for Journals by Title or ISSN
for Articles by Keywords
help
Journal Cover
Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management
Number of Followers: 1  

  This is an Open Access Journal Open Access journal
ISSN (Print) 2541-1659 - ISSN (Online) 2087-4235
Published by Bogor Agricultural University Homepage  [24 journals]
  • Daftar Isi

    • Authors: Yopi Novita
      PubDate: 2018-02-02
      DOI: 10.29244/jmf.8.2.%p
      Issue No: Vol. 8, No. 2 (2018)
       
  • REVIEW INDIKATOR DARI INDEK PSA NOAA UNTUK IKAN PELAGIS KECIL (TEMBANG:
           Sardinella sp.; Famili Clupeidae) DAN IKAN DEMERSAL (KURISI: Nemipterus
           sp.; Famili Nemipteridae)

    • Authors: . Yonvitner, Isdradjad Setyobudiandi, Ahmad Fachrudin, Ridwan Affandi, Etty Riani, Nurfitri Triramdani
      Pages: 123 - 135
      Abstract: ABSTRACTFishing activity have been caused change of fish's structure community and stock depletion.  In the future, this phenomenon also give impact to disturbance the stock sustainability. The study of vulnerability to be relevant before decide that stock has been depleted. The vulnerability study that has been developing based on productivity indicator, particularly for big pelagic fish. This research was conducted from any sources data that relevant to review indicator performance based on statistic approach with mean and confidence interval. PSA parameter for Sardinella and Nemipterus differ from others. This data relevant to apply as reference point for tropical small pelagic fish.Keywords: demersal, indicator, pelagic, performance, PSA
      ABSTRAKAktifivitas penangkapan terus mendorong terjadinya perubahan struktur komunitas ikan yang dapat menyebabkan penurunan stok dan keberlanjutan. Kajian kerentanan menjadi relevant sebelum memutuskan bahwa stok tersebut diambang penurunan. Kajian kerentanan yang dikembangkan selama ini adalah kelompok ikan pelagis besar.  Kajian ini dilakukan untuk merevisi indikator produktivitas sehingga bisa adaptif bagi ikan pelagis kecil. Data dikumpulkan dari berbagai sumber data sekunder untuk kemudian diolah secara statistik dengan pendekatan nilai rataan (mean) dan confidence interval untuk menentukan batas atas dan batas bawah. Hasil kajian menunjukkan bahwa parameter PSA untuk ikan tembang secara umum berubah dari kriteria PSA sebelumnya, begitu juga dengan ikan kurisi. Hasil modifikasi ini diharapkan dapat digunakan sebagai reference point bagi ikan pelagis kecil dalam analisis PSA yang lebih tepat bagi ikan ikan tropis.Kata kunci: demersal, indikator, pelagis, performa, PSA
      PubDate: 2018-02-02
      DOI: 10.29244/jmf.8.2.123-135
      Issue No: Vol. 8, No. 2 (2018)
       
  • MODEL MANAJEMEN RANTAI PASOK INDUSTRI PERIKANAN TANGKAP BERKELANJUTAN DI
           PROPINSI MALUKU (The Ideal Model of Supply Chain Management of
           Sustainability Industrial Capture fisheries in Maluku Province)

