Journal Cover Journal of Fisheries Sciences
  [0 followers]  Follow
    
  This is an Open Access Journal Open Access journal
   ISSN (Print) 0853-6384
   Published by Universitas Gadjah Mada Homepage  [27 journals]
  • Perkiraan Rentang Hidup dan Pola Osilasi Populasi Cypraea moneta L, 1758
           DI Pantai Sepanjang Yogyakarta

    • Authors: Felicia Zahida, Wibowo N. Jati
      Pages: 49 - 53
      Abstract: Baru-baru ini telah dilakukan berbagai penelitian siput laut secara intensif di pantai selatan Yogyakarta. Fakta menunjukkan pemanenan Gastropoda oleh penduduk setempat tinggi di Pantai Krakal. Oleh sebab itu perlu dilakukan penelitian untuk memperkirakan rentang hidup dan pola osilasi berbagai populasi Gastropoda, khususnya Cypraea moneta L., 1758. Pola osilasi dan rentang hidup menunjukkan status kerentanannya, dengan mempelajari kharakter ini selanjutnya dapat dilakukan upaya pengelolaan yang berkesinambungan. Penelitian dilakukan dengan melakukan sampling di Pantai Sepanjang, di sekitar bulan purnama selama satu tahun. Siput diukur panjang cangkangnya (mm), guna mendapatkan datafrekuensi panjang cangkang per bulan. Selanjutnya dilakukan analisis Elefan untuk mendapatkan nilai konstanta pertumbuhan dan kurva pertumbuhan von Bertallanffy menunjukkan rentang umur populasi.Hasil penelitian menunjukkan pola osilasi yang tidak konstan, baik yang didapatkan di Pantai Krakal maupun Pantai Sepanjang. Konstanta pertumbuhan K juga menunjukkan perbedaan antara populasi yang didapatkan di Pantai Krakal dan Pantai Sepanjang yang bersebelahan lokasinya di pantai selatan Yogyakarta.Baru-baru ini telah dilakukan berbagai penelitian siput laut secara intensif di pantai selatan Yogyakarta.Fakta menunjukkan pemanenan Gastropoda oleh penduduk setempat tinggi di Pantai Krakal. Oleh sebabitu perlu dilakukan penelitian untuk memperkirakan rentang hidup dan pola osilasi berbagai populasiGastropoda, khususnya Cypraea moneta L., 1758. Pola osilasi dan rentang hidup menunjukkan statuskerentanannya, dengan mempelajari kharakter ini selanjutnya dapat dilakukan upaya pengelolaan yangberkesinambungan. Penelitian dilakukan dengan melakukan sampling di Pantai Sepanjang, disekitarbulan purnama selama satu tahun. Siput diukur panjang cangkangnya (mm), guna mendapatkan datafrekuensi panjang cangkang per bulan. Selanjutnya dilakukan analisis Elefan untuk mendapatkan nilaikonstanta pertumbuhan dan kurva pertumbuhan von Bertallanffy menunjukkan rentang umur populasi.Hasil penelitian menunjukkan pola osilasi yang tidak konstan, baik yang didapatkan di Pantai Krakalmaupun Pantai Sepanjang. Konstanta pertumbuhan K juga menunjukkan perbedaan antara populasiyang didapatkan di Pantai Krakal dan Pantai Sepanjang yang bersebelahan lokasinya di pantai selatanYogyakarta.
      PubDate: 2016-03-28
      Issue No: Vol. 17, No. 2 (2016)
       
  • Analisis Produksi Budidaya Ikan Lele (Clarias gariepinus) di Kecamatan
           Kalasan Kabupaten Sleman DIY: Pendekatan Fungsi Produksi Cobb Douglas

