for Journals by Title or ISSN
for Articles by Keywords
help

Publisher: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan   (Total: 3 journals)   [Sort by number of followers]

Showing 1 - 3 of 3 Journals sorted alphabetically
Buletin Penelitian Kesehatan     Open Access   (Followers: 2)
Health Science J. of Indonesia     Open Access   (Followers: 1)
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan     Open Access   (Followers: 1)
Journal Cover Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
  [1 followers]  Follow
    
  This is an Open Access Journal Open Access journal
   ISSN (Print) 0853-9987 - ISSN (Online) 2338-3445
   Published by Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Homepage  [3 journals]
  • Perbedaan Faktor Sosiodemografi dan Status Gizi Pasien Tuberkulosis dengan
           dan Tanpa Diabetes Berdasarkan Registri Tuberkulosis-Diabetes Melitus 2014
           

    • Authors: Agus Dwi Harso, Armaji Kamaludi Syarif, Dona Arlinda, Retna Mustika Indah, Aris Yulianto, Arga Yudhistira, Muhammad Karyana
      Abstract: Countries with high Tuberculosis (TB) burden such as Indonesia will be affected by increased comorbidity of Diabetes Mellitus (DM). The increasing trend of TB cases with DM and interaction between the two require high vigilance. The magnitude of the problem can be known through the registry. From this registry data, can be obtained a picture of the characteristics of tuberculosis patients with and without DM. Data were collected retrospectively from medical record  data who were abstracted into Case Report Form (CRF) at seven participating registry hospitals during January–December 2014. Of the 1,239 TB patients recruited, 13.4% were TB with DM. The majority of TB patients graduate from high school with income of 1–3 million rupiah per month. Patients with DM comorbidities are mostly men of normal weight between the ages of 45–54 years. While patients without DM comorbities are mostly men with a weight less aged between 25–34 years. Under the TB-DM Registry 2014, TB and DM comorbidities are more common in older patients and are relatively overweight than TB without DM.AbstrakNegara dengan beban tinggi tuberkulosis (TB) seperti Indonesia akan terkena dampak dari meningkatnya komorbiditas diabetes melitus (DM). Kecenderungan peningkatan kasus TB dengan DM dan interaksi antara keduanya memerlukan kewaspadaan tinggi. Besaran masalah dapat diketahui  melalui registri. Dari data registri ini, dapat diperoleh gambaran karakteristik pasien TB dengan dan tanpa DM. Data dikumpulkan secara retrospektif dari data rekam medis yang diabstraksi ke dalam case report form (CRF) di tujuh rumah sakit peserta registri selama bulan Januari–Desember 2014. Dari 1.239 pasien TB yang direkrut, 13,4% adalah TB dengan DM. Mayoritas pasien TB tamat SMA dengan penghasilan 1–3 juta per bulan. Pasien dengan komorbiditas DM kebanyakan laki-laki dengan berat badan normal berusia antara 45–54 tahun. Sedangkan pasien tanpa komorbiditas DM kebanyakan adalah laki-laki dengan berat badan kurang berusia antara 25–34 tahun. Berdasarkan Registri TB-DM 2014, komorbiditas TB dan DM lebih banyak ditemukan pada pasien yang berusia lebih tua dan relatif lebih berat badannya dibandingkan TB tanpa DM.
       
      PubDate: 2017-06-20
      Issue No: Vol. 27 (2017)
       