    • Authors: Siti Chairiyah Batubara, M. Syamsul Maarif, . Marimin, Hari Eko Irianto
      Pages: 137 - 148
      Abstract: ABSTRACTDesigning and managing Industrial capture fisheries Supply Chain is complex and its faces socially bound uncertainties such as poor collaboration, communication and information sharing. Such complexity cannot be reduced through quantitative supply chain design and management techniques.  The aim of this study was design an industrial capture fisheries supply chain in Maluku Province using Soft System Methodology. Multi Dimensional Scaling (MDS)and SCOR was applied in analyzing situational conditions related to the sustainability and performance of industrial capture fisheries. Analysis on capture fisheries shows in less sustainable category (43.91)and  the performance of both fishermen and company indicate an excellent and good grade. SSM analysis generated root definitions: Ministry of Marine Fisheries, Department of Marine, regional institution and stakeholder of the supply chain (O) realize the sustainable fishing industry and implementation of reliable activities in the fisheries sector and competitive globally (W) which integrates all the units along supply chain and coordinate the flow of materials, information and finance ranging from such aspects : production, downstream industries (handling and processing), up to marketing (T) of the Fishermen, industries processing (C) on the entire supply chain through  effective and efficient mechanism (E) as well as coordination both center and regional institution (A) related to quality and standardization of fishery products, distribution, infrastructure, data and information on fisheries (T)". The supply chain management of sustainable fishing industry model was developed by 20 activties. Improvement of Industrial capture fisheries supply chain in Maluku Province can be reached by doing activities within relevant system.Keywords: industrial capture fisheries, Multi Dimensional Scalling, SCOR, supply chain, SSM ABSTRAKMerancang manajemen rantai pasok industri perikanan tangkap merupakan hal yang kompleks. Penelitian ini bertujuan mendisain model manajemen rantai pasok industri perikanan tangkap yang ideal di Propinsi Maluku. Soft System Methodology (SSM) digunakan sebagai pendekatan kajian yang didukung oleh Multi Dimensional Scalling (MDS) untuk mengukur keberlanjutan industri perikanan tangkap dan Supply Chain Operation Reference(SCOR) untuk menganalisis kinerja industri perikanan tangkap.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberlanjutan industri perikanan tangkap berada pada kategori kurang berkelanjutan dan kinerjanelayan dan perusahaan berada pada kategori sangat baik dan baik. Analisis SSM menghasilkan root definition “Kementerian Kelautan Perikanan, Dinas Kelautan, PEMDA dan pelaku rantai pasok (O) mewujudkan industri perikanan tangkap yang berkelanjutan dan terselenggaranya aktivitas  di sektor perikanan yang andal dan mempunyai daya saing secara global (W) yang mengintegrasikan  semua unit dalam rantai pasok dan mengkoordinasikan  aliran material, informasi dan keuangan mulai dari aspek produksi, industri hilir (handling dan processing), hingga ke pemasaran (T) dari para Nelayan, industri-industri pengolah (C) pada seluruh rantai pasok  melalui mekanisme yang efektif dan efisien (E) serta koordinasi kelembagaan pusat dan daerah (A) terkait mutu dan standardisasi produk perikanan, distribusi, sarana prasarana, infrasrtuktur serta data dan informasi perikanan (T)”. Model manajemen rantai pasok industri perikanan tangkap di Propinsi Maluku dibangun atas 20 aktivitas. Perbaikan rantai pasok industri perikanan tangkap dapat dicapai dengan melakukan aktivitas-aktivitas dalam model konseptual yang dibangun.Kata kunci:  industri perikanan tangkap, Multi Dimensional Scalling, SCOR, rantai pasok,SSM
      PubDate: 2018-02-02
      DOI: 10.29244/jmf.8.2.137-148
      Issue No: Vol. 8, No. 2 (2018)
       
  • STRATEGI PERENCANAAN IMPLEMENTASI SISTEM INFORMASI MANAJEMEN PENGOLAHAN
           DATA PENANGKAPAN IKAN DI KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