    • Authors: Dian K. Dewi, Jangkung H. Mulyo
      Pages: 54 - 60
      Abstract: Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisa produksi budidaya ikan lele dan faktor-faktor yang mempengaruhinya di Kalasan Sleman. Metoda dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif analitis. Responden dalam penelitian ini adalah semua pembudidaya ikan lele yang berada di Kalasan Sleman berjumlah 56 orang. Metode analitis yang digunakan adalah metode regresi linier berganda menggunakan fungsi produksi Cobb-Douglas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata produktivitas budidaya ikan lele di Kalasan adalah 9,53 kg/m2. Dosis pemberian pakan, jumlah pupuk yang digunakan dan pengalaman buidaya berpengaruh signifi kan dalam meningkatkan produksi budidaya ikan lele. Padat tebar benih, jumlah tenaga kerja, pakan tambahan dan keanggotaan dalam kelompok pembudidaya ikan tidak berpengaruh signifi kan terhadap produksi budidaya ikan lele.Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisa produksi budidaya ikan lele dan faktor-faktor yangmempengaruhinya di Kalasan Sleman. Metoda dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptifanalitis. Responden dalam penelitian ini adalah semua pembudidaya ikan lele yang berada di KalasanSleman berjumlah 56 orang. Metode analitis yang digunakan adalah metode regresi linier bergandamenggunakan fungsi produksi Cobb-Douglas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata produktivitasbudidaya ikan lele di Kalasan adalah 9,53 kg/m2. Dosis pemberian pakan, jumlah pupuk yang digunakandan pengalaman buidaya berpengaruh signifi kan dalam meningkatkan produksi budidaya ikan lele. Padattebar benih, jumlah tenaga kerja, pakan tambahan dan keanggotaan dalam kelompok pembudidaya ikantidak berpengaruh signifi kan terhadap produksi budidaya ikan lele.
      PubDate: 2016-03-28
      Issue No: Vol. 17, No. 2 (2016)
       
  • Dampak Program Corporate Social Responsibility terhadap Pendapatan Anggota
           Kelompok Pembudidaya Ikan Mina Kepis Desa Sumberadi Kecamatan Mlati
           Kabupaten Sleman

    • Authors: Anita Febrina, Suadi Suadi, Hery Saksono
      Pages: 61 - 72
      Abstract: The objective of this research is to determine the type, benefi ts, and impact of Corporate Social Responsibility (CSR) programs of Bank Indonesia on income of fi sh farmer group (KPI) Mina Kepis at Sumberadi village, Sleman Regency. The study was conducted from January to March 2015. All member of KPI were selected as respondents, with total number of 28 persons. The study showed that CSR program in the form of physical infrastructure assistance such as major production facilities (pool and hatchery) and supporting infrastructure (parking facilities and a fi sh market), training, mentoring, and fi eld visits. The programme has provided a range of benefi ts and positive impact including increasing in knowledge,production volume, and revenue KPI Mina Kepis members. Total member’s income before programme was Rp762.275.646 (2010), raised to Rp1.981.690.942 after CSR programme (2014). Good cooperation between the target group (recipient) and CSR programme partners (Bank Indonesia Yogyakarta, Sleman government, and the Department of Fisheries, Faculty of Agriculture UGM) has become one of the success factors for better performance indicators of the CSR programme at the target location.The objective of this research is to determine the type, benefi ts, and impact of Corporate SocialResponsibility (CSR) programs of Bank Indonesia on income of fi sh farmer group (KPI) Mina Kepis atSumberadi village, Sleman Regency. The study was conducted from January to March 2015. All member ofKPI were selected as respondents, with total number of 28 persons. The study showed that CSR programin the form of physical infrastructure assistance such as major production facilities (pool and hatchery)and supporting infrastructure (parking facilities and a fi sh market), training, mentoring, and fi eld visits.The programme has provided a range of benefi ts and positive impact including increasing in knowledge,production volume, and revenue KPI Mina Kepis members. Total member’s income before programmewas Rp762.275.646 (2010), raised to Rp1.981.690.942 after CSR programme (2014). Good cooperationbetween the target group (recipient) and CSR programme partners (Bank Indonesia Yogyakarta, Slemangovernment, and the Department of Fisheries, Faculty of Agriculture UGM) has become one of the successfactors for better performance indicators of the CSR programme at the target location.
      PubDate: 2016-03-28
      Issue No: Vol. 17, No. 2 (2016)
       
  • Komunitas Ikan Karang pada Terumbu Buatan Biorock di Perairan Pulau
           Siladen Kota Manado, Sulawesi Utara

