Publisher: Bogor Agricultural University   (Total: 26 journals)   [Sort by number of followers]

Showing 1 - 26 of 26 Journals sorted alphabetically
Agrokreatif Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat     Open Access  
Albacore : Jurnal Penelitian Perikanan Laut     Open Access  
Buletin Ilmu Makanan Ternak     Open Access  
HAYATI J. of Biosciences     Open Access   (Followers: 2, SJR: 0.196, CiteScore: 1)
Indonesian J. of Business and Entrepreneurship     Open Access   (Followers: 1)
J. of Agroindustrial Technology     Open Access  
J. of Regional and Rural Development Planning     Open Access  
Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian J. of Agronomy)     Open Access   (Followers: 2)
Jurnal Akuakultur Indonesia     Open Access   (Followers: 1)
Jurnal Fitopatologi Indonesia     Open Access  
Jurnal Gizi dan Pangan     Open Access   (Followers: 2)
Jurnal Hortikultura Indonesia     Open Access  
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis     Open Access  
Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia     Open Access   (Followers: 2)
Jurnal Ilmu Produksi dan Teknologi Hasil Peternakan     Open Access  
Jurnal Keteknikan Pertanian     Open Access   (Followers: 1)
Jurnal Manajemen & Agribisnis     Open Access   (Followers: 2)
Jurnal Manajemen Hutan Tropika     Open Access   (Followers: 1)
Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan     Open Access   (Followers: 1)
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia     Open Access  
Jurnal Penyuluhan     Open Access  
Marine Fisheries : J. of Marine Fisheries Technology and Management     Open Access   (Followers: 1)
Media Konservasi     Open Access   (Followers: 1)
Media Peternakan     Open Access  
Sodality : Jurnal Sosiologi Pedesaan     Open Access  
Tropical Animal Science J.     Open Access   (Followers: 3)
Similar Journals
Journal Cover
Jurnal Hortikultura Indonesia
Number of Followers: 0  

  This is an Open Access Journal Open Access journal
ISSN (Print) 2087-4855 - ISSN (Online) 2614-2872
Published by Bogor Agricultural University Homepage  [26 journals]
  • Perlakuan Air Panas pada Umbi Bawang Merah (Allium cepa var. ascalonicum)
           untuk Menekan Infeksi Virus di Lapangan

    • Authors: Heri Harti, Sobir ; , Suryo Wiyono, Sri Hendrastuti Hidayat
      Pages: 149 - 157
      Abstract: ABSTRACT
      High infestation of viruses on shallot’s bulb has been reported, although little is known on the effect of virus infection on shallot productivity. The use of virus-free bulbs is assumed to be the key factor to improve productivity. Hot water treatment of bulbs before planting is one of methodologies to eliminate virus from shallot bulbs. Therefore, research was conducted to study the effectiveness of hot water treatment methods of shallots bulbs to reduce virus infections in the field. Field experiment
      was conducted using split plot randomized block design with two factors. The first factor was the use of netting, i.e. growing shallot in netting house and in open field. The second factor was hot water treatment of shallot bulb at 45 0C for 15, 30, and 45 min and without treatment. Observations were conducted on the incidence of virus infections, plant growth (number of tillers and plant height) and shallots productivity. Virus infection was confirmed using specific antibodies. Observation of disease symptom indicated that the use of netting house did not significantly suppress the incidence of virus diseases, while hot water treatment significantly reduced the incidence of virus diseases. Hot water treatment for 15, 30 and 45 minutes at 45 0C was able to suppress virus incidence in the field up to
      54.98%, 56.77% and 64.35%, respectively.
      Key words: netting house, soaking time, viruses elimination, virus incidenceABSTRAK
      Infestasi virus pada umbi bawang merah dilaporkan sangat tinggi, meskipun efek infeksi virus terhadap produktivitas bawang merah masih sedikit diketahui. Penggunaan umbi bebas virus diasumsikan menjadi salah satu faktor utama untuk meningkatkan produktivitas. Perlakuan air panas pada umbi sebelum tanam merupakan metode pilihan untuk mengeliminasi virus. Penelitian dilakukan dengan tujuan mempelajari keefektifan metode perlakuan air panas pada umbi bibit bawang merah
      terhadap infeksi virus di lapangan. Penelitian disusun menggunakan rancangan acak lengkap petak terbagi dengan dua faktor. Faktor pertama adalah perlakuan rumah kasa dengan dua taraf, yaitu penanaman dalam rumah kasa dan penanaman di lahan terbuka. Faktor kedua adalah perlakuan air panas suhu 45 0C dengan 4 taraf waktu perendaman, yaitu 15 menit, 30 menit, 45 menit dan kontrol (tanpa perlakuan). Pengamatan dilakukan terhadap insidensi penyakit, parameter pertumbuhan tanaman (jumlah anakan dan tinggi tanaman), dan produktivitas tanaman. Insidensi virus dikonfirmasi dengan deteksi menggunakan antibodi spesifik. Hasil pengamatan gejala menunjukkan bahwa perlakuan rumah kasa tidak berpengaruh nyata terhadap penekanan insidensi penyakit, sementara perlakuan pemanasan berpengaruh nyata terhadap penekanan insidensi penyakit. Waktu perendaman umbi selama 15, 30 dan 45 menit pada suhu 45 0C dapat menekan insidensi penyakit virus dilapangan
      berturut-turut sebesar 54.98%, 56.77% dan 64.35%.
      Kata kunci: eliminasi virus, insidensi penyakit, rumah kasa, waktu perendaman
      PubDate: 2019-06-26
      DOI: 10.29244/jhi.9.3.149-157
      Issue No: Vol. 9, No. 3 (2019)
       
  • Preferensi Konsumen terhadap Atribut Kualitas Tiga Jenis Sayuran
           Indigenous di Jawa Timur, Indonesia

    • Authors: Kartika Yurlisa, Moch. Dawam Maghfoer, Nurul Aini, Wiwin Sumiya Dwi Yamika
      Pages: 158 - 166
      Abstract: ABSTRACT
      Indigenous vegetable production is a primary source of revenue for micro-scale vegetable farmers in East Java Province. Despite the, information about consumer preference on the quality attribute of the indigenous vegetables is still lack. Thus, the study purposed to determine consumer
      preferences on the quality attribute of leafy greens basil, kenikir and watercress to improve the quality on the farm level. The research conducted through consumer survey in seven sites, namely Surabaya,
      Malang, Kediri, Madiun, Jember, Bojonegoro, Pamekasan, East Java Indonesia from July to August 2017. The site selection based on sociocultural and the composition of diverse communities. From
      seven sites, a total of 210 female respondents interviewed randomly. Consumer preferences on the quality attributes concluded by the method based on rank orders and analyzed with Chi-square. The experimental results showed that consumer preference for quality attributes depend on the vegetable. For basil: leaf color was light green, a large number of leaves, without a flower, medium leaf size (3.5 cm diameter), number of branches/stalk, no spicy taste, and smells stung. For kenikir: leaf color was
      light green, a large number of leaves, without a flower, medium smell, a large number of branches/stem, the texture of stem not fibrous, and no bitter taste. For watercress: leaf color was green, a large number of leaves, medium stem size, soft leaf, and slightly sweet flavor.
      Keywords: basil, consumer preference, kenikir, vegetable quality, watercressABSTRAK
      Produksi sayuran indigenous merupakan sumber pendapatan penting bagi petani sayuran skala kecil di Provinsi Jawa Timur. Namun demikian, kriteria kualitas yang diinginkan oleh konsumen masih belum seluruhnya dipetakan, oleh sebab itu, pengkajian dilakukan agar dapat di identifikasi
      preferensi konsumen terhadap kualitas sayuran kemangi, kenikir dan selada air dalam rangka perbaikan kualitas di tingkat petani. Survei konsumen dilakukan di tujuh wilayah di Jawa Timur, yaitu Surabaya, Malang, Kediri, Madiun, Jember, Bojonegoro, dan Pamekasan pada bulan Juli sampai Agustus 2017. Pemilihan wilayah didasarkan pada sosiokultur dan komposisi masyarakat yang beraneka ragam. Dari 7 wilayah tersebut, wawancara dilakukan dengan total 210 responden wanita yang ditentukan secara acak. Preferensi pengguna terhadap sifat kualitas sayur-sayuran dianalisis menggunakan Chi-square. Hasil analisis menunjukkan bahwa, preferensi pengguna terhadap sifat kualitas tergantung pada jenis sayurannya. Sayur kemangi yang disukai adalah memiliki warna daun
      muda, jumlah daun banyak, ukuran daun medium (garis tengah 3.5 cm), tidak terdapat bunga, total cabang/tangkai lebat, rasa tidak pedas, dan berbau menyengat. Sayur kenikir yang disukai adalah warna daun muda, jumlah daun banyak, tidak terdapat bunga, berbau sedang, jumlah cabang/tangkai banyak, tekstur batang tidak berserat, dan rasa tidak getir. Sayur selada air yang disukai adalah warna daun muda, jumlah daun banyak, ukuran batang sedang, berdaun lunak, dan rasa agak manis.
      Kata kunci: kemangi, kenikir, kualitas sayuran, preferansi konsumen, selada air
      PubDate: 2019-06-26
      DOI: 10.29244/jhi.9.3.158-166
      Issue No: Vol. 9, No. 3 (2019)
       
  • Karakter Pertumbuhan Tanaman Bawang Merah Pada Berbagai Komposisi Media
           Tanam

    • Authors: Astuti Kurnianingsih, Susilawati ; , Marlin Sefrila
      Pages: 167 - 173
      Abstract: ABSTRACT
      Shallot is one of the important vegetables and spices in Indonesia. Shallot require porous soil structure with medium to coarse texture, have good aeration and drainage, containing organic matter, with an optimum soil pH of 5.6 - 6.5. This research aimed to examine growth characteristics of shallot on various planting media compositions. An experimental field and laboratory of plant physiology, Department of Agronomy, Sriwijaya University. The research was conducted at from August to November 2017. The experiment was arranged in a randomized block design with 11 treatments and 3 replications. Each unit treatment consisted of 5 plants, resulting in a total of 165 plants. The treatments was media composition, consisted of P0 : Soil; P1 : Soil : chicken manure (2:1); P2 : Soil : cow manure (2:1); P3 : Soil : Palm Bunches fertilizer (2:1); P4 : Soil : chicken manure (3:1); P5 : Soil : cow manure (3:1); P6 : Soil : Pupuk Palm Bunches fertilizer (3:1); P7 : Soil : chicken manure: Palm Bunches fertilizer (2:1:1); P8 : Soil : cow manure: Palm Bunches fertilizer (2:1:1); P9 : Soil : cow manure : Palm Bunches fertilizer (3:1:1); P10: Soil : chicken manure: Palm Bunches fertilizer (3:1:1) by volumes. The result showed that the planting media consisting of soil and chicken manure with ratio of 3 : 1 increased plant height, number of leaf per panicle, number of tillers per hill.
      Keyword: compositions of media planting, organic materials, shallot, manureABSTRAK
      Bawang merah termasuk salah satu produk hortikultura unggulan nasional dan termasuk kelompok sayuran rempah tidak bersubstitusi. Budidaya tanaman bawang merah membutuhkan tanah yang memiliki struktur remah, dengan tekstur sedang sampai liat, mengandung bahan organik tinggi, memiliki drainase dan aerasi yang baik serta memiliki pH 5.6 - 6.5. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan melihat karakter pertumbuhan tanaman bawang merah pada berbagai komposisi media tanam. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan dan Laboratorium Fisiologi Tumbuhan Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya Indralaya. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus sampai November 2017. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok (RAK), dengan 11 perlakuan yang diulang sebanyak tiga kali. Setiap unit perlakuan berjumlah lima tanaman, sehingga terdapat 11 x 3 x 5 = 165 tanaman. Dengan perlakuan sebagai berikut: P0 : tanah top soil; P1 : tanah : pupuk kandang ayam (2:1); P2 : tanah : pupuk kandang sapi (2:1); P3 : tanah : TKKS (2:1); P4 : tanah : pupuk kandang ayam (3:1); P5 : tanah : pupuk kandang sapi (3:1); P6 : tanah : pupuk TKKS (3:1); P7 : tanah : pupuk kandang ayam : TKKS (2:1:1); P8 : tanah : pupuk kandang sapi : TKKS (2:1:1); P9 : tanah : pupuk kandang sapi : TKKS (3:1:1); P10: tanah : pupuk kandang : ayam : TKKS (3:1:1). Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media tanam tanah dan pupuk kandang ayam dengan perbandingan (3:1) dapat meningkatkan tinggi tanaman, jumlah daun dan jumlah anakan per rumpun.
      Kata kunci: bahan organik, bawang merah, komposisi media tanam, pupuk kandang
      PubDate: 2019-06-26
      DOI: 10.29244/jhi.9.3.167-173
      Issue No: Vol. 9, No. 3 (2019)
       
  • Teknik Penyemprotan Pestisida pada Pertanaman Mentimun : Pengaruhnya
           Terhadap Tingkat Penutupan dan Sebaran Droplet

    • Authors: Tonny K. Moekasan
      Pages: 174 - 187
      Abstract: ABSTRACT
      Spraying technique of pesticides that are commonly carried out by cucumber farmers in Indonesia is very diverse, so it is needed to be evaluated to find out the right way to spray. This experiment aimed to determine the effect of nozzle swing on the level of coverage and distribution of droplets. In addition, it is also to find out the effectiveness of pesticides used in pests and diseases control in cucumber cultivation. The experiment was carried out at Margahayu Experimental Garden
      (± 1 250 m asl.), Indonesian Vegetable Research Institute in Lembang, West Java, from July to October 2015. The experiment was arranged using paired comparisons and each treatment was repeated four times. The treatment tested is how to swing the nozzle with the position: (A) above the plant canopy facing down and moving forward and (B) below and swinging towards the plant at an angle of 45o. Results showed that the second nozzle swinging method (B) gave a higher level of coverage and
      distribution of droplets than that produced by the first nozzle swinging method, so the pesticide efficacy in treatment B was also higher.
      Keywords: efficacy, financial analysis, pesticide, spray volumeABSTRAK
      Cara penyemprotan pestisida yang umum dilakukan oleh petani mentimun di Indonesia sangat beragam, sehingga perlu dievaluasi untuk mengetahui cara penyemprotan yang tepat. Percobaan ini bertujuan mengetahui pengaruh ayunan nozzle terhadap tingkat tingkat penutupan dan sebaran droplet. Selain itu juga untuk mengetahui keefektipan pestisida yang digunakan terhadap hama dan penyakit pada tanaman mentimun. Percobaan dilaksanakan di Kebun Percobaan Margahayu (± 1 250 m dpl), Balai Penelitian Tanaman Sayuran di Lembang, Jawa Barat, mulai bulan Juli sampai dengan Oktober 2015. Percobaan disusun menggunakan petak berpasangan (paired comparison) dan tiap pasangan
      perlakuan diulang empat kali. Perlakuan yang diuji ialah cara mengayunkan nozzle dengan posisi: (A) di atas tajuk tanaman menghadap ke bawah dan digerakkan ke depan dan (B) dari bawah dan
      diayunkan ke arah tanaman dengan sudut 450. Hasil percobaan menunjukkan bahwa cara mengayunkan nozzle yang ke-2 (B) menghasilkan tingkat penutupan daun oleh larutan semprot dan
      sebaran droplet yang lebih tinggi daripada yang dihasilkan oleh cara mengayunkan nozzle yang ke-1 (A), sehingga keefektipan pestisida pada perlakuan B juga lebih tinggi.
      Kata kunci: analisis finansial, keefektipan, pestisida, volume semprot
      PubDate: 2019-06-26
      DOI: 10.29244/jhi.9.3.174-187
      Issue No: Vol. 9, No. 3 (2019)
       
  • Keterkaitan Efisiensi Teknis dan Perilaku Risiko Petani Usahatani Bawang
           Merah Varietas Manjung

    • Authors: Siti Rahmania Fajri, Elys Fauziyah
      Pages: 188 - 196
      Abstract: ABSTRACT
      Pojanan Village of Pamekasan District is wellknown as central producer for Manjung Variety of shallot. This variety has advantages such as high productivity, drought-resistant, pests and diseases resistant, fragrant aroma, and savory taste. However, there is low productivity problem that doesnot meet maximum potential expectation. Therefore, this study aimed to analyze the level of technical efficiency, farmers risk behavior, and interrelations between both issues. There were 42 respondents and the study involved analysis methods such us Cobb Douglass function by Stochastic Frontier approach, descriptive quantitative by Likert Scale, and Pearson Correlation. The result showed that average level of technical efficiency was about 77% with 40.5% neutral farmers risk behaviour and
      no significant relationship between technical efficiency and farmers risk behavior.
      Keywords: risk behavior, shallot production, technical efficiencyABSTRAK
      Desa Pojanan Barat Kabupaten Pamekasan dikenal sebagai sentra produksi bawang merah, Varietas Manjung. Bawang merah ini dikenal sebagai produk yang memiliki sifat-sifat unggul seperti: memiliki produktivitas yang tinggi, mampu bertahan pada kondisi lahan yang kering, memiliki ketahanan terhadap hama dan penyakit, serta memiliki aroma yang harum dan sangat gurih. Permasalahan di desa tersebut adalah produktivitasnya tidak sesuai dengan potensi maksimal yang
      seharusnya bisa dihasilkan. Tujuan penelitian ialah menganalisis tingkat efisiensi teknis, mengetahui perilaku petani dalam menghadapi risiko, dan menganalisis keterkaitan efisiensi teknis dan perilaku risiko petani. Jumlah sampel sebanyak 42 petani. Metode analisis yang digunakan adalah fungsi produksi Cobb Douglas dengan pendekatan Stochastic Frontier, diskriptif kuantitatif dengan menggunakan skala Likert, dan uji korelasi Pearson. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa petani hanya mampu mencapai tingkat efisiensi teknis rata-rata sebesar 77%, sementara itu 40.5% petani berperilaku netral terhadap risiko, dan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara efisiensi teknis dan perilaku risiko petani.
      Kata kunci: efisiensi teknis, perilaku risiko, produksi bawang merah
      PubDate: 2019-06-26
      DOI: 10.29244/jhi.9.3.188-196
      Issue No: Vol. 9, No. 3 (2019)
       
  • Keragaan Karakter Pembungaan Kuantitatif dan Profil Metabolomik Bawang
           Merah (Allium cepa var. aggregatum) yang Diinduksi dengan Perlakuan
           Vernalisasi

    • Authors: Marlin ; , Awang Maharijaya, Sobir , , Agus Purwito
      Pages: 197 - 205
      Abstract: ABSTRACT
      Flowering initiation is regulated by the internal and external condition of plant. Vernalization is considered to induce flower initiation on shallots (Allium cepa var. aggregatum). This research objective was to analyze the flowering quantitatif characters and metabolomic profile of shallot during
      vernalization on bulb development. Vernalization was carried out at 8 0C for 6 weeks treatment were four bulb growth stage i.e non-vernalized bulbs (S0), vernalization on embryonic stage (S1), vernalized bulbs on 1 cm of shoot stage (S2) and vernalized bulbs on 2 cm of shoot stage (S3). Vernalization treatment in early stage increased the number of tillers, number of umbel, diameter of umbel and percentage of flowering compared to another stage. The early stage of bulbs growth was the effective stage in receiving vernalization treatment. The bigger number and diameter of umbel lead to the higher percentage of flowering in shallot plant. The number and diameter of umbel can be used as character of selection for the percentage flowering character in shallot. Metabolomic analysis has identified of 104 specific metabolites from different vernalization treatments and clustered shallot into three groups. The early stadium of bulbs development (embryo stadia and stadia 1 cm buds) contains specific metabolomes (phytol and 2-propanone) as the indicator of reproductive phase.
      Keywords: correlation, flower induction, hierarchical cluster analysis, metabolomicABSTRAK
      Proses pembungaan pada bawang merah (Allium cepa var. aggregatum) sangat dipengaruhi faktor internal dan eksternal tanaman. Induksi pembungaan dengan perlakuan vernalisasi dilakukan untuk mendorong inisiasi pembentukan bunga bawang merah. Penelitian bertujuan untuk
      menganalisis karakter kuantitatif pembungaan dan profil metabolomik bawang merah yang diberikan perlakuan vernalisasi pada stadia perkembangan umbi. Vernalisasi dilakukan pada suhu 8 0C selama
      6 minggu terdiri atas empat taraf, yaitu umbi tanpa vernalisasi (S0), vernalisasi pada stadia embrio (S1), vernalisasi pada stadia tumbuh tunas 1 cm (S2), dan vernalisasi pada stadia tumbuh tunas 2 cm (S3). Perlakuan vernalisasi pada stadia awal pertumbuhan umbi mampu meningkatkan karakter jumlah anakan, jumlah umbel, diameter umbel, dan persen berbunga bawang merah dibandingkan vernalisasi pada stadia lainnya. Stadia awal pertumbuhan umbi merupakan stadia terbaik dalam menerima perlakuan vernalisasi. Semakin besar jumlah umbel dan diameter umbel semakin meningkatkan persen berbunga bawang merah. Karakter jumlah umbel dan diameter umbel dapat digunakan sebagai
      karakter seleksi untuk peubah persen berbunga bawang merah. Analisis metabolomik berhasil mengidentifikasi 104 metabolit spesifik dan mengelompokkan bawang merah menjadi 3 kelompok stadia. Vernalisasi pada stadia awal perkembangan umbi (stadia embrio dan tunas 1 cm) menunjukkan adanya perubahan fase reproduktif, yang dicirikan dengan adanya senyawa phytol dan 2-propanone.
      Kata kunci: metabolomik, analisis pengelompokan hierarkis, induksi pembungaan, korelasi
      PubDate: 2019-06-26
      DOI: 10.29244/jhi.9.3.197-205
      Issue No: Vol. 9, No. 3 (2019)
       
  • Karakter Agronomi dan Kadar Sinensetin Beberapa Aksesi Tanaman Kumis
           Kucing (Orthosiphon stamineus)

    • Authors: Shalati Febjislami, Maya Melati, Ani Kurniawati, Yudiwanti Wahyu
      Pages: 206 - 215
      Abstract: ABSTRACT
      Java’s tea plants have efficacy to treat diabetes. Sinensetin is a chemical compound in Java’s tea that acts as diabetes medicine. The experiment objective was to study diversity of agronomy characters and sinensetin content of ex situ collections of Java’s tea from West, Central, and East
      Java regions. Java’s tea was harvested when population has flowering about 70% and tested sinensetin content on leaf part. The experiment was conducted with a completely randomized block design with 18 accessions and one control (purple flower accession). The result of study showed that
      there were significant differences in the accumulation of height plant increase while 8 weeks after planting, secondary branches and secondary branches internode number; leaf length, width and area index; average stems and leaf dry weight per 4.41 m2 and sinensetin levels among some accessions. Banyumas 1, Sumbersari and Kraksaan accessions have agronomy and production characters except for sinensetin levels were better than control (Leaf sinensetin levels based on leaf dry weight increased from low to medium but decreased in high category) Based on comparison between accession and leaf dry weight category, purple flower accession has higher sinensetin levels (0.043%) than another accession, but only reaches 43% of Indonesian Herbal Pharmacopoeia minimum standard (There were no significant differences in sinensetin accession production tested either by comparison of accession or accession categories).
      Keywords: ex situ, flower, Java’s tea, Orthosiphon aristatus, sinensetinABSTRAK
      Tanaman kumis kucing berkhasiat untuk mengobati penyakit diabetes. Sinensetin merupakan senyawa kimia pada kumis kucing yang berperan sebagai obat diabetes. Tujuan penelitian adalah untuk mempelajari keragaman karakter agronomi dan kandungan sinensetin tanaman kumis kucing hasil koleksi ex situ dari daerah Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Tanaman kumis kucing dipanen saat populasi berbunga sekitar 70% dan diuji kandungan sinensetin pada daunnya. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan kelompok lengkap teracak dengan perlakuan 18 aksesi dan satu pembanding (koleksi ungu). Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan pada akumulasi pertambahan tinggi selama 8 MST, jumlah cabang sekunder dan ruas
      cabang sekunder; panjang, lebar dan indeks luas daun; rata-rata bobot kering batang dan daun per 4.41 m2 serta kadar sinensetin antar aksesi yang diuji. Aksesi Banyumas 1, Sumbersari dan Kraksaan memiliki karakter agronomi dan produksi yang lebih baik daripada kontrol kecuali kadar sinensetinnya. Kadar sinensetin daun berdasarkan kategori bobot kering daun mengalami peningkatan dari kategori rendah ke menengah namun menurun pada kategori tinggi. Berdasarkan perbandingan antar aksesi maupun kategori bobot kering daun, kontrol memiliki kadar sinensetin (0.043%) yang lebih baik, namun hanya mencapai 43% dari standar minimum kandungan kimia simplisia (kadar sinensetin) yang ditetapkan oleh Farmakope Herbal Indonesia. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada produksi sinensetin aksesi yang diuji baik berdasarkan perbandingan aksesi maupun kategori aksesi.
      Kata kunci: bunga, ex situ, kumis kucing, Orthosiphon aristatus, sinensetin
      PubDate: 2019-06-26
      DOI: 10.29244/jhi.9.3.206-215
      Issue No: Vol. 9, No. 3 (2019)
       
  • Produksi Pucuk dan Kandungan Flavonoid Tanaman Kolesom pada Cekaman
           Naungan

    • Authors: Rina Ekawati
      Pages: 216 - 223
      Abstract: ABSTRACT
      Waterleaf (Talinum triangulare (Jacq.)Willd) is one of functional vegetable. T. triangulare contains flavonoid and anthocyanin that have function as antioxidant and cardioprotective. This research was aimed to study and provide information about the effect of shading stress on shoot production and flavonoid content of T. triangulare shoot. This experiment was conducted at Teaching Farm Polytechnic of LPP Yogyakarta, from March until September 2016. The experiment was laid out in randomized block design with single factor. There were two treatments that used in this
      experiment (without shading and shading). Each treatment was repeated three times. The result showed that shading 82.51% decrease shoot production of T. triangulare. Shading gave b chlorophyll content and chlorophyll b/a ratio higher than without shading. Shading increase flavonoid total content.
      Keywords: anthocyanin, fenilpropanoid, low light intensity, secondary metabolite, Talinum
      triangulareABSTRAK
      Kolesom (Talinum triangulare (Jacq.) Willd.) merupakan salah satu jenis sayuran fungsional. Tanaman kolesom megandung senyawa flavonoid dan antosianin yang berperan sebagai antioksidan dan cardioprotective. Penelitian ini bertujuan untuk menerangkan respon produksi pucuk dan
      kandungan flavonoid tanaman kolesom pada pemberian naungan. Percobaan ini dilakukan di Politeknik LPP Yogyakarta, dari bulan Maret sampai September 2016. Percobaan ini menggunakan rancangan acak kelompok faktor tunggal yang terdiri dari dua taraf perlakuan, yaitu tanpa naungan dan naungan paranet. Setiap perlakuan diulang tiga kali sehingga total terdapat enam satuan percobaan. Pemberian naungan paranet 82.51% menurunkan produksi pucuk kolesom. Kandungan klorofil b dan nisbah klorofil b/a pucuk kolesom yang ternaungi lebih tinggi dibandingkan dengan tanpa naungan. Naungan meningkatkan kandungan total flavonoid.
      Kata kunci: antosianin, fenilpropanoid, intensitas cahaya rendah, metabolit sekunder, Talinum triangulare
      PubDate: 2019-06-26
      DOI: 10.29244/jhi.9.3.216-223
      Issue No: Vol. 9, No. 3 (2019)
       
 
JournalTOCs
School of Mathematical and Computer Sciences
Heriot-Watt University
Edinburgh, EH14 4AS, UK
Email: journaltocs@hw.ac.uk
Tel: +00 44 (0)131 4513762
 


Your IP address: 3.85.214.125
 
Home (Search)
API
About JournalTOCs
News (blog, publications)
JournalTOCs on Twitter   JournalTOCs on Facebook

JournalTOCs © 2009-