for Journals by Title or ISSN
for Articles by Keywords
help

Publisher: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan   (Total: 3 journals)   [Sort by number of followers]

Showing 1 - 3 of 3 Journals sorted alphabetically
Buletin Penelitian Kesehatan     Open Access   (Followers: 2)
Health Science J. of Indonesia     Open Access   (Followers: 1)
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan     Open Access   (Followers: 1)
Journal Cover Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
  [1 followers]  Follow
    
  This is an Open Access Journal Open Access journal
   ISSN (Print) 0853-9987 - ISSN (Online) 2338-3445
   Published by Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Homepage  [3 journals]
  • Kajian Implementasi Pembinaan Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS) untuk
           Meningkatkan Keamanan Pangan: Peran Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan
           Kota

    • Authors: Helper Sahat P Manalu, Amir Suudi
      Abstract: Street foods are expected to contribute energy and other useful nutrients for growing school children.The objective of this study was to assess the implementation of street food in Bekasi, particularly roleof education and health authority. The assesment was based on qualitative method, using round tablediscussion and supported by secondary data. The results showed problems of school children streetfoods seller in terms of personal higiene, how to manage, manner of presentation, storage, quality of food and habits of the child was still not good. Policies related to the management and supervision in schools has been carried out from the center (National Food and Drug Board, Ministry of Health)and the local government, but the implementation was not well coordinated about, who was the most responsible in supervision of the street food at school. The national and West Java Province authorities suggested that the monitoring control of street food in elementary school should be handed over to by the local government district/city.Keywords: management, street foods, children, school AbstrakKonsumsi makanan jajanan anak diharapkan dapat memberikan kontribusi energi dan zat gizi lain yang berguna untuk pertumbuhan anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana peran dinas pendidikan dan dinas kesehatan dalam pembinaan pangan jajanan anak sekolah di Bekasi. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif, yaitu round table discussion dengan nara sumber dari Direktorat Surveillans dan PKP Badan Pengawas Obat dan Makanan Jakarta (Badan POM Jakarta), Direktorat Penyehatan Lingkungan, Direktorat Bina Kesehatan Anak Ditjen GIKIA. Sebagai pendukung hasil kajian, digunakan data sekunder berupa laporan hasil penelitian yang dilakukan terkait dengan makanan jajanan sekolah. Untuk mengetahui pengelolaan makanan jajanan di sekolah dilakukan dengan melakukan kunjungan salah satu sekolah dasar di Kota Bekasi, Dinas Pendidikan Dasar, Dinas Kesehatan. Hasil kajian menunjukkan masalah makanan jajanan anak sekolah ditinjau dari higiene perorangan penjual, cara pengelolaan, cara penyajian, cara penyimpanan, kualitas makanan dan kebiasaan anak jajanan masih kurang baik. Kebijakan yang terkait dengan pengelolaan di sekolah sudah dilakukan dari pusat (Badan POM, Kementerian Kesehatan) dan pemda setempat, namun dalam pelaksanaannya belum terkoordinir dengan baik mengenai instansi mana yang bertanggung jawab dalam pengendalian makanan jajanan di sekolah. Pelaksana program di pusat dan Provinsi Jawa Barat menyarankan agar pengendalian pengelolaan makanan di sekolah dasar diserahkan ke pemerintah daerah kabupaten/kota.Kata Kunci: pengelolaan, jajan, anak, sekolah
      PubDate: 2017-01-12
      Issue No: Vol. 26 (2017)
       
  • Hubungan Pengetahuan dan Sikap dengan Kepatuhan Berobat pada Pasien TB
           Paru yang Rawat Jalan di Jakarta Tahun 2014

    • Authors: Ida Diana Sari, Rofingatul Mubasyiroh, Sudibyo Supardi
      PubDate: 2017-01-12
      Issue No: Vol. 26 (2017)
       
  • Penggunaan Kecombrang (Etlingera elatior) sebagai Alternatif Pengganti
           Sabun dalam Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Suku Baduy