    • Authors: Wilhelmina Patty, Gaspar Manu, Emil Reppie, Lit Nickson Dey
      Pages: 73 - 78
      Abstract: Kondisi terumbu karang hidup dan jumlah jenis ikan Target di Taman Nasional Bunaken semakin menurun. Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan teknologi biorock dan studi tentang kondisi ekologi komunitas ikan karang di sana. Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus-Oktober 2014 di Pulau Siladen bagian Barat Daya, Kecamatan Bunaken, Kota Manado Sulut. Pengukuran faktor lingkungan dengan Horiba U-50 Struktur biorock dibuat dari kerangka besi (diameter 1.2 cm) berukuran 2x2x1.5m. Bibit karang (Acropora sp.) ditransplantasi di terumbu buatan. Data ikan karang diamati selama 5-10 menit menurut metode stationery visual sensus. Pengambilan data dilakukan sebanyak dua kali dalam sehari yaitu pagi hari (pukul 09.00 Wita) dan siang hari (pukul 14.00 Wita). Jenis ikan di Biorock dapat dikelompokan dalam 11 Famili, 35 Genus dan 277 ind. Jumlah jenis ikan pada pengamatan Sore lebih tinggi dari pada pagi hari. Tingginya jenis ikan di perairan ini karena kualitas air laut yang belum tercemar.Famili Acanthuridae dan Pomacentridae sering di temukan di pagi dan sore hari. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi ikan-ikan karang masih berada pada habitatnya semula. Hal ini sesuai kondisi substrat di lokasi Pulau Siladen. Jumlah Ikan target lebih banyak dari kelompok ikan Major dan indikator. Untuk kelompok ikan target didominasi oleh Famili Acanthuridae dan Labridae. Tingkat eksploitasi jenis-jenis ikan tersebut masih rendah. Nilai indeks kelimpahan (R) berkisar 4,29 dan 6,84, dan nilai keragaman jenis (H’) berkisar 2.73 dan 2.89. Nilai ini lebih tinggi dari di terumbu buatan beton yang diletakan di perairan pantai Malalayang, Kota Manado. Hal ini menunjukan bahwa kondisi karang di terumbu buatan biorock untuk komunitas ikan relatif lebih baik dibandingkan dengan di terumbu buatan beton.Kondisi terumbu karang hidup dan jumlah jenis ikan Target di Taman Nasional Bunaken semakin menurun.Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan teknologi biorock dan studi tentang kondisi ekologi komunitasikan karang di sana. Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus-Oktober 2014 di Pulau Siladen bagianBarat Daya, Kecamatan Bunaken, Kota Manado Sulut. Pengukuran faktor lingkungan dengan HoribaU-50 Struktur biorock dibuat dari kerangka besi (diameter 1.2 cm) berukuran 2x2x1.5m. Bibit karang(Acropora sp.) ditransplantasi di terumbu buatan. Data ikan karang diamati selama 5-10 menit menurutmetode stationery visual sensus. Pengambilan data dilakukan sebanyak dua kali dalam sehari yaitu pagihari (pukul 09.00 Wita) dan siang hari (pukul 14.00 Wita). Jenis ikan di Biorock dapat dikelompokan dalam11 Famili, 35 Genus dan 277 ind. Jumlah jenis ikan pada pengamatan Sore lebih tinggi dari pada pagihari. Tingginya jenis ikan di perairan ini karena kualitas air laut yang belum tercemar.Famili Acanthuridaedan Pomacentridae sering di temukan di pagi dan sore hari. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi ikan-ikankarang masih berada pada habitatnya semula. Hal ini sesuai kondisi substrat di lokasi Pulau Siladen.Jumlah Ikan target lebih banyak dari kelompok ikan Major dan indikator. Untuk kelompok ikan targetdidominasi oleh Famili Acanthuridae dan Labridae. Tingkat eksploitasi jenis-jenis ikan tersebut masihrendah. Nilai indeks kelimpahan (R) berkisar 4,29 dan 6,84, dan nilai keragaman jenis (H’) berkisar 2.73dan 2.89. Nilai ini lebih tinggi dari di terumbu buatan beton yang diletakan di perairan pantai Malalayang,Kota Manado. Hal ini menunjukan bahwa kondisi karang di terumbu buatan biorock untuk komunitasikan relatif lebih baik dibandingkan dengan di terumbu buatan beton .
      PubDate: 2016-03-28
      Issue No: Vol. 17, No. 2 (2016)
       
