for Journals by Title or ISSN
for Articles by Keywords
help
Journal Cover Jurnal Ilmu Kehutanan
  [0 followers]  Follow
    
  This is an Open Access Journal Open Access journal
   ISSN (Print) 0126-4451 - ISSN (Online) 2477-3751
   Published by Universitas Gadjah Mada Homepage  [28 journals]
  • Halaman Depan

    • Authors: Jurnal Ilmu Kehutanan
      Abstract:
      Cover Depan
      Halaman Redaksi
      Daftar Isi
      PubDate: 2017-09-15
      Issue No: Vol. 11, No. 2 (2017)
       
  • Halaman Belakang

    • Authors: Jurnal Ilmu Kehutanan
      Abstract:
      Indeks Penulis
      Indeks Subjek
      Daftar Nama Mitra Bestari JIK Vol 11 Tahun 2017
      Instruction for
      Authors
      Instruksi Untuk Para Penulis
      Sampul Halaman Belakang
      PubDate: 2017-09-15
      Issue No: Vol. 11, No. 2 (2017)
       
  • Tigers and Their Prey in Bukit Rimbang Bukit Baling: Abundance Baseline
           for Effective Wildlife Reserve Management

    • Authors: Febri Anggriawan Widodo, Stephanus Hanny, Eko Hery Satriyo Utomo, Zulfahmi -, Kusdianto -, Eka Septayuda, Tugio -, Effendy Panjaitan, Leonardo Subali, Agung Suprianto, Karmila Parakkasi, Nurchalis Fadhli, Wishnu Sukmantoro, Ika Budianti, Sunarto -
      Pages: 118 - 129
      Abstract: Managing the critically endangered Sumatran tiger (Panthera tigris sumatrae) needs accurate information on its abundance and availability of prey at the landscape level. Bukit Rimbang Bukit Baling Wildlife Reserve in central Sumatra represents an important area for tigers at local, regional and global levels. The area has been recognized as a long-term priority Tiger Conservation Landscape. Solid baseline information on tigers and prey is fundamentally needed for the management. The objective of this study was to produce robust estimate of tiger density and prey a vailability in the reserve. We used camera traps to systematically collecting photographic samples of tigers and prey using Spatial Capture Recapture (SCR) framework. We estimated density for tigers and calculated trap success rate (TSR; independent pictures/100 trap nights) for main prey species. Three blocks in the reserve were sampled from 2012 to 2015 accumulating a total of 8,125 effective trap nights. We captured 14 tiger individuals including three cubs. We documented the highest density of tigers (individuals/100 km2) in southern sampling block (based on traditional capture recapture (TCR) : 1.52 ± SE 0.55; based on Maximum Likelihood (ML) SCR:0.51 ± SE 0.22) and the lowest in northeastern sampling block (TCR: 0.77 ±SE 0.39; ML SCR: 0.19 ± SE 0.16). The highest TSR of main prey (large ungulates and primates) was in northeastern block (35.01 ± SD 8.67) and the lowest was in southern block (12.42 ± SD 2.91). The highest level of disturbance, as indicated by TSR of people, was in northeastern sampling block (5.45 ± SD 5.64) and the lowest in southern (1.26 ± SD 2.41). The results suggested that human disturbance strongly determine the density of tigers in the area, more than prey availability. To recover tigers, suggested strategies include controlling human disturbance and poaching to the lowest possible level in addition to maintaining main prey availability.Keywords: Capture-Mark-Recapture; closed population; habitat management; population viability; tiger recovery Harimau dan Mangsanya di Bukit Rimbang Bukit Baling: Basis Informasi Kelimpahan untuk Pengelolaan Suaka Margasatwa yang EfektifIntisariMengelola spesies kunci seperti harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) yang dalam kondisi kritis, memerlukan informasi terkait populasi satwa tersebut dan ketersediaan satwa mangsanya pada tingkat lanskap. Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Bukit Baling di Sumatera bagian tengah merupakan sebuah kawasan penting untuk harimau baik pada tingkat lokal, regional, maupun global. Kawasan ini telah diakui sebagai sebuah kawasan prioritas jangka panjang Tiger Conservation Landascapes (TCL). Informasi dasar yang sahih mengenai populasi harimau dan mangsanya sangat dibutuhkan untuk pengelolaan efektif satwa tersebut dan kawasan habitatnya. Tujuan dari studi ini adalah untuk menghasilkan perkiraan kepadatan populasi harimau dan ketersediaan mangsanya di kawasan suaka margasatwa tersebut. Kami menggunakan perangkap kamera untuk mengumpulkan sampel gambar harimau dan mangsanya secara sistematis menggunakan kerangka kerja Spatial Capture Recapture (SCR). Kami memperkirakan kepadatan harimau dan menghitung angka keberhasilan perangkap atau trap success rate (TSR: gambar independen/100 hari aktif kamera) untuk satwa mangsa utama. Tiga blok di dalam suaka margasatwa telah disurvei dari tahun 2012 hingga 2015 mengakumulasikan keseluruhan 8,125 hari kamera aktif. Kami merekam 14 individu harimau termasuk tiga anak. Kami mendokumentasikan kepadatan tertinggi harimau (individu/100 km2) di blok sampling selatan (berdasarkan pendekatan analisa capture recapture tradisional (TCR) 1.52 ± SE 0.55; berdasarkan Maximum Likelihood (ML) SCR 0.51 ± SE 0.22) dan terendah di utara-timur (TCR: 0.77 ±SE 0.39; ML SCR: 0.19 ± SE 0.16). TSR tertinggi dari mangsa utama (ungulate besar dan primata) adalah di blok sampling utara-timur (35.01 ± SD 8.67) dan terendah adalah di blok sampling selatan (12.42 ± SD 2.91). Tingkat gangguan tertinggi, sebagaimana diindikasikan oleh TSR manusia, adalah di blok sampling utara-timur (5.45 ± SD 5.64) dan terendahnya di blok sampling selatan (1.26 ± SD 2.41). Hasil studi ini mengindikasikan bahwa gangguan manusia yang sangat tinggi sangat menentukan kepadatan harimau di kawasan ini, melebihi pengaruh dari ketersediaan satwa mangsa. Untuk memulihkan populasi harimau, disarankan beberapa strategi termasuk mengendalikan gangguan manusia dan perburuan hingga ke tingkat terendah, selain tetap memastikan ketersediaan satwa mangsa utama yang memadai.