    • Authors: Pandu Saptoriantoro, . Mustaruddin, John Haluan
      Pages: 149 - 162
      Abstract: ABSTRACTMinistry of Marine Affairs and Fisheries Republic of Indonesia has a management information system on data processing of fishing surveillance. The information system can be useful if the system is works successfully. This research aim to formulate a strategic plan for the successful implementation of management information systems of data processing fisheries resources surveillance. Elements of the system on strategy was condected by using interpretative structural modeling (ISM), which is a strategic planning technique. The results show for the implementation of the model, there are seven elements of the system that need to be considered. Seven elements of the system with each sub element key, namely Directorat General PSDKP as affected sectors, support policies / regulations, conflict of interest between units echelon 1, up date data licensing continuity and fixed information technology (IT) expert. The implementation of fisheries resources surveillance program by IT based, mostly regional operators started to use information systems surveillance of fishery resources, increased access to data and information across echelons in MMAF and involvement MMAF as agencies involved in the success of the program.Keywords: Directorate of fisheries resources surveillance and management, information system,        implementing strategy, ISMABSTRAKKementerian Kelautan dan Perikanan  memiliki sistem informasi manajemen pengolahan data pengawasan penangkapan ikan. Sistem informasi tersebut berguna jika dalam implementasi sistem berhasil dengan baik. Penelitian  ini  bertujuan merumuskan rencana strategis untuk keberhasilan implementasi sistem informasi manajemen pengolahan data pengawasan perikanan tersebut. Strategi penerapan implementasi sistem informasi dilakukan dengan teknik interpretative structural modelling (ISM). Elemen sistem pada strategi perencanaan implementasi sistem informasi, yaitu Direktorat jenderal Pengawasan Sumberdaya Kelautan dan Prikanan (PSDKP) sebagai sektor yang terpengaruh, dukungan kebijakan/peraturan, up datedata perizinan yang kontinuitas dan tenaga ahli Teknologi Informasi (IT), terlaksananya program pengawasan sumber daya perikanan berbasis IT, sebagian besar operator daerah mulai menggunakan sistem informasipengawasan sumber daya perikanan, peningkatan akses data dan informasi lintas eselon lingkup Kementerian Kelautan Perikanan (KKP) dan  keterlibatan Kementerian Kelautan dan Perikanan sebagai lembaga yang terlibat dalam keberhasilan program.Kata kunci:  Dit. PPSDP, Sistem Informasi, Strategi implementasi, ISM
      PubDate: 2018-02-02
      DOI: 10.29244/jmf.8.2.149-162
      Issue No: Vol. 8, No. 2 (2018)
       
  • PERSEPSI DAN KEPATUHAN NELAYAN TANJUNGBALAI ASAHAN SUMATERA UTARA DALAM
           MENDUKUNG PERIKANAN TANGKAP YANG BERKELANJUTAN (Fishermen’s Perception
           and Compliance to Support Sustainable Capture Fisheries in Tanjungbalai
           Asahan, North Sumatra)

    • Authors: Benardo Nababan, Eko Sri Wiyono, . Mustaruddin
      Pages: 163 - 174
      Abstract: ABSTRACTThe government’s programs on the sustainability of fisheries management had not been fully supported by fishermen. We had conducted a research in Tanjungbalai Asahan, North Sumatra to understand the fishermen’s perception on the criteria’s of environmental friendly fishing gears, perception about the exsistence of fisheries resources, and the compliance to the rule. The results showed that the fishermen who use selective gears (such as: traps and dregdes) had better understanding on the criteria’s of environmentally friendly fishing gears than the fishermen who use unselective gears (such as: trawls and  pushnets). The fishermen who use gillnets scored the exsistence of fisheries resources lower than others. The fishermen who use trawls and pushnets had the lowest compliance, while traps had the highest. There was a correlation between fisherman’s perception (about the criteria’s of environmentally friendly fishing gear and about the sustainable fisheries)  and the compliance to the rule.Keywords: Code of Conduct for Responsible Fisheries, Compliance, Perception, Sustainable, Tanjungbalai AsahanABSTRAKProgram pemerintah dalam pengelolaan perikanan yang berkelanjutan belum sepenuhnya mendapat respon yang baik dari nelayan. Nelayan banyak yang tidak mematuhi aturan yang berlaku, seperti; penggunaan alat tangkap yang dilarang, tidak memiliki dokumen perizinan, dan tidak melaporkan hasil tangkapan. Penelitian telah dilakukan di Tanjungbalai Asahan, Sumatera Utara yang bertujuan untuk mengetahui persepsi nelayan terhadap kriteria alat penangkap ikan yang ramah lingkungan menurut Code of Conduct for Responsible Fisheries (CCRF), persepsi terhadap keberadaan sumberdaya perikanan, dan kepatuhan terhadap aturan yang berlaku. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nelayan yang menggunakan alat tangkap yang lebih selektif (seperti: bubu dan penggaruk) menilai kriteria alat penangkap ikan yang ramah lingkungan lebih baik daripada nelayan yang menggunakan alat tangkap yang kurang selektif (seperti: pukat tarik dan pukat dorong). Nelayan yang menggunakan jaring insang menilai keberadaan sumberdaya perikanan dengan skor yang lebih rendah daripada nelayan lainnya. Nelayan pukat tarik dan pukat dorong memiliki kepatuhan yang paling rendah, sedangkan nelayan bubu memiliki kepatuhan yang paling tinggi. Terdapat korelasi antara persepsi nelayan (persepsi terhadap kriteria alat tangkap ramah lingkungan dan persepsi terhadap keberadaan sumberdaya perikanan) dengan kepatuhan terhadap aturan.Kata kunci:         Tata Laksana Perikanan Bertanggungjawab, Kepatuhan, Persepsi, Berkelanjutan, Tanjungbalai Asahan
      PubDate: 2018-02-02
      DOI: 10.29244/jmf.8.2.163-174
      Issue No: Vol. 8, No. 2 (2018)
       