  • Pengaruh Natrium Sulfida (Na2S) pada Proses Pengapuran terhadap Uji Fisik
           Kulit Samak Ikan Buntal (Arothon reticularis)

    • Authors: Susanti Rahayu, RLM Satrio Ari Wibowo, Titik Anggraini
      Pages: 79 - 83
      Abstract: Kulit ikan bisa digunakan sebagai alternatif bahan baku untuk industri penyamakan kulit mengingat keterbatasan bahan baku kulit mentah hewan darat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahuipengaruh penggunaan Natrium Sulfida pada proses pengapuran yang berbeda konsentrasinya pada hasil uji fisik kulit ikan buntal, yang meliputi uji kuat tarik, kemuluran dan kuat sobek. Penelitian inimenggunakan kulit ikan buntal awet garaman sejumlah 9 lembar yang disamak menggunakan bahan penyamak nabati (mimosa), sampai menjadi kulit crust ikan buntal. Perlakuan penggunan variasikonsentrasi Natrium Sulfida yang digunakan saat proses pengapuran adalah 0,5%, 1% dan 1,5%. Masingmasing perlakuan tersebut diulang sebanyak tiga kali, kemudian dilakukan uji fisik menggunakan alat tensile strength. Penggunaan konsentrasi Na2S 1% menunjukkan nilai Kekuatan Tarik yang paling tinggi yaitu sebesar 1394.172 N/cm2, dan nilai kemuluran yang paling rendah yaitu sebesar 57.707 %, dan nilai kekuatan sobek yang paling tinggi ditunjukan oleh penggunan konsentrasi Na2S 0,5% yaitu sebesar181.978 N/cm. Penggunaan variasi konsentrasi Natrium Sulfida memberikan pengaruh berbeda nyata terhadap kekuatan tarik, namun tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap kemulurandan kekuatan sobeknya. Berdasarkan hasil rekapitulasi data rataan, nilai kekuatan tarik, kemuluran dan kekuatan sobek sampel kulit ikan buntal tersamak belum memenuhi persyaratan standar mutu.Kulit ikan bisa digunakan sebagai alternatif bahan baku untuk industri penyamakan kulit mengingatketerbatasan bahan baku kulit mentah hewan darat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahuipengaruh penggunaan Natrium Sulfida pada proses pengapuran yang berbeda konsentrasinya padahasil uji fisik kulit ikan buntal, yang meliputi uji kuat tarik, kemuluran dan kuat sobek. Penelitian inimenggunakan kulit ikan buntal awet garaman sejumlah 9 lembar yang disamak menggunakan bahanpenyamak nabati (mimosa), sampai menjadi kulit crust ikan buntal. Perlakuan penggunan variasikonsentrasi Natrium Sulfida yang digunakan saat proses pengapuran adalah 0,5%, 1% dan 1,5%. Masingmasingperlakuan tersebut diulang sebanyak tiga kali, kemudian dilakukan uji fisik menggunakan alattensile strength. Penggunaan konsentrasi Na2S 1% menunjukkan nilai Kekuatan Tarik yang paling tinggiyaitu sebesar 1394.172 N/cm2, dan nilai kemuluran yang paling rendah yaitu sebesar 57.707 %, dannilai kekuatan sobek yang paling tinggi ditunjukan oleh penggunan konsentrasi Na2S 0,5% yaitu sebesar181.978 N/cm. Penggunaan variasi konsentrasi Natrium Sulfida memberikan pengaruh berbeda nyataterhadap kekuatan tarik, namun tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap kemulurandan kekuatan sobeknya. Berdasarkan hasil rekapitulasi data rataan, nilai kekuatan tarik, kemuluran dankekuatan sobek sampel kulit ikan buntal tersamak belum memenuhi persyaratan standar mutu.
      PubDate: 2016-03-28
      Issue No: Vol. 17, No. 2 (2016)
       
  • Pengaruh Suhu terhadap Kelangsungan Hidup dan Percepatan Metamorfosis
           Larva Kepiting Bakau (Scylla olivacea)