  • Deteksi Toxoplasma gondii dari Spesimen Urine Penderita HIV/AIDS

    • Authors: fitriana fitriana, Noer Endah Pracoyo
      Abstract: Toxoplasma gondii, can cause toxoplasmosis disease in humans. Indonesia as a tropical country is very suitable for the development of this parasite. The disease acute and chronic, with mild symptoms are not specific so difficult to distinguish from other diseases or often without symptoms. Human Immunodeficiency Virus (HIV) incidence is highest in Asia with high morbidity and mortality. Toxoplasma ranks the top 10 opportunistic diseases as a direct cause of morbidity and mortality, with varying symptoms and reactivation. Generally the sample is taken with an invasive action, so the selection of urine samples can be an alternative that is non invasive. The aim of the study to detect T. gondi from urine sample of HIV/Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) patient with research design is cross section. The sample was examined at the Laboratory of Clinical Microbiology Faculty of Medical University of Indonesia (LMK FKUI) Cikini Jakarta Indonesia. By using real-time polymerase chain reaction (RT PCR), it was found that there were 30 samples, 7 samples (23,3%) positive of T. gondii, and there was no significant relationship between sex, age, CD4 count, antiretroviral treatment, cotrimoxazole history, and associate disease. AbstrakToxoplasma gondii dapat menyebabkan penyakit toksoplasmosis pada manusia. Indonesia sebagai negara beriklim tropis sangat sesuai untuk perkembangan parasit ini. Penyakit bersifat akut dan kronik, dengan gejala ringan bersifat tidak spesifik sehingga sulit dibedakan dengan penyakit lain atau sering tanpa gejala. insiden Human Immunodeficiency Virus (HIV) menduduki tempat tertinggi di Asia dengan morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Toksoplasma menduduki peringkat 10 besar penyakit oportunistik sebagai penyebab langsung morbiditas dan mortalitas, dengan gejala yang bervariasi dan reaktivasi. Umumnya sampel diambil dengan tindakan invasif, sehingga pemilihan sampel urine dapat menjadi alternatif yang bersifat non invasif. Tujuan penelitian mendeteksi Toxoplasma gondii dari sampel urine pasien HIV/Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) dengan desain penelitian adalah potong lintang. Sampel diperiksa di Laboratorium Mikrobiologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (LMK FKUI) Cikini Jakarta Indonesia. Dengan menggunakan real-time polymerase chain reaction (RT PCR) didapatkan hasil dari 30 sampel, sebesar 7 sampel (23,3%) positif T. gondii, selain itu juga tidak ditemukan adanya hubungan yang bermakna diantara jenis kelamin, umur, lama sakit, hitung CD4CD4, pengobatan antiretroviral, riwayat kotrimoksazol, dan peyakit penyerta.
      PubDate: 2017-06-19
      Issue No: Vol. 27 (2017)
       
  • Pengaruh Penyalutan Terhadap Karakteristik Fisika Kimia dan Stabilitas
           Tablet Fraksi Etil Asetat Daun Gambir sebagai Agen Antidislipidemia

    • Authors: Nanang Yunarto, Indah Sulistyowati, Arifayu Addiena Kurniatri, Nurul Aini
      Abstract: Gambir (Uncaria gambir, Roxb) with the main content of catechin compounds is a major comodity that is efficacious as an antidyslipidemia agent and reduce lesion atheloschlerosis. Catechins are found most often in gambir leaf extract, but are hygroscopic in order to increase the content and its stability is made in the fraction form and formulated in the film-coated tablet preparation. Coatings will protect the gambir from environmental influences. This study aims to find out the best formula of core tablets and film-coated tablets of ethyl acetate fraction of gambir leaf extract. The granulation method used using wet granulation. Optimization of the tablets coating formulation was carried out through three different formulas with the addition of 4, 6, and 8% coatings. The core tablet and the coat were tested for physical characteristics such as weight uniformity, crushed time, hardness, and tablet fragility, chemical characteristics of active substance content and accelerated stability test. The chemical physics evaluation of tablets shows all tablets meeting physical and chemical requirements. Accelerated stability test  result obtained catechin content in the core tablets and coat membrane in the absence of loss potency more than 5%. The coated tablet has loss in potency smaller than core tablet. The greater the composition of the coating material used of coating the smaller the loss in potency of catechin content in tablets. AbstrakTanaman gambir (Uncaria gambir, Roxb) dengan kandungan utama senyawa katekin merupakan komoditas unggulan yang berkhasiat sebagai agen antidislipidemia dan mengurangi lesi aterosklerosis. Katekin ditemukan paling banyak pada ekstrak daun gambir, namun bersifat higroskopis sehingga untuk meningkatkan rendemen kandungan dan kestabilannya dibuat dalam bentuk fraksi dan diformulasikan dalam sediaan tablet salut selaput. Penyalut akan melindungi gambir dari pengaruh lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui formula terbaik tablet inti dan tablet salut selaput fraksi etil asetat ekstrak daun gambir. Metode granulasi yang digunakan menggunakan granulasi basah. Optimasi formulasi penyalutan tablet dilakukan melalui tiga formula berbeda dengan penambahan bobot bahan penyalut 4, 6, dan 8%. Tablet inti dan salut dilakukan pengujian karakteristik fisika seperti keseragaman bobot, waktu hancur, kekerasan, kerapuhan tablet, karakteristik kimia berupa kadar zat aktif, dan uji stabilitas dipercepat. Evaluasi fisika kimia tablet menunjukkan semua tablet memenuhi persyaratan fisik dan kimia. Hasil uji stabilitas dipercepat diperoleh kandungan katekin dalam tablet inti maupun salut selaput  tidak adanya loss in potency yang lebih dari 5%. Tablet salut memiliki loss in potency lebih kecil daripada tablet inti. Semakin besar komposisi bahan penyalut yang digunakan semakin kecil loss in potency kandungan katekin dalam tablet.
      PubDate: 2017-06-19
      Issue No: Vol. 27 (2017)
       
