for Journals by Title or ISSN
for Articles by Keywords
help

Publisher: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan   (Total: 6 journals)   [Sort by number of followers]

Showing 1 - 6 of 6 Journals sorted alphabetically
ASPIRATOR : J. of Vector-borne Disease Studies     Open Access  
Buletin Penelitian Kesehatan     Open Access   (Followers: 2)
Health Science J. of Indonesia     Open Access   (Followers: 1)
Jurnal Kefarmasian Indonesia     Open Access  
Jurnal Vektor Penyakit     Open Access  
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan     Open Access   (Followers: 1)
Journal Cover Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
  [1 followers]  Follow
    
  This is an Open Access Journal Open Access journal
   ISSN (Print) 0853-9987 - ISSN (Online) 2338-3445
   Published by Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Homepage  [6 journals]
  • Gambaran Pelaksanaan Pelayanan Kesehatan Tradisional Ramuan Menggunakan
           Jamu Tersaintifikasi (Studi Kasus di BKTM Makassar dan Puskesmas A
           Karanganyar)

    • Authors: Lusi Kristiana, Herti Maryani, Weny Lestari
      Abstract: Health Services using jamu as the results of Saintifikasi Jamu (SJ) program is new. B2P2TOOT is the organizer of SJ training. The last Decree of National Commission for Saintifikasi Jamu (Komnas SJ) was signed in 2013 and valid for 1 year. Until now there is still no new formation of Komnas SJ. The implementation of jamu as result SJ program in health service facility is rare. Therefore description of the implementation of health services use jamu become important to be examined. This was a qualitative study using case study design. Study was conducted in the Puskesmas A Karanganyar, BKTM Makassar, and B2P2TOOT as the organizer of the SJ training. The location was selected purposively. The study was done in 2015. The factors that were examined in the form of human resources, budget, availability of herbs, and support regulations in the implementation of services. The primary data was taken by in-depth interviews. Secondary data were annual reports, decree and regulations. The respondents were all officers involved in the SJ services such as doctor, pharmacy, nurses and the management. The data had been analyzed with content analysis techniques. The main problem of implementation SJ was the need for a penal provision. Monitoring and evaluation of the program SJ had not been done intensively. SJ training was useful in the conduct of the health services using jamu, but hindered by the limited number of trained personnel, availability of budget, which ultimately affected the availability of herbs. The regulation which protects the commissioning services is urged. The regulation about Komnas SJ is also needed, therefore, the implementation of SJ program can be conducted well. Moreover, monitoring and evaluation of services using jamu program SJ and follow up is required. Research results from SJ program need to be published in order to be applied by the SJ network. Some regulations that protect SJ network is important as well so that they can do services by research based optimally.AbstrakPelayanan kesehatan jamu menggunakan hasil program Saintifikasi Jamu (SJ) merupakan hal yang masih baru. Saat ini penyelenggara pelatihan SJ adalah Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT). SK Komisi Nasional Saintifikasi Jamu (Komnas SJ) terakhir adalah tahun tahun 2013 dan berlaku selama satu tahun. Hingga kini belum ada lagi pembentukan Komnas SJ, sehingga program ini terkesan jalan di tempat. Penelitian pelaksanaan pelayanan jamu hasil program SJ di fasilitas pelayanan kesehatan masih belum banyak dilakukan, bahkan data mengenai fasilitas kesehatan yang memberikan pelayanan jamu pun belum tercatat dengan baik. Oleh sebab itu perlu dikaji gambaran pelaksanaan pelayanan kesehatan menggunakan jamu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus yang dilakukan di Puskesmas A Karanganyar dan BKTM Makassar, serta B2P2TOOT sebagai penyelenggara pelatihan program SJ. Lokasi dipilih secara purposive, yaitu penunjukan puskesmas oleh Dinkes Karanganyar, sedang BKTM karena merupakan institusi milik Kemenkes. Penelitian dilakukan pada tahun 2015. Faktor yang diteliti berupa sumber daya manusia, anggaran, ketersediaan bahan jamu, serta dukungan regulasi yang mengatur pelaksanaan pelayanan. Data diambil dengan cara wawancara mendalam kepada responden, dan data sekunder berupa laporan tahunan, SK dan peraturan yang berlaku. Responden adalah semua petugas yang terlibat dalam pelaksanaan pelayanan SJ meliputi dokter, apoteker, perawat dan bagian manajemen. Data dianalisa dengan teknik analisa konten. Masalah utama pelaksanaan program SJ adalah perlunya payung hukum penyelenggaraan program. Monitoring dan evaluasi program SJ belum intensif. Pelatihan SJ bermanfaat dalam melaksanakan pelayanan kesehatan jamu, namun terkendala dengan terbatasnya SDM yang terlatih, tidak tersedia anggaran rutin, yang akhirnya mempengaruhi ketersediaan jamu. Regulasi yang melindungi pelaksana pelayanan juga belum ada. Perlu dipikirkan aturan tentang Komnas SJ agar pelaksanaan program SJ bisa dijalankan dengan baik. Perlu ada pembinaan dan monitoring pelaksanaan pelayanan program SJ serta tindak lanjut yang diperlukan. Hasil penelitian jamu perlu disebarluaskan sehingga dapat diaplikasikan oleh jejaring SJ. Regulasi yang diperlukan sebagai payung hukum agar jejaring SJ dapat melakukan penelitian berbasis pelayanan dengan optimal.
      PubDate: 2017-10-11
      Issue No: Vol. 27 (2017)
       