    • Authors: Muhammad Y. Karim, Zainuddin Zainuddin, Siti Aslamyah
      Pages: 84 - 89
      Abstract: Kepiting bakau merupakan salah satu komoditas perikanan bernilai ekonomis penting di kawasan AsiaPasifik. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan suhu optimal bagi pemeliharaan larva kepiting bakau (Scylla olivacea). Penelitian dilaksanakan di Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP), Kecamatan Galesong, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. Hewan uji yang digunakan adalah larva kepiting bakau (S. olivacea) stadia zoea-1 yang ditebar dengan kepadatan 50 ekor/l dan dipelihara sampai memasuki stadia megalopa. Wadah penelitian menggunakan baskom plastik hitam berkapasitas 50 l diisi air media bersalinitas 30 ppt sebanyak 35 l yang dilengkapi dengan thermostat untuk mempertahankan suhu media percobaan. Pakan yang digunakan adalah pakan alami berupa rotifer dan nauplius Artemia dan pakan buatan berupa flake. Penelitian dirancang dengan menggunakan rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan dan masing-masing perlakuan mempunyai 3 ulangan. Keempat perlakuan yang dicobakan adalah perbedaan suhu media pemeliharaan larva kepiting bakau, yaitu : 26, 28, 30, dan 32oC. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa suhu media pemeliharaan berpengaruh sangat nyata (p < 0,01) pada tingkat kelangsungan hidup dan kecepatan metamorfosis larva kepiting bakau (S. olivacea). Tingkat kelangsungan hidup tertinggi dan perubahan metamorfosis larva kepiting bakau dari zoea ke megalopa tercepat dihasilkan pada suhu 30 oC yakni 31,60% dan 17 hari, sedangkan tingkat kelangsungan hidup terendah dan perubahan metamorfosis terlama pada suhu 26 oC yakni 18,89% dan 20,67 hari.


      PubDate: 2016-03-28
      Issue No: Vol. 17, No. 2 (2016)
       
  • Sintesis dan Karakterisasi Kitosan Mikropartikel dengan Modifikasi Gelasi
           Ionik

    • Authors: Adhi Setiawan, Dika R. Widiana, Priyambodo N. A. Nugroho
      Pages: 90 - 95
      Abstract: Kitosan adalah polimer alam penting yang mampu mengadsorbsi kandungan logam berat pada air limbah. Sebagai bahan adsorben logam berat, kitosan memiliki beberapa keterbatasan diantaranyasifat mekanik yang relatif rendah serta kelarutannya dipengaruhi oleh pH larutan. Untuk memperbaiki sifat tersebut maka dilakukan modifikasi kitosan dengan menggunakan natrium-tripolifosfat sebagaibahan cross-linking. Pada penelitian ini bertujuan mensinthesis serta mengkarakterisasi mikropartikel kitosan yang dimodifikasi dengan gugus tripolifosfat pada konsentrasi kitosan terlarut yaitu 0,5 mg/ldan 3 mg/l. Modifikasi kitosan dilakukan dengan menggunakan metode ionic gelation dengan natrium tripolifosfat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode ionic gelation dapat memperkecil kitosanhingga berukuran mikrometer. Hasil SEM menunjukkan kitosan yang disintesis pada konsentrasi rendah memiliki tingkat aglomerasi yang lebih rendah. Analisis TGA pada kedua sample tersebut menunjukkanbahwa kitosan yang telah di cross-linking dengan gugus fosfat memiliki kestabilan termal yang cukup baik hingga temperature 800 oC. Analisa FT-IR pada kedua sample menunjukkan karakteristik yang hampir sama terutama pada panjang gelombang dimana peak terlihat secara signifikan.Kitosan adalah polimer alam penting yang mampu mengadsorbsi kandungan logam berat pada airlimbah. Sebagai bahan adsorben logam berat, kitosan memiliki beberapa keterbatasan diantaranyasifat mekanik yang relatif rendah serta kelarutannya dipengaruhi oleh pH larutan. Untuk memperbaikisifat tersebut maka dilakukan modifikasi kitosan dengan menggunakan natrium-tripolifosfat sebagaibahan cross-linking. Pada penelitian ini bertujuan mensinthesis serta mengkarakterisasi mikropartikelkitosan yang dimodifikasi dengan gugus tripolifosfat pada konsentrasi kitosan terlarut yaitu 0,5 mg/ldan 3 mg/l. Modifikasi kitosan dilakukan dengan menggunakan metode ionic gelation dengan natriumtripolifosfat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode ionic gelation dapat memperkecil kitosanhingga berukuran mikrometer. Hasil SEM menunjukkan kitosan yang disintesis pada konsentrasi rendahmemiliki tingkat aglomerasi yang lebih rendah. Analisis TGA pada kedua sample tersebut menunjukkanbahwa kitosan yang telah di cross-linking dengan gugus fosfat memiliki kestabilan termal yang cukupbaik hingga temperature 800 oC. Analisa FT-IR pada kedua sample menunjukkan karakteristik yanghampir sama terutama pada panjang gelombang dimana peak terlihat secara signifikan.
      PubDate: 2016-03-28
      Issue No: Vol. 17, No. 2 (2016)
       
