for Journals by Title or ISSN
for Articles by Keywords
help

Publisher: Diponegoro University   (Total: 26 journals)   [Sort by number of followers]

Showing 1 - 26 of 26 Journals sorted alphabetically
Bulletin of Chemical Reaction Engineering & Catalysis     Open Access   (Followers: 2, SJR: 0.2, CiteScore: 1)
Geoplanning : J. of Geomatics and Planning     Open Access   (Followers: 1)
ILMU KELAUTAN : Indonesian J. of Marine Sciences     Open Access   (Followers: 1)
Indonesian Historical Studies     Open Access   (Followers: 1)
Intl. J. of Renewable Energy Development     Open Access   (Followers: 6)
Intl. J. of Waste Resources     Open Access   (Followers: 4)
Izumi : Jurnal Bahasa, Sastra dan Budaya Jepang     Open Access  
J. of Biomedicine and Translational Research     Open Access  
J. of Coastal Development     Open Access   (Followers: 2)
J. of the Indonesian Tropical Animal Agriculture     Open Access   (SJR: 0.126, CiteScore: 0)
Jurnal Anestesiologi Indonesia     Open Access  
Jurnal Gizi Indonesia / The Indonesian J. of Nutrition     Open Access  
Jurnal Ilmu Lingkungan     Open Access   (Followers: 1)
Jurnal Pengembangan Kota     Open Access  
Jurnal Presipitasi     Open Access   (Followers: 1)
Jurnal Reaktor     Open Access  
Jurnal Sistem Komputer     Open Access   (Followers: 2)
Jurnal Teknologi dan Sistem Komputer     Open Access  
Jurnal Wilayah dan Lingkungan     Open Access   (Followers: 1)
Kapal     Open Access   (Followers: 1)
Media Komunikasi Teknik Sipil     Open Access  
Nurse Media : J. of Nursing     Open Access  
Parole : J. of Linguistics and Education     Open Access  
Tataloka     Open Access  
Teknik     Open Access  
Waste Technology     Open Access   (Followers: 3)
Journal Cover
Jurnal Ilmu Lingkungan
Number of Followers: 1  

  This is an Open Access Journal Open Access journal
ISSN (Print) 1829-8907
Published by Diponegoro University Homepage  [26 journals]
  • Emisi Gas Rumah Kaca dan Hasil Padi dari Cara Olah Tanah dan Pemberian
           Herbisida Di Lahan Sawah MK 2015