  • Kratom (Mitragyna speciosa Korth): Manfaat, Efek Samping dan Legalitas

    • Authors: Mariana Raini
      Abstract: Kratom or Mitragyna speciosa Korth (Rubiaceae) is tree that is commonly found in Southeast Asia. It has been considered useful as a herbal medication to treat a number of problems such as diarrhea, in the alleviation of pain, coughs, hypertension, and to improve sexual performance. The ingestion of kratom produces a stimulant effect at low dosages and an opioid-like effect at medium to high dosages. Kratom is often misused and easily purchased from the internet. The aim of this study is to review kratom from national and international journal, therefore, it can give the information for people and relevant institution related to the use, side effects and legality of kratom. the result of this study showed that the use of kratom regularly or over a period of time could lead to dependence and addiction. The users had tried to stop using kratom as they developed withdrawal symptoms.The symptoms of withdrawal included anorexia, weight lost, decreased sexual drive, insomnia, muscle spasms and pain, aching in the muscles and bones, watery eyes/nose, hot flushes, fever, decreased appetite, diarrhea, hallucination, delusion, mental confusion, emotional disturbance, insomnia. United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) has classified kratom as a New Psychoactive Substances (NPS). Indonesia allows the consumption, plant and trade of kratom. it can be concluded that ratom has a narcotic-like effect and it can cause dependence and addiction. The government should ban the use, planting and distribution of kratom.AbstrakKratom atau Mitragyna speciosa Korth (Rubiaceae) merupakan tanaman yang sering dijumpai di Asia Tenggara. Tanaman ini dimanfaatkan dalam pengobatan herbal untuk mengobati beberapa penyakit seperti diare, pereda nyeri, batuk, hipertensi, dan lemah syahwat. Mengonsumsi kratom dapat memberikan efek stimulan pada dosis rendah dan efek seperti opiat pada dosis menengah hingga tinggi. Kratom sering disalahgunakan dan mudah diperoleh melalui internet. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji tanaman kratom sehingga dapat memberikan informasi kepada masyarakat dan instansi terkait tentang manfaat, efek samping, dan legalitas penggunaan kratom. Metode yang digunakan adalah dengan mengkaji dan menganalisis artikel kratom dari jurnal nasional dan internasional. Hasil kajian menunjukkan penggunaan kratom secara rutin atau dalam suatu periode dapat menimbulkan adiksi dan ketergantungan. Pengguna yang mencoba menghentikan penggunaan kratom dapat menyebabkan gejala putus obat. Gejala putus obat diantaranya anoreksia, nyeri dan kejang otot, nyeri pada tulang dan sendi, mata/hidung berair, rasa panas, demam, nafsu makan turun, diare, halusinasi, delusion, mental confusion, gangguan emosional, dan insomnia. United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) telah memasukkan kratom ke dalam New Psychoactive Products (NPS). Indonesia mengizinkan mengonsumsi, menumbuhkan, dan memperdagangkan kratom. Kesimpulannya adalah kratom mempunyai efek seperti narkotika dan dapat menimbulkan adiksi. Pemerintah sudah selayaknya melarang penggunaan, penanaman, dan peredaran kratom.
      PubDate: 2017-10-11
      Issue No: Vol. 27 (2017)
       