  • HANG-IN RATIO GILLNET DASAR DAN PENGARUHNYA TERHADAP KARAKTERISTIK HASIL
           TANGKAPAN LOBSTER (Panulirus SPP.) DI PALABUHANRATU JAWA BARAT (Hang-in
           Ratio Effect of Bottom Gillnet on Characteristic of Lobster (Panulirus
           spp.) in the Palabuhanratu, West Java)

    • Authors: Liya Tri Khikmawati, Sulaeman Martasuganda, Fedi Alfiadi Sondita
      Pages: 175 - 186
      Abstract: ABSTRACTHang-in ratio (HR) will determine the characteristics of lobster caught by bottom gillnet, e.g number, size (weight and length) and quality. Higher hang-in ratio means more net material needed per length unit to develop a set of bottom gillnet.  At the same time, higher hang-in ratio may increase the probability of lobster being entangled, so it can decrease the quality of the catches. The purpose of this study was to determine the optimum design of bottom gillnet in Palabuhanratu, West Java by considering the effect of different hang-in ratio (52%; 41% and 29%) on the characteristics of lobster caught, easier of releasing the catches from the net, and the material needed. A field work was carried out to perform an experimental fishing consisted of 23 fishing trips during October to November 2016. Statistical tests did not show any effect of the hang-in ratio. Based on scoring method, the best hang-in ratio is 29% due to capture the number of types of catches at least, easier of releasing catches from the net and fewest material needed.Keywords: bottom gillnet, hang-in ratio, lobster, Palabuhanratu
      ABSTRAKPenggunaan hang-in ratio (HR) akan berpengaruh terhadap karakteristik hasil tangkapan lobster yang ditangkap dengan jaring insang dasar, seperti: jumlah, berat, panjang dan kualitas (kelengkapan tubuh). Penggunaan hang-in ratio yang besar akan meningkatkan penggunaan bahan atau mata jaring persatuan panjang dalam pembuatan satu unit jaring insang dasar. Penggunaan hang-in ratio yang besar pada jaring mengakibatkan semakin sulit lobster dilepaskan dari puntalan jaring karena tingkat kekenduran jaring yang tinggi. Jika tidak berhati-hati saat melepaskan lobster dari puntalan jaring dapat mematahkan bagian tubuh lobster (menurunkan kualitas hasil tangkapan). Tujuan penelitian adalah menentukan desain terbaik jaring insang dasar dengan melihat perbedaan hasil tangkapan, kemudahan melepaskan hasil tangkapan dari jaring dan penggunaan bahan jaring dari hang-in ratio yang berbeda, yaitu (52%, 41% dan 29%) di Palabuhanratu, Jawa Barat. Penelitian eksperimen ini dilaksanakan pada bulan Oktober sampai November 2016 dengan 23 kali trip penangkapan. Uji statistik penelitian menunjukkan bahwa dari ketiga jenis hang-in ratiotidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap karakteristik hasil tangkapan lobster. Namun, berdasarkan skoring HR terbaik yang digunakan pada jaring adalah 29% karena menangkap jumlah jenis hasil tangkapan paling sedikit, lebih mudah melepaskan hasil tangkapan dari jaring, membutuhkan bahan jaring paling sedikit.Kata kunci:  jaring insang dasar, hang-in ratio, lobster, Palabuhanratu
      PubDate: 2018-02-02
      DOI: 10.29244/jmf.8.2.175-186
      Issue No: Vol. 8, No. 2 (2018)
       
