Similar Journals
Journal Cover
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran
Number of Followers: 1  

  This is an Open Access Journal Open Access journal
ISSN (Print) 0854-6002 - ISSN (Online) 2549-6514
Published by Universitas Padjadjaran Homepage  [27 journals]
  • Frekuensi kelainan ukuran mesio-distal gigi insisif lateral maksila
           berdasarkan Woelfel pada sub-ras Deutromelayu Frequency of mesiodistal
           size abnormality of maxillary lateral incisors based on Woelfel in the
           Deutro-Malays sub-race

    • Authors: Nur Fitri Utami, Yuliawati Zenab, Andriani Harsanti
      Pages: 71 - 76
      Abstract: Pendahuluan: Gigi insisif lateral maksila merupakan gigi yang memiliki bentuk dan ukuran yang bervariasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui frekuensi kelainan ukuran mesio-distal gigi insisif lateral maksila berdasarkan Woelfel. Metode: Jenis penelitian adalah deskriptif. Pengukuran mesio-distal gigi insisif lateral maksila menggunakan kaliper digital. Sampel sebanyak 35 mahasiswa diperoleh dengan teknik purposive sampling dilakukan pada ras Deuteromelayu. Hasil: Rata-rata ukuran mesio-distal gigi insisif lateral maksila pada regio 1 dan 2 adalah 6,28 mm (17,94%) dan 6,20 mm (17,71%). Nilai minimum dan maksimum regio 1 adalah 3,50-7,44 mm, sedangkan pada regio 2 adalah 3,46-7,77 mm. Terdapat 4 gigi insisif lateral maksila (11,42%), sepasang gigi (bilateral) insisif lateral maksila dan dua gigi insisif lateral maksila unilateral (kiri) yang memiliki kelainan ukuran. Jumlah yang mengalami kelainan pada gigi 12 sebanyak 1 gigi (2,85%), dan gigi 22 sebanyak 3 gigi (8,57%). Kelainan ukuran hanya terjadi pada 32 sampel perempuan (9,38%) dan termasuk kedalam golongan mikrodonsia (5,71%). Simpulan: Frekuensi kelainan ukuran mesio-distal gigi insisif lateral maksila berdasarkan Woelfel pada Sub-Ras Deuteromelayu sebanyak 3 orang dengan jenis kelainan mikrodonsia sejumlah 4 gigi dengan angka kejadian 2 gigi pada bilateral insisif lateral maksila dan dua gigi insisif lateral maksila unilateral.
      ABSTRACTIntroduction: The maxillary lateral incisors have varied shapes and sizes. The purpose of this study was to determine the frequency of mesiodistal size abnormality of the maxillary lateral incisors based on the Woelfel in the Deutero-Malays sub-race. Methods: The research method was descriptive. Measurement of mesiodistal maxillary lateral incisors using digital callipers. A sample of 35 students was obtained by purposive sampling technique. Results: The average mesiodistal size of the maxillary lateral incisors in regions 1 and 2 was 6.28 mm (17.94%) and 6.20 mm (17.71%) respectively. The minimum and maximum values of Region 1 was 3.50-7.44 mm, while in Region 2 was 3.46-7.77 mm. There are four maxillary lateral incisors (11.42%), a pair of maxillary lateral (bilateral) incisors and two unilateral maxillary lateral incisors (left) with size deviation. The number of people with abnormalities in tooth number 12 was as much as one tooth (2.85%), and in tooth number 22 was as much as three teeth (8.57%). Size abnormalities only occurred in 32 female samples (9.38%) and included in the microdontia group (5.71%). Conclusion: Frequency of mesiodistal size abnormalities of the maxillary lateral incisors based on the Woelfel in Deutero-Malays sub-race was found in 3 people with microdontia as the abnormality type, in as much as 4 teeth consisted of 2 bilateral maxillary lateral incisors and 2 unilateral maxillary lateral incisors.Keywords: Maxillary lateral Incisors, mesio-distal size abnormalities.
      PubDate: 2018-08-31
      DOI: 10.24198/jkg.v30i3.18500
      Issue No: Vol. 30, No. 2 (2018)
       
  • Perbedaan status kebersihan gigi dan mulut pada siswa Pondok Pesantren
           Salafiyah Al-Majidiyah sebelum dan sesudah penyuluhan Differences in oral
           hygiene status of Salafiyah Al-Majidiyah Islamic Boarding School students
           before and after oral health counselling