  • Penguraian Parasetamol oleh Sel dan Protein Ekstraselular Khamir Candida
           tropicalis dan Rhodotorula minuta

    • Authors: Heddy Julistiono, Ernawati Saragih, Titin Yulineri
      Abstract: Yeast can be used as cell model to study toxicity in mammalian cell. In the previous study we demonstrated that yeast Candida tropicalis was able to metabolize analgesic drug paracetamol causing oxidative stress. This phenomenon is similar to that in mammalian cell. In mammalian cell system, enzymes responsible in paracetamol metabolism are at least cytochrome P450 (P450) and peroxidase. In order to understand the possible role of peroxidase enzyme in paracetamol metabolism in yeast, research on the effect of peroxidase inhibitor of sodium cyanide (KCN) and a peroxidase substrate peroxide (H2O2) on paracetamol degradation by cell suspension and extracellular protein of C. tropicalis and Rhodotorula minuta was carried out. Paracetamol was degraded by cells or extracellular protein in both of yeast. Paracetamol degradations were significantly inhibited by KCN (0.01 μM) or H2O2 (3 μM). Since P450 is generally located inside the cell (in cell membrane) while no activity of P450 in extracellular, the data indicated the presence of soluble enzyme which is able to metabolize paracetamol that is inhibited by KCN or H2O2. The possibility of presence of peroxidase in the soluble protein by which paracetamol is metabolized and its inhibition by peroxide via competitive substrate or peroxide toxicity is discussed. The results supported use of yeast for studying toxicity of paracetamol in cell level.AbstrakKhamir dapat digunakan sebagai sel model untuk mempelajari toksisitas pada sel mamalia. Pada penelitian sebelumnya diketahui bahwa khamir Candida tropicalis mampu memetabolisme obat analgesik parasetamol dan mengakibatkan terjadinya cekaman oksidasi pada sel seperti yang terjadi pada sel mamalia. Pada sel mamalia, metabolisme parasetamol terutama dilakukan setidaknya oleh enzim membran sitokrom P450 dan peroksidase. Untuk mengetahui indikasi keterlibatan enzim peroksidase dalam metabolisme parasetamol pada C. tropicalis dan Rhodotorula minuta, diamati efek senyawa inhibitor peroksidase kalium sianida (KCN) terhadap metabolisme parasetamol; juga efek hidrogen peroksida (H2O2), senyawa substrat peroksidase. Hasil menunjukkan bahwa pada kedua khamir, baik pada sel maupun protein ekstraselular dapat mengurai parasetamol. Penguraian parasetamol dapat dihambat oleh KCN (0,01 μM) dan juga H2O2 (3 μM). Mengingat pada umumnya khamir memiliki P450 dalam sel (membran) tetapi tidak ada aktivitas P450 pada larutan ekstraselular, maka hasil ini mengindikasikan adanya peran enzim terlarut dalam mengurai parasetamol, yang dihambat oleh KCN dan H2O2. Kemungkinan enzim terlarut tersebut adalah peroksida yang kemampuan metabolisme parasetamolnya dapat dihambat oleh H2O2 melalui proses kompetitif dan keracunan dibahas dalam penelitian ini. Kemampuan metabolisme parasetamol oleh enzim yang diduga peroksidase menambah peluang penggunaan khamir dalam penelitian toksisitas parasetamol di tingkat sel.
      PubDate: 2017-10-11
      Issue No: Vol. 27 (2017)
       