  • PERAN PELABUHAN PERIKANAN SAMUDERA NIZAM ZACHMAN DALAM MENDUKUNG INDUSTRI
           TUNA (The Role of Nizam Zachman Oceanic Fishing Port to Support Tuna
           Industries)

    • Authors: Roma Y.F Hutapea, Iin Solihin, Tri Wiji Nurani
      Pages: 187 - 198
      Abstract: ABSTRACT
      Nizam Zachman Oceanic Fishing Port (OFP) has basic facilities, supportive facilities, and functional facilities that are needed for fishing activities in the port. The role of Nizam Zachman OFP as one of the largest tuna fishing ports in Indonesia is to support the availability of facilities required by each tuna industry stakeholders. The aimed of the research were to determine the role of Nizam Zachman OFP in providing support facilities and services in the activities of tuna fishing industries; and to determine the level of interest tuna stakeholders and level performance of Nizam Zachman OFP. Data analysis were carried out using a scoring method based on Ministry Regulation of Marine Affair and Fisheries number 8/PERMEN-KP/2012 about Fisheries Port then adapted to the conditions in the sites and analyze the level of interest and performance level with IPA (Importance Performance Analysis). The results showed that the role of Nizam Zachman OFP was good in production activities, infrastructure and public services, and there were still several service atributes performance that still have to be improved by the fishing port authority.
      Keywords: tuna industries, IPA, Nizam Zachman, fishing port role, scoring               ABSTRAKPelabuhan Perikanan Samudera Nizam Zachman memiliki fasilitas pokok, fasilitas penunjang, dan fasilitas fungsional yang sangat dibutuhkan dalam setiap aktivitas perikanan di pelabuhan. Peran PPS Nizam Zachman sebagai salah satu pelabuhan perikanan tuna terbesar di Indonesia dalam menunjang ketersediaan fasilitas diperlukan oleh setiap stakeholder industri tuna. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan peran PPS Nizam Zachman dalam menyediakan fasilitas pendukung dan pelayanan dalam kegiatan industri perikanan tuna; dan menentukan tingkat kinerja PPS Nizam Zachman serta tingkat kepentingan  stakeholder tuna. Analisis data dilakukan dengan pembobotan atau scoring berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 8/PERMEN-KP/2012 tentang Kepelabuhanan Perikanan yang kemudian disesuaikan dengan kondisi di lokasi penelitian.  Selanjutnya dilakukan analisis tingkat kepentingan dan kinerja dari PPS Nizam Zachman dengan menggunakan analisis IPA (Importance Performance Analysis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa PPS Nizam Zachman berperan baik dalam aktivitas produksi, sarana prasarana dan pelayanan umum dan terdapat beberapa atribut pelayanan PPS Nizam Zachman yang masih harus ditingkatkan kembali kinerjanya.Kata kunci: industri tuna, IPA, Nizam Zachman, peran pelabuhan perikanan, skoring
      PubDate: 2018-02-02
      DOI: 10.29244/jmf.8.2.187-198
      Issue No: Vol. 8, No. 2 (2018)
       
  • TINGKAT KETERGANTUNGAN DAN PERSEPSI NELAYAN PANCING ULUR TERHADAP
           SUMBERDAYA IKAN DI PRIGI TRENGGALEK JAWA TIMUR (Dependency and Perception
           of Handline Fishermen towards Fish Resources at Prigi Trenggalek East
           Java)