    • Authors: Zulfa Auliyati Agustina, NFn Suharmiyati, Mara Ipa
      Abstract: Baduy is one of ethnic Indonesia’s living on the slope of Kendeng’s mountain, Lebak, Province of Banten.Lebak’s Health Service Data in 2013 noted that Kampung Tangtu in Kanekes village is one of sac Yaws Disease, a tropical neglected disease and difficult to eradicated. Adherence to the indigenous traditions in Baduy Dalam about Clean and Healthy Behavior (PHBS) that do not accept modernization such as toothpaste, soap and shampoo, do not use the footwear are the risk factors to the incidence of Yaws inBaduy. This research was conducted to get an idea of the potential of culture-related health problems,including PHBS. This research used an ethnographic approach. The result showed Baduy’s community particularly Baduy Dalam obedient to the Pikukuh and live in harmony with its natural surroundings. Kecombrang (Etlingera elatior) is a natural product with saponins which produce foam, is a plant that is used by Baduy Dalam to take a bath and brush teeth. Kecombrang grown in the forest and not yet cultivated. Conclude that Clean and Healthy Behavior particulary in bathing habits, Baduy Dalam used natural resource around them. In accordance with pikukuh, Baduy Dalam people’s not allowed to use chemical soap because its violating the indigenous traditions. Kecombrang used by Baduy people’s to take a bath, brush the teeth and washed but not yet used for hand washing. It is recommended that keep conducted intensively and continuously approach to the Baduy Dalam by inserting PHBS’s messages while respecting the local wisdom. In addition, cultivation of kecombrang around Baduy Dalam need tobe considered.Keywords: Baduy Dalam Ethnic, PHBS, Etlingera elatior AbstrakSuku Baduy merupakan salah satu etnis di Indonesia yang tinggal di lereng pegunungan Kendeng,Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Data Dinas Kesehatan Lebak pada tahun 2013 menyebutkan bahwa Kampung Tangtu di Desa Kanekes merupakan salah satu kantung penyakit Frambusia, penyakit tropis yang terabaikan dan masih sulit diberantas. Kepatuhan terhadap pikukuh Etnik Baduy Dalam terkait Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yaitu tidak menerima modernisasi seperti penggunaan pasta gigi, sabun mandi dan cuci, sampo, dan tidak menggunakan alas kaki merupakan faktor risiko terhadap kejadian Frambusia di Baduy. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran potensi budaya masyarakat terkait masalah kesehatan, salah satunya tentang PHBS. Penelitian ini menggunakan pendekatan etnografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Baduy terutama warga masyarakat Etnik Baduy Dalam memiliki sifat yang memegang teguh pikukuh dan hidup selaras dengan alam sekitarnya. Kecombrang (Etlingera elatior) yang merupakan hasil alam dengan kandungan saponin yang memiliki sifat menghasilkan busa adalah tumbuhan yang digunakan masyarakat Baduy untuk mandi dan gosok gigi. Kecombrang tumbuh dengan sendirinya dihutan dan belum dibudidayakan. Disimpukan bahwa PHBS khususnya kebiasaan mandi, masyarakat menggunakan hasil alam yang ada disekitarnya. Sesuai dengan pikukuh adat, masyarakat Baduy Dalam tidak diperbolehkan menggunakan sabun dari bahan kimia karena hal tersebut melanggar aturan adat. Kecombrang dimanfaatkan oleh masyarakat Baduy untuk mandi, menggosok gigi dan keramas namun belum dimanfaatkan untuk mencuci tangan.Perlu dilakukan pendekatan yang intensif dan secara terus menerus kepada masyarakat Baduy Dalam dengan menyisipkan pesan-pesan PHBS kepada masyarakat namun tetap menghormati budaya yang ada. Selain itu perlu adanya pembudidayaan kecombrang di sekitar kampung Baduy.Kata Kunci: Suku Baduy Dalam, PHBS, Etlingera elatior
      PubDate: 2017-01-12
      Issue No: Vol. 26 (2017)
       