    • Authors: Bunga Hasna Adilah, Riana Wardani, Cucu Zubaedah
      Pages: 77 - 85
      Abstract: Pendahuluan: Kesehatan gigi dan mulut seseorang dapat dilihat dari status kebersihan gigi dan mulutnya. Status kebersihan gigi dan mulut dapat dinilai menggunakan Debris Index-Simplified (DI-S). Penyuluhan mengenai pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kemampuan seseorang dalam menjaga kebersihan rongga mulutnya. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui perbedaan status kebersihan gigi dan mulut pada siswa Pondok Pesantren Salafiyah Al-Majidiyah sebelum dan sesudah penyuluhan. Metode: Jenis penelitian adalah pra eksperimen dengan rancangan one group pretest-posttest. Sampel penelitian adalah 48 responden yang berusia 12-15 tahun. Dilakukan pemeriksaan DI-S pada responden sebelum dan sesudah penyuluhan sebanyak tiga kali. Data yang didapatkan kemudian diuji menggunakan uji normalitas. dilakukan uji Wilcoxon karena data berdistribusi tidak normal. Hasil: perbedaan indeks debris yang signifikan (nilai p=0,00 < 0,05) pada siswa Pondok Pesentren Salafiyah Al-Majidiyah dengan penurunan nilai rata-rata dari 1,355 menjadi 0,5383 sesudah penyuluhan mengenai pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut sebanyak tiga kali. Simpulan: Terdapat perbedaan status kebersihan gigi dan mulut pada siswa Pondok Pesentren Salafiyah Al-Majidiyah menjadi lebih baik sesudah diberikan penyuluhan dibandingkan dengan sebelum diberikan penyuluhan. ABSTRACT Introduction: An individual's oral health can be seen from their oral hygiene status. Oral hygiene status can be assessed using Debris Index-Simplified (DI-S). Counselling regarding the maintenance of oral hygiene is one of the efforts to improve individual ability to maintain the oral hygiene. The purpose of the study was to determine the differences in the oral hygiene of Salafiyah Al-Majidiyah Islamic Boarding School students before and after oral health counselling. Methods: The research was pre-experimental with one group pretest-posttest design. The study sample was as much as 48 respondents aged 12-15-years-old. The DI-S examination was conducted on respondents before and after three times oral health counselling. The data obtained was then tested using the normality test. The Wilcoxon test was also performed because the data were not normally distributed. Results: There was a significant difference in the debris index (p-value = 0.00 < 0.05) of Salafiyah Al-Majidiyah Islamic Boarding School students, with a decrease in the average value from 1.355 to 0.5383 after three times counselling regarding oral hygiene maintenance. Conclusion: There was a significant increase in dental and oral hygiene status of Salafiyah Al-Majidiyah Islamic Boarding School students after being given oral health counselling.
      Keywords: Debris Index, oral health counselling, Islamic Boarding School students, oral hygiene status.
      PubDate: 2018-08-31
      DOI: 10.24198/jkg.v30i3.18501
      Issue No: Vol. 30, No. 2 (2018)
       
  • Kesehatan gigi dan mulut terkait kualitas hidup anak usia 4-5 tahun di
           Desa Cilayung Oral health related to the quality of life of children aged
           4-5-years-old in Cilayung Village

    • Authors: Revina Nadya Elfarisi, Sri Susilawati, Anne Agustina Suwargiani
      Pages: 86 - 95
      Abstract: Pendahuluan: Kesehatan gigi dan mulut anak usia 4-5 tahun penting untuk diperhatikan. Masalah kesehatan gigi dan mulut dapat menyebabkan rasa sakit dan tidak nyaman sehingga berdampak negatif pada kualitas hidup anak. Kesehatan gigi dan mulut terkait kualitas hidup anak usia 4-5 tahun diukur dengan menggunakan instrumen The Early Childhood Oral Impat Scale (ECOHIS). Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan gambaran kesehatan gigi dan mulut terkait kualitas hidup anak usia 4-5 tahun di Desa Cilayung. Metode: Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif. Sampel penelitian adalah ibu yang mempunyai anak berusia 4-5 tahun yang terdaftar sebagai siswa TK Al-Iffah dan RA Rahayu di desa Cilayung dengan jumlah 50 orang yang diperoleh dengan teknik purposive sampling. Pengisian data dilakukan dengan menggunakan kuesioner The Early Childhood Oral Impact Scale (ECOHIS). Hasil: Masalah gigi dan mulut selama 3 bulan terakhir paling banyak yang dilaporkan oleh orang tua adalah Early Childhood Caries (ECC). Simpulan: Kesehatan gigi dan mulut terkait kualitas hidup anak usia 4-5 tahun di Desa Cilayung termasuk dalam kategori cukup berdampak. ABSTRACTIntroduction: The oral health of children aged 4-5-years-old is very important issues. Oral health problems can cause pain and discomfort that cause a negative impact on the quality of life of children. The purpose of this study was to determine the description of the oral health related to the quality of life of children aged 4-5-years-old in Cilayung Village. Methods: This research was descriptive research. The research sample was mothers with children aged 4-5-years-old children who were registered as Al-Iffah Kindergarten and Rahayu Islamic Kindergarten students of Cilayung village, with the total of 50 people, which obtained by purposive sampling technique. Data was filled using the Early Childhood Oral Impact Scale (ECOHIS) questionnaire. Results: The most frequent oral problems reported were Early Childhood Caries (ECC). Conclusion: Oral health related to the quality of life of children aged 4-5-years-old in Cilayung Village was included in the category of moderate impact.Keywords: 4-5-years-old children, oral health related quality of life, ECOHIS.
      PubDate: 2018-08-31
      DOI: 10.24198/jkg.v30i3.18509
      Issue No: Vol. 30, No. 2 (2018)
       