    • Authors: Miranti Ariani, Hesti Yulianingrum, Prihasto Setyanto
      Pages: 74 - 82
      Abstract: Tanpa olah tanah (NT) telah banyak ditunjukkan sebagai praktik pengelolaan lahan sawah yang mampu mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) karena kemampuannya untuk menyerap karbon dalam tanah. Di luar negeri, bahkan juga oleh FAO, sekarang ini sedang banyak dikembangkan apa yang disebut dengan conservation agriculture, yaitu cara bercocok tanam dengan meminimalkan gangguan pada tanah atau dikenal juga dengan istilah No tillage/Zero Tillage (tanpa olah tanah). Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi emisi CH4 dan N2O dari lahan sawah di daerah tropis dengan perlakuan cara olah tanah. Percobaan disusun dengan rancangan faktorial acak kelompok 3 ulangan. Perlakuan yang dicobakan terdiri dari 2 faktor, yaitu faktor I cara olah tanah (1) Olah tanah sempurna, (2) tanpa olah tanah, dan faktor II adalah pemberian herbisida berupa (1) glifosat, (2) paraquat dan (3) tanpa herbisida. Jarak tanam adalah tegel 20 cm x 20 cm. Emisi CH4 pada MK 2015 yang terendah adalah pada perlakuan tanpa olah tanah (TOT) dan pemberian herbisida glifosat, yaitu sebesar 201 kg CH4/ha/musim dan yang tertinggi pada perlakuan olah tanah sempurna tanpa penambahan herbisida yaitu sebesar 353 kg CH4/ha/musim. Tanpa olah tanah menghasilkan rerata fluks harian CH4 yang lebih rendah dibanding perlakuan olah tanah sempurna. Emisi N2O terendah dihasilkan pada perlakuan olah tanah sempurna dengan penambahan herbisida glifosat, yaitu sebesar 0,34 kg N2O/ha/musim, dan tertinggi pada perlakuan tanpa olah tanah dengan penambahan herbisida paraquat yaitu sebesar 0,65 kg N2O/ha/musim. Hasil padi pada semua perlakuan menunjukkan nilai yang tidak berbeda nyata. Faktor emisi N2O langsung dari lahan padi sawah irigasi dengan perlakuan olah tanah dan herbisida berkisar antara 0,0008 – 0,0015 kg N2O-N/kg N dengan kisaran hasil padi sebesar 4,96 – 5,12 t/ha GKG. Secara total, yang dinyatakan dengan GWP, perlakuan tanpa olah tanah menimbulkan emisi GRK yang lebih kecil dibanding perlakuan olah tanah sempurnaKata kunci: olah tanah, herbisida, GWP, CH4, N2OABSTRACTNo-tillage (NT) management has been promoted as a practice capable of offsetting greenhouse gas (GHG) emissions because of its ability to sequester carbon in soils. Even FAO and many countries, are now being widely developed what so called conservation agriculture, on how to grow crops with minimize soil disturbance or also known as No tillage/Zero tillage. This study aimed to obtain information CH4 and N2O emissions and grain yield from rice fields in the tropics with tillage treatments. The experiment was arranged in a randomized factorial design with 3 replications. The treatments tested consisted of two factors, namely the first factor was tillage (1) deep tillage, (2) zero tillage, and the second factor is application of herbicide in the form of (1) glyphosate, (2) paraquat and (3) without herbicides, using tiles row spacing (20 x 20 cm). In DS 2015, the lowest CH4 emissions resulted from no-tillage (TOT) treatment combined with the application of glyphosate, which amounted to 201 kg CH4/ha/ season and the highest resulted from deep tillage treatment combined with no herbicide, which amounted to 353 kg CH4/ha/season. Daily CH4 fluxes from No tillage treatment are lower than those from deep tillage treatments. The lowest N2O emissions resulted from deep tillage treatments combined with the application of glyphosate, which amounted to 0.34 kg N2O/ha/season, and the highest resulted from no-tillage treatment combined with paraquat, which amounted to 0.65 kg N2O/ha/season. Rice yield were not significantly different among treatments. Direct N2O factors emissions from irrigated rice field applied tillage and herbicide treatments ranged from 0.0008 to 0.0015 kg N2O-N/kg N with rice yield range of 4.96 to 5.12 t/ha. In total, expressed by GWP, no tillage treatment resulted lower GHG emissions than deep tillage treatments.Keywords: tillage, herbicide, GWP, CH4, N2OCitation: Ariani, M., Yulianingrum, H. dan Setyanto, P. (2017). Emisi Gas Rumah Kaca dan Hasil Padi dari Cara Olah Tanah dan Pemberian Herbisida Di Lahan Sawah MK 2015. Jurnal Ilmu Lingkungan, 15(2), 74-82, doi:10.14710/jil.15.2.74-82
      PubDate: 2018-01-12
      DOI: 10.14710/jil.15.2.74-82
      Issue No: Vol. 15, No. 2 (2018)
       