    • Authors: Nora Akbarsyah, Eko Sri Wiyono, Iin Solihin
      Pages: 199 - 210
      Abstract: ABSTRACTThis  study  aimed  to  describe  dependence  and  perception  of  fisheries  resources  of handline fishers  at  Prigi  Trenggalek.  This  research  was  conducted  at Prigi,  Watulimo, Trenggalek District in Oktober until December 2014. The analysis used Multy Criteria Analysis and descriptive method. Respondents to the survey are 10% from all the handline fishermen. Each respondent  represents  each household.  Results showed that  group C have an highest  dependence  toward  fisheries  resource.  The  group  think  that  Prigi  still  has  much resources and the total catch not change in ten years later. Keywords: dependency, fisher, hand line, fisheries resources, perception
      ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk melihat tingkat ketergantungan dan persepsi nelayan pancing ulur di Prigi Trenggalek terhadap sumberdaya ikan yang ada disana. Pengambilan data lapangan bertempat di Prigi Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek Jawa Timur pada bulan Oktober sampai dengan Desember 2014. Sampel dalam penelitian ini yaitu 10% dari jumlah total nelayan pancing ulur. Satu responden mewakili satu rumah tangga nelayan. Metode analisis menggunakan Multi Criteria Analysis dan metode deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kelompok nelayan yang mempunyai jumlah alat tangkap lebih banyak mempunyai ketergantungan yang paling tinggi diantara seluruh kelompok. Kelompok nelayan yang mempunyai ketergantungan tinggi berpendapat bahwa jumlah sumberdaya ikan di Prigi masih banyak.Kata kunci: ketergantungan, nelayan, pancing ulur, sumberdaya Ikan, persepsi
      PubDate: 2018-02-02
      DOI: 10.29244/jmf.8.2.199-210
      Issue No: Vol. 8, No. 2 (2018)
       
  • PENENTUAN PRIORITAS WILAYAH KERJA UNTUK PENINGKATAN PENGAWASAN PERIKANAN
           DI WPP NRI 711 (Priority Determination of Working Area For Surveillance
           Improvement in Indonesia Fisheries Management Area 711 (WPP NRI 711))

    • Authors: Yaser Krisnafi, Budhi Hascaryo Iskandar, Sugeng Hari Wisudo, John Haluan
      Pages: 211 - 221
      Abstract: ABSTRACTThe Fisheries Management Area of Republic Indonesia or often abbreviated as WPP-NRI is a fisheries management area for fishing, conservation, research and fisheries development covering inland waters, archipelagic waters, territorial sea, additional zones and the Exclusive Economic Zone of Indonesia (ZEEI). Priority of selection work unit surveillance as the base pier becomes something very important because the pier of the surveillance vessel becomes a major requirement. The base pier is not just a place to moor the vessel but the base pier becomes a function of ongoing surveillance operations. In this case the facilities and facilities of the base pier should be able to provide facilities as well as ease in supporting surveillance operations activities.Problem in selection of prioritization unit of work is a complex problem, it needs a method to overcome them.TOPSIS is one of decision making method capable for solving the problem of multi-criteria, TOPSIS working principle is the chosen alternative should have the closest distance from the positive ideal solution and the farthest from the most negative solution.The result of testing on 11 alternatives in 6 criteria showed that development priority area for fisheries surveillance work units in WPP NRI 711 were: Batam (score 0,672) work unit Pontianak (score 0,671), and Natuna (score 0,647).The results of the ranking are to be used as a reference for determining the improvement surveillance strategy and to minimize losses due to illegal fishing of the natural resources in the region of WPP NRI711 in Indonesia.Keywords: TOPSIS, work unit, WPP NRI 711
      ABSTRAKWilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia atau sering disingkat dengan WPP NRI merupakan wilayah pengelolaan perikanan untuk penangkapan ikan, konservasi, penelitian, dan pengembangan perikanan yang meliputi perairan pedalaman, perairan kepulauan, laut teritorial, zona tambahan, dan Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia (ZEEI). Prioritas pemilihan UPT Pengawasan SDKP (Sumber Daya Kelautan dan Perikanan) sebagai dermaga pangkalan menjadi sesuatu yang sangat penting dikarenakan dermaga kapal pengawas menjadi suatu kebutuhan yang paling utama. Dermaga pangkalan bukan hanya sebatas tempat untuk tambat kapal saja melainkan dermaga pangkalan menjadi sebuah fungsi berlangsungnya kegiatan operasi pengawasan. Dalam hal ini adalah sarana dan fasilitas dermaga pangkalan harus mampu memberikan fasilitas serta kemudahan dalam mendukung kegiatan operasi pengawasan. Permasalahan penentuan prioritas pemilihan satker merupakan masalah yang komplek maka diperlukan suatu metode untuk membantu mengatasinya. TOPSIS adalah metode pengambilan keputusan yang mampu menyelesaikan masalah multi-criteria. Prinsip kerja TOPSIS adalah alternatif yang dipilih harus memiliki jarak terdekat dari solusi ideal positif dan terjauh dari solusi ideal negatif. Dari pengujian 11 alternatif dari 6 kriteria didapatkan prioritas pengembangan satuan kerja wilayah pengawasan perikanan di WPP 711 adalah: Satker Batam = 0,672; Satker Pontianak = 0,671 dan Satker Natuna = 0,647. Hasil perangkingan tersebut akan dijadikan acuan sebagai dasar penentuan strategi peningkatan pengawasanwilayah perikanan di WPP 711 sehingga mampu meminimalisasi kerugian negara akibat pencurian SDA di wilayah WPP 711 Indonesia.Kata kunci: TOPSIS, unit kerja, , WPP NRI 711
      PubDate: 2018-02-02
      DOI: 10.29244/jmf.8.2.211-221
      Issue No: Vol. 8, No. 2 (2018)
       