  • Perbedaan jumlah koloni Streptococcus mutans pada perokok kretek dan bukan
           perokok Difference between the amount of Streptococcus mutans colonies in
           kretek smokers and non-smokers

    • Authors: Intan Melani, Mieke Hemiawati Satari, Yuti Malinda
      Pages: 96 - 102
      Abstract: Pendahuluan: Rokok kretek merupakan jenis rokok yang paling populer di Indonesia. Merokok dapat meyebabkan berbagai gangguan dalam rongga mulut, salah satunya yaitu karies. Streptococcus mutans merupakan salah satu bakteri yang berperan penting dalam proses terjadinya karies. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan jumlah koloni Streptococcus mutans pada perokok kretek dan bukan perokok. Metode: Penelitian deskriptif ini dilakukan dengan teknik pengambilan sampel merujuk pada penelitian yang dilakukan Buduneli N, dkk. jumlah sampel yang diperoleh 20 orang yang terdiri dari 10 perokok kretek dan 10 bukan perokok. Bahan pemeriksaan berupa saliva diambil dari masing-masing sampel. Sampel saliva diencerkan, dieramkan dan diinokulasi pada media TYCSB. Sampel saliva kemudian diinkubasi pada 37 0C, secara fakultatif anaerob selama 48 jam. Koloni yang tumbuh dihitung menggunakan colony counter. Data dianalisis menggunakan t-test independen (α=0,05). Hasil: Rata-rata jumlah koloni Streptococcus mutans dari saliva perokok kretek sebesar 47,65 x 102 CFUs/ml sedangkan pada bukan perokok sebesar 11,1 x 102 CFUs/ml. Data statistik uji t independen mendapatkan nilai p<0,05 yang berarti terdapat perbedaan yang signifikan antara jumlah koloni Streptococcus mutans pada perokok kretek dan bukan perokok. Simpulan: Jumlah koloni Streptococcus mutans pada perokok kretek lebih tinggi dibandingkan bukan perokok. ABSTRACT Introduction: Kretek cigarettes are the most popular type of cigarette in Indonesia. Smoking can cause various disorders in the oral cavity, one of them is caries. Streptococcus mutans is one of the bacteria that play an important role in the process of caries. This study was aimed to determine the difference between the amount of Streptococcus mutans colonies in kretek smokers and non-smokers. Methods: A descriptive study was carried out with the sampling technique referring to the research conducted by Buduneli N et al. The amount of samples obtained were as much as 20 people consisted of ten kretek smokers and ten non-smokers. Examination material in the form of saliva was taken from each sample. Salivary samples were diluted, scooped and inoculated on TYCSB media. Salivary samples were then incubated at 37°C, facultatively anaerobically for 48 hours. Growing colonies were calculated using a colony counter. Data obtained were analysed using independent t-test (α = 0.05). Results: The average amount of Streptococcus mutans colonies from kretek smoker saliva was 47.65 x 102 CFUs / ml while in the non-smokers was 11.1 x 102 CFUs / ml. Statistical data of the independent t-test obtained the p-value < 0.05, which means that there was a significant difference between the amount of Streptococcus mutans colonies in kretek smokers and non-smokers. Conclusion: The amount of Streptococcus mutans colonies in kretek smokers saliva is higher than the non-smokers. Keywords: Kretek cigarettes, non-smokers, Kretek cigarette smokers, Streptococcus mutans.
      PubDate: 2018-08-31
      DOI: 10.24198/jkg.v30i3.18510
      Issue No: Vol. 30, No. 2 (2018)
       
  • Analisis gambaran radiograf panoramik pada complex odontoma: Laporan
           kasus Panoramic radiograph analysis of complex odontoma: A case report