  • Analisis Neraca Air Lahan untuk Tanaman Padi dan Jagung Di Kota Bengkulu

    • Authors: Jaka A. I. Paski, Gita Ivana S L Faski, M. Fajar Handoyo, Dyah Ajeng Sekar Pertiwi
      Pages: 83 - 89
      Abstract: Ketersediaan air tanah yang sebagian besar berasal dari curah hujan merupakan faktor pembatas yang penting bagi peningkatan produksi suatu tanaman. Neraca air merupakan suatu metode yang dapat digunakan untuk melihat ketersediaan air tanah bagi tanaman pada waktu tertentu. Prosedur perhitungan neraca air dibuat berdasarkan sistem tata buku Thorntwaite dan Mather (1957) dengan satuan tinggi air (mm). Analisis ketersediaan air tanah secara grafik disajikan dalam periode bulanan, mulai Januari hingga Desember secara klimatologis. Data yang digunakan dalam analisis ini adalah data rata-rata jumlah curah hujan bulanan dan suhu rata-rata bulanan tahun 1985-2011 dari Stasiun Klimatologi Pulau Baai Bengkulu yang mewakili daerah penelitian yaitu wilayah Kota Bengkulu dan data tanah Kota Bengkulu. Wilayah Kota Bengkulu memiliki ketersediaan air yang sangat cukup dengan persentase air tersedia setiap bulannya 100%, yang dibuktikan dari hasil perhitungan, oleh karena itu Kota Bengkulu memiliki nilai surplus sepanjang tahun. Pada kondisi jumlah curah hujan bulanan yang cukup tinggi berkisar 179 - 458 mm, suhu yang relatif rendah berkisar 25,9 - 26,9 ˚C, dan lahan dengan nilai surplus yang tinggi seperti ini, di wilayah Kota Bengkulu baik untuk ditanami padi, sedangkan untuk penanaman jagung kurang baik.Kata kunci: neraca air, curah hujan, kesesuaian lahan, suhu udara, klasifikasi oldemanABSTRACTThe availability of groundwater most of which comes from rainfall is an important limiting factor for increasing the production of a plant. Water balance is a method that can be used to see the availability of ground water for plants at a certain time. The water balance calculation procedure is based on the Thorntwaite and Mather book keeping system (1957) with water unit (mm). Analysis of groundwater availability graphically is presented in monthly periods, from January to December climatologically. The data used in this analysis is the average data of the amount of monthly rainfall and the average monthly temperature of 1985-2011 from Bengkulu Island Climatology Station representing the research area of Bengkulu City and Bengkulu City land data. Bengkulu City has a very good water supply with percentage of water available every month 100%, as evidenced from the calculation, therefore Bengkulu City has surplus value throughout years. While conditions of high monthly rainfall is quite high ranging from 179 - 458 mm , Relatively low temperatures ranging from 25.9 - 26.9 ˚C, and land with a high surplus value like this, in the area of Bengkulu City is suitable for planting rice, whereas for the planting of maize is less suitable.Keywords: water balance, rainfall, land suitability, air temperature, oldeman classificationCitation: Paski, J.A.I., Faski, G.I.S.L., Handoyo, M.F. dan Pertiwi, D.A.S. (2017). Analisis Neraca Air Lahan untuk Tanaman Padi dan Jagung di Kota Bengkulu. Jurnal Ilmu Lingkungan, 15(2), 83-89, doi:10.14710/jil.15.2.83-89
      PubDate: 2018-01-12
      DOI: 10.14710/jil.15.2.83-89
      Issue No: Vol. 15, No. 2 (2018)
       
  • Penentuan Faktor Kunci Peningkatan Kualitas Air Limbah Industri Makanan
           Menggunakan Interpretative Structural Modeling (ISM)

    • Authors: Dino Rimantho, Hera Rosdiana
      Pages: 90 - 95
      Abstract: Industri makanan merupakan salah satu jenis industri manufaktur yang menggunakan berbagai sumber daya dalam operasionalnya dimana dalam prosesnya berpotensi menghasilkan air limbah yang mengandung berbagai senyawa yang dapat menurunkan kualitas lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan faktor kunci peningkatan kualitas air limbah di industri makanan. Pemilihan alternatif dan analisis strategi menggunakan metode Interpretative Structural Modelling (ISM), dimana metode ini menggunakan penilaian pakar dalam bentuk kuesioner dalam pengambilan datanya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat empat faktor utama dalam upaya peningkatan kualitas air limbah seperti manusia, mesin, metode, material dan lingkungan. Lebih lanjut, berdasarkan hasil analisis dengan metode ISM diperoleh nilai dependent yang rendah dan nilai driver power yang tinggi, maka dapat diketahui faktor kunci dalam peningkatan kualitas air limbah di industri makanan yaitu faktor monitoring harian dalam pengecekan effluent. Sehingga, pemangku kepentingan di industri pengolahan makanan untuk senantiasa melakukan monitoring dan perbaikan proses dalam rangka peningkatan kualitas air limbah yang sesuai dengan baku mutu lingkungan.Kata kunci: Air limbah, Industri makanan, ISM, Kualitas, Faktor kunciABSTRACTThe food industry is one type of manufacturing industry that uses various resources in its operations. The processing process has the potential to produce wastewater containing various compounds that can reduce the quality of the environment. This study aims to determine the key factors to improve the quality of wastewater in the food industry. The selection of key factors is using Interpretative Structural Modeling (ISM) method. This method uses expert judgment in the form of questionnaires in the data retrieval. The results showed that there are four main factors in efforts to improve the quality of wastewater such as human, machine, method, material, and environment. Furthermore, based on ISM method analysis results obtained low dependent value and high power driver value, a key factor in improving the quality of wastewater in the food industry is daily monitoring factor in effluent checking. Thus, the stakeholders in the food processing industry should always monitor and enhancements the process in order to improve the quality of wastewater in accordance with environmental quality standards.Keywords: wastewater, Food Industry, ISM, Quality, Key factorCitation: Rimantho D., dan Rosdiana H. (2017). Penentuan Faktor Kunci Peningkatan Kualitas Air Limbah Industri Makanan Menggunakan Interpretive Structural Modelling (ISM). Jurnal Ilmu Lingkungan, 15(2), 90-95 doi:10.14710/jil.15.2.90-95
      PubDate: 2018-01-12
      DOI: 10.14710/jil.15.2.90-95
      Issue No: Vol. 15, No. 2 (2018)
       