      PubDate: 2017-09-15
      DOI: 10.22146/jik.28275
      Issue No: Vol. 11, No. 2 (2017)
       
  • Penggunaan Citra Satelit untuk Mengetahui Persebaran Dacrycarpus
           imbricatus (Blume) de Laub. di Bukit Tapak, Cagar Alam Batukahu Bali

    • Authors: Rajif Iryadi, Arief Priyadi, I Dewa Putu Darma
      Pages: 130 - 141
      Abstract: Citra Pleaides merupakan aset penting untuk memperoleh data dan informasi tentang struktur vegetasi di hutan yang sulit untuk diukur langsung karena wilayah yang tidak dapat diakses dan memiliki cakupan luas. Dacrycarpus imbricatus (Blume) de Laub. merupakan salah satu tanaman khas di Bukit Tapak yang memiliki nilai konservasi dan nilai ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persebaran D. imbricatus menggunakan data citra satelit Pleaides yang memiliki resolusi spasial tinggi. Penelitian dilakukan dengan interpretasi visual pada citra satelit Pleaides tahun 2014 dan data spasial elevasi. Akurasi citra Pleaides dalam identifikasi tutupan D. imbricatus mencapai 96,83% dan ketelitian total pemetaan mencapai 93,38% dengan koefisien kappa 88,64%. Persebaran D. imbricatus di Bukit Tapak memiliki range habitat aktual lebih sempit dibandingkan dengan range potensialnya yakni pada elevasi 1.321-1.800 mdpl dengan persentase tutupan 89,52% dari total tutupannya. Lereng Bukit Tapak dengan kemiringan 25,1-55% memiliki lingkup tutupan D. imbricatus sebesar 79,29% dari total tutupannya dan sisanya pada lereng>25%. Informasi tersebut penting terkait dengan kelestarian dan usaha konservasi salah satu jenis tumbuhan berbiji terbuka ini di Bukit Tapak.Kata kunci: akurasi; interpretasi; kanopi; konservasi; pleaides Usage of Satellite Imagery to Determine Distribution of Dacrycarpus imbricatus (Blume) De Laub. on The Tapak Hill, Batukahu Natural Reserve Bali Pleaides image is an important asset to obtain data and information with regard to the structure of the vegetation in the forest that are difficult to measure directly as the area is inaccessible and has a large coverage. Dacrycarpus imbricatus (Blume) de Laub. is the one of typical plants on the Tapak Hill which has the conservation and economic values. This study aimed to determine the location and distribution of D. imbricatus using Pleaides satellite image that had a high spatial resolution. The determination of site characteristics was conducted by visual interpretation of high resolution satellite imagery Pleiades 2014 and elevation spatial data. Pleaides accuracy in the identification cover of D. imbricatus reached 96.83% and total accuracy mapping reached 93.38% with kappa coefficient of 88.64%. The distribution of D. imbricatus in Tapak Hill showed actual habitat range narrower than of its potential, which was distributed on the elevation of 1,321 – 1,800 m asl with a percentage of 89,52% from its total cover. About 79.29% of the coverage laid on the slope of 25.1 to 55%, whereas the rest on the slope of >25%. This information is important related to sustainability and conservation efforts for this gymnosperm plant in Tapak Hill. 
      PubDate: 2017-09-15
      DOI: 10.22146/jik.28277
      Issue No: Vol. 11, No. 2 (2017)
       