  • Keterjangkauan Biaya untuk Mendapatkan Pengobatan pada Anak dengan HIV
           AIDS dan Infeksi Oportunistik

    • Authors: Andi Leny Susyanty, Rini Sasanti Handayani, Sugiharti Sugiharti
      Abstract: HIV AIDS treatment is a lifelong treatment, so the continuity of treatment is very influential on the treatment outcome. Affordability is one aspect that can improve access and continuity to HIV AIDS and opportunistic infections (OI) treatment in Children Living with HIV AIDS (CLWHA). This study was conducted to determine the affordability of HIV and OI treatment costs on CLWHA in the study area. The study was conducted cross sectional in 5 provinces, 10 districts / cities and 238 CLWHA companions as a responden. This study showed that source of medical cost still varies between health insurance (BPJS), free local government and out of pocket cost, with median cost of treatment for once visit was starting from Rp. 52,773 to Rp. 222,042 with maximum cost was Rp. 1,203,000. The average percentage of treatment costs compared to household expenditures for 1 month were ranged from 3.8 to 8.9% with a maximum value of 56.7%. The most medical costs covered by CLWHA was a laboratory tested, while the non-medical costs that were still problems was transportation cost to health facilities. Based on this study, the government needs to facilitate the HIV AIDS treatment in the BPJS treatment package starting from enrollment, doctor’s examination, ARV and OI medication, routine laboratory tested and OI treatment. Case manager or counselor should begin to be brought closer to the health facility closest to the patient’s home, so CLWHA’s companion does not feel worried about the stigma during treatment.AbstrakPengobatan HIV AIDS merupakan pengobatan seumur hidup, sehingga keberlangsungan pengobatansangat berpengaruh terhadap hasil pengobatan. Keterjangkauan biaya adalah salah satu aspek yang dapat meningkatkan akses dan keberlangsungan pengobatan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui keterjangkauan biaya pengobatan HIV dan IO pada ADHA di daerah penelitian. Penelitian dilakukan secara potong lintang di 5 provinsi, 10 kabupaten/kota dengan responden sebanyak 238 pendamping ADHA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sumber biaya pengobatan masih bervariasi antara BPJS, gratis pemda, dan biaya sendiri, dengan nilai rata-rata biaya berobat sekali kunjungan mulai dari Rp. 52.773 hingga Rp. 222.042 dengan besar biaya maksimal Rp. 1.203.000. Persentase rata-rata biaya berobat dibanding pengeluaran rumah tangga selama 1 bulan berkisar 3,8–8,9% dengan nilai maksimal sebesar 56,7%. Biaya medis yang ditanggung ADHA paling besar adalah untuk pemeriksaan laboratorium, sementara biaya non medis yang masih bermasalah adalah biaya transportasi ke fasilitas kesehatan. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka pemerintah perlu memfasilitasi kebutuhan pengobatan HIV AIDS dalam bentuk satu paket pengobatan pada BPJS, mulai dari pendaftaran, pemeriksaan dokter,obat ARV dan IO, pemeriksaan laboratorium rutin serta pengobatan IO. Manajer kasus atau konselor sebaiknya mulai didekatkan ke fasilitas pelayanan kesehatan yang terdekat dengan rumah pasien, sehingga pendamping ADHA tidak merasa khawatir dengan stigma selama menjalani pengobatan.