  • Partisipasi Masyarakat Dalam Pengelolaan Sampah Pemukiman Pada Kecamatan
           Tungkil Ilir Kabupaten Tanjung Jabung Barat

    • Authors: Septu Haswindy, Fitriza Yuliana
      Pages: 96 - 111
      Abstract: Kecamatan Tungkal Ilir Kabupaten Tanjung Jabung Barat sebagai daerah pasang surut memiliki keunikan dalam bentuk bangunan rumah dan ini tentunya berdampak pada budaya masyarakat yang sengaja membuang sampah ke bawah rumah. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat partisipasi masyarakat terhadap pengelolaan sampah pemukiman, untuk mengetahui tingkat partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah pemukiman serta untuk menganalisis hubungan karakteristik masyarakat dan lingkungan pemukiman dengan tingkat partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah pemukiman sehingga terwujud kebersihan dan keindahan keberlanjutan lingkungan pemukiman di Kecamatan Tungkal Ilir. Berdasarkan hasil analisis distribusi frekuensi yang dilakukan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah pemukiman di Kecamatan Tungkal Ilir adalah tingkat pendidikan, pendapatan, luas halaman, keadaan lingkungan, sikap terhadap lingkungan dan persepsi masyarakat. Tingkat partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah pemukiman di Kecamatan Tungkal Ilir Kabupaten Tanjung Jabung Barat dikategorikan rendah atau kurang yaitu sebesar 56,0%, sedang atau cukup sebesar 25,0% dan tinggi atau baik sebesar 19,0%. Berdasarkan hasil analisis chi-square karakteristik masyarakat dan lingkungan pemukiman berhubungan positif sangat nyata dengan tingkat partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah pemukiman di Kecamatan Tungkal Ilir Kabupaten Tanjung Jabung Barat, karakteristik masyarakat yang tidak memiliki hubungan dengan tingkat partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah pemukiman adalah lama tinggal.Kata kunci: pengelolaan sampah pemukiman, karakteristik masyarakat, partisipasi masyarakatEnglish Title: Civil Society Participation in Household Garbage Management at Tungkal Ilir Subdistrict West Tanjung Jabung RegencyABSTRACTSubdistrict Tungkal Ilir West Tanjung Jabung regency astidal area hasa distinctive form of house and it certainly affected to society culture which intentionally throw the garbage downwards the house. The purpose of this research is to identify the influencing factors of civil society participation in household garbage management, to identify level of society participation in household garbage management and to analyse the characteristic of relation of society characteristic and settlement environment with society participation level in household garbage management till cleanliness and continuity of settlement environmental beauty at Tungkal Ilir subdistrict. In result of distribution frequency anlaysis stated factors that influence society participation level in household garbage management at Tungkal Ilir subdistrict are education level, earning, yard, environment circumstance, attitude to environment and society perception. Level of society participation in household garbage management in Tungkal Ilir subdistrict West Tanjung Jabung categorized low or less that equal to 56,0%, medium or enough equal to 25,0 % and high or good equal to 19,0%. Based on chi-square analysis result, society and environment characteristic correlate positive and very real with society participation level in household garbage management at Tungkal Ilir subdistric West Tanjung Jabung, society characteristic which has no relationship with society participation level in household garbage management is time of stay periode.Keywords: house waste management, society characteristic, society participationCitation: Yuliana, F. dan Haswindy, S.  (2017). Partisipasi Masyarakat Dalam Pengelolaan Sampah Pemukiman Pada Kecamatan Tungkil Ilir Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Jurnal Ilmu Lingkungan, 15(2), 96-111, doi:10.14710/jil.15.2.96-111
      PubDate: 2018-01-12
      DOI: 10.14710/jil.15.2.96-111
      Issue No: Vol. 15, No. 2 (2018)
       