  • Tipologi dan Kerawanan Korupsi Sektor Kehutanan di Indonesia

    • Authors: Eko Novi Setiawan, Ahmad Maryudi, Gabriel Lele
      Pages: 142 - 155
      Abstract: Diindikasikan bahwa tingginya laju kerusakan hutan di Indonesia ada kaitannya dengan tingkat korupsi yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tipologi dan kerawanan korupsi sektor kehutanan di Indonesia. Sejak tahun 2001 sampai dengan 2015, sebanyak 39 pelaku korupsi sektor kehutanan yang terdiri dari anggota DPR, pejabat Kementerian Kehutanan, Kepala Daerah (Gubernur/Bupati/Kepala Dinas) serta pengusaha, telah diproses hukum dan mendapatkan vonis dari pengadilan. Terdapat 6 (enam) tipologi korupsi sektor kehutanan di Indonesia yaitu: 1) korupsi transaksional, 2) pemerasan, 3) investasi untuk korupsi, 4) nepotisme, 5) korupsi untuk bertahan, dan 6) korupsi untuk mendapatkan dukungan. Penelitian ini menemukan 4 bentuk kerawanan korupsi sektor kehutanan yaitu: 1) proses perijinan, 2) pengawasan 3) proses tata ruang kehutanan, dan 4) pengadaan barang dan jasa kehutanan.Kata kunci: deforestasi; kehutanan Indonesia; kerawanan korupsi; korupsi; tipologi korupsi The Typology and Corruption Susceptibility in Forestry Sector in Indonesia It is widely indicated that the high rates of deforestation in Indonesia are closely linked with the high corruption. This research aimed to identify the typologies and the potential of occurence of corruption in the forest sector in Indonesia. From 2001 to 2015, thirty nine corruptors have been brought to the courts and eventually sentenced. They included parliament members, high-rank forest officials, local government (Governor/Mayor/Chief of District Forest Service), and business persons. This research found six typologies of corruption in the forest sector in Indonesia, i.e. 1) transactive corruption, 2) extortive corruption, 3) investive corruption, 4) nepotistic corruption), 5) defensive corruption, and 6) supportive corruption. It also identified four forest activities that potentially encourage corruption, i.e. 1) licensing, 2) monitoring, 3) spatial planning, and 4) public procurement.

      PubDate: 2017-09-15
      DOI: 10.22146/jik.28278
      Issue No: Vol. 11, No. 2 (2017)
       
  • Model Pengelolaan Ternak di Sekitar Hutan Gunung Mutis dan Dampaknya
           terhadap Kelestarian Hutan

    • Authors: Rahman Kurniadi, Herry Purnomo, Nurheni Wijayanto, Asnath Maria Fuah
      Pages: 156 - 172
      Abstract: Penelitian ini mengkaji kelayakan finansial dan dampak dari model pengelolaan ternak yang ditemukan di sekitar hutan Gunung Mutis di Pulau Timor. Data dikumpulkan melalui wawancara terhadap 40 masyarakat sekitar hutan. Terdapat dua model pengelolaan ternak yang ditemukan di sekitar hutan. Model pertama adalah model pemeliharaan ternak di dalam kandang dan model kedua adalah model penggembalaan ternak di hutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua model layak secara finansial. Namun demikian, jika menggunakan biaya tenaga kerja komersial, model pemeliharaan ternak di dalam kandang secara finansial tidak layak untuk dilakukan, sedangkan model penggembalaan di hutan layak secara finansial. Model pengelolaan ternak di dalam hutan berdampak negatif terhadap regenerasi pohon sedangkan model pemeliharaan ternak di dalam kandang tidak berdampak negatif terhadap kelestarian hutan. Dari hasil penelitian disarankan agar pemerintah membatasi areal untuk penggembalaan ternak di hutan.Kata kunci: kelayakan finansial; model silvopasture; Mutis; penggembalaan ternak hutan; Timor Livestock Management Models Around Mt. Mutis Forest and Its Impact on Forest Sustainability The study examined the financial feasibility and impacts of livestock management models found around Mt. Mutis forest in Timor Island of Indonesia. Data was collected through interviewing 40 communities around the forest. There were two livestock management models around the forest, the first model was livestock management which raise livestock in the cattle pen, and the second model was livestock management which graze livestock in the forest. This study found that both livestock management models were financially feasible. However, if commercial cost of workers was counted, the livestock management model which raise livestock in the cattle pen was financially not feasible while livestock management model which graze livestock in the forest was financially feasible. Livestock management model which graze livestock in the forest however had negative impacts on the regeneration of trees. On the basis of this study, it is suggested that the government should limit the forest area that could be used for forest grazing.