  • ANALISIS KERENTANAN PERIKANAN TANGKAP AKIBAT PERUBAHAN IKLIM PADA SKALA
           PROVINSI (Province Scaled Fisheries Vulnerability on Climate Change)

    • Authors: Allasay Kitsash Addifisyuka Cintra, Isdradjad Setyobudiandi, Achmad Fahrudin
      Pages: 223 - 233
      Abstract: ABSTRACTFisheries has significant roles for the Indonesian economy. Climate change influences Indonesian fisheries through a range of direct and indirect pathaway. A scientific based approach such as vulnerability is needed to determine the risks of climate change and adaptation strategies. Therefore, this study was conducted to analyze the vulnerability of fisheries to climate change on  province scaled in Indonesia. Vulnerability index (VI) is obtained with composite index of exposure (EI), sensitivity (SI) and adaptive capacity (ACI) of ten provinces representing the eastern and western parts of Indonesia by using purposive sampling method. Source of data for indices variables were using recorded datas from relevant institutions. The results showed that fisheries status of North Sulawesi (VI = 0,78), Central Sulawesi (VI = 0,72) and Gorontalo (VI = 0,61) were very vulnerable despite the composition of constituent vulnerability index was different. This difference determined the specific policies to be taken to each province to reduce vulnerability. Short term policies are taken to reduce the vulnerability of the most vulnerable areas on Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, and Gorontalo. Medium term policy is carried out in high sensitivity areas, namely Kepulauan Riau, Sulawesi Utara, and Kalimantan Timur and in low adaptive capacity areas such as Jambi, Gorontalo and Bangka Belitung. Long term policy is conducted for areas with high exposure such as Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara and Kalimantan Timur.Keywords: Climate change, fisheries, vulnerability, province
      ABSTRAKPerikanan tangkap memiliki peranan penting bagi perekonomian Indonesia. Adanya perubahan iklim akan berdampak merugikan secara langsung maupun tidak langsung pada perikanan tangkap Indonesia. Suatu pendekatan ilmiah diperlukan untuk menentukan risiko perubahan iklim dan strategi adaptasi perikanan tangkap, salah satunya adalah analisis kerentanan (Vulnerability). Oleh karena itu penelitian ini dilakukan untuk menganalisis kerentanan perikanan tangkap akibat perubahan iklim pada skala provinsi di Indonesia. Indeks kerentanan (VI) didapatkan dengan mengkompositkan indeks keterpaparan (EI), kepekaan (SI) dan kapasitas adaptif (ACI) dari sepuluh provinsi yang mewakili bagian timur dan barat Indonesia dengan metode purposive sampling. Sumber variabel penyusun indeks variabel menggunakaan rekaman data dari instansi terkait.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa provinsi Sulawesi Utara (VI=0,78), Sulawesi Tengah (VI=0,72) dan Gorontalo (VI=0,61) berstatus sangat rentan walaupun komposisi penyusun indeks kerentanannya tidak sama. Perbedaan ini menentukan bahwa jenis kebijakan yang diambil menjadi spesifik pada tiap provinsi untuk mengurangi kerentanan. Short term policy diambil untuk mengurangi dapak di daerah yang paling rentan yaitu Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Gorontalo. Medium term policy dilakukan pada daerah yang kepekaannya tinggi yaitu Kepulauan Riau, Sulawesi Utara, dan Kalimantan Timur dan kapasitas adaptifnya rendah yaitu Jambi, Gorontalo dan Bangka Belitung. Long term policy dilakukan untuk daerah yang keterpaparannya tinggi yaitu Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara dan Kalimantan Timur.Kata kunci: perubahan iklim, perikanan tangkap, kerentanan, provinsi
      PubDate: 2018-02-02
      DOI: 10.29244/jmf.8.2.223-233
      Issue No: Vol. 8, No. 2 (2018)
       
  • STRATEGI PENGEMBANGAN PERIKANAN PANCING ULUR DI BABANA MAMUJU TENGAH
           SULAWESI BARAT (Strategy of Handline Fishery Development at Babana Central
           Mamuju West Sulawesi)

    • Authors: Wayan Kantun, Indra Cahyono, Wayan Suma Arsana
      Pages: 235 - 247
      Abstract: ABSTRACTThe objectives of this research are to find strategy of handline fishery development at Babana Central Mamuju. The research used survey method to obtain information related to aspects of biological resource, technology, social economy and institution. This research was conducted from March to June 2016 at Babana Central Mamuju. Data obtained are analyzed by Strengths Weaknesses Opportunities Threats Method (SWOT). The results obtained are value of Internal Factor Evaluation (IFE) 2,8710 and value of External Factor Evaluation (EFE)3,2388 that shown development strategy of handline in quadrant-II in internal and external table (IE). The results obtained internal factor evaluation (ife) is 2,8710and external factor evaluation (EFE) is3,2388 that shown development strategic of handline are quadrant-II (growth) on IE (Internal External) table. Development strategy of handline in Babana Mamuju Tengah, consist of; threeopensive/agresive strategy, three moderate strategy, and two defensive strategy. Key words: development strateg, handline, SWOT
      ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menemukan strategi pengembangan perikanan pancing ulur di Babana Mamuju Tengah. Penelitian menggunakan metode survei untuk memperoleh informasi terkait aspek biologi sumber daya, teknologi, sosial ekonomi dan kelembagaan. Penelitian dilakukan bulan Maret hingga Juni 2016 di Babana Mamuju Tengah. Data yang diperoleh dianalisis dengan metode SWOT (Strengths Weaknesses Opportunities Threats). Hasil yang diperoleh adalah nilai matriks IFE (Internal Factor Evaluation) sebesar 2,8710 dan matriks EFE (Eksternal Factor Evaluation) sebesar 3,2388 yang menunjukkan bahwa strategi pengembangan pancing ulur berada pada kuadran II(pertumbuhan). Hal tersebut mengindikasikan bahwa pengembangan pancing ulur dalam fase pertumbuhan atau dalam kondisi stabil dengan menitikberatkan pada strategi intensif (Intensive Strategy). Diperoleh delapan strategi pengembangan perikanan pancing ulur di Babana Mamuju Tengah, terdiri atas; tiga strategi opensif/agresif, tiga strategi moderat, dan dua strategi defensif.Kata kunci: strategi pengembangan, pancing ulur, SWOT
      PubDate: 2018-02-02
      DOI: 10.29244/jmf.8.2.235-247
      Issue No: Vol. 8, No. 2 (2018)
       
 
 
JournalTOCs
School of Mathematical and Computer Sciences
Heriot-Watt University
Edinburgh, EH14 4AS, UK
Email: journaltocs@hw.ac.uk
Tel: +00 44 (0)131 4513762
Fax: +00 44 (0)131 4513327
 
Home (Search)
Subjects A-Z
Publishers A-Z
Customise
APIs
Your IP address: 54.144.16.135
 
About JournalTOCs
API
Help
News (blog, publications)
JournalTOCs on Twitter   JournalTOCs on Facebook

JournalTOCs © 2009-