    • Authors: Fitri Angraini Nasution, Suhardjo SItam
      Pages: 103 - 107
      Abstract: Pendahuluan: Odontoma merupakan tumor odontogenik yang memiliki sifat klinis jinak. Odontoma terdiri dari dua jenis yaitu compound dan complex odontoma. Perbedaan diantara keduanya adalah compound odontoma berbentuk seperti struktur gigi, sedangkan complex odontoma tersusun atas massa enamel dan dentin yang tidak teratur dan tidak memiliki kemiripan anatomi. Tujuan laporan kasus untuk menganalisis gambaran radiograf panoramik pada kasus complex odontoma. Laporan kasus: Pasien perempuan berusia 24 tahun datang ke klinik Bedah Mulut RSUD Arifin Achmad Pekanbaru dengan keluhan pembengkakan pada rahang bawah bagian kiri. Pembengkakan tidak disertai rasa sakit. Hasil pemeriksaan radiograf panoramik menunjukkan lesi radioopak homogen, well-defined yang dikelilingi halo radiolucent. Suspek radiodiagnosis adalah complex odontoma yang berhubungan dengan impaksi gigi permanen molar. Simpulan: Radiograf panoramik dapat digunakan untuk menganalisis gambaran complex odontoma. Gambaran radiografi kompleks odontoma umumnya radioopak homogen yang dikelilingi halo radiolucent dengan batas jelas (well-defined, soft tissue capsule border). ABSTRACTIntroduction: Odontomas are odontogenic tumours that have benign clinical properties. Odontoma consists of two types, namely compound and complex odontoma. The difference between them is that the compound odontoma which is shaped like a tooth structure, whereas complex odontoma is composed of an irregular mass of enamel and dentine and has no anatomical resemblance. The purpose of this case report was to analyse the panoramic radiographs in complex odontoma cases. Case report: A 24-years-old female patient came to the Arifin Achmad Pekanbaru Oral Surgery Clinic with a complaint of swelling in the left mandibular. The swelling was not accompanied by pain. The results of panoramic radiographs showed homogeneous, well-defined radioopaque lesions surrounded by a radiolucent halo. Suspect radiodiagnosis was a complex odontoma associated with impaction of permanent molar teeth. Conclusion: Panoramic radiographs can be used to analyse complex odontoma images. Radiographic features of homogeneous complex odontoma are homogeneous radiopaque surrounded by halo radiolucent with a well-defined, soft tissue capsule border.Keywords: Complex odontoma, molar impaction, odontogenic tumour.
      PubDate: 2018-08-31
      DOI: 10.24198/jkg.v30i3.18525
      Issue No: Vol. 30, No. 2 (2018)
       
  • Efektivitas getah pohon pisang (Musa paradisiaca) pada penyembuhan luka
           soket pasca pencabutan gigi Effectivity of banana (Musa paradisiaca) tree
           sap extract in socket wound healing after tooth extraction

    • Authors: Sastya Fitri Khairunnisa, Adhelia Ayu Ningtyas, Shafira Annas Haykal, Morita Sari
      Pages: 108 - 113
      Abstract: Pendahuluan: Getah pohon pisang digunakan di daerah pedesaan di Indonesia untuk obat-obatan penyembuhan luka tradisional. Namun, laporan ilmiah tentang efek penyembuhan luka menggunakan bahan ini relatif sedikit. Ekstrak getah batang pisang mengandung flavonoid, tanin, saponin, dan alkaloid sebagai antioksidan untuk mengurangi radikal bebas dengan mentransfer atom hidrogen pada daerah luka serta meningkatkan penutupan luka dengan memproduksi jumlah fibroblas dan meningkatkan pembentukan pembuluh-pembuluh kapiler darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak getah pohon pisang terhadap penyembuhan luka pasca pencabutan gigi dengan menggunakan parameter penilaian penyembuhan luka serta untuk mengetahui konsentrasi ekstrak etanol getah batang pisang yang dapat memberikan efek optimal terhadap penyembuhan luka soket pasca pencabutan. Metode: Jenis penelitian ini menggunakan eksperimental laboratorium murni dengan rancangan posttest only control grup design dengan menggunakan sampel 25 tikus wistar, yang masing-masing diberi 5 perlakuan selama 7 hari. Gigi insisivus kiri bawah diekstraksi, kemudian soket diberi perlakuan dengan kontrol negatif (aquades), kontrol positif (povidone iodine) dan ekstrak getah batang pisang pada konsentrasi 15%, 30% dan 60%. Hasil: Hasil penelitian ini efektif dan optimal pada penyembuhan luka soket pada konsentrasi 30% serta ekstrak getah pohon pisang lebih efektif untuk mempercepat penyembuhan ekstraksi pasca soket gigi dibandingkan dengan povidone iodine. Simpulan: Pemberian ekstrak etanol getah pohon pisang secara topical efektif dan optimal dalam proses penyembuhan luka soket pasca pencabutan gigi tikus wistar yaitu pada konsentrasi 30%. Ekstrak etanol getah pohon pisang juga lebih efektif mempercepat penyembuhan luka soket pasca pencabutan gigi dibandingkan dengan povidone iodine. ABSTRACTIntroduction: Banana tree sap is used in Indonesian rural area as traditional wound healing remedies. However, scientific reports on the effects of wound healing using this material are relatively rare. Banana tree sap extract contains flavonoids, tannins, saponins and alkaloids as antioxidants to reduce free radicals by transferring hydrogen atoms to the wound area and increasing the wound closure by producing fibroblasts and increasing the formation of blood capillary vessels. This study was aimed to determine the effect of banana tree sap extract on the wound healing after tooth extraction using the wound healing assessment parameters and to determine the optimal concentration of ethanolic extract of banana tree sap on the wound healing after tooth extraction. Methods: The pure experimental research with post-test only control group design using the sample of 25 Wistar rats, each given five treatments for seven days. The lower left incisor was extracted, then the socket was treated with negative control (aquadest), positive control (povidone-iodine) and banana tree sap extract at the concentrations of 15%, 30%, and 60%. Results: The concentration of 30% banana tree sap ethanolic extract was proven to be more effective and optimal to accelerate the socket wound healing after tooth extraction compared to povidone iodine. Conclusion: Banana tree sap extract can be developed as an alternative medicine for the socket wound healing after tooth extraction. At the concentration of 30%, the topical administration of the extract is proven to be more effective and optimal in the socket wound healing process after the tooth extraction of the Wistar rat, compared to povidone iodine.Keywords: Banana tree sap extract, healing wounds, sockets, after tooth-extraction wounds.
      PubDate: 2018-08-31
      DOI: 10.24198/jkg.v30i3.18528
      Issue No: Vol. 30, No. 2 (2018)
       