      PubDate: 2017-09-15
      DOI: 10.22146/jik.28281
      Issue No: Vol. 11, No. 2 (2017)
       
  • Variasi Karakter Pembungaan Antar Varian dan Ras Lahan Cendana Sepanjang
           Gradien Geografis di Gunung Sewu

    • Authors: Yeni Widyana Nurcahyani Cahyaningrum, Sapto Indrioko, Eny Faridah, Atus Syahbudin
      Pages: 173 - 195
      Abstract: Cendana merupakan spesies asli Indonesia bagian timur, yang menjadi ras lahan di Gunung Sewu. Sembilan ras lahan di Gunung Sewu, seluruhnya tersusun atas tiga varian yang berbeda struktur dan warna bunganya (MK, merah kecil; MB, merah besar; dan KB, kuning besar). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakter pembungaan ketiga varian cendana di Gunung Sewu pada periode pembungaan tahun 2015; di tiga ras lahan yang mewakili tiap zona yaitu Nglanggeran (Zona Utara), Bleberan (Zona Tengah), dan Petir (Zona Selatan). Observasi meliputi fenologi, kemasakan organ reproduksi, display, dan struktur pembungaan. Struktur pembungaan dan longevity organ reproduksi berbeda antar varian. MB dan KB didominasi warna merah dan marun, perigonium lebih besar, organ reproduksi lebih panjang, posisi putik sejajar/lebih rendah dari benang sari, dan longevity lebih singkat. MK didominasi kuning hingga oranye, lebih kecil, posisi putik sejajar/lebih tinggi, dan longevity lebih lama. Display pembungaan berbeda antar ras lahan, namun tidak berbeda antar varian. Petir, dengan ukuran populasi terbesar, memproduksi paling banyak pohon berbunga dan total bunga untuk seluruh varian. Ras lahan dan varian berbunga dua kali setahun, namun dengan inisiasi dan durasi yang berbeda. KB berbunga lebih awal di seluruh ras lahan, sedangkan MB paling akhir. MK memiliki durasi pembungaan terpanjang. Perbedaan antar ras lahan lebih dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti ketinggian, jenis tanah, dan iklim. Ras lahan yang lebih rendah, kering, dan panas berbunga lebih awal dan singkat. Peningkatan temperatur dan turunnya status air tanah menyebabkan keguguran massal yang diikuti sequential replacement, mengakibatkan perubahan frekuensi pembungaan. Strategi konservasi cendana di Gunung Sewu perlu dirancang berbasis keragaman genetik, sinkroni pembungaan, dan kompatibilitas antar varian, dengan tetap mempertimbangkan keberagaman tempat tumbuhnya.Kata kunci: cendana; Gunung Sewu; pembungaan; ras lahan; varian bunga The Flowering Characters Variation Among Floral Variants and Landraces Along Geographical Gradients in Gunung Sewu Sandalwood was origin to the south-eastern islands of Indonesia, but is recently occured as new land-races in Gunung Sewu, Java island. All of land-races consisted of three floral variants (MK, refers to “merah kecil”; MB, “merah besar”; and KB, “kuning besar”, respectively). This research aimed to determine flowering of these variants among three of land-races which were representing geographical zone in Gunung Sewu: Nglanggeran, Blebera, and Petir. Observation on phenology, sexual organs maturity, floral structure, and display was conducted in 2015. Floral structures varied among variants. MB and KB dominated by red and maroon colors, possessed bigger perigonium, longer sexual organs but with shorter longevity, and similar/lower position of stylus to stamens. MK dominated by yellow to orange colors, smaller, similar/higher position of stylus, and longer longevity. Floral display varied among land-races but were similar among variants. Petir, with biggest population size, produced the most abundant flowers and flowering trees at all variants. Sandalwood flowered twice a year in all of land-races and variants, however, the onset and duration varied. KB flowered earliest while MB was the latest. MK possessed longest flowering period. Flowering varied among land-races due to the altitude, soils, and climatic differences. Lower altitude, drier, and warmer sites flowered earlier and shorter. Mass abortion and sequential replacement, resulting in the alteration on flowering frequency, occured due to the extreme temperature increment. Conservation strategy should be arranged based on genetic differentiation, flowering differences, and crossing abilities among variants. Differences of landscapes, which may contribute to the differences of environmental conditions and flowering processes, should also be considered.
      PubDate: 2017-09-15
      DOI: 10.22146/jik.28282
      Issue No: Vol. 11, No. 2 (2017)
       