  • Pengaruh Diabetes Melitus terhadap Gambaran Klinis dan Keberhasilan
           Pengobatan Tuberkulosis di Tujuh RSU Kelas A dan B di Jawa dan Bali

    • Authors: Dona Arlinda, Aris Yulianto, Armaji Kamaludi Syarif, Agus Dwi Harso, Retna Mustika Indah, Muhammad Karyana
      Abstract:   Diabetes mellitus (DM) may complicate tuberculosis (TB) treatment and control. The National Institute of Health Research and Development in collaboration with seven referral public hospitals in Java and Bali established a disease registry system for tuberculosis (TB) and diabetes mellitus (DM). Medical records containing data of ≥15 years old patients, diagnosed with TB (ICD-10 code A15-A19) in 2014, with or without DM (ICD-10 code E10-E14) were recorded into case report form (CRF). From January 1st 2014 to January 12th 2016, the registry recorded 1975 TB cases, 15% of cases were TB-DM. 73.6% TB-DM were ≥45 years old and 70,8% TB-non DM were <45 years old. Previously treated TB cases were higher than naïve in TB-DM (OR 2.588; 95%CI 2.0-3.4). In TB-DM, predominant symptoms were cough >2 weeks (76.4%), weight loss (72.6%), loss of appetite (65.9%), and night sweats (65.2%). In TB-non DM, predominant symptoms were weight loss (59.4%), loss of appetite (57.8%), cough >2 weeks (57.6%), and fever (56.9%). Higher chest X-rays abnormality in TB-DM (OR 7.249; 95%CI 3.2-16.5) and higher positive AFB smears (OR 2.568; 95%CI 1.8-3.8). TB treatment failure (death, defaulted, failure, or transferred out) were three times higher in TB-DM (aOR 3.042; 95%CI 1.7-5.4). TB-DM Registry showed negative effects of DM on clinical condition and the treatment success of TB.   Abstrak Diabetes melitus (DM) menyulitkan pengobatan dan kontrol tuberkulosis (TB). Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan bersama tujuh rumah sakit (RS) umum kelas A dan B di Pulau Jawa dan Bali mengembangkan Sistem Registri Penyakit TB-DM. Data pasien berusia ≥15 tahun, didiagnosis TB (kode A15-A19 ICD-10) mulai tahun 2014, dengan atau tanpa DM (kode E10-E14 ICD-10) diabstraksi ke dalam case report form (CRF). Mulai 1 Januari 2014 – 2 Januari 2016, terdapat 1975 kasus TB, 15% adalah TB dengan DM. 73,6% pasien TB-DM berusia ≥45 tahun dan 70,8% TB-non DM berusia <45 tahun. Pada kasus TB-DM, kasus TB sebelumnya pernah diobati lebih tinggi dibanding TB naïve (OR 2,588; KI95% 2,0-3,4). Pada TB-DM, gejala terbanyak adalah batuk lebih dari dua minggu, penurunan berat badan, penurunan nafsu makan, dan berkeringat di malam hari, berturut-turut sebanyak 76,4%; 72,6%; 65,9%; dan 65,2%. Pada TB-non DM, gejala dominan adalah penurunan berat badan, penurunan nafsu makan, batuk lebih dari dua minggu, dan demam, berturut-turut sebanyak 59,4%; 57,8%; 57,6%; dan 56,9%. Foto toraks abnormal lebih banyak pada TB-DM (OR 7,249; KI95% 3,2-16,5), demikian juga dengan BTA positif (OR 2,568; KI95% 1,8-3,8). Kegagalan pengobatan TB (meninggal, putus berobat, gagal pengobatan, atau pindah) tiga kali lebih besar pada TD-DM dibanding TB-non DM (aOR 3.042; KI95%1.7-5.4). Registri TB-DM menunjukkan efek negatif DM terhadap gambaran klinis dan keberhasilan pengobatan TB. 
      PubDate: 2017-03-26
      Issue No: Vol. 27 (2017)
       