  • Aktivitas Enzim Pendegradasi Kitin dari Isolat SDI23 Asal Petis serta
           Karakterisasi pH dan Suhu Aktivitas Enzim Hasil Purifikasi Parsial

    • Authors: Eny Orinda, Indun D. Puspita, Muhammad P. Putra, Ustadi Ustadi, Iwan Y. B. Lelana
      Pages: 96 - 102
      Abstract: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas enzim pendegradasi kitin yang dihasilkan selama pertumbuhan dari lima isolat bakteri kitinolitik (SDI23, MDR23, SDI15, SDI13 dan BLT12) asal petis udang serta mengetahui karakteristik aktivitas enzim hasil pemurnian parsial pada berbagai suhu (30-55°C) dan pH (4-9). Kelima isolat ditumbuhkan pada medium koloidal kitin cair dengan suhu inkubasi 37°C selama 96 jam. Pengamatan terhadap jumlah bakteri (log CFU/ml) dan aktivitas spesifik enzim (U/mg) dilakukan setiap 12 jam. Aktivitas enzim pendegradasi kitin diukur secara kuantitatif, dengan mengukur jumlah N-asetilglukosamin yang dihasilkan dari hidrolisis koloidal kitin oleh enzim. Purifikasi parsial dilakukan dengan presipitasi ammonium sulfat bertingkat (20-80%) yang dilanjutkan dengan dialisis. Isolat SDI23, MDR23, SDI15 dan BLT12 menunjukkan waktu pertumbuhan optimum dengan jumlah sel tertinggi pada jam ke-48, sedangkan isolat SDI13 pada jam ke-24. Aktivitas spesifik enzim tertinggi ditunjukkan oleh isolat SDI23 sebesar 0,66 U/mg pada inkubasi selama 48 jam. Berdasarkan
      hasil tersebut, isolat SDI23 dipilih untuk memproduksi enzim pada tahap purifikasi parsial. Supernatan bebas sel dari media kultur isolat SDI23 disiapkan dari inkubasi SDI23 dalam medium koloidal kitin cair pada suhu 37oC selama 48 jam. Presipitasi dengan amonium sulfat pada fraksi 80% dan dialisis menghasilkan ekstrak kitinase kasar dengan nilai aktivitas spesifik enzim sebesar 0,072 U/mg dan 0,063 U/mg. Enzim hasil pemurnian parsial menunjukkan aktivitas optimum pada pH 6 dan suhu 45°C dengan nilai aktivitas spesifik enzim sebesar 0,09 U/mg.


      PubDate: 2016-03-28
      Issue No: Vol. 17, No. 2 (2016)
       
 
 
JournalTOCs
School of Mathematical and Computer Sciences
Heriot-Watt University
Edinburgh, EH14 4AS, UK
Email: journaltocs@hw.ac.uk
Tel: +00 44 (0)131 4513762
Fax: +00 44 (0)131 4513327
 
Home (Search)
Subjects A-Z
Publishers A-Z
Customise
APIs
Your IP address: 54.92.155.160
 
About JournalTOCs
API
Help
News (blog, publications)
JournalTOCs on Twitter   JournalTOCs on Facebook

JournalTOCs © 2009-2016