  • Keragaman Fenotipik Buah dan Daya Perkecambahan Benih Swietenia
           macrophylla King. dari Beberapa Populasi di Indonesia

    • Authors: Mashudi -, Hamdan Adma Adinugraha, Dedi Setiadi, Mudji Susanto
      Pages: 196 - 204
      Abstract: Mahoni daun lebar (Swietenia macrophylla King) merupakan salah satu jenis yang banyak dikembangkan pada hutan tanaman maupun hutan rakyat. Meskipun jenis ini bukan jenis asli Indonesia tapi dilaporkan memiliki keragaman genetik yang tinggi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui variasi morfologi buah dan benih S. macrophylla serta daya perkecambahannya dari beberapa populasi di Jawa dan Nusa Tenggara Barat. Penelitian disusun menggunakan rancangan acak lengkap dengan asal populasi dan pohon induk sebagai perlakuan. Hasil pengamatan menunjukkan adanya variasi antar populasi dan pohon induk pada karakter berat buah, panjang buah, diameter buah, jumlah biji dalam satu buah serta daya berkecambahnya kecuali jumlah benih per kilogram. Rerata berat buah setiap populasi berkisar antara 275-385 g, panjang buah 12-15 cm, diameter buah 7-9 cm, jumlah biji per buah 59-64 butir, dan daya berkecambah 44-96%. Rerata berat buah per pohon induk berkisar antara 153-490 g, panjang buah 10-20 cm, diameter buah 6-10 cm, dan jumlah biji per buah 52-69 butir. Fenotipik buah S. macrophylla beragam antar populasi dengan daya erkecambah benih terbaik ditunjukkan oleh populasi Lombok Tengah dan Banjar sebesar 86-96%.Kata kunci: daya berkecambah; keragaman fenotipik; morfologi buah; Swietenia macrophylla Variation of Fruits Phenotipic and Seeds Germination of Swietenia macrophylla King. Taken from Several Populations in Indonesia Broad leaf mahogany (Swietenia macrophylla King.) is one of popular species developed in the state forest plantations and smallholder forest. Although it is not native in Indonesia, but the species has high genetic diversity. This study was conducted to determine the morphological variation of fruits, seeds, and also seeds germination of broad leaf mahogany from several populations in Java and West Nusa Tenggara. The research was arranged in completely randomized design with native populations and parent trees as treatments. The results showed significant variations between the populations and parent trees on fruit weight, fruit length, fruit diameter, number of seeds in the fruit, and seeds germination rate except the number of seeds per kilogram. The average per population of fruit weight ranged from 275 to 385 g, fruit lengths from 12 to 15 cm, fruit diameter from 7 to 9 cm, the number of seeds per fruit 59 to 64 grains and 44 - 96 % of seeds germination rate. The average per parent trees of fruit weight ranged from 153 to 490 g, fruit lengths from 10 to 20 cm, fruit diameter from 6 to 10 cm, and the number of seeds per fruit 52 to 69 grains. Fruit phenotipic of S. macrophylla varies between populations with the best seed germination indicated by the populations of Central Lombok, Bantul and Banjar amounted to 86-96%.
      PubDate: 2017-09-15
      DOI: 10.22146/jik.28283
      Issue No: Vol. 11, No. 2 (2017)
       
  • Karyomorfologi dan Jumlah Kromosom Empat Grup Gyrinops versteegii (Gilg.)
           Domke. di Lombok