  • POTENSI UMBI GADUNG DAN DAUN ZODIA SEBAGAI INSEKTISIDA NABATI THE
           POTENCIAL OF GADUNG YAM AND NEEM AS BOTANICAL INSECTICIDE

    • Authors: sri wahyuni handayani
      Abstract:   ABSTRAK Perkembangan teknologi menuntut industri dan peneliti mendalami riset insektisida yang lebih memanfaatkan bahan alam, diantaranya gadung dan zodia. Gadung mengandung diaskorin, sedangkan zodia mengandung evodiamine dan rutaecarpine, kedua zat tersebut bisa dimanfaatkan sebagai insektisida. Cara untuk memperoleh bahan tersebut dengan ekstraksi. Berdasarkan hasil penelitian Euvodia graveolens/Zodia (daun) sebagai repelen konsentrasi 100% mampu menolak 88,6 % gigitan nyamuk Aedes aegypti selama 1 jam; 88,2 % selama 2 jam; 84,5 % selama 3 jam; 80 % selama 4 jam. Ekstrak umbi gadung untuk repelen konsentrasi 100% mampu menolak 61,2 % gigitan nyamuk selama 1 jam; 42,2 % selama 2 jam; 39,2 % selama 3 jam; 31,2 % selama 4 jam; 28,4 % selama 5 jam, dan 26,3 % selama 6 jam.  Ekstrak zodia sebagai jentikisida mempunyai LC50 0,194 % dan LC90 0,628%, sedangkan ekstrak umbi gadung LC50 0,194 % dan LC90.   Kata kunci : Aedes aegypti, ekstrak, jentikisida, repelen   Technological development requires industry and researchers to explore insecticide research that better utilize natural materials , such as yam and zodia . Yam contains diascorin , while zodia contains evodiamine and rutaecarpine , both substances can be used as an insecticide . The way to obtain such materials by extraction . Based on the research results Zodia as a repellent dose of 100 % able to reject 88,6 % of mosquito bites of Aedes aegypti for about 1 hour, 88,2 % for 2 hours; 84,5 % for 3 hours; 80 % for 4 hours;   77 , 1 % for 5 hours; and 73,5 % for 6 hours . Yam tuber extract for repellent dose of 100 % able to reject 61,2 % of mosquito bites for 1 hour ; 42,2 % for 2 hours; 39,2 % for 3 hours; 31,2 % for 4 hours; 28,4 % for 5 hours; and 26,3 % for 6 hours . Extract zodia as larvicides have LC50 LC90 0,194 % and 0,628 % , while the yam tuber extract LC50 and LC90 0.194 % Key words : Aedes aegypti, extract, larvacide, repellent      
      PubDate: 2017-03-26
      Issue No: Vol. 27 (2017)
       
 
 
JournalTOCs
School of Mathematical and Computer Sciences
Heriot-Watt University
Edinburgh, EH14 4AS, UK
Email: journaltocs@hw.ac.uk
Tel: +00 44 (0)131 4513762
Fax: +00 44 (0)131 4513327
 
Home (Search)
Subjects A-Z
Publishers A-Z
Customise
APIs
Your IP address: 54.166.158.73
 
About JournalTOCs
API
Help
News (blog, publications)
JournalTOCs on Twitter   JournalTOCs on Facebook

JournalTOCs © 2009-2016