  • Profil Obat Diare yang Disimpan di Rumah Tangga di Indonesia Tahun 2013

    • Authors: Mariana Raini, Ani Isnawati
      Abstract: Diarrhea is a major health problem in developing countries. Data form WHO and Unicef show that diarrhea caused 2 million deaths each year and part of it 1,9 million are children under five years. Riskesdas 2013 stated the prevalence of diarrhea in Indonesia is 7%, whereas 12.2% is the prevalence in children under five. This analysis aims to get a profile of diarrhea medication that was stored in households in Indonesia. This study used Riskesdas 2013 data with the design was cross sectional. This study analyzed households data from interview and observation in Riskesdas 2013.The analysis showed that the highest percentage of diarrhea drugs stored at household is adsorbans (39.4%), followed by antimicrobial(20.2%) and traditional medicine (19.2%). The households distribution of diarrhea drugs are mostly found in villages (70%) and in average the household stored one type of diarrhea is 81.4%. The proportions of drug that stored in households is comparable between bought from pharmacy (34.2%)and drug stores/stalls (33.7%), and most of it purchased without a prescription (75.9%). Drug status that is stored in the household comes from the previous treatment (47.8%) and for emergency stock is43.6%. Average duration of treatment for diarrhea is 1-3 days (44.4%) and percentage of household using stored diarrhea medication if needed is 41%. Most drugs are kept in good condition (94.1%).Based on province, the highest proportion of diarrhea medications stored in households is in East Java(19.9%), followed by West Java (17.4%), and Central Java (10.5%).Keywords: diarrhea, rational, diarrhea medicine, anti-microbial AbstrakPenyakit diare masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di negara-negara berkembang. Menurut World Health Organization (WHO) dan United Nations Children’s Fund (UNICEF), diare mengakibatkan 2 juta kematian setiap tahun dengan 1,9 juta di antaranya adalah balita. Laporan Riset Kesehatan dasar (Riskesdas) 2013 menyatakan prevalensi diare di Indonesia adalah 7%, pada balita12,2%. Analisis ini bertujuan untuk mendapatkan profil obat diare yang disimpan di rumah tangga. Disain penelitian adalah cross sectional. Metode yang digunakan adalah menganalisis data dari hasil wawancara dan observasi rumah tangga yang menyimpan obat pada pelaksanaan Riskesdas 2013. Hasil analisis menunjukkan bahwa obat diare yang disimpan di rumah tangga terbanyak adalah adsorbans (39,4%), diikuti antimikroba (20,2%), dan obat tradisional (19,2%). Sebaran rumah tangga yang menyimpan obat diare terbanyak adalah di desa (70%) dan rata-rata rumah tangga menyimpan 1 jenis obat diare (81,4%). Proporsi obat yang disimpan rumah tangga sebanding antara yang diperoleh dari apotek (34,2%) dan dari toko obat/warung (33,7%) dan terbanyak dibeli tanpa menggunakan resep(75,9%). Status obat yang disimpan di rumah tangga adalah sisa pengobatan sebelumnya (47,8%)dan untuk persediaan jika sakit (43,6%). Lama pengobatan obat diare, rata-rata 1-3 hari (44,4%) dan rumah tangga yang menyimpan obat diare dan digunakan kalau perlu saja sebanyak 41%. Sebanyak 94,1% obat diare yang disimpan dalam kondisi baik. Berdasarkan provinsi, proporsi obat diare yang disimpan di rumah tangga tertinggi pada Provinsi Jawa Timur (19,9%), diikuti Jawa Barat (17,4%) dan Jawa Tengah (10,5%).Kata Kunci: diare, rasional, obat diare, antimikroba. 
      PubDate: 2017-01-12
      Issue No: Vol. 26 (2017)
       
  • Faktor Bebas Gametosit Pada Malaria Falciparum Tanpa Komplikasi Dengan
           Pengobatan Dihidroartemisinin- Piperakuin Di Indonesia

    • Authors: sarwo handayani, Armedy Ronny Hasugian, Riyanti Ekowatiningsih, Emiliana Tjitra
      Abstract: Gametocytes are a source of malaria transmission, so gametocytes clearance is an important factor especially for falciparum malaria treatment. Since 2010, a combination of dihidroartemisinin-piperaquine(DHP) was applied for malaria treatment in Indonesia. To determine the effect of DHP, we analyzed the factors affecting to gametocytes clearance on uncomplicated falciparum malaria subject treated withDHP in Indonesia. The source of data is a joint research of the efficacy and safety of DHP on uncomplicated falciparum malaria in Kalimantan and Sulawesi in 2007, 2010 and 2012. The subjects werepatients with gametocytes prior to 3 days DHP treatment without primaquine, with 42 days observation.Descriptive analysis was performed to determine the proportion and correlation factors influencing gametocytes clearance, such as the subject characteristics, axillary temperatur, asexual and sexual parasite densities and hemoglobin levels. From the 236 uncomplicated falciparum malaria subjects, wefound 65 subjets with gametocytes before treatment (D0). The analysis showed the average gametocytes clearance was 8.6 days. The proportion of gametocytes decreased from 40% to 5% on D7 andD28, and fully disappeared on D35. Characteristics of respondents affected to gametocytes clearance before and after completed treatment of DHP were age (p = 0.227), original from Papua province (p =0.037), anemia (Hb <11 g / dl, p = 0.008) and gametocytes density on D0 (p = 0.000). Remaining gametocyteson D28 is a potential factor for malaria transmission therefore gametocytes observation is required, especially in areas with malaria vector.Keywords: gametocyte clearance, DHP, falciparum malaria AbstrakGametosit merupakan sumber transmisi malaria, sehingga bebas gametosit merupakan faktor penting dalam pengobatan malaria terutama malaria falciparum. Sejak tahun 2010 pengobatan malaria di Indonesia menggunakan kombinasi dihidroartemisinin-piperakuin (DHP). Untuk mengetahui efek gametosidal DHP, dilakukan analisis faktor-faktor yang mempengaruhi bebas gametosit pada subyek malaria falciparum tanpa komplikasi, dengan pengobatan lengkap DHP di Indonesia. Sumber data adalah gabungan penelitian efikasi dan keamanan DHP pada malaria falciparum tanpa komplikasi diKalimantan dan Sulawesi tahun 2007, 2010 dan 2012. Subyek adalah penderita malaria falciparum dengan gametosit sebelum pengobatan DHP 3 hari tanpa primaquine dengan waktu pengamatan selama 42 hari. Analisis secara deskriptif berupa proporsi dan korelasi faktor-faktor yang mempengaruhi bebas gametosit seperti karakteristik subyek, suhu aksila, densitas parasit aseksual dan seksual sertakadar hemoglobin. Dari 236 kasus malaria falciparum tanpa komplikasi, 65 kasus diantaranya dengan gametosit sebelum mendapat pengobatan (H0). Hasil analisis menunjukkan waktu bebas gametosit rata-rata adalah 8,6 hari. Proporsi gametosit menurun dari 40% pada H7 menjadi 5% pada H28, dan menghilang sempurna pada H35. Karakteristik responden yang mempengaruhi waktu bebas gametositsebelum dan sesudah pengobatan lengkap DHP 3 hari tanpa primakuin adalah umur subyek (p = 0,227),asal Provinsi Papua (p = 0,037), anemia (Hb < 11 g/dl, p = 0,008) dan densitas gametosit awal (p =0,000). Masih ditemukannya gametosit pada H28 menjadi potensi penularan, oleh karena pengamatan gametosit sangat diperlukan untuk monitoring pengobatan, terutama di daerah yang mempunyai vektor malaria.Kata Kunci: bebas gametosit, DHP, malaria falciparum
      PubDate: 2017-01-12
      Issue No: Vol. 26 (2017)
       
 
 
JournalTOCs
School of Mathematical and Computer Sciences
Heriot-Watt University
Edinburgh, EH14 4AS, UK
Email: journaltocs@hw.ac.uk
Tel: +00 44 (0)131 4513762
Fax: +00 44 (0)131 4513327
 
About JournalTOCs
API
Help
News (blog, publications)
JournalTOCs on Twitter   JournalTOCs on Facebook

JournalTOCs © 2009-2016