    • Authors: Widya Iswantari, Tri Mulyaningsih, Aida Muspiah
      Pages: 205 - 211
      Abstract: Lombok memiliki empat grup Gyrinops versteegii yang merupakan penghasil gaharu, yaitu grup Pantai, Buaya, Madu, dan Beringin. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji karyotipe dan jumlah kromosom empat grup G. versteegii yang bermanfaat dalam taksonomi dan program pemuliaan. Dalam penelitian ini pembuatan preparat kromosom ujung akar menggunakan metode squash. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah semua grup G.versteegii memiliki jumlah kromosom yang sama (n = 9) dan bentuk kromosom yang sama, yaitu berbentuk metasentrik dan memiliki pola karyotipe yang sama (2n = 18m). Ukuran kromosom setiap grup bervariasi,  yaitu grup Pantai memiliki ukuran yang paling panjang yaitu 0,53 μm dari ketiga grup yang lain: Buaya (0,27 μm), Madu (0,21 μm), dan Beringin (0,18 μm).Kata kunci: gaharu; Gyrinops versteegii; karyotipe; kromosom; Lombok Karyomorphology and Chromosome Number of Four Groups of Gyrinops versteegii (Gilg.) Domke. in Lombok Lombok has four groups of Gyrinops versteegii i.e. Pantai, Buaya, Madu, and Beringin group. Studies of karyomorphology and the number of chromosomes could be very useful for taxonomy and plant breeding. In this study, the preparation used a root tip squash method. The results obtained from this study: groups of G. versteegii had similar chromosome number (n = 9), and similar metacentric chromosomes. Therefore, the karyotype formula of the four groups of G. versteegii was 2n = 18m. Each group of G. versteegii showed a variation of chromosome size: Pantai group has a size of 0.53 ìm which is the longest than the other three groups: Buaya (0.27 ìm), Madu (0.21 ìm), and Beringin (0.18 ìm).
      PubDate: 2017-09-15
      DOI: 10.22146/jik.28284
      Issue No: Vol. 11, No. 2 (2017)
       
  • Dekomposisi Serasah dan Keanekaragaman Makrofauna Tanah pada Hutan Tanaman
           Industri Nyawai (Ficus variegate. Blume)

    • Authors: Pranatasari Dyah Susanti, Wawan Halwany
      Pages: 212 - 223
      Abstract: Penggunaan jenis-jenis tanaman cepat tumbuh diperlukan untuk memenuhi kebutuhan kayu. Meski demikian, informasi mengenai kesuburan tanah kerena penanaman jenis tersebut masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mendapatkan data dan informasi mengenai produksi, laju dekomposisi serasah serta keragaman makrofauna tanah pada Hutan Tanaman Industri nyawai (Ficus variegate Blume) dengan tiga kelas umur yang berbeda. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Penentuan plot sampel dilakukan secara purposive dengan pertimbangan keterwakilan umur. Variabel yang diamati meliputi jumlah produksi serasah, laju dekomposisi serasah, serta makrofauna tanah menggunakan dua cara yaitu monolith atau pengambilan contoh tanah (PCT) untuk makrofauna tanah yang berada di dalam tanah, serta penggunaan perangkap sumuran (PSM) untuk makrofauna yang berada di permukaan tanah. Hasil penelitian menunjukkan pada tegakan umur 6 tahun memiliki laju dekomposisi serasah terbaik karena sebanyak 48,31% serasah terdekomposisi dengan laju 11%. Pada kelas umur ini keragaman makrofauna juga memiliki nilai tertinggi yaitu 1,08 meskipun masih berada dalam kategori rendah.Kata kunci: dekomposisi; kesuburan tanah; makrofauna; nyawai; serasah Litter Decomposition and Diversity of Soil Macrofauna on Industrial Plantation Forest of Nyawai The use of fast-growing tree species is necessary to meet the demand of timber. However, the information with regard the fertility of the soil for planting of these species is still limited. This study aimed to obtain data and information on the litter production and its rate of decomposition as well as soil macrofauna diversity on Industrial Plantation Forest of nyawai (Ficus variegate. Blume) with three different age classes. This study used a quantitative method. Sample plots were determined purposively with consideration of the representation of age. The observed variables included the amount of production of litter, decomposition rate of litter, and soil macrofauna using two methods, i.e. monolith or soil sampling (PCT) for soil macrofauna underground the soil and trap wells (PSM) for macrofauna on soil surface. The results showed in the 6-year-old stands showed the best litter ecomposition rates, since 48.31% of litter was decomposed at a rate of 11%. At this age class, diversity of macrofauna also has the highest score as 1.08, although that value was still in the low category. 
      PubDate: 2017-09-15
      DOI: 10.22146/jik.28285
      Issue No: Vol. 11, No. 2 (2017)
       
  • Keanekaragaman Potensi Regenerasi Vegetasi pada Hutan Rawa Gambut: Studi
           Kasus di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Tumbang Nusa,
           Kalimantan Tengah