      PubDate: 2017-10-11
      Issue No: Vol. 27 (2017)
       
  • The Relationship between Respiratory Infections and Healthy Homes in
           Children Under Five, Indonesia 2013

    • Authors: Puti Sari Hidayangsih, Dwi Hapsari Tjandrarini, Olwin Nainggolan, Noor Edi Widya Sukoco
      Abstract:  Environment plays a very important role in the spread of disease, especially in children under five. Healthy homes are believed to help reduce the prevalence of disease, especially acute respiratory infections (ARI) in infants. This article describes the relationship between healthy home and ARI in children under five. The analysis used the data of Basic Health Research (Riskesdas) 2013 and Potential Villages (PODES) 2014, in 33 provinces of Indonesia. The sample is 59,175 children under five, distinguished to have been diagnosed with or without ARI and with or without staying at healthy home. Healthy home indicators are prepared in accordance with the Healthy Home Technical Guidelines published by the Ministry of Health. There are 15 variables that make up 3 groups of components of healthy homes. The criteria assessment uses value and weight according to the guidelines. There are 2 component variables that could not be included in the composite healthy home due to data limitations, which are the behaviour of cleaning houses and toileting children. Data analysis using logistic regression. The proportion of healthy homes in Indonesia is still low. A total of 23.2% (n = 13,744) of households with under-fives children were declared as healthy homes, and 26% (n = 15,364) infants were diagnosed with ARI. Based on geographical location, Sumatera is the highest percentage of households with children under five who meet the criteria of healthy homes. A risk difference was found to be 1.13 times greater for children under five with ARI in households exposed to indoor air pollution in both healthy and nonhealthy homes. Air pollution in the home affects the incidence of ARI in infants. Regulation of the use of cooking fuel and friendly home lighting source is necessary.AbstrakLingkungan berperan sangat penting dalam penyebaran penyakit, terutama pada balita. Rumah sehat diyakini dapat membantu menurunkan prevalensi penyakit, terutama infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) pada balita. Artikel ini memaparkan hubungan antara rumah sehat dan ISPA pada balita. Analisis menggunakan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 dan Potensi Desa (PODES) 2014, di 33 provinsi di Indonesia. Sampel adalah balita dengan jumlah 59.175 orang, dibedakan menjadi pernah didiagnosis ISPA atau tidak dan tinggal di rumah yang dikategorikan sehat atau tidak. Indikator rumah sehat disusun sesuai dengan Pedoman Teknis Penilaian Rumah Sehat yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan Dirjen P2M & PL dan Kepmenkes No. 829. Terdapat 15 variabel yang membentuk 3 kelompok komponen penyusun rumah sehat. Penilaian kriteria rumah sehat menggunakan nilai dan bobot sesuai pedoman. Terdapat 2 variabel komponen yang tidak dapat dimasukkan dalam komposit rumah sehat yaitu perilaku membersihkan lantai dan membuang kotoran anak ke toilet akibat keterbatasan data. Analisis data menggunakan regresi logistik. Proporsi rumah sehat di Indonesia masih rendah. Sebanyak 23,2% (n = 13.744) rumah tangga dengan balita dinyatakan sebagai rumah sehat, dan 26% (n = 15.364) balita didiagnosis ISPA. Ditinjau dari letak geografis, kawasan di pulau Sumatera merupakan yang tertinggi untuk persentase rumah tangga dengan balita yang memenuhi kriteria rumah sehat. Ditemukan perbedaan risiko sebesar 1,13 kali lebih besar balita menderita ISPA pada rumah tangga yang terpapar pencemaran udara dalam rumah baik pada rumah sehat maupun bukan rumah sehat. Pencemaran udara dalam rumah mempengaruhi kejadian ISPA pada balita. Diperlukan pengaturan penggunaan bahan bakar memasak dan sumber penerangan dalam rumah yang ramah lingkungan.
      PubDate: 2017-10-11
      Issue No: Vol. 27 (2017)
       
 
 
JournalTOCs
School of Mathematical and Computer Sciences
Heriot-Watt University
Edinburgh, EH14 4AS, UK
Email: journaltocs@hw.ac.uk
Tel: +00 44 (0)131 4513762
Fax: +00 44 (0)131 4513327
 
Home (Search)
Subjects A-Z
Publishers A-Z
Customise
APIs
Your IP address: 54.163.209.109
 
About JournalTOCs
API
Help
News (blog, publications)
JournalTOCs on Twitter   JournalTOCs on Facebook

JournalTOCs © 2009-2016