  • Efektivitas spray nanokolagen limbah sisik ikan mas (Cyprinus carpio)
           untuk mempercepat proses penyembuhan luka insisi Effectiveness of
           nano-collagen spray of goldfish (Cyprinus carpio) scales waste in
           accelerating the incision wound healing process

    • Authors: Laras Ayu Pringgandini, Ghinna Yulia Indarti, Melinda Melinda, Morita Sari
      Pages: 114 - 120
      Abstract: Pendahuluan: Pemanfaatan ikan yang hanya edible portion (dapat dimakan) dapat menyebabkan terdapatnya limbah yang dihasilkan dari proses pengolahannya. Limbah sisik ikan dapat digunakan sebagai sumber kolagen. Secara umum, kolagen telah banyak diproduksi dari sisik ikan, tetapi tidak dalam ukuran nanopartikel. Partikel-partikel berukuran nano akan lebih mudah diserap dan berdifusi di kulit daripada yang berukuran makro. Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai efektivitas nano kolagen limbah sisik ikan mas (Cyprinus carpio) untuk mempercepat waktu penyembuhan luka setelah luka insisi. Metode: Penelitian ini menggunakan true experimental laboratory dengan rancangan post-test only control-group design dengan 27 mencit jantan (Mus musculus) Swiss Webster. Perlakuan pada luka insisi dilakukan dengan penyemprotan menggunakan spray nanokolagen, spray povidone iodine, dan spray aquades. Penyembuhan luka diamati selama 7 hari setelah insisi. Hasil: Data yang diperoleh dianalisis menggunakan Uji One Way Anova, berdasarkan hasil analisis diperoleh nilai p=0,000 (p < 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan lama penyembuhan luka insisi antara perlakuan spray povidone iodine, spray aquades, dan spray nanokolagen sisik ikan mas. Simpulan: Nano kolagen ekstrak sisik ikan mas dapat mempercepat waktu penyembuhan luka. ABSTRACTIntroduction: The use of edible portion fish has generated waste from the manufacturing process. Fish scales can be used as collagen sources. Collagen has been produced from fish scales generally, but not in the nanoparticle size. Nano-sized particles will be more easily absorbed and diffused in the skin than the macro-sized ones. The purpose of this study was to assess the effectiveness of nano-collagen goldfish (Cyprinus carpio) scales waste in accelerating the wound healing time after incision wounds. Methods: This study used a pure experimental laboratory with post-test only control group design towards as much as 27 Swiss-Webster male rats (Mus musculus). Treatment on incision wounds was carried out by spraying the nano-collagen spray, povidone iodine spray, and aquadest spray. The wound healing was observed for seven days after incision. Results: The data obtained were analysed using the one way ANOVA Test. Based on the results of the analysis obtained the p-value of 0.000 (p < 0.05). This result showed that there was a significant difference in the length of the incision wound healing between the treatment of povidone-iodine spray, aquadest, and nano-collagen spray fabricated of goldfish scales. Conclusion: Nano collagen extract of goldfish scales was able to accelerate the wound healing time. Keywords: Incision wounds, nano-collagen, goldfish scales (Cyprinus carpio).
      PubDate: 2018-08-30
      DOI: 10.24198/jkg.v30i3.18529
      Issue No: Vol. 30, No. 2 (2018)
       