    • Authors: Dony Rachmanadi, Eny Faridah, Peter J Van Der Meer
      Pages: 224 - 238
      Abstract: Degradasi ekosistem hutan termasuk hutan rawa gambut umumnya diwakili oleh degradasi tutupan vegetasi. Degradasi hutan cenderung mengikuti gradien jarak dari tepi hutan menuju ke dalam hutan. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui keanekaragaman dan dominasi potensi regenerasi alami di hutan rawa gambut di Kalimantan Tengah. Anakan alam, guguran buah, dan biji yang tersimpan di lapisan tanah sebagai indikator potensi regenerasi alami diukur dari serangkaian plot terletak mengikuti gradien jarak. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan potensi regenerasi alami mengikuti gradien jarak secara signifikan. Keragaman potensi regenerasi alami cenderung menurun mengikuti gradien gangguan, di mana yang terendah ditemukan di tepi hutan. Anakan alam di tepi didominasi oleh Combretocarpus rotundatus (Miq.) Danser sementara Litsea oppositifolia L.S. Gibbs mendominasi di bagian dalam. Guguran buah didominasi oleh Combretocarpus rotundatus di semua gradien jarak pada musim kemarau, sementara itu Palaquium sp. mendominasi gradien dalam hutan dan Combretocarpus rotundatus mendominasi gradien tepi hutan selama musim pancaroba. Hal ini menunjukkan bahwa musim memberi efek signifikan pada jumlah biji, jumlah spesies, dan keanekaragaman guguran buah, dan ketiga indikator potensi regenerasi ternyata lebih tinggi selama musim pancaroba. Biji di lapisan tanah didominasi oleh Tristaniopsis obovata (Benn.) Peter G. Wilson & J.T. Waterh di gradien dalam hutan dan Diospyros sp. di gradien tepi. Namun, biji di lapisan tanah di gradien tepi ini merupakan jenis yang menyusun pada gradien dalam hutan (50% indeks kesamaan). Hal ini menunjukkan bahwa penyebaran benih dari hutan sebagai sumber inokulum masih bisa mencapai tepi dan juga menunjukkan bagaimana kehadiran vegetasi di gradien tepi sebelum terjadi gangguan.Kata kunci: anakan alam; biji di lapisan tanah; gradien jarak; guguran buah; hutan rawa gambut Potential Diversity of Natural Regeneration in Peat Swamp Forest: A Case Study at Forest for Specific Purpose (KHDTK) Tumbang Nusa, Central Kalimantan Degradation of forest ecosystem including peat swamp forest is generally represented by the degradation of its vegetation cover. Forest degradation tends to follow edge-to-interior distance gradient. This study aimed to determine the diversity and dominance of natural regeneration potential in peat swamp forest at Central Kalimantan. Seedling bank, seed rain, and seed soil bank as the indicators of natural regeneration potential were measured from series of plots located following the distance gradient. The results showed that the difference in natural regeneration potentials followed the distance gradient significantly. The diversity of natural regeneration potential tends to decrease following disturbance gradient, where the lowest was found near the edge. Seedling bank at the edge was dominated by Combretocarpus rotundatus (Miq.) Danser while Litsea oppositifolia L.S. Gibbs dominated at the interior. The seed rain was dominated by Combretocarpus rotundatus at all sites during dry season while during intermediate season, Palaquium sp. dominated the interior and Combretocarpus rotundatus near the edge. It was showed that climatic season gave significant effects on seed number, species number, and diversity of seed rain in which all the three regeneration indications were higher during intermediate season. The seed soil bank was dominated by Tristaniopsis obovata (Benn.) Peter G. Wilson & J.T. Waterh near to the interior and by Diospyros sp. at the edge. However, seed soil banks at the edge zone were dominated by species composing the interior forest (50% similarity index). This shows that the seed dispersal from forest as inoculum source can still reach the edge and also indicates existing vegetation at the edge prior to disturbance.