  • Farmer’s Household Economy working on conflict areas in The Meru
           Betiri National Park

    • Authors: Purwanto Purwanto, Sigit Andy Cahyono, Casimerus Yudi Lastiantoro, Nana Haryanti
      Pages: 112 - 116
      Abstract: Forest land conflict in Meru Betiri National Park is considered as one of the kind of land conflicts in the forest conservation of Indonesia. The conflict has been taking place between MBNP and the people who live around the forest area (Wonoasri, Sanenrejo, Andongrejo, Curahnongko, and Kandangan) since 1998. The purpose of this research is to know the history of land conflict in Meru Betiri National Park and the impact of land rehabilitation on farmer's income This study was conducted in 2016. Qualitative research was conducted to obtain the historical information of MBNP land conflict and the survey was done to collect data of contribution of cultivation activities in the rehabilitation land (conflict area) on the income of farmers. The forest land conflict took place due to the vacant authority of the central government in 1998 which spread to the local government, so the government is not able to control the illegal harvesting of forest resources and forest area encroachment conducted by the public. In 1999, the local politicians of Indonesian Democratic Party proposed to the Ministry of Forestry in order the conflicted area of MBNP can be cultivated by the people around the area. In 2000, The Forestry Minister issued regulations stated that the assigned land is a rehabilitation zone. The rehabilitation zone must be planted with Multiple Purposes Tree Species (MPTS) and seasonal crops by using agroforestry system. The purpose of MPTS planting is for reforestation and the seasonal crops plantation is addressed for increasing the income of the farmers.  After implementing the program for 15 years, the income generated from the rehabilitation land only Rp. 3,517,100,- (US $ 1 = Rp. 13,400,-) per year or 14,49% of the total income of the farmers. The income from the rehabilitation land contributed as the third source of incomes b esides the non land-based sources of income and the income from migrated remittance.
      PubDate: 2018-01-12
      DOI: 10.14710/jil.15.2.112-116
      Issue No: Vol. 15, No. 2 (2018)
       
  • Strategi Pengelolaan Hutan Mangrove Di Desa Tanggul Tlare Kecamatan Kedung
           Kabupaten Jepara

    • Authors: Bekti Utomo, Sri Budiastuty, chatarina muryani
      Pages: 117 - 123
      Abstract: Pengelolaan hutan mangrove merupakan hal yang penting dalam mengupayakan pelestarian lingkungan di kawasan pesisir. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui dampak kegiatan rehabilitasi hutan mangrove dan strategi pengelolaan hutan mangrove di Desa Tanggul Tlare, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara.Penelitian ini menggunakan pendekatan survei dengan wawancara langsung dan pengamatan lapangan. Populasi adalah seluruh penduduk pesisir di daerah penelitian, teknik pengampilan sampel menggunakan “cluster random sampling”. Dampak yang ditimbulkan dengan adanya rehabilitasi hutan mangrove di daerah penelitian adalah meningkatnya hasil tangkapanikan, mengurangi abrasi pantai, menahantiupan angin laut, semakin banyak tangkapan biota (udang, kepiting, kerang) di pesisir, danmenjadikan kawasan tersebut menjadidaerah objek wisata. Strategi yang perlu dilakukan dalam pengelolaan hutan mangrove diantaranya yaitu memanfaatkan potensi yang ada dengan dengan melakukan penanaman pohon mangrove, membentuk kawasan hutan lindung konservasi hutan mangrove agar kawasan hutan mangrove tetap terjaga baik dan lestari, memberikan sosialisasi atau pemahaman kepada masyarakat akan pentingnya menjaga hutan mangrove dan manfaat yang didapat oleh masyarakat, pentingnya kemajuan teknologi dan memberikan beasiswa kepada masyarakat yang dikira berkompeten dan aktif dalam rehabilitasi mangrove untuk melanjutkan sekolah yang lebih tinggi agar ilmu pengetahuan yang didapat bisa memberikan kontribusi yang positif untuk pengelolaan hutan mangrove yang ideal..Kata kunci: hutan mangrove, masyarakat, pengelolaanEnglish Title: Mangrove Forest Management Strategy In The Village Of Environmental Tlare District Kedung District JeparaABSTRACTManagement of mangrove forests is an important aspect in the effort to conserve the environment in coastal areas. The purpose of this research is to know the impact of mangrove forest rehabilitation and mangrove forest management strategy in Tanggul Tlare Village, Kedung Sub-district, Jepara Regency. This research uses survey approach with direct interview and field observation. Population is the entire coastal population in the study area, sample technique using cluster random sampling. The impacts of mangrove forest rehabilitation in the study area were increased fish catch, reduced coastal abrasion, retained wind breeze, more biota catches (shrimp, crabs, shells) on the coast, and made the area a tourist destination. Strategies that need to be done in the management of mangrove forests include the utilization of existing potentials by planting mangrove trees, establishing protected forest areas of mangrove forest conservation so that the mangrove forest area is maintained well and sustainably, providing socialization or understanding to the community about the importance of maintaining mangrove forests and Benefits gained by the community, the importance of technological advancement and providing scholarships to people who are thought to be competent and active in mangrove rehabilitation to continue their higher education so that the knowledge gained can contribute positively to the management of the ideal mangrove forests.Keywords: mangrove forest, community, managementCitation: Utomo, B., Budiastuti, S dan Muryani, C. (2017). Strategi Pengelolaan Hutan Mangrove Di Desa Tanggul Tlare Kecamatan Kedung Kabupaten Jepara. Jurnal Ilmu Lingkungan, 15(2), 117-123, doi:10.14710/jil.15.2.117-123
      PubDate: 2018-01-12
      DOI: 10.14710/jil.15.2.117-123
      Issue No: Vol. 15, No. 2 (2018)
       
  • Pemodelan Spasial Erosi Kualitatif Berbasis Raster (Studi Kasus di DAS
           Serang, Kabupaten Kulonprogo)

    • Authors: Nursida Arif, Projo Danoedoro, Hartono Hartono
      Pages: 127 - 134
      Abstract: Erosi merupakan salah satu fenomena alam yang banyak dikaji karena melibatkan banyak faktor yaitu vegetasi, tanah, iklim, topografi dan manusia.  Kompleksitas faktor-faktor yang mempengaruhi erosi disederhanakan melalui pemodelan untuk memprediksi tingkat erosi pada suatu wilayah dengan memanfaatkan data penginderaan jauh dan sistem informasi geografis. Faktor yang digunakan dalam menyusun model hanya melibatkan tiga faktor yaitu vegetasi, tanah dan lereng. Penelitian ini dilakukan di DAS Serang karena termasuk salah satu DAS yang berada dalam kondisi kritis yang dapat memicu terjadinya degradasi lahan, erosi dan longsor. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui distribusi spasial tingkat erosi kualitatif di DAS Serang. Pendekatan yang digunakan adalah integrasi peginderaan jauh dan sistem informasi geografis berbasis raster. Validasi model dilakukan dengan melihat faktor topografi dan indikator erosi kualitatif di lapangan yaitu armour layer, singkapan akar, pedestal, erosi alur dan gully. Hasil penelitian menunjukan model yang dihasilkan sangat efektif sebagai solusi cepat prediksi erosi. Berdasarkan hasil analisis tingkat erosi sangat berat mendominasi di wilayah kajian yaitu sebagian besar di kecamatan Kokap, Girimulyo dan sebagian Pengasih.Kata kunci: Erosi, Model, Kualitatif, DAS SerangEnglish Title: Spatial Modeling of Raster Based  Qualitative ErosionABSTRACTErosion is one of the natural phenomena that's studied by many because it involves many factors, namely vegetation, soil, climate, topography and humans. The complexity of the factors affecting erosion is simplified through modeling to predict of erosion rates in a region by utilizing remote sensing data and geographic information systems. The erosion control factor used in this research fewer parameters, namely vegetation, soil and topography only. This research was conducted in Serang watershed because it is one of the watersheds which are in critical conditions which can trigger land degradation, erosion and landslides. The purpose of this research was to know the spatial distribution of erosion susceptibility levels in Serang watershed. The approach used was the integration of remote sensing and raster-based geographic information system. Model validation was undertaken based on topograhy factor and observation of qualitative erosion indicators in the field. The indicators used were pedestals, armor layers, root exposure, or other erosion featuress such as rill and gullies. The results show that the resulting model is more effective as a quick solution to the prediction of erosion. Based on the results of the analysis, the spatial distribution of erosion rates is very dominant in the study area, mostly in Kokap, Girimulyo and some of the sub-districts.Keywords: Erosion, Modeling, Qualitative, Serang watershedCitation: Arif, N., Danoedoro, P., dan Hartono. (2017). Pemodelan Spasial Erosi Kualitatif Berbasis Raster Studi Kasus di DAS Serang, Kabupaten Kulonprogo. Jurnal Ilmu Lingkungan, 15(2),127-134, doi:10.14710/jil.15.2.127-134
      PubDate: 2018-01-12
      DOI: 10.14710/jil.15.2.127-134
      Issue No: Vol. 15, No. 2 (2018)
       
  • Analisis Penyebab Masyarakat Tetap Tinggal di Kawasan Rawan Bencana Gunung
           Merapi (Studi di Lereng Gunung Merapi Kecamatan Cangkringan, Kabupaten
           Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta)

    • Authors: Dwi Rustiono Widodo, Sutopo Purwo Nugroho, Donna Asteria
      Pages: 135 - 142
      Abstract: Penelitian ini bertujuan untuk memetakan faktor-faktor yang menyebabkan masyarakat tetap tinggal di Kawasan Rawan Bencana (KRB) III Gunung Merapi. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan mixed method. Penentuan jumlah responden dengan rumus Slovin dengan batas toleransi 7 persen dan terpilih sebanyak 151 responden. Analisis yang digunakan untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan masyarakat tetap tinggal di daerah rawan bencana menggunakan analisis deskriptif statistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebesar 61,6 persen masyarakat merasa nyaman dan tenteram tetap tinggal di daerahnya meski daerahnya rawan bencana. Kenyamanan ini dikarenakan faktor lingkungan, ekonomi, dan sosial. Faktor lingkungan terutama kesuburan tanah, potensi pasir, kerikil dan batu. Sebanyak 56,9 persen penduduknya berpenghasilan lebih besar dari upah minimum regional kabupaten yang sebesar 1,4 juta rupiah per bulan. Sebanyak 92,7 persen mereka mempunyai kerabat yang masih tinggal di satu lokasi dan 95,4 persen aktif dan ikut serta dalam kegiatan kemasyarakatan seperti arisan, pengajian, dan perkumpulan lainnya.Kata kunci: Bencana, Erupsi, Kesiapsiagaan, Kawasan Rawan BencanaEnglish Title: Analysis the Causes That Make People Remain in Disaster Prone Area of Mount Merapi (Study in Mount Merapi Slope of Cangkringan Subdistrict, Sleman District, Yogyakarta Special RegionABSTRACTThis study aims to map the factors that cause people to stay in Disaster Prone Areas (KRB) III of Mount Merapi This research is conducted by mixed method approach. Determination the number of respondents carried out by Slovin formula with a tolerance limit of 7 percent and selected  151 respondents. Determination the factors that cause people to stay in disaster prone areas using descriptive analysis. The results showed that 61.6 percent of people feel comfortable and peaceful stay in their area despite the disaster-prone areas. This convenience is due to environmental, economic, and social factors. Environmental factors, especially soil fertility, the potential of sand, gravel, and stone. 56.9 percent of the population earns more than the district minimum wage of 1.4 million rupiahs per month. About  92.7 percent of them have relatives who still live in one location and 95.4 percent active and participate in community activities such as arisan, pengajian, and other associations.Keywords: Disaster, Eruption, Preparedness, Disaster prone areaCitation: Widodo, D.R., Nugroho, S.P, dan Asteria, D. (2017). Analisis Penyebab Masyarakat Tetap Tinggal di Kawasan Rawan Bencana Gunung Merapi (Studi di Lereng Gunung Merapi Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta). Jurnal Ilmu Lingkungan, 15(2),135-142, doi:10.14710/jil.15.2.135-142
      PubDate: 2018-01-12
      DOI: 10.14710/jil.15.2.135-142
      Issue No: Vol. 15, No. 2 (2018)
       
 
 
JournalTOCs
School of Mathematical and Computer Sciences
Heriot-Watt University
Edinburgh, EH14 4AS, UK
Email: journaltocs@hw.ac.uk
Tel: +00 44 (0)131 4513762
Fax: +00 44 (0)131 4513327
 
Home (Search)
Subjects A-Z
Publishers A-Z
Customise
APIs
Your IP address: 54.198.86.28
 
About JournalTOCs
API
Help
News (blog, publications)
JournalTOCs on Twitter   JournalTOCs on Facebook

JournalTOCs © 2009-