  • Analisis gambaran CBCT pada kista dentigerous gigi supernumerary anterior
           rahang atas CBCT images analysis of the anterior maxillary supernumerary
           teeth dentigerous cysts

    • Authors: Novi Kurniati, Ria Noerianingsih Firman
      Pages: 121 - 125
      Abstract: Pendahuluan: Kista dentigerous atau follicular cysts adalah kista odontogenik jinak yang tumbuh lambat akibat kelainan perkembangan epitel enamel pembentuk gigi. Kebanyakan kista dentigerous berhubungan dengan gigi molar ketiga mandibula, tetapi jarang melibatkan impaksi gigi supernumerari anterior rahang atas, sehingga pada tulisan ini akan menganalisis kista dentigerous akibat impaksi gigi supernumerari anterior rahang menggunakan CBCT terhadap seorang laki-laki berusia 50 tahun. Laporan Kasus: Keluhan berupa pembengkakan pada cuping hidung dan gusi anterior rahang atas disertai keluarnya darah dan cairan menyerupai nanah. Hasil CBCT menunjukan gambaran lesi radiolusen berbatas radioopak well-defined meluas di daerah rahang atas hingga sinus maksilaris dextra dan sinistra berbentuk irreguler disertai gambaran radioopak pada bagian tengah lesi (menyerupai gigi supernumerary). Suspek radiologis adalah kista dentigerous ec impaksi gigi supernumerari anterior rahang atas disertai mukositis ar sinus maksilaris sinistra. CBCT menawarkan pendekatan alternatif yang menjanjikan karena menyediakan sub-milimeter gambar dengan resolusi kualitas diagnostik yang tinggi, waktu pemindaian singkat dan mengurangi dosis radiasi. Simpulan: Gambaran CBCT pada kista dentigerous gigi supernumerary anterior rahang atas dapat terlihat akurat, sehingga sangat berguna sebagai alat penunjang untuk diagnosis dan perencanaan operasi pada kasus kista dentigerous. Penampakan tiga dimensi CBCT menawarkan akurasi yang tinggi dalam merencanakan perawatan bedah, sehingga hasil perawatan lebih efektif. 
      ABSTRACTIntroduction: Dentigerous cysts or follicular cysts are benign odontogenic cysts that grow slowly due to tooth-forming enamel epithelial developmental abnormalities. Most dentigerous cysts are associated with mandibular third molars, but rarely involve impaction of the maxillary anterior supernumerary teeth, so in this paper we will analyze dentigerous cysts due to impact of anterior jaw supernumerary teeth using CBCT on a 50-year-old man. Case Report: Complaints of swelling of the nostrils and anterior maxillary gums accompanied by blood and pus-like fluid. CBCT results show radiolucent lesions with well-defined radiopaque boundaries extending in the upper jaw region to the maxillary and left maxillary sinuses irregularly shaped with radiopaque features in the center of the lesion (resembling supernumerary teeth). Radiological suspicion is a dentigerous cyst impaction of the maxillary anterior supernumerary teeth accompanied by sinus mucositis of the left maxillary sinus. CBCT offers a promising alternative approach because it provides sub-millimeter images with high diagnostic quality resolution, short scanning times and reduced radiation doses. Conclusion: The description of CBCT in the dentigerous cyst of the maxillary anterior supernumerary teeth can be seen accurately, so it is very useful as a supporting tool for diagnosis and planning of surgery in cases of dentigerous cysts. CBCT's three-dimensional appearance offers high accuracy in planning surgical treatments, so that treatment outcomes are more effective.Keywords: CBCT, dentigerous cyst, impaction, anterior supernumerary teeth.
      PubDate: 2018-08-31
      DOI: 10.24198/jkg.v30i3.18530
      Issue No: Vol. 30, No. 2 (2018)
       
  • Penentuan diagnosis dalam perawatan saluran akar gigi 36 dengan radix
           entomolaris Diagnosis determination in the treatment of root canal 36 with
           radix entomolaris

    • Authors: Risa Pratami, Myrna Nurlatifah Zakaria
      Pages: 126 - 133
      Abstract: Pendahuluan: Radix entomolaris (RE) merupakan sebuah variasi anatomi normal gigi molar pertama rahang bawah yang mempunyai akar tambahan pada sisi lingual. Keberadaan RE seringkali tidak terlihat secara klinis, sehingga dapat mempengaruhi keberhasilan perawatan endodontik. Laporan kasus ini bertujuan untuk membahas mengenai penentuan diagnosis dan perawatan saluran akar gigi 36 yang memiliki radix entomolaris. Laporan kasus: Laporan kasus ini membahas mengenai pemeriksaan serta diagnosis RE pada gigi molar pertama kiri rahang bawah melalui teknik modifikasi sudut horizontal radiografi (horizontal tube shifting) dan menerapkan hukum orifis untuk melokalisasi saluran akar gigi dengan RE. Deteksi, diagnosis, dan perawatan yang sesuai pada RE menjadi hal penting untuk mencapai keberhasilan perawatan. Beberapa teknik untuk mengetahui keberadaan RE antara lain dengan modifikasi sudut horizontal dari cone beam pada pemeriksaan radiografi. Pemahaman mengenai outline akses pulpa yang berbentuk kotak atau trapesium, meluas hingga aspek distal-lingual juga merupakan tanda khas untuk melokalisasi orifis dari akar ini. Simpulan: Penentuan diagnosis teknik radiografi dental teknik modifikasi sudut horizontal radiografi (horizontal tube shifting) sebagai diagnosis awal yang akurat akan mencegah komplikasi dan tertinggalnya saluran akar RE saat perawatan saluran akar. ABSTRACTIntroduction: Radix entomolaris (RE) is a normal anatomical variation of the mandibular first molars which has additional roots on the lingual side. The existence of RE is often not seen clinically, so it can affect the success of endodontic treatment. This case report aims to discuss the determination of diagnosis and treatment of dental root canals 36 which have radix entomolaris. Case report: This case report discusses the examination and diagnosis of RE in the mandibular left first molar through a horizontal radiographic angle modification technique (horizontal tube shifting) and applies the orifice law to localize the root canal with RE. Detection, diagnosis and appropriate treatment of RE are important to achieve successful treatment. Some techniques to determine the existence of RE include modification of the horizontal angle of the beam beam on radiographic examination. An understanding of the box or trapezoidal outline of the pulp access, extending to the distal-lingual aspect is also a typical sign for localizing the orifice of this root. Conclusion: Determination of dental radiographic technical diagnosis of horizontal radiographic angle modification techniques (horizontal tube shifting) as an accurate initial diagnosis will prevent complications and lagging of the RE root canal during root canal treatment.Keywords: Root canal treatment, radix entomolaris, horizontal tube shifting.
      PubDate: 2018-08-31
      DOI: 10.24198/jkg.v30i3.18531
      Issue No: Vol. 30, No. 2 (2018)
       
  • Hubungan antara status ekonomi keluarga dan risiko karies gigi anak usia
           0-3 tahun Relationship between family economic status and dental caries
           risk of children aged 0-3-years-old

    • Authors: Heidy Stefanie Yonathan, Eriska Riyanti, Inne Suherna Sasmita
      Pages: 134 - 142
      Abstract: Pendahuluan: Status ekonomi keluarga merupakan salah satu indikator penting dalam menentukan karies gigi anak usia 0-3 tahun. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan status ekonomi keluarga dengan risiko karies gigi anak usia 0-3 tahun. Metode: Penelitian ini bersifat analisis korelasional, dengan teknik multi-stage random sampling. Sampel berjumlah 109 anak yang berusia 0-3 tahun di 5 posyandu kota Bandung. Status ekonomi keluarga dan risiko karies gigi diukur dengan skala berdasarkan Nielsen Media Research dan American Academy of Pediatric Dentistry’s Caries-Risk Assessment Tool. Korelasi kedua variabel dianalisis menggunakan Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil: Anak yang berasal dari status ekonomi keluarga rendah memiliki risiko karies gigi yang tinggi. Perhitungan statistik menggunakan uji korelasi Wilcoxon Signed Rank Test dengan α = 5%, diperoleh nilai koefisien korelasi Zhitung = -8,351 dan signifikansi p-value = 0,000. Simpulan: Terdapat hubungan status ekonomi keluarga dengan risiko karies gigi usia 0-3 tahun. ABSTRACTIntroduction: Family economic status is an important indicator in determining dental caries risk in children ages 0-3 years. The aim of this study is to analize the correlation between family economic status and dental caries risk in children ages 0-3 years. Methods: This correlational analitic study used multistage random sampling technique. Family economic status and dental caries risk were measured in 109 children ages 0-3 years, which had been registered at 5 posyandu in Bandung city, according to Nielsen Media Research scale and American Academy of Pediatric Dentistry’s Caries-risk Assessment Tool. The correlation of variables was analyzed using Wilcoxon Signed Rank Test. Result: The children with low family economic status have high dental caries risk. Statistic calculation using Wilcoxon Signed Rank Test with α = 5%, showed coefficient correlation Z = -8.315, with significancy p-value = 0.000. Conclusion: There is a correlation between family economic status and dental caries risk ages 0-3 years.Keywords: Caries-risk assessment, dental caries risk, family economic status.
      PubDate: 2018-08-31
      DOI: 10.24198/jkg.v30i2.18541
      Issue No: Vol. 30, No. 2 (2018)
       
  • Persentase perlekatan otot rahang bawah tidak bergigi berdasarkan
           klasifikasi prosthodontic diagnostic index Percentage of edentulous
           mandibular muscle attachment based on prosthodontic diagnostic index
           classification

    • Authors: Prilanita Giani, Taufik Sumarsongko, Erna Kurnikasari
      Pages: 143 - 150
      Abstract: Pendahuluan: Proses resorpsi lingir sisa akan bertambah setelah gigi diekstraksi. Proses resorpsi menyebabkan puncak lingir turun mendekati origo otot. Posisi perlekatan otot terhadap puncak lingir ini dapat melepaskan gigi tiruan. Setiap pasien memiliki pola resorpsi yang berbeda, sehingga mengklasifikasikan perlekatan otot lingir pasien sebelum perawatan prostodonsia perlu dilakukan agar pasien dapat dirawat secara tepat.Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan persentasi masing-masing tipe perlekatan otot berdasarkan klasifikasi prosthodontic diagnostic index pada pasien dengan rahang bawah tidak bergigi di RSGM FKG Unpad. Metode: Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Sebanyak 35 pasien tidak bergigi di Instalasi Prostodonsia RSGM FKG Unpad yang diperoleh dengan teknik consecutive sampling diperiksa keadaan perlekatan otot rahang bawahnya. Pemeriksaan dilakukan dengan mengukur kedalaman vestibulum menggunakan kaca mulut berskala. Pasien yang kedalaman vestibulumnya di bawah 5 mm dikelompokkan ke dalam kolom kehilangan vestibulum. Berdasarkan Prosthodontic Diagnostic Index, pasien tidak bergigi diklasifikasikan ke dalam lima tipe yaitu A, B, C, D, dan E. Hasil: menunjukkan bahwa frekuensi persentase perlekatan otot tipe A sebanyak 25,72%, tipe B sebanyak 8,57%, tipe C sebanyak 2,86%, tipe D sebanyak 34,28%, dan tipe E sebanyak 28,57%. Simpulan: Frekuensi tipe perlekatan otot terbanyak pada pasien tidak bergigi di Instalasi Prostodonsia adalah tipe D sebesar 34,28%, diikuti tipe E sebesar 28,57%, tipe A sebesar 25,72%, tipe B sebesar 8,57% dan paling sedikit tipe C sebesar 2,86%. ABSTRACTIntroduction: Resorption of alveolar ridge will increase continously after extraction of the tooth. The resorption process cause descend of the alveolar ridge close to the origo of muscle. The position of the muscle attachment to the alveolar crest could dislodge the denture. Every patients has a different resorption pattern, therefore classifying the muscle attachment before the prosthodontic treatment is necessary so that patients can be treated appropriately. Methods: This research was a descriptive study. A total of 35 edentulous patients in Prostodontic Installation RSGM FKG Unpad that collected by consecutive sampling had been examined their mandible’s muscle attachment. Examination carried out by measuring the depth of vestibules using scaled mouth mirror. Patients with a vestibule depths below 5 mm were grouped into the ‘no vestibule’ column. They were classified into five types: A, B, C, D, E based on Prosthodontic Diagnostic Index. Result: The results showed that the frequency of edentulous patient’s muscle attachment was 25,72 % of type A, 8,57% of type B, 2,86% of type C, 34,28% of type D, and 28,57% of type E. Conclusion: The conclusion of this study showed that the type of mandible’s muscle attachment in edentulous patients in RSGM Unpad based on PDI classifications were mostly type D with a percentage of 34,28%.Keywords: Mandibular muscle attachment, edentulous, Prosthodontic Diagnostic Index
      PubDate: 2018-08-31
      DOI: 10.24198/jkg.v30i2.18542
      Issue No: Vol. 30, No. 2 (2018)
       
 
JournalTOCs
School of Mathematical and Computer Sciences
Heriot-Watt University
Edinburgh, EH14 4AS, UK
Email: journaltocs@hw.ac.uk
Tel: +00 44 (0)131 4513762
 


Your IP address: 100.24.125.162
 
Home (Search)
API
About JournalTOCs
News (blog, publications)
JournalTOCs on Twitter   JournalTOCs on Facebook

JournalTOCs © 2009-