      PubDate: 2017-09-15
      DOI: 10.22146/jik.28286
      Issue No: Vol. 11, No. 2 (2017)
       
  • Kemelimpahan dan Struktur Tingkat Trofik Serangga pada Tingkat
           Perkembangan Agroforestri Jati yang Berbeda di Nglanggeran, Gunungkidul
           Yogyakarta

    • Authors: Ananto Triyogo, Priyono Suryanto, Siti Muslimah Widyastuti, Aldino Dwi Baresi, Isnaini Fauziah Zughro
      Pages: 239 - 248
      Abstract: Modifikasi pemanfaatan lahan memiliki dampak baik ekonomi maupun ekologi. Perlindungan terhadap keanekaragaman hayati menjadi pusat perhatian dari sisi ekologi sementara pemanfaatan lahan demi produktivitas dianggap sebagai solusi ketahanan pangan. Serangga berada di dua isu tersebut yaitu konservasi dan ketahanan pangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur komunitas serangga berdasarkan pada peran mereka dalam tingkatan trofik pada tiga tingkat perkembangan agroforestri (AF) jati yang berbeda (awal, tengah, lanjut). Pengambilan data dilakukan di Nglanggeran, Gunungkidul, Yogyakarta sepanjang musim kemarau (April, Mei, dan Juni 2016). Metode koleksi serangga yang digunakan adalah sweep net, pitfall dan sticky trap yang ditempatkan pada petak ukur (PU) 20 x 20 m2. Petak ukur dibuat dan diletakkan secara purposive pada masing-masing tingkatan AF. Total terdapat 8 PU yang terdiri dari 3 PU untuk tingkatan AF awal dan tengah, serta 2 PU untuk AF lanjut. Serangga yang tertangkap bervariasi berdasar pada tingkat perkembangan agroforestri dan bulan pengamatan. Terdapat perbedaan keragaman serangga (jumlah dan jenis) berdasarkan perbedaan tingkatan agroforestri (awal, tengah, dan lanjut) pada lahan lahan agroforestri berbasis jati di Desa Nglanggeran, Zona Batur Agung, Gunungkidul. Agroforestri awal dan tengah menunjukkan kemelimpahan serangga (ordo) terbanyak dengan proporsi tertinggi serangga yang berperan sebagai hama berasal dari ordo Lepidoptera, Diptera, Blattaria, Hymenoptera, Orthoptera, Coleoptera, Isoptera, dan Dermaptera. Tingkatan AF berpengaruh terhadap kehadiran serangga dari ordo Hymenoptera dan Diptera, lebih lanjut keragaman vegetasi pada agroforestri (awal dan tengah) dapat meningkatkan keragaman serangga baik yang berperan sebagai hama (trofik 2) maupun musuh alami (trofik 3).Kata kunci: agroforestri; hama; jati; serangga; trofik Insect Abundance and Its Structure Trophic Level on Different Level of Teak-Based Agroforestry Development at Nglanggeran Village, Gunungkidul District, Yogyakarta Modifications of land use have the economic and ecological implications. Protection upon biodiversity has been the center of concern on ecological side, while productivity of the land use has been considered a solution for food security. Insects are between these two major issues, namely conservation and food security.This study was aimed at tracing the structure of insect community based on its role on the trophic level on three different phases of teak-based agroforestry systems (early, middle, and advanced). The data was obtained in the area of Nglanggeran, Gunungkidul Regency of Yogyakarta during the dry season (April, May, and June 2016). Further, method of insect sample inventory utilized sweep net, pitfall trap, and sticky trap placed on measured area of 20 x 20 m2. The plots were placed purposively on each of agroforestry land, with the total of 8 plots, consisting of 3 areas of early and middle levels of agroforestry land, and 2 for late phase. Catched insects varied according to agroforestry growth and observation time. This research suggests that insect’s variety (abundance and morphospecies) is found based on agroforestry levels (early phase, middle phase and late phase) on observed teak agroforestry land in Nglanggeran Village of Batur Agung Zone, Gunungkidul. Early and middle agroforestry showed an abundance of insects (order), in which the largest proportion of them is categorized as pest (Lepidoptera, Diptera, Blattaria, Hymenoptera, Orthoptera, Coleoptera, Isoptera, and Dermaptera). The growth level of agroforestry has a direct impact on the presence of insects of Hymenoptera and Diptera orders. Furthermore, the variety of vegetation in early and middle agroforestry could increase the variety of insects functioning as either pest (trophic 2) or natural predators (trophic 3).

      PubDate: 2017-09-15
      DOI: 10.22146/jik.28287
      Issue No: Vol. 11, No. 2 (2017)
       
 
 
JournalTOCs
School of Mathematical and Computer Sciences
Heriot-Watt University
Edinburgh, EH14 4AS, UK
Email: journaltocs@hw.ac.uk
Tel: +00 44 (0)131 4513762
Fax: +00 44 (0)131 4513327
 
Home (Search)
Subjects A-Z
Publishers A-Z
Customise
APIs
Your IP address: 54.196.47.128
 
About JournalTOCs
API
Help
News (blog, publications)
JournalTOCs on Twitter   JournalTOCs on Facebook

JournalTOCs © 2009-2016