for Journals by Title or ISSN
for Articles by Keywords
help

Publisher: Bogor Agricultural University   (Total: 26 journals)   [Sort by number of followers]

Showing 1 - 26 of 26 Journals sorted alphabetically
Agrokreatif Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat     Open Access  
Albacore : Jurnal Penelitian Perikanan Laut     Open Access  
Buletin Ilmu Makanan Ternak     Open Access  
HAYATI J. of Biosciences     Open Access   (SJR: 0.196, CiteScore: 1)
Indonesian J. of Business and Entrepreneurship     Open Access   (Followers: 1)
J. of Agroindustrial Technology     Open Access  
J. of Regional and Rural Development Planning     Open Access  
Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian J. of Agronomy)     Open Access   (Followers: 1)
Jurnal Akuakultur Indonesia     Open Access   (Followers: 1)
Jurnal Fitopatologi Indonesia     Open Access  
Jurnal Gizi dan Pangan     Open Access   (Followers: 2)
Jurnal Hortikultura Indonesia     Open Access  
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis     Open Access  
Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia     Open Access   (Followers: 2)
Jurnal Ilmu Produksi dan Teknologi Hasil Peternakan     Open Access  
Jurnal Keteknikan Pertanian     Open Access   (Followers: 1)
Jurnal Manajemen & Agribisnis     Open Access   (Followers: 2)
Jurnal Manajemen Hutan Tropika     Open Access   (Followers: 1)
Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan     Open Access   (Followers: 1)
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia     Open Access  
Jurnal Penyuluhan     Open Access  
Marine Fisheries : J. of Marine Fisheries Technology and Management     Open Access   (Followers: 1)
Media Konservasi     Open Access   (Followers: 1)
Media Peternakan     Open Access  
Sodality : Jurnal Sosiologi Pedesaan     Open Access  
Tropical Animal Science J.     Open Access   (Followers: 3)
Similar Journals
Journal Cover
Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management
Number of Followers: 1  

  This is an Open Access Journal Open Access journal
ISSN (Print) 2541-1659 - ISSN (Online) 2087-4235
Published by Bogor Agricultural University Homepage  [26 journals]
  • PARAMETER POPULASI KERAPU SUNU (Plectropomus sp.) DAN OPSI PENGELOLAANNYA
           DI PERAIRAN KARIMUNJAWA

    • Authors: Siska Agustina, Moh Natsir, Menofatria Boer, . Purwanto, Irfan Yulianto
      Pages: 119 - 131
      Abstract: ABSTRACTGroupers are important fisheries resources in the tropic and sub-tropic due to it has high economic value, so that continuously exploitation even in some waters have collapsed and high capture pressureThe study aimed to identify population parameters of coral grouper (Plectropomus sp.) in Karimunjawa waters as basic information for fisheries management. Sampling method using fish landing observation method for fish catches in 14 days every month since 2010-2015 caught in Karimunjawa waters. Growth parameters, mortality, length at first capture, and recruitment pattern analysis using the Rstudio, FiSAT II and spawning potential ratio with LB-SPR analysis. The growth rate is relatively slow with k values ranging from 0.10 to 0.13 and lifespan of 21.93-27.73 years. The stock condition of the coral grouper species of P. leopardus, P. maculatus, and P. Oligacanthus was indicated overfished with E> 0.5 and SPR of 0.14, 0.22, and 0.25. These indicate that the 3 species of Plectropomus sp. in Karimunjawa is at unsustainable levels. Coral grouper type P. areolatus has E=0.45 and SPR=0.52, meaning that this type of grouper has a low exploitation rate and high spawning potential compared to other species coral grouper in Karimunjawa waters.Keywords: coral grouper, fisheries, Karimunjawa waters, stock statusABSTRAKIkan kerapu adalah sumber perikanan penting di daerah tropis dan sub-tropis karena bernilai ekonomis tinggi, sehingga terus dilakukan eksploitasi bahkan beberapa perairan telah mengalami collapse dan tekanan penangkapan yang tinggi. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi parameter-parameter populasi ikan kerapu sunu (Plectropomus sp.) di perairan Karimunjawa sebagai informasi dasar dalam pengelolaan perikanan. Metode pengambilan data menggunakan metode observasi (pengamatan) terhadap hasil tangkapan ikan selama 14 hari dalam satu bulan dari tahun 2010-2015 yang ditangkap di Perairan Karimunjawa. Analisis parameter pertumbuhan, mortalitas, length first capture, dan recruitment pattern menggunakan program Rstudio, FiSAT II dan rasio potensi pemijahan dengan analisis LB-SPR. Laju pertumbuhan tergolong lambat dengan nilai k berkisar 0,10-0,13 dan lifespan 21,93-27,73 tahun. Kondisi stok ikan kerapu sunu jenis P. leopardus, P. maculatus, dan P. oligacanthus diindikasikan mengalami kondisi tangkap lebih dengan E > 0,5 dan SPR sebesar 0,14, 0,22, dan 0,25. Hal ini menunjukkan bahwa penangkapan saat ini untuk 3 spesies kerapu sunu di Karimunjawa berada pada tingkat yang tidak berkelanjutan. Kerapu sunu jenis P. areolatus memiliki E sebesar 0,45 dan SPR 0,52, artinya kerapu jenis ini memiliki tingkat eksploitasi yang rendah dan potensi pemijahan yang tinggi dibandingkan jenis kerapu sunu lainnya di Perairan Karimunjawa.Kata kunci: kerapu sunu, perikanan, Perairan Karimunjawa, status stok
      PubDate: 2018-11-27
      DOI: 10.29244/jmf.9.2.119-131
      Issue No: Vol. 9, No. 2 (2018)
       
  • KRITERIA ALOKASI TANGKAPAN TUNA UNTUK KOMISI TUNA SAMUDERA HINDIA (IOTC)

    • Authors: . Darmawan, Aditya Setianingtyas, M. Fedi A. Sondita
      Pages: 133 - 144
      Abstract: ABSTRACTCatch allocation scheme generally establish based on country’s historic catch data.  Growing membership from coastal states in the Indian Ocean Tuna Commission (IOTC), raise issue about the importance of geographical position in determining a catch allocation criteria.  In 2009, Scientific Committee of IOTC estimated that landings of yellowfin tuna and bigeye tuna had nearly or even exceeded its maximum sustainable yield (MSY).  Therefore, in 2010, IOTC adopted resolution to establish a system and criteria on allocation of catch for yellow fin and bigeye tuna and invited member countries to submit proposal. Indonesia proposes criteria on historic catch, economic dependency toward tuna, coastal state status, bio-ecological significance of the fishing ground, IOTC membership and level of compliance. Japan, which represents the state long-distance fishing, proposes historic catch, sustainable management plan, IOTC membership, level of compliance, financial contribution, contribution to research and data collection, and utilization of allocated quota.Objective of the research is to analyse comparation of both proposals with regards to coastal states’ rights and jurisdiction in accord with UNCLOS 1982 and resource management rights concept in Schlager and Ostrom (1992).  The research used a qualitative approach in which literature and report reviews had been conducted as data collection method, strengthened with depth interviews of resource persons, particularly Indonesia’s delegates and other relevant parties. Data obtained were analyzed descriptively using simulation calculations according to the proposed criteria. Results show that Indonesian proposed criteriaprovide advantages for coastal states, but will be disadvantaged for Japan and other distant fishing countries.  It needs an approach and further deliberation to reach agreement on tuna catch allocation criteria in the IOTC.Keywords: catch allocation criteria, coastal states, management rights ABSTRAKSkema alokasi kuota tangkapan seringkali ditentukan berdasarkan catatan sejarah hasil tangkapan armada tiap negara. Meningkatnya keanggotaan Indian Ocean Tuna Commission (IOTC) yang berasal dari negara pantai di Samudera Hindia, menjadikan kriteria alokasi tangkapan berdasarkan posisi geografis menjadi isu yang sangat penting.  Pada tahun 2009, stok tuna sirip kuning (yellowfin) dan tuna mata besar (bigeye) di Samudera Hindia diduga telah mendekati atau bahkan melebihi perkiraan nilai maximum sustainable yield (MSY) nya.  Oleh sebab itu tahun 2010, IOTC mengeluarkan resolusi untuk menyusun sistem dan kriteria alokasi tangkapan dan meminta usulan proposal. Kriteria yang diusulkan Indonesia meliputi sejarah penangkapan, ketergantungan ekonomi terhadap tuna, posisi negara pantai, signifikansi perairan negara, keanggotaan IOTC dan tingkat kepatuhan. Adapun Jepang yang mewakili negara penangkap ikan jarak jauh mengusung kriteria sejarah penangkapan, rencana perikanan berkelanjutan, keanggotaan IOTC, tingkat kepatuhan, kontribusi keuangan, kontribusi pada riset dan pendataan serta tingkat pemanfaatan alokasi kuota. Penelitian ini bertujuan membandingkan kriteria kedua usulan tersebut dari sudut pandang hak-hak negara pantai dalam konvensi hukum laut internasional dan konsep kepemilikan sumber daya ikan (Schlager dan Ostrom 1992). Penelitian dilakukan melalui pendekatan kualitatif dimana data dan informasi diperoleh melalui kajian pustaka dan wawancara terhadap ketua atau anggota delegasi Indonesia serta pihak-pihak terkait lainnya. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan simulasi perhitungan sesuai kriteria yang diusulkan.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa kriteria yang diusulkan Indonesia lebih menguntungkan bagi Indonesia, tetapi membuat Jepang dan negara penangkap ikan jarak jauh sulit untuk menerimanya. Diperlukan pendekatan dan diskusi lebih lanjut untuk mencapai kesepakatan kriteria alokasi tangkapan tuna di IOTC.Kata kunci: kriteria alokasi tangkapan, negara pantai, hak pengelolaan
      PubDate: 2018-11-27
      DOI: 10.29244/jmf.9.2.133-144
      Issue No: Vol. 9, No. 2 (2018)
       
  • PENENTUAN WARNA DAN INTENSITAS LAMPU LIGHT EMIITTING DIODE (LED) YANG
           OPTIMUM PADA PENANGKAPAN IKAN SELAR KUNING (SELAROIDES LEPTOLEPIS) UNTUK
           PERIKANAN BAGAN TANCAP

    • Authors: Adi Susanto, Mulyono S. Baskoro, Sugeng Hari Wisudo, Mochammad Riyanto, Fis Purwangka
      Pages: 145 - 155
      Abstract: ABSTRACTFishing activity using light emitting diode (LED) on a fixed lift net in Banten Bay is equipped using blue and white LED as its attractor. The colour and intensity of the lighting affects the successful capture of the lift nets. The colour selection is influenced by the interaction of the fish as the target. The objective of this study is to determine the optimum colour and intensity for Yellowstripe Scad (Selaroides leptolepis) based on their behavioural response and light adaptation to different colours of green and white at three different intensities which are low (1.53 x 10-5 – 2.42 x 10-5 W/cm²), medium (5.39 x 10-5 – 7.60 x 10-5 W/cm²), and high (9.03 x 10-5 – 9.42 x 10-5 W/cm²). The behavioural response of the fish was conducted using a tank experiment to measure the preferences zone, the nearest neighbour distance (NND), and behavioural response pattern for different colours and light intensity.  Histological approach for each experimental light colour and intensity was used to investigate the retinal adaptations. The results showed that the schooling position of fish was dominant found in the bright zone (67%) for all colours and intensities. The average NND showed the tendency to gradually decrease with the increased light intensity. While, the cell cone index and swimming speed of fish were slightly increased with increasing intensity. The highest light adaptation was found in white LED at high intensity about 97.52%. The schooling pattern in the green LED indicated that the fish gradually swam closely and stable regularly to the neighbour with increasing light intensity. However, the fish swam widely and randomly in accordance to the increased white LED intensity. This information suggests that the green LED may be regarded as an excellent fishing light to control the behaviour in order to harvest the yellow stripe scad in lift net fishing.Keywords: colour, lift net, light, yellowstripe scad ABSTRAKEfisiensi aktivitas penangkapan ikan dengan menggunakan bagan tancap sangat ditentukan oleh penggunaan cahaya sebagai atraktornya. Ketepatan warna dan intensitas cahaya sangat menentukan keberhasilan operasional bagan tancap.  Penetapan warna dan intensitas cahaya yang tepat sangat dipengaruhi oleh respon yang dihasilkan oleh ikan target. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menentukan warna dan intensitas cahaya lampu LED yang optimum untuk penangkapan ikan selar (Selaroides leptolepis) berdasarkan respons tingkah laku dan adaptasinya terhadap warna dan intensitas cahaya yang berbeda. Penelitian dilakukan secara eksperimental di perairan Teluk Banten dengan target penangkapan adalah ikan selar (Selaroides leptolepis). Penelitian dilakukan dengan menggunakan dua kelompok perlakuan yaitu warna dan intensitas cahaya. Perlakuan warna adalah dengan menggunakan lampu LED berwarna hijau dan putih. Adapun perlakuan intensitas cahaya adalah dengan menggunakan tiga intensitas cahaya yaitu intensitas rendah 1,53 x 10-5 – 2,42 x 10-5 W/cm²; sedang 5,39 x 10-5 – 7,60 x 10-5 W/cm²; tinggi 9,03 x 10-5 – 9,42 x 10-5 W/cm². Penelitian dilakukan dengan melakukan pengamatan terhadap respon ikan target dari famili Engraulidae dan Carangidae. Pengamatan respons tingkah laku dilakukan pada bak pengamatan untuk menentukan zona preferensi, nearest neighbor distance (NND) dan pola tingkah laku ikan terhadap warna dan intensitas berbeda. Adaptasi retina dianalisis secara histologi berdasarkan warna dan intensitas yang berbeda. Berdasarkan hasil penelitian posisi schooling ikan dominan berada pada zona terang (67%) pada seluruh warna dan intensitas lampu LED. Nilai NND cenderung turun seiring dengan peningkatan intensitas cahaya, sedangkan indeks kon dan kecepatan renang semakin tinggi dengan penambahan intensitas cahaya yang diberikan. Nilai adaptasi tertinggi diperoleh pada penggunaan lampu LED putih dengan intensitas tinggi sebesar 97,52%. Pola tingkah laku ikan pada LED hijau semakin teratur dengan jarak semakin dekat seiring meningkatnya intensitas. Namun pola renang ikan cenderung acak dan semakin jauh pada LED putih. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa LED hijau lebih optimum untuk digunakan sebagai lampu pengumpul, pengkonsentrasi dan hauling pada penangkapan ikan selar dengan bagan tancap.Kata kunci: bagan, cahaya, warna, ikan selar (Selaroides leptolepis)
      PubDate: 2018-11-27
      DOI: 10.29244/jmf.9.2.145-155
      Issue No: Vol. 9, No. 2 (2018)
       
  • KOMPOSISI JENIS DAN UKURAN IKAN YANG DITANGKAP PADA RUMPON DENGAN PANCING
           ULUR DI SELAT MAKASSAR

    • Authors: Wayan Kantun, Lukman Darris, Wayan Suma Arsana
      Pages: 157 - 167
      Abstract: ABSTRACTThe objective of the  researcah is to analyze the species composition and size of fish caught at shallow and deep FAD at Makassar strait. In obtaining the data, the research is using survei method carried out for four months, starting April to July 2016 at Makassar strait. The data obtained was descriptively analyzed.  The research result presented that the number of fish caught at shallow FAD 568 fish (45.92%), consisted of skipjack tuna Katsuwonus pelamis (9.86%), Bullet tuna Auxis rochei (8.65%), Yellowfin Tuna Thunnus albacares (11.16%) and Indian Mackerel Rastrelliger kanagurta (16.25%). While 669 fish (54.08%) caught at deep FAD consisted of Katsuwonus pelamis (11.80%), and  Rastrelliger kanagurta (18.35%). The size spread of skipjack tuna (23-42 cm and 29-53 cm), Bullet Tuna (16.5-25.0 cm and 18.5-28.5 cm), Yellowfin Tuna (25-120 cm and 80-160 cm) and Indian mackerel (16-25 cm and 16-25 cm) for shallow and deep FAD respectively. The fish size distribution caught at shallow and deep FAD was skipjack tuna, whereas the  Auxis rochei rochei  and Thunnus albacares had bigger size distribution in deep sea FAD, while the  Rastrelliger kanagurta had relatively similar size distribution in shallow or deep sea FAD.   Keywords:  fish size, fish species composition, hand-line, shallow and deep sea FADABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis komposisi jenis dan ukuran ikan yang ditangkap pada rumpon laut dangkal dan rumpon laut dalam di Selat Makassar. Penelitian ini menggunakan metode survei dalam pengambilan data dan dilakukan selama 4 bulan mulai April-Juli 2016 di Selat Makassar. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan yang ditangkap pada rumpon laut dangkal berjumlah 568 ekor (45,92%), terdiri dari ikan cakalang 9,86%, tongkol lisong 8,65%, tuna madidihang 11,16% dan kembung lelaki 16,25%. Ikan yang ditangkap pada rumpon laut dalam berjumlah 669 ekor (54,08%), terdiri dari ikan cakalang 11,80%, tongkol lisong 12,21%, tuna madidihang 11,72% dan kembung lelaki 18,35%. Sebaran ukuran ikan cakalang berkisar 23-42 cm dan 29-53 cm,  tongkol lisong 16,5-25,0 cm dan 18,5-28,5 cm, tuna madidihang berkisar 25-120 cm dan 80-160 cm serta ikan kembung lelaki berkisar 16-25 cm dan 16-25 cm masing-masing untuk rumpon laut dangkal dan rumpon laut dalam. Distribusi ukuran ikan yang ditangkap pada rumpon laut dangkal dan rumpon dalam dari jenis ikan cakalang, ikan tongkol lisong dan tuna madidihang memiliki distribusi ukuran lebih besar pada rumpon laut dalam, sedangkan ikan kembung lelaki baik pada rumpon dangkal dan dalam memiliki distribusi ukuran relatif sama.Kata kunci:  ukuran ikan, komposisi jenis ikan, pancing ulur, rumpon dangkal dan dalam
      PubDate: 2018-11-27
      DOI: 10.29244/jmf.9.2.157-167
      Issue No: Vol. 9, No. 2 (2018)
       
  • ANALISIS EFISIENSI KINERJA RANTAI PASOK IKAN TUNA PADA CV. TUAH BAHARI DAN
           PT. NAGATA PRIMA TUNA DI BANDA ACEH

    • Authors: Teuku Athaillah, Ahmad Humam Hamid, . Indra
      Pages: 169 - 181
      Abstract: ABSTRACTTuna fish is one of the easily perishable consumed food. Therefore before it reaches the consumers a well-designed and well-prepared supply management system is required The objectives of the research are to analyze the product, financial and information flows of tuna fish chain of supply in Banda Aceh through analyzing the performance efficiency of tuna fish supply chain performance at CV Tuah Bahari and PT Nagata Prima Tuna in Banda Aceh. Descriptive analysis is the method used to analyze the product, financial and information flows. Supply Chain Operation Reference (SCOR).  Is the method used to measure the supply chain performance efficiency. SCOR preceded with hierarchy preparation based on the SCOR process, i.e. plan, source, make, delivery and return with common dimensions i.e. reliability, responsiveness, flexibility, cost and asset.  The supply chain performance efficiency measurement in this research is also supported by the Analytical Hierarchy Process  (AHP) and  Objective Matrix (OMAX) methods  The result of the research pointed out that the tuna fish product and information flow at CV Tuah Bahari and PT Nagata Prima Tuna is not optimal yet, while the financial flow is optimal. In the outcome of CV Tuah Bahari performance efficiency, 4 KPI (Key Performance Indicator) is at Poor category, while at PT Nagata Prima 9 KPI are categorized as Poor. The total performance value of the company is at Average category, with total index value of 62.9 and PT Nagata Prima Tuna 52.7.   Keywords: performance efficiency, SCOR, supply chain, tuna fish ABSTRAKIkan tuna tergolong bahan pangan yang memiliki karakteristik mudah rusak. Oleh karena itu, untuk sampai ke konsumen diperlukan suatu sistem manajemen rantai pasok yang baik dan memadai. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis aliran produk, aliran keuangan dan aliran  informasi pada rantai  pasok ikan tuna di Banda Aceh, dengan menganalisis efisiensi kinerja rantai  pasok ikan tuna pada CV. Tuah Bahari dan PT Nagata Prima Tuna di Banda Aceh. Metode yang digunakan untuk menganalisis aliran produk, aliran keuangan, dan aliran informasi adalah analisis deskriptif. Metode yang digunakan untuk mengukur efisiensi kinerja rantai pasok adalah Supply Chain Operation Reference (SCOR). SCOR diawali dengan pembuatan hierarki awal yang didasarkan pada proses dalam SCOR, yaitu plan, source, make, delivery, dan return dengan dimensi umum, yaitu reliability, responsiveness, flexibility, cost, dan asset. Pengukuran efisiensi kinerja rantai pasok dalam penelitian ini juga didukung dengan metode Analytical Hierarchy Process  (AHP) dan Objective Matrix (OMAX). Hasil penelitian menunjukkan bahwa aliran produk dan aliran informasi rantai pasok ikan tuna di CV. Tuah Bahari dan PT. Nagata Prima Tuna belum optimal, sedangkan aliran keuangan sudah optimal. Hasil pengukuran efisiensi kinerja CV. Tuah Bahari, 4 KPI (Key Performance Indicator) berada pada kategori Poor, sementara pada PT Nagata Prima Tuna terdapat 9 KPI berada pada kategori Poor. Total nilai performansi kedua perusahaan berada pada katagori Average, dengan nilai Index Total CV. Tuah Bahari 62.9 dan PT. Nagata Prima Tuna 52.7.Kata kunci: efisiensi kinerja, SCOR, rantai pasok, ikan tuna
      PubDate: 2018-11-27
      DOI: 10.29244/jmf.9.2.169-181
      Issue No: Vol. 9, No. 2 (2018)
       
  • PENILAIAN JENIS MULTIGEAR PADA USAHA PERIKANAN TANGKAP SKALA KECIL DI
           PERAIRAN SUNGSANG KABUPATEN BANYUASIN SUMATERA SELATAN

    • Authors: . Fauziyah, Fitri Agustriani, Bakti Satria, Apriansyah Putra, Welly Nailis
      Pages: 183 - 197
      Abstract: ABSTRACT  Multigear has been commonly used in small-scale fishery activities in Sungsang waters. The aim of using the multigear is to enable the fishermen carry out their activities at every catching season. Inaccurate and inefficient use of the multigears are the concern that will present inefficiency or even conflict among the fishermen.  Therefore the research was carried out with the objective to determine the best type of a multigear that will be used in the small scale fishery at Sungsang waters based on economic, productivity, social and biological aspects. Multiple Criteria Analysis (MCA) is the method of assessment on the quality type of the multigear.  The outcome of the research presented that the best quality type of the multigear  is 1) the multigear type with the combination of trammel net  and drift longline; 2) the multigear type with the combination of drift gillnet (mesh, 3 inches) and drift long line; 3) the multigear type with the combination of drift gillnet (mesh, 2 inches) and trammel nets.  Key Words: MA analysis, small-scale fishery, the best quality multigear,ABSTRAKMultigear telah banyak digunakan pada usaha perikanan tangkap skala kecil di Perairan Sungsang. Tujuan penggunaan multigear adalah dikarenakan agar nelayan dapat terus melakukan aktivitas penangkapan dalam setiap setiap musim penangkapan.  Penggunaan multigear yang tidak tepat dan bijak, dikhawatirnya malah akan menimbulkan inefisiensi atau bahkan menimbulkan konflik antar nelayan. Oleh kerana itu, penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menentukan jenis multigear unggulan pada usaha perikanan tangkap skala kecil di Perairan Sungsang berdasarkan aspek ekonomi, aspek produktivitas, aspek sosial, dan aspek biologi. Penilaian keunggulan jenis multigear menggunakan metoda Multiple Criteria Analysis (MCA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis multigear unggulan adalah: 1) jenis multigear dangan kombinasi jaring udang dan rawai hanyut;  2)  jenis multigear dangan kombinasi jaring insang hanyut (mesh, 3 inci) dengan rawai hanyut (umpan), dan 3) jenis multigear dengan kombinasi jaring insang hanyut (mesh, 2 inci) dan jaring udang. Kata kunci:  MCA analysis, perikanan skala kecil, multigear unggulan
      PubDate: 2018-11-27
      DOI: 10.29244/jmf.9.2.183-197
      Issue No: Vol. 9, No. 2 (2018)
       
  • RANCANG BANGUN DAN UJI COBA ALAT PEMANGGIL IKAN “PIKNET” UNTUK ALAT
           TANGKAP JARING INSANG

    • Authors: Nurul Rosana, . Suryadhi, Safriudin Rifandi
      Pages: 199 - 207
      Abstract: ABSTRACTGillnet is one of the fishing gear used by Indonesian fishermen especially in East Java, with the target of small pelagic fish. The use of gillnet needs an innovation which can help fishermen to increase their catchment, namely by using Fish Aggregation Device (FAD). The objective of the research is to make a fish caller device model using sound waves that are operated on the gillnet and looking its effectiveness by conducting trials in the water. The fish caller is made using sound waves at the frequency between 500-1000 Hz, and named as Piknet (Pemanggil ikan gillnet).  The Piknet dimension after waterproof packed  is 20 cm long x 8.5 cm wide x 6.5 cm high.   The type of fish caught in this research was chicken feathers (Thryssa setirostris) with an average weight of 27.6 kg/per trip in piknet trial while without using Piknet is 17.7 kg/trip. The result of paired t-test analysis presented that there was a significant value of 0.016.   Keywords: sound, frequency, gillnet, piknetABSTRAKJaring insang adalah jenis alat tangkap ikan yang digunakan oleh nelayan di Indonesia dan Jawa Timur khususnya, dengan target tangkapan ikan pelagis kecil.  Penggunaan alat tangkap jaring insang memerlukan inovasi yang dapat membantu nelayan untuk meningkatkan hasil tangkapan, yaitu dengan menggunakan alat bantu pengumpul ikan.  Tujuan penelitian adalah membuat model alat pemanggil ikan berbasis gelombang bunyi yang dioperasikan pada jaring insang dan mengetahui efektivitasnya dengan melakukan uji coba di perairan.  Alat pemanggil ikan dibuat dengan menggunakan gelombang bunyi berfrekuensi antara 500-1000 Hz, dan diberi nama Piknet (Pemanggil ikan gillnet).  Dimensi Piknet setelah dikemas kedap air adalah memiliki panjang 20 cm x lebar 8,5 cm x tinggi 6,5 cm. Jenis ikan yang diperoleh pada uji coba ini adalah bulu ayam (Thryssa setirostris) dengan rata-rata jumlah hasil tangkapan 27,6 kg/trip, sedangkan tanpa menggunakan “Piknet” sebesar 17,7 kg/trip.  Hasil analisis uji-t berpasangan diperoleh hasil nilai signifikansi sebesar 0.016..Kata kunci: bunyi, frekuensi, jaring insang, piknet
      PubDate: 2018-11-27
      DOI: 10.29244/jmf.9.2.199-207
      Issue No: Vol. 9, No. 2 (2018)
       
  • DINAMIKA INDUSTRI RAWAI TUNA DI PELABUHAN BENOA

    • Authors: Fathur Rochman, Irwan Jatmiko, Zulkarnaen Fahmi
      Pages: 209 - 220
      Abstract: ABSTRACTThis study presents information about the dynamics of industrial scale tuna longline development in Indonesia, especially tuna longline fisheries in the Eastern Indian Ocean. This study uses a descriptive method based on tuna longline enumeration data landed at Benoa port from 2012 to 2015. Benoa is one of the three main fishing ports in Indonesia, besides Nizam Zachman (Jakarta) and Cilacap (Central Java). It contributes the largest number of tuna catches to 60% of the total long-scale tuna catch industry in the Indian Ocean. This makes Benoa as the main barometer of industrial tuna fisheries in Indonesia. Industrial scale of tuna longline fisheries activities have dropped significantly to 76% from 2004 to 2015. Highest decline occurred in 2004 to 2006 by 43% followed by 2009 to 2010 at 41% and 2014 to 2015 at 19%. Enumeration data coverage in Benoa port is about 57% to 64% of total ship landing. Catch dominated by export products followed by local quality and bycatch products. The catch composition is dominated by four tuna species (BET, YFT, SBT and ALB) which reach 88% of the total catch followed by bycatch of 6.23% and fish with beaks of 5.46%. In period 2012 to 2014, fishing efforts are directly proportional to the number of ships and tuna production, but in 2015, capture efforts, CPUE and catch production increased along with the decline in the number of ships operating.Keyword: Benoa Port, enumeration program, tuna longlineABSTRAKStudi ini menyajikan informasi tentang dinamika perkembangan rawai tuna skala  industri di Indonesia khususnya perikanan rawai tuna di Samudera Hindia Bagian Timur. Studi ini menggunakan metode deskriptif yang berbasis data enumerasi perikanan rawai tuna yang didaratkan di Pelabuhan Benoa tahun 2012 sampai dengan 2015. Pelabuhan Benoa merupakan satu dari tiga pelabuhan perikanan utama di Indonesia disamping Nizam Zachman (Jakarta) dan Cilacap (Jawa Tengah). Pelabuhan Benoa menyumbangkan jumlah tangkapan ikan tuna terbesar mencapai 60% dari total tangkapan rawai tuna skalaindustri di Samudera Hindia. Hal ini menjadikan Pelabuhan Benoa sebagai barometer utama perikanan tuna skala industri di Indonesia. Kegiatan perikanan rawai tuna skala industri telah menurun secara signifikan hingga 76% dari 2004 sampai 2015. Penurunan tertinggi terjadi pada 2004 sampai 2006 sebesar 43% diikuti 2009 hingga 2010 sebesar 41% dan 2014 sampai 2015 sebesar 19%. Cakupan data enumerasi di Pelabuhan Benoa adalah 57% sampai 64% dari total pendaratan kapal. Hasil tangkapan didominasi oleh produk ekport diikuti oleh produk kualitas lokal dan produk hasil sampingan. Komposisi hasil tangkapan didominasi oleh empat spesies tuna (BET, YFT, SBT dan ALB) yang mencapai 88% dari total tangkapan diikuti oleh hasil tangkapan sampingan sebesar 6,23% dan ikan berparuh sebesar 5,46%. Pada periode 2012 sampai 2014, upaya penangkapan berbanding lurus dengan jumlah kapal dan produksi tuna namun pada tahun 2015 upaya penangkapan, CPUE dan produksi  hasil tangkapan  meningkat seiring dengan turunnya jumlah kapal yang beroperasi.Kata kunci: Pelabuhan Benoa, program enumerasi, rawai tuna
      PubDate: 2018-11-27
      DOI: 10.29244/jmf.9.2.209-220
      Issue No: Vol. 9, No. 2 (2018)
       
  • HASIL TANGKAPAN SAMPINGAN (BYCATCH DAN DISCARD) PADA ALAT TANGKAP GOMBANG
           (FILTER NET) SEBAGAI ANCAMAN BAGI KELESTARIAN SUMBERDAYA PERIKANAN

    • Authors: . Nofrizal, Romie Jhonnerie, Alit Hindri Yani, . Alfin
      Pages: 221 - 233
      Abstract: ABSTRACTFilter net has a mesh size in small size pockets of the net. This allows filter net has the potential to be non-selective fishing gear about the fish size and the target species catch. If the fishing gear allowed, hence its existence will ultimately have a negative impact on the sustainability of fisheries resources, especially in coastal waters. The objective of this research is to calculate compositions and proportions of the main catch, bycatch and discard of the filter net. It is expected by knowing  the composition and proportion of the main catch, bycatch and discard can provide an overview  of the pressure on the stock and sustainability of fisheries resources in  waters where it is operated. This research was used survey method. A series of survey activities was conducted directly in the field to identify and count species of filter net‘s fishing catches. Based on the main catch, bycatch and discard of the filter net, it shows that Sergetes similis is the dominant species caught bythe filter net(98.455%).  The main catch for Escualosa thoracata reaches 1.354%. Besides, the main catches that were caught were Metapenaus monocerus, Parapenaeopsis sp, Panulirus sp and Paneeus monodon with the catch percentage ranging from 0.011 to 0.024%. Percentage of by-catches reached 0.04-0.00004% of the 24 species caught and the catch removed was around 0.001-0.0005% of the 3 species caught.Keywords: bycatch, discard, filter net, fisheries resources, main catchABSTRAKGombang memiliki ukuran mata jaring pada kantong berukuran kecil. Hal ini memungkinkan alat tangkap gombang berpotensi menjadi alat tangkap yang tidak selektif terhadap ukuran ikan dan jenis yang menjadi sasaran tangkapannya. Apabila alat tangkap ini dibiarkan, maka keberadaannya pada akhirnya akan memberikan dampak yang negatif terhadap keberlanjutan sumberdaya ikan terutama di perairan pantai. Tujuan penelitian ini adalah untuk menghitung komposisi dan proporsi hasil tangkapan utama (main catch), hasil tangkapan sampingan (bycatch) dan hasil tangkapan yang dibuang (discard).Diharapkan dengan mengetahui komposisi dan proporsi hasil tangkapan utama, sampingan dan yang dibuang dapat memberikan gambaran tentang tekanan terhadap stok dan kelestarian sumberdaya perikanan di perairan dimana gombang dioperasikan.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei.Serangkaian aktivitas survei dilakukan secara langsung di lapang untuk mengidentifikasi dan menghitung jenis spesies yang tertangkap oleh alat tangkap gombang.Berdasarkan persentase hasil tangkapan utama, sampingan dan buangan per jenis, menunjukkan  Sergetes similis merupakan spesies yang dominan tertangkap oleh alat tangkap gombang (98,455%). Hasil tangkapan utama untuk Escualosa thoracata mencapai 1,354%. Selain itu hasil tangkapan utama yang tertangkap ialah Metapenaus monocerus, Parapenaeopsis sp, Panulirus sp dan Paneeus monodon dengan persentase hasil tangkapan berkisar 0,011-0,024%. Persentase hasil tangkapan sampingan mencapai 0,04-0,00004% dari 24 spesies yang tertangkap dan hasil tangkapan yang dibuang berkisar 0,001-0,0005% dari 3 spesies yang tertangkap.Kata kunci: bycatch, discard, gombang, sumberdaya perikanan, main catch
      PubDate: 2018-11-27
      DOI: 10.29244/jmf.9.2.221-233
      Issue No: Vol. 9, No. 2 (2018)
       
  • PEMULIHAN STOK TANGKAPAN PERIKANAN TERIPANG DI KEPULAUAN SERIBU: SUATU
           PENDEKATAN EKOSISTEM

    • Authors: Am Azbas Taurusman, Dadang Shafrudin, Tri Wiji Nurani, Didin Komarudin
      Pages: 235 - 244
      Abstract: ABSTRACTKepulauan Seribu known as Thousand Islands is one of the sea cucumbers producing centers in Indonesia. Sea cucumber has been considered as one of the fishery export commodities with high selling prices.  In the last two decades, the catch has been indicating a serious declining.  The high intensity of catching and habitat degradation are two main factors that threaten the sustainability of sea cucumber fisheries.  In order to recovery the stock, a restocking program in frame of ecosystem approach to fishery has been piloted in Thousand Islands, Jakarta. This research covers the bio-technical aspects of sea cucumber fisheries in an integrated manner with the ecosystem approach. There were several steps in conducting the restocking study, namely the study of habitat status and feasibility, preparation of maintenance sites for biota, seed spreading, monitoring and evaluation. A well coordination and collaboration with  local institutions (Kepulauan Seribu National Park) was needed to build previously. The results of the study indicated that efforts to restore sea cucumber fisheries should be integrated with conservation of seagrass ecosystems which as sea cucumbers habitat and a proper maintenance system.  Eight species of sea cucumbers, consist of 4 species of Holothuridae (Bohadschia bivittata, Actinopyga lecanora, Holothuria leucospilota, H. scabra), and 4 species Stichopodidae (Stichopus herrmanni, S. ocellatus, S. horren, S. monotuberculatus) have been identified and restocking in this area. The released biota can live and grow well and breed at the research site. The construction of seagrass-based sea cucumber ecosystem restocking system has become one of the new tourist attractions integrated with the Thousand Islands National Park tourist facilities, which are very attractive to visitors.Keywords: ecosystem approach fishery managemen (EAFM), restocking, sea cucumbers fishery, seagrass ecosystemABSTRAKKepulauan Seribu merupakan salah satu sentra penghasil teripang di Indonesia. Teripang merupakan salah satu komoditi ekspor perikanan dengan harga jual yang tinggi. Dalam dua dekade terakhir, tangkapan teripang telah menunjukkan penurunan tajam.  Tingginya intensitas penangkapan dan degradasi habitat merupakan dua faktor utama yang mengancam keberlanjutan perikanan teripang. Salah satu upaya untuk pemulihan stok teripang melalui pendekatan ekosistem telah diujicobakan di wilayah Kepulauan Seribu, Jakarta. Tulisan ini mencakup aspek bio-teknis upaya pemulihan perikanan teripang secara terintegrasi dengan pendekatan ekosistem.  Upaya pemulihan dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu studi status dan kelayakan habitat, penyiapan wadah pemeliharaan biota, penebaran benih, monitoring dan evaluasi. Sebelum kegiatan dilakukan, terlebih dahulu melakukan koordinasi dengan institusi lokal (Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu). Hasil kajian menunjukkan bahwa upaya pemulihan  perikanan teripang harus diselaraskan dengan upaya konservasi ekosistem lamun sebagai habitat teripang dan sistem pemeliharaan yang layak secara teknis. Delapan spesies teripang, terdiri dari 4 spesies Holothuridae (Bohadschia bivittata, Actinopyga lecanora, Holothuria leucospilota, H. scabra), dan 4 species Stichopodidae (Stichopus herrmanni, S. ocellatus, S. horren, S. monotuberculatus) telah terindentifikasi dan di-restocking di lokasi ini. Biota yang dilepas dapat hidup dan tumbuh dengan baik dan berkembangbiak di lokasi penelitian. Konstruksi sistem restocking teripang berbasis ekosistem lamun telah menjadi salah satu obyek wisata baru terintegrasi dengan fasilitas wisata Taman Nasional Kepulauan Seribu, yang sangat menarik bagi pengunjung.Kata kunci: pendekatan ekosistem (EAFM), restocking, perikanan teripang, ekosistem lamun
      PubDate: 2018-11-27
      DOI: 10.29244/jmf.9.2.235-244
      Issue No: Vol. 9, No. 2 (2018)
       
 
 
JournalTOCs
School of Mathematical and Computer Sciences
Heriot-Watt University
Edinburgh, EH14 4AS, UK
Email: journaltocs@hw.ac.uk
Tel: +00 44 (0)131 4513762
Fax: +00 44 (0)131 4513327
 
Home (Search)
Subjects A-Z
Publishers A-Z
Customise
APIs
Your IP address: 54.163.20.123
 
About JournalTOCs
API
Help
News (blog, publications)
JournalTOCs on Twitter   JournalTOCs on Facebook

JournalTOCs © 2009-