun alpukat dengan aktivitas antoksidan yang tertinggi adalah etanol 70% dengan kadar total fenolik, flavonoid, tanin, dan aktivitas penghambatan radikal DPPH masing-masing  adalah 23,28 mg/g bahan, 93,97 mg/g bahan, 9,47 mg/g bahan, dan 90,80%. Sementara itu, nilai IC50 baik yang diukur dengan metode DPPH, pengkelatan Fe2+ maupun reducing power masing-masing adalah 1870 mg/L, 1180 mg/L, dan 85,24 mg/L.
      PubDate: 2017-09-14
      DOI: 10.22146/agritech.10397
      Issue No: Vol. 37, No. 2 (2017)
       
  • Optimasi Sintesis Karboksi Metil Selulosa (CMC) dari Pelepah Kelapa Sawit
           Menggunakan Response Surface Methodology (RSM)

    • Authors: M. Khoiron Ferdiansyah, Djagal Wiseso Marseno, Yudi Pranoto
      Pages: 158 - 164
      Abstract: Palm midrib contain 89.63 % of cellulose. Cellulose is the main raw material synthesis of carboxy methyl cellulose (CMC). The purpose of this research was to determine the optimum conditions of carboxy methyl cellulose (CMC) synthesis from palm midrib. In this research, the concentration of NaOH, NaMCA weight, and the temperature of carboxymethylation reaction were examined. The response optimized on the CMC was the degree of substitution (DS). The optimum conditions of CMC synthesis from palm midrib cellulose was obtained from 10 % of NaOH, 4.57 g of NaMCA, and the reaction temperature of 46.59 °C. Response Surface Methodology calculation showed that CMC with optimum condition had the degree of substitution (DS) value of 0.83, while in the verification test the DS value was 0.75. ABSTRAKPelepah kelapa sawit mempunyai kandungan selulosa sebesar 89,63 %. Selulosa merupakan bahan baku utama sintesis karboksi metil selulosa (CMC). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi optimum sintesis CMC dari pelepah kelapa sawit. Faktor yang diteliti pada penelitian ini adalah konsentrasi NaOH, berat NaMCA, dan suhu reaksi karboksimetilasi. Respon yang dioptimasi pada CMC yang dihasilkan adalah derajat substitusi (DS). Kondisi optimum sintesis CMC dari selulosa pelepah kelapa sawit didapatkan dengan konsentrasi NaOH 10 %, berat NaMCA 4,57 g, dan suhu reaksi 46,59 °C. Hasil dari perhitungan RSM menunjukkan CMC dengan kondisi optimum memiliki nilai DS sebesar 0,83 sedangkan uji verifikasi menunjukkan nilai DS sebesar 0,75.
      PubDate: 2017-09-14
      DOI: 10.22146/agritech.25363
      Issue No: Vol. 37, No. 2 (2017)
       
  • Pengaruh Konsentrasi Kultur dan Prebiotik Ubi Jalar terhadap Sifat Sari
           Jagung Manis Probiotik

    • Authors: Nur Aini, Vincentius Prihananto, Gunawan Wijonarko, Arimah Arimah, Muhammad Syaifudin
      Pages: 165 - 172
      Abstract: Sweet corn extract with the addition of lactic acid bacteria can improve its function as probiotic drinks. Sweet potato as a prebiotic is expected to increase the activity of lactic acid bacteria probiotic sweet corn extract. The use of culture in the making of sweet corn extract probiotics will affect the character of the product. The purpose of this study were: (1) to study the effect of culture concentration on characteristics of probiotic sweet corn extract; (2) to study the effect of red sweet potato extract on characteristics of probiotic sweet corn extract; and (3) to determine the best treatment combination between the culture and the concentration of red sweet potato extract in the production of probiotic sweet corn extract; and comparing commercial in the market. Research using a completely randomized design (CRD) with research factor is the concentration of the culture (2, 3, 4, and 5 %) and red sweet potato extract (5, 10, 15, 20 and 25 %). The results showed that the more the concentration of the culture is added, the number of lactic acid bacteria, total acid and viscosity increase; while pH, total dissolved solids, fat and protein concentration decreased. The more sweet potato extract is added, the total dissolved solids and viscosity increased; while the levels of protein and fat decreases. The best treatment combination was at a concentration of 4 % culture and 15 % sweet potato extract. The products have a pH of 3.88, a viscosity of 261.5 cP, lactic acid levels of 0.87 %, 0.05 % fat content, total dissolved solids 19.10 oBrix, and 3.23 % of total protein. Yoghurt is compliant SNI standard yoghurt, except for protein content was lower at 3.23 (SNI according to at least 3.5). ABSTRAKSari jagung manis dengan penambahan bakteri asam laktat dapat meningkatkan fungsinya sebagai minuman probiotik. Ubi jalar sebagai prebiotik diharapkan meningkatkan aktivitas bakteri asam laktat pada sari jagung manis probiotik. Penggunaan kultur pada pembuatan sari jagung manis probiotik akan mempengaruhi karakter produk. Tujuan penelitian ini adalah: (1) mempelajari pengaruh konsentrasi kultur terhadap sifat jagung manis probiotik; (2) mempelajari pengaruh penambahan ekstrak ubi jalar merah terhadap sifat sari jagung manis probiotik; dan (3) menentukan kombinasi perlakuan terbaik antara konsentrasi kultur dan ekstrak ubi jalar merah dalam pembuatan sari jagung manis probiotik dan membandingkan dengan yoghurt komersial yang telah beredar di pasaran. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan faktor penelitian adalah konsentrasi  kultur (2, 3, 4, dan 5 %) dan ekstrak ubi jalar merah (5, 10, 15, 20 dan 25 %). Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin banyak konsentrasi kultur yang ditambahkan pada pembuatan sari jagung manis probiotik maka jumlah bakteri asam laktat, total asam dan viskositas semakin meningkat; sedangkan pH, total padatan terlarut, kadar lemak dan protein semakin menurun. Semakin banyak ekstrak ubi jalar merah yang ditambahkan pada pembuatan sari jagung manis probiotik maka total padatan terlarut dan viskositas semakin meningkat; sedangkan kadar protein dan lemak semakin menurun. Kombinasi perlakuan paling baik untuk pembuatan sari jagung manis probiotik adalah pada konsentrasi 4 % kultur dan 15 % ekstrak ubi jalar. Produk  memiliki pH 3,88, viskositas 261,5 cP, kadar asam laktat 0,87 %, kadar lemak 0,05 %, total padatan terlarut 19,10 oBrix, dan protein total 3,23 %. Yoghurt ini sudah memenuhi standar SNI yoghurt, kecuali kadar protein yang masih lebih rendah yaitu 3,23 (menurut SNI minimal 3,5).
      PubDate: 2017-09-14
      DOI: 10.22146/agritech.25892
      Issue No: Vol. 37, No. 2 (2017)
       
  • Pengaruh Media Budidaya Menggunakan Air Laut dan Air Tawar terhadap Sifat
           Kimia dan Fungsional Biomassa Kering (Spirulina platensis)

    • Authors: Nurfitri Ekantari, Yustinus Marsono, Yudi Pranoto, Eni Harmayani
      Pages: 173 - 182
      Abstract: Spirulina is a microalgae, easily cultivated and grows well in a low to high-level of salinity. Chemical contents in Spirulina can be influenced by the conditions of cultivation. Spirulina platensis sold in Indonesia is largerly cultured in marine water or fresh water medium. S. platensis can be used as a source of calcium because it has 700-1000 mg/100 g of dry biomass. This study aimed to determine the effect of sea water and fresh water cultivation medium on the chemical composition of S. platensis. Samples were determined the chemical composition included proximate analysis, mineral content of Calcium (Ca), Magnesium (Mg) and Phosphor (P), total glucose, starch, and dietary fiber. Functional properties were also determined i.e: solubility, water and oil binding capacities, emulsion and foam abilities. The results showed that  the content of ash and minerals (Ca, Mg, P) of S. platensis cultivated in marine water was higher that of S. platensis cultivated in freshwater. This results suggested that S. platensis cultured in the sea water medium was potential as an alternative source of calcium (512,53 mg Ca/100 g) with a ratio Ca-P = 1:1.79. The carbohydrate content was at least 28,41 %db (total sugars almost 0,09 %db, starch 6,9 %db and total dietary fiber 24,81 %db). The dietary fiber was dominated by insoluble dietary fiber (24,81 %db). Functional properties were affected by cultured medium. Spirulina platensis cultivated in marine water exhibited high capacity on Water and Oil Holding Capacities (WHC and OHC) that were 4,46 ml/g and 2,35 ml/g, respectively. Water Solubility Index (WSI), foaming capacity, emulsion capacity were not affected by cultured media. ABSTRAKSpirulina merupakan mikroalga, mudah dibudidayakan dan dapat hidup dalam tingkat salinitas yang rendah hingga tinggi. Kandungan kimia dalam Spirulina dapat dipengaruhi oleh media budidayanya. Di Indonesia Spirulina platensis yang beredar sebagian merupakan hasil budidaya dari berbagai tempat dengan media budidaya air tawar maupun air laut. S. platensis dapat digunakan sebagai salah satu sumber kalsium karena kandungannya dapat mencapai 700-1000 mg/100 g biomassa kering. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh media budidaya air laut dan air tawar terhadap komposisi kimia dan sifat fungsional dari S. platensis. Parameter kimia yang diamati yaitu komposisi proksimat, kandungan mineral Ca, Mg dan P, kandungan gula, pati dan serat pangan. Parameter sifat fungsional meliputi kelarutan, kemampuan mengikat air dan lemak, emulsifikasi dan kemampuan membentuk busa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan abu dan mineral (Ca, Mg, P) S. platensis budidaya air laut lebih tinggi daripada budidaya air tawar. S. platensis asal budidaya laut berpotensi sebagai alternatif sumber kalsium (512,53 mg Ca/100 g) dengan rasio Ca:P = 1:1,79. Kandungan karbohidrat S. platensis hasil budidaya media air laut lebih rendah yaitu 28,41 %db (gula total dengan nilai 0,09 %db, pati 6,9 %db dan total serat pangan 24,81 %db), serat pangan terutama berupa serat pangan tak larut sebesar 24,18 %db. Sifat fungsional dipengaruhi oleh asal budidaya. Spirulina platensis asal budidaya laut memiliki sifat Water Holding Capacity (WHC) yang lebih tinggi yaitu 4,46 ml/g dibandingkan sifat Oil Holding Capacity (OHC) yaitu 2,35 ml/g, sedangkan Water Soluble Index (WSI), kapasitas membentuk busa dan emulsifikasi tidak dipengaruhi media budidaya.
      PubDate: 2017-09-14
      DOI: 10.22146/agritech.10843
      Issue No: Vol. 37, No. 2 (2017)
       
  • Aplikasi Microwave untuk Disinfestasi Tribolium castaneum (Herbst.) serta
           Pengaruhnya terhadap Warna dan Karakteristik Amilografi Terigu

    • Authors: Nur Pratiwi Rasyid, Edy Hartulistiyoso, Dedi Fardiaz
      Pages: 183 - 191
      Abstract: This study aimed to determine the amount of microwave energy used for the disinfestation of T. castaneum and to observe its effect on discoloration and amilographic characteristic of treated wheat flour. Damages due to T. castaneum attack during storage caused physical and chemical changes in the wheat flour. The physical damage from this attack wasthe color change of the wheat flour, whereas chemical damage was caused by lipase enzyme activity and benzokuinon derived from the secretion of T. castaneum. The study was conducted on the wheat flour that was unfumigated in it smilling stage. The contamination of the wheat flour was artificially made by giving cultured T. castaneum, which were consisted of 10 males and 10 females, into 50 g as well as 100 g of wheat flour. After 42 days of storage time, the study showed that the mortality rate of untreated samples was 0 % both for 50 g and 100 g samples. The moisture showed an increase, while color-brightness level and viscosity peak were decreased. All of samples that were treated by 23.76 kJ, 24.00 kJ, 31.68 kJ and 36.00 kJ of microwave energy indicated 100% mortality of T. castaneum, whereas the color brightness, the amilographic peak, and moisture were decreased both on the mass of 50 g and 100 g after H+42 storage time. ABSTRAKAplikasi microwave telah dipelajari untuk disinfestasi Tribolium castaneum (Herbst.) dan pengaruhnya terhadap karakteristik warna dan amilografi tepung terigu. Kerusakan karena serangan T. castaneum selama penyimpanan menyebabkan terjadinya perubahan fisik dan kimiawi tepung. Kerusakan fisik berupa terjadinya perubahan warna tepung, sedangkan kerusakan kimiawi karena adanya aktifitas enzim lipase dan benzokuinon yang berasal dari hasil sekresi T. castaneum. Penelitian dilakukan dengan menggunakan tepung yang tidak di fumigasi pada tahap milling. Kontaminasi pun dilakukan dengan memberikan biakan T. castaneum masing-masing 10 jantan dan 10 betina ke dalam 50 g dan 100 g sampel tepung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat mortalitas pada sampel yang tidak diberi aplikasi microwave setelah penyimpanan 42 hari adalah 0 % baik untuk sampel 50 g dan 100 g. Kadar air meningkat, sedangkan tingkat kecerahan warna, puncak viskositas menurun. Sampel yang diberi perlakuan energi microwave 23,76 kJ, 24,00 kJ, 31,68 kJ dan 36,00 kJ menunjukkan mortalitas 100 % dari T. castaneum, sedangkan kecerahan warna, puncak viskositas, kadar air, menurun setelah penyimpanan 42 hari baik pada berat sampel 50 g dan 100 g.
      PubDate: 2017-09-14
      DOI: 10.22146/agritech.11255
      Issue No: Vol. 37, No. 2 (2017)
       
  • Isolasi dan Karakterisasi Sifat Pati Kacang Hijau (Vigna radiata L.)
           Beberapa Varietas Lokal Indonesia

    • Authors: Priyanto Triwitono, Yustinus Marsono, Agnes Murdiati, Djagal Wiseso Marseno
      Pages: 192 - 198
      Abstract: Mung beans is a kind of legumes that possesses a potential  amylose to produce low calories RS-3. Studies on the characteristics of the starch will be useful for the treatment of obesity in the future. Isolation and characterization of the properties of mung bean starch of 4 local Indonesian varieties (Walet, Sriti, Murai, and Vima-1) have done. Isolation of starch using a modified method of Hoover. The analyzed properties of starch consist of starch content, amylose content, granular shape, color, swelling power, WHC, the blue value, amylograph and crystallinity properties. The results indicated that the mung bean varieties Walet have the highest amylose content (55.39%), that’s potential as source of  RS-3. Mung beans Walet have the 42.11% of starch content; 35.33% of yield starch; 99.63%  of starch purity; 17.11 g/g of highest swelling power; 65.26 g/g of WHC; 59.36 g/g  of OHC; 8.92% of blue value; Oval granular shape; white  color (88.09 of  Lightness); 78.7 °C of gelatinization temperature; tipe C of X-ray diffraction pattern, and 1430 Cp of the fastest retrograded starch viscosity.

      ABSTRAKKacang hijau merupakan jenis kacang-kacangan sumber pati beramilosa tinggi yang potensial menghasilkan RS-3 tinggi dan rendah kalori. Kajian tentang karakteristik patinya akan membuka peluang pemanfaatannya untuk penanganan obesitas di masa datang. Telah dilakukan isolasi dan karakterisasi sifat-sifat pati kacang hijau dari 4 varietas lokal Indonesia (Walet, Sriti, Murai, dan Vima-1). Isolasi pati menggunakan metode Hoover yang dimodifikasi dan sifat-sifat pati yang dianalisis meliputi kadar pati, amilosa, bentuk granula, warna pati, swelling power, WHC, blue value, viskositas, dan sifat kristalinitas pati. Hasil isolasi dan analisis menunjukkan bahwa kacang hijau varietas Walet memiliki kadar amilosa paling tinggi (55,39%), sehingga potensial sebagai bahan dasar RS-3. Kacang hijau Walet menghasilkan kadar pati 42,11%; rendemen pati 35,33%; kemurnian pati 99,63%; swelling power tertinggi 17,11 g/g; WHC 65,26 g/g; OHC 59,36 g/g; Blue Value 8,92%; bentuk granula oval; warna putih (L= 88,09); suhu gelatinisasi 78,7 °C; pola difraksi sinar X tipe C; dan viskositas pati paling cepat teretrogradasi (1430 Cp)
      PubDate: 2017-09-14
      DOI: 10.22146/agritech.10659
      Issue No: Vol. 37, No. 2 (2017)
       
  • Kinetika Oksidasi Protein Ikan Kakap (Lutjanus sp) Selama Penyimpanan

    • Authors: Rahim Husain, Suparmo Suparmo, Eni Harmayani, Chusnul Hidayat
      Pages: 199 - 204
      Abstract: Fish protein is oxidased easily during storage. The oxidation reaction rate can be approached through the order to zero or first order. The objective of this research was to study the oxidation rate during storage by determining the amount of activation energy (Ea) and constant change (k). The results showed that the increased of temperature storage from 0 °C to 40oC can increased the k value from 0.0617 to 0.311. The carbonyl content of red snapper protein isolate can be increased to higher level as storage temperature increase to 40 °C with higher level increase at higher temperature. The activation energy of oxidation reactions that cause oxidation of the protein is 42.015 Kj/mol.K to zero order. Kinetics increase in protein carbonyls: the higher the temperature storage protein isolate red snapper (Lutjanus sp), the greater the value of a constant (k) is obtained. Kinetics studies show that an increase in the rate of reaction of oxidative damage fish protein  (Lutjanus sp) during storage by following zero order reactions. ABSTRAKProtein ikan mudah rusak akibat oksidasi selama penyimpanan. Kecepatan reaksi oksidasi dapat didekati melalui orde ke nol maupun orde pertama. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari oksidasi selama penyimpanan dengan menentukan besaran energi aktivasi (Ea) dan konstanta perubahan (k). Hasil menunjukkan bahwa nilai k meningkat dari 0,0617 menjadi 0,311 dengan peningkatan suhu dari 0 °C ke 40 °C. Energi aktivasi reaksi oksidasi yang menyebabkan terjadinya oksidasi protein adalah 42,015 Kj/mol.K untuk orde nol. Kinetika peningkatan protein karbonil: semakin tinggi suhu penyimpanan protein ikan kakap (Lutjanus sp) semakin besar nilai konstanta (k) yang diperoleh. Studi kinetika juga memperlihatkan bahwa  peningkatan laju reaksi kerusakan oksidasi protein ikan kakap (Lutjanus sp) selama penyimpanan  mengikuti reaksi orde ke nol atau reaksi berjalan lambat.
      PubDate: 2017-09-14
      DOI: 10.22146/agritech.25926
      Issue No: Vol. 37, No. 2 (2017)
       
  • Optimasi Rendemen Fibroin Ulat Sutera Bombyx mori L. dan Attacus atlas L.
           dengan Response Surface Methodology

    • Authors: Yuni Cahya Endrawati, Dedy Duryadi Solihin, Ani Suryani, Subyakto Subyakto
      Pages: 205 - 214
      Abstract: The fibroin extraction process was done base on temperature and time parameters without knowing exactly the rendement been maximum or not. Optimum rendement data are critical to the business feasibility for scaling up to the industrial level. The objective of this research is to obtain the optimum extraction process (degumming) to get the highest fibroin rendement. The method in this research was response surface method (RSM) where NaOH concentration, process temperature and time consumption were chosen to be independent variables. These variables were formulated in the central composite design (CCD) research method at RSM Program with the center point is NaOH 0.1 N, 105 °C for 30 minutes. The weight of fibroin yield (%) being use as a response condition (dependent variable) to get the optimum result of fibroin rendement. The optimum degumming process condition of Bombyx mori are achieved where the NaOH 0.018 N, 110.53 °C temperature degree for 55.51 minutes for a batch time process with the rendement recorded was 71.11 ± 0.98 %. As for “Attacus atlas” the optimum rendement was 83.06 ± 1.50 % achieved at 0.12 N NaOH concentration, process temperature was 79 oC and 42.65 minutes for twice degumming. The best selected fribroin degumming method will lead to the optimum yield achievement. ABSTRAKEkstraksi fibroin dilakukan dengan perlakuan suhu dan waktu tanpa diketahui maksimal atau tidaknya capaian rendemen yang dihasilkan. Padahal data tersebut sangat penting untuk estimasi profitabilitas pada usaha hilir ulat sutera. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan formulasi ekstraksi (degumming) yang menghasilkan rendemen fibroin optimum. Metode yang digunakan adalah optimasi ekstraksi fibroin menggunakan Program Response Surface Methodology (RSM) dengan tiga variabel bebas, konsentrasi NaOH, suhu dan waktu. Variabel tersebut diformulasikan dalam rancangan percobaan Central Composite Design (CCD) di Program RSM menggunakan titik pusat NaOH 0,1 N, suhu 105 °C selama 30 menit. Pada rancangan percobaan tersebut, rendemen bobot fibroin (%) digunakan sebagai respon (variabel terikat) untuk menghasilkan kondisi optimum. Kondisi tersebut berupa formulasi variabel bebas yang mengoptimumkan rendemen fibroin. Kondisi optimum Bombyx mori dicapai pada konsentrasi NaOH 0,018 N, suhu 110,53 °C dan waktu 55,51 menit pada satu kali degumming dengan perolehan rendemen fibroin sebesar 71,11 ± 0,98 %. Rendemen fibroin optimum sebesar 83,06 ± 1,50 % pada Attacus atlas dihasilkan dari kondisi optimum NaOH 0,12 N, suhu 79 °C selama 42,65 menit pada dua kali degumming. Metode ekstraksi fibroin yang tepat akan menghasilkan rendemen fibroin yang optimum. 
      PubDate: 2017-09-14
      DOI: 10.22146/agritech.10497
      Issue No: Vol. 37, No. 2 (2017)
       
  • Analisis Neraca Air Lahan terhadap Jenis Tanah yang Berkembang pada Daerah
           Karts di Kecamatan Parigi Kabupaten Muna Sulawesi Tenggara

    • Authors: M Tufaila, La Mpia, Jufri Karim
      Pages: 215 - 219
      Abstract: Soil water balance is describes the condition of the water in an area. The difference of climatic conditions and land characteristic denotes the effect of the soil water balance. The objective of this study is to determine soil water balance on the type of soil that developed at parent material karts. Village Parigi district Muna has an area of 16245.88 ha consists of Inceptisol, Mollisol, and Andosol and developing in Qal and Qpw geological formation. The results of research showed that surplus on rainwater occurred in February, March, and April. While the water deficit occurred in January, May, June, July, August, September, October, November, and December. Soil water balance in the research site was affected by climate, soil condition, and soil characteristic. Soil was formed above the karst rock showing little effect on the soil water balance.

       ABSTRAK
      Neraca air lahan menggambarkan kondisi air pada suatu wilayah. Perbedaan kondisi iklim dan karateristik lahan memberikan pengaruh terhadap nerca air lahan. Tujuan penelitiaan ini yaitu untuk mengetahui neraca air lahan pada jenis tanah yang berkembang pada bahan induk karts. Kecamatan Parigi Kabupaten Muna memiliki luas 16.245,88 ha terdiri dari jenis tanah Iceptisol, Mollisol, dan Andisol dan  berkembang pada formasi geologi Qal dan Qpw. Hasil penelitiaan menunjukan bahwa surpulus air hujan terjadi pada bulan Februari, Maret dan April, sedangkan divisit air terjadi pada bulan Januari, Mei, Juni, Juli, Agustus, September, Oktober, November, dan Desember. Neraca air lahan dilokasi penelitian dipengaruhi oleh iklim, kondisi lahan, dan karateristik tanah. Tanah yang terbentuk diatas batuan karts memberikan pengaruh yang kecil terhadap neraca air lahan.


      PubDate: 2017-09-14
      DOI: 10.22146/agritech.16747
      Issue No: Vol. 37, No. 2 (2017)
       
  • Pemodelan Kinetika Pengeringan Beberapa Komoditas Pertanian Menggunakan
           Pengering Inframerah

    • Authors: Nok Afifah, Ari Rahayuningtyas, Seri Intan Kuala
      Pages: 220 - 228
      Abstract: The drying kinetics study was carried out on agricultural commodities using an infrared dryer at temperature 60 °C. The aim of this study was to determine a drying model and effective moisture diffusivity that showed the drying characteristics of cassava slices, banana slices and groundnut pods. The experiments were conducted at three agricultural commodities (cassava, banana, and groundnut) at two capacity levels of 12 kg and 24 kg. Drying was done by arranging the agricultural material on  tray of 0.5 kg and 1 kg for the treatment of 12 kg capacity and 24 kg capacity, respectively. A total of 24 trays were inserted into the dryer and every hour sample was taken to analyze the water content by gravimetric method. Data was fitted to four drying models and non-linear regression analysis was used to determine model parameters. The models were compared based on their coefficients of determination (R2) between the experimental and predicted moisture ratios. The results showed that the increase of drying capacity would decrease the drying rate for all agricultural commodities. The Page model was showed to the best for describing the drying behaviour for these agricultural products. Effective moisture diffusivity ranged between 1.34x10-10 m2/s - 3.23x10-10 m2/s. ABSTRAKStudi kinetika pengeringan telah dilakukan pada beberapa komoditas pertanian menggunakan pengering inframerah pada temperatur 60 °C. Penelitian ini bertujuan untuk menetapkan  model pengeringan dan effective moisture diffusivity yang menunjukkan karakteristik pengeringan irisan singkong, irisan pisang dan polong kacang tanah. Perlakuan yang digunakan adalah jenis komoditas pertanian (umbi singkong, buah pisang, dan polong kacang) pada dua level kapasitas 12 kg dan 24 kg. Pengeringan dilakukan dengan menata bahan pertanian di atas loyang masing-masing sebanyak 0,5 kg dan 1 kg untuk perlakuan kapasitas 12 kg dan 24 kg. Sebanyak 24 loyang dimasukkan ke dalam pengering dan setiap jam diambil sampel untuk dianalisa kadar airnya dengan metode gravimetri. Data diujikan dengan empat model pengeringan dan analisis regresi non-linear digunakan untuk menentukan parameter model. Nilai rasio kandungan air eksperimental dan hasil prediksi model selanjutnya dibandingkan berdasarkan koefisien determinasi (R2). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kenaikan kapasitas pengeringan akan menurunkan laju pengeringan untuk semua komoditas pertanian. Model Page terlihat paling baik untuk menggambarkan perilaku pengeringan bahan-bahan pertanian tersebut. Nilai difusivitas efektif kandungan air berkisar pada 1,34x10-10 m2/detik - 3,23x10-10 m2/detik.
      PubDate: 2017-09-14
      DOI: 10.22146/agritech.10394
      Issue No: Vol. 37, No. 2 (2017)
       
  • Kinerja Pengeringan Gabah Menggunakan Alat Pengering Tipe Rak dengan
           Energi Surya, Biomassa, dan Kombinasi

    • Authors: Tamaria Panggabean, Arjuna Neni Triana, Ari Hayati
      Pages: 229 - 235
      Abstract: Paddy drying was performed using a hybrid drier utilizing solar energy, biomass and combined solar-biomass energy as energy sources. This research objective was to evaluate performance of the hybrid paddy drier using solar energy and paddy straw and coconut coir biomass. The experimental and descriptive method was used. The result showed that the drier with solar system was capable to generate temperature of drying chamber to 40.42 °C in average, while the average relative humidity was 41.45%. The paddys final moisture was 14.88%w.b after 7 hours of drying with drying rate of 0.64% d.b/h and energy consumption of 32,595.32 kJ. Paddy drying with biomass energy system was capable to obtain drying chambers temperature of 33.8 °C in average, the average relative humidity of 57%, the final moisture of 15.57%, the drying rate of 0.50 %d.b/h and energy consumption of 160,662.15 kJ with the same drying times. The solar-biomass drying system was capable to achieve temperature of 39.98 °C, the average relative humidity of 45.85 %, the final moisture of 15.33%w.b with drying rate of 0.55 %d.b/h and energy consumption of 136,457.76 kJ. Therefore, the best performance for drying paddys was with the solar drying system. ABSTRAKPengeringan gabah dapat dilakukan menggunakan alat pengering energi surya, energi biomassa dan energi kombinasi surya dan biomassa.  Penelitian ini bertujuan untuk menguji kinerja alat pengering gabah hybrid energi surya dan biomassa jerami padi dan sabut kelapa.  Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental dan deskritif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengeringan gabah dengan energi surya menghasilkan suhu ruang pengering rata-rata 40,42 °C, kelembaban relatif ruang pengering rata-rata 41,45 %, waktu pengeringan 7 jam, kadar air akhir rata-rata 14,88 %bb, laju pengeringan rata-rata 0,64 %bk/jam, dan energi pengering 32.595,32 kJ.  Pengeringan gabah dengan energi biomassa menghasilkan suhu ruang pengering rata-rata 33,8 °C, kelembaban relatif ruang pengering rata-rata 57 %, waktu pengeringan 7 jam, kadar air akhir rata-rata 15,57 %bb, laju pengeringan rata-rata 0,50 %bk/jam, dan energi pengering 160.662,15 kJ. Pengeringan gabah dengan energi kombinasi surya dan biomassa menghasilkan suhu ruang pengering rata-rata 39,98 °C, kelembaban relatif ruang pengering rata-rata 45,85 %, waktu pengeringan 7 jam, kadar air akhir rata-rata 15,33 %, laju pengeringan rata-rata 0,55 %bk/jam, dan energi pengering 136.457,76 kJ.  Kinerja yang diperoleh alat pengering terbaik menggunakan energi surya dengan kadar air akhir sebesar 14,88%bb, laju pengeringan 0,64 %bk/jam dan kebutuhan energi pengeringan 32.595,32 kJ.
      PubDate: 2017-09-14
      DOI: 10.22146/agritech.25989
      Issue No: Vol. 37, No. 2 (2017)
       
 
 
JournalTOCs
School of Mathematical and Computer Sciences
Heriot-Watt University
Edinburgh, EH14 4AS, UK
Email: journaltocs@hw.ac.uk
Tel: +00 44 (0)131 4513762
Fax: +00 44 (0)131 4513327
 
Home (Search)
Subjects A-Z
Publishers A-Z
Customise
APIs
Your IP address: 54.162.105.241
 
About JournalTOCs
API
Help
News (blog, publications)
JournalTOCs on Twitter   JournalTOCs on Facebook

JournalTOCs